Kamis, 02 Juli 2015

Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang

*Nyanyi.
Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu disayang sekarang kau ditendang
Dulu dulu dulu dulu kau pejuang
Sekarang engkau sobat Iran

Jadi ceritanya, hari ini di TL twitterku lagi banyak nyoalin HAMAS.
Jujur, aku DULU PERNAH suka sama HAMAS.
PERNAH!
Tapi, yah, Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang.Aku yang dulu juga bukan yang sekarang.
Udah ah. Biar gambar sama video aja yang berbicara. *sumber lain nyusul

Aduh Mesranya....

Dialog dulu sama Bos Iran



Mmmmmuach...... hehehe...
Peaceful Power Sharing? Even with the filthy shia?

Oh, Yes! You're So Islam-Christianic.

Wow! May be someday the primitive will exist in their ranks.

Komplit



Ternyata Pemimpin Hamas Memuji Iran dan Khomeini
Berikut ini adalah bukti nyata tentang persahabatan HAMAS dan IRAN, pemimpin hamas tersebut mengucapkan terima kasih kepada Iran, hizbullah dll bahkan pemimpin hamas tersebut memuji Khomeini yaitu sang pencela kehormatan Ummul Mukminin.Lalu bagaimana bisa Palestina terkhusus GAZA akan menang sedangkan HAMAS berhianat dan berteman dengan IRAN yang merupakan sahabat karip yahudi.Dan hari ini pendukung HAMAS sangat benci bahkan tidak suka dengan DAWLA ISLAMIYAH, bahkan menfitnah dengan fitnah yang kejam dengan mengatakan DAWLA ISLAMIYAH antek IRAN, YAHUDI dll.Maka saksikanlah wahai kaum muslimin,saksikanlah siapa yang ANTEK SYIAH dan siapa yang memperjuangkan Islam dan kaum ahlu sunnah dengan jiwa,harta dan darah.Saksikanlah jika HAMAS bersatu dengan kaum yang menghina kehormatan Ummul Mukminin, Khalifah Abu Bakr ash-shidiq, Umar dan Usman R.A.
Posted by Gerakan Anti Pembohong on Thursday, March 12, 2015
Andre Tauladan

Senin, 29 Juni 2015

Damai? Coba Fikir Lagi Pak!

Lagi-lagi Om WhaPhres bikin pernyataan yang ngaco. Om WhaPhres menyatakan bahwa umat Islam Indonesia patut bersyukur karena dapat berpuasa dengan damai. Ya, kalo memang yang dimaksud adalah bisa puasa tanpa ada konflik, serangan bom, atau perang memang benar. Tapi benarkah umat Islam Indonesia bisa berpuasa dengan damai?

Suasana berpuasa di Indonesia memang tidak ada konflik atau perang, tetapi 'godaan'nya tetap ada. Godaan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat yang tidak terbatas. Di bulan ramadhan banyak orang yang berpacaran, wanita berpakaian ketat, aurat yang terbuka, dan banyak orang yang tidak berpuasa makan dengan bebas. Dengan keadaan seperti itu mustahil orang bisa berpuasa dengan tenang, kecuali orang yang diam di masjid dari subuh sampai petang.

Selain itu masih banyaknya anak-anak yang bermain petasan, sungguh tidak membuat tenang. Om WhaPhres juga nampaknya tidak tahu acara-acara TV di bulan Ramadhan banyak yang sangat merusak ibadah shaum. Mungkin jika puasa yang dimaksud oleh si Om adalah puasa yang hanya menahan lapar dan haus sih iya. Tapi puasa kan menahan yang lain juga.
Do And Donts Ramadhan

Di negara endonesah ini bukan ibadah yang bisa dilaksanakan dengan tenang, tapi maksiat. Jadi, Republika sebaiknya ganti judul artikel itu jadi "Umat Islam Indonesia bisa melakukan maksiat dengan damai".
Andre Tauladan

Sabtu, 13 Juni 2015

Murotal Kaset di Masjid? Jangan Deh...

Baru-baru ini seorang pejabat di Endonesah sebut saja namanya Pak WhaPhrez (bukan nama sebenarnya) mengutarakan pernyataan yang menjadi kontroversi di masyarakat. Pasalnya, dia mengatakan bahwa suara murotal dari kaset yang sering diputar di masjid-masjid adalah polusi suara

Walaupun tidak setuju dengan pernyataan polusi suaranya tapi saya setuju anjuran untuk tidak memutar kaset murotal di masjid-masjid. Tapi...
toa masjid

Saya sarankan buat Pak WhaPhrez sebelum anda melarang murotal kaset di masjid-masjid, sebaiknya anda lihat dulu kondisi di masyarakat. Saya lihat ada upaya de-islam-isasi dari Pak WhaPhrez. Kondisi masyarakat saat ini saya rasa sudah cukup jauh dari tuntunan agama. Keadaan ini diperparah oleh pernyataan Pak WhaPhrez yang seolah ingin membuat masyarakat nyaris tidak beragama, atau setidaknya masyarakat beragama tanpa tuntunan.

Daripada melarang pemutaran kaset murotal di masjid, sebaiknya Pak WhaPhrez mengajak membudayakan tilawah atau tadarus di negara Endonesah ini. Suatu saat, jika masyarakat sudah terbiasa tilawah manual, maka di masjid-masjid pun otomatis tidak akan ada suara murotal dari kaset-kaset lagi. Jadi, saya setuju kalo pemutaran kaset pengajian di masjid-masjid itu dihentikan, diganti oleh ngaji manual. Yah, itu saran saya kalo Pak WhaPhrez ngeles dari tuduhan saya (tuduhan deislamisasi).

Tapi, nampaknya walaupun Pak WhaPhrez nggak akan bisa ngeles. Toh, dia mengatakan bahwa suara pengajian di speaker itu polusi suara. Jadi, walaupun yang ngaji bukan kaset tapi ngaji manual, tetap akan disebut polusi suara. Sayangnya si Pak WhaPhrez ini nggak pernah bikin pernyataan bahwa konser musik, letusan kembang api, dan terompet tahun baru sebagai polusi suara. Jadi, jelaslah bahwa pernyataannya itu adalah upaya de-islam-isasi. Yah, mungkin Pak WhaPhrez hatinya sudah keras. Sehingga hatinya tidak bergetar ketika mendengar ayat Allah dibacakan. Atau, jika saya boleh menyampaikan tuduhan lain, saya rasa Pak WhaPrez ini sudah mulai mengikuti jalannya orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayatnya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal."
(Al-Anfal:2)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..
(al Baqarah 120)
Andre Tauladan

Senin, 08 Juni 2015

Indonesia, ISIS, dan Rohingya

Sobat, apakah pernah menemui fenomena lucu ketika seseorang rumahnya kemalingan, lalu polisi datang untuk membantunya tapi dia menolak kedatangan polisi, kemudian dia mengeluh di sosmed bahwa polisi tidak berguna dan tidak mau membantu? Atau seseorang yang pesan pizza ke sebuah restoran, tapi ketika pizza diantar ke rumahnya ia mengusir sang pengantar, lalu dia ngeluh di sosmed bahwa restoran tersebut pelayanannya buruk?

Saya baru saja menemui orang seperti itu. Entah karena dia kurang berfikir atau memang kebenciannya terlalu tinggi. Namanya Zahran Fahru Rizal. Berdasarkan bio di twitter, dia adalah salah seorang anggota FLP. Dalam sebuah  situs "islami" dakwatuna ia menulis sebuah artikel dengan judul "Indonesia, ISIS, dan Manusia Perahu Rohingya". Dilihat dari kontennya saya anggap dia tidak paham betul tentang apa yang dia tuliskan. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun ISIS membubarkan diri tetapi masih saja ada orang seperti dia yang menyebutkan ISIS. Seperti orang yang sedang mengkritik sebuah masakan dari restoran yang sudah tutup.

Sekedar info nih buat sobat sekalian. ISIS sudah bubar sejak 1 Ramadhan 1435 H. Dulu memang namanya ISIS ada "Iraq and Syiria"-nya. Tapi sekarang sudah menyebar hingga ke Filipina, Libya, Yaman, Mesir, Aljazair, dan beberapa wilayah lain. Jadi, jangan katro ya!

Oke, sekarang saya bahas kenapa mas Zahran itu seperti orang linglung. Bagi anda yang punya televisi, bisa baca koran, atau mampu mengakses internet pasti tahu betul bahwa keberadaan IS (ISIS) sangat ditolak oleh masyarakat dunia. SANGAT! Di Amerika, Jerman, Belanda, dan negara kafir lainnya termasuk Indonesia faham IS ini SANGAT ditentang. Ketika IS ingin menyebarkan pasukannya ke Yordania, Yaman, atau beberapa wilayah di Irak, pemerintah setempat berusaha sebisa mungkin untuk melawannya. Intinya, peyebaran IS ini SANGAT ditolak!

Jika mas Zahran sadar, bagaimana mungkin IS mau membantu pengungsi Rohingya yang ada di perairan Indonesia, Malaysia, Ausralia dan sekitarnya, jika keberadaan mereka bahkan fahamnya saja ditolak? Logika mas Zahran ini seperti apa yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Menolak bantuan, tapi menuduh tidak dibantu. Mungkin mas Zahran ini kurang update tentang berita ketika IS memasuki kota Mosul dan membebaskan ratusan tahanan muslim sunni yang dipenjara oleh pemerintah Syi'ah. Lalu dimana anda dan organisasi FLP anda? Hehe... Mungkin anda juga tidak sempat mencari info tentang rakyat Suriah dan Irak yang dibombardir oleh koalisi salibis, lalu IS melakukan pembalasan terhadap tentara salibis itu. Saya tanya lagi, di mana anda dan FLP anda?

Yah, mungkin anda juga sudah merasa menjadi pahlawan dengan menyalurkan sumbangan dari para dermawan (bukan uang anda sendiri). Sehingga anda merasa pantas untuk menuntut IS yang rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi tegaknya syari'at islam di wilayah yang dikuasainya. FYI, Khilafah akan tetap tegak baik dengan atau tanpa sampean. Jangankan hanya kritik kecil dari anda, serangan koalisi salibis yang terdiri dari 60 negara hingga saat ini tidak mampu menghancurkan khilafah. Ah... anda lupa ngaca ya?

Oh ya, anda juga menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ada jawabannya jika anda rajin mencari. Di mana kedudukan IS dalam membela rakyat Palestina? Saya minta anda buka peta, lihat di mana posisi Gaza, Palestina, dan Irak. Sebelum anda menuntut IS untuk membantu rakyat Palestina, anda sebaiknya menuntut pemerintah Yordania untuk memberikan akses bagi IS untuk bisa lewat dan melakukan penyerangan ke Gaza. Lalu, sebelum mas nuntut IS sebagai Khilafah Islamiyah untuk membantu pengungsi Rohingya di Indonesia, mas nuntut dulu ke pemerintah Indonesia untuk mengizinkan IS untuk menguasai Indonesia. Gitu aja ya mas Zahran! Oke!?

Yah, lain kali cobalah buat artikel yang lebih logis ya mas! Jangan seperti orang linglung.

Andre Tauladan

Rabu, 29 April 2015

Ekstrimis, Kumpeni, dan Pelanggaran Perjanjian

Menengok kejadian masa lalu dari beberapa film perjuangan jaman dulu memberikan saya sedikit pemahaman tentang perilaku orang kafir (penjajah Belanda) yang saat ini sedang ditiru oleh pemerintah Indonesia. Perilaku mereka yang paling mencolok adalah selalu melanggar perjanjian dan menjuluki pejuang sebagai ekstrimis. Kejadian ini persis dengan yang terjadi saat ini. Sifat-sifat orang kafir yang busuk itu seolah tidak pernah hilang dan justru menular ke sebagian orang islam.

Dalam film Kereta Api Terakhir, diceritakan bahwa Kumpeni (Belanda) telah melanggar perjanjian Linggar Jati lalu mereka melanjutkan serangan ke rakyat Indonesia. Lalu, dalam film Janur Kuning diceritakan Kumpeni melanggar perjanjian Renville dan terus menyerang rakyat Indonesia. Ada satu hal yang unik dalam film Janur Kuning. Ada adegan ketika Kumpeni menyiarkan melalui radio bahwa tentara Indonesia itu tidak ada, yang ada hanyalah ekstrimis-ekstrimis yang melakukan berbagai tindakan kejahatan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Tentara republik dianggap sebagai ekstrimis atau gerombolan yang selalu melakukan perampokan dan pembunuhan yang membuat penduduk menjadi gelisah. Bagi orang-orang bodoh, pengumuman Kumpeni itu dianggap sebagai kenyataan. Namun, orang-orang cerdas pasti tahu bahwa itu hanya fitnah yang disampaikan agar rakyat membenci tentara. Dalam pengumuman itu juga Kumpeni mengatakan akan meminta bantuan PBB untuk menumpas gerombolan-gerombolan dan kaum ekstrimis.

Keadaan ini kembali berlaku, namun bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Munculnya gerakan mujahidin daulah islam yang telah mendirikan khilafah dianggap sebagai ekstrimis yang selalu mengacau. Anggapan itu awalnya muncul dari kafirin salibis Amerika yang kemudian menular ke sebagian orang islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang-orang bodoh yang menganggap pengumuman kafirin itu adalah kenyataan. Orang-orang yang sebenarnya adalah mujahidin dianggap sebagai pengacau yang dituduh melakukan perampokan, pembunuhan (kepada rakyat), dan tindakan kriminal lainnya. Namun, masih ada orang-orang cerdas yang tahu bahwa itu hanyalah fitnah belaka.

Sifat buruk lain dari orang-orang kafir adalah selalu melanggar perjanjian. Namun, rupanya masih ada orang-orang Islam yang mau 'berdamai' di atas berkas perjanjian yang kemungkinan besar akan dilanggar oleh orang kafir. Entah sudah berapa kali perjanjian damai antara Palestina dengan Israel dilakukan tetapi selalu berlanjut dengan pelanggaran perjanjian. Sayangnya, masih banyak umat islam yang masih ingin melakukan perdamaian dengan orang-orang kafir untuk mencapai kedamaian yang semu. Umat Islam saat ini sebenarnya sedang dijajah. Namun, bentuk penjajahannya bukan dengan cara kuno. Diterapkannya demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap umat Islam. Orang kafir tidak perlu mengirimkan tentara untuk menghancurkan negeri ini karena negeri ini akan hancur dengan sendirinya jika masih menerapkan demokrasi yang menempatkan aturan buatan manusia di atas aturan yang ditetapkan oleh Allah.


Andre Tauladan

Selasa, 21 April 2015

Infopurwokerto.info Persembahan Dari Seorang Tunanetra

Setiap orang pasti akan mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Di antara sekian banyak orang ada yang diuji dalam bentuk musibah, kesengsaraan, kemiskinan, atau ujian dalam bentuk fisik. Misalnya keterbatasan dalam penglihatan atau lebih sering disebut dengan tunanetra. Namun, bagi orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, ujian seperti itu tidak akan menghalangi mereka untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Mereka juga tetap memiliki keinginan untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang normal. Di antaranya adalah berbagi informasi dengan orang lain melalui internet.

Salah satu situs yang dikelola oleh tunanetra adalah www.infopurwokerto.info. Situs ini dikelola oleh Ardynal Purbowo. Berbeda dengan situs milik tunanetra lain yang cenderung berisi cerita pengalaman pribadi, situs ini berisi informasi umum seputar Purwokerto. Sang pengelola situs menuturkan bahwa situs tersebut memang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin tahu Purwokerto. Situs ini dipublish sejak tahun 2014. Tampilannya memang sederhana, tidak terlalu banyak menggunakan script sehingga membuat waktu loadingnya pun cepat.

Mengapa saya tertarik mereview situs ini? Karena pagi ini, tadi banget saya baru sarapan bubur ayam di depan lapangan Gemplang. Apa hubungannya? Hubungannya adalah saya bukan orang Purwokerto asli, pagi ini saya ingin sarapan dan ketika melakukan pencarian di Google saya menemukan situs ini. Dari situs ini saya akhirnya dapat menemukan tempat sarapan yang enak. Dari informasi tersebut saya berlanjut ke artikel-artikel lainnya di situs ini hingga akhirnya saya tahu bahwa pengelola (pemilik) situs tersebut adalah seorang tunanetra.

Di situs ini juga pengelola memberikan informasi seputar ongkos transportasi, harga bahan dasar makan, harga makanan jadi, dan beberapa lokasi penting di Purwokerto. Misalnya, lokasi rumah sakit, poliklinik, tempat makan, bank, dan kantor pos. Memang informasi seperti itu bisa didapatkan dari situs lain. Namun yang membuat saya kagum adalah kerja keras sang pemilik situs dalam berbagi informasi dalam keadaannya yang terbatas. Dia memang memiliki keterbatasan penglihatan, namun dia yang menuntun saya untuk bisa berjalan di Purwokerto ini. Singkatnya, dilihat dari sudut pandang wawasan tentang Purwokerto sebenarnya saya yang buta, bukan dia.

Keterbatasan bukan halangan untuk berbuat baik.

Andre Tauladan

Kamis, 16 April 2015

Mau sampai kapan?

Siang ini lagi-lagi saya kepikiran buat nulis tentang perilaku masyarakat yang nggak taat aturan. Sebabnya, tadi saya melihat orang menyeberang sembarangan padahal ada zebra cross tak jauh dari tempat dia menyeberang. Tanpa bertanya apa alasan mereka melanggar peraturan, saya berasumsi bahwa mereka melakukannya karena 'sudah biasa'. Mungkin ada di antara mereka yang melakukannya karena kepepet. Yah, itu mah dimaklum aja deh. Yang mau saya bahas di sini adalah yang 'sudah biasa'. Dari kebiasaan itu muncul pertanyaan 'mau sampai kapan?'

Kalo ngebahas soal perilaku melanggar saya sering keingetan 'lingkaran setan'. Lingkaran setan yang saya maksud adalah budaya saling menyalahkan. Contohnya, jumlah tempat sampah yang tersedia di lingkungan saya tinggal terbilang sedikit. Dari keadaan itu timbullah fenomena lingkaran setan. Masyarakat (yang kesadarannya kurang) membuang sampah sembarangan dengan dalih tidak ada tempat sampah. Pemerintah juga (yang putus asa) tidak lagi menyediakan tempat sampah dengan dalih disediakan tempat sampah pun masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi, masyarakat dan pemerintah saling menuduh siapa yang salah. Tidak ada yang mau sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya. Semestinya pemerintah menyediakan tempat sampah walaupun masyarakat masih banyak yang tidak sadar. Masyarakat juga seharusnya sadar jika tidak ada tempat sampah yang dekat, tahanlah, jangan buang sembarangan.

Fenomena lingkaran setan seperti itu tidak pernah usai. Akibatnya masyarakat terbiasa melakukan pelanggaran. Dari kebiasaan satu orang menular ke orang lain hingga semakin banyak orang yang melakukan pelanggaran. Dari pelanggaran banyak orang kemudian muncul orang-orang 'baru' yang mencoba melanggar dengan menganggap bahwa pelanggaran itu benar. Dalam sebuah acara tv bertema kegiatan polisi menampilkan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas. Banyak di antara pelanggar itu menolak ditilang dengan alasan 'biasanya lewat sini tidak apa-apa'.

Memang sulit jika masih tidak ada kesadaran dalam diri masing-masing untuk menaati peraturan. Sebesar apapun usaha petugas menegakkan aturan, akan selalu ada pelanggaran. Ketika peringatan tidak diindahkan, pemerintah mencoba menerapkan aturan denda. Ketika denda pun tidak mempan, diambillah tindakan tegas. Namun, tindakan tegas itu malah dianggap tidak berbelas kasih. Entah mau sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut.
Andre Tauladan

Rabu, 08 April 2015

⇨JANGANLAH BERSIKAP SOMBONG⇦

Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab
"Siapa dulu doonk...ini kan semua berkat usaha keras saya"
"Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain."
Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah. Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?

Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong.
Pengertian sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain.
Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkanorang lain. Padahal Allah telah melarang kita dlm firmanNya:
QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya.
Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka Sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah(biji sawi) Laa haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan SOMBONG
Eits.. tunggu dulu....
Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain.
Bahkan Allah menantang kita dlm firmanNya :
QS. Al Isra’ {17}:37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dgn sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
"Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuatu. Bukankah begitu ?
Begitu saja kok sombong. Oleh karena itu seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi. Ingatlah kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Rabb semesta alam ini.....
Siapakah diri kita...???
Wallohu A'lam bi shawab...
Smoga bermanfaat
Andre Tauladan

Senin, 06 April 2015

Mungkin Karena Indonesia Bukan Negara Islam

Lagi-lagi terlintas pikiran iseng yang ada hubungannya dengan tema ini. Indonesia Bukan Negara Islam. Kalimat yang sering sekali ditemui di kehidupan masyarakat yang notabene banyak sekali penduduk muslimnya. Sedih memang sedih. Ulama-ulama hanya bisa memberikan dakwah baik melalui lisan maupun tulisan yang disajikan di media cetak dan media elektronik. Tak terlalu besar pengaruhnya. Keadaan seperti ini saja masih banyak yang belum menyadari bahwa dari sekian banyak ulama ada di antara mereka yang memiliki kepentingan duniawi. Entah itu untuk popularitas atau materi. Yah, keadaan di Indonesia ini jauh dari nilai islami mungkin karena INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM.

Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang pacaran dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang berzina dimaklumi.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang mencuri dipenjara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat toko tetap buka.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat transaksi tetap berlanjut.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi sholat-nggak sholat nggak masalah.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bulan ramadhan nggak puasa nyantai aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pamer aurat dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi iklan di media ngumbar aurat.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masjid banyak yang kosong.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pemerintah bohong dibiarin aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak perlu dipake.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak cocok.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi boleh bikin aturan baru.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi orang kafir boleh jadi pemimpin.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi perjudian diizinkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi miras boleh beredar.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi menzhalimi orang lain via asap rokok dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mau pake jilbab aja nunggu izin komandan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi zakat bukan tanggung jawab negara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pernikahan dipersulit.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek syirik tidak dimusnahkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi dukun bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mencela orang juga bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bencong dan banci (sama aja hehe) berkeliaran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bisa akur sama amiriki dan iran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masalah jihad dianggap radikal.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek dari Al Qur'an dan sunnah harus dipilih-pilih yang sesuai UUD '45 dan Pancasila, yang nggak sesuai jangan dipraktekkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi syari'at islam tidak boleh ditegakkan.
Yah, itu hanya kemungkinan saja.
Andre Tauladan

Selasa, 10 Maret 2015

Masih Mengucapkan Kata-Kata Kotor? Tunggu Dulu...

Dalam keseharian orang Sunda kata "anjing" dan "goblog" pasti sering ditemui. Tetapi, kepastian itu hanya berlaku di area dan kondisi tertentu. Bisa jadi seseorang sering mengucapkan kata-kata tersebut ketika mengobrol dengan rekannya, namun jika berbicara dengan orang yang dihormatinya dia berkata lebih sopan. Dari fenomena tersebut muncullah sebuah tulisan yang aslinya entah dari mana, hampir semua tulisan yang saya temui adalah hasil salin - tempel (copy - paste) tanpa sumber yang jelas. Dalam tulisan tersebut nama Kang Ibing disebut sebagai 'pakar'nya. Jadi saya berasumsi bahwa pendapat seperti itu berasal dari Kang Ibing. Mungkin dari sebuah rekaman radio waktu beliau masih hidup. Ah, entahlah. Tapi saya pribadi kurang yakin, karena perkataan yang tidak baik bisa menjatuhkan wibawa seseorang.

Berikut ini kutipan dari tulisan yang saya maksud.

Bagi anak muda Kota Bandung yang funky dan gaul kata ANJING dan kata GOBLOG hanyalah sebuah tanda kalimat. Dalam ESD (Ejaaan Sunda yang belum Disempurnakan) Kata ANJING hanya berarti sebuah koma (menghubungkan kalimat), sedangkan kata GOBLOG berarti titik (mengakhiri sebuah kalimat).
Jadi jangan marah atau merasa tersinggung jika anda berjalan-jalan di KOTA BANDUNG akan sering mendengar kata ANJING dan GOBLOG dalam percakapan anak muda.
Biar lebih jelas kita lihat contoh berikut: “Tadi urang dahar ANJING ayeuna rek ngaroko heula GOBLOG” kalo kalimat ini diterjemahkan kepada bahasa indonesia yang baik dan benar akan menjadi: “Tadi saya makan,sekarang mau merokok dulu.”
sumber : disini

Dari tulisan tersebut disimpulkan bahwa kata "anjing" dan "goblog" dianggap sebagai titik dan koma. Lalu, apa maksud dari Kang Ibing menyatakan hal itu? Saya mengambil sudut pandang lain. Jika sebagian besar orang menganggap itu sebagai hal yang lumrah, maka saya menganggap itu sebagai bentuk keprihatinan Kang Ibing terhadap situasi di masyarakat. Bagaimana tidak? Tanda baca titik dan koma pasti sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Artinya kata "anjing" dan "goblog" pasti sering terucap dari mulut orang sunda ketika sedang mengobrol. Berikut ini kalimat yang saya buat sebagai ilustrasi.
"Listrik padam tiga kali sehari, udah kaya minum obat aja"
"Sering amat ngucapin anjing dan goblog, udah kaya tanda baca aja"
Kira kira seperti itulah ilustrasinya. Jadi Kang Ibing meyatakan kata "anjing" dan "goblog" sebagai tanda baca karena kata-kata tersebut sering terucap dari mulut orang Sunda. Lalu,kenapa beliau harus khawatir dengan hal seperti itu? Jika dipikir lebih dalam, masuk akal juga mengapa kita harus prihatin dengan fenomena itu. Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Salah satunya adalah :

1511. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan -baik atau buruknya-, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih) Makna yatabayyanu ialah memikirkan apakah perkataannya itu baik atau tidak.
*hadits lainnya cek di :link ini
Dari hadits di atas kita bisa pahami betapa bahayanya lisan yang tidak terjaga baik dari perkataan yang buruk berupa umpatan atau celaan maupun ghibah atau fitnah. Ingatlah firman Allah ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18).

Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu. Sebaliknya kalau kita memang sedang dikalem-kalem, tiba-tiba terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. (Huda Achmad)

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa apa yang sering kita ucapkan akan keluar ketika sakaratul maut. Walaupun kisah itu belum jelas asli atau rekayasa, saya mencoba mengambil hikmahnnya saja. Dikisahkan seorang petugas menemukan fenomena yang berbeda dalam dua buah kecelakaan. Pada kecelakaan yang pertama korban tidak mampu mengucapkan syahadat, dia malah menyanyikan lagu di akhir hidupnya. Sedangkan pada kecelakaan kedua korban melantunkan ayat Al Quran. Kisah lengkapnya ada di sini

Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh kita akan menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya di dunia, tidak terkecuali mulut kita. Bagi sebagian orang yang masih menganggap bahwa kata "anjing" dan "goblog" sebagai hal yang lumrah dan sepele, perhatikan firman Allah “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15).

Mari kita ganti ucapan-ucapan kotor itu dengan dzikrullah. Ucapan yang ringan namun mampu menambah timbangan amal kita untuk bekal di akhirat kelak. Ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan allahu akbar dalam keseharian kita. Untuk keterangannya silakan baca di sini.


Andre Tauladan
Follow Us

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Cuit-cuit

Today's Story

Ceritanya, Obama NGGAK PUNYA MALU!
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates