Selasa, 22 Juli 2014

Namun kini kau beranjak pergi meninggalkanku

Jujur, aku sangat merindukan kedatanganmu. Aku dan banyak muslim lainnya. Bahkan sejak beberapa bulan sebelum kedatanganmu kami sudah mempersiapkan diri. Di saat banyak orang lain yang merasa gelisah takut engkau menyusahkan mereka, kami sejak awal tahu bahwa engkau justru akan membawa kebaikan bagi kami.

Akhirnya engkau datang. Kabar gembira pertama yang engkau sampaikan adalah khilafah telah tegak kembali. Di samping malam-malam mulia dengan tarawih dan tadarus, dan keutamaan lainnya ketika engkau hadir, kau datang dengan berita spesial. Walaupun engkau hadir di tengah ramainya sambutan terhadap piala dunia, tapi aku lebih mencintaimu. Engkau tidak hanya memberikan kesenangan dunia tetapi juga akhirat. Banyak orang lain yang tidak mempedulikanmu. Mereka menganggap kau hadir tapi tidak memberikan hidangan. Mereka sibuk dengan taruhan timnas mana yang akan menang. Ada juga yang sejak awal sudah berani tidak mengindahkanmu. Mereka tetap makan di siang hari.

Aku pun sedih. Di tengah kehadiranmu yang mulia, orang-orang banyak yang lebih peduli terhadap calon presiden pilihannya. Hingga akhirnya engkau pun dinodai denga sebuah pesta demokrasi. Tidak sedikit orang yang bertaruh nasib kehidupannya terhadap calon presidennya. Mereka hanya beda sedikit dengan para pejudi bola. Untuk menghormatimu, aku sobek satu surat suara. Aku lebih memilih untuk menghormatimu daripada mereka.

Di antara yang menyambut, ada saja yang salah. Engkau datang disambut dengan petasan dan kembang api. Bagiku itu sangat tidak sopan. Jika engkau datang dengan kabar pengampunan yang engkau bawa, tetapi mereka yang berdosa itu menyambutmu seperti itu, berarti mereka tidak menghormatimu. Amalan-amalan yang bid'ah pun masih mewabah di masyarakat. Di antara mereka ada yang memenuhi makam keramat. Mungkin suatu saat mereka juga akan mendatangi makam kera sakti, atau kera putih. Masih untung tidak ada yang kera sukan.

Engkau hadir tidak lama. Tapi banyak kemuliaan yang engkau bawa. Awalnya memang banyak yang menyambutmu. Tapi sepuluh hari kedua, mulai ada kemajuan dalam shaf tarawih. Sang imam pun semakin bersemangan membaca surat-surat pendek dalam shalat tarawih, buktinya kian hari kian cepat.

Tak terasa kini waktumu hampir habis. Sebentar lagi kau akan pamit. Hari-hariku akan kembali seperti biasa. Amalan sunnah dihitung sunnah, yang wajib hanya dihitung 1 wajib. Tapi di 10 hari terakhir ini sebelum kau pergi kau memiliki harta karun yang sangat berharga. Kami tidak tahu kapan datangnya malam lailatul qadr. Yang kami tahu malam itu ada di malam ganjil 10 hari terakhir. Oleh karena itu banyak di antara kami yang memburunya. Sebuah masjid di dekat kampusku tiba-tiba penuh. Dikala masjid lain semakin sepi karena ditinggal mudik, masjid ini justru didatangi oleh jamaah dari berbagai daerah.

Tapi, hatiku sering kotor. Terkadang ketika di sana banyak yang hanya tidur dan aku tadarus aku sering merasa lebih baik dari mereka. Ketika aku tadarus kemudian ada orang lain yang tadarus lebih nyaring tensi darahku naik. Apalagi jika ada orang lain yang mampu membaca lebih cepat. Hatiku juga sering kotor, ketika sedang asyik bertadarus lalu ada bunyi musik dari sebuah ponsel. Ah... aku tak tahu apakah aku bisa memanfaatkan saat-saat terakhir besamamu untuk mencari ridha Allah atau tidak.

Maaf ramadhan, aku belum bisa berbuat banyak untuk menegur orang lain atau bahkan memerangi mereka yang tidak menghargaimu. Akupun belum mampu memuliakanmu seperti yang rasulullah contohkan. Ya, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi karena tidak ada persiapan, aku hanya bisa menyuguhimu sekedarnya. Terimakasih atas kedatanganmu. Semoga dengan adanya dirimu doaku yang di hari biasa tidak terkabul nanti bisa terkabul. Tilawah, shalat, dan sedekah yang hanya sedikit bisa menjadi berlipat ganda karena ada engkau. Terakhir, aku berharap kepada Allah swt agar tahun depan aku bisa bertemu lagi denganmu. Dan semoga di saat itu aku memiliki persiapan yang matang agar kedatanganmu tidak sia-sia bagiku.
Andre Tauladan

Rabu, 16 Juli 2014

Buya Yahya : Benarkah Nabi Muhammad Tidak Dijamin Masuk Surga?

Video ini adalah Tanggapan dan Sekaligus Jawaban Buya Yahya terhadap Penjelasan salah seorang Ulama' Ahli Tafsir Indonesia yang menyatakan bahwa "Nabi Muhammad SAW Tidak Mempunyai Jaminan Masuk Surga"




Andre Tauladan

Bergabunglah kalian dengan kafilah Jihad


Ibnu Asakir meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari ayahnya, bahwa Rasulullaah bersabda : "Jihad akan tetap menjadi sesuatu yang menarik hati, selagi air tercurah dari langit. Akan datang masanya kepada manusia, orang-orang yang dianggap quraa (mengerti agama) akan berkata kepada mereka :
'Sekarang bukan zamannya Jihad' barangsiapa menjumpai zaman seperti itu, maka Jihad di waktu itu adalah sebaik-baik Jihad. Sahabat bertanya : 'Wahai Rasulullah apa ada orang yang berkata seperti itu?, "Ada" yaitu orang- orang yang Allaah telah melaknatnya, juga malaikat, bahkan sekalian manusia melaknatnya", jawab Rasulullaah.
Duhai saudaraku....
Bergabunglah kalian dengan kafilah Jihad. Merekalah saudara2 kalian yang memerangi musuh2 Allaah
Bergabunglah kalian bersama para mujahidin itu. Bunuhlah orang kafir walaupun satu, agar kalian memperoleh apa yang Allaah janjikan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad: "Seorang kafir tidak akan berkumpul di dalam neraka dengan orang yang membunuhnya (muslim), selama-lamanya" (HR.Muslim)
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan"
(Qs.Al-Baqarah :195).
Maksud 'kebinasaan' dalam ayat ini adalah : meninggalkan jihad dan sibuk dengan diinar (harta)
Janganlah kalian menjadi orang2 yang gagah dalam jahiliyah dan pengecut dalam Islam
Wahai saudaraku...
Tahukah kalian siapakah mu'min yang sebenarnya? mereka itu adalah yg sebagaimana difirmankan oleh Allaah: "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allaah, dan orang2 yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang2 muhajirin), mereka itulah orang2 yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia."
(Qs.Al-Anfal:74)
Saudaraku.....
jika memang belum mampu bergabung dgn mereka, jangan sampai kita menjadi penggembos jihad tanpa sadar, bahkan menjadi penghalang jihad tanpa sadar !! Bagaimana itu bisa terjadi ? Ya tentu saja itu akan terjadi jika kita terlibat dalam menyebarkan perselisihan atau fitnah yang terjadi di antara mujahidin tanpa adanya upaya meredamnya, tanpa mengikuti prosedur syar`i dalam pengambilan khabar , dst.
KARENA TIDAK ADA YANG DIUNTUNGKAN DARI PERSELISIHAN ATAU FITNAH INI SELAIN MUSUH-MUSUH KITA…!!!
Dan tidak ada yang dirugikan melainkan ummat Islam dan mujahidin itu sendiri . Apakah jika kemudian ummat Islam jadi enggan berinfaq dan enggan bergabung dengan mujahidin karena tersebarnya fitnah tersebut bukan termasuk menghalangi ummat dari jihad???!!!!
sumber : link
Andre Tauladan

Kamis, 10 Juli 2014

.:: PERSIAPAN MENJELANG HIJRAH ::.


1. Persiapkan paspor dr skrg, termasuk persiapkan dollar krn membeli tiket internasional memakai mata uang dollar. Visa bisa dibuat secara online ketika mendwkati waktu hari H.
Tips, slalu cek harga tiket untuk mengetahui kapan bisa mendapatkan harga promo
2. Persiapkan fisik, terutama jika memiliki schedule akan pergi di waktu musim dingin. Berlatih fisik, berlari di pegunungan jauh lebih baik krn udara di masa peralihan sj sdh sgt dingin bagi kita yg terbiasa di wilayah tropis.
3. Persiapkan pakaian dan barang bawaan seperlunya sj. Tiga stel pakaian sdh cukup. Usahakan semua sdh all in dalam satu ransel. Cukup persiapkan uang krn berbagai kebutuhan tersedia di sini.
4. Persiapkan istri dan anak2 jika akan pergi membawa keluarga. Tanamkan dlm diri istri utk tdk manja dan banyak merengek serta mengeluh. Tanah jihad bkn tempat untuk mencari kenyaman hidup dan selalu mendapatkan pelayanan dr suami. Biasakan mulai dr skrg makan seadanya. Di sini kita minum air mentah.
5. Yang terpenting dr semuanya adalah persiapkan iman dan mental. Orang yg beriman tdk slalu memiliki mental yg kuat, mental pejuang. Banyak kasus ikhwan yg kembali pulang bahkan merengek minta pulang bahkan sblm memulai apa2.
6. Terakhir pesan untuk ikhwan... kalian hijrah ke sham untuk jihad bkn utk internetan! Buktikan sami'na wa atho'na kalian skalipun kalian mendapat amir atau masul yg kalian anggap dzalim atau tidak adil.
Kita datang ke Sham bkn utk main2... Insha Allah jarak menuju syurga hanya tinggal satu langkah lagi, maka waktunya kita mengamalkan seluruh ilmu dien yang kita punya!
NB : Tips di atas diambil dari pengalaman salah satu Muhajirah dari Indonesia yg berhasil berhijrah kepangkuan KHILAFAH ISLAMIYAH
Andre Tauladan | Sumber

Selasa, 01 Juli 2014

Mengambil hikmah dari Piala Dunia

Beberapa hari terakhir jagad facebook diramaikan dengan status mengenai piala dunia. Sebuah momen luar biasa yang menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia. Saya pribadi tidak terlalu peduli dengan momen ini. Namun saya ingin berbagi dengan para soccer mania agar tidak membuat momen ini terlewat begitu saja tanpa ada manfaat apapun darinya.
logo piala dunia brazil

Piala dunia. Sebuah kejuaraan dunia dalam olahraga sepak bola. Melirik substansi dalam permainan sepak bola, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran.

Pertama, garis di lapangan sepak bola.

gambar lapangan sepak bola

Garis ini menjadi batas permainan.  Ketika seorang pemain membuat bola yang dibawanya keluar dari garis itu maka yang terjadi adalah kesempatan throw in bagi tim lawan. Dengan throw in ini tim lawan akan mendapat keuntungan karena dia yang mengendalikan bola. Dalam kehidupan kita garis itu adalah batasan-batasan agama, benar-salah, pahala-dosa. Jika kita melanggar batasan itu maka yang terjadi adalah kesempatan bagi setan untuk mengendalikan kehidupan kita, sehingga seringkali kita berbuat dosa.

Kedua, bola.

bola sepak

Bola dalam permainan sepakbola ibarat kehidupan kita. Kita memiliki tujuan dalam hidup, itu adalah gawang lawan. Kita akan berusaha untuk mencetak gol atau dengan kata lain meraih tujuan hidup. Kita hidup di dunia tentu memiliki keinginan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam permainan sepak bola tim lawan adalah penghalang, mereka akan berusaha sekuat mungkin agar kita tidak bisa mencetak gol. Untuk melewatinya seorang pemain sepak bola yang handal pasti bisa melakukan manuver-manuver cantik yang bisa mengelabui lawan dan lolos dari segala halangan. Tim lawan diibaratkan setan. Mereka akan menghalangi kita untuk mencapai kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Oleh karena itu kita harus pintar menghindarinya. Cara-cara untuk menghindari mereka ada dalam Al-Qur'an, kita harus rutin berdzikir, berbuat baik kepada orang tua,  dan cara-cara lainnya yang sudah tercantum dalam Al-Qur'an.

Ketiga, piala.

Tujuan akhir dalam kejuaraan piala dunia adalah untuk mendapatkan piala. Tujuan akhir dalam kehidupan kita adalah untuk kehidupan akhirat yang baik.
piala dunia

Keempat, seragam atau kostim.

Setiap tim dalam sepak bola pasti memiliki seragam yang berbeda. Kita sebagai umat muslim memiliki aturan juga dalam berpakaian, pakaian yang dipakai harus syar'i sesuai aturan islam. Setidaknya harus menutup aurat.

Kelima, wasit.

wasit sepak bola

Tugas seorang wasit adalah mengatur permainan agar tidak keluar dari aturan yang berlaku. Wasit memberikan arahan, memberikan peringatan dan memberikan hukuman jika terjadi pelanggaran. Ini ibarat petunjuk yang disampaikan Allah kepada kita. Aturan-aturan dalam hidup ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Di dalamnya terdapat petunjuk, peringatan, dan hukuman. Dalam permainan sepak bola jika wasit memberikan kartu kuning, itu artinya peringatan atas sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain. Jika kartu merah sudah diberikan berarti pemain tersebut sudah tidak berhak bermain dalam pertandingan tersebut, ia dihukum, dikeluarkan.

Keenam, linesman (hakim garis).

hakim garis piala dunia

Di samping kiri dan kanan lapangan ada petugas hakim garis. Mereka menjadi pengawas selama pertandingan, selalu memperhatikan apakah terjadi offside atau tidak. Dan jika offside maka ia akan mengangkat bendera di tangannya sebagai isyarat. Dalam kehidupan kita juga ada yang selalu mengawasi di kanan dan kiri kita. Malaikat raqib dan atid.

Ketujuh, waktu permainan.

Dalam setiap permainan sepak bola, sudah ditentukan durasinya. Jika dalam waktu 90 menit tidak ada yang menang dalam pertandingan tertentu ada waktu tambahan. Tetapi dalam hidup kita, jika waktu kita sudah habis tidak ada tambahan waktu.

Kedelapan, penonton.

soccer football stadium

Permainan sepakbola khususnya dalam pertandingan setingkat piala dunia pasti dilaksanakan di stadion. Setiap stadion ada tribun penontonnya. Posisi penonton mengelilingi lapangan dari setiap sisi dan sudut. Dalam kehidupan kita Allah selalu tahu, melihat, dan mengawasi apa yang kita lakukan di setiap saat, setiap tempat, setiap sisi dan sudut.

Nah, itulah pelajaran (hikmah) yang bisa kita ambil dari piala dunia. Sebagai seorang muslim kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Terkadang manusia yang keimanannya masih lemah perlu diberi penjelasan dengan analogi agar mereka mengerti dan mau menerima apa yang disampaikan oleh agama. Sedangkan bagi yang imannya kuat, mereka akan melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama tanpa banyak protes.

Tulisan ini adaptasi dari video berjudul "WORLD CUP WITH A LESSON ᴴᴰ - MUST WATCH"
Andre Tauladan

Kamis, 12 Juni 2014

Cerpen ke 1. Bingung judulnya apa.

Maaf nih, buat postingan kali ini saya bikin cerpen. Cerpennya sih geje, tapi gapapalah.. hehe..
----------------------------
     "Oi! Dra! Jangan meleng dong!"
     "Yang bener dong bawa motor!"
     "Astaghfirullah, sori bro, sori..."
     Wajah Indra berubah menjadi kusut ketika ditegur Iwan. Sesaat tadi dia sempat meleng dan tidak fokus dalam mengendari motornya. Rupanya ia teringat pada seseorang yang sangat istimewa untuknya. Seorang akhwat cantik yang pernah ia temui di depan masjid di sekitar jalan yang ia lewati barusan. Gara-gara kecerobohannya dia hampir saja motornya masuk ke selokan.
     Kejadian siang tadi tidak berakhir seketika, sampai malam di hari yang sama Iwan masih terlihat marah. Dia memang punya pengalaman buruk dalam mengendari motor. Aneh memang. Dia pernah cerita bahwa dulu dia dijuluki "Si Raja Jalanan" karena sering kebut-kebutan. Tetapi sejak kecelakaan dua tahun lalu dia menjadi tidak pernah berani lagi mengendarai motor sendiri. Dia jadi lebih suka dibonceng. Waktu itu dia sedang ingin pamer kemampuannya di jalan raya. Dengan maksud untuk mendakut-nakuti, dia membonceng adiknya dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan adiknya merengek-rengek ketakutan sedangkan dia tertawa senang. Namun kesenangan itu berubah menjadi tragedi ketika di suatu tikungan dia tidak bisa mengandalikan motornya. Di saat yang sama datang sebuah mobil dari arah berlawanan, kecelakaan pun tidak terhidarkan. Keduanya terluka parah, mereka segera dibawa ke rumah sakit. Namun naas, adiknya mendinggal di perjalanan menuju RS.
     Sejak saat itu dia jadi mudah marah jika Indra kurang hati-hati mengendarai motor saat memboncengnya. Malam ini pun begitu. Walaupun Indra sudah memintamaaf tetapi Iwan masih saja marah-marah. Akhirnya Indra pun menyerah.
     "Ah, sudahlah nanti juga dia tenang dengan sendirinya" pikirnya.
     Keesokan harinya Iwan tidak ikut dengan Indra ke kampus. Hari itu mereka memang beda jadwal kuliah. Dalam perjalanan pulang, Indra mampir terlebih dahulu ke Masjid Al Hikmah. Ia ingin mengenang masa lalu yang kemarin sempat mengganggunya.
     "Hm... Di masjid ini pertama aku bertemu dengan seorang akhwat yang membuatku jatuh cinta" gumam Indra.
     Akhwat itu bernama Ratna. Dua tahun lalu, ketika Indra baru menjadi mahasiswa dia melihat akhwat itu di masjid ini. Dalam perjalanan ke kostan, dari tepian jalan Indra melihat seorang akhwat cantik. Akhwat itu sedang melangkah menuruni tangga. Busana merah muda dengan kerudung putih sangat cocok dengan wajahnya yang putih bersih. Kacamata lonjong yang dipakainya semakin membuat dia terlihat ayu.
     "Maa syaa Allah, cantiknya" gumam Indra.
Tanpa terlalu lama memandangnya Indra pun terus berjalan menuju kosannya.
Satu bulan sudah berlalu sejak Indra melihat akhwat itu. Wajah cantiknya masih terus menempel dalam ingatannya. Dalam satu bulan itu sebagai mahasiswa baru dia sudah mulai punya beberapa teman dekat. Salah satunya Iwan. Iwan menjadi tempat bagi Indra untuk berbagic erita tentang kuliah, masalah keluarga, masalah keuangan termasuk masalah asmara.
     Indra dan Iwan sering berangkat dan pulang bersamaan ke kampus. Suatu saat, ketika sedang berjalan-jalan di kampus tanpa sengaja mereka bertemu Ratna. Saat itu mereka belum tahu namanya. Indra memberitahu Iwan bahwa ia menyukai akhwat itu. Ia ceritakan pada iwan tetnang pertemuan dan ketertarikannya pada akhwat itu. Tanpa Indra tahu, ternyata iwan mencari informasi tentang akhwat itu. Dari Iwanlah Indra tahu bahwa akhwat itu bernama Ratna.
     "Dra, kalo kamu suka sama Ratna, kenapa nggak kamu deketin aja?" tanya Iwan.
     "Dra kalo kamu nggak cepet, nanti nyesel lho kalo dia diambil orang" tanya Iwan lagi di lain waktu.
      Iwan sering sekali membujuk Indra untuk mendekati Ratna, namun Indra bukan tipe orang yang mudah dan berani untuk mendekati seorang akhwat. Ia ingin bisa menjaga dirinya hingga ia benar-benar yakin dan siap lahir dan batin ketika ia mendekati seorang akhwat.
      "Dra, dia masih single lho!" bujuk Iwan lagi di lain waktu.
      Lama-lama Indra gerah juga dengan pertanyaan dan bujukan Iwan dan akhirnya ia memarahi Iwan.
      "Wan, ini tentang prinsip! Aku saat ini masih mahasiswa, mana bisa aku menikahinya untuk saat ini?"
      "Ya, nggak usah nikah dulu lah, pedekate aja dulu" jawab Iwan.
      "Wan! jangan sekali lagi kamu bujuk aku untuk mendekatinya! Aku tidak ingin mengubah prinspku, aku juga tak ingin memberi harapan palsu!" tegas Indra.
      "Daripada aku mendekatinya tapi tidak bisa membahagiakannya di masa depan lebih baik aku menahan diri" tambahnya.
      Mendapat respon seperti itu Iwan pun tidak ingin berbuat lebih. Ia kecewa niat baiknya ditentang keras oleh Indra. Ia juga tidak ingin memaksa Indra untuk menerima sarannya.
      "Sudahlah, jika itu maumu, aku tidak akan membahasnya lagi, tapi aku tidak mau tahu jika suatu saat nanti kau menyesal" jawab Iwan.
      Indra tidak menghiraukan jawaban Iwan. Sejak saat itu juga Iwan tidak pernah membahas masalah itu lagi.
      Perjalanan kuliah terus berlanjut. Mereka menjalani masa-masa itu seperti biasa. Menjelang tingkat akhir, aktivitas kuliah semakin sedikit. Indra memanfaatkan waktu luang untuk mencari pekerjaan sampingan. Ia mencoba bisnis kecil-kecilan ala mahasiswa. Namun gara-gara pekerjaannya itu banyak tugas kampus yang terlantar, ia pun tertinggal oleh kawan-kawannya yang lain. Iwan saat ini sudah mulai menyusun skripsi sementara Indra masih harus mengurus beberapa nilai yang kurang.
      Waktu terus berlanjut, saat ini Iwan sudah lulus sedangkan Indra baru akan menyelersaikan skripsinya. Bisnisnya mulai berkembang. Ia sudah tidak terlalu sibuk mengurus usahanya. Tidak berapa lama ia pun lulus. Ia mulai merasa mantap untuk mengungkapkan perasaannya kepada Ratna. Ia coba hubungi Iwan untuk mencari tahu di mana Ratna sekarang, Iwan pun mengiyakannya.
      Berselang beberapa minggu Iwan menghubungi Indra. Namun sayang, bukan kabar baik yang Indra terima tetapi justru sebaliknya. Iwan menyampaikan bahwa Ratna sudah memiliki tunangan.
      Raut wajah Indra menampakkan kekecewaan. Berat hatinya menerima kenyataan itu. Kini hari-harinya selalu diselimuti kegalauan. Bisnis yang dirintisnya pun menjadi terbengkalai dan semua itu membuat dirinya semakin terpuruk.

---tamat---
*judulnya apa ya?
Andre Tauladan
Follow Us

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Cuit-cuit

Like Dong

© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates