Selasa, 07 Juni 2016

Isbal, Ditolak Ahlu Sunnah, Dibela Ahlu Bid'ah

isbal

Hidup sebagai seorang muslim berarti secara langsung harus patuh terhadap segala aturan dalam agama islam, termasuk dalam perkara berpakaian. Tidak peduli anda dari golongan atau ormas apapun. Salah satu perkara yang masih dianggap remeh saat ini adalah isbal. Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal bagi laki-laki terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang haramnya isbal. Beberapa dalil yang paling sering dibahas adalah dalil-dalil berikut :
“Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
“Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda :
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
“Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]
“Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]
Dari beberapa hadits di atas sudah jelas bagi kita bahwa isbal hukumnya minimal makruh bahkan haram. Namun, masih ada di antara kaum muslimin yang terjerumus oleh syubhat para penentang sunnah. Salah satu syubhat yang saat ini melanda kaum muslimin adalah "boleh isbal asal tidak sombong". Sekilas, memang syubhat tersebut memang bisa diterima logika karena pada dalil yang ada terdapat kata "sombong". Tetapi, jika kita berfikir lebih kritis maka syubhat tersebut justru sangat lemah dari sisi logika. Berdasarkan tiga hadits di atas balasan bagi orang yang isbal adalah Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat (jika dilakukan dengan sombong), masuk neraka (dilakukan dengan kesombongan maupun tidak), dan tidak akan disukai oleh Allah (jika dilakukan dengan kesombongan). Kesimpulannya adalah, isbal itu tetap dilarang, sedangkan hukuman setiap orang yang melakukan isbal itu berbeda tergantung sombong atau tidaknya.

Di kalangan masyarakat umum saat ini memang sunnah ini masih kurang dikenal sehingga jika ada orang-orang yang mengamalkan sunnah ini dianggap nyeleneh. Walaupun begitu, saya bersyukur masih ada orang-orang yang berusaha melakukannya dan mendakwahkannya. Selain berdakwah di majelis ilmu, buletin, atau media lainnya orang-orang tersebut juga berdakwah dengan mempraktekkannya.

Sayangnya ada pihak tertentu yang menganggap bahwa pengamalan sunnah oleh sebagian kaum muslimin adalah bentuk kesombongan. Di sebuah situs disebutkan bahwa "Zaman Sekarang, celana isbal justru lebih dekat kepada sombong". Memang bisa seseorang memiliki sifat sombong atau pamer dalam ibadahnya, tetapi hal ini bersifat umum, tidak hanya dalam perkaran non-isbal tetapi juga dalam perkara lain. Kita memang tidak bisa menganggap semua orang baik, tetapi tidak bisa juga menganggap semua orang sombong. Salahnya lagi, admin situs tersebut menggunakan gambar syekh saudi sebagai perbandingan padahal syekh saudi bukan patokan sebuah kebenaran. (Saya pribadi masih heran, mengapa masih sering ditemui orang saudi yang isbal).

Jika seseorang menjadi sombong dengan ibadahnya berarti yang harus diperbaiki adalah hatinya, bukan ibadahnya. Jangan sampai karena ingin mengkritik kesombongan pada diri orang lain justru mengakibatkan ibadah tersebut menjadi ditinggalkan, lebih parah lagi jika orang yang mengkritik justru tidak mengamalkan sunnah tersebut. Alasan mereka pun tidak syar'i, yaitu menganggap orang yang tidak isbal sebagai orang yang na'if karena tidak menghargai desainer atau terlihat ganjil.

Pembahasan lengkap bisa dibaca di :
- Sumber 1
- Sumber 2
- Sumber 3
- Sumber 4
- Sumber 5


Andre Tauladan

Selasa, 31 Mei 2016

Sudah siap berburu Lailatul Qadar?

Tidak lama lagi in syaa Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat besar keutamaannya. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar. Malam tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar bagi umat islam, karena merupakan malam pertama kali turunnya Al Qur'an.  Dengan Al Qur'an manusia menjadi memiliki pedoman agar kehidupannya lebih jelas dan derajatnya terangkat menjadi lebih tinggi. Malam ini hendaknya tidak perlu diperingati dengan acara-acara tertentu, tetapi menjadi momen bagi seluruh umat islam untuk berlomba-lomba melakukan amal shalih dan bangun di malam hari dengan mengharap ridha dan ampunan Allah ta'ala.

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang keutamaan di malam Lailatul Qadar.

lailatul qadr

1.Lailatul Qadar adalah malam seribu bulan.

Di dalam Al Qur'an terdapat firman Allah yang menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

 “Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)

Dalam ayat lain Allah berfirman bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah:

“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ad Dukhan : 3 – 6)

2. Kapankah malam Lailatul Qadar itu?

Terdapat beberapa riwayat yang dapat dijadikan landasan untuk menjawab "kapankah malam Lailatul Qadar?". Dalam sebuah riwayat (masih terjadi perbedaan pendapat para ulama) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa malam tersebut terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan.

Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini?’ Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.'”

Terdapat pendapat yang diyakini paling kuat yang menerangkan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))


Sebagai referensi tambahan, berikut ini tausyiah pendek tentang kapankah malam Lailatul Qadar?



3. Bagaimana mencari malam Lailatul Qadar

Alangkah meruginya orang yang tidak mampu mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar. Sayangnya, tidak setiap orang akan mendapat keutamaannya. Ada orang-orang yang telah Allah haramkan baginya seluruh kebaikan. Oleh karena itu, sebagai umat islam yang dalam setiap harinya tidak pernah bersih dari dosa, maka malam tersebut adalah malam yang ditunggu-tunggu untuk melakukan amalan yang disyari'atkan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar dan memohon ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya,
“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab “Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.(Allahumma Innaka ‘Affuwun Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna)” (HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan berkah dari Allah dan taufiq untuk menaati-Nya. Mari kita bangun untuk shalat malam di sepuluh malam terakhir, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, menjauhi wanita, dan melaksanakan perintah Allah. 

Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah di malam-malam tersebut dalam sebuah riawayat dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha :

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))

Juga dari ‘Aisyah, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Muslim (1174))

4. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar

Jangan sampai kita melewatkan malam yang penuh keistimewaan di bulan Ramadhan. Kita sudah tahu bahwa untuk mendapatkan keutamaannya berarti kita harus mempersiapkan diri dan menyambutnya di sepuluh hari terakhir. Agar lebih yakin kita juga harus tahu tanda-tanda malam Lailatul Qadar. Berikut ini beberapa riwayat tentang tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar.


Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (Muslim (762))

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:

“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan.” (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)

sumber : Ikhtisar Shifat Shaum Nabi SAW Fi Ramadhan

Oleh : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Saudaraku, semoga kita diberikan kemampuan lahir dan bathin, diberikan kesehatan lahir dan bathin agar sampai kepada bulan Ramdhan dan mampu meraih pahala di dalamnya dan mendapatkan keutamaan di malam-malam terakhirnya. Masih banyak orang yang belum tahu keutamaan malam lailatul qadar, jangan biarkan mereka dalam kegelapan. Sebarkanlah artikel ini semoga menjadi amal shalih sebagai bagian dari dakwah kita semua.

Aamiin.
Andre Tauladan

Selasa, 02 Februari 2016

Pergeseran Paradigma Musuh Terhadap Daulah Islamiyah

Oleh John Cantlie dalam majalah DABIQ edisi 8

Pasca bulan September yang mengeretakkan gigi, muncul kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterima oleh banyak politisi barat bahwa Daulah Islam sangat berbeda dari pandangan mereka sebelumnya. Dan mereka harus meresponnya dengan cara yang berbeda pula.

Pertama, surat protes. Selalu ada bahaya di belakang saya dalam mengabarkan perkembangan terakhir dan bahwa beberapa observasi laporan berita yang saya berikan sudah basi. Tapi adakah dari anda semua yang memperhatikan perubahan krusial dari para pimpinan Amerika dan sekutunya dalam mendiskusikan tentang Daulah Islam akhir-akhir ini?

Dari raungan tak bergigi Obama dalam pidato kenegaraannya pada 10 September, dimana ia menyatakan bahwa Daulah Islam adalah “organisasi teroris murni dan biasa”. Sepertinya beberapa penasehat dekatnya, beberapa tokoh selain NATO dan media secara umum tidaklah sepakat dengan penyederhanaan deskripsi ini, meskipun ‘terorisme’ sangat tidak diragukan lagi sebagai salah satu taktik yang digunakan untuk menghalang kemajuan Daulah Islam dan jihadnya.
hagel - dempsey
Duo Salibis Hagel dan Dempsey
 Mantan menteri pertahanan Obama, Chuck Hagel mengatakan bahwa “ini adalah masa paling menantang dalam sejarah kepemimpinan Amerika”.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Hagel mengatakan bahwa, ”Kami tidak pernah menemui organisasi seperti ISIL (Daulah Islam) yang sangat teroganisir, sangat terlatih, terdanai dengan baik, strategis, sangat brutal, penuh kekerasan. Kami tidak pernah menemui hal seperti ini dalam sebuah institusi. Mereka menyatu dalam sebuah ideologi. Kecanggihan program sosial media mereka adalah sesuatu yang tidak pernah kami temui sebelumnya. Semua itu disatukan dan terciptalah satu ancaman kekuatan baru yang sangat dahsyat,”.

Bagi seorang mantan menteri pertahanan, penggunaan bahasa yang bersifat memuji saat membincangkan musuh menjadi pertanda yang sangat jelas bahwa Washington sangat tidak yakin dengan perlawanan mereka menghadapi sebuah “organisasi biasa”. Dan Hagel tidak sendirian dalam pernyataan yang penuh kesopanan ini. Jendral Martin Dempsey, kepala staf joint chief mengakui di televisi bahwa “pertama, cara militer bukan satu-satunya solusi untuk menghadapi ISIL (Daulah Islam). Dan kedua, kekuatan udara saja juga bukan solusi baik di Irak ataupun Syria,”.
Dan kutipan-kutipan jurnalis dunia tidak berarti sama sekali, karena banyak dari mereka justru menambah besar pemberitaan tentang pencapaian dan pemekaran Daulah Islam.

Beberapa ungkapan kemustahilan menjadi mungkin saat ini. Ingatlah beberapa waktu lalu saat para pemimpin Amerika sibuk meletakkan dasar-dasar untuk landasan situasi dewasa ini. Kita mundur sedikit, dahulu tema utamanya adalah tentang menghabisi “teroris” yang sulit dikendalikan di Iraq dan Afghanistan secara “mengejutkan dan mengagumkan” dengan kekuatan mesin perang Amerika. Tapi saat ini pejabat-pejabat itu terpaksa mengakui bahwa mungkin (hanya mungkin) mereka agak terlalu dini menganggap Daulah Islam sebagai “organisasi teroris murni dan biasa”. Dan itu hanya berjarak tiga bulan sejak kampanye mereka.

Saya bukanlah ahli dalam masalah ini dan pandangan saya sangat awam, tapi secara umum sebuah “organisasi biasa” tidak mungkin dapat mengepung kota-kota atau memiliki kekuatan polisi sendiri. Anda tentu tidak akan pernah menyangka bahwa sebuah “organisasi biasa” dapat memiliki tank-tank dan artileri, tentara bersenjata berkekuatan sepuluh ribuan, dan memiliki drone sendiri. Tak seorangpun akan menyangka bahwa ”organisasi biasa” mempunyai rencana mencetak mata uang sendiri, sekolah dasar bagi kaum muda dan sistem peradilan yang berjalan dengan baik.

Ini semua tentulah ciri-ciri sebuah negara.

Media memakainya secara sporadis, awalnya perlahan tapi selanjutnya jadi langkah bersama. Apakah Daulah Islam, Khilafah yang dideklarasikan pada Juni lalu, benar-benar sebuah Negara?

“ISIS (Daulah Islam) akan ambil alih kota-kota, makin banyak teritori digabungkan, benar-benar menjadi sebuah Negara yang kita tidak inginkan,” kata Letnan Kolonel (purn) Bill Cowan di Fox News pada Oktober 2014.

Karena kurang nyaman didengar oleh telinga barat, maka Islamic State (Daulah Islam) tidak mereka anggap sebagai sebuah negara. Negara dapat saja lahir dalam sehari atau beberapa jam dengan sebuah kudeta, ataupun semenit dengan penandatanganan dokumen. Hal ini telah terjadi selama berabad abad. Jadi tidak beralasan mengatakan tidak mungkin sebuah negara lahir dengan cara seperti itu. Dan kalau Daulah Islam bukanlah sebuah negara, lalu apa?

Tentunya, wilayah-wilayah yang telah dikuasai Daulah bukan lagi milik Bashar Al Asad yang sembunyi di Damaskus bersama tentaranya setelah bertahun-tahun membunuh muslim Syria. Tidak pernah ada legitimasi terhadap rezim tiraninya, dan kekuasaannya tak akan pernah kembali.

Apakah ia juga milik pemerintah boneka di Iraq, yang bersembunyi di Baghdad sedangkan tentaranya sedang menjilat luka-luka akibat serangan mujahidin pada musim panas lalu? Jelas tidak. Dan itu pastinya bukan milik the Free Syrian Army, yang telah bertahun-tahun memilih menghisap rokok Gauloises, minum teh, dan mengeluh bahwa tak ada yang bisa dilakukan tanpa bantuan serangan jet NATO. Baiklah itulah mereka sekarang, mereka masih di titik nol.

Anggap saja jika seseorang telah mengklaim daratan sepanjang Iraq dan Syria, atau bagian-bagian lain dari Daulah Islam telah direbut. Dia tidak akan punya motivasi untuk mengurusnya, atau mengerahkan militer untuk mempertahankannya.

Meskipun barat mungkin tidak pernah menerima itu, ada saja politisi barat yang mulai menerima kenyataan ini. Dan sedikit demi sedikit kita melihat perubahan bahasa, perubahan paradigma yang ditandai dengan bagaimana para pemimpin berbicara tentang Daulah. Sebab jika disebut negara –diakui atau tidak (Daulah islam tak perduli)- maka akan terjadi perubahan secara dramatis.

Anda tidak bisa begitu saja menghapus kata “organisasi teroris”, sebab itu tidak akan merubah opini publik. Sebagaimana anda tidak bisa menjatuhkan bom-bom dan berharap itu berlalu begitu saja. Tidak. Dan anda tidak bisa berharap pada tentara tak berguna yang minim disiplin -bahkan lebih buruk- untuk melakukan pekerjaan yang tidak ingin anda sentuh. Mereka semua akan gagal.

Pada saatnya nanti, anda akan menginginkan menghadapi Daulah Islam sebagai sebuah negara dan mungkin mempertimbangkan solusi gencatan senjata. Dan jika bukan hanya cara non-militer yang dapat ditempuh untuk menghadapi Daulah Islam, anda akan mencoba mendekati lagi suku Sahwah lain untuk melawan Daulah dengan melakukan provokasi kemana-mana, guna memotong sokongan finansial atau sekedar menutup media mereka (yang telah menghabiskan dana AS lebih dari 1,3 billiun dollar dan gagal total) sampai pada satu titik dimana hanya tersisa satu pilihan, yaitu menawarkan gencatan senjata.

Dengan harus menelan harga diri, menerima kenyataan bahwa bendera hitam Khilafah berkibar di kaki langit Afrika, Arabia, dan Asia. Maka pergeseran paradigma barat terhadap Daulah menjadi tak terelakkan lagi.

Adakah jalan lainnya? Meluncurkan serangan udara ke enam negara sekaligus? Mereka harus menghancurkan setengah wilayah jika begitu caranya. Saya di Kobane pada Oktober tahun lalu dan menyaksikan lebih dari 170 serangan udara AS yang merupakan “Serangan terberat sejak kampanye serangan udara dimulai,” menurut koresponden CBS Holly Williams. Serangan ini dimaksudkan untuk menghadapi serangan artileri yang dimulai Daulah Islam, hanya manghasilkan hancurnya sebagian besar kota menjadi reruntuhan puing. Terhitung ada lebih dari 600 serangan, dan sekarang habis tak ada yang tersisa disana.
Serangan udara AS di kobane
Serangan udara AS di kobane

Saat kejadian itu, saat serangan udara besar besaran dalam kegelapan malam beberapa waktu lalu, saya yakin anda tidak mengatakan “hore.. Itu angkatan udara Amerika,”. Pintu-pintu berguncang dari engselnya dan dinding retak terkena getaran, anda akan dipenuhi dengan kegeraman. 20 menit kemudian terdengar suara tangisan bayi ketakutan, para ibu menenangkan anak anak mereka dan sirine ambulan mengusung korban luka ke rumah sakit. Itulah sisi “cermatnya“ pengeboman yang tidak pernah nampak di dunia barat.

Apakah gencatan senjata menjadi sesuatu yang realistis? Saat ini, hal itu terlalu dini. Skenario yang dibuat adalah operasi militer besar-besaran terhadap Daulah Islam yang dilakukan oleh milisi Iran (tentara Iraq) dan dilatari oleh AS. Tapi ketika itu gagal karena milisi Shiah takut dibakar hidup-hidup, ketika serangan roket pasukan khusus telah dikerahkan untuk membantu kegagalan tentara Iraq, dan ketika mujahidin mulai memenggal tentara-tentara barat, maka setiap pilihan akan dipertimbangkan segera. Gencatan senjata akan menjadi salah satu pilihannya.

BERAPA BANYAK LAGI TENTARA BARAT YANG AKAN MATI?

Untuk saat ini, maka jawabannya adalah BANYAK. Perancis, Belgia, Denmark, Australia, dan Kanada semua menjadi target serangan Mujahidin dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Dengan semakin banyaknya pejuang pejuang islam dari berbagai kelompok di berbagai negara berbai’at kepada Daulah Islam, pastilah menambah banyak serangan-serangan dengan eksekusi yang lebih sempurna.

“Para pejuang berdatangan dari berbagai penjuru dunia, dari Eropa, Amerika, Australia, dan lain lain bertemu di Syria” ungkap Obama dalam wawancara di ’60 minutes’. “Ini menjadi titik tolak Jihadis seluruh dunia. Dan ini menjadi tantangan bagi kami. Dimana kita mendapati sebuah negara yang gagal dan terjerumus dalam perang sipil, namun organisasi (Daulah) ini berkembang dengan pesat,”.

Seberapa lamanya opsi ini akan diambil, tapi fakta perubahan bahasa di barat tak terhindarkan lagi. Hanya berjarak 8 bulan dari kampanye mereka, beberapa figur politisi senior di AS mulai mengakui bahwa Daulah Islam tidak seperti musuh manapun yang mereka temui dulu, dan bahwa penyelesaian secara militer saja adalah tidak mungkin.

Akhirnya, saya melihat secara lebih sederhana, yang mungkin tidak merefleksikan besaran kompleksitas peperangan modern dan pembangunan Negara. Gencatan senjata antara barat dan Daulah Islam akhirnya akan mengarah pada berakhirnya dukungan Arab dan boneka tiran non-Arab di kalangan dunia muslim. Ini juga akan menjadi akhir dukungan kepada Israel. Itu hanya pembuka, apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi.

Perang sepenuhnya dapat diprediksi, hanya ada satu dari dua kemungkinan, salah satu muncul sebagai pemenang sementara yang lain dikalahkan, atau tercapainya gencatan senjata. Itulah jalan untuk mengakhiri peperangan, Amerika dan sekutunya takkan pernah memenangkan perang ini. Mereka tahu itu dan semua orang juga tahu itu.

Sampai pada satu keadaan, satu-satunya pilihan yang berlaku untuk Amerika dan barat adalah memilih pilihan yang ‘bijak’.

—-

Catatan Editor: Berhentinya peperangan antara Muslim dan kufar takkan permanen. Perang terhadap kufar adalah kewajiban tetap bagi Muslim yang hanya terhenti sejenak untuk tujuan syar’i yang lebih besar. Sebagaimana gencatan senjata dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dengan musyrikin Mekah di Hudaibiyah. Jangka waktu Perjanjian Hudaibiyah adalah sepuluh tahun. Ketika gencatan sejata disepakati, maka berlakulah ia. Tapi bila diingkari kufar maka akan dihukum dengan keduanya yaitu shar’ (jihad) dan qadar Alloh. Penghianatan musyrikin mekah terhadap perjanjian Hudaibiyah yang disepakati oleh Nabi shallahu alaihi wassalam berakibat langsung pada keberhasilan muslim dalam pembukaan Mekah yang gemilang (sebagaimana diurai dalam sirah/sejarah).

Seperti juga penghianatan salibis Romawi terhadap perjanjian dengan Muslim berakibat Muslim menguasai Romawi.


Abdullah ibn Hawalah berkata: “Rasulullah mengatakan
Kamu akan menaklukkan Sham, Romawi, dan Parsi,
sampai seseorang diantaramu punya sejumlah onta, sejumlah
sapi dan sejumlah kambing, sampai seseorang yang diberi 100 dinar,
dan ia akan membelanjakannya,” kemudian beliau meletakkan tangannya di kepalaku
dan berkata “Wahai Ibn Hawalah, jika kau melihat Khilafah telah sampai ke bumi yang diberkahi [Sham], kemudian terjadi gempabumi, kesengsaraan dan hal hal besar telah datang
Hari kiamat akan lebih dekat pada hari itu kepada manusia daripada jarak
antara tanganku ke kepalamu.”
[Sahih: Imam Ahmad ,Abu Dawud, dan Al Hakim]

Andre Tauladan

Pergeseran Paradigma (Bagian 2)

pergeseran paradigma dabiq 12

“15 bulan pasca deklarasi Khilafah, kampanye militer yang dipimpin AS untuk melawannya telah meluas melebihi sebelumnya, akan tetapi kini di Barat banyak yang mengakui bahwa Daulah Islamiyyah adalah negara yang layak untuk dihuni. “

Pada tanggal 31 Maret, saya menulis sebuah artikel di majalah Dabiq edisi 8 dengan judul “Pergeseran Paradigma”, menganalisa bagaimana media Barat menggambarkan Daulah Islamiyyah serta perkembangan politiknya dari hanya sebuah “organisasi” menjadi sebuah entitas nyata. Dan saya menyebutnya sebagai sebuah negara. Saya tidak mengetahui apa-apa terkait pembangunan sebuah bangsa. Dan kebodohan membuat saya bahkan tidak pernah berhasil duduk sampai ke bangku universitas. Tapi setelah penolakan beberapa hal dari yang saya tulis di masa lalu sebagai “propaganda ISIS”, banyak wartawan dan dosen di Barat kini justru menyetujui kesimpulan saya. Mereka berkata, Daulah Islamiyyah adalah sebuah negara yang orisinil dengan segala perangkatnya.

Realitas akan Khilafah ini telah dikonfirmasi oleh banyak hal, diantaranya orang-orang dapat hidup di bawah satu pemerintahan. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, umat Islam hidup dalam keadaan aman serta mereka dapat menjalankan kehidupannya dengan lancar.

Sistem Zakat telah didirikan dan terus berjalan, dengan mengambil beberapa persen dari harta orang-orang kaya dan membagikannya kepada fakir miskin. Koin Dinar emas yang diperkenalkan setahun yang lalu sekarang sedang dicetak, sebagai persiapan sebelum diedarkan. Pengadilan Syariah telah didirikan di setiap kota untuk mengadili dengan hukum Islam. Korupsi yang merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan di Iraq dan Suriah, kini telah dibabat habis hingga hampir mencapai titik nol, sementara tingkat kejahatan menurun drastis. Sementara itu, seluruh negara-negara Teluk sedang berada dalam kekacauan. Mereka terpecah oleh perselisihan keagamaan dan permusuhan antar suku.

“Timur Tengah telah dirusak oleh amarah dan tak lagi berfungsi dengan baik karena perbuatan mereka sendiri, sehingga itu memberikan arti baru untuk kata ‘putus asa,’ sebagaimana yang ditulis oleh Aaron David Miller, Dosen Kebijakan Luar Negeri pada tanggal 11 September.

“Timur Tengah terkoyak dan terpecah belah oleh masalah sektarian, politik, kebencian agama dan konfrontasi yang tampaknya telah melampaui kapasitasnya yang tidak mungkin diperbaiki oleh pihak luar.”

Justru alasan seperti inilah yang menjadikan Daulah Islamiyyah muncul dan berkembang dengan begitu cepat dan dalam waktu yang relatif singkat. Disana Hanya ada satu sekte Sunni Islam, dan Khalifah hanya dari suku Quraisy. Di sini, di Kekhalifahan, tidak ada ruang bagi pluralisme. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Telegraph pada tanggal 8 Juni, Ruth Sherlock menulis: “Jihadis telah ber-evolusi menjadi sebuah birokrasi yang sangat teliti: memaksakan pajak [dia mengacu kepada zakat], membayar gaji tetap dan menetapkan hukum standar dalam perdagangan [dia mengacu pada pelarangan transaksi haram] dalam upaya untuk membangun ekonomi yang sehat. Banyak pengusaha Suriah yang melihat ISIS sebagai satu-satunya pilihan jika dibandingkan dengan anarkisme yang berlaku di wilayah yang dikuasai oleh pemberontak lainnya, termasuk kelompok yang didukung Barat.”

Ruth, kata-katamu itu jauh dari sifat barbar yang umumnya digunakan untuk menggambarkan Daulah Islamiyyah agar dapat diabadikan dalam sebuah citra dengan entitas jahat, sebuah gambaran yang akan dijadikan sebagai dasar propaganda pemerintahan Barat. Apa lagi, Ruth?

“Dokter dan insinyur, terutama mereka yang mengelola Kilang Minyak yang dikendalikan ISIS, mereka dibayar dengan mahal -setidaknya dibayar ganda, dan seringkali beberapa kali lipat daripada gaji yang ditawarkan di negara lain,” lanjutnya.

“Pelaku bisnis memilih untuk memindahkan industri mereka ke daerah-daerah ISIS”.

Bukan saya (John Cantlie) yang berbicara, tapi penulis di salah satu koran “terbaik” di Inggris. Dan sentimen ini -pernyataan bahwa Daulah Islamiyyah itu nyata, dan merupakan Negara yang sedang tumbuh- tengah meningkat di Barat. Setelah satu tahun serangan udara mereka, semua bukti menunjukkan tidak adanya “kemunduran” dari para mujahidin, dan setiap penurunan kekuatan perang, baik logistik maupun personel mereka disuplai dengan cepat dari hasil rampasan perang dan rekrutan baru. CIA memperkiraan pasukan tetap di Daulah Islamiyyah telah mencapai 32.000 personel tentara, tetapi beberapa tokoh mengisyaratkan dapat mencapai hingga 70 ribu atau bahkan 100.000 tentara yang siap dipanggil jika diperlukan. Seorang pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa intelijen AS telah “melihat tidak adanya degradasi/ penurunan yang berarti dalam jumlah mereka”.

Satu tahun mereka telah berperang dan tidak ada yang berubah. Dan ini merupakan masalah serius bagi koalisi. Menurut Barry Posen (Dosen Profesor Ilmu Politik di Universitas MIT, Amerika Serikat), militer Iraq sudah tidak ada wujudnya, dalam artian sebagai kekuatan tempur dalam segala maknanya. Mereka banyak digantikan oleh Unit Mobilisasi Rakyat (Hasyad Sya’biy), sebuah milisi Syiah dengan anggota hingga 100.000 pria bersenjata yang disuplai oleh Iran. Merekalah yang memimpin serangan di Tikrit pada bulan April dan yang bertanggung jawab atas banyaknya tindak kekejaman di beberapa daerah Sunni. Tapi setelah pengambil alihan Tikrit, tidak ada lagi penaklukan besar oleh Koalisi, dan pertempuran di Iraq tidak berjalan dengan baik, sejauh ini Letnan Jenderal Robert Neller dari USMC, ketika ditanya oleh senator John McCain tentang bagaimana pertimbangannya terkait kampanye militer yang akan datang? Ia menjawab, “Saya pikir kita melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang… Saya percaya bahwa kini mereka berada di jalan buntu.” Dan itu jauh dari “kemunduran” para mujahidin, Daulah Islamiyyah tetap menguasai wilayah dan bahkan terus meluas, dan ini dapat dibuktikan dengan pengambil alihan wilayah-wilayah baru di Iraq dan Suriah. Merupakan tuntutan dari pemerintah Amerika dan sekutunya untuk meremehkan Daulah Islamiyyah dalam pandangan publik dengan menjadikannya hanya sebagai sebuah “kelompok” teroris. Benar, bahwa negara itu berjalan dan menggunakan teror sebagai alat. Tetapi jika itu hanya disebut sebagai sebuah “organisasi” dan prajurit yang berjuang untuknya hanya teroris, maka ini hanya memberikan pengait kepada publik untuk menggantungkan topi mereka.

Ketika orang memahami kata-kata “teroris” atau “jihadis”, maka sebagian besar akan mendukung setiap tindakan militer terhadap mereka. Tetapi hal itu akan kehilangan urgensinya ketika Anda melawan tentara dari sebuah negara. Dan itu tidak akan dapat menyulap gambaran dari pidato politisi yang mengatakan mereka sangat berbahaya. Berperang melawan sekelompok teroris adalah suatu hal kecil, tapi memerangi sebuah negara, bahkan jika negara itu berdiri dan bangga lewat taktik teroris, ini merupakan lain hal.

Tapi mengakui bahwa Daulah Islamiyyah memang sebuah negara dalam setiap komentar akan menjadi sebuah pengakuan kemenangan bagi mereka, sehingga tidak ada pemimpin politik saat ini yang siap menyebutnya sebagai negara. Jadi mereka dengan sengaja terus memanggil Daulah Islamiyyah dengan “apa yang diklaim” sebagai negara, ISIL, IS, ISIS, Daesh dan julukan lain yang merupakan sebuah langkah untuk menunjukkan, “Ah.. Itu hanya omong kosong! Kami bahkan tidak tahu nama mereka. Kami juga telah memiliki senapan di tangan.” Itulah yang mereka katakan di depan umum. Tapi apa yang mereka katakan di belakang pintu tertutup bersama Sekretaris Pertahanan serta kepala Intelijen mereka, saya yakin hal itu akan sangat berbeda. Menurut laporan Barat, ada sekitar 7 juta orang yang tinggal di Khilafah, di daerah yang lebih besar dari Inggris dan dengan populasi yang lebih banyak dari Denmark, dan banyak dari mereka yang mengatakan bahwa kehidupan sekarang lebih baik daripada di bawah pemerintahan rezim Assad di Suriah dan Syiah di Iraq, dan juga jauh lebih baik daripada daerah kekuasaan FSA yang korup dan penuh kekacauan. Ini bukanlah apa yang diduga dapat dilakukan oleh sekelompok teroris “barbar berambut liar”.

Dalam berita di New York Times tanggal 21 Juli, Tim Arango menulis, “[Daulah Islamiyyah] telah mengalahkan pemerintah korup Suriah dan Pemerintah Iraq sebagaimana yang dikatakan oleh warga dan para pakar ahli. ‘Kamu dapat melakukan perjalanan dari Raqqah ke Mosul, dan tidak akan ada yang berani menghentikanmu sekalipun kamu membawa uang sebesar 1 juta Dollar Amerika,” ungkap Bilal yang tinggal di Raqqa (yang secara de facto adalah ibukota Daulah Islamiyyah di Suriah). ‘Dan Tidak satu orangpun yang berani mencuri walau hanya satu dolar’.”

Arango melanjutkan, dengan mengatakannya sebagai Daulah Islamiyyah maka kita telah meletakkannya di tempat yang lebih dari sekedar ukuran pemerintahan, termasuk kartu identitas untuk penduduk, menyebarkan pedoman dalam memancing untuk melestarikan alam, mensyaratkan mobil untuk dilengkapi dengan peralatan dalam keadaan darurat, dan tentu saja mengikuti dan melaksanakan syari’ah.

“[Seorang pemilik toko di Raqqa] mengatakan, ‘Di sini mereka menerapkan aturan Allah. Seorang pembunuh akan dibunuh. Pezina dirajam, dan pencuri dipotong tangannya’.”

Stephen M. Walt, seorang Dosen Profesor Hubungan International di Harvard, sebagaimana yang dikutip dalam artikel yang sama mengatakan, “Saya pikir tidak perlu ada lagi yang dipertanyakan tentang cara kita untuk memandangnya sebagai organisasi negara revolusioner.” Sebuah organisasi negara revolusioner? Kedengarannya tidak hanya sekedar “sekelompok” teroris sama sekali. Sangat penting untuk diingat, bahwa Walt telah menjelaskannya ditempat lain, negara-negara yang baru dibentuk sepanjang sejarah, membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka diakui oleh negara-negara lain. Dia menyebutkan sebagai contoh, bahwa Eropa menolak untuk mengakui Uni Soviet secara resmi selama bertahun-tahun setelah revolusi Bolshevik pada tahun 1917, dan AS juga tidak melakukannya sampai tahun 1933. Demikian juga Amerika yang tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China sampai tahun 1979, dan itu terjadi sekitar 30 tahun setelah China didirikan. “Jika Daulah Islamiyyah berhasil mempertahankan kekuasaannya, mengkonsolidasikan posisinya, dan menciptakan sebuah negara de facto di wilayah yang sebelumnya bagian dari Iraq dan Suriah.” Stephen Walt menyimpulkan, “Maka negara-negara lain perlu bekerja bersama untuk mengajarkannya tentang fakta-fakta kehidupan dalam sistem Internasional”. Tapi, tidaklah cukup sampai disitu. Karena Daulah Islamiyyah memegang prinsip bahwa “sistem internasional” adalah thoghut, sesuatu yang jahat dan memaksakan hukum positif atas manusia.

Mereka tidak pernah “belajar” untuk “bekerja sama” dengan hal itu. Tapi gencatan senjata dengan negara-negara Barat selalu menjadi pilihan di dalam Hukum Syari’ah.

Dan ada satu hal lagi, masa Assad sudah hampir selesai, dengan keruntuhan pemerintahannya yang kejam, sekarang ia hanya mengendalikan seperempat dari wilayah Suriah. Iraq terpecah belah karena kabilah-kabilah suku yang bergerak tak teratur dan tidak akan pernah pulih kembali sejak invasi Amerika. Daulah Islamiyyah kini mengangkangi kedua negara itu sebagai sebuah kerajaan Muslim, sebuah negara dimana tidak ada bentrokan konflik antar suku maupun agama. Hanya ada satu sekte dan satu keyakinan. Tempat ini dijalankan, diatur, dan dilindungi oleh Mujahidin Sunni, dan sekarang benar-benar menjadi fragmentasi unik, tidak seperti di Timur Tengah yang penuh dengan pertikaian dan kekacauan. Ini adalah singularitas, dan menjadi model yang lebih baik untuk stabilitas wilayah di masa depan daripada negara-negara Teluk yang didukung atau dibentuk oleh intervensi Barat yang kemudian menyatakan perang atasnya.

Sekali lagi, bukan hanya saya yang mengatakan ini. Yang akan menyebutnya sebagai “Propaganda ISIS”, dan kita tidak akan bisa memilikinya sekarang, atau bisakah kita? Brigadir Jenderal Ronald Magnum membuat beberapa komentar menarik dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Institut Kajian Strategis Georgia Kaukasus pada 29 Mei. “Daulah Islamiyyah telah memenuhi semua persyaratan untuk diakui sebagai sebuah negara,” katanya. “Ia memiliki struktur pemerintahan, wilayah yang terkontrol, populasi yang besar, ekonomi yang dinamis, kekuatan militer yang besar dan efektif serta memberikan pelayanan kepemerintahan pada masyarakat umum seperti perawatan kesehatan untuk penduduknya. Berurusan dengannya dan menganggapnya seolah-olah hanya sebuah gerakan teroris adalah seperti berlomba di pacuan dengan kuda yang lumpuh. Daulah Islamiyyah adalah sebuah negara dan jika Barat ingin mengalahkannya maka mereka harus menerima salah satu diantara dua hal: 1) Daulah Islamiyyah adalah ancaman yang cukup bagi perdamaian dunia atau regional, dan Barat dapat memeranginya, atau 2) Biaya perang terlalu besar dan Barat harus berencana untuk menahan diri dan membatasi Daulah Islamiyyah kemudian bernegosiasi dengannya sebagai sebuah negara yang berdaulat.” Kegagalan upaya Koalisi untuk “membendung” Khilafah adalah berita lama. Tapi untuk bernegosiasi? Itu adalah bom waktu. Baru-baru ini Obama mengatakan bahwa “tidak akan ada negosiasi” dengan Daulah Islamiyyah, dan ini sebuah fakta yang tidak akan hilang atas teman satu sel saya dulu. Tapi kemudian ia mengubah kebijakannya setelah kejadian itu, jadi mungkin dia atau presiden berikutnya harus mengubah kebijakan mereka tentang hal ini.

Dalam sebuah kutipan yang diterbitkan di “Foreign Policy” pada tanggal 10 Juni di bawah judul “Apa yang Harus Kita Lakukan jika Daulah Islamiyyah Menang?” Profesor Stephen Walt menyarankan bahwa kemenangan bagi Mujahidin tidaklah diukur dengan keberhasilan mereka dalam menancapkan bendera hitam di atas gedung-gedung baru, tetapi diukur jika mereka mampu mempertahankan wilayah yang mereka kontrol serta tidak adanya “kemunduran ataupun kehancuran”. Dan sejauh ini, mereka telah mencapai hal ini. Hingga akhirnya mereka berubah dari “sampah” menjadi mitra, khususnya ketika kepentingannya mulai beriringan dengan negara lain,” tulisnya. “Mungkin kehadiran mereka akan merepotkan di politik dunia, tetapi tidak lagi dikucilkan. Jika daulah Islamiyyah masih bertahan, maka itulah yang saya harapkan.”

Dan sekali lagi, Walt telah membuat asumsi kotor, Mujahidin tidak akan pernah menerima kemitraan dengan Barat. Tetapi jika negara-negara Barat menginginkan gencatan senjata, mereka benar-benar harus berpikir tiga kali sebelum membuang kesempatan itu.

Barat harus terus menjatuhkan bom dan membujuk berbagai kelompok Syiah untuk masuk ke dalam zona kematian setidaknya selama satu atau dua tahun sebelum mempertimbangkan dengan benar agar gencatan senjata dapat tercapai. Tapi itu adalah sebuah prospek yang menarik ketika Barat bernegosiasi dengan Daulah Islamiyyah. Apakah hal itu benar-benar mungkin terjadi?

Jonathan Powell adalah kepala negosiator di Irlandia Utara pada pemerintahan Tony Blair, dan pada tanggal 12 Agustus, ia berbicara kepada BBC tentang permasalahan ini. “Jika Anda ingin menghancurkan Daulah Islamiyyah, Anda tidak akan dapat melakukannya dari udara. Namun nampaknya tidak ada satupun negara Barat yang siap untuk menginjakkan kakinya disana. Jadi tidak ada strategi militer untuk menghancurkan ISIS. Yang diperlukan adalah sebuah strategi politik. Dalam pandangan saya, kita perlu untuk melibatkan mereka dalam negosiasi,” katanya.

“Kami telah berbicara dengan IRA, dan itu bukan karena mereka memiliki senjata, tapi karena mereka memiliki sepertiga suara dari Katholik. Jika Anda berhadapan dengan kelompok yang tidak memiliki keinginan berpolitik, seperti gangster, Anda tidak akan bisa bernegosiasi karena tidak ada pertanyaan politik disetiap masalah. Tapi bagi saya mungkin ada pertanyaan politik di jantung Suriah dan Iraq. Saya telah melihat konflik lebih dari 30 tahun terakhir, saya berpendapat bahwa jika ISIS memiliki keinginan berpolitik, maka kita dapat berbicara kepada mereka. Dan mungkin mereka akan memudar seperti salju di musim semi, tetapi keadaan semacam ini sedikit sekali terjadi dalam sejarah. Inilah hipotesis saya bahwa masih ada harapan dari sisi politik. Dan ide dari Islam ekstrimis tampaknya menjadikan kita cukup kesulitan dalam menanggulanginya, tapi kita masih memiliki opsi politik pada tahap tertentu, tidak hanya dengan kekuatan senjata.”

Powell menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Barat harus membuka jalan “negosiasi” di masa depan dengan”membangun dasar komunikasi”. Lebih dari satu tahun sejak awal operasi udara terhadap Daulah Islamiyyah dan belum ada hasilnya, jenderal bintang 4 Martin Dempsey yang bertanggung jawab atas kampanye militer yang dipimpin AS ini pastilah bertanya-tanya, berikutnya apa? Setiap orang di Barat selalu menuntut hasil dan tidak sabaran. Seperti halnya di Vietnam, perang melawan Daulah Islamiyyah nampak terlihat hanya seperti perang dengan gesekan untuk mencoba mengurangi jumlah musuh tanpa di ikuti dengan tujuan yang jelas.

Bom-bom itu sudah pasti membunuh banyak Mujahidin, tapi lebih banyak Mujahidin yang datang (daripada yang syahid) untuk mengambil tempat mereka setiap hari, masing-masing dari mereka ingin menjadi seperti mereka yang terakhir sebelumnya mati syahid di jalan Allah. Bombardir juga sudah pasti menghancurkan banyak tank dan kendaraan tempur Daulah Islamiyyah yang diambil dari rampasan perang dari tentara Iraq (hanya ada satu persneling di tank tentara Iraq) tapi Mujahidin telah memperoleh lebih banyak tank dan senjata dari pasukan yang melarikan diri. Para prajurit dari kekhalifahan ini telah terbukti menjadi kekuatan mengejutkan yang dapat bertahan dari pecahan dan ledakan bom atau rudal Hellfire.

Dan sementara itu, Daulah Khilafah terus tumbuh dan matang dengan andil mujahidin yang berjuang dan mati ketika mendukungnya. Mujahidin menikmati pertempuran, tetapi mereka telah terbukti sangat baik dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar dan pemerintah. Mereka mendirikan negara dan mengatur suatu tatanan baru di Timur Tengah, maka apa yang mungkin terjadi beberapa tahun ke depan itu terserah kepada Daulah Islamiyyah dan bukan tekanan dari luar. Opsi pertama adalah mereka akan terus memperluas perbatasan Khilafah di seluruh wilayah sampai mereka dihentikan oleh keterbatasan ekonomi atau militernya, dan setelah itu mereka akan mengonsolidasikan posisi mereka. Tapi harapan sangat buruk bagi Barat karena tidak terlihat ada keterbatasan pada kekhalifahan. Opsi kedua adalah mereka menghalau Barat dan meluncurkan serangan darat secara totalitas, sehingga memasuki perang terakhir antara Muslimin dan pasukan Salib sebagaimana yang telah dinubuwahkan akan terjadi di Dabiq Suriah, karena ketika Amerika dan sekutunya melakukan operasi di luar negeri maka mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengirim pasukan. Saya hanya menebak bahwa “elang” Amerika mungkin dengan senang hati datang ke Dabiq tanpa Daulah Islamiyyah perlu meledakkan bom di Manhattan.

Dalam sebuah kutipan yang diterbitkan oleh The Independent pada tanggal 21 Juni yang berjudul “Kami Tidak Bisa Menghancurkan ISIS, Jadi Kita Harus Belajar Untuk Hidup Bersamanya”, Richard Barrett, mantan kepala kontra-terorisme untuk MI6 menulis, “Iraq dan Suriah tidak akan pernah kembali sebagaimana semula, dan siapapun yang menang di dalamnya, maka entitas baru telah muncul yang akan tetap ada dalam beberapa bentuk. Untuk saat ini, entitas tersebut sangatlah agresif, tidak toleran dan tanpa kompromi, ISIS menawarkan kepada mereka untuk hidup di bawah kekuasaan pemerintahan yang lebih baik dalam beberapa hal daripada yang mereka terima dari negara sebelumnya. Korupsi turun drastis, dan penetapan keadilan lebih cepat dan merata meskipun brutal.”

Tidak ada keraguan lagi, konsolidasi yang cepat dan kecerdasan pemerintah Daulah Islamiyyah atas wilayahnya telah mengejutkan para pemimpin dunia ketika mereka dengan secepat kilat menaklukkan Mosul. Jika Anda mengatakan hal ini kepada seorang politisi di New York pada Juni 2014 bahwa Daulah Islamiyyah akan mencapainya pada bulan Oktober 2015, dia pasti akan tertawa tepat di depan wajah Anda. Sama halnya akan adil juga mengatakan bahwa politisi yang sama tidak akan tertawa pada hari ini.

Andre Tauladan

Minggu, 24 Januari 2016

[Ninawa] Tembaklah, Aku Tebusannya

[Raqqah] – Mereka Adalah Musuh Maka Waspadailah Mereka 3

[Al Khayr] Pertolongan dari Allah dan Kemenangan yang Dekat – 3

Why Morsi is Kaafir?

Interview with President Morsi denying cutting hands of thief is from Shariah | English subtitles


President Morsi says enforcing Hijab is ridiculous, and not from Shariah and is even against Shariah


Why is president Morsi a kafir?


Morsi the President of Egypt says he will uphold peace with Israel | English subtitles


http://aldyblue.blogspot.com/2014/02/syariat-hukum-potong-tangan.html
http://almanhaj.or.id/content/3132/slash/0/syariat-hukum-potong-tangan/
http://remajamasa2013.blogspot.com/2013/06/perbedaan-syariah-dan-fiqih_1271.html
http://syariahdanfiqih.blogspot.com/2011/09/pengertian-persamaan-dan-perbedaan.html

Andre Tauladan

Selasa, 19 Januari 2016

Hukum Berdiam di Masjid Bagi Wanita Haidh


Hukum Berdiam di Masjid Bagi Wanita Haidh

Oleh: Abu Mujahidah Al-Ghifari, M.E.I

Wanita dalam Islam sangat dimuliakan. Surat an-Nisa yang berarti wanita dalam al-Qur’an salah satu bukti bahwa Islam memberikan perhatian khusus untuk wanita. Secara umum hukum-hukum di dalam Islam untuk orang-orang beriman, baik laki-laki maupun wanita. Jika terdapat hukum khusus untuk laki-laki atau wanita maka Islam telah memberikan penjelasannya. Salah satu kekhususan wanita dan memiliki hukum khusus adalah haidh.

Diantara hukum terkait dengan haidh adalah hukum berdiam di dalam masjid ketika sedang haidh. Mayoritas ulama mengqiyaskan apa-apa yang dilarang bagi seorang yang junub maka dilarang pula bagi yang sedang haidh.

Alloh Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nisa ayat 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian sholat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. al-Nisa: 43)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang junub diharamkan berdiam di dalam masjid hingga dia mandi dari junubnya kecuali jika sekedar melewatinya. An-Nawawi rohimahulloh berkata dalam kitab minhaj at-Tholibin, “Diharamkan bagi haidh apa-apa yang diharamkan bagi junub.” Ibn Qudamah rohimahulloh berkata dalam kitab al-Mughni, “Dilarang berdiam di dalam masjid dan thawaf di ka’bah karena haidh satu makna dengan junub.” Jadi, ulama yang berpendapat melarang wanita haidh berdiam di dalam masjid karena meng-qiyaskan haidh dengan junub.

Dalil lain yang digunakan oleh ulama yang melarang wanita haidh berdiam di dalam masjid adalah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab sunannya:

Dari Aisyah rodhiallahu anha, beliau berkata bahwa Rosulalloh shollallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya saya tidak halalkan masjid bagi wanita haidh dan orang junub.” (HR. Abu Dawud No.232)

Hadits di atas didho’ifkan oleh al-Bani rohimahulloh dalam kitab Dho’if Sunan Abu Dawud dan dalam Irwa al-Gholil No.193. Sebab dho’ifnya hadits ini adalah karena di dalam sanadnya terdapat Jasrah ibn Dijajah yang didho’ifkan oleh al-Bukhori dan al-Bahaqi memberikan isyarat akan kedho’ifannya. Al-Baihaqi rohimahulloh berkata, “Dan hadits ini jika shahih maka diterapkan pada junub yang berdiam di dalam masjid bukan lewat dengan landasan dalil al-Qur’an.” (Irwa al-Gholil al-Bani, hlm.210)

Al-Kasani rohimahulloh seorang ulama mazhab Hanafi menjelaskan hukum yang dilarang bagi wanita haidh dan nifas, beliau berkata, “Adapun hukum haidh dan nifas yaitu tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf kecuali dengan sampul, masuk masjid dan thawaf di ka’bah.” (Bada’i al-Shana’i 1/163)

Ibn Rusd rohimahulloh seorang ulama mazhab Maliki dalam kitab Bidayah al-Mujtahid yang membahas fikih lintas mazhab, beliau menjelaskan bahwa perselisihan pendapat ulama terkait hukum berdiam di masjid bagi wanita haidh sama dengan orang yang junub: Ada yang mengharamkan secara mutlak yaitu mazhab Malik. Ada juga yang melarang kecuali hanya lewat saja yaitu mazhab al-Syafi’i. Dan ada juga yang membolehkan semuanya baik diam maupun lewat yaitu mazhab Dawud. (Lihat, Bidayah al-Mujtahid, hlm.57-58)

Dalam kitab fikih Asy-Syafi’i disebutkan bahwa apa-apa yang diharamkan bagi orang junub diharamkan pula bagi wanita haidh. Maka, hukum berdiam di dalam masjid tidak dibolehkan bagi wanita haidh. Hanya saja ulama mazhab Syafi’i berbeda pendapat bagi wanita haidh yang aman dari mengotori masjid seperti menggunakan pembalut dibolehkan atau tidak melewati masjid. Yang tepat adalah dibolehkannya melewati masjid jika aman sebagaimana junub boleh jika sekedar lewat. Dan jika tidak aman yaitu akan mengotori masjid maka diharamkan. (Lihat al-Siraj al-Wahaj Hlm.34 dan Kifayah al-Akhyar 1/114)

Muhammad ibn al-Khotib al-Syarbini rohimahulloh menjelaskan alasan diharamkannya wanita haidh melewati masjid jika dikhawatirkan mengotori masjid, beliau berkata:

Sebagai bentuk penjagaan masjid dari najis. Dan jika aman maka boleh baginya melewati masjid sebagaimana orang junub, akan tetapi hukumnya makruh sebagaimana dalam kitab al-Majmu. (Mughni al-Muhtaj 1/153-154)

Beliau juga menjelaskan hukum tersebut sama pada setiap yang dikhawatirkan najisnya seperti bagi orang yang sedang tertimpa penyakit beser, istihadhoh dan orang yang sandalnya terkena najis basah.

Al-Ghozali rohimahulloh berpendapat bahwa berdiam di dalam masjid hukumnya haram, sedangkan jika sekedar melewati maka dibolehkan jika aman dari mengotori masjid. (al-Wajiz fi Fiqhi Mazhab al-Imam al-Syafii, Hlm.23)

Muhammad Az-Zuhri al-Ghomrowi rohimahulloh berkata, “Diharamkan melewati masjid jika dikhawatirkan mengotorinya. Yaitu darah haidh yang mengenainya. Jika tidak dikhawatirkan maka dibolehkan baginya melewati masjid sebagaimana junub.” (Umdah al-Salik Hlm.45)

Dari penuturan ulama mazhab Asy-Syafi’i, dapat disimpulkan bahwa berdiam di dalam masjid di haramkan. Sedangkan jika sekedar melewatinya dibolehkan jika aman dari kemungkinan terjatuhnya darah haidh, dan jika tidak aman maka diharamkan.

Dalam kitab fikih Hambali al-Uddah syarh al-Umdah disebutkan bahwa ada sepuluh yang tidak diperbolehkan bagi wanita haidh, salah satunya adalah berdiam di dalam masjid. Ibn Qudamah rohimahulloh menerangkan dalam kitab al-Mughni bahwa orang junub, haidh dan orang yang selalu berhadats tidak diperkenankan berdiam di dalam masjid. Akan tetapi diperbolehkan melewati masjid untuk suatu keperluan seperti hendak mengambil sesuatu atau memang jalan yang harus dilewati adalah masjid.

Muhammad ibn Sholih al-Utsaimin rohimahulloh berkata:

Seorang wanita yang haidh tidak boleh berdiam di dalam masjid. Adapun sekedar melewati masjid maka tidak mengapa dengan syarat aman dari mengotori masjid disebabkan darah yang keluar.” (Majmu Fatawa wa Rosa’il 1/273)

Dari pemaparan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa jumhur ulama ahli fikih mengharamkan berdiam di dalam masjid bagi wanita haidh sebagaimana diharamkan bagi seorang yang junub kecuali jika hanya sekedar lewat. Diantara ulama salaf yang membolehkan melewati masjid untuk suatu kebutuhan adalah ibn Mas’ud, ibn Abbas, ibn al-Musayyab, ibn Jubair, al-Hasan, Malik dan al-Syafii rahimahumullah.

Sebagian ulama yang lain seperti Abu Muhammad ibn Hazm rohimahulloh dan Dawud rohimahulloh membolehkan bagi wanita haidh berdiam di dalam masjid. Musthofa al-Adawi seorang ulama kotemporer memperkuat pendapat ini dengan alasan tidak adanya dalil shahih yang melarang wanita haidh masuk masjid dan tidak diterimanya qiyas haidh dengan junub karena orang yang junub bisa bersuci kapan saja yang dia kehendaki, sedangkan wanita haidh tidak bisa. (Jami Ahkam al-Nisa, hlm.45-51)

Dengan demikian, maka masalah ini memang masalah yang diperselisihkan oleh ulama, dan jumhur ulama mengharamkan wanita haidh berdiam di dalam masjid. Adapun, yang lebih selamat adalah tidak duduk-duduk di dalam masjid bagi wanita haidh sebagai bentuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan pendapat. Jika memang ada kebutuhan seperti menghadiri kajian maka sepertinya cukup di luar masjid seperti di teras karena sekarang sudah terdapat sound system yang bisa mengantarkan suara terdengar dari luar masjid.

Allohu Ta’ala A’lam

Andre Tauladan | Fajrifm

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates