Tampilkan posting dengan label pendidikan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label pendidikan. Tampilkan semua posting

Minggu, 26 Maret 2017

Yang halal bikin heboh, yang haram biasa saja

Hm... lama nggak posting ya???

rokim - tampi - madiun

Beberapa hari yang lalu sempat viral (ramai) berita tentang seorang pemuda 24 tahun yang menikahi seorang janda 67 tahun. Berbagai respon muncul dari masyarakat kita. Mulai dari respon positif, nyeleneh, sampai yang negatif. Beberapa orang menyatakan salut karena sang pemuda mau menerima wanita yang dinikahinya dalam kondisi apa adanya. Komentar lain terlontar dari para jomblo yang bertahun-tahun tidak punya pacar, menikah pun tidak. Sedangkan segelintir orang berpikiran negatif bahwa sang pemuda menikahi janda karena tergiur hartanya, padahal kenyataannya mereka berdua hidup dalam keadaan yang jauh dari status mewah. Terlepas dari apapun komentar mereka, saya melihat masyarakat kita lebih mudah merespon sesuatu yang halal tetapi tidak umum, daripada yang haram padahal sudah umum.

Cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Namun, ada hubungan cinta yang halal, ada juga yang haram. Bagaimanapun juga, hubungan antara dua orang yang usianya terpaut cukup jauh yang sempat viral tadi adalah sesuatu yang halal, karena mereka menikah sesuai dengan aturan yang ada dalam agama. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak perlu disikapi dengan heboh pula. Di sisi lain, terdapat fenomena keharaman yang seharusnya mendapat respon lebih serius. Kira-kira fenomena apakah itu?

Pacaran. Ya! Pacaran adalah hubungan cinta antara dua insan yang terjalin yang seharusnya ditinggalkan. Bukan masalah cintanya, tetapi ikatannya. Miris memang, fenomena ini justru dianggap biasa oleh masyarakat kita. Teman-teman ada yang masih jomblo? (adaaaaaa.....). Tidak perlu malu menjadi jomblo, in syaa Allah itu lebih baik daripada punya pacar.

Ada satu hal yang sangat aneh di kalangan masyarakat kita. Sebut saja keluarga A, punya anak gadis yang sudah masuk usia 21 tahun. Gadis ini sudah pacaran kurang lebih tiga tahun. Singkat cerita, pacar si gadis datang untuk melamar tetapi ditolak karena sang Ayah menganggap si pemuda tadi kurang mapan. Dari kisah singkat ini dapat disimpulkan bahwa sang Ayah lebih rela anaknya dipacari daripada dinikahi. Kisah seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Fenomena lainnya adalah pelacuran. Telinga kita pasti sudah sangat familiar dengan kata "Om-om". Setiap kali mendengar atau membaca kata "om-om" biasanya pikiran kita langsung beranggapan negatif. Kata "om-om" sering diartikan sebagai bapak-bapak hidung belang yang kalau "jalan-jalan" selalu bawa perempuan, dan perempuan yang diajak "jalan-jalan" oleh "om-om" itu biasanya yang masih muda, entah itu usia SMA atau kuliahan. Sekali lagi, masyarakat kita tidak heboh dengan fenomena ini.

Uraian yang saya sampaikan diatas perlu menjadi perhatian kita, khususnya umat muslim. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang itu. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim masih belum bisa mencegah budaya pacaran, bahkan hingga anak SD pun sekarang sudah banyak yang pacaran. Bagi para orang tua, sangat penting menanamkan nilai-nilai islam kepada anaknya, dan jika anaknya sudah sampai usia ideal untuk menikah sebaiknya dipermudah karena itu bagian dari ibadah, bukan justru dipersulit dengan setumpuk syarat yang akhirnya membebani orang yang melamarnya.
Andre Tauladan
Andre Tauladan

Minggu, 29 November 2015

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak


Al-Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh mengatakan,

“Betapa banyak orang yg mencelakakan anaknya –Belahan hatinya– di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka .

Orangtua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya . Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak , padahal sejatinya dia telah menghinakannya.

Bahkan dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian.

Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya . Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat.

Apabila engkau meneliti kerusakan yg terjadi pada anak , akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orangtua.”
(Tuhfatul Maudud hlm. 351)

Beliau rohimahulloh menyatakan pula,

“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yg bersumber dari orangtua , dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya .

Orangtua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia.

Ketika sebagian orangtua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab ,

‘Wahai Ayah…
engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil , maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia . Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.”
(Tuhfatul Maudud hlm. 337)

(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdulloh bin Abdirrohim al-Bukhory hafizhohulloh)
Andre Tauladan

Selasa, 10 Maret 2015

Masih Mengucapkan Kata-Kata Kotor? Tunggu Dulu...

Dalam keseharian orang Sunda kata "anjing" dan "goblog" pasti sering ditemui. Tetapi, kepastian itu hanya berlaku di area dan kondisi tertentu. Bisa jadi seseorang sering mengucapkan kata-kata tersebut ketika mengobrol dengan rekannya, namun jika berbicara dengan orang yang dihormatinya dia berkata lebih sopan. Dari fenomena tersebut muncullah sebuah tulisan yang aslinya entah dari mana, hampir semua tulisan yang saya temui adalah hasil salin - tempel (copy - paste) tanpa sumber yang jelas. Dalam tulisan tersebut nama Kang Ibing disebut sebagai 'pakar'nya. Jadi saya berasumsi bahwa pendapat seperti itu berasal dari Kang Ibing. Mungkin dari sebuah rekaman radio waktu beliau masih hidup. Ah, entahlah. Tapi saya pribadi kurang yakin, karena perkataan yang tidak baik bisa menjatuhkan wibawa seseorang.

Berikut ini kutipan dari tulisan yang saya maksud.

Bagi anak muda Kota Bandung yang funky dan gaul kata ANJING dan kata GOBLOG hanyalah sebuah tanda kalimat. Dalam ESD (Ejaaan Sunda yang belum Disempurnakan) Kata ANJING hanya berarti sebuah koma (menghubungkan kalimat), sedangkan kata GOBLOG berarti titik (mengakhiri sebuah kalimat).
Jadi jangan marah atau merasa tersinggung jika anda berjalan-jalan di KOTA BANDUNG akan sering mendengar kata ANJING dan GOBLOG dalam percakapan anak muda.
Biar lebih jelas kita lihat contoh berikut: “Tadi urang dahar ANJING ayeuna rek ngaroko heula GOBLOG” kalo kalimat ini diterjemahkan kepada bahasa indonesia yang baik dan benar akan menjadi: “Tadi saya makan,sekarang mau merokok dulu.”
sumber : disini

Dari tulisan tersebut disimpulkan bahwa kata "anjing" dan "goblog" dianggap sebagai titik dan koma. Lalu, apa maksud dari Kang Ibing menyatakan hal itu? Saya mengambil sudut pandang lain. Jika sebagian besar orang menganggap itu sebagai hal yang lumrah, maka saya menganggap itu sebagai bentuk keprihatinan Kang Ibing terhadap situasi di masyarakat. Bagaimana tidak? Tanda baca titik dan koma pasti sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Artinya kata "anjing" dan "goblog" pasti sering terucap dari mulut orang sunda ketika sedang mengobrol. Berikut ini kalimat yang saya buat sebagai ilustrasi.
"Listrik padam tiga kali sehari, udah kaya minum obat aja"
"Sering amat ngucapin anjing dan goblog, udah kaya tanda baca aja"
Kira kira seperti itulah ilustrasinya. Jadi Kang Ibing meyatakan kata "anjing" dan "goblog" sebagai tanda baca karena kata-kata tersebut sering terucap dari mulut orang Sunda. Lalu,kenapa beliau harus khawatir dengan hal seperti itu? Jika dipikir lebih dalam, masuk akal juga mengapa kita harus prihatin dengan fenomena itu. Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Salah satunya adalah :

1511. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan -baik atau buruknya-, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih) Makna yatabayyanu ialah memikirkan apakah perkataannya itu baik atau tidak.
*hadits lainnya cek di :link ini
Dari hadits di atas kita bisa pahami betapa bahayanya lisan yang tidak terjaga baik dari perkataan yang buruk berupa umpatan atau celaan maupun ghibah atau fitnah. Ingatlah firman Allah ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).

Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu. Sebaliknya kalau kita memang sedang dikalem-kalem, tiba-tiba terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. (Huda Achmad)

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa apa yang sering kita ucapkan akan keluar ketika sakaratul maut. Walaupun kisah itu belum jelas asli atau rekayasa, saya mencoba mengambil hikmahnnya saja. Dikisahkan seorang petugas menemukan fenomena yang berbeda dalam dua buah kecelakaan. Pada kecelakaan yang pertama korban tidak mampu mengucapkan syahadat, dia malah menyanyikan lagu di akhir hidupnya. Sedangkan pada kecelakaan kedua korban melantunkan ayat Al Quran. Kisah lengkapnya ada di sini

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh kita akan menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya di dunia, tidak terkecuali mulut kita. Bagi sebagian orang yang masih menganggap bahwa kata "anjing" dan "goblog" sebagai hal yang lumrah dan sepele, perhatikan firman Allah “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15).

Mari kita ganti ucapan-ucapan kotor itu dengan dzikrullah. Ucapan yang ringan namun mampu menambah timbangan amal kita untuk bekal di akhirat kelak. Ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan allahu akbar dalam keseharian kita. Untuk keterangannya silakan baca di sini.


Andre Tauladan

Selasa, 25 Februari 2014

Rencana Tulisan Selanjutnya

Nih temen-temen, topik tulisan saya selanjutnya dengan target yang belum ditentukan.
1. Transkrip ceramah K.H. A.F. Ghazali berjudul Syukur Nikmat.
2. Transkrip lagu Aisha Radhiallahu 'anha dari Esa
3. Analisa penerapan nilai-nilai islam dalam pendidikan jasmani (ditulis di jurnalnya andre)
4. Kisah saya mulai usaha baru (di jurnalnya andre juga)
5. Menghapus mereka dari kehidupan saya (transkrip dari Delete her nya NAK)
Lima aja dulu itu juga ga tahu kapan beresnya.

Andre Tauladan

Kamis, 06 Februari 2014

Info Acara : Talkshow Pendidikan Islami | Halalkah IP-ku?

Manteman, ada acara bagus nih buat para pelajar dan mahasiswa. Walaupun judulnya "Halalkah IP-ku?" tapi ini berlaku juga untuk perntanyaan "Halalkah nilai raporku?". Jadi jika anda pelajar atau mahasiswa jangan hanya mengejar nilai demi kesenangan dunia, tapi juga harus halal karena nilai belajar kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Jangan membohongi diri sendiri, ketika anda mencontek mungkin saja guru atau dosen anda tidak mengetahui perbuatan itu. Bisa saja dosen atau guru anda memberi nilai yang bagus untuk ujian anda. Tapi anda akan merasa hampa ketika melihat nilai bagus itu karena anda tahu bahwa sesungguhnya kemampuan anda tidak selevel dengan nilai bagus itu.

Jadi, bagaimana solusinya? Ikutan yuk acara ini!

MINI TALKSHOW
"HALALKAH IP-KU?"
Dinamika Kejujuran di Dunia Pendidikan

Bersama :
Dr. Syahidin, M.Pd.
Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UPI

Moderator :
M. Ginanjar Eka Arli
Ketua Umum UKM KI Al-Qolam UPI

Waktu & Tempat :
Jumat, 7 Februari 2014
@Ruang Biro 3 Masjid Al-Furqon UPI
Pukul 16.00-17.45

Info : 089627363919

Presented by :
Subbidang Kerohanian
HME FPTK UPI

GRATIS!!!
nilai hasil mencontek halal haram

Andre Tauladan

Minggu, 09 September 2012

Syukurilah Ni'mat Yang Ada

Sikapmu dalam menghadapi kehidupan tidak hanya mencerminkan siapa dirimu, tapi juga akan seperti apa kamu nanti.











Apapun yang membuatmu galau, tidak seberapa dibandingkan apa yang anak ini alami.
Jika saja, kita punya semangat seperti anak ini.

Picture From : Funandfunonly.org Andre Tauladan

Jumat, 27 Juli 2012

Pak, Izinkan Saya Kuliah Lebih Lama Lagi

Judulnya melas banget ya.. xixixi, padahal maksudnya bukan karena saya di DO atau dikeluarin dari kampus, melainkan saya masih betah di kampus. Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, sebuah universitas negri yang beberapa kali tercatat di peringkat atas kategori kampus terbaik, walaupun tidak nomor satu. Lima tahun yang lalu saya resmi terdaftar sebagai mahasiswa di jurusan Ilmu Keolahragaan.

Andreansyah Dwi Wibowo sebagai orang kampung atau kampungan yang nggak tahu seperti apa kota Bandung, yang tak tahu seperti apa kehidupan mahasiswa, mulai menjalani hari-harinya dan sedikit demi sedikit mengalami perubahan kepribadian dari yang awalnya pendiam, egois, dan tidak suka bersosialisasi menjadi lebih pendiam, lebih egois dan lebih suka menyendiri #eh? Bukan gitu, tapi jadi agak periang, lebih bisa menerima pendapat orang lain, dan lebih suka bersosialisasi.

Awal kuliah dijalani dengan sedikit tekanan dari senior, sifat pendiam dan penyendiri saya membawa pengaruh buruk selama awal kuliah. Pernah waktu itu datang ke kampus sendirian karena tidak mendapat info bahwa hari itu tidak ada kuliah. Pernah dapat nilai E karena absen kurang, karena tidak tahu ada perubahan jadwal. Pernah juga disamperin senior dan 'diusilin' oleh mereka gara-gara saya tidak kenal mereka, padahal pernah ada perkenalan senior, namun waktu itu saya tidak hadir. Yang termasuk pengaruh paling parah adalah nilai buruk dan salah kontrak dosen yang hingga saat ini belum clear masalahnya.

Pertengahan kuliah aku mulai mau membaur dengan teman-teman. Mau dijadikan pengurus himpunan yang pada akhirnya kerjaan saya dikerjakan oleh orang lain karena memang saya tidak punya kemampuan yang diharapkan. Mulai ikut aktivitas himpunan, dan mengenal beberapa orang dari jurusan lain. Menemui beberapa pejabat fakultas hingga pejabat kampus, hidup mulai terasa lebih menyenangkan.

Di tahun-tahun terakhir mulai ada beberapa teman yang lulus, sedangkan saya masih harus mengulang beberapa mata kuliah bersama adik kelas. Sebisa mungkin saya membaur dengan mereka, tanpa rasa senioritas. Teman-teman satu angkatan semakin banyak yang lulus, saya pun semakin sedikit teman, tapi karena saya sudah bukan pendiam lagi, saya sering sekedar bermain ke kampus, bertemu beberapa aktivis kampus, atau sekedar berjalan-jalan dengan penuh percaya diri (#atau tak peduli penilaian orang lain?).

UPI, tempat saya banyak belajar, walau pelajaran yang saya ambil bukan pelajaran dari kuliah, tapi dari kehidupan kampus. Ketika ada orang BEM yang sok-sok'an, hingga akhirnya saya antipati ke BEM, dari banyaknya akhwat berjilbab yang cantik-cantik #witwiw, ikhwan dengan baju koko yang menatap sinis ke saya, kadang itu semua membuat saya sedikit ingin bilang "Ih!".  Tapi akhirnya seiring waktu antipati saya ke BEM hilang, keinginan untuk bilan "ih" ke ikhwan akhwat juga hilang.

Dari situlah saya mengambil pelajaran hidup, bahwa hidup penuh dengan warna, penuh dengan keragaman, sifat-sifat manusia tidak bisa kita atur semua, tapi kita bisa mengatur sifat kita sendiri. Yang dulunya antipati sama orang BEM, saya coba hilangkan sugesti itu, dan coba untuk berkomunikasi dengan mereka, mereka menerima dan akhirnya akrab. Rasa 'aneh' ketika dipandang sinis oleh para akhwat cantik bisa hilang karena saya jarang memperhatikan mereka. Rasa 'aneh' ketika dipandang sinis oleh para ikhwan juga hilang karena ketika dipandang seperti itu, saya coba dekati mereka, dan akhirnya menjadi akrab. #kalo sama akhwat kan gak bisa gitu :D

Manusia memang suka hidup berkelompok, ya, tidak terkecuali pada mahasiswa, ada yang hanya ingin bergaul dengan kelompoknya saja, tentu ada keuntungan dan kerugiannya, termasuk menjadi penyendiri, ada keuntungan dan kerugiannya. Sifat penyendiri saya tidak 100% hilang, tapi membekas dan berubah menjadi sifat orang yang selalu merasa bebas. Saya bisa masuk kelompok manapun tanpa dianggap anggota. Tapi tentu saja saya tidak pernah merasakan kesenangan ketika kelompok itu sedang bersenang-senang.

Panggilan "akhi" kadang juga ditujukan pada diri saya. Sebuah panggilan yang saya rasa "Wah" sekaligus "Waduh". "Wah" karena biasanya panggilan itu hanya ditujukan pada aktifis atau orang-orang yang aktif di kegiatan keagamaan, jadi ketika dipanggil seperti itu saya merasa terhormat. "waduh" karena sebenarnya saya bukan orang yang aktif di kegiatan keagamaan, jadi kok rasanya mereka salah orang. Panggilan "Kang" atau "Akang" lebih terdengar bersahabat tanpa menimbulkan "waduh".

Akhirnya. Mahasiswa aktif yang tersisa dari angkatan saya hingga sekarang tinggal sekitar  tujuh orang, mereka sepertinya akan segera lulus juga. Mereka juga mendesak saya untuk lulus sama-sama. Tidak beda dengan ayah saya yang meminta saya untuk cepat lulus, padahal saya lagi betah-betahnya ada di kampus. Saya membayangkan ketika lulus nanti, saya harus pulang ke kampung halaman, meninggalkan kampus tercinta, tanpa ada rencana jelas kapan akan ke sini lagi. Suasana yang kondusif untuk memperbaiki diri, banyak aktifitas keagamaan, banyak training alias pelatihan, yang semua itu tidak akan saya temui di kampung halaman.

Saya masih ingin berada di wilayah kampus, saya terus mencari alasan untuk bisa selalu ada di Bandung, dan saya masih belum ingin lulus. Rasanya tidak mungkin untuk mengutarakan keinginan saya ini kepada orang tua, karena saya masih dibiayai mereka. Pokoknya saya masih ingin ada di sini.

Penutup, saya kutip kata-kata teman saya "Masuk perguruan tinggi negri itu susah, sekarang udah masuk jangan pengen cepet-cepet lulus" #just joke

Selasa, 22 November 2011

Takut Kepada Allah (Bag II-Selesai)


 http://ssl.gstatic.com/android/market/islamic.isoftgamez.sahihBukhari/hi-256-0-ec66f0aa612318dbb48b08b990eb80596cb5fa87

Masih membahas tentang "Takut kepada Allah", seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah harus memiliki rasa takut kepadaNya, rasa takut yang membuatnya patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.  Orang itu harus bisa mengendalikan / memerangi hawa nafsunya yang cenderung kepada maksiat. Jika berhasil 'membakar' hawa nafsu dan syahwatnya (keinginan) terhadap kesenangan duniawi, maka ia akan menjadi manusia yang lemah lembut, khusyu' dalam mendekatkan diri kepada Allah, merasa hina di hadapanNya dan pada akhirnya hati menjadi tenang. Maka ia tidak lagi sombong dan tidak pula ujub. Kebusukan dan kedengkian hatinya perlahan-lahan lenyap. Karena dengki dan busuk hati merupakan penyakit jiwa yang merusak amal perbuatan. Jika seseorang merasa takut kepada 'siska' Allah, tentu ia berusaha mencegah sekuat mungkin untuk menjaga hati dari penyakit itu.

Imam Ghazali mengibaratkan takut bagaikan binatang buas. Seseorang terjatuh pada cengkeramannya. Tentu orang tersebut berada dalam keadaan darurat. Ia tidak tahu, apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa terlepas, atau justru diterkamnya. Maka karena rasa takut yang begitu hebat, memaksa ia untuk berpikir dan berjuang. Begitu pula orang yang takut kepada siksa Allah, seharusnya lebih hebat perjuangannya dibandingkan usaha melepaskan dari terkaman binatang buas.

Minimal seseorang yang takut terhadap Allah dan takut terhadap siksaanNya, dapat dilihat dari amal perbuatannya. Hendaknya ia mencegah diri dari perbuatan-perbuatan terlarang. Jika ia berhasil mencegah diri dari yang demikian, biasanya disebut dengan 'wara'. Apabila ia telah kuat dan mampu mencegah dari yang haram (dilarang), maka akan ditingkatkan dengan mencegah dari sesuatu yang halal tetapi meragukan. Tingkatan ini disebut takwa. Sebab takwa adalah meninggalkan seseuatu yang meragukan. Kekhawatiran-kekhawatiran terjebak dari perbuatan terlarang sehingga meninggalkan yang halal (tetapi meragukan) adalah lebih utama.

Jadi rasa takut yang harus dipahami adalah takut secara lahir batin. Bukan takut hanya terbatas di dalam hati saja tetapi juga diikuti dengan lahiriahnya, yaitu mencegah nafsu syahwat. Jika seseorang telah takut berbuat maksiat (sesuatu yang dilarang) dan takut melakukan perbuatan yang halal tetapi meragukan, maka itulah orang yang bertakwa. Sesungguhnya takwa adalah ibarat dari pencegahan perbuatan yang tidak baik, sesuai dengan yang dikehendaki oleh rasa takut. 

Hati yang bersih tentu rasa takutnya kepada Allah lebih kuat dengan hati yang kotor (oleh maksiat). Abu Sulaiman ad-Darani ra. berkata, "Tidaklah takut itu berpisah dari hati kecuali hati itu menjadi rusak." Selama manusia itu memiliki rasa takut kepada Allah, maka ia tetap menapaki jalan yang lurus. Ia tidak akan tersesat jalan. Tetapi ketika ia tidak lagi merasa takut, maka dengan mudahnya ia membelokkan langkah dari menuju kebenaran kepada jalan kesesatan.

Takut dan harap itu bagaikan dua sisi mata uang. Di dalam hati manusia, harap dan takut selalu ada. Bergantung mana yang lebih kuat. Jika harapan lebih kuat, maka ia dapat mengalahkan hati, dan akan menjadi rusak. Seharusnya takut di dalam hati yang lebih kuat. Abu Sulaiman berpendapat, Jika sikap takut telah tertanam, maka kemuliaan seseorang akan terangkat. Jika rasa takut diabaikan, maka derajat seseorang menjadi jatuh.

Kadar rasa takut sebaiknya lebih besar daripada pengharapan. Sebab,  manusia masih saja cenderung menurutkan hawa nafsu. Jika selalu berharap mendapat surgaNya, maka tentu manusia kurang tulus dalam beribadah. namun jika rasa takut demikian kuat menguasai hatinya, manusia akan senantiasa berbakti. Dengan berusaha menanamkan sifat takut kepada Allah, hawa nafsu bisa dikalahkan sehingga segala amal perbuatan pasti dilakukan dengan tulus, selalu mengharapkan ridha Allah (takut segala ibadah tidak diridhaiNya).

Andre Tauladan

Minggu, 30 Oktober 2011

Al Qalam (Pena) - Al Quran Adalah Ilmu

 Mencoba Copas Kembali
Dengarkan MP3 Surah Al Qalam Disini


Surah Al-Qalam (Arab: القلم ,"Kalam") adalah surah ke-68 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 52 ayat. Dinamakan Al Qalam’ yang berarti pena di ambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat ini dinamai pula dengan surat Nun (huruf nun) diambil dari perkataan ’’Nun’’ yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Pokok-Pokok Isi

  • Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah orang yang gila melainkan manusia yang berbudi pekerti yang agung
  • Larangan bertoleransi dibidang kepercayaan
  • Larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat sifat yang dicela Allah
  • Nasib yang dialami oleh pemilik-pemilik kebun sebagai contoh orang-orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah
  • Kecaman-kecaman Allah kepada mereka yang ingkar dan azab yang akan menerima mereka
  • Al Quran adalah peringatan bagi seluruh ummat. (wikipedia)

Judul Al-Qalam ini diangkat untuk memberi wawasan kepada kita tentang isi yang terkandung pada ayat 4 surat Al-‘Alaq 

Dia (Allah) yang mengajarkan Ilmu-Nya dengan perantaraan Al-Qalam

Ilmu menurut Allah dalam Al-Qur’an ialah Al-bayaan yaitu rangkaian keterang tentang sesuatu yang tergantung kepada kepastian Allah, sedangkan Ilmu yang kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan dianggap sebagai karya manusia, tidak ada hubungan dengan Allah sebagai Penciptanya.

Sejarah Ilmu Pengetahuan manusia berawal katanya dari hasil pengamatan, untuk memulai satu kegiatan pengamatan diperlukan gagasan, pertanyaan bagi manusia mana duluan antara gagasan dan pengamatan yang menghasilkan Ilmu. Kata mereka berbicara antara gagasan dan Ilmu sama saja bicara mana yang lahir lebih dahulu antara telur dengan ayam.

Pada awalnya Ilmu Filsafat dianggap sebagai jalan setapak untuk kemudian melahirkan Ilmu sebagai jalan Tol peradaban. Filsahat hanya memberi ruang lingkup untuk mencari jawaban atas pertanyaan, apabila pertanyaan sudah dapat dijawab dengan argumentasi yang dapat dipertanggung jawabkan, maka objek persoalan berpindah dari ruang Filsahat kedalam ruang lingkup Ilmu Pengetahuan, yang ditetapkan dengan cacatan, apabila dikemudian hari ternyata rumusan keilmuan ini dapat dibantah dengan argumentasi yang lebih mesuk akal, maka yang terbarulah yang harus dijadikan pegangan dalam bidang keilmuan.

Ilmu menurut mereka harus memilki 4 unsur untuk bisa dbedakan dengan dongeng, yaitu Ilmu itu harus memilki Methode dimana cara berpikirnya harus methodis, Ilmu juga harus memilki sistematika sehingga uraiannya dapat dikatakan Sistematis, Ilmu juga harus mempunya objek yang dapat diselidiki ulang oleh siapa saja yang ingin mendalami Ilmu itu sehingga Ilmu itu harus Analitis, dan yang terakhir Ilmu itu antara keterangan dan objek harus sama dan sebangun sehingga Ilmu itu dinyatakan objektif.

Selama ini oleh kebanyakan Umat Islam, mereka membagi ada Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Agama yang khusus membicarakan tentang kehidupan sesudah mati. Pembagian kekuasaan ini dapat kita lihat dengan adanya Pendidikan Pesantren dan Pendidikan Umum. Akan tetapi perkembangan terakhir ada Pesantren Plus, yang mulai kemasukan Ilmu Pengetahuan Umum.

Inilah tantangan yang kita hadapi apabila kita berani mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah ILMU, maka pertanyaannya adalah apakah didalam Al-Qur’an itu ada 4 unsur Ilmu yang telah mereka tetapkan. Kemudian dengan bahasa yang seakan-akan santun mereka mengatakan Al-Qur’an itu Wahyu yang tidak mungkin bisa disentuh dengan akal manusia, Ajaran Allah itu banar, dan karena sudah benar, sudahlah jangan dikorek-korek lagi, yang penting Al-Qur’an itu adalah Wahyu yang sudah pasti benarnya itu saja titik.

Benar apanya, salah apanya mereka sambil membela diri mengatakan : Isi Al-Qur’an itu ada yang Muhkamat dan ada Yang Mutasyabihat, ada yang terang jelas, ada juga yang remang-remang, hanya Allah yang tau.

Jika saudara tidak ingin dibohongi oleh kebodohan, marilah kita bahas lebih jauh tentang Qalam Allah sebagai Ilmu dengan mencari jawaban dari Allah dalam Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran.
Qalam Allah itu mencakup semua ajaran Allah dimulai dari ajaran kepada Nabi Adam (Al-asmaa) sampai kepada Nabi Ibrahim diteruskan kepada Nabi Musa (Taurat) Nabi Daud (Zabur) Nabi Isa (Injil) dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad yaitu Al-Qur’an, kesmuanya itu dikatan Qalam Allah.
Objek yang dibicarakan oleh Qalam Allah sebagai ILMU yang sebenarnya ada tiga, yaitu Qalam Allah atau Al-Qur’an membicarakan Pasti Alam sebagai ciptaan Allah yang akan dimatikan atau dihancurkan apabila waktunya telah habis untuk dibangun kembali menjadi kehidupan akhirat.
Yang kedua Al-Qur’an membicarakan tentang peradaban/kebudayaan manusia dimulai dari Adam sampai dengan qiyamat nanti, dan akan selalu berjalan pada dua prinsip, NUR lawan Dzulumat, Hak lawan Bathil.

Yang ketiga Al-Qalam atau Ilmu Allah yaitu Al-Qur’an itu membicarakan tentang dirinya sendiri yang mempunya 4 nilai Ilmu yang sebenarnya.

Mathodologi Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia tentang pandangan Nur menurut Sunah Rasul lawan Dzulumat menurut Sunnah Syayatin, inilah pilihan Ilmu yang di-izinkan Allah, dengan hasil Nur menurut Sunnah Rasul hasilnya hasanah di dunia dan di akhirat kelak, pilihan Dzulumat akan menghantar manusia kepada kehidupan materialistis yang membawa kepada kehidupan jahannam dan kebangkitan nanti kedalam laknatullah ini juga adalah izin Allah atas permintaan Syaithan.

Sistematika Al-Qur’an adalah jawaban yang selama ini ada sebagian orang yang mengatakan bahwa keterangan Al-Qur’an tidak sistematik, padahal Allah meletakkan Al-Fatihah sebagai Introduction sebagai Pandangan Umum, kemudian surat-surat panjang sebagai perinciannya atau Bab demi Bab, dan surat-sura pendek adalah kesimpulan, yang kini dicontek oleh manusia dan dikatakan bahwa Al-Qur’an non sistematik.

Analitic Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kehidupan social manusia yang tidak mau mengatur hidupnya menurut ajaran Allah, seperti laba-laba yang membuat sarang, pagi hari dibuat, sore sudah jebol, rapuh, nyamuk nyangkut, lewat kerbau hancurlah sarang laba-laba itu, orang kecil mencuri dijerat hukuma berat, orang besar korupsi lolos.

Nilai ilmu yang terakhir adalah objektivitas keterangan Ilmu dalam Al-Qur'an adalah tidak diragukan lagi dan berlaku pasti. menurut Allah dalam Al-Qur'an kehidupan yang berpangkal dari hasil nyolong Ilmu dari Al-Qur'an kemudian dinyatakan sebagai penemuan dia, tanpa mengikuti Uswah Nabi, hasilnya adalah Bathil alias batal yaitu tidak pernah menghasilkan sesuai dengan yang mereka cita-citakan. Enam puluh empat tahun Indonesia Merdeka, Jurang antara yang miskin dan yang kaya semakin terbuka karena kita menganut paham persaingan bebas, sehingga siapa kuat diapun tujuh turunan akan kuat dalam menguasai ekonomi Bangsa. Beda halnya dengan konsepsi Ilmu dalam Al-Qur'an yang dikatakan oleh Allah "Kal-bunyan" atau hadits Nabi "Kal jasadil wahid" kehidupan sosial masyarakat Mukmin itu bagaikan "satu tubuh", yang apabila satu bagian merasa sakit maka semua akan merasa sakit. Inilah kehidupan yang Haq, objektiv sesuai dengan hakekat penciptaan manusia itu sendiri.

Masih banyak yang akan kita bahas tentang ILMU Allah ini, hanya untuk perkenalan, Allah mengajarkan pada surat Qalam,

Nun (lambang huruf akhir dari Al-Qur'an)

Wal-Qalami wamaa yashturun
Demi Qalam Allah yang (berisi konsep hidup Ilmiyah) menjadi jawaban atas semua konsep hidup karya manusia.

Maa anta bini’mati Rabbika bimajnun.
Anda (Muhammad dan orang-orang yang mengikuti anda) dengan Ilmu Allah ini bukan omongan orang sakit ingatan.

Wa inna laka la-ajran gaira mamnun
Sesungguhnya anda dengan da'wah Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul ini akan mendapatkan imbalan yang tidak putus-putusnya

Wa-innaka la'alaa khuluqin aziim
Seterusnya anda (dengan Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul-Nya ini) akan mengjudkan satu kehidupan agung.

Fasatubshiru wa yubsiruun
Kelak nanti anda akan menyaksikan dan merekapun akan menyaksikan

Biayyikumul maftuun
siapa sebenarnya yang sakit konsepnya

Ini adalah jawaban Allah, bahwa betapapun mereka dengan para ahli sekalipun tidak akan bisa mencapai kehidupan adil makmur bagi seluruh rakyat ini, jika mereka tidak mengindahkan Ilmu Allah yang bernama Al-Qur'an.

Qalam Allah adalah rangkaian keterangan dari Allah terhadap Pasti Alam dan peradaban/kebudayaan manusia disebut juga Tanziilun minrabbil 'aalamiin
Sebaliknya Ilmu pengetahuan hasil penagmatan manusia itu adalah tanziilun min 'aalamin atau turunan ilmu dari hasil melihat alam tanpa ada Allah dalam pandangan mereka. (darulhikam)

DOWNLOAD MP3 Q.S. Al Qalam - Disini (Syekh Mishary Rashid Alfasy)

Jumat, 16 September 2011

Da'wah (Mengajak orang lain menuju jalan Allah)

Artikel ini adalah terjemahan dari website islami saya yang berbahasa inggris. Artikel aslinya bisa di lihat di www.andretauladan.tk dari sumber asli www.islamicoccasions.com. 


Setiap Jum'at sore, setelah memberikan kuliah Jum'at di Masjid Pusat (Masjid Agung), seorang Imam dan anaknya yang berumur sebelas tahun pergi ke kota dengan membawa buklet "Jalan Menuju Surga" dan literatur islami lainnya.

Namun kali ini, adalah sore yang tidak biasa, sangat tidak mendukung bagi mereka untuk menyebarkan buklet yang mereka miliki. Udara sangat dingin dan jalanan sedang diguyur hujan.

Sang anak sudah bersiap-siap dengan mengenakan pakaiannya yang paling hangat dan paling kering, dan berkata "Baik Ayah, saya sudah siap!" Ayahnya, "Al-Mualim" bertanya "Siap untuk apa nak?"

"Ayah, sekarang waktunya kita untuk keluar bersama" Ayahnya menjawab "Nak, diluar sangat dingin, dan saat ini sedang hujan deras".

Anak itu memperlihatkan tatapan yang mengejutkan, dan bertanya, "Tapi Yah,  bukankah orang-orang tetap sedang menuju ke neraka walaupun ini sedang hujan deras?". Ayahnya menjawab "Nak, Ayah tidak akan keluar pada cuaca seperti ini"

Dengan sedih anak itu bertanya "Yah, bolehkah saya pergi? Kumohon.".    Ayahnya tampak ragu-ragu untuk sesaat dan akhirnya menjawab "Nak, kau boleh pergi, ini bukletnya, hati-hati nak!". "Terima kasih Ayah"

Dan dengan itu, anak itu pergi hujan-hujanan. Anak sebelas tahun itu berjalan menyusuri jalan di kota, door to door dan memberikan pamflet atau buklet pada setiap orang yang ia temui di jalan.

Setelah dua jam berjalan dalam guyuran hujan, ia terlihat basah kuyup, badan menggigil, dan mulai lelah. Di tangannya masih tersisa sebuah buklet terakhir. Ia berheti di sebuah sudut, mencari seseorang untuk diberi buklet itu, tapi jalanan benar-benar sepi.

Kemudian ia menuju ke sebuah rumah menyusuri pinggiran jalan. Ia menekan bel rumah itu, tapi tak ada jawaban. Ia membunyikan bel rumah itu berkali-kali. Tapi tetap tak ada seorang pun yang menjawab dari dalam rumah itu.

Akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan da'wahnya untuk hari itu. Ia mulai meninggalkan rumah itu, tapi sesuatu menghentikannya. Ia kembali ke rumah itu, membunyikan bel rumah itu dan mengetuk pintunya dengan keras. Ia menunggu, sesuatu menahannya untuk pergi dari beranda rumah itu.

Ia kembali membunyikan bel, kali ini ada seseorang yang perlahan membuka pintu. Di belakan pintu itu berdiri seorang wanita tua dengan wajah yang terlihat sedih sekali. Dengan lembut wanita itu bertanya "Ada yang bisa saya bantu, Nak?"

Dengan mata yang berseri dan senyum yang mengangkat dunianya, anak ini berkata "Nyonya, maaf bila saya telah mengganggu, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa 'Allah mencintai dan memperdulikan Nyonya' dan saya datang untuk memberikan buklet terakhir saya pada Nyonya, yang akan memberitahu Nyonya segala sesuatu tentang Tuhan, tujuan sebenarnya dari penciptaan, dan bagaimana cara mendapatkan nikmat dari-Nya"

Dengan itu, wanita tua itu menerimanya, dan pada saat anak ini meninggalkan rumahnya ia berkata "Terima kasih nak, Tuhan memberkatimu".

Pada Jum'at berikutnya, setelah memberikan kuliah Jum'at di Masjid Pusat. Seperti biasa diakhir kuliah ia bertanya kepada para jama'ah "Ada seseorang yang ingin bertanya?"

Perlahan, di belakan barisan jamaah wanita, dari pengeras suara terdengar suara parau dari seseorang. Dari suara itu tersirat kepuasan dan kesenangan, meskipun tidak terlihat jelas siapa yang sedang berbicara. "Tak ada seorang pun di perkumpulan ini yang kenal saya. Saya belum pernah hadir di sini sebelumnya. Karena, sebelum hari Jum'at yang lalu, saya bukan seorang muslim. Suami saya meninggal beberapa waktu yang lalu, meninggalkan saya sendirian, dan membuat saya benar-benar kesepian. Jum'at yang lalu menjadi hari yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, terlebih keadaan hati saya, yang waktu itu sedang putus asa, tidak memiliki harapan ataupun keinginan untuk terus hidup.

Jadi saya mengambil tali dan sebuah kursi, dan naik ke loteng rumah, saya mengikat tali itu di palang atap saya, dan mengikatkan ujung lainnya di leher saya.  Saya berdiri di kursi itu dalam keadaan hati yang hancur dan merasa benar-benar kesepian. Waktu itu saya hampir mati, ketika tiba-tiba bel rumah saya berbunyi mengejutkan saya.  Saya berfikir, saya akan menunggu beberapa menit, dan siapa pun yang membunyikan bel, pasti orang itu akan pergi.

Saya terus menunggu, tapi suara bel terdengar semakin keras dan orang yang membunyikan bel juga mengetuk pintu dengan keras. Saya berfikir lagi 'siapakah kiranya?  tak pernah ada seorang pun yang membunyikan bel rumah saya dan datang menemui saya'. Saya melepaskan tali dari leher saya, dan menuju pintu karena bel terus berbunyi.

Ketika saya membuka pintu, saya hampir tidak percaya apa yang saya lihat, seorang malaikat kecil dengan wajah berseri sedang berdiri di beranda rumah saya. Seorang anak yang paling manis yang pernah saya temui seumur hidup. Senyumnya, oh! saya tidak bisa menggambarkannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah menghidupkan kembali hati saya yang sudah mati, ia berkata "Nyonya, saya hanya datang untuk menyampaikan bahwa Allah sangat menyayangi dan mempedulikanmu!" Dan memberikan sebuah buklet "Jalan Menuju Surga" yang saya pegang sekarang.

Anak kecil itu menghilang bersama hujan dan udara dingin diluar, saya menutup pintu, dan membaca setiap kata dalam buklet ini perlahan-lahan. Dan saya pergi ke loten untuk melepas tali yang saya siapkan tadi, saya berfikir, saya tidak memerlukannya lagi.

Kalian tahu, sekarang saya menjadi seorang hamba dari Tuhan Yang Satu. Karena alamat majlis ini tertulis di buklet yang saya terima, maka saya datang ke sini untuk mengucapkan pada malaikat kecil, yang telah datang sekejap saja, dan karena dia telah membantu saya untuk selamat dari neraka.

Tak ada mata yang kering pada setiap orang yang hadir di Masjid itu. Dan teriakan takbir terdengar diudara, bahkan diantara para jamaah wanita.

Sang Imam (Ayah) turun dari mimbar, dan memeluk anaknya yang ada di barisan depan, ia memeluk dan menangis tak terkendali.

Mungkin belum pernah ada majelis atau mungkin belum pernah ada di dunia ini seorang pun yang melihat bagaimana seorang ayah sangat mencintai anaknya kecuali yang satu ini.

Kamu (umat islam) adlah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusa, (karena kamu) menyuruh 9berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (Q.S. Al Imran ayat 110)

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik (Q.S. An Nahl ayat 125)

--terjemahan seadanya, apabila ada kekurangan, mohon dikoreksi.--
 
Every Friday afternoon, after the Jummah service at the Central Mosque, the Imam and his eleven year old son would go out into their town and hand out “Path to Paradise” and other Islamic literature
Every Friday afternoon, after the Jummah service at the Central Mosque, the Imam and his eleven year old son would go out into their town and hand out “Path to Paradise” and other Islamic literature.
Every Friday afternoon, after the Jummah service at the Central Mosque, the Imam and his eleven year old son would go out into their town and hand out “Path to Paradise” and other Islamic literature.

Senin, 12 September 2011

Tanda-tanda Kehancuran Masyarakat Barat

 
Firman Allah Azza wajalla:
ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى
“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit dan Kami bangkitkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha 124)
Siapa saja yang mengamati kehidupan masyarakat Barat, apalagi mereka yang tinggal lama di sana dan tidak larut dalam kehidupan Barat, akan mengetahui bahwa masyarakat tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Mereka tengah berjalan menuju arah keruntuhan dan kehilangan fondasi kemanusiaan. Itu disebabkan karena mereka tenggelam dalam arus materialisme sebagai Tuhan baru di dunia Barat. Nilai-nilai Robbani tercabut dari hati manusia yang tidak hidup di atas hidayah. Mereka akhirnya hidup dalam kegelapan yang mencekam. Berjalan sebisanya, kadang membentur ke kanan dan ke kiri. Persis seperti manusia mabuk dan sempoyongan.
Berikut ini beberapa fenomena kehancuran kehidupan masyarakat Barat yang penting dicermati:
Anjing sahabat setia
Sudah menjadi kultur masyarakat Barat, akrab dengan hewan yang namanya anjing. Berbagai jenis anjing mereka pelihara sesuai dengan selera masing-masing. Sepintas lalu, orang terkagum-kagum pada masyarakat Barat dalam soal yang satu ini. Mereka menilai bahwa ini merupakan kemajuan masyarakat Barat yang sayang kepada hewan.
Sesungguhnya, penilaian seperti ini muncul karena tidak menelusuri jalan hidup mereka dengan dunia yang serba gemerlap dengan materialisme. Keterikatan mereka pada anjing sudah sedemikian rupa sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa 'No life without dog' (tak ada kehidupan tanpa anjing). Padahal untuk memelihara anjing di sana, memerlukan biaya yang tak sedikit. Daging yang dikonsumsi anjing mereka lebih mahal dari daging yang dimakan manusia.
Jika kita amati lebih mendalam, kita akan dapati bahwa keakraban mereka dengan anjing adalah salah satu malapetaka kemanusiaan yang dialami insan Eropa, dimana mereka sudah tak percaya lagi bersahabat dengan manusia. Bahkan tidak percaya pada anak sendiri.
Mereka merasa lebih percaya kepada anjing daripada manusia. Mereka lebih mau memelihara anjing dan hidup bersama anjing daripada hidup serumah dengan anak atau suami. Jadi memelihara anjing adalah pelarian alias frustrasi pada manusia.
Kenapa? Karena dari pengalaman hidupnya, mereka merasakan hidup bersama dengan manusia, hanya menimbulkan banyak persoalan yang tidak sederhana, baik dengan pasangan hidup maupun anak keturunan sendiri. Yang didapat bukan ketenangan, justru kesengsaraan. Inilah krisis kemanusiaan di Barat.

Berapa banyak orang-orang berusia tua tinggal bersama anjingnya di rumah. Anjing itu betul-betul menjadi teman hidup. Bahkan dibawa tidur bersama. Ini karena kultur di Barat, anak-anak yang sudah besar tidak mau tinggal bersama orang tuanya. Orangtua tinggal sendiri di rumahnya. Anak-anaknya tinggal terpisah dengan keluarganya sendiri, di luar kota atau dalam satu kota.
Penulis sering sekali menjumpai nenek (kira-kira di atas 70 tahun) yang berjalan naik kereta sendirian berkunjung ke rumah anaknya yang tinggal di kota lain. Akibat kesepian seperti ini, orang yang sudah berusia lanjut merasa sedih dan kesepian tinggal sendirian.
Grandpa_2
Secara materi, orang-orang tua yang sudah tidak bekerja lagi memang mendapatkan santunan (benefit) dari negara yang cukup untuk keperluan hidupnya. Tetapi, ada aspek lain dari hidupnya yang tak terpenuhi, yaitu kejiwaan dan ruhiyahnya.
Sesungguhnya, batin mereka berontak. Hati mereka merindukan hidup dengan anak dan cucunya. Namun itu tak mungkin terjadi dalam kultur mereka. Inilah yang menyebabkan pelarian kerinduan kepada binatang seperti anjing.

Kenapa harus anjing? Itu juga pertanyaan menarik. Karena hewan ini memang memiliki unsur kesetiakawanan yang baik dengan tuannya. Jadi, si nenek tadi mencurahkan kasih sayangnya kepada anjing, karena ia tidak dapat mencurahkannya kepada manusia, sekalipun itu anak atau cucunya sendiri.
Ada yang lebih parah dari itu, anak menitipkan orangtuanya di Panti jompo, bersama orang-orang tua lanjut usia lainnya. Panti ini dibayar dan di sana ada pegawai yang bekerja melayani dan menjaga mereka. Kalau di antara mereka ada yang mau ke toilet, ada yang menuntun. Kalau mau mandi, ada yang memandikan. Kalau ingin sesuatu, ada yang melayaninya. Tetapi apakah dengan begini, batin mereka terpuaskan? Tidak. Jelas tidak.
Program di Panti itu, ialah senam dan musik yang sesungguhnya bukan membantu menenangkan jiwa, tetapi justru menambah keruh pikiran mereka. Apa yang mereka butuhkan, tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan. Kadang pikiran kita bertanya-tanya, kenapa begitu teganya seorang anak menitipkan orangtuanya di Panti jompo? Apakah ia tidak merasa bahwa orang tua seperti itu membutuhkan kasih sayang anak?
Sekedar kelakar, tapi ini bisa juga merupakan hakikat sebenarnya, bahwa dulu waktu si ibu masih muda, ia punya anak atau bayi yang masih kecil. Ia titipkan buah hati dan kesayangannya ke penitipan anak. Saat anak masih bayi sedang merindukan kasih sayang ibu, tetapi karena tuntutan dunia dan mengejar materi, sang ibu tega meninggalkan anaknya di penitipan.
Apa yang terjadi setelah waktu berlalu puluhan tahun? Maka pada saat si ibu sudah tua renta, giliran ia dititipkan oleh anaknya di Panti Jompo. Jadi impas (seri), bukan? Na'zu billah min zalik. Sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi, jika manusia berada di atas jalan Hidayah.
love-islam
Rasul Saw pernah bersabda :
من لا يرحم لا يرحم
Barangsiapa yang tidak mengasihani, ia tidak dikasihani.
Dan sabda Beliau Saw:
ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
“Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya kamu disayangi oleh yang ada di langit”.
Membalas kasih orang tua
Firman Allah Subhanah wata’ala:
وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما.
“Dan Robbmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah kecuali hanya Dia, dan kepada dua orangtuamu berbuat baiklah. Jika salah seorang dari mereka sudah lanjut usia atau kedua-duanya, maka janganlah engkau katakan padanya ‘Ah’, dan jangan bersuara keras kepada mereka, dan ucapkanlah perkataan yang mulia.” (Al-Isra’:23)
Berbeda total dengan pandangan hidup Barat, Islam menanamkan rasa kasih sayang kepada anak sejak ia masih kecil. Ibu mencurahkan kasih sayangnya kepada bayinya, dengan menyusui, mengurus dan membesarkan. Waktu si Ibu memang dihabiskan untuk mengurus anaknya. Bahkan penderitaan sudah dirasakan ibu sejak janin dalam kandungan.
Firman Allah Swt.
حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين.
(ia dikandung oleh ibunya dalam penderitaan demi penderitaan, dan memisahnya dalam usia dua tahun).
Ketika si ibu sudah tua, maka anaknya yang sudah dewasa gantian ingin membalas jasa si ibu. Giliran Ibunya diurus oleh si anak. Ibu tinggal menumpang di rumah anaknya, hidup bersama cucu-cucunya. Ketawa dan gembira bersama mereka.
Bila sakit, ia dirawat oleh anaknya. Ketika terasa jenuh di rumah anak yang satu, ia pindah ke anak yang lain. Ia diperlakukan sama oleh anak dan cucunya yang lain. Ia disambut, dilayani dan diurus oleh anak dan cucunya.
Mereka bersama-sama menghambakan dirinya kepada Allah Swt. Betapa indahnya hidup di bawah naungan ajaran Islam. Andaikan orang di luar Islam mengetahuinya, niscaya mereka akan cemburu pada ajaran mulia ini.
Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk mulia, seharusnya menjadi sahabat dan teman untuk menjalankan hidup sesama komunitas manusia, saling membantu, menolong, saling bertukar pikiran, bahkan saling menunjang untuk mencapai tujuan hidup mengabdi kepada Allah Robbul alamin.
Manusia seharusnya mencari temannya sesama manusia, bukan saling menjauhi.
Di masyarakat barat, anjing diperlakukan seperti manusia, layaknya teman, diajak bicara, diperintah, dititipi pesan, dan seterusnya. Mereka mengasuhnya seperti mengasuh anak, dimandikan, dikasih makanan. Bahkan, daging yang dimakan anjing, tidak sembarangan. Ada standar khusus, harganya lebih mahal dari harga daging biasa yang dikonsumsi manusia.
Anjing harus dibawa berjalan keluar rumah sampai 3 kali sehari. Jika tidak, ia mengalami stress. Anjing dimandikan, dibawa tidur, mendampingi tuannya terus menerus, hingga dibawa piknik, naik mobil, kereta, dan tiketnya dibelikan khusus, dihitung sebagai penumpang.
Ini semua merupakan fenomena kehancuran kemanusiaan di Barat. Manusia tidak percaya lagi kepada anaknya, dia lebih suka membesarkan dan merawat anjing dari merawat anaknya. Ini juga merupakan bukti bahwa manusia membutuhkan makhluk yang hidup bersama dengannya. Ketika makhluk itu tidak didapatkan dari jenis manusia, anjing pun tak mengapa sebagai penggantinya. La hawla wala quwwata illa billah.
Gereja kosong

     
  St. George - inside
Fenomena lain yang tak kalah mengherankan di barat ialah kosongnya tempat ibadah (gereja). Gereja hanya dikunjungi untuk tiga acara, pertama kelahiran anak, kedua ketika seseorang menikah, dan yang terakhir, ketika ada yang meninggal. Selain itu mereka tidak lagi datang ke gereja.
Gereja mirip museum, tempat peninggalan benda-benda tua bersejarah. Yang datang ke gereja, jikapun ada, hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek tua bertongkat dan jalan terpapah-papah.
Ini menunjukkan insan barat sudah meninggalkan agamanya secara massal. Jika kalangan mudanya ditanya, “What is your religion?” (apakah agama Anda?). Mereka menjawab : 'football’ (bola kaki).
Mereka meninggalkan gereja, karena agamanya dirasakan tidak memberi kepuasan bagi hidup mereka dan tidak lagi mereka butuhkan. Hal itu seiring dengan arus materialisme yang semakin deras di barat, arus hedonisme yang makin kencang.
Manusia disibukkan dengan kegiatan mengejar uang dan memburu materi untuk kesenangan hidup atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semakin banyak tuntutan hidup yang dibutuhkan, semakin menuntut kerja keras untuk membayar kebutuhan itu. Mulai dari sewa rumah yang sangat tinggi, misalnya di London, kawasan pinggiran saja besarnya sewa rumah sekitar £1000 sebulan.
Begitu pun dengan kebutuhan transport, makanan, pakaian, perhiasan, pendidikan, piknik, dst, menyebabkan manusia harus habis-habisan berjuang mendapatkan pembayar kebutuhan hidup itu.
Lain lagi kesenangan syahwat dan hawa nafsu yang semakin menyebabkan mereka meninggalkan agamanya. Karena mahalnya living cost di negara-negara barat, sehingga mendorong mereka untuk hidup dengan pasangannya tanpa ikatan pernikahan.
Menurut mereka, nikah mememunculkan tuntutan-tuntutan dan kewajiban. Sementara, mereka tidak ingin diikat dengan kewajiban, namun hawa nafsunya terlampiaskan dengan lawan jenis yang berpandangan serupa. Akhirnya mereka menemukan pasangan hidup yang sejalan dengan pola pikirnya, lalu merekapun hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Saling memuaskan dan tidak saling memberatkan.
Kekeluargaan yang rapuh
Sungguh memilukan, ikatan kekeluargaan di barat sangat rapuh. Perceraian gampang terjadi. Salah satu yang mendorong mereka untuk hidup kumpul kebo, adalah rapuhnya kehidupan berumah tangga. Jika terjadi perselisihan di antara satu pasangan lelaki dan perempuan, maka mereka dengan mudah saja bubar. Lelaki pergi ke utara dan perempuannya ke selatan. Tinggal angkat koper saja.
Adapun jika mereka menikah secara resmi dengan perjanjian yang disahkan oleh negara, maka ketika terjadi perpecahan, harta yang mereka cari akan dibagi dua, seperti rumah, kendaraan dan lain sebagainya. Urusannya juga tak gampang, berhubungan dengan pengadilan dan seterusnya.
Bahkan mereka yang resmi menikahpun, sering melakukan perjanjian tertulis, tentang jumlah anak yang disepakati. Bahkan, ada juga yang sama-sama berjanji untuk tidak punya anak. Jadi secara umum, kultur masyarakat barat masa sekarang ini cenderung tidak menginginkan anak. Kalaupun mau, sangat mereka batasi, cukup satu atau maksimal dua.
Pikiran mereka ini didasarkan pada ideologi pragmatis dan individualis. Dengan punya anak, seseorang akan merasa direpotkan. Mulai anak itu dalam kandungan, ketika lahir, kemudian membesarkannya, menyekolahkannya, sampai anak tersebut beranjak dewasa.
Mereka menganggap kehidupan seperti itu sungguh merepotkan. Sementara mereka tidak mau repot. Merasa enjoy hidup sendiri. Memasak untuk sendiri, bekerja untuk dinikmati sendiri, lapar tanggung sendiri. Kalaupun mereka punya pasangan, pasangan itupun memiliki visi serupa juga.
Demikianlah mereka hidup. Bandingkan dengan Islam yang memandang pernikahan sebagai sarana meraih ketenangan, damai dan kemesraan. Firman Allah Swt:
ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون.
“Di antara tanda-tanda kebesaranNya, Ia menjadikan untuk kamu dari dirimu pasangan agar kamu mendapatkan ketenangan darinya. Dan Ia menjadikan di antara kamu kasih sayang dan belas kasihan. Sesunggunya dalam demikian itu terdapat ayat bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ruum: 21)
Lalu pada masa yang akan datang, akan tiba waktunya kepunahan populasi orang Eropa. Sebab mereka yang hidup sekarang, tidak diteruskan oleh generasi penggantinya. Alhamdulillah, alladzi hadana ilal Islaam. (Segala puji bagi Allah yang menunjuki kita hidup di dalam Islam).
****
 sumber : Eramuslim

Sabtu, 09 Juli 2011

Mencari Ridho Allah (panjang nih)

Al Qalbun Malik

Hati adalah raja. Kutipan dari suatu hadits yang saya sendiri tidak terlalu hapal siapa yang meriwayatkannya. Saya bukan orang alim, bukan orang soleh, bukan seorang ikhwan, tapi juga bukan preman, bukan berandalan, bukan orang musyrik.

Mari kita bahas tentang tiga hal yang sudah menghilang dari hati manusia.

Hilangnya isi hati ini adalah copot iman. Lalu apa ruginya? tentu saja rugi dunia akhirat. Isi hati yang hilang ini menjadikan hati kosong, hingga setan pun girang menemukan tempat kosong. Datang deh setan satu balayon nempatin hati ini. Hingga hati yang kosong ini mejadi kampungnya setan. Jika hati sudah menjadi kampungnya setan, jangan kaget, langkahnya langkah setan, tidak mau melangkah jika bukan setan yang memerintahnya. Tidak akan mau melihat, jika bukan setan yang mengajaknya. Pendengarannya pendengaran setan, tidak akan mendengarkan jika bukan setan yang memerintahkannya. Al Quran dibacakan, dengan suara yang merdu, meskipun mengerti maknanya, tetap saja tidak terdengar, karena setan tidak betah mendengarkan bacaan Al Quran.

Lalu apa saja isi hati itu? Saya nggak merasa hati saya kosong kok. Ya iyalah, hati manusia isi, tapi bukan dengan hal yang pantas diisikan. Udahlah nggak perlu basa-basi apa saja yang hilang itu? Yang hilang adalah ini :
  • Rodhitubillaahi Robba
  • Wabil Islaami diina
  • Wabi Muhammadinnabiyya Warosuula
Ah saya nggak ngerasa kalimat itu hilang kok, lha saya setiap habis shalat mewiridkannya, bahkan kalimat itu sudah diluar kepala. Ya, barangkali ada yang menagatakan seperti itu dan tidak sadar bahwa pernyataan itu sudah hilang dari hati. Mereka tidak sadar, karena membacakannya pakai bahasa Arab. Mari kita "indonesiakan" kalimat-kalimat itu.

1. Rodhitubillahi Robba
Artinya Saya ridho Allah menjadi Tuhan saya. Atau dengan kata lain saya tidak ridho jika tuhan saya bukan Allah. Udah hilang pernyataan ini? Belum, jika yang baca tulisan ini masih orang islam berarti, pernyataan itu belum hilang. Lalu bagian mana yang hilangnya? Sabar kawan, mari kita lanjutkan. Lanjut, dari keterangan bahwa saya ridho Allah menjadi Tuhan saya, lalu bagaimana penjabaran dari pernyataan itu? Ayo kita babar, seperti apa keterangannya.

Saya ridho Allah menjadi Tuhan Saya. Allah yang mana? Allah yang ahad (Al ikhlas : 1). Allah yang hanya ada satu. Tidak ingin sama sekali punya tuhan lebih dari satu. Bagaimana jika mereka bertengkar, kan Tuhan pasti perkasa, jika yang maha perkasa bertengkar, hancurlah dunia. Lanjut? ayo... Selanjutnya Allah yang mana yang kita rela diatur olehNya? Allah yang lam yalid wa lam yuulad (Al Ikhlas : 3). Allah yang yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ingin sama sekali punya tuhan yang punya anak banyak. Jangankan banyak, satu pun saya tidak ingin dia menjadi tuhan saya jika dia punya anak. Kenapa? rugi lho, pas kita berdoa minta sesuatu, sebelum sayang ke orang lain, pasti tuhan itu sayang ke anaknya terlebih dahulu. Lalu Allah yang seperti apa lagi? Allah yang laa ta'khudzuhuu sinaatuw walaa nauum (Al Baqarah ; 255). Allah yang tidak mengantuk dan juga tidak tidur. Rugi, jika saat kita berdoa, tuhan sedang tidur, pasti doa kita tidak terdengar.

Jika tuhan tidur, dunia akan rusak. Pernah suatu kali nabi Musa dicoba karena tidak percaya tuhan tidak pernah tidur. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memegang botol dan tidak boleh tidur, yah, namanya juga manusisa, akhirnya lelah dan mengantuk. Pada saat itu dia tertidur, dan botol yang dipegangnya terjatuh dan pecah.

Udah ada yang hilang, sebagian belum, tapi kebanyakan manusia sudah kehilangan inti dari pernyataan ini. Ayo kita lanjut. Setiap perkataan pasti ada konsekuensinya. Dengan menyatakan bahwa dirinya ridho Allah menjadi Tuhannya, berarti sudah berlaku ketetapan, dia harus ridho diperintah oleh Allah. Nah, di sini udah banyak yang kehilangan makna dari pernyataan pertama. Malah ada yang bilang, "saya mah nggak suka Allah jadi tuhan saya, karena terlalu banyak perintah". Waduh,,,!! Gubraks. Yah,, gampang aja, kalo nggak mau diperintah oleh Allah, pergi aja, jangan ada di dunia milik Allah, cari aja tempat walau sepetak yang bukan milik Allah. Ini mah, tinggal di dunia cipataan Allah mau, tapi diperintah tidak mau. cape deh.. Sakit otaknya, ahahaha...Kalo berdoa aja, minta-minta rezeki, tapi diperintah tidak mau, seperti orang sakit, ingin sembuh tapi tidak mau minum obat,, ahahaha.. Tinggal di dunia betah, tapi menuruti perintah pemilik dunia tidak mau, padahal setiap orang pasti akan kembali kepadaNya, dan panggilan kembali itu tidak bisa di ganggu gugat. Kemarin ada yang tetangga meninggal, sama saya dibilangin jangan pergi dulu, eh,, terus aja dia pergi.

Balik lagi ke inti, tentang kerelaan orang menerima Allah sebagai tuhannya. Orang yang rela Allah menjadi tuhannya, pasti ridho diperintah oleh Allah. Siapapun yang memerintah, jika perintah itu datang dari Allah, pasti dituruti. Allah memerintahkan shalat, maka dengan rela ia akan melaksanakan shalat. Allah memerintahkan zakat, ia akan rela berzakat, masih merasa beruntung tidak semua hartanya dizakatkan, hanya sebagian dari pendapatan, itu pun jika ia memenuhi syarat. Jika tidak malah ia berhak menerima zakat. Allah memerintahkan untuk puasa, maka ia akan rela untukberpuasa, toh cuma memindahkan waktu makan dari siang ke malam. Itu pun sebulan dalam setahun, untung tidak melarang makan seharian. Allah memerintahkan untuk pergi haji, maka ia akan rela untuk pergi ke tanah suci untuk berhaji, saya tidak merasa susah, toh cuma satu kali dari seumur hidup, itu juga bukan untuk semuanya, hanya untuk yang mampu, jika tidak mampu Allah tidak akan memberikan siksa walau tidak pergi haji. Walaupun tidak bisa ke Mekah, kan pas tetangga bisa pergi haji, ketika pulang kita diundang di acara syukurannya. Allah memerintahkan untuk membela islam, maka ia rela membela agama islam, dengan hartanya dengan bersedekah, berinfaq untuk fakir, yatim piatu dan yang lainnya, merasa hartanya hanya titipan, atau bahkan nyawanya.

mau dilanjut, tapi nanti,, lumayan cape juga ngetik segini.

Sabtu, 11 Juni 2011

Malam Minggu (Artikel Propaganda)

Sebelum ke artikel inti, saya ingin menyajikan beberapa berita negatif dengan malam minggu. 

Berita 1
Malam Minggu Ajang Mesum Tiga Pasangan

"...Informasinya sebelum digerebek, Mus membawa masuk seorang gadis ke dalam toko menjelang tengah malam. Bahkan sampai dinihari, tidak juga keluar dari TKP hingga mengundang kecurigaan sejumlah pengintai.
“Usai menerima informasi dari warga, ada satu pasangan diduga berkhalwat sudah diamankan warga, mengindari amuk massa, ke duanya langsung kami amankan ke kantor...."
  
Berita 2
Gadis ABG nyaris digilir berasalan

"...Upaya kebiadaban pelaku terhadap MM berawal ketika ia diajak lima pemuda yang belum lama dikenalnya untuk menikmati suasana malam Minggu. Tak curiga, pelajar kelas I SMP ini mau saja diajak pergi.Rupanya ia diajak ke tepi danau. Di tempat ini pula, MM dipaksa menenggak minuman keras (miras)..."
  
Berita 3
Malam Minggu Jadi Tempat Kencan 

"...Mereka yang datang adalah pasangan muda, insan berlainan jenis. Sayangnya, lokasi yang dianggap sakral ini malah dimanfaatkan hal yang tidak-tidak. “Malah sering dijadikan tempat janjian atau kencan para anak muda,” ujar Jojon, pengelola TPU ini ketika ditemui Radar, kemarin.
Biasanya, orang lebih banyak takut ketimbang berani nongkrong sampai malam-malam di areal pemakaman. Namun, kata Jojon, hal itu sudah tak berlaku lagi bagi segelitir kawula muda yang berpasangan...."
Itulah sedikit berita negatif dari malam minggu. Kenapa saya membuat artikel tentang malam minggu? Karena banyaknya status di situs jejaring sosial Facebook yang berkaitan dengan malam minggu. Entah itu yang kesepian karena tidak kencan, entah itu yang malam malam minggu kelabu, dsb.  Lantas apa yang salah jika seseorang ingin bermalam minggu? Tidak ada yang salah dengan malam minggu, yang salah adalah kegiatan malam minggu itu, yang sebenarnya pada malam-malam lain pun tidak jarang dilakukan.

Ada orang yang memasang status "malam minggu sepi" atau kalimat sejenis. Entah kenapa hanya malam minggu saja yang dijadikan spesial? Sedangkan jika di malam lain dengan keadaan yang sama (sepi) jarang sekali ada orang yang memasang status seperti itu (misalnya, malam selasa sepi, dsb).

Setiap waktu (masa) adalah sama. Setiap orang punya waktu 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Begitu juga hitungan lainnya (detik dan menit). Bagi seorang muslim waktu harus benar-benar dihargai. Karena tidak ada satu pun makhluk-Nya yang bisa memutar balik waktu bahkan memperlambat pun tidak ada yang bisa. 

Bagi seorang muslim, penggunaan waktu dengan baik sangatlah diutamakan. Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an dan Hadits.
Dalam surat al-‘Ashr, Allah swt. berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Ingatlah pesan Nabi Muhammad saw: “Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang musafir atau bahkan seperti seorang pengembara. Apabila engkau telah memasuki waktu sore, janganlah menanti datangnya waktu pagi. Dan apabila engkau telah memasuki waktu pagi, janganlah menanti datangnya waktu sore. Ambillah waktu sehatmu (untuk bekal) waktu sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.” (H.R. Bukhari). (link)
 Dalam Al Qur'an maupun hadist, (saya) tidak menemukan satu pun keutamaan malam minggu. Tapi justru mereka yang menunggu malam minggu, adalah orang islam (di Indonesia mayoritas Islam). Mereka menunggu malam minggu karena ada istilah "malam minggu malam yang panjang". Malam panjang karena, pada hari selanjutnya adalah hari libur. Lalu, "malam yang panjang" itu oleh kebanyakan pemuda-pemudi dipakai untuk berkencan / pacaran / dating. Bahkan dalam melakukannya banyak yang pergi tanpa izin dari orang tua. 

Sebetulnya baik dengan izin atau tanpa izin orang tua pun tetap saja buruk. Jika orang tua mengizinkan, maka orang tua bertanggung jawab pada apapun yang terjadi pada anaknya pada malam itu. Jika orang tuanya tidak mengizinkan, maka orang tua juga tetap harus menerima jika ada "apa-apa" pada anaknya. Dan berita tentang peristiwa buruk yang terjadi antara dua orang yang berlainan jenis tidaklah sedikit. 

Lalu bagaimanakah seharusnya seseorang melalui malam minggu? Agar terhindar dari hal-hal buruk? Berikut ini ada sedikit saran dari saya.
Sedikit Saran
Gunakan "malam panjang" itu untuk beristirahat. Kebanyakan orang menggunakan malam minggu untuk refreshing melepas kepenatan dari hari-hari sebelumnya. Lantas jika malam minggu digunakan untuk bergadang, kapan istirahatnya?

Berkumpul dengan keluarga. Pada hari-hari biasa kebanyakan orang tua yang masih aktif bekerja akan merasa lelah di waktu malam. Sebagian besar pegawai libur pada hari Sabtu. Maka gunakanlah malam hari untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Jika di hari biasa tidak bisa berkumpul dengan keluarga, dan malam minggu para pemuda pergi untuk kencan, lantas bagaimana orang tua bisa dekat dengan anak?

Evaluasi. Evaluasi adalah hal yang sangat baik untuk membuat rencana kegiatan di pekan selanjutnya. Seseorang yang memiliki manajemen waktu yang baik, harus tahu, kegiatan apa yang telah dilakukannya pekan ini? Berapa persen kegiatan yang bermanfaat? Berapa persen kegiatan yang tidak bermanfaat. Sehingga tahu apa yang harus dilakukan pekan depan agar seluruh waktunya efektif.
Hargailah waktu dengan baik. Karena waktu bukan berputar, tapi terus maju. Malam panjang juga sangat baik untuk beribadah, berdo'a kepada Allah, bersyukur atas waktu yang telah diberi, meminta maaf atas segala dosa yang telah dilakukan dalam sepekan itu, meminta bimbingan kepada Allah, agar pekan depan bisa lebih baik. Dengan begitu tidak akan ada malam minggu kelabu. Insya Allah. Allahu 'alam.

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Q.S Al Furqon : 62)

Sabtu, 28 Mei 2011

Penjual Kayu Bakar itu Diterima di ITB

JARUM jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, Minggu (22/11), saat Singgalang bertandang ke rumah sederhana milik keluarga Yudi April Nando, 19, anak hebat SMA 1 Pariaman peraih nilai tertinggi UN IPA SMA 2011. Rumahnya di Korong Buluah Kasok, Nagari Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Rumah itu amat sederhana, sesederhana anak hebat yang tinggal di dalamnya. Dinding rumah diplester seadanya. Waktu gempa, rumah ini mengalami kerusakan parah. Halaman ditumbuhi gulma panjang sejengkal. Di salah satu sudut tampak seonggok biji cokelat (kakao) sedang dijemur.
Singgalang mengetok pintu rumah sederhana itu. Ingin bertemu si anak hebat yang tinggal di sini. Setelah beberapa kali diketok, muncul sosok pemuda tinggi jangkung. Lalu ia bertanya.
“Cari sia da?
“Mancari Yudi April Nando...,”
“Ambo Yudi, ado apo da?” Jawab si jangkung itu.
Setelah memperkenalkan diri, pintu rumah pun dibukakan dan dipersilahkan masuk. Melongo saya menyaksikan rumah Yudi. Kontras benar kondisinya kalau dibandingkan dengan prestasi di bangku pendidikan. Yudi mengantongi nilai UN IPA tertinggi di Sumbar 56,20. Bahkan, dua mata pelajaran, matematika dan kimia nilainya 10 pula.
Dalam rumah tak ada kursi empuk. Ada sebuah almari usang, sebuah bofet dan sebuah meja reot untuk meletakkan makanan yang ditempatkan di sudut ruangan.
Adik perempuan Yudi, Rini bergegas membentangkan tikar pandan dan mempersilahkan duduk. Setelah itu Rini berlalu membangunkan bapaknya yang lagi tidur.

Kisah pahit
Yudi yang dari tadi terlihat bingung membuka pembicaraan. Dia bertanya.
“Apo yang bisa wak bantu da?” Tanya dia.
“Ndak do, ambo nio bacurito sae nyo, seputar prestasi Yudi raih di sekolah,”.
Yudi termangu, matanya menerawang jauh menyiratkan bahagia dan galau. Dia pun melepaskan pandangan kepada ayahnya, Ali Ninih, 60.
“Apo lo ka dimalu an, memang co iko iduik wak. Carito an se lah,” kata Ali Ninih menyuruh anaknya.
Yudi pun bercerita panjang tentang keluarga dan kelangsungan pendidikannya hingga akhirnya bisa meraih nilai tertinggi UN IPA di Sumbar. Sesekali matanya terlihat berbinar menahan air mata.
“Antah lah da, semangat jo keyakinan se nan mambuek wak bisa rajin dan tekun sikola nyo,” tutur Yudi.
Panjang dan pahit lika-liku hidup yang dijalani anak hebat ini untuk bisa sekolah. Tak sedikit tetangga yang mencibir, mencimeehnya.
“Sikola yang dituruik an, iduik keluarga, untuak makan se payah,” cibir tetangga suatu waktu.
Tapi cimeeh itu dijadikan semangat oleh Yudi untuk berbuat lebih. Yudi ingin membuktikan, kalau cimeeh itu tak selamanya benar.
Ayah Yudi, Ali Ninih menceritakan, sebenarnya hatinya iba melihat Yudi. Iba tak bisa berbuat banyak mendukung biaya sekolah. Kadang-kadang untuk ongkos pergi sekolah Yudi, Ali Ninih tak jarang meminjam uang kepada tetangga. Utang kemudian ditutupi dengan kayu bakar yang ia cari di hutan.
Begitulah setiap hari, gali lubang, tutup lubang.
Melihat kondisi orangtuanya seperti itu, Yudi sebenarnya tak tega. Tapi, di sisi lain, dia ingin juga mengejar cita-citanya menjadi dosen atau ahli ilmu teknologi (IT).
Demi cita-cita itu pula, Yudi turun tangan membantu orangtuanya mencari kayu api ke hutan, atau mengambil upah mengerjakan sawah orang.
Kayu bakar yang dicari dijual ke sebuah rumah makan di dekat tempat tinggalnya Rp4.000 per ikat. Sekali ke hutan, dia dan ayahnya bisa mengumpulkan empat hingga lima ikat kayu bakar. Uang penjualan kayu bakar dipakai Yudi untuk ongkos dan belanja ke sekolah. Sisanya untuk bayar hutang dan makan.
“Kalau lah pai we e ka rimbo jo apak mancari kayu, ibo hati apak dek e. Tapi, semangat we e yo sabana kuat untuk sikola. Pai ka rimbo, we e mambaok buku juo. Panek mengumpua an kayu, inyo mambaco. Kayu takumpua, inyo nan mambaok kayu jo garobak pulang. Hampia tiok hari sarupo itu,” kata Ali Ninih.

Diterima di ITB
Buah pahit, kalau yakin bisa jadi obat. Begitu pula dengan Yudi. Pahitnya kehidupan yang dijalani ternyata berbuah manis. Sejak SD hingga SMA, Yudi selalu meraih rengking 1 di kelas. Kini, dia diundang pula untuk kuliah di ITB.
Karena prestasinya itu pula, pelbagai beasiswa bisa dia dapat untuk kelangsungan pendidikan. Bahkan, karena terenyuh melihat kondisi keluarga dan prestasi akademiknya yang luar biasa, seorang pejabat di lingkungan Pemkab Padang Pariaman berkenaan jadi donatur. Selama di SMA, Yudi diberi bantuan uang tunai tiap bulan oleh pejabat tersebut.
Setelah lulus UN, Yudi tercatat salah satu dari puluhan siswa SMA 1 Pariaman yang berkesempatan menerima tawaran dari pemerintah untuk kuliah di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia. SNMPTN jalur undangan beda dengan PMDK. SNMPTN jalur undangan, siswa penerima dibebaskan memilih PTN favorit.
Yudi memilih ITB, kampus yang selama ini jadi cita-citanya untuk kuliah. Di ITB dia mengambil Sekolah Teknik Elektronika dan Informatika (STEI). Di ITB fakultas atau sekolah, rupanya sama. Selama ini dia bercita-cita ingin sekali menjadi dosen atau ahli TI. Kini, langkah menuju cita-cita itu sudah di depan mata Yudi.
Untuk kuliah di ITB, semua sudah ditanggung negara. Untuk keberangkatan ke Bandung mendaftar, telah ada pula donatur yang mengupayakan keberangkatan. Rencananya, Yudi dan istri pejabat yang jadi donaturnya sejak SMA itu akan berangkat ke Bandung, Jumat (27/5). Batas akhir mendaftar di ITB, Selasa (31/5).
Kini yang jadi kerisauan bagi Yudi, setelah kuliah nanti, ia membutuhkan biaya beli buku dan biaya lainnya. Jumlahnya pasti banyak dan tak akan bisa diharapkan kepada keluarga.
Yudi berharap, ke depan ada orang baik untuk membantunya. Dia sendiri akan berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja, apapun itu nantinya.
Yudi si penjual kayu bakar nan hebat itu membuktikan pada dunia, kalau kemiskinan tak bisa menghalangi keinginan untuk mengejar cita-cita.
Dinding tinggi dan sekat tebal itu dia runtuhkan dengan semangat, keyakinan dan ketekunan belajar. Bagi dia, uang bukan segala-segalanya dalam mengejar cita-cita. Orang miskin juga bisa sukses. (*)

Semoga sukses dan berhasil di sana serta menjadi orang yang berguna baginusa dan bangsa...


About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates