Tampilkan posting dengan label Indonesia. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Indonesia. Tampilkan semua posting

Minggu, 26 Maret 2017

Yang halal bikin heboh, yang haram biasa saja

Hm... lama nggak posting ya???

rokim - tampi - madiun

Beberapa hari yang lalu sempat viral (ramai) berita tentang seorang pemuda 24 tahun yang menikahi seorang janda 67 tahun. Berbagai respon muncul dari masyarakat kita. Mulai dari respon positif, nyeleneh, sampai yang negatif. Beberapa orang menyatakan salut karena sang pemuda mau menerima wanita yang dinikahinya dalam kondisi apa adanya. Komentar lain terlontar dari para jomblo yang bertahun-tahun tidak punya pacar, menikah pun tidak. Sedangkan segelintir orang berpikiran negatif bahwa sang pemuda menikahi janda karena tergiur hartanya, padahal kenyataannya mereka berdua hidup dalam keadaan yang jauh dari status mewah. Terlepas dari apapun komentar mereka, saya melihat masyarakat kita lebih mudah merespon sesuatu yang halal tetapi tidak umum, daripada yang haram padahal sudah umum.

Cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Namun, ada hubungan cinta yang halal, ada juga yang haram. Bagaimanapun juga, hubungan antara dua orang yang usianya terpaut cukup jauh yang sempat viral tadi adalah sesuatu yang halal, karena mereka menikah sesuai dengan aturan yang ada dalam agama. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak perlu disikapi dengan heboh pula. Di sisi lain, terdapat fenomena keharaman yang seharusnya mendapat respon lebih serius. Kira-kira fenomena apakah itu?

Pacaran. Ya! Pacaran adalah hubungan cinta antara dua insan yang terjalin yang seharusnya ditinggalkan. Bukan masalah cintanya, tetapi ikatannya. Miris memang, fenomena ini justru dianggap biasa oleh masyarakat kita. Teman-teman ada yang masih jomblo? (adaaaaaa.....). Tidak perlu malu menjadi jomblo, in syaa Allah itu lebih baik daripada punya pacar.

Ada satu hal yang sangat aneh di kalangan masyarakat kita. Sebut saja keluarga A, punya anak gadis yang sudah masuk usia 21 tahun. Gadis ini sudah pacaran kurang lebih tiga tahun. Singkat cerita, pacar si gadis datang untuk melamar tetapi ditolak karena sang Ayah menganggap si pemuda tadi kurang mapan. Dari kisah singkat ini dapat disimpulkan bahwa sang Ayah lebih rela anaknya dipacari daripada dinikahi. Kisah seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Fenomena lainnya adalah pelacuran. Telinga kita pasti sudah sangat familiar dengan kata "Om-om". Setiap kali mendengar atau membaca kata "om-om" biasanya pikiran kita langsung beranggapan negatif. Kata "om-om" sering diartikan sebagai bapak-bapak hidung belang yang kalau "jalan-jalan" selalu bawa perempuan, dan perempuan yang diajak "jalan-jalan" oleh "om-om" itu biasanya yang masih muda, entah itu usia SMA atau kuliahan. Sekali lagi, masyarakat kita tidak heboh dengan fenomena ini.

Uraian yang saya sampaikan diatas perlu menjadi perhatian kita, khususnya umat muslim. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang itu. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim masih belum bisa mencegah budaya pacaran, bahkan hingga anak SD pun sekarang sudah banyak yang pacaran. Bagi para orang tua, sangat penting menanamkan nilai-nilai islam kepada anaknya, dan jika anaknya sudah sampai usia ideal untuk menikah sebaiknya dipermudah karena itu bagian dari ibadah, bukan justru dipersulit dengan setumpuk syarat yang akhirnya membebani orang yang melamarnya.
Andre Tauladan
Andre Tauladan

Kamis, 13 Agustus 2015

Syubhat-Syubhat Sekitar Masalah Demokrasi Dan Pemungutan Suara

Pemungutan suara atau voting sering digunakan oleh lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi baik skala besar seperti sebuah negara maupun kecil seperti sebuah perkumpulan, di dalam mengambil sebuah sikap atau di dalam memilih pimpinan dan lain-lain. Sepertinya hal ini sudah lumrah dilangsungkan. Hingga dalam menentukan pimpinan umat harus dilakukan melalui pemungutan suara, dan tentu saja masyarakat umumpun dilibatkan di dalamnya. Padahal banyak di antara mereka yang tidak tahu menahu apa dan bagaimana kriteria seorang pemimpin menurut Islam.
voting box
image by ciker.com

Dengan cara dan praktek seperti ini bisa jadi seorang yang tidak layak menjadi pemimpin keluar sebagai pemenangnya. Adapun yang layak dan berhak tersingkir atau tidak dipandang sama sekali ! Tentu saja metoda pemungutan suara seperti ini tidak sesuai menurut konsep Islam, 'yang menekankan konsep syura (musyawarah) antara para ulama dan orang-orang shalih. Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.[An-Nisaa/4 : 58]

Kepemimpinan adalah sebuah amanat yang amat agung, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan manusia yang amat sensitif. Oleh sebab itu amanat ini harus diserahkan kepada yang berhak menurut kaca mata syariat. Proses pemungutan suara bukanlah cara/wasilah yang syar'i untuk penyerahan amanat tersebut. Sebab tidak menjamin penyerahan amanat kepada yang berhak. Bahkan di atas kertas dan di lapangan terbukti bahwa orang-orang yang tidak berhaklah yang memegang (diserahi) amanat itu. Di samping bahwa metoda pemungutan suara ini adalah metoda bid'ah yang tidak dikenal oleh Islam. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satupun dari Khulafaur Rasyidin yaitu: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiyallahu 'anhum maupun yang sesudah mereka, yang dipilih atau diangkat menjadi khalifah, melalui cara pemungutan suara yang melibatkan seluruh umat.

Lantas dari mana sistem pemungutan suara ini berasal ?! Jawabnya: tidak lain dan tidak bukan ia adalah produk demokrasi ciptaan Barat (baca kafir).

Ada anggapan bahwa pemungutan suara adalah bagian dari musyawarah. Tentu saja amat jauh perbedaannya antara musyawarah mufakat menurut Islam dengan pemungutan suara ala demokrasi di antaranya:

• Dalam musyawarah mufakat, keputusan ditentukan oleh dalil-dalil syar'i yang menempati al-haq walaupun suaranya minoritas.

• Anggota musyawarah adalah ahli ilmu (ulama) dan orang-orang shalih, adapun di dalam pemungutan suara anggotanya bebas siapa saja.

• Musyawarah hanya perlu dilakukan jika tidak ada dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah. Adapun dalam pemungutan suara, walaupun sudah ada dalil yang jelas seterang matahari, tetap saja dilakukan karena yang berkuasa adalah suara terbanyak, bukan al-Qur'an dan as-Sunnah.

MAKNA PEMUNGUTAN SUARA
Pemungutan suara maksudnya adalah: pemilihan hakim atau pemimpin dengan cara mencatat nama yang terpilih atau sejenisnya atau dengan voting. Pemungutan suara ini, walaupun bermakna: pemberian hak pilih, tidak perlu digunakan di dalam syariat untuk pemilihan hakim/pemimpin. Sebab ia berbenturan dengan istilah syar'i yaitu syura (musyawarah). Apalagi dalam istilah pemungutan suara itu terdapat konotasi haq dan batil. Maka penggunaan istilah pemungutan suara ini jelas berseberangan jauh dengan istilah syura. Sehingga tidak perlu menggunakan istilah tersebut, sebab hal itu merupakan sikap latah kepada mereka.

MAFSADAT PEMUNGUTAN SUARA
Amat banyak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari cara pemungutan suara ini di antaranya:

• Termasuk perbuatan syirik kepada Allah.
• Menekankan suara terbanyak.
• Anggapan dan tuduhan bahwa dinul Islam kurang lengkap.
• Pengabaian wala' dan bara'.
• Tunduk kepada Undang-Undang sekuler.
• Mengecoh (memperdayai) orang banyak khususnya kaum Muslimin.
• Memberikan kepada demokrasi baju syariat.
• Termasuk membantu dan mendukung musuh musuh Islam yaitu Yahudi dan Nashrani.
• Menyelisihi Rasulullah dalam metoda menghadapi musuh.
• Termasuk wasilah yang diharamkan.
• Memecah belah kesatuan umat.
• Menghancurkan persaudaraan sesama Muslim.
• Menumbuhkan sikap fanatisme golongan atau partai yang terkutuk.
• Menumbuhkan pembelaan membabi buta (jahiliyah) terhadap partai-partai di golongan mereka.
• Rekomendasi yang diberikan hanya untuk kemaslahatan golongan.
• Janji janji tanpa realisasi dari para calon hanya untuk menyenangkan para pemilih.
• Pemalsuan-pemalsuan dan penipuan-penipuan serta kebohongan-kebohongan hanya untuk meraup simpati massa.
• Menyia-nyiakan waktu hanya untuk berkampanye bahkan terkadang meninggalkan kewajiban (shalat dan lain-lain).
• Membelanjakan harta tidak pada tempat yang disyariatkan.
• Money politic, si calon menyebarkan uang untuk mempengaruhi dan membujuk para pemilih.
• Terperdaya dengan kuantitas tanpa kualitas.
• Ambisi merebut kursi tanpa perduli rusaknya aqidah.
• Memilih seorang calon tanpa memandang kelurusan aqidahnya.
• Memilih calon tanpa perduli dengan syarat syarat syar'i seorang pemimpin.
• Pemakaian dalil-dalil syar'i tidak pada tempatnya, di antaranya adalah ayat-ayat syura yaitu Asy-Syura': 46.
• Tidak diperhatikannya syarat-syarat syar'i di dalam persaksian, sebab pemberian amanat adalah persaksian.
• Penyamarataan yang tidak syar'i, di mana disamaratakan antara wanita dan pria, antara seorang alim dengan si jahil, antara orang-orang shalih dan orang-orang fasiq, antara Muslim dan kafir.
• Fitnah wanita yang terdapat dalam proses pemungutan suara, di mana mereka boleh dijadikan sebagai salah satu calon! Padahal Rasulullah telah bersabda: "Tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum wanita". [Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Bakrah]
• Mengajak manusia untuk mendatangi tempat-tempat pemalsuan.
• Termasuk bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
• Melibatkan diri dalam perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
• Janji-janji palsu dan semu yang disebar.
• Memberi label pada perkara-perkara yang tidak ada labelnya seperti label partai dengan partai Islam, pemilu Islami, kampanye Islami dan lain-lain.
• Berkoalisi atau beraliansi dengan partai-partai menyimpang dan sesat hanya untuk merebut suara terbanyak.
• Sogok-menyogok dan praktek-praktek curang lainnya yang digunakan untuk memenangkan pemungutan suara.
• Pertumpahan darah yang kerap kali terjadi sebelum atau sesudah pemungutan suara karena memanasnya suasana pasca pemungutan suara atau karena tidak puas karena kalah atau merasa dicurangi.

Sebenarnya masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan akibat dari proses pemungutan suara ini. Kebanyakan dari kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi adalah suatu yang sering nampak atau terdengar melalui media massa atau lainnya !

Lalu apakah pantas seorang Muslim -apalagi seorang salafi- ikut-ikutan latah seperti orang-orang jahil tersebut ?!

Sungguh sangat tidak pantas bagi seorang Muslim salafi yang bertakwa kepada Rabb-Nya melakukan hal itu, padahal ia mendengar firman Rabb-Nya:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ ﴿٣٥﴾ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut bagi Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (kafir). Mengapa kamu berbuat demikian ? Bagaimanakah kamu membuat keputusan ? [Al-Qalam/68: 35-36]

Pada saat bangsa ini sedang menghadapi bencana, yang seharusnya mereka memperbaiki kekeliruannya adalah dengan kembali kepada dien yang murni sebagaimana firman Allah

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan buah tangan perbuatan manusia agar mereka merasakan sebagian perbuatan mereka dan agar mereka kembali. [Ar-Ruum: 41]

Yaitu, agar mereka kembali kepada dien ini sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: " Jika kalian telah berjual beli dengan sistem 'inah dan kalian telah mengikuti ekor-ekor sapi, telah puas dengan bercocok tanam dan telah kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan; tidak akan kembali (kehinaan) dan kalian hingga kalian kembali ke dien kalian".

Kembali kepada dien yang murni itulah solusinya, kembali kepada nilai-nilai tauhid yang murni, mempelajari dan melaksanakan-melaksanakan konsekuensi-konsekuensinya, menyemarakkan as-Sunnah dan mengikis bid'ah dan mentarbiyah ummat di atas nilai tauhid. Da'wah kepada jalan Allah itulah jalan keluarnya, dan bukan melalui kotak suara atau kampanye-kampanye semu! Tetapi realita apa yang terjadi??

Para Du'at (da'i) sudah berubah profesi, kini ia menyandang predikat baru, yaitu juru kampanye (jurkam), menyeru kepada partainya dan bukan lagi menyeru kepada jalan Allah. Menebar janji-janji; bukan lagi menebar nilai-nilai tauhid. Sibuk berkampanye baik secara terang-terangan maupun terselubung. Bukan lagi berdakwah, tetapi sibuk mengurusi urusan politik padahal bukan bidangnya dan ahlinya- serta tidak lagi menuntut ilmu.

Mereka berdalih: "Masalah tauhid memang penting akan tetapi kita tidak boleh melupakan waqi' (realita)."

Waqi' (realita) apa yang mereka maksud ? Apakah realita yang termuat di koran-koran, majalah-majalah, surat kabar-surat kabar ? -karena itulah referensi mereka- atau realita umat yang masih jauh dari aqidah yang benar, praktek syirik yang masih banyak dilakukan, atau amalan bid'ah yang masih bertebaran. Ironinya hal ini justru ada pada partai-partai yang mengatas namakan Islam ! Wallahul Musta'an

Mereka ngotot untuk tetap ikut pemungutan suara, agar dapat duduk di kursi parlemen. Dan untuk mengelabuhi umat merekapun melontarkan beberapa syubhat!

SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
• Mereka mengatakan: Bahwa sistem demokrasi sesuai dengan Islam secara keseluruhan. Lalu mereka namakan dengan syura (musyawarah) berdalil dengan firman Allah

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

" Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka".[Asy-Shura/42 : 38]

Lalu mereka bagi demokrasi menjadi dua bagian yang bertentangan dengan syariat dan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Bantahan:
Tidak samar lagi batilnya ucapan yang menyamakan antara syura menurut Islam dengan demokrasi ala Barat. Dan sudah kita cantumkan sebelumnya tiga perbedaan antara syura dan demokrasi !

Adapun yang membagi demokrasi ke dalam shahih (benar) dan tidak shahih adalah pembagian tanpa dasar, sebab istilahnya sendiri tidak dikenal dalam Islam.

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ﴿٢٢﴾إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk, (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" [An-Najm/53 : 22-23]

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara sudah ada pada awal-awal Islam, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman radhiyallahu 'anhum telah dipilih dan dibaiat. [Lihat kitab syari'atul intikhabat hal.15]

Bantahan:
Ucapan mereka itu tidak benar karena beberapa sebab:

1. Telah jelas bagi kita semua kerusakan yang ditimbulkan oleh pemungutan suara seperti kebohongan, penipuan, kedustaan, pemalsuan dan pelanggaran syariat lainnya. Maka amat tidak mungkin sebaik-baik kurun melakukan praktek-praktek seperti itu.

2. Para sahabat (sebagaimana yang dimaklumi dan diketahui di dalam sejarah) telah bermufakat dan bermusyawarah tentang khalifah umat ini sepeninggal Rasul.

Dan setelah dialog yang panjang di antaranya ucapan Abu Bakar as-Sidiq yang membawakan sebuah hadits yang berbunyi: "Para imam itu adalah dari bangsa Quraisy." Lalu mereka bersepakat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tidak diikutsertakan seorang wanitapun di dalam musyawarah tersebut.

Kemudian Abu Bakar mewasiatkan Umar sebagai khalifah setelah beliau, tanpa ada musyawarah.

Kemudian Umar menunjuk 6 orang sebagai anggota musyawarah untuk menetapkan salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah. Keenam orang itu termasuk 10 orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Adapun sangkaan sebagian orang bahwa Abdurrahman bin Auf menyertakan wanita dalam musyawarah adalah tidak benar.

Di dalam riwayat Bukhari tidak disebutkan di dalamnya penyebutan musyawarah Abdurrahman bin Auf bersama wanita dan tidak juga bersama para tentara. Bahkan yang tersebut di dalam riwayat Bukhari tersebut, Abdurrahman bin Auf mengumpulkan 5 orang yang telah ditunjuk Umar yaitu Ustman, Ali, Zubair, Thalhah, Saad dan beliau sendiri (lihat Fathul Bari juz 7 hal. 61,69), Tarikhul Islam karya Az-Zahabi (hal. 303), Ibnu Ashir dalam thariknya (3/36), Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhkul Umam (4/431). Adapun yang disebutkan oleh Imam Ibnu Isuji di dalam Kitabnya al-Munthadam riwayatnya dhaif.

Dan yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah (4/151) adalah riwayat tanpa sanad, tidak dapat dijadikan sandaran.

Kesimpulannya:
1.Berdasarkan riwayat yang shahih Abdurrahman bin Auf hanya bermusyawarah dengan 5 orang yang ditunjuk Umar.
2. Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf juga mengajak bertukar pendapat dengan sahabat lainnya.
3. Adapun penyertaan wanita di dalam musyawarah adalah tidak benar sebab riwayatnya tidak ada asalnya.

• Mereka mengatakan: Ini adalah masalah ijtihadiyah'

Bantahan:
Apa yang dimaksud dengan masalah ijtihadiyah ? Jika mereka katakan: yaitu masalah baru yang tidak dikenal di massa wahyu dan khulafaur rasyidin.

Maka jawabannya:
1. Ucapan mereka ini menyelisihi atau bertentangan dengan ucapan sebelumnya yaitu sudah ada pada awal Islam.

2. Memang benar pemungutan suara ini tidak ada pada zaman wahyu, tetapi bukan berarti seluruh perkara yang tidak ada pada zaman wahyu ditetapkan hukumnya dengan ijtihad. Dalam masalah ini ulama menetapkan hukum setiap masalah berdasarkan kaedah-kaedah usul dan kaedah-kaedah umum. Dan untuk masalah pemungutan suara ini telah diketahui kerusakan-kerusakannya.

Jika dikatakan: yang kami maksud masalah ijtihadiyah adalah masalah yang belum ada dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Maka jawabannya sama seperti jawaban kami yang telah lalu.

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah artinya: kami mengetahui keharamannya, tetapi kami memandang ikut serta di dalamnya untuk mewujudkan maslahat. Maka jawabannya: kalau ucapan itu benar, maka pasti sudah ada buktinya semenjak munculnya pemikiran seperti ini. Di negara-negara Islam tidak pernah terwujud maslahat tersebut, bahkan hanya kembali dua sepatu usang (gagal).

Sedang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang Mukmin tidaklah disengat 2 kali dari satu lubang" [Mutafaqun alaih]

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan ulama serta bukan masalah ijma'.

Maka jawabannya:
1. Coba tunjukkan perselisihan di kalangan ulama yang mu'tabar (dipercaya) yang dida'wakan itu. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkannya.

2. Yang dikenal di kalangan ulama, bahwa yang dimaksud khilafiyah atau masalah yang diperdebatkan, yaitu : jika kedua pihak memiliki alasan atau dalil yang jelas dan dapat diterima sesuai kaedah. Sebab kalau hanya mencari masalah khilafiyah, maka tidak ada satu permasalahanpun melainkan di sana ada khilaf atau perbedaan pendapat. Akan tetapi banyak di antara pendapat-pendapat itu yang tidak mu'tabar.

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara tersebut termasuk maslahat mursalah.

Bantahannya:
1. Maslahat mursalah bukanlah sumber asli hukum syar'i, tapi hanyalah sumber taba'i (mengikut) yang tidak dapat berdiri sendiri. Maslahat mursalah hanyalah wasilah yang jika terpenuhi syaratsyaratnya, baru bisa diamalkan.

2. Menurut defisinya maslahat mursalah itu adalah: apa-apa yang tidak ada nash tertentu padanya dan masuk ke dalam kaedah umum. Menurut definisi lain adalah: sebuah sifat (maslahat) yang belum ditetapkan oleh syariat.

Jadi maslahat mursalah itu adalah salahsatu proses ijtihad untuk mencapai sebuah kemaslahatan bagi umat, yang belum disebutkan syariat, dengan memperhatikan syarat-syaratnya.

Kembali kepada masalah pemungutan yang dikatakan sebagai maslahat mursalah tersebut apakah sesuai dengan tujuan maslahat mursalah itu sendiri atau justru bertentangan. Tentu saja amat bertentangan; dilihat dari kerusakan kerusakan pemungutan suara yang cukup menjadi bukti bahwa antara keduanya amat jauh berbeda.

• Mereka mengatakan: Pemungutan suara ini hanya wasilah, bukan tujuan dan maksud kami adalah baik.

Bantahannya adalah:
Tidak dikenal kamus tujuan menghalalkan segala cara, sebab itu adalah kaidah Yahudiah. Sebab berdasarkan kaidah Usuliyah: hukum sebuah wasilah ditentukan hasil yang terjadi (didapat); jika yang terjadi adalah perkara haram (hasilnya haram) maka wasilahnya juga haram.

Adapun ucapan mereka bahwa yang mereka inginkan adalah kebaikan.

Maka jawabannya bahwa niat yang baik lagi ikhlas serta keinginan yang baik lagi tulus belumlah menjamin kelurusan amal. Sebab betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.

Sebab sebuah amal dapat dikatakan shahih dan makbul jika memenuhi 2 syarat: Niat ikhlas dan Menetapi as-Sunnah. Jadi bukan hanya bermodal keinginan (i'tikad baik saja)

• Mereka mengatakan: Kami mengikuti pemungutan suara dengan tujuan menegakkan daulah Islam.

Bantahannya:
Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, bagaimana cara menegakkan daulah Islam ?

Sedangkan di awal perjuangan, mereka sudah tunduk pada undang-undang sekuler yang diimpor dari Eropa. Mengapa mereka tidak memulai menegakkan hukum Islam itu pada diri mereka sendiri, atau memang ucapan mereka "Kami akan menegakkan daulah Islam" hanyalah slogan kosong belaka. Terbukti mereka tidak mampu untuk menegakkannya pada diri mereka sendiri.

Kalau ingin buktinya maka silahkan melihat mereka-mereka yang meneriakkan slogan tersebut.

• Mereka mengatakan : Kami tidak mau berpangku tangan dengan membiarkan musuh-musuh bergerak leluasa tanpa hambatan.

Bantahannya:
Apakah masuk akal jika untuk menghadapi musuh-musuhnya, mereka bergandengan tangan dengan musuh-musuhnya dalam kursi parlemen, berkompromi dengan musuh dalam membuat undang-undang? Bukankah ini tipu daya ala Yahudi yang telah Allah nyatakan dalam al-Qur'an:

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Segolongan lain dari ahli Kitab berkata kepada sesamanya: Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang Mukmin) kembali (kepada kekafiran)". [Ali-Imran/3: 72]

Dan ucapan mereka bahwa masuknya mereka ke kancah demokrasi itu adalah refleksi perjuangan mereka, tidak dapat dipercaya. Bukankah Allah telah mengatakan:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka" [Al-Baqarah/2: 120]

Lalu mengapa mereka saling bahu membahu dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani? Apakah mereka menerapkan kaedah: saling bertolong-tolongan pada perkara-perkara yang disepakati dan saling toleransi pada perkara- perkara yang diperselisihkan. Tidakkah mereka takut pada firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu?)". [An-Nisaa/4: 144]

• Mereka mengatakan: Kami terjun dalam kancah demokrasi karena alasan darurat.

Bantahannya:
Darurat menurut Ushul yaitu: keadaan yang menimpa seorang insan berupa kesulitan bahaya dan kepayahan/kesempitan, yang dikhawatirkan terjadinya kemudharatan atau gangguan pada diri (jiwa), harta, akal, kehormatan dan agamanya. Maka dibolehkan baginya perkara yang haram (meninggalkan perkara yang wajib) atau menunda pelaksanaannya untuk menolak kemudharatan darinya, menurut batas-batas yang dibolehkan syariat.

Lalu timbul pertanyaan kepada mereka: yang dimaksud alasan itu, karena keadaan darurat atau karena maslahat?.

Sebab maslahat tentu saja lebih luas dan lebih umum ketimbang darurat. Jika dahulu mereka katakan bahwa demokrasi itu atau pemungutan suara itu hanyalah wasilah maka berarti yang mereka lakukan tersebut bukanlah karena darurat akan tetapi lebih tepat dikatakan untuk mencari maslahat, Maka terungkaplah bahwa ikut sertanya mereka dalam kancah demokrasi tersebut bukanlah karena darurat tapi hanya karena sekedar mencari setitik maslahat.

• Mereka mengatakan: Kami terpaksa melakukannya, sebab jika tidak maka musuh akan menyeret kami dan melarang kami menegakkan hukum Islam dan melarang kami shalat di masjid-masjid dan melarang kami berbicara (berkhutbah).

Bantahannya:
Mereka hanya dihantui bayangan saja; atau mereka menyangka kelangsungan da'wah kepada jalan Allah hanya tergantung di tangan mereka saja. Dengan itu mereka menyimpang dari manhaj an-nabawi dalam berda'wah kepada Allah dan dalam al-islah (perbaikan). Lalu mereka menuduh orang-orang yang tetap berpegang teguh pada as- Sunnah sebagai orang-orang pengecut (orang-orang yang acuh tak acuh terhadap nasib umat). Apakah itu yang menyebabkan mereka membabi buta dan gelap mata? Hendaknya mereka mengambil pelajaran dari seorang sahabat yang mulia yaitu Abu Dzar al-Giffari ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berpesan kepadanya:

"Tetaplah kau di tempat engkau jangan pergi kemana-mana sampai aku mendatangimu. Kemudian. Rasulullah pergi di kegelapan hingga lenyap dari pandangan, lalu aku mendengar suara gemuruh. Maka aku khawatir jika seseorang telah menghadang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, hingga aku ingin mendatangi beliau. Tapi aku ingat pesan beliau: tetaplah engkau di tempat jangan kemana-mana, maka akupun tetap di tempat tidak ke mana-mana. Hingga beliau mendatangiku. Lalu aku berkata bahwa aku telah mendengar suara gemuruh, sehingga aku khawatir terhadap beliau, lalu aku ceritakan kisahku. Lalu beliau berkata apakah engkau mendengarnya?. Ya, kataku. Beliau berkata itu adalah Jibril, yang telah berkata kepadaku: barang siapa di antara umatmu (umat Rasulullah) yang wafat dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, akan masuk ke dalam surga. Aku bertanya, walaupun dia berzina dan mencuri? Beliau berkata, walaupun dia berzina dan mencuri". [Mutafaqun alaih]

Lihatlah bagaimana keteguhan Abu Dzar al-Ghifari terhadap pesan Rasulullah untuk tidak bergeming dari tempat, walaupun dalam sangkaan beliau, Rasulullah berada dalam mara bahaya ! Bukankah hal tersebut gawat dan genting. Suara gemuruh yang mencemaskan beliau atas nasib Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Namun apa gerangan yang menahan Abu Dzar al-Ghifari untuk menemui Rasulullah. Apakah beliau takut, atau beliau pengecut, atau beliau acuh tak uh akan nasib Rasulullah ? Tidak ! Sekali-kali tidak! Tidak ada yang menahan beliau melainkan pesan Rasulullah : tetaplah engkau di tempat, jangan pergi ke mana-mana hingga aku datang!.

Keteguhan beliau di atas garis as-Sunnah telah mengalahkan (menundukkan) pertimbangan akal dan perasaan! Beliau tidak memilih melanggar pesan Rasulullah dengan alasan ingin menyelamatkan beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian kita lihat hasil keteguhan beliau atas pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berupa ilmu tentang tauhid yang dibawa malaikat Jibril kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kabar gembira bagi para muwahhid (ahli tauhid) yaitu surga. Seandainya beliau melanggar pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam maka belum tentu beliau mendapatkan ilmu tersebut pada saat itu !!

Demikian pula dikatakan kepada mereka: Kami tidak hendak melanggar as-Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat ! (Karena keteguhan di atas as-Sunnah itulah yang akan menyelamatkan ummat -red).

Berbahagialah ahlu sunnah (salafiyin) berkat keteguhan mereka di atas as-Sunnah.

• Mereka mengatakan: Bahwa mereka mengikuti kancah pemunggutan suara untuk memilih kemudharatan yang paling ringan.

Mereka juga berkata bahwa mereka mengetahui hal itu adalah jelek, tapi ingin mencari mudharat yang paling ringan demi mewujudkan maslahat yang lebih besar.

Bantahannya:
Apakah mereka menganggap kekufuran dan syirik sebagai sesuatu yang ringan kemudharatannya? Timbangan apa yang mereka pakai untuk mengukur berat ringannya suatu perkara? Apakah timbangan akal dan hawa nafsu? Tidakkah mereka mengetahui bahwa demokrasi itu adalah sebuah kekufuran dan syirik produk Barat? Lalu apakah ada yang lebih berat dosanya selain kekufuran dan syirik.

Kemudian apakah mereka mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan kaedah "memilih kemudharatan yang paling ringan."

Jika jawaban mereka tidak mengetahui; maka hal itu adalah musibah.

Jika jawabannya mereka mengetahui, maka dikatakan kepada mereka: coba perhatikan kembali syarat-syaratnya! Di antaranya:
1. Maslahat yang ingin diraih adalah nyata (realistis) bukan sekedar perkiraan (anggapan belaka). Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh mereka yang melibatkan di dalam kancah demokrasi itu cukuplah sebagai bukti bahwa maslahat yang mereka janjikan itu hanyalah khayalan dan isapan jempol belaka.

2. Maslahat yang ingin dicapai harus lebih besar dari mafsadah (kerusakan) yang dilakukan, berdasarkan paham ahli ilmu. Jika realita adalah kebalikannya yaitu maslahat yang hendak dicapai lebih kecil ketimbang mafsadah yang terjadi, maka kaedahnya berganti menjadi:

Menolak mafsadah (kerusakan) lebih didahulukan ketimbang mencari (mengambil) mashlahat.

3. Tidak ada cara (jalan) lain untuk mencapai maslahat tersebut melainkan dengan melaksanakan mafsadah (kerusakan) tersebut.

Syarat yang ketiga ini sungguh amat berat untuk dipenuhi oleh mereka sebab konsekuensinya adalah: tidak ada jalan lain untuk menegakkan hukum Islam, kecuali dengan jalan demokrasi tersebut. Sungguh hal itu adalah kebathilan yang amat nyata! Apakah mungkin manhaj Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam ishlah (perbaikan) divonis tidak layak dipakai untuk menegakkan hukum Islam? Tidaklah kita mengenal Islam, kecuali melalui beliau shalallahu 'alaihi wasallam?

• Mereka mengatakan: Bahwa beberapa Ulama ahlu sunnah telah berfatwa tentang disyariatkannya pemungutan suara (pemilu) ini seperti: Syeikh al-Albani, Bin Baz, Bin Utsaimin. Lalu apakah kita menuduh mereka (para ulama) hizbi ?

Jawabannya tentu saja tidakl
Amat jauh para ulama itu dari sangkaan mereka, karena beberapa alasan:
1. Mereka adalah ulama dan pemimpin kita, serta pemimpin da'wah yang penuh berkah ini (da'wah salafiyah) dan pelindung Islam. Kita tidak meneguk ilmu kecuali dari mereka. Kita berlindung kepada Allah semoga mereka tidak demikian (tidak hizbi)! Bahkan sebaliknya, merekalah yang telah memperingatkan umat dari bahaya hizbiyah. Tidaklah umat selamat dari hizbiyah kecuali, melalui nasihat-nasihat mereka setelah taufiq dari Allah tentunya. Kitab-kitab dan kaset-kaset mereka penuh dengan peringatan tentang hizbiyah.

2. Para ulama berfatwa (memberi fatwa) sesuai dengan kadar soal yang ditanyakan. Bisa saja seorang datang kepada ulama dan bertanya:

Ya Syeikh!, kami ingin menegakkan syariat Allah dan kami tidak mampu kecuali melalui pemungutan suara dengan tujuan untuk mengenyahkan orang-orang sosialis dan sekuler dari posisi mereka! Apakah boleh kami memilih seorang yang shalih untuk melaksanakan kepentingan ini? Demikianlah soalnya!

Lain halnya seandainya bunyi soal : Ya Syeikh, pemungutan suara itu menimbulkan mafsadah (kerusakan) begini dan begini, dengan menyebutkan sisi negatif yang ditimbulkannya, maka niscaya jawabannya akan lain. Mereka-mereka itu (yaitu hizbiyun dan orang-orang yang terfitnah oleh hizbiyun) mencari-cari talbis (tipu daya) terhadap para ulama! Adapun dalil bahwa seorang alim berfatwa berdasarkan apa yang ia dengar. Dan sebuah fatwa ada kalanya keliru, adalah dari sebuah hadits dari Ummu Salamah:

"Sesungguhnya kalian akan mengadukan pertengkaran di antara kalian padaku, barang kali sebagian kalian lebih pandai berdalih ketimbang lainnya. Barang siapa yang telah aku putuskan baginya dengan merebut hak saudaranya, maka yang dia ambil itu hanyalah potongan dari api neraka; hendaknya dia ambil atau dia tinggalkan" [Mutafaqun alaih]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga telah memerintahkan kepada para qadi untuk mendengarkan kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah berkata kepada Ali bin Abu Thalib:

"Wahai Ali jika menghadap kepada engkau dua orang yang bersengketa, janganlah engkau putuskan antara mereka berdua, hingga engkau mendengar dari salah satu pihak sebagaimana engkau mendengarnya dari pihak lain. Sebab jika engkau melakukan demikian, akan jelas bagi engkau, putusan yang akan diambil". [Hadits Riwayat Ahmad]

Oleh sebab itu kejahatan yang paling besar yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah diharamkannya perkara-perkara yang sebelumnya halal, disebabkan pertanyaannya. Dalam sebuah hadits riwayat Saad bin Abi Waqas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya kejahatan seorang Muslim yang paling besar adalah bertanya tentang sebuah perkara yang belum diharamkan. Lalu diharamkan disebabkan pertanyaannya". [Mutafaqun Alaih]

Ibnu Thin berkata bahwa kejahatan yang dimaksud adalah menyebabkan kemudharatan atas kaum Muslimin disebabkan pertanyaannya. Yaitu menghalangi mereka dari perkara-perkara halal sebelum pertanyaannya.

Hendaknya orang-orang yang melakukan tindakan berbahaya seperti ini bertaubat kepada Allah. Dan para tokoh kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap orang-orang semacam itu.

3. Lalu bagaimana sikap mereka (para Hizbiyin) tatkala telah jelas bahwa bagi para Ulama, demokrasi dan pemilihan suara ini adalah haram disebabkan mafsadah yang ditimbulkannya. Apakah mereka akan mengundurkan diri dari kancah demokrasi dan pemilu itu? atau mereka tetap nekat. Realita menunjukkan bahwa mereka hanya memancing di air keruh. Mereka hanya mencari keuntungan untuk golongannya saja dari fatwa para ulama. Terbukti jika fatwa ulama tidak menguntungkan golongan mereka, maka merekapun menghujatnya dengan berbagai macam pelecehan. Wallahu a'lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Th. III/1420-1999. Disadur dari kitab Tanwiir adz-Dzulumat tulisan Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam dan kitab Madarik an-Nazhar Fi Siasah tulisan Abdul Malik Ramadhani]
Disalin dari http://almanhaj.or.id/content/497/slash/0/syubhat-syubhat-sekitar-masalah-demokrasi-dan-pemungutan-suara/ tanpa dikurangi atau ditambahkan sedikitpun.
Andre Tauladan

Senin, 29 Juni 2015

Damai? Coba Fikir Lagi Pak!

Lagi-lagi Om WhaPhres bikin pernyataan yang ngaco. Om WhaPhres menyatakan bahwa umat Islam Indonesia patut bersyukur karena dapat berpuasa dengan damai. Ya, kalo memang yang dimaksud adalah bisa puasa tanpa ada konflik, serangan bom, atau perang memang benar. Tapi benarkah umat Islam Indonesia bisa berpuasa dengan damai?

Suasana berpuasa di Indonesia memang tidak ada konflik atau perang, tetapi 'godaan'nya tetap ada. Godaan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat yang tidak terbatas. Di bulan ramadhan banyak orang yang berpacaran, wanita berpakaian ketat, aurat yang terbuka, dan banyak orang yang tidak berpuasa makan dengan bebas. Dengan keadaan seperti itu mustahil orang bisa berpuasa dengan tenang, kecuali orang yang diam di masjid dari subuh sampai petang.

Selain itu masih banyaknya anak-anak yang bermain petasan, sungguh tidak membuat tenang. Om WhaPhres juga nampaknya tidak tahu acara-acara TV di bulan Ramadhan banyak yang sangat merusak ibadah shaum. Mungkin jika puasa yang dimaksud oleh si Om adalah puasa yang hanya menahan lapar dan haus sih iya. Tapi puasa kan menahan yang lain juga.
Do And Donts Ramadhan

Di negara endonesah ini bukan ibadah yang bisa dilaksanakan dengan tenang, tapi maksiat. Jadi, Republika sebaiknya ganti judul artikel itu jadi "Umat Islam Indonesia bisa melakukan maksiat dengan damai".
Andre Tauladan

Sabtu, 13 Juni 2015

Murotal Kaset di Masjid? Jangan Deh...

Baru-baru ini seorang pejabat di Endonesah sebut saja namanya Pak WhaPhrez (bukan nama sebenarnya) mengutarakan pernyataan yang menjadi kontroversi di masyarakat. Pasalnya, dia mengatakan bahwa suara murotal dari kaset yang sering diputar di masjid-masjid adalah polusi suara

Walaupun tidak setuju dengan pernyataan polusi suaranya tapi saya setuju anjuran untuk tidak memutar kaset murotal di masjid-masjid. Tapi...
toa masjid

Saya sarankan buat Pak WhaPhrez sebelum anda melarang murotal kaset di masjid-masjid, sebaiknya anda lihat dulu kondisi di masyarakat. Saya lihat ada upaya de-islam-isasi dari Pak WhaPhrez. Kondisi masyarakat saat ini saya rasa sudah cukup jauh dari tuntunan agama. Keadaan ini diperparah oleh pernyataan Pak WhaPhrez yang seolah ingin membuat masyarakat nyaris tidak beragama, atau setidaknya masyarakat beragama tanpa tuntunan.

Daripada melarang pemutaran kaset murotal di masjid, sebaiknya Pak WhaPhrez mengajak membudayakan tilawah atau tadarus di negara Endonesah ini. Suatu saat, jika masyarakat sudah terbiasa tilawah manual, maka di masjid-masjid pun otomatis tidak akan ada suara murotal dari kaset-kaset lagi. Jadi, saya setuju kalo pemutaran kaset pengajian di masjid-masjid itu dihentikan, diganti oleh ngaji manual. Yah, itu saran saya kalo Pak WhaPhrez ngeles dari tuduhan saya (tuduhan deislamisasi).

Tapi, nampaknya walaupun Pak WhaPhrez nggak akan bisa ngeles. Toh, dia mengatakan bahwa suara pengajian di speaker itu polusi suara. Jadi, walaupun yang ngaji bukan kaset tapi ngaji manual, tetap akan disebut polusi suara. Sayangnya si Pak WhaPhrez ini nggak pernah bikin pernyataan bahwa konser musik, letusan kembang api, dan terompet tahun baru sebagai polusi suara. Jadi, jelaslah bahwa pernyataannya itu adalah upaya de-islam-isasi. Yah, mungkin Pak WhaPhrez hatinya sudah keras. Sehingga hatinya tidak bergetar ketika mendengar ayat Allah dibacakan. Atau, jika saya boleh menyampaikan tuduhan lain, saya rasa Pak WhaPrez ini sudah mulai mengikuti jalannya orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayatnya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal."
(Al-Anfal:2)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..
(al Baqarah 120)
Andre Tauladan

Senin, 08 Juni 2015

Indonesia, ISIS, dan Rohingya

Sobat, apakah pernah menemui fenomena lucu ketika seseorang rumahnya kemalingan, lalu polisi datang untuk membantunya tapi dia menolak kedatangan polisi, kemudian dia mengeluh di sosmed bahwa polisi tidak berguna dan tidak mau membantu? Atau seseorang yang pesan pizza ke sebuah restoran, tapi ketika pizza diantar ke rumahnya ia mengusir sang pengantar, lalu dia ngeluh di sosmed bahwa restoran tersebut pelayanannya buruk?

Saya baru saja menemui orang seperti itu. Entah karena dia kurang berfikir atau memang kebenciannya terlalu tinggi. Namanya Zahran Fahru Rizal. Berdasarkan bio di twitter, dia adalah salah seorang anggota FLP. Dalam sebuah  situs "islami" dakwatuna ia menulis sebuah artikel dengan judul "Indonesia, ISIS, dan Manusia Perahu Rohingya". Dilihat dari kontennya saya anggap dia tidak paham betul tentang apa yang dia tuliskan. Bagaimana tidak? Hampir satu tahun ISIS membubarkan diri tetapi masih saja ada orang seperti dia yang menyebutkan ISIS. Seperti orang yang sedang mengkritik sebuah masakan dari restoran yang sudah tutup.

Sekedar info nih buat sobat sekalian. ISIS sudah bubar sejak 1 Ramadhan 1435 H. Dulu memang namanya ISIS ada "Iraq and Syiria"-nya. Tapi sekarang sudah menyebar hingga ke Filipina, Libya, Yaman, Mesir, Aljazair, dan beberapa wilayah lain. Jadi, jangan katro ya!

Oke, sekarang saya bahas kenapa mas Zahran itu seperti orang linglung. Bagi anda yang punya televisi, bisa baca koran, atau mampu mengakses internet pasti tahu betul bahwa keberadaan IS (ISIS) sangat ditolak oleh masyarakat dunia. SANGAT! Di Amerika, Jerman, Belanda, dan negara kafir lainnya termasuk Indonesia faham IS ini SANGAT ditentang. Ketika IS ingin menyebarkan pasukannya ke Yordania, Yaman, atau beberapa wilayah di Irak, pemerintah setempat berusaha sebisa mungkin untuk melawannya. Intinya, peyebaran IS ini SANGAT ditolak!

Jika mas Zahran sadar, bagaimana mungkin IS mau membantu pengungsi Rohingya yang ada di perairan Indonesia, Malaysia, Ausralia dan sekitarnya, jika keberadaan mereka bahkan fahamnya saja ditolak? Logika mas Zahran ini seperti apa yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Menolak bantuan, tapi menuduh tidak dibantu. Mungkin mas Zahran ini kurang update tentang berita ketika IS memasuki kota Mosul dan membebaskan ratusan tahanan muslim sunni yang dipenjara oleh pemerintah Syi'ah. Lalu dimana anda dan organisasi FLP anda? Hehe... Mungkin anda juga tidak sempat mencari info tentang rakyat Suriah dan Irak yang dibombardir oleh koalisi salibis, lalu IS melakukan pembalasan terhadap tentara salibis itu. Saya tanya lagi, di mana anda dan FLP anda?

Yah, mungkin anda juga sudah merasa menjadi pahlawan dengan menyalurkan sumbangan dari para dermawan (bukan uang anda sendiri). Sehingga anda merasa pantas untuk menuntut IS yang rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi tegaknya syari'at islam di wilayah yang dikuasainya. FYI, Khilafah akan tetap tegak baik dengan atau tanpa sampean. Jangankan hanya kritik kecil dari anda, serangan koalisi salibis yang terdiri dari 60 negara hingga saat ini tidak mampu menghancurkan khilafah. Ah... anda lupa ngaca ya?

Oh ya, anda juga menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ada jawabannya jika anda rajin mencari. Di mana kedudukan IS dalam membela rakyat Palestina? Saya minta anda buka peta, lihat di mana posisi Gaza, Palestina, dan Irak. Sebelum anda menuntut IS untuk membantu rakyat Palestina, anda sebaiknya menuntut pemerintah Yordania untuk memberikan akses bagi IS untuk bisa lewat dan melakukan penyerangan ke Gaza. Lalu, sebelum mas nuntut IS sebagai Khilafah Islamiyah untuk membantu pengungsi Rohingya di Indonesia, mas nuntut dulu ke pemerintah Indonesia untuk mengizinkan IS untuk menguasai Indonesia. Gitu aja ya mas Zahran! Oke!?

Yah, lain kali cobalah buat artikel yang lebih logis ya mas! Jangan seperti orang linglung.

Andre Tauladan

Rabu, 29 April 2015

Ekstrimis, Kumpeni, dan Pelanggaran Perjanjian

Menengok kejadian masa lalu dari beberapa film perjuangan jaman dulu memberikan saya sedikit pemahaman tentang perilaku orang kafir (penjajah Belanda) yang saat ini sedang ditiru oleh pemerintah Indonesia. Perilaku mereka yang paling mencolok adalah selalu melanggar perjanjian dan menjuluki pejuang sebagai ekstrimis. Kejadian ini persis dengan yang terjadi saat ini. Sifat-sifat orang kafir yang busuk itu seolah tidak pernah hilang dan justru menular ke sebagian orang islam.

Dalam film Kereta Api Terakhir, diceritakan bahwa Kumpeni (Belanda) telah melanggar perjanjian Linggar Jati lalu mereka melanjutkan serangan ke rakyat Indonesia. Lalu, dalam film Janur Kuning diceritakan Kumpeni melanggar perjanjian Renville dan terus menyerang rakyat Indonesia. Ada satu hal yang unik dalam film Janur Kuning. Ada adegan ketika Kumpeni menyiarkan melalui radio bahwa tentara Indonesia itu tidak ada, yang ada hanyalah ekstrimis-ekstrimis yang melakukan berbagai tindakan kejahatan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Tentara republik dianggap sebagai ekstrimis atau gerombolan yang selalu melakukan perampokan dan pembunuhan yang membuat penduduk menjadi gelisah. Bagi orang-orang bodoh, pengumuman Kumpeni itu dianggap sebagai kenyataan. Namun, orang-orang cerdas pasti tahu bahwa itu hanya fitnah yang disampaikan agar rakyat membenci tentara. Dalam pengumuman itu juga Kumpeni mengatakan akan meminta bantuan PBB untuk menumpas gerombolan-gerombolan dan kaum ekstrimis.

Keadaan ini kembali berlaku, namun bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Munculnya gerakan mujahidin daulah islam yang telah mendirikan khilafah dianggap sebagai ekstrimis yang selalu mengacau. Anggapan itu awalnya muncul dari kafirin salibis Amerika yang kemudian menular ke sebagian orang islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang-orang bodoh yang menganggap pengumuman kafirin itu adalah kenyataan. Orang-orang yang sebenarnya adalah mujahidin dianggap sebagai pengacau yang dituduh melakukan perampokan, pembunuhan (kepada rakyat), dan tindakan kriminal lainnya. Namun, masih ada orang-orang cerdas yang tahu bahwa itu hanyalah fitnah belaka.

Sifat buruk lain dari orang-orang kafir adalah selalu melanggar perjanjian. Namun, rupanya masih ada orang-orang Islam yang mau 'berdamai' di atas berkas perjanjian yang kemungkinan besar akan dilanggar oleh orang kafir. Entah sudah berapa kali perjanjian damai antara Palestina dengan Israel dilakukan tetapi selalu berlanjut dengan pelanggaran perjanjian. Sayangnya, masih banyak umat islam yang masih ingin melakukan perdamaian dengan orang-orang kafir untuk mencapai kedamaian yang semu. Umat Islam saat ini sebenarnya sedang dijajah. Namun, bentuk penjajahannya bukan dengan cara kuno. Diterapkannya demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap umat Islam. Orang kafir tidak perlu mengirimkan tentara untuk menghancurkan negeri ini karena negeri ini akan hancur dengan sendirinya jika masih menerapkan demokrasi yang menempatkan aturan buatan manusia di atas aturan yang ditetapkan oleh Allah.


Andre Tauladan

Selasa, 21 April 2015

Infopurwokerto.info Persembahan Dari Seorang Tunanetra

Setiap orang pasti akan mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Di antara sekian banyak orang ada yang diuji dalam bentuk musibah, kesengsaraan, kemiskinan, atau ujian dalam bentuk fisik. Misalnya keterbatasan dalam penglihatan atau lebih sering disebut dengan tunanetra. Namun, bagi orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, ujian seperti itu tidak akan menghalangi mereka untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Mereka juga tetap memiliki keinginan untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang normal. Di antaranya adalah berbagi informasi dengan orang lain melalui internet.

Salah satu situs yang dikelola oleh tunanetra adalah www.infopurwokerto.info. Situs ini dikelola oleh Ardynal Purbowo. Berbeda dengan situs milik tunanetra lain yang cenderung berisi cerita pengalaman pribadi, situs ini berisi informasi umum seputar Purwokerto. Sang pengelola situs menuturkan bahwa situs tersebut memang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin tahu Purwokerto. Situs ini dipublish sejak tahun 2014. Tampilannya memang sederhana, tidak terlalu banyak menggunakan script sehingga membuat waktu loadingnya pun cepat.

Mengapa saya tertarik mereview situs ini? Karena pagi ini, tadi banget saya baru sarapan bubur ayam di depan lapangan Gemplang. Apa hubungannya? Hubungannya adalah saya bukan orang Purwokerto asli, pagi ini saya ingin sarapan dan ketika melakukan pencarian di Google saya menemukan situs ini. Dari situs ini saya akhirnya dapat menemukan tempat sarapan yang enak. Dari informasi tersebut saya berlanjut ke artikel-artikel lainnya di situs ini hingga akhirnya saya tahu bahwa pengelola (pemilik) situs tersebut adalah seorang tunanetra.

Di situs ini juga pengelola memberikan informasi seputar ongkos transportasi, harga bahan dasar makan, harga makanan jadi, dan beberapa lokasi penting di Purwokerto. Misalnya, lokasi rumah sakit, poliklinik, tempat makan, bank, dan kantor pos. Memang informasi seperti itu bisa didapatkan dari situs lain. Namun yang membuat saya kagum adalah kerja keras sang pemilik situs dalam berbagi informasi dalam keadaannya yang terbatas. Dia memang memiliki keterbatasan penglihatan, namun dia yang menuntun saya untuk bisa berjalan di Purwokerto ini. Singkatnya, dilihat dari sudut pandang wawasan tentang Purwokerto sebenarnya saya yang buta, bukan dia.

Keterbatasan bukan halangan untuk berbuat baik.

Andre Tauladan

Kamis, 16 April 2015

Mau sampai kapan?

Siang ini lagi-lagi saya kepikiran buat nulis tentang perilaku masyarakat yang nggak taat aturan. Sebabnya, tadi saya melihat orang menyeberang sembarangan padahal ada zebra cross tak jauh dari tempat dia menyeberang. Tanpa bertanya apa alasan mereka melanggar peraturan, saya berasumsi bahwa mereka melakukannya karena 'sudah biasa'. Mungkin ada di antara mereka yang melakukannya karena kepepet. Yah, itu mah dimaklum aja deh. Yang mau saya bahas di sini adalah yang 'sudah biasa'. Dari kebiasaan itu muncul pertanyaan 'mau sampai kapan?'

Kalo ngebahas soal perilaku melanggar saya sering keingetan 'lingkaran setan'. Lingkaran setan yang saya maksud adalah budaya saling menyalahkan. Contohnya, jumlah tempat sampah yang tersedia di lingkungan saya tinggal terbilang sedikit. Dari keadaan itu timbullah fenomena lingkaran setan. Masyarakat (yang kesadarannya kurang) membuang sampah sembarangan dengan dalih tidak ada tempat sampah. Pemerintah juga (yang putus asa) tidak lagi menyediakan tempat sampah dengan dalih disediakan tempat sampah pun masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi, masyarakat dan pemerintah saling menuduh siapa yang salah. Tidak ada yang mau sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya. Semestinya pemerintah menyediakan tempat sampah walaupun masyarakat masih banyak yang tidak sadar. Masyarakat juga seharusnya sadar jika tidak ada tempat sampah yang dekat, tahanlah, jangan buang sembarangan.

Fenomena lingkaran setan seperti itu tidak pernah usai. Akibatnya masyarakat terbiasa melakukan pelanggaran. Dari kebiasaan satu orang menular ke orang lain hingga semakin banyak orang yang melakukan pelanggaran. Dari pelanggaran banyak orang kemudian muncul orang-orang 'baru' yang mencoba melanggar dengan menganggap bahwa pelanggaran itu benar. Dalam sebuah acara tv bertema kegiatan polisi menampilkan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas. Banyak di antara pelanggar itu menolak ditilang dengan alasan 'biasanya lewat sini tidak apa-apa'.

Memang sulit jika masih tidak ada kesadaran dalam diri masing-masing untuk menaati peraturan. Sebesar apapun usaha petugas menegakkan aturan, akan selalu ada pelanggaran. Ketika peringatan tidak diindahkan, pemerintah mencoba menerapkan aturan denda. Ketika denda pun tidak mempan, diambillah tindakan tegas. Namun, tindakan tegas itu malah dianggap tidak berbelas kasih. Entah mau sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut.
Andre Tauladan

Rabu, 08 April 2015

⇨JANGANLAH BERSIKAP SOMBONG⇦

Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab
"Siapa dulu doonk...ini kan semua berkat usaha keras saya"
"Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain."
Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah. Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?

Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong.
Pengertian sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain.
Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkanorang lain. Padahal Allah telah melarang kita dlm firmanNya:
QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya.
Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka Sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah(biji sawi) Laa haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan SOMBONG
Eits.. tunggu dulu....
Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain.
Bahkan Allah menantang kita dlm firmanNya :
QS. Al Isra’ {17}:37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dgn sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
"Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuatu. Bukankah begitu ?
Begitu saja kok sombong. Oleh karena itu seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi. Ingatlah kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Rabb semesta alam ini.....
Siapakah diri kita...???
Wallohu A'lam bi shawab...
Smoga bermanfaat
Andre Tauladan

Senin, 06 April 2015

Mungkin Karena Indonesia Bukan Negara Islam

Lagi-lagi terlintas pikiran iseng yang ada hubungannya dengan tema ini. Indonesia Bukan Negara Islam. Kalimat yang sering sekali ditemui di kehidupan masyarakat yang notabene banyak sekali penduduk muslimnya. Sedih memang sedih. Ulama-ulama hanya bisa memberikan dakwah baik melalui lisan maupun tulisan yang disajikan di media cetak dan media elektronik. Tak terlalu besar pengaruhnya. Keadaan seperti ini saja masih banyak yang belum menyadari bahwa dari sekian banyak ulama ada di antara mereka yang memiliki kepentingan duniawi. Entah itu untuk popularitas atau materi. Yah, keadaan di Indonesia ini jauh dari nilai islami mungkin karena INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM.

Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang pacaran dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang berzina dimaklumi.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang mencuri dipenjara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat toko tetap buka.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat transaksi tetap berlanjut.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi sholat-nggak sholat nggak masalah.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bulan ramadhan nggak puasa nyantai aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pamer aurat dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi iklan di media ngumbar aurat.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masjid banyak yang kosong.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pemerintah bohong dibiarin aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak perlu dipake.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak cocok.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi boleh bikin aturan baru.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi orang kafir boleh jadi pemimpin.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi perjudian diizinkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi miras boleh beredar.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi menzhalimi orang lain via asap rokok dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mau pake jilbab aja nunggu izin komandan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi zakat bukan tanggung jawab negara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pernikahan dipersulit.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek syirik tidak dimusnahkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi dukun bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mencela orang juga bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bencong dan banci (sama aja hehe) berkeliaran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bisa akur sama amiriki dan iran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masalah jihad dianggap radikal.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek dari Al Qur'an dan sunnah harus dipilih-pilih yang sesuai UUD '45 dan Pancasila, yang nggak sesuai jangan dipraktekkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi syari'at islam tidak boleh ditegakkan.
Yah, itu hanya kemungkinan saja.
Andre Tauladan

Minggu, 08 Maret 2015

Fanatik, Emang Kamu Tahu Artinya?

"Udahlah, jangan terlalu fanatik sama agama!"
Brothers and sisters, pernah nggak kamu disebut fanatik oleh seseorang gara-gara kamu menolak sesuatu yang nggak sesuai aturan agama? Pasti ada beberapa orang yang pernah. Tapi bener nggak sih apa yang dikatakan orang itu? Apakah kamu memang fanatik? Biar tahu jawabannya, sekarang kita bahas apa itu fanatik dan seperti apa orang yang fanatik.

Kata fanatik berasal dari bahasa Inggris "fanatic". Menurut kamus Oxford (ciye, mainannya Oxford) fanatik adalah seseorang yang memiliki semangat berlebihan dalam urusan politik atau agama. Kata yang sama dapat juga diartikan sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat terhadap aktivitas tertentu. Sedangkan menurut KBBI, fanatik adalah keyakinan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Nah, dari keterangan tersebut kalo kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama berarti kamu memang fanatik. Tapi itu cuma kesimpulan awal. Lebih baik kita perdalam lagi pembahasan ini.

Dari beberapa definisi di atas ada kata yang menjadikan sesuatu disebut fanatik atau tidak, kata tersebut adalah "terlalu" atau "berlebihan". Sekarang mari kita berfikir sejenak apakah ketika melakukan sesuatu karena pertimbangan agama itu termasuk sesuatu yang berlebihan atau tidak? Saya pribadi merasa tidak. Kata "fanatik" seringkali ditujukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama dan politik walaupun tidak jarang dikaitkan dengan olahraga, misalnya "supporter fanatik". Tetapi, ternyata ada perbedaan persepsi diantara julukan fanatik yang ada. Seseorang dikatakan fanatik terhadap klub sepakbola tertentu atau partai politik tertentu jika mereka memberikan dukungan atan pembelaan yang memang berlebihan. Tetapi dalam urusan agama, kata "fanatik" lebih sering ditujukan kepada orang yang ingin melaksanakan aturan agama sebaik-baiknya.

Jika melaksanakan aturan disebut fanatik maka polisi juga dapat disebut fanatik. Ketika seorang polisi menilang pelanggar lalu lintas berarti ia fanatik terhadap aturan lalu lintas. Ketika seorang polisi menangkap pencuri atau pelaku kriminal lain berarti ia juga fanatik terhadap aturan kepolisian yang berlaku. Tapi apakah tepat jika polisi disebut fanatik? Jika tidak, maka orang yang ingin melaksanakan aturan agama juga tidak tepat disebut fanatik.

Seseorang yang berusaha untuk menaati aturan agama bukan fanatik, justru dia orang baik dan ingin selamat dalam hidupnya. Seperti halnya pengemudi kendaraan yang berhenti saat lampu merah dan melaju saat lampu hijau. Orang yang ingin taat terhadap aturan agama juga tidak bisa dikatakan "merasa benar sendiri". Layaknya seseorang yang ditilang oleh polisi, ia tidak bisa mengatakan polisi itu merasa benar sendiri. Semua sudah ada aturannya. Jadi ketika kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama, sebenarnya kamu itu tidak fanatik.

Kata fanatik tepat jika ditujukan kepada orang-orang politik yang merasa partainya yang paling baik. Tepat karena perasaan "paling baik" itu tidak berkaitan dengan aturan partai. Sejauh yang saya tahu (padahal nggak tahu apa-apa) tidak ada satu partai pun yang dalam AD/ARTnya mengatakan bahwa partai itu adalah yang terbaik. Hal ini berlaku juga bagi para supporter klub sepakbola. Kata "klub terbaik" bukanlah sebuah aturan dalam dunia sepakbola, melainkan hasil dari apa yang diusahakan oleh masing-masing klub. Jadi ketika sebuah klub berada di klasemen tengah atau bawah tetapi banyak supporter yang tetap menganggapnya terbaik, maka supporter itu tepat jika disebut supporter fanatik. Jika seorang politisi atau pendukung partai melihat keburukan dalam partainya tetapi keukeuh menganggap partainya adalah partai terbaik berarti dia adalah politisi atau pendukung yang fanatik.

Gitu aja sih kesimpulan saya mah. Yah, kalo mau beda pendapat boleh lah... Komen aja, tapi jangan memaksa saya harus sependapat dengan kesimpulan kamu. Hihi... :D
*tulisan ini dibuat dengan harapan nggak ada lagi sebutan "fanatik" buat orang yang ingin menaati aturan agamanya.

Andre Tauladan

Senin, 08 Desember 2014

Betapa tuduhan itu sangat mudah diutarakan

Teman, pernah dengar istilah "maling teriak maling"? Jika pernah, pasti tahu apa artinya. Tapi sekarang ini istilahnya semakin bervariasi. Misalnya, "teroris teriak teroris", atau "penjahat teriak penjahat".
Tulisan ini khusus untuk muslim yang mau berfikir.

Ramai di masyarakat tuduhan bahwa ISIS adalah teroris. Bila ada orang yang mendukung ISIS lalu dituduh pendukung teroris. Tapi coba kita berfikir.Teroris artinya orang atau kelompok yang melakukan teror. Teror sendiri berarti sesuatu yang meresahkan dan membuat takut masyarakat. Lalu, eror seperti apa yang dilakukan ISIS terhadap masyarakat Indonesia? Tidak ada kan? Kita di sini justru diteror, ditekan, ditakut-takuti oleh pemerintah kita sendiri. Jadi, teroris sebenarnya di negara kita adalah pemerintah kita sendiri.

Anda muslim? Mari berfikir. Pemerintah semakin menekan rakyat dengan berbagai cara. Salah satunya menaikkan harga BBM yang buntutnya akan meningkatkan kriminalitas. Sekarang belum sampai buntut, masih kepala. Supir angkutan umum lebih 'beringas' di jalanan. Alasan utama mereka adalah 'kejar setoran'. Hal itu membuat penumpang atau pengguna jalan lain berada dalam bahaya. Okelah jika ada yang berkata 'supir angkot mah dari dulu emang gitu'. Memang, tetapi sekarang mereka lebih 'gitu', karena jika pendapatannya sama dengan dulu, saat ini tidak akan mencukupi kebutuhan mereka. Sering juga penumpang dimarahi supir karena masalah ongkos.

Kriminalitas di negeri kita juga merupakan bentuk teror pemerintah. Pencuri, perampok, pembunuh, dsb dihukum dengan hukuman yang tidak seberapa. Setelah bebas dari penjara mereka kembali ke tengah masyarakat dengan kemungkinan melakukan kejahatan lagi. Kita juga pasti tahu kan ada beberapa oknum yang justru sengaja melindungi para kriminal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tukang parkir liar (banyak di antara mereka adalah preman) pasti memberikan setoran ke oknum aparat. Termasuk pungli di tempat ramai, itu pasti ada setorannya ke oknum. Kita tahu bahwa illegal logging itu berbahaya bagi lingkungan, menimbulkan ancaman longsor. Tetapi kita juga tahu ada pelaku illegal logging yang bekerjasama dengan oknum aparat. Adalagi beberapa kasus pemerasan oleh oknum juga. Misalnya, ketika melapor tentang kehilangan kendaraan ada oknum yang meminta uang jika ingin dicarikan. Jadi, orang berada dalam kondisi "sudah jatuh tertimpa tangga". Aparat yang diharapkan dapat membantu justru menambah kesulitan.

Belum lagi kerusakan moral anak-anak dan remaja yang seolah tidak diperhatikan oleh pemerintah. Suatu saat mereka akan menjadi orang dewasa. Dikhawatirkan mereka akan menjadi generasi penerus para kriminal. Anak SMP, SMA, pacaran di berbagai tempat. Apakah para orang tua tidak takut terjadi 'apa-apa' dengan anak mereka? Kita sering menemui berbagai kasus pemerkosaan bahkan oleh anak SMP. Itulah teror nyata yang dilakukan secara tidak langsung oleh pemerintah. Dengan kata lain, jika pemerintah memang peduli dan melakukan langkah-langkah pencegahan (mis. melarang pacaran) orang tua pun akan merasa tenang dan tidak takut.

Berapa banyak orang yang semakin sengsara oleh 'kebijakan yang tidak bijak' dari pemerintah? Ingat juga akibat yang ditimbulkan oleh koruptor kita. Jatah orang miskin sering diembat. Jadi, tak perlulah takut oleh ISIS yang tidak melakukan apa-apa terhadap kita. Apalagi sampai membuat tuduhan teroris. Kita berada di tengah teror pemerintah selama ini tapi tidak sadar. Ingat, tuduhan teroris kepada umat islam itu asalnya dari orang kafir. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang kafir yang justru menjadi musuh islam.
Andre Tauladan

Minggu, 07 Desember 2014

Agar tidak serampangan mengimplementasikan jihad

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Tulisan ini saya publikasikan untuk merespon pernyataan orang ini. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kehati-hatian agar ketika menemui pernyataan dari seseorang kita mau memikirkan terlebih dahulu. Dengan demikian, pernyataan orang tersebut akan membuat kita semakin rajin  beribadah dan bersemangat untuk berjihad dengan memperbaiki ibadah kita. Namun, syarat dan ketentuan berlaku. Syarat dan ketentuannya akan saya bahas di sini.

link status 

Apa yang disampaikan orang ini memang baik. Tetapi jika kita memahami lebih lanjut, tujuannya adalah menggembosi semangat jihad. Persis seperti yang disampaikan oleh Sh. Khalid Yasin, seorang ulama Amerika. Yang disampaikan olehnya sangat logis dan dapat diterima oleh akal.

Hal pertama yang ingin saya tekankan. Orang ini salah satu dari sekian banyak yang menganggap bahwa jihad hanya di Palestina.

Mari kita bahas.
Orang ini mengatakan agar kita tidak serampangan mengimplementasikan jihad. BENAR! Kita jangan serampangan. Namun, di negeri sekuler yang sangat anti dengan syari'at islam semacam Indonesia, apakah kita akan belajar tentang jihad kepada ulama su'u yang sudah menjadi budak para thaghut? Ketika thaghut penguasa melarang rakyat melawannya padahal dia berbuat zhalim, ulama su'u pun akan mengikuti perintahnya dan akhirnya rakyat akan terus berada di bawah pemerintahan zhalim dan jauh dari syariat Allah.

Para saudara kita yang telah berhijrah, pergi ke syam untuk bergabung dengan mujahidin. Sedangkan kelompok mujahidin di sana bukan orang yang serampangan mengamalkan jihad. Untuk terlibat dalam jihad, mereka diseleksi dan dibina dalam hal aqidah, akhlak, dan ilmu islam lain yang esensial. Apakah belum pernah sampai ke telinga orang ini pernah ada seorang amir di sana yang diberhentikan hanya karena ucapan yang tidak pantas kepada orang tua? Apakah tidak sampai juga kepadanya gambar-gambar mujahidin yang sedang shalat atau tilawah? Ataukah orang ini memiliki akses yang terbatas untuk membuka internet sehingga tidak tahu bagaimana pendidikan anak-anak di daulah islam? Saya rasa tidak.

Shalat yang bolong, tahajud yang jarang, tilawah yang 'edan eling', dan berbagai keburukan kita di negara ini dalam hal beragama tidak pernah menjadi 'beban pikiran' pemerintah. Bahkan, pemerintah cenderung membawa rakyatnya ke arah yang sekuler. Sederhanyanya, di negara ini dosa didukung, ibadah diterlantarkan. Sehingga, ketika seseorang tidak melakukan ibadah, berbuat dosa, orang itu akan cuek karena tidak ada yang mengingatkannya kecuali ustadz yang dekat dengannya, itu pun belum tentu berpengaruh. Peluang untuk berbuat dosa di negara ini sangat besar. Acara tv yang vulgar, kesempatan yang lebar untuk korupsi atau riba, juga minuman keras, rokok, dan narkoba sangat mudah didapat. Pacaran bisa bebas, pezina dipenjara sampai dibebaskan tetap dipuja, pencuri yang tertangkap dipenjara lalu setelah bebas bisa mencuri lagi. Andaikan seseorang sadar dan mau bertobat, dalam hitungan jam, hari, atau bulan dia bisa terjebak lagi dalam dosa.

Akan berbeda halnya jika kita berada di lingkungan mujahidin, khususnya yang memiliki 'kuasa' pemerintahan. Dalam hal ini contoh yang paling real adalah Daulah Islam ( IS / ISIS ). Di wilayah daulah islam, tidak akan ditemui orang yang sedang berpacaran, gambar-gambar vulgar, minuman keras, atau hal lain yang memudahkan seseorang berbuat dosa. Syari'at islam benar-benar ditegakkan. Bahkan sampai hal kecil pun ada hukumannya. Baru-baru ini diberitakan sebuah toko ditutup selama dua hari karena pemiliknya meninggalkan shalat berjama'ah. Masyarakat didakwahi tentang cara shalat, mengaji, aturan jual beli, akhlak kepada orang lain, dan aturan islam lainnya. Jika kita berada di tempat seperti itu untuk berbuat dosa akan sangat sulit, ibadah akan terjaga. Bukankan kita sama-sama tahu hadits nabi tentang sifat seseorang yang tergantung lingkungannya?

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Selama kita berada di lingkungan semacam Indonesia saat ini, sampai kapan kita akan dapat terlibat dalam Jihad yang orang ini katakan sebagai puncak agama? Kasihan sekali umat Islam yang ada di Indonesia yang tidak akan pernah merasakan nikmatnya mencapai puncak agama. Apakah kita akan berada di siklus beribadah-berbuat dosa-tobat, beribadah-berbuat dosa-tobat dan begitu seterusnya? Apakah kita tidak akan menyesal jika kita meninggal di tengah lingkungan penolak syari'at Allah tanpa sempat bertobat? Apakah kita tidak menginginkan adanya orang yang selalu mengingatkan ketika kita berbuat dosa?
Saya katakan juga TIDAK!

Orang ini mengatakan bahwa isu ISIS ini adalah pengalihan isu untuk menutupi kekalahan israel. Okelah, jika memang ini pengalihan isu. Tetapi, izinkan saya mengatakan bahwa ini adalah kabar gembira bagi umat muslim. Karena di belahan bumi lain, ada sekelompok orang yang sedang berusaha mengembalikan kejayaan Islam. Saat sebagian besar muslim di Indonesia hanya mampu berdemo untuk melawan kezhaliman pemerintah, tidak mampu melaksanakan syari'at sepenuhnya, usaha dengan 'masuk' di parlemen tak banyak membuahkan hasil, dan maksiat bertebaran di mana-mana. Muslim Indonesia menjadi golongan yang hina. Berada di bawah garis kemiskinan, sebagian besar tidak terdidik, dan menjadi budak hawa nafsu dan selalu dikendalikan oleh orang kafir. Namun, ISIS telah mampu mendeklarasikan khilafah dan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan syari'at Islam dalam semua aspek mulai dari kesehatan, pendidikan, jual beli, hukum, dsb. Para wanitanya dimuliakan, anak-anaknya dididik, kesehatan didukung, dan infrastruktur ditingkatkan. Rakyatnya berada dalam rahmat Allah. In syaa Allah. Contoh kecilnya, jika Rupiah saat ini tertekan oleh dolar Amerika, di wilayah Daulah Islam (masyarakat sebut ISIS) diberlakukan mata uang dinar yang tidak terpengaruh sama sekali oleh dolar.

Orang ini juga mengatakan bahwa "jika melihat dari senjata yang ada maka orang palestina tidak mungkin menang melawan Israel". Anda benar saudaraku. Semua terjadi atas kehendak Allah. Senjata hanya bagian dari ikhtiar dalam melawan zionis yahudi laknatullah a'aihim. Dengan logika itu, mari kita menilai dengan seimbang. Apa yang dialami oleh tentara ISIS juga demikian. Dengan persenjataan yang ada di sana, tidak mungkin mereka mendapatkan kemenangan dalam berbagai pertempuran. Segala kemenangan adalah bentuk rahmat Allah kepada orang-orang yang rela mati demi menjaga kemuliaan Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah. Dengan kenyataan itu, mari kita sepakat dengan pendapat bahwa tidak mungkin orang yang terlibat di sana adalah orang-orang yang serampangan mengamalkan jihad.

Kembali saya sampaikan, saya setuju dengan orang ini bahwa untuk mengamalkan jihad memang tidak boleh serampangan. Oleh karena itu kita harus berada di tengah orang-orang yang akidahnya lurus, yang mencintai Allah dan rasulNya, yang rela mati demi agama Islam, dan tidak terpengaruh oleh harta duniawi dan penguasa thaghut. Apakah di Indonesia bisa? Di belahan bumi manapun bisa. Di Indonesia ada kelompok mujahidin, di Filipina ada, di Pakistan ada, di Somalia ada, di mana pun ada. Kalaupun tidak berada di tengah mereka, berkumpullah dengan orang-orang yang mendukung mereka. Orang-orang yang cinta dengan jihad dan mujahidin. *Siapa tahu kita akan ketularan untuk bisa mencapai puncak agama. Jangan sampai kita menyesal di akhirat nanti. Firman Allah dalam Al Qur'an.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Terakhir, saya sampaikan pesan khususnya bagi diri saya pribadi. Kita hidup tidak hanya di dunia. Sebagai muslim kita harus meyakini adanya kehidupan akhirat. Lakukan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Jangan hanya mengejar kebaikan hidup di dunia tetapi membawa penyesalan di akhirat. Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang akan membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Sifat manusia akan selalu terbagi dalam dua sisi, ada baik dan buruk (jahat). Kita pasti akan menemui keburukan itu bahkan dalam diri orang-orang yang kerap disebut sebagai ulama. Kita ambil pelajaran dari peristiwa 'ulama yang korupsi', namun jangan kita tiru. Setidaknya peristiwa itu membuat kita lebih waspada dan berhati-hati dalam bergaul, memilih teman, atau mengikuti ulama mana yang baik dan akidahnya lurus.

Allahu a'lam bisshawwab.
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Andre Tauladan

Sabtu, 24 Mei 2014

Nitip

"Oy Bro, mau ke mana?"
"Ya ke masjidlah, kan udah adzan. Ente mau ikut?"
"Oh iya, ane nitip aja dah"

Bagi saya, obrolan seperti itu udah nggak aneh. Bingung juga sih, kok bisa-bisanya mereka menganggap remeh suatu kegiatan ibadah. Pengen banget jawab "iya nanti ane titipin salam ke malaikat Izrail". Tapi saya nggak bisa bilang gitu walaupun hanya bercada. Saya nggak berani bawa-bawa malaikat untuk bercanda, emangnya siapa saya? Berani-beraninya ngajak ngobrol sama malaikat, mau titip-titip salam segala.

Nitip.
Entah apa yang ada di pikiran mereka. Seolah-olah ibadah ini disamakan dengan kuliah yang (kadang) bisa nitip absen. Kesalahan mereka berlipat ganda. Satu, mereka tidak mendirikan salat. Dua, mereka bercanda dengan agama. Padahal, bercanda tentang agama adalah sesuatu yang dilarang. Tapi, jangankan untuk masalah gituan, ibadah yang wajib aja mereka abaikan.

Nitip.
Nitip ibadah? Ah, yang bener aja lu Don!. Enak banget ya? Ane yang ibadah, terus ente dapet pahala juga.
Ah, seandainya bisa, besok-besok ente yang kerja tapi gajinya buat ane ya? Ente olahraga tapi sehatnya buat ane juga dong. Ente yang makan tapi ane yang kenyang. Atau biar lebih enak, kalo ente punya anak, biar anak ente yang sekolah, tambahin biaya ekstra buat ikutan bimbel, habisin waktu malamnya buat belajar, biar ekstra mikir pas ujian, tapi nanti nilai ujiannya atas nama anak ane, pinternya buat anak ane. Terus kalo udah gede, biar anak ente yang ngelamar kerja, anak ane yang nempatin posisinya, anak ente yang kerja, anak ane yang dapet gajinya.

Mau???
Kalo nggak mau, lha kenapa ente nitip-nitip segala pas ane mau ibadah?

MIKIR!!!

mikir cak lontong

Andre Tauladan

Kamis, 03 April 2014

Antara 'Ngarab' dan Islam (respon atas pernyataan Gus Dur)


Ngha!
Saat ini minat menulis saya masih bertujuan untuk mengkritik. Sekarang giliran Gus Dur yang saya kritik. Tapi sebelumnya, saya sampaikan lagi bahwa alasan saya mengkritik seseorang bukan karena ketidaksukaan saya kepada orang itu, melainkan karena ketidaksukaan saya terhadap pernyataannya. Kemarin saya menuliskan kritik kepada Aa Gym berkaitan dengan analogi tukang parkirnya. Kali ini, yang saya kritik dari Gus Dur adalah pernyataannya tentang 'Ngarab' atau arabisasi.

Gus Dur adalah tokoh besar di kalangan NU. Gus Dur juga punya banyak pemikiran-pemikiran yang sangat berpengaruh terhadap orang-orang NU, pluralis, dan liberalis. Oleh karena itu setiap pernyataan Gus Dur biasanya dengan mudah akan diiyakan oleh para pengikutnya. Namun, karena saya bukan orang NU, bukan pluralis, bukan juga liberalis jadi saya tidak mudah terpengaruh oleh pemikirannya. Misalnya tentang pernyataan arabisasi-nya.

Gus Dur menyampaikan "Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan' jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi',... Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya." Tidak ada yang salah dalam pernyataan ini hanya saja saya khawatir jika kata-katanya dipahami saklek oleh pengikutnya. Bisa jadi kebudayaan leluhur seperti animisme atau kejawen akan lebih diutamakan oleh orang Jawa daripada budaya Islam. Setahu saya masyarakat umum masih banyak yang belum tahu mana yang budaya Islam dan mana yang budaya Arab. Contohnya, masih banyak yang menganggap kewajiban memakai kerudung bagi wanita adalah budaya Arab, padahal bagi orang Arab kerudung itu bukan kewajiban. Memakai kerudung adalah budaya Arab, tetapi juga kewajiban bagi muslimah. Jadi, walaupun suatu saat wanita Arab nanti semuanya tidak berkerudung, itu tidak akan menghilangkan kewajiban muslimah untuk berkerudung.

Hal lain yang saya khawatirkan adalah pernyataan Gus Dur akan mengurangi semangat orang-orang untuk belajar bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur'an. Saat ini fenomena yang terjadi di masyarakat adalah kurangnya minat belajar bahasa Arab. Malah ada sebagian masyarakat yang suka mengejek bahasa Arab dengan sebutan 'bahasa unta', 'bahasa tukang obat pinggir jalan', dan sebagainya. Sehingga yang terjadi adalah ketika seseorang melakukan shalat, mengaji, ataupun berdoa yang diucapkan tidak ada esensinya. Salah satu contoh akibat dari ketidaktahuan tentang bahasa Arab adalah dalam mengamini suatu do'a banyak orang yang mengucapkan 'amiin' sebelum doa selesai diucapkan. Misalnya ketika dibacakan doa nabi Adam A.S. di akhir suatu tausyiah, ketika ustadz baru membaca "rabbanaa" sudah ada jama'ah yang mengucapkan 'amiin', dilanjut 'zhalamnaa' kembali mengucapkan 'amiin' dan seterusnya di setiap potongan doa yang dibacakan ustadz banyak jama'ah yang langsung mengucapkan 'amiin'. Dalam pengucapan 'amiin' juga banyak yang salah, ucapan yang benar adalah 'aamiin', kesalahan-kesalahan ini terjadi karena ketidaktahuan mereka. Nah, jika masyarakat memahami apa yang disampaikan Gus Dur sebagai pernyataan bahwa kita jangan mempelajari bahasa Arab, maka kemungkinan besar masyarakat akan selalu salah dalam mengucapkan doa, bacaan shalat, ngaji, dan sebagainya.
"Pak, do'a yang bapak ucapkan barusan artinya apa pak?" tanya seorang anak.
"Ah, jangan banyak tanya, yang penting berdo'a, toh dari jaman nenek moyang juga begitu walaupun tidak tahu artinya" jawab bapaknya. 
*mungkin akan seperti itu jika kita hanya mengikuti apa kata leluhur tanpa belajar. 
Saya pribadi memahami apa yang dikatakan Gus Dur sebagai pernyataan bahwa kita belajar bahasa Arab tidak untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Hampir sama, kita belajar bahasa Inggris pun tidak untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan bahasa yang dipelajari itu bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. So, jangan parno belajar bahasa Arab, kita kan sehari-hari melakukan shalat, dalam shalat kita nggak mungkin pakai bahasa Jawa. Iya kan???
Andre Tauladan

Selasa, 01 April 2014

Jangan Seperti Tukang Parkir

link tweet https://twitter.com/aagym/status/110639476916760577
Setiap kehilangan bukan tanggung jawab kami
Aa Gym sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahw kita bisa belajar dari tukang parkir. Karena mereka nggak pernah sedih ketika mobil-mobilnya pergi. Mereka juga tidak sombong dengan banyak kendaraan. Mereka tidak takabur walaupun sering ganti kendaraan. Itu semua karena mereka yakin bahwa segalanya hanya titipan.

Dulu, saya cuma iya-iya saja. Saya cuma manggut-manggut sebagai tanda bahwa saya sepakat. Dulu saya tidak punya kendaraan sendiri, jadi tidak terlalu tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Tapi sekarang saya mengalaminya dan tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Sekarang saya tidak lagi sepakat dengan Aa. Ini bukan karena saya tidak suka Aa, tapi saya hanya ingin mengoreksi saja. Mengoreksi orang lain itu memang menyenangkan, walaupun saya sendiri tidak suka dikoreksi oleh orang yang tidak saya suka. Saya memang hobi mengkritik, kali ini giliran Aa yang mendapat kritik dari saya. No offense ya a.. :)

Kalimat yang saya kutip di awal postingan ini adalah kalimat yang umum tertulis pada tiket parkir. Walaupun pada beberapa tiket parkir yang lain terdapat kalimat yang berbeda tapi intinya sama saja, yaitu mereka tidak akan bertanggungjawab atas segala kehilangan atau kerusakan pada kendaraan kita. Itu artinya mereka tidak memiliki sifat amanah. Hal lain yang membuat saya berpendapat jangan seperti tukang parkir adalah karena mereka itu selalu meminta bayaran. Tentu saja mereka tidak akan sedih ketika mobil-mobil itu diambil sampai habis karena mereka mendapat bayaran. Jadi mereka itu bukan orang ikhlas. Malah, ada beberapa parkiran yang tidak friendly. Ada tukang parkir yang memberi gratis kepada orang yang dikenalnya, ini adalah tindakan nepotisme. Ada juga beberapa parkiran yang memberatkan orang yang parkir. Misalnya mereka tidak terima dikasih sedikit, mereka punya patokan sendiri. Yang lebih parah lagi adalah parkiran yang memberikan tenggang waktu, jika melebihi batas yang ditentukan maka akan ditambah beban biayanya. Sifat lain dari tukang parkir yang seperti ini adalah mereka ingin untung sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan kita tetapi jika kita kehilangan tiket parkir kita harus membayar lebih.

Kesimpulannya, tukang parkir itu tidak amanah, hanya bisa meminta, tidak mau memberi, rakus, dan ingin untung sendiri.

Sebagai makhluk, kita harus tahu diri. Pesan yang disampaikan oleh Aa memang baik. Kita harus sadar bahwa harya yang saat ini ada pada kita hanyalah titipan sehingga ketika kehilangan kita tidak akan merasa sedih. Kita harus menjadi manusia yang memiliki sifat amanah. Sifat ini harus disertai dengan sikap syukur. Orang yang bersyukur akan menggunakan apa yang dimilikinya di jalan Allah. Orang yang amanah dan bersyukur, akan menggunakan hartanya untuk kebaikan tapi ketika kehilangan ia tidak akan merasa sedih.

Ah... buntu. Segini aja deh tulisan saya kali ini. Intinya, saya setuju dengan pesan yang disampaikan Aa, tapi nggak sepakat dengan analoginya. Saya sendiri tidak tah analogi yang tepat. Ada pendapat?

Andre Tauladan

Kamis, 06 Maret 2014

Pelawak Legendaris Jojon Meninggal Dunia

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun.
jojon meninggal dunia

Kamis (6/3) menjadi hari duka dunia lawak / komedi Indonesia. Pasalnya, pelawak legendaris Jojon telah meninggal dunia. Pelawak bernama asli Djuhri Masdjan ini dikabarkan wafat karena sakit. Saat ini jenazah masih berada di RS di Jakarta Timur. Rencananya akan dimakamkan di Kebon Pedes Bogor, Jawa Barat. Dilihat dari berbagai sumber nampaknya berita kali ini benar. Jojon juga pernah diisukan meninggal dunia pada tahun 2010, tapi itu ternyata hanya isu belaka.

Jojon adalah seorang pelawak legendaris Indonesia dengan ciri khas penampilan bergaya nyentrik. Dia biasa tampil dengan celana menggantung dan kumis pendeknya yang mirip Charlie Chaplin.  Jojon mulai terkenal saat dia membentuk sebuah grup lawak bernama Jayakarta. Grup ini tadinya beranggotakan lima orang. Namun setelah kepergiannya kini, satu-satunya (mantan) anggota yang tersisa adalah H. Cahyono yang kini menjadi pemuka agama.
Andre Tauladan

Sabtu, 22 Februari 2014

Tuhan dan Miras

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Seperti disebutkan di laman Sekretariat Kabinet, Rabu (1/1/2014), dengan Perpres tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa minuman beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri atau asal impor yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar sampai dengan 5 persen ke atas sebagai barang dalam pengawasan. (kompas)

Miras sekarang semakin menjadi barang yang memasyarakat. Buktinya, hampir di setiap minimarket seperti Alfamart dan Indomaret kini tersedia miras. Kedua minimarket tersebut saat ini sudah merambah kecamatan-kecamatan di berbagai kabupaten. Barang haram ini dipajang di lemari pendingin, setiap pengunjung bebas untuk membelinya. Buat saya sih nggak aneh, hal tersebut terjadi karena ada sebab dan akibat. Suatu barang bisa terus beredar di pasaran karena ada permintaan dan penawaran. Simpelnya, barang itu ada di masyarakat karena masayarakatnya senang mengonsumsinya dan masyarakat menjadi senang mengonsumsinya karena barang tersebut ada di pasaran.
tewas miras oplosan

Keberadaan barang haram di pasaran juga nggak lepas dari peran pemerintah. Pemerintah memang nggak konsisten. Narkoba saja dilarang peredarannya sedangkan miras diperbolehkan padahal sama-sama haramnya. Mestinya jika narkoba dilarang maka miras pun dilarang, sebaliknya jika miras boleh maka narkoba pun harusnya boleh. Dalam penanganan narkoba, baik pengedar, produsen, dan pembeli semuanya kena jerat hukum. Jika begitu maka seharusnya pemakai, penjual, dan produsen miras pun harus kena jerat hukum. Namun sayangnya, mau dihukum gimana kalo mirasnya saja diperbolehkan. Parahnya, presiden menetapkan Perpres itu atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Ngomong-ngomong, tuhannya siapa yang ngebolehin miras ya?

Dalam kasus ini, saya dengan pemikiran sendiri menyatakan bahwa tuhannya si presiden adalah Amerika. Sulit memang menerimanya, karena dia di KTPnya tercantum agama Islam, dia juga kadang shalat, jadi mungkin masih bisa dianggap sebagai muslim. Tapi di dalam hatinya mah nggak tahu gimana pendiriannya. Cuma, saya mah lihat prakteknya aja. Dengan ketidaktahuan saya, saya coba 'ngecablak' seenaknya bahwa produsen miras itu banyak dari Amerika. Ah, Circle-K juga punya Amerika kan ya? Lawson juga? Iya kan?

Hm.. Kalo salah, yah... peduli amat. Presiden juga gak peduli ama gue kalo soal ginian mah. Kecuali kalo gue posting foto gue lagi nginjek foto presiden baru dah dia peduli. :p

Korban tewas miras oplosan di tegal
Korban tewas miras oplosan di mojokerto
Korban tewas miras oplosan di Jawa timur
Korban tewas miras oplosan di bekasi
Korban tewas miras oplosan di bali

Masih banyak lagi kasus dari miras bro.. Buka mata lu bro.. masa harus gua colok sih mata lu.

Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates