Kamis, 27 Agustus 2015

Membantah tuduhan Salafi Maz'um terhadap Daulah islamiyah

Beberapa kalangan muslim menuduh bahwa daulah islam adalah khawarij. Berikut ini adalah diantara tuduhan tersebut dan bantahannya. Sebaiknya para salafi maz'um dan ulama murji'ah menyaksikan video ini. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.

Andre Tauladan

Sabtu, 15 Agustus 2015

Wajibnya Shalat Berjama'ah

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian kaum muslimin sering ketinggalan shalat jama’ah tanpa udzur syar’i (alasan yang diperbolehkan). Sebagian lagi beralasan dengan pekerjaan-pekerjaan duniawi. Ketika mereka dinasehati, mereka tidak menghiraukannya bahkan sering membantah dengan mengatakan bawha shalat itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak ada seorangpun yang boleh campur tangan di dalamnya. Bagaimana pendapat anda tentang perbuatan mereka itu? Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada mereka dan kepada kita semua.

Jawaban
Menasehti kaum muslimin dan mengingkari kemungkaran mereka adalah termasuk kewajiban yang utama, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang mungkar” [At-Taubah : 71]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Kalau dia tidak mampu, rubahlah dengan lisannya. Kalau dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” [HR Muslim]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Agama adalah nasihat”. Ada yang bertanya kepada beliau : “Untuk siapa ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab : “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam kaum muslimin dan kebanyakan kaum muslimin” [HR Muslim]

Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan shalat jama’ah tanpa udzur adalah termasuk kemungkaran yang wajib diingkari. Karena shalat lima waktu di masjid dengan berjama’ah adalah kewajiban bagi laki-laki. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang sangat banyak, diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang mendengar panggilan adzan kemudian dia tidak datang (ke masjid untuk shalat berjama’ah), maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada udzur/halangan” [HR Ibnu Majah-pent]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dan lain-lain dengan sanad jayid dishahihkan oleh Imam Hakim.

Dan diriwayatkan juga dalam sebuah hadits shahih bahwa.

“Artinya : Ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata : ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak mempunyai seorang penuntun yang bisa menuntun saya ke masjid. Adakah keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Apakah kamu mendengar panggilan adzan? Orang itu menjawab : Ya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : kalau begitu kamu wajib datang ke masjid” [HR Muslim : 1044]

Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak.

Oleh karena itu, seorang muslim apabila dinasihati oleh saudaranya, dia tidak boleh marah dan tidak boleh menolak kecuali dengan cara yang baik. Justru sepatutnya dia berterima kasih kepada saudaranya yang mengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak boleh bersikap sombong terhadap orang yang mengajak kepada kebenaran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela dan mengancam orang yang bersifat seperti ini dengan azab Jahannam, sebagaimana firman-Nya.

“Artinya : Dan apabila dikatakan kepadanya : Bertakwalah kepada Allah, bangkitlah kesombongannya berbuat dosa. Maka cukuplah Jahannam baginya dan itulah sejelek-jelek tempat” [Al-baqarah ; 206]

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi petunjuk kepada seluruh kaum muslimin.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]
sumber : almanhaj.or.id
Andre Tauladan

Dhaifnya Jihad Melawan Hawa Nafsu

“MELURUSKAN PEMAHAMAN JIHAD KECIL DAN JIHAD BESAR”

Salah satu penyakit yang "menggerogoti" semangat Jihad kaum Muslimin adalah adanya istilah "Jihad kecil "dan "Jihad besar". Menurut keyakinan pemilik konsep ini, berperang melawan nafsu diri sendiri adalah termasuk Jihad besar, pada masa yang sama mereka mengklaim bahwa berperang melawan musuh-musuh Allah adalah sebagai Jihad kecil. Beberapa alasan yg digunakan untuk menyatakan bahwa Jihad melawan hawa nafsu dan syaitan adalah Jihad besar, adalah sebagai berikut:

Medan jihad melawan nafsu adl tak terbatas, & tak mengenal waktu, Perang melawan nafsu ini sangat susah, karena hakikatnya ia berperang melawan diri sendiri. Musuh tidak nampak dan tidak dapat dideteksi. Sedang dalam Jihad melawan kaum kafir, tidak sepanjang, tidak seluas dan tidak sesulit jihad melawan diri sendiri. Karenanya, Jihad melawan kaum kafir di medan perang adl termasuk Jihad kecil/Jihad Asghar Inilah yang menjadi opini kebanyakan kaum Muslimin hari ini. Pembagian Jihad seperti di atas adalah berdasarkan hadits yang menyatakan bahwa satu ketika Rasulullah s.a.w pulang dari berperang, pada ketika itu beliau bersabda: "Kita telah pulang dari Jihad kecil menuju Jihad besar" Beberapa sahabat lalu bertanya, apakah Jihad besar itu wahai Rasulullah s.a.w? Beliau menjawab : Jihad melawan hawa nafsu".

Itulah hadits yang digunakan oleh banyak orang untuk mengelakkan diri dari kewajiban Jihad melawan kaum kafir. Dalam Takhriju Ahaadiitsil Ihya, Al-'Iraqy menyebutkan : Hadits yang dimaksudkan di atas disebutkan oleh Al-Baihaqi sbg Dha'iful Isnad (terdapat kelemahan dalam rantai periwayatnya) dari Jabir " (Risalah Jihad, Hasan Al-Banna) Terdapat hadits lain yang diriwayatkan oleh Khatib Al-Baghdadi, dari Jabir, yang menyebutkan, Ketika Rasulullah s.a.w pulang dari medan perang, beliau bersabda: "Kita baru saja kembali dari tempat yang terbaik, dan kalian telah kembali dari perang kecil menuju perang besar. Para sahabat bertanya apa maksud Jihad besar itu wahai Rasulullah s.a.w? beliau menjawab:"Jihadnya seseorang melawan hawa nafsunya"(Tarikh Al-Baghdadi 13/493)

Hadits inipun termasuk Dha'ief (lemah), krn dlm sanadnya terdapat perawi (periwayat) bernama Khalaf bin Muhammad bin Ismail bin Khiyam, yang menurut Al-Hakim: 'Haditsnya tidak dapat dipakai'. Sedangkan menurut Abu Ya'la Al-Khalil: "Ia kadang berdusta,meriwayatkan hadits dari sumber yang tidak diketahui" (Masyaari'ul Asywaaq Ilaa Mashaa-ri'il Usysyaaq 1/31) Al-Hakim dan Ibnu Zur'ah menyatakan : "Kami kadang-kadang menulis riwayat dari Khalaf bin Muhammad bin Isma'il hanya sekedar contoh,& kami berlepas diri darinya " (Mizanul I'tidal 1/662)

Terdapat sumber lain yang sangat diragukan, dalam sebuah hadits yang di dalamnya terdapat perawi bernama Yahya bin Al-Ula Al-Bajili, yang menurut Imam Ahmad, bahwa dia dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadits. Juga Amru bin Ali, An-Nasai dan Daruquthni menyatakan : "Haditsnya ditolak". Ibnu Adi menyatakan: Haditsnya adalah palsu" (Rujuk: Tahdziibut Tahdziib 11/261-262)

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapatlah kita simpulkan bhw hadits-hadits yang digunakan sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Jihad melawan hawa nafsu dan syaitan adl Jihad Akbar (Jihad besar), ADALAH LEMAH ATAU PALSU. Disamping itu, seluruh hadits-hadits LEMAH & PALSU diatas, bertentangan dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih lainnya: Firman Allah:"Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak mau beperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang- orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat " (An-Nisa (4) :95)
Perbedaan derajat di atas adalah berlaku ketika jihad dalam keadaan Fardhu Kifayah. Sedangkan ketika Jihad menjadi fardhu 'ain, maka orang-orang yang meninggalkan jihad fie Sabilillah dianggap sebagai berdosa besar. Dikatakan dosa besar karena pelakunya diancam dengan adzab dari Allah:"Jika kalian tidak pergi berperang, Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih.." (At-Taubah (9):39)

"Menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur, menceritakan kepada kami Abdullah Al-Waasithi dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya,dari Abu Hurairah, katanya : kepada nabi s.a.w ditanyakan tentang amal apa yang menyamai jihad fie Sabilillah Azza Wa Jalla, Rasulullah saw menjawab : 'kalian tidak akan sanggup', lalu pertanyaan itu diulang sampai Dua Tiga kali, semua pertanyaan itu dijawab oleh Rasulullah s.a.w dengan : "Kalian tak akan sanggup melakukannya", pada ketiga kalinya Rasulullah s.a.w bersabda: " Perbandingan seorang Mujahid Fie Sabilillah adalah seperti seorang yang shaum (puasa) dan Sholat dan membaca ayat-ayat Allah. Orang yang shaum tadi terus menerus shaum, tidak pernah berbuka, terus menerus berdiri sholat tanpa henti, sampai Mujahid tersebut kembali dr Jihad Fie Sabilillahi (Shahih Muslim, Kitaabul Imaarah:3490) Dalam shahih Bukhari disebutkan:"Dari Dzakwan, bahwa Abu Hurairah bercerita kepadanya, katanya: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw & berkata: Tunjukkanlah kepadaku amal yang menyamai Jihad Fie Sabilillah. Rasulullah s.a.w menjawab: Aku tak mendapatinya. Kata beliau lagi: "Sanggupkah engkau,begitu Mujahid keluar menuju Jihad Fie Sabilillah, pada masa yang sama engkau memasuki mesjidmu, lalu engkau sholat terus menerus tak berhenti, dan shaum terus menerus tanpa pernah berbuka?" Orang yang bertanya tadi berkata : "Mana ada yang sanggup seperti itu ?" (HR.Al-Bukhari, Kitaabul Jihaad Was-Sayru: 2577)

Dalam hadits yang diriwayatkan Hakim, dengan sanad yang shahih dr Muaz bin Anas r.a, mengatakan, satu ketika seorang wanita mendatangi Rasulullah s.a.w dan bertanya: "Wahai Rasulullah s.a.w, suamiku telah berangkat berjihad. Biasanya jika dia sholat aku mengikutinya dalam sholatnya, akupun mengikuti seluruh aktivitasnya dalam ibadah. Karena itu, beritahulah saya amalan apa yang dapat menyamai Jihad, sampai dia kembali dari medan Jihad. " Rasulullah s.a.w menjawab: "Sanggupkah kamu berdiri sholat terus-menerus tanpa duduk, melaksanakan shaum (puasa) tanpa buka, dan terus menerus berdzikir sampai suamimu kembali dari medan Jihad?" Ia menjawab: "Saya tak sanggup wahai Rasulullah s.a.w" Lalu Rasulullah s.a.w berkata kepada wanita tadi, Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), seandainya kamu sanggup melakukannya, maka apa yang kamu lakukan itu tidak akan mencapai 1/10 daripada apa di tangan-Nya (Demi Allah), seandainya kamu sanggup melakukannya, maka apa yang kamu lakukan itu tidak akan mencapai 1/10 daripada apa Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita, dapat dengan jelas memahami bahwa Jihad Fie Sabilillah adalah merupakan amal yg paling tinggi, tidak ada amal lain yg menyamainya,&bagaimana mungkin suatu amal yg paling tinggi dlm Islam dianggap sbg Jihad kecil? Mungkin saja sebagian orang beranggapan bahwa Jihad yang dimaksud dalam hadits itu bukanlah berarti perang. Pendapat seperti ini tidak berdasarkan nash yg sah.Bukti nyata bahwa kata 'Jihad' diatas adl sama sekali tidak dapat diartikan lain kecuali dgn arti perang Adakah amal lain selain jihad yang menyamai amal orang seperti itu? tentu saja tidak, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah s.a.w. Dalam Nuzhatul Muttaqiin (Syarah Riyadush Shaalihiin, Imam Nawawi) dimuat banyak hadits mengenai keutamaan Jihad Fie Sabilillah, yang pada intinya menyebutkan bahwa tidak ada amal yang lebih utama selain Jihad Fie Sabilillah. Hal yang sama disebutkan pula dalam Masyaari'ul Asywaaq Ilaa Mashaari'il Usy-Syaaq ( Syaikh Asy-syahid Imam Ibnun Nuhaas, Asy-syafi'I). Apakah wajar seseorang yang melaksanakan Mujaahadatun Nafs, yang jauh dari medan perang menyebut amalannya sebagai Jihad Akbar (Jihad besar), sedangkan orang-orang yang berperang melawan kafir disebut Jihad Asghar (Jihad kecil?) Mujahadatun nafsi, disamping jauh dari medan perang, musuh yang dihadapi hanya satu, yaitu musuh yang tidak nampak: hawa nafsu dan syaitan. Sementara itu Jihad fie Sabilillah, Jihad melawan kafir, di medan perang, yang dihadapi oleh mereka adalah lebih dari satu musuh; musuh yang tidak kelihatan dan musuh yang kelihatan, yaitu kaum kafir dan Munafiqin.

Mujahidin fie sabilillah, tidak hanya menghadapi kaum kafir, bahkan iapun harus melawan hawa nafsunya yang selalu mengajaknya kepada perbuatan dosa. Hawa nafsu yang datang menerpanya amat beragam, tatkala ia hadir di medan perang, baik berupa ketakutan, keraguan, kesukaran dan bahkan kesedihan. Sang Mujahid akan terus berperang di jalan Allah, dengan segala mental yang ia miliki, ia berharap untuk berhasil. Sebagai manusia biasa ia harus sanggup menghadapi perasaannya tatkala ia teringat anak-anak yang ditinggalkannya demi Jihad Fie Sabilillah, teringat istri, orangtua dan handai taulan. Ia harus menerima kenyataan tatkala ia harus memakan makanan yang mungkin asing baginya saat ia berjihad di tempat yang memiliki adat, tradisi dan pola hidup yang berbeda dengan dirinya. Ia harus menghadapi perasaannya tatkala ia mesti tidur di hanya sebidang tanah, bukan di kasur! Banyak lagi hal-hal lain yang harus dihadapi oleh jiwanya, yang semua itu adakalanya mengganggu perasaannya. Maka benarlah firman Allah: "Telah diwajibkan kepadamu untuk berperang, padahal perang itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamumembenci sesuatu padahal sesuatu yang kamu benci (perang) itu adalah baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal sesuatu yang kamu sukai itu adalah buruk bagi kamu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui " (Al-Baqarah (2):216) Dengan kata lain, Mujahadatun nafsi di medan perang adalah lebih sukar daripada Mujahadatun Nafsi di selain medan perang. Maka, sekali lagi, cobalah renungkan patutkah,jihad memerangi kafir, yang tidak dapat dipisahkan dengan jihad melawan nafsu disamakan dgn Jihad Asghar (Jihad kecil), sedangkan Mujaahadatun nafsi di luar medan perang, yg musuhnya hanya musuh yg tak nampak dianggap sbg jihad besar? Dengan penjelasan diatas, nyatalah bahwa pendapat yang menyatakan bahwa Jihad Akbar adalah Jihad melawan hawa nafsu, sedangkan Jihad melawan kaum kafir sbg Jihad kecil, adl pendapat yg TIDAK SAH, baik disebabkan oleh HADIST yg LEMAH maupun HADIST PALSU

Wallahu A'lam Bish Shawab
Referensi :
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3. Nuzhatul Muttaqiin,syarah riyaadhus Shalihin
4. Masyaari'ul Asywaaq Ilaa Mashaari'il Usy-Syaaq
5. Majalah Nida-ul Islam edisi ke 26
yaa.. Rabb... telah disampaikan

dari http://chirpstory.com/li/276206
Andre Tauladan

Korban Bom Koalisi Salibis Terus Bertambah

Serangan udara yang dilakukan oleh koalisi salibis - murtadin dalam rangka menyerang daulah islam (dulu ISIS) hingga saat ini terus menambah korban dari rakyat sipil. Peperangan melawan "teroris" nyatanya malah membunuh banyak orang termasuk anak-anak. Jika para pembaca mau berfikir maka teroris sebenarnya adalah Amerika dan orang-orang yang mendukungnya. Sebelumnya, di berbagai media telah dilaporkan bahwa pesawat Amerika telah mendarat di bandara Turki. Pesawat yang datang antara lain pesawat jenis F16, C5, dan drone jenis raptor.

Berikut ini foto anak-anak yang menjadi korban pengeboman oleh Amerikayang dibantu oleh Turki dan n yang dipublikasikan oleh media 'Amaq.





Andre Tauladan

Kamis, 13 Agustus 2015

Syubhat-Syubhat Sekitar Masalah Demokrasi Dan Pemungutan Suara

Pemungutan suara atau voting sering digunakan oleh lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi baik skala besar seperti sebuah negara maupun kecil seperti sebuah perkumpulan, di dalam mengambil sebuah sikap atau di dalam memilih pimpinan dan lain-lain. Sepertinya hal ini sudah lumrah dilangsungkan. Hingga dalam menentukan pimpinan umat harus dilakukan melalui pemungutan suara, dan tentu saja masyarakat umumpun dilibatkan di dalamnya. Padahal banyak di antara mereka yang tidak tahu menahu apa dan bagaimana kriteria seorang pemimpin menurut Islam.
voting box
image by ciker.com

Dengan cara dan praktek seperti ini bisa jadi seorang yang tidak layak menjadi pemimpin keluar sebagai pemenangnya. Adapun yang layak dan berhak tersingkir atau tidak dipandang sama sekali ! Tentu saja metoda pemungutan suara seperti ini tidak sesuai menurut konsep Islam, 'yang menekankan konsep syura (musyawarah) antara para ulama dan orang-orang shalih. Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.[An-Nisaa/4 : 58]

Kepemimpinan adalah sebuah amanat yang amat agung, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan manusia yang amat sensitif. Oleh sebab itu amanat ini harus diserahkan kepada yang berhak menurut kaca mata syariat. Proses pemungutan suara bukanlah cara/wasilah yang syar'i untuk penyerahan amanat tersebut. Sebab tidak menjamin penyerahan amanat kepada yang berhak. Bahkan di atas kertas dan di lapangan terbukti bahwa orang-orang yang tidak berhaklah yang memegang (diserahi) amanat itu. Di samping bahwa metoda pemungutan suara ini adalah metoda bid'ah yang tidak dikenal oleh Islam. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satupun dari Khulafaur Rasyidin yaitu: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiyallahu 'anhum maupun yang sesudah mereka, yang dipilih atau diangkat menjadi khalifah, melalui cara pemungutan suara yang melibatkan seluruh umat.

Lantas dari mana sistem pemungutan suara ini berasal ?! Jawabnya: tidak lain dan tidak bukan ia adalah produk demokrasi ciptaan Barat (baca kafir).

Ada anggapan bahwa pemungutan suara adalah bagian dari musyawarah. Tentu saja amat jauh perbedaannya antara musyawarah mufakat menurut Islam dengan pemungutan suara ala demokrasi di antaranya:

• Dalam musyawarah mufakat, keputusan ditentukan oleh dalil-dalil syar'i yang menempati al-haq walaupun suaranya minoritas.

• Anggota musyawarah adalah ahli ilmu (ulama) dan orang-orang shalih, adapun di dalam pemungutan suara anggotanya bebas siapa saja.

• Musyawarah hanya perlu dilakukan jika tidak ada dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah. Adapun dalam pemungutan suara, walaupun sudah ada dalil yang jelas seterang matahari, tetap saja dilakukan karena yang berkuasa adalah suara terbanyak, bukan al-Qur'an dan as-Sunnah.

MAKNA PEMUNGUTAN SUARA
Pemungutan suara maksudnya adalah: pemilihan hakim atau pemimpin dengan cara mencatat nama yang terpilih atau sejenisnya atau dengan voting. Pemungutan suara ini, walaupun bermakna: pemberian hak pilih, tidak perlu digunakan di dalam syariat untuk pemilihan hakim/pemimpin. Sebab ia berbenturan dengan istilah syar'i yaitu syura (musyawarah). Apalagi dalam istilah pemungutan suara itu terdapat konotasi haq dan batil. Maka penggunaan istilah pemungutan suara ini jelas berseberangan jauh dengan istilah syura. Sehingga tidak perlu menggunakan istilah tersebut, sebab hal itu merupakan sikap latah kepada mereka.

MAFSADAT PEMUNGUTAN SUARA
Amat banyak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari cara pemungutan suara ini di antaranya:

• Termasuk perbuatan syirik kepada Allah.
• Menekankan suara terbanyak.
• Anggapan dan tuduhan bahwa dinul Islam kurang lengkap.
• Pengabaian wala' dan bara'.
• Tunduk kepada Undang-Undang sekuler.
• Mengecoh (memperdayai) orang banyak khususnya kaum Muslimin.
• Memberikan kepada demokrasi baju syariat.
• Termasuk membantu dan mendukung musuh musuh Islam yaitu Yahudi dan Nashrani.
• Menyelisihi Rasulullah dalam metoda menghadapi musuh.
• Termasuk wasilah yang diharamkan.
• Memecah belah kesatuan umat.
• Menghancurkan persaudaraan sesama Muslim.
• Menumbuhkan sikap fanatisme golongan atau partai yang terkutuk.
• Menumbuhkan pembelaan membabi buta (jahiliyah) terhadap partai-partai di golongan mereka.
• Rekomendasi yang diberikan hanya untuk kemaslahatan golongan.
• Janji janji tanpa realisasi dari para calon hanya untuk menyenangkan para pemilih.
• Pemalsuan-pemalsuan dan penipuan-penipuan serta kebohongan-kebohongan hanya untuk meraup simpati massa.
• Menyia-nyiakan waktu hanya untuk berkampanye bahkan terkadang meninggalkan kewajiban (shalat dan lain-lain).
• Membelanjakan harta tidak pada tempat yang disyariatkan.
• Money politic, si calon menyebarkan uang untuk mempengaruhi dan membujuk para pemilih.
• Terperdaya dengan kuantitas tanpa kualitas.
• Ambisi merebut kursi tanpa perduli rusaknya aqidah.
• Memilih seorang calon tanpa memandang kelurusan aqidahnya.
• Memilih calon tanpa perduli dengan syarat syarat syar'i seorang pemimpin.
• Pemakaian dalil-dalil syar'i tidak pada tempatnya, di antaranya adalah ayat-ayat syura yaitu Asy-Syura': 46.
• Tidak diperhatikannya syarat-syarat syar'i di dalam persaksian, sebab pemberian amanat adalah persaksian.
• Penyamarataan yang tidak syar'i, di mana disamaratakan antara wanita dan pria, antara seorang alim dengan si jahil, antara orang-orang shalih dan orang-orang fasiq, antara Muslim dan kafir.
• Fitnah wanita yang terdapat dalam proses pemungutan suara, di mana mereka boleh dijadikan sebagai salah satu calon! Padahal Rasulullah telah bersabda: "Tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum wanita". [Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Bakrah]
• Mengajak manusia untuk mendatangi tempat-tempat pemalsuan.
• Termasuk bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
• Melibatkan diri dalam perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
• Janji-janji palsu dan semu yang disebar.
• Memberi label pada perkara-perkara yang tidak ada labelnya seperti label partai dengan partai Islam, pemilu Islami, kampanye Islami dan lain-lain.
• Berkoalisi atau beraliansi dengan partai-partai menyimpang dan sesat hanya untuk merebut suara terbanyak.
• Sogok-menyogok dan praktek-praktek curang lainnya yang digunakan untuk memenangkan pemungutan suara.
• Pertumpahan darah yang kerap kali terjadi sebelum atau sesudah pemungutan suara karena memanasnya suasana pasca pemungutan suara atau karena tidak puas karena kalah atau merasa dicurangi.

Sebenarnya masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan akibat dari proses pemungutan suara ini. Kebanyakan dari kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi adalah suatu yang sering nampak atau terdengar melalui media massa atau lainnya !

Lalu apakah pantas seorang Muslim -apalagi seorang salafi- ikut-ikutan latah seperti orang-orang jahil tersebut ?!

Sungguh sangat tidak pantas bagi seorang Muslim salafi yang bertakwa kepada Rabb-Nya melakukan hal itu, padahal ia mendengar firman Rabb-Nya:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ ﴿٣٥﴾ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut bagi Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (kafir). Mengapa kamu berbuat demikian ? Bagaimanakah kamu membuat keputusan ? [Al-Qalam/68: 35-36]

Pada saat bangsa ini sedang menghadapi bencana, yang seharusnya mereka memperbaiki kekeliruannya adalah dengan kembali kepada dien yang murni sebagaimana firman Allah

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan buah tangan perbuatan manusia agar mereka merasakan sebagian perbuatan mereka dan agar mereka kembali. [Ar-Ruum: 41]

Yaitu, agar mereka kembali kepada dien ini sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: " Jika kalian telah berjual beli dengan sistem 'inah dan kalian telah mengikuti ekor-ekor sapi, telah puas dengan bercocok tanam dan telah kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan; tidak akan kembali (kehinaan) dan kalian hingga kalian kembali ke dien kalian".

Kembali kepada dien yang murni itulah solusinya, kembali kepada nilai-nilai tauhid yang murni, mempelajari dan melaksanakan-melaksanakan konsekuensi-konsekuensinya, menyemarakkan as-Sunnah dan mengikis bid'ah dan mentarbiyah ummat di atas nilai tauhid. Da'wah kepada jalan Allah itulah jalan keluarnya, dan bukan melalui kotak suara atau kampanye-kampanye semu! Tetapi realita apa yang terjadi??

Para Du'at (da'i) sudah berubah profesi, kini ia menyandang predikat baru, yaitu juru kampanye (jurkam), menyeru kepada partainya dan bukan lagi menyeru kepada jalan Allah. Menebar janji-janji; bukan lagi menebar nilai-nilai tauhid. Sibuk berkampanye baik secara terang-terangan maupun terselubung. Bukan lagi berdakwah, tetapi sibuk mengurusi urusan politik padahal bukan bidangnya dan ahlinya- serta tidak lagi menuntut ilmu.

Mereka berdalih: "Masalah tauhid memang penting akan tetapi kita tidak boleh melupakan waqi' (realita)."

Waqi' (realita) apa yang mereka maksud ? Apakah realita yang termuat di koran-koran, majalah-majalah, surat kabar-surat kabar ? -karena itulah referensi mereka- atau realita umat yang masih jauh dari aqidah yang benar, praktek syirik yang masih banyak dilakukan, atau amalan bid'ah yang masih bertebaran. Ironinya hal ini justru ada pada partai-partai yang mengatas namakan Islam ! Wallahul Musta'an

Mereka ngotot untuk tetap ikut pemungutan suara, agar dapat duduk di kursi parlemen. Dan untuk mengelabuhi umat merekapun melontarkan beberapa syubhat!

SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
• Mereka mengatakan: Bahwa sistem demokrasi sesuai dengan Islam secara keseluruhan. Lalu mereka namakan dengan syura (musyawarah) berdalil dengan firman Allah

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

" Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka".[Asy-Shura/42 : 38]

Lalu mereka bagi demokrasi menjadi dua bagian yang bertentangan dengan syariat dan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Bantahan:
Tidak samar lagi batilnya ucapan yang menyamakan antara syura menurut Islam dengan demokrasi ala Barat. Dan sudah kita cantumkan sebelumnya tiga perbedaan antara syura dan demokrasi !

Adapun yang membagi demokrasi ke dalam shahih (benar) dan tidak shahih adalah pembagian tanpa dasar, sebab istilahnya sendiri tidak dikenal dalam Islam.

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ﴿٢٢﴾إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk, (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" [An-Najm/53 : 22-23]

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara sudah ada pada awal-awal Islam, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman radhiyallahu 'anhum telah dipilih dan dibaiat. [Lihat kitab syari'atul intikhabat hal.15]

Bantahan:
Ucapan mereka itu tidak benar karena beberapa sebab:

1. Telah jelas bagi kita semua kerusakan yang ditimbulkan oleh pemungutan suara seperti kebohongan, penipuan, kedustaan, pemalsuan dan pelanggaran syariat lainnya. Maka amat tidak mungkin sebaik-baik kurun melakukan praktek-praktek seperti itu.

2. Para sahabat (sebagaimana yang dimaklumi dan diketahui di dalam sejarah) telah bermufakat dan bermusyawarah tentang khalifah umat ini sepeninggal Rasul.

Dan setelah dialog yang panjang di antaranya ucapan Abu Bakar as-Sidiq yang membawakan sebuah hadits yang berbunyi: "Para imam itu adalah dari bangsa Quraisy." Lalu mereka bersepakat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tidak diikutsertakan seorang wanitapun di dalam musyawarah tersebut.

Kemudian Abu Bakar mewasiatkan Umar sebagai khalifah setelah beliau, tanpa ada musyawarah.

Kemudian Umar menunjuk 6 orang sebagai anggota musyawarah untuk menetapkan salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah. Keenam orang itu termasuk 10 orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Adapun sangkaan sebagian orang bahwa Abdurrahman bin Auf menyertakan wanita dalam musyawarah adalah tidak benar.

Di dalam riwayat Bukhari tidak disebutkan di dalamnya penyebutan musyawarah Abdurrahman bin Auf bersama wanita dan tidak juga bersama para tentara. Bahkan yang tersebut di dalam riwayat Bukhari tersebut, Abdurrahman bin Auf mengumpulkan 5 orang yang telah ditunjuk Umar yaitu Ustman, Ali, Zubair, Thalhah, Saad dan beliau sendiri (lihat Fathul Bari juz 7 hal. 61,69), Tarikhul Islam karya Az-Zahabi (hal. 303), Ibnu Ashir dalam thariknya (3/36), Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhkul Umam (4/431). Adapun yang disebutkan oleh Imam Ibnu Isuji di dalam Kitabnya al-Munthadam riwayatnya dhaif.

Dan yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah (4/151) adalah riwayat tanpa sanad, tidak dapat dijadikan sandaran.

Kesimpulannya:
1.Berdasarkan riwayat yang shahih Abdurrahman bin Auf hanya bermusyawarah dengan 5 orang yang ditunjuk Umar.
2. Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf juga mengajak bertukar pendapat dengan sahabat lainnya.
3. Adapun penyertaan wanita di dalam musyawarah adalah tidak benar sebab riwayatnya tidak ada asalnya.

• Mereka mengatakan: Ini adalah masalah ijtihadiyah'

Bantahan:
Apa yang dimaksud dengan masalah ijtihadiyah ? Jika mereka katakan: yaitu masalah baru yang tidak dikenal di massa wahyu dan khulafaur rasyidin.

Maka jawabannya:
1. Ucapan mereka ini menyelisihi atau bertentangan dengan ucapan sebelumnya yaitu sudah ada pada awal Islam.

2. Memang benar pemungutan suara ini tidak ada pada zaman wahyu, tetapi bukan berarti seluruh perkara yang tidak ada pada zaman wahyu ditetapkan hukumnya dengan ijtihad. Dalam masalah ini ulama menetapkan hukum setiap masalah berdasarkan kaedah-kaedah usul dan kaedah-kaedah umum. Dan untuk masalah pemungutan suara ini telah diketahui kerusakan-kerusakannya.

Jika dikatakan: yang kami maksud masalah ijtihadiyah adalah masalah yang belum ada dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Maka jawabannya sama seperti jawaban kami yang telah lalu.

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah artinya: kami mengetahui keharamannya, tetapi kami memandang ikut serta di dalamnya untuk mewujudkan maslahat. Maka jawabannya: kalau ucapan itu benar, maka pasti sudah ada buktinya semenjak munculnya pemikiran seperti ini. Di negara-negara Islam tidak pernah terwujud maslahat tersebut, bahkan hanya kembali dua sepatu usang (gagal).

Sedang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang Mukmin tidaklah disengat 2 kali dari satu lubang" [Mutafaqun alaih]

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan ulama serta bukan masalah ijma'.

Maka jawabannya:
1. Coba tunjukkan perselisihan di kalangan ulama yang mu'tabar (dipercaya) yang dida'wakan itu. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkannya.

2. Yang dikenal di kalangan ulama, bahwa yang dimaksud khilafiyah atau masalah yang diperdebatkan, yaitu : jika kedua pihak memiliki alasan atau dalil yang jelas dan dapat diterima sesuai kaedah. Sebab kalau hanya mencari masalah khilafiyah, maka tidak ada satu permasalahanpun melainkan di sana ada khilaf atau perbedaan pendapat. Akan tetapi banyak di antara pendapat-pendapat itu yang tidak mu'tabar.

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara tersebut termasuk maslahat mursalah.

Bantahannya:
1. Maslahat mursalah bukanlah sumber asli hukum syar'i, tapi hanyalah sumber taba'i (mengikut) yang tidak dapat berdiri sendiri. Maslahat mursalah hanyalah wasilah yang jika terpenuhi syaratsyaratnya, baru bisa diamalkan.

2. Menurut defisinya maslahat mursalah itu adalah: apa-apa yang tidak ada nash tertentu padanya dan masuk ke dalam kaedah umum. Menurut definisi lain adalah: sebuah sifat (maslahat) yang belum ditetapkan oleh syariat.

Jadi maslahat mursalah itu adalah salahsatu proses ijtihad untuk mencapai sebuah kemaslahatan bagi umat, yang belum disebutkan syariat, dengan memperhatikan syarat-syaratnya.

Kembali kepada masalah pemungutan yang dikatakan sebagai maslahat mursalah tersebut apakah sesuai dengan tujuan maslahat mursalah itu sendiri atau justru bertentangan. Tentu saja amat bertentangan; dilihat dari kerusakan kerusakan pemungutan suara yang cukup menjadi bukti bahwa antara keduanya amat jauh berbeda.

• Mereka mengatakan: Pemungutan suara ini hanya wasilah, bukan tujuan dan maksud kami adalah baik.

Bantahannya adalah:
Tidak dikenal kamus tujuan menghalalkan segala cara, sebab itu adalah kaidah Yahudiah. Sebab berdasarkan kaidah Usuliyah: hukum sebuah wasilah ditentukan hasil yang terjadi (didapat); jika yang terjadi adalah perkara haram (hasilnya haram) maka wasilahnya juga haram.

Adapun ucapan mereka bahwa yang mereka inginkan adalah kebaikan.

Maka jawabannya bahwa niat yang baik lagi ikhlas serta keinginan yang baik lagi tulus belumlah menjamin kelurusan amal. Sebab betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.

Sebab sebuah amal dapat dikatakan shahih dan makbul jika memenuhi 2 syarat: Niat ikhlas dan Menetapi as-Sunnah. Jadi bukan hanya bermodal keinginan (i'tikad baik saja)

• Mereka mengatakan: Kami mengikuti pemungutan suara dengan tujuan menegakkan daulah Islam.

Bantahannya:
Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, bagaimana cara menegakkan daulah Islam ?

Sedangkan di awal perjuangan, mereka sudah tunduk pada undang-undang sekuler yang diimpor dari Eropa. Mengapa mereka tidak memulai menegakkan hukum Islam itu pada diri mereka sendiri, atau memang ucapan mereka "Kami akan menegakkan daulah Islam" hanyalah slogan kosong belaka. Terbukti mereka tidak mampu untuk menegakkannya pada diri mereka sendiri.

Kalau ingin buktinya maka silahkan melihat mereka-mereka yang meneriakkan slogan tersebut.

• Mereka mengatakan : Kami tidak mau berpangku tangan dengan membiarkan musuh-musuh bergerak leluasa tanpa hambatan.

Bantahannya:
Apakah masuk akal jika untuk menghadapi musuh-musuhnya, mereka bergandengan tangan dengan musuh-musuhnya dalam kursi parlemen, berkompromi dengan musuh dalam membuat undang-undang? Bukankah ini tipu daya ala Yahudi yang telah Allah nyatakan dalam al-Qur'an:

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Segolongan lain dari ahli Kitab berkata kepada sesamanya: Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang Mukmin) kembali (kepada kekafiran)". [Ali-Imran/3: 72]

Dan ucapan mereka bahwa masuknya mereka ke kancah demokrasi itu adalah refleksi perjuangan mereka, tidak dapat dipercaya. Bukankah Allah telah mengatakan:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka" [Al-Baqarah/2: 120]

Lalu mengapa mereka saling bahu membahu dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani? Apakah mereka menerapkan kaedah: saling bertolong-tolongan pada perkara-perkara yang disepakati dan saling toleransi pada perkara- perkara yang diperselisihkan. Tidakkah mereka takut pada firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu?)". [An-Nisaa/4: 144]

• Mereka mengatakan: Kami terjun dalam kancah demokrasi karena alasan darurat.

Bantahannya:
Darurat menurut Ushul yaitu: keadaan yang menimpa seorang insan berupa kesulitan bahaya dan kepayahan/kesempitan, yang dikhawatirkan terjadinya kemudharatan atau gangguan pada diri (jiwa), harta, akal, kehormatan dan agamanya. Maka dibolehkan baginya perkara yang haram (meninggalkan perkara yang wajib) atau menunda pelaksanaannya untuk menolak kemudharatan darinya, menurut batas-batas yang dibolehkan syariat.

Lalu timbul pertanyaan kepada mereka: yang dimaksud alasan itu, karena keadaan darurat atau karena maslahat?.

Sebab maslahat tentu saja lebih luas dan lebih umum ketimbang darurat. Jika dahulu mereka katakan bahwa demokrasi itu atau pemungutan suara itu hanyalah wasilah maka berarti yang mereka lakukan tersebut bukanlah karena darurat akan tetapi lebih tepat dikatakan untuk mencari maslahat, Maka terungkaplah bahwa ikut sertanya mereka dalam kancah demokrasi tersebut bukanlah karena darurat tapi hanya karena sekedar mencari setitik maslahat.

• Mereka mengatakan: Kami terpaksa melakukannya, sebab jika tidak maka musuh akan menyeret kami dan melarang kami menegakkan hukum Islam dan melarang kami shalat di masjid-masjid dan melarang kami berbicara (berkhutbah).

Bantahannya:
Mereka hanya dihantui bayangan saja; atau mereka menyangka kelangsungan da'wah kepada jalan Allah hanya tergantung di tangan mereka saja. Dengan itu mereka menyimpang dari manhaj an-nabawi dalam berda'wah kepada Allah dan dalam al-islah (perbaikan). Lalu mereka menuduh orang-orang yang tetap berpegang teguh pada as- Sunnah sebagai orang-orang pengecut (orang-orang yang acuh tak acuh terhadap nasib umat). Apakah itu yang menyebabkan mereka membabi buta dan gelap mata? Hendaknya mereka mengambil pelajaran dari seorang sahabat yang mulia yaitu Abu Dzar al-Giffari ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berpesan kepadanya:

"Tetaplah kau di tempat engkau jangan pergi kemana-mana sampai aku mendatangimu. Kemudian. Rasulullah pergi di kegelapan hingga lenyap dari pandangan, lalu aku mendengar suara gemuruh. Maka aku khawatir jika seseorang telah menghadang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, hingga aku ingin mendatangi beliau. Tapi aku ingat pesan beliau: tetaplah engkau di tempat jangan kemana-mana, maka akupun tetap di tempat tidak ke mana-mana. Hingga beliau mendatangiku. Lalu aku berkata bahwa aku telah mendengar suara gemuruh, sehingga aku khawatir terhadap beliau, lalu aku ceritakan kisahku. Lalu beliau berkata apakah engkau mendengarnya?. Ya, kataku. Beliau berkata itu adalah Jibril, yang telah berkata kepadaku: barang siapa di antara umatmu (umat Rasulullah) yang wafat dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, akan masuk ke dalam surga. Aku bertanya, walaupun dia berzina dan mencuri? Beliau berkata, walaupun dia berzina dan mencuri". [Mutafaqun alaih]

Lihatlah bagaimana keteguhan Abu Dzar al-Ghifari terhadap pesan Rasulullah untuk tidak bergeming dari tempat, walaupun dalam sangkaan beliau, Rasulullah berada dalam mara bahaya ! Bukankah hal tersebut gawat dan genting. Suara gemuruh yang mencemaskan beliau atas nasib Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Namun apa gerangan yang menahan Abu Dzar al-Ghifari untuk menemui Rasulullah. Apakah beliau takut, atau beliau pengecut, atau beliau acuh tak uh akan nasib Rasulullah ? Tidak ! Sekali-kali tidak! Tidak ada yang menahan beliau melainkan pesan Rasulullah : tetaplah engkau di tempat, jangan pergi ke mana-mana hingga aku datang!.

Keteguhan beliau di atas garis as-Sunnah telah mengalahkan (menundukkan) pertimbangan akal dan perasaan! Beliau tidak memilih melanggar pesan Rasulullah dengan alasan ingin menyelamatkan beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian kita lihat hasil keteguhan beliau atas pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berupa ilmu tentang tauhid yang dibawa malaikat Jibril kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kabar gembira bagi para muwahhid (ahli tauhid) yaitu surga. Seandainya beliau melanggar pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam maka belum tentu beliau mendapatkan ilmu tersebut pada saat itu !!

Demikian pula dikatakan kepada mereka: Kami tidak hendak melanggar as-Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat ! (Karena keteguhan di atas as-Sunnah itulah yang akan menyelamatkan ummat -red).

Berbahagialah ahlu sunnah (salafiyin) berkat keteguhan mereka di atas as-Sunnah.

• Mereka mengatakan: Bahwa mereka mengikuti kancah pemunggutan suara untuk memilih kemudharatan yang paling ringan.

Mereka juga berkata bahwa mereka mengetahui hal itu adalah jelek, tapi ingin mencari mudharat yang paling ringan demi mewujudkan maslahat yang lebih besar.

Bantahannya:
Apakah mereka menganggap kekufuran dan syirik sebagai sesuatu yang ringan kemudharatannya? Timbangan apa yang mereka pakai untuk mengukur berat ringannya suatu perkara? Apakah timbangan akal dan hawa nafsu? Tidakkah mereka mengetahui bahwa demokrasi itu adalah sebuah kekufuran dan syirik produk Barat? Lalu apakah ada yang lebih berat dosanya selain kekufuran dan syirik.

Kemudian apakah mereka mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan kaedah "memilih kemudharatan yang paling ringan."

Jika jawaban mereka tidak mengetahui; maka hal itu adalah musibah.

Jika jawabannya mereka mengetahui, maka dikatakan kepada mereka: coba perhatikan kembali syarat-syaratnya! Di antaranya:
1. Maslahat yang ingin diraih adalah nyata (realistis) bukan sekedar perkiraan (anggapan belaka). Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh mereka yang melibatkan di dalam kancah demokrasi itu cukuplah sebagai bukti bahwa maslahat yang mereka janjikan itu hanyalah khayalan dan isapan jempol belaka.

2. Maslahat yang ingin dicapai harus lebih besar dari mafsadah (kerusakan) yang dilakukan, berdasarkan paham ahli ilmu. Jika realita adalah kebalikannya yaitu maslahat yang hendak dicapai lebih kecil ketimbang mafsadah yang terjadi, maka kaedahnya berganti menjadi:

Menolak mafsadah (kerusakan) lebih didahulukan ketimbang mencari (mengambil) mashlahat.

3. Tidak ada cara (jalan) lain untuk mencapai maslahat tersebut melainkan dengan melaksanakan mafsadah (kerusakan) tersebut.

Syarat yang ketiga ini sungguh amat berat untuk dipenuhi oleh mereka sebab konsekuensinya adalah: tidak ada jalan lain untuk menegakkan hukum Islam, kecuali dengan jalan demokrasi tersebut. Sungguh hal itu adalah kebathilan yang amat nyata! Apakah mungkin manhaj Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam ishlah (perbaikan) divonis tidak layak dipakai untuk menegakkan hukum Islam? Tidaklah kita mengenal Islam, kecuali melalui beliau shalallahu 'alaihi wasallam?

• Mereka mengatakan: Bahwa beberapa Ulama ahlu sunnah telah berfatwa tentang disyariatkannya pemungutan suara (pemilu) ini seperti: Syeikh al-Albani, Bin Baz, Bin Utsaimin. Lalu apakah kita menuduh mereka (para ulama) hizbi ?

Jawabannya tentu saja tidakl
Amat jauh para ulama itu dari sangkaan mereka, karena beberapa alasan:
1. Mereka adalah ulama dan pemimpin kita, serta pemimpin da'wah yang penuh berkah ini (da'wah salafiyah) dan pelindung Islam. Kita tidak meneguk ilmu kecuali dari mereka. Kita berlindung kepada Allah semoga mereka tidak demikian (tidak hizbi)! Bahkan sebaliknya, merekalah yang telah memperingatkan umat dari bahaya hizbiyah. Tidaklah umat selamat dari hizbiyah kecuali, melalui nasihat-nasihat mereka setelah taufiq dari Allah tentunya. Kitab-kitab dan kaset-kaset mereka penuh dengan peringatan tentang hizbiyah.

2. Para ulama berfatwa (memberi fatwa) sesuai dengan kadar soal yang ditanyakan. Bisa saja seorang datang kepada ulama dan bertanya:

Ya Syeikh!, kami ingin menegakkan syariat Allah dan kami tidak mampu kecuali melalui pemungutan suara dengan tujuan untuk mengenyahkan orang-orang sosialis dan sekuler dari posisi mereka! Apakah boleh kami memilih seorang yang shalih untuk melaksanakan kepentingan ini? Demikianlah soalnya!

Lain halnya seandainya bunyi soal : Ya Syeikh, pemungutan suara itu menimbulkan mafsadah (kerusakan) begini dan begini, dengan menyebutkan sisi negatif yang ditimbulkannya, maka niscaya jawabannya akan lain. Mereka-mereka itu (yaitu hizbiyun dan orang-orang yang terfitnah oleh hizbiyun) mencari-cari talbis (tipu daya) terhadap para ulama! Adapun dalil bahwa seorang alim berfatwa berdasarkan apa yang ia dengar. Dan sebuah fatwa ada kalanya keliru, adalah dari sebuah hadits dari Ummu Salamah:

"Sesungguhnya kalian akan mengadukan pertengkaran di antara kalian padaku, barang kali sebagian kalian lebih pandai berdalih ketimbang lainnya. Barang siapa yang telah aku putuskan baginya dengan merebut hak saudaranya, maka yang dia ambil itu hanyalah potongan dari api neraka; hendaknya dia ambil atau dia tinggalkan" [Mutafaqun alaih]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga telah memerintahkan kepada para qadi untuk mendengarkan kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah berkata kepada Ali bin Abu Thalib:

"Wahai Ali jika menghadap kepada engkau dua orang yang bersengketa, janganlah engkau putuskan antara mereka berdua, hingga engkau mendengar dari salah satu pihak sebagaimana engkau mendengarnya dari pihak lain. Sebab jika engkau melakukan demikian, akan jelas bagi engkau, putusan yang akan diambil". [Hadits Riwayat Ahmad]

Oleh sebab itu kejahatan yang paling besar yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah diharamkannya perkara-perkara yang sebelumnya halal, disebabkan pertanyaannya. Dalam sebuah hadits riwayat Saad bin Abi Waqas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya kejahatan seorang Muslim yang paling besar adalah bertanya tentang sebuah perkara yang belum diharamkan. Lalu diharamkan disebabkan pertanyaannya". [Mutafaqun Alaih]

Ibnu Thin berkata bahwa kejahatan yang dimaksud adalah menyebabkan kemudharatan atas kaum Muslimin disebabkan pertanyaannya. Yaitu menghalangi mereka dari perkara-perkara halal sebelum pertanyaannya.

Hendaknya orang-orang yang melakukan tindakan berbahaya seperti ini bertaubat kepada Allah. Dan para tokoh kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap orang-orang semacam itu.

3. Lalu bagaimana sikap mereka (para Hizbiyin) tatkala telah jelas bahwa bagi para Ulama, demokrasi dan pemilihan suara ini adalah haram disebabkan mafsadah yang ditimbulkannya. Apakah mereka akan mengundurkan diri dari kancah demokrasi dan pemilu itu? atau mereka tetap nekat. Realita menunjukkan bahwa mereka hanya memancing di air keruh. Mereka hanya mencari keuntungan untuk golongannya saja dari fatwa para ulama. Terbukti jika fatwa ulama tidak menguntungkan golongan mereka, maka merekapun menghujatnya dengan berbagai macam pelecehan. Wallahu a'lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Th. III/1420-1999. Disadur dari kitab Tanwiir adz-Dzulumat tulisan Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam dan kitab Madarik an-Nazhar Fi Siasah tulisan Abdul Malik Ramadhani]
Disalin dari http://almanhaj.or.id/content/497/slash/0/syubhat-syubhat-sekitar-masalah-demokrasi-dan-pemungutan-suara/ tanpa dikurangi atau ditambahkan sedikitpun.
Andre Tauladan

Sabtu, 11 Juli 2015

Baca al-Quran Jangan Ngantuk, Ngantuk Jangan Baca al-Quran

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bulan ramadhan, bulan al-Quran. Kita dianjurkan sebanyak mungkin dan sesering mungkin membaca al-Quran. Siang dan malam. Menjadi ajang perlombaan bagi kaum muslimin yang tengah menjalani puasa.

Namun ada satu catatan yang perlu diperhatikan,
Membaca al-Quran jangan ngantuk, ngantuk jangan baca al-Quran.
Karena ngantuk, terkadang bisa ngelantur dan salah baca. Yang tentu saja, merusak bacaan al-Quran.
Untuk itu, ketika ngantuk datang, agar menghentikan bacaan al-Quran.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَعْجَمَ الْقُرْآنُ عَلَى لِسَانِهِ فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُولُ فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian bangun malam, sehingga bacaan al-Qurannya menjadi kacau, sampai dia tidak sadar apa yang dia baca, hendaknya dia tidur. (HR. Muslim 1872, Ibnu Majah 1434 dan yang lainnya).

Dalam hadis lain, dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

Apabila kalian mengantuk ketika shalat, hendaknya dia tidur, sampai hilang kantuknya. Karena kadang ada orang yang shalat sambil ngantuk, mungkin dia hendak beristighfar, tapi mendoakan keburukan untuk dirinya. (HR. Muslim 1871, Abu Daud 1312, dan yang lainnya).

Selanjutnya ada 2 pilihan,

Beristirahat sampai ngantuknya hilang. Dengan tetap komitme untuk lanjut baca jika sudah seger.
Hilangkan ngantuk dengan berwudhu atau melakukan aktivitas ringan lainnya
Dan jangan lupa berdoa kepada Allah, memohon agar Allah menghilangkan rasa kantuk dalam diri anda.

Diam Jika Menguap

Jika anda menguap, jangan nekat membaca al-Quran. Karena suara anda akan terdengar aneh. Yang seharusnya anda lakukan adalah menghentikan bacaan alQuran dan menutup mulut. Agar setan tidak masuk.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”). Sedangkan menguap itu dari setan, jika seseorang menguap hendaklah dia tahan semampunya. Bila orang yang menguap sampai mengeluarkan suara ‘haaahh’, setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari 6223)

Allahu a’lam
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Copas 100% dari konsultasisyariah.com

Andre Tauladan

Kamis, 09 Juli 2015

Model Muslimah

Di sebuah kedai malam itu, bersama istri tercinta. Sambil menunggu pesanan datang kami menyaksikan acara televisi yang sedang membahas tentang hijab. Salah satu tamunya adalah OSD. Istri pun nyeletuk "cantik ya bi?!". Dari pertanyaan seperti itu saya udah bisa nebak ke mana arah pembicaraannya. "Halah!" saya hanya menjawab seperti itu.

Sejak kemunculannya di layar televisi saya sudah tidak suka dengan wanita macam dia. Oh ya, dia berjilbab lebar, dia dakwah di media, so what? Buat saya dia itu nggak ada bedanya sama artis sinetron yang sekarang lagi musim dijilbab-lebarin. Liat deh di TBNH dan acara "islami lainnya". Artis-artis wanita di sinetron itu banyak yang dikasih jilbab lebar. Rianty Cartwright aja waktu zaman film Ayat-ayat cinta dikasih jilbab lebar kok. Di film Perempuan Berkalung Sorban juga Revalina pake kerudung lebar. Apalagi OSD tampil di youtube sambil nyanyi-nyanyi. Dakwah sambil nyanyi? Gubrak!

Nggak lah! Saya nggak akan suka sama wanita-wanita macam itu. Bersyukurlah para pria yang punya istri yang nggak tampil di media. Rugi! Berawal dari ketika cinta bertasbih, karir OSD mulai melejit. Walaupun tidak seperti artis-artis lain.

Fitnah wanita memang dahsyat. Wanita selalu dijadikan 'sarana' untuk merusak umat. Dulu, orang berjilbab atau berkerudung itu sangat jarang ditemui. Kemudian zaman berubah dan kerudung mulai lumrah. Dulu kerudung banyak variasinya sehingga kerudung pun dianggap rambut. Zaman kerudung berlalu masuk zaman "hijab". Ada-ada saja, hijab pun dibuat bermacam-macam model. Sekarang ada kontes hijab hunt, yang pesertanya dites 'keterampilan' berupa menari, menari, dan sejenisnya. Yah, mungkin mereka yang akan jadi penerus OSD.

Apakah hijab butuh model? 
Nggak! Sama sekali nggak butuh!

I'm not sorry to OSD for mentioning you in this article. :p
Andre Tauladan

Kamis, 02 Juli 2015

Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang

*Nyanyi.
Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu disayang sekarang kau ditendang
Dulu dulu dulu dulu kau pejuang
Sekarang engkau sobat Iran

Jadi ceritanya, hari ini di TL twitterku lagi banyak nyoalin HAMAS.
Jujur, aku DULU PERNAH suka sama HAMAS.
PERNAH!
Tapi, yah, Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang.Aku yang dulu juga bukan yang sekarang.
Udah ah. Biar gambar sama video aja yang berbicara. *sumber lain nyusul

Aduh Mesranya....

Dialog dulu sama Bos Iran



Mmmmmuach...... hehehe...
Peaceful Power Sharing? Even with the filthy shia?

Oh, Yes! You're So Islam-Christianic.

Wow! May be someday the primitive will exist in their ranks.

Komplit



Ternyata Pemimpin Hamas Memuji Iran dan Khomeini
Berikut ini adalah bukti nyata tentang persahabatan HAMAS dan IRAN, pemimpin hamas tersebut mengucapkan terima kasih kepada Iran, hizbullah dll bahkan pemimpin hamas tersebut memuji Khomeini yaitu sang pencela kehormatan Ummul Mukminin.Lalu bagaimana bisa Palestina terkhusus GAZA akan menang sedangkan HAMAS berhianat dan berteman dengan IRAN yang merupakan sahabat karip yahudi.Dan hari ini pendukung HAMAS sangat benci bahkan tidak suka dengan DAWLA ISLAMIYAH, bahkan menfitnah dengan fitnah yang kejam dengan mengatakan DAWLA ISLAMIYAH antek IRAN, YAHUDI dll.Maka saksikanlah wahai kaum muslimin,saksikanlah siapa yang ANTEK SYIAH dan siapa yang memperjuangkan Islam dan kaum ahlu sunnah dengan jiwa,harta dan darah.Saksikanlah jika HAMAS bersatu dengan kaum yang menghina kehormatan Ummul Mukminin, Khalifah Abu Bakr ash-shidiq, Umar dan Usman R.A.
Posted by Gerakan Anti Pembohong on Thursday, March 12, 2015
Andre Tauladan

Senin, 29 Juni 2015

Damai? Coba Fikir Lagi Pak!

Lagi-lagi Om WhaPhres bikin pernyataan yang ngaco. Om WhaPhres menyatakan bahwa umat Islam Indonesia patut bersyukur karena dapat berpuasa dengan damai. Ya, kalo memang yang dimaksud adalah bisa puasa tanpa ada konflik, serangan bom, atau perang memang benar. Tapi benarkah umat Islam Indonesia bisa berpuasa dengan damai?

Suasana berpuasa di Indonesia memang tidak ada konflik atau perang, tetapi 'godaan'nya tetap ada. Godaan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat yang tidak terbatas. Di bulan ramadhan banyak orang yang berpacaran, wanita berpakaian ketat, aurat yang terbuka, dan banyak orang yang tidak berpuasa makan dengan bebas. Dengan keadaan seperti itu mustahil orang bisa berpuasa dengan tenang, kecuali orang yang diam di masjid dari subuh sampai petang.

Selain itu masih banyaknya anak-anak yang bermain petasan, sungguh tidak membuat tenang. Om WhaPhres juga nampaknya tidak tahu acara-acara TV di bulan Ramadhan banyak yang sangat merusak ibadah shaum. Mungkin jika puasa yang dimaksud oleh si Om adalah puasa yang hanya menahan lapar dan haus sih iya. Tapi puasa kan menahan yang lain juga.
Do And Donts Ramadhan

Di negara endonesah ini bukan ibadah yang bisa dilaksanakan dengan tenang, tapi maksiat. Jadi, Republika sebaiknya ganti judul artikel itu jadi "Umat Islam Indonesia bisa melakukan maksiat dengan damai".
Andre Tauladan

Sabtu, 13 Juni 2015

Murotal Kaset di Masjid? Jangan Deh...

Baru-baru ini seorang pejabat di Endonesah sebut saja namanya Pak WhaPhrez (bukan nama sebenarnya) mengutarakan pernyataan yang menjadi kontroversi di masyarakat. Pasalnya, dia mengatakan bahwa suara murotal dari kaset yang sering diputar di masjid-masjid adalah polusi suara

Walaupun tidak setuju dengan pernyataan polusi suaranya tapi saya setuju anjuran untuk tidak memutar kaset murotal di masjid-masjid. Tapi...
toa masjid

Saya sarankan buat Pak WhaPhrez sebelum anda melarang murotal kaset di masjid-masjid, sebaiknya anda lihat dulu kondisi di masyarakat. Saya lihat ada upaya de-islam-isasi dari Pak WhaPhrez. Kondisi masyarakat saat ini saya rasa sudah cukup jauh dari tuntunan agama. Keadaan ini diperparah oleh pernyataan Pak WhaPhrez yang seolah ingin membuat masyarakat nyaris tidak beragama, atau setidaknya masyarakat beragama tanpa tuntunan.

Daripada melarang pemutaran kaset murotal di masjid, sebaiknya Pak WhaPhrez mengajak membudayakan tilawah atau tadarus di negara Endonesah ini. Suatu saat, jika masyarakat sudah terbiasa tilawah manual, maka di masjid-masjid pun otomatis tidak akan ada suara murotal dari kaset-kaset lagi. Jadi, saya setuju kalo pemutaran kaset pengajian di masjid-masjid itu dihentikan, diganti oleh ngaji manual. Yah, itu saran saya kalo Pak WhaPhrez ngeles dari tuduhan saya (tuduhan deislamisasi).

Tapi, nampaknya walaupun Pak WhaPhrez nggak akan bisa ngeles. Toh, dia mengatakan bahwa suara pengajian di speaker itu polusi suara. Jadi, walaupun yang ngaji bukan kaset tapi ngaji manual, tetap akan disebut polusi suara. Sayangnya si Pak WhaPhrez ini nggak pernah bikin pernyataan bahwa konser musik, letusan kembang api, dan terompet tahun baru sebagai polusi suara. Jadi, jelaslah bahwa pernyataannya itu adalah upaya de-islam-isasi. Yah, mungkin Pak WhaPhrez hatinya sudah keras. Sehingga hatinya tidak bergetar ketika mendengar ayat Allah dibacakan. Atau, jika saya boleh menyampaikan tuduhan lain, saya rasa Pak WhaPrez ini sudah mulai mengikuti jalannya orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayatnya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal."
(Al-Anfal:2)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..
(al Baqarah 120)
Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Cuit-cuit

Today's Story

Ceritanya, Obama NGGAK PUNYA MALU!
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates