Rabu, 29 April 2015

Ekstrimis, Kumpeni, dan Pelanggaran Perjanjian

Menengok kejadian masa lalu dari beberapa film perjuangan jaman dulu memberikan saya sedikit pemahaman tentang perilaku orang kafir (penjajah Belanda) yang saat ini sedang ditiru oleh pemerintah Indonesia. Perilaku mereka yang paling mencolok adalah selalu melanggar perjanjian dan menjuluki pejuang sebagai ekstrimis. Kejadian ini persis dengan yang terjadi saat ini. Sifat-sifat orang kafir yang busuk itu seolah tidak pernah hilang dan justru menular ke sebagian orang islam.

Dalam film Kereta Api Terakhir, diceritakan bahwa Kumpeni (Belanda) telah melanggar perjanjian Linggar Jati lalu mereka melanjutkan serangan ke rakyat Indonesia. Lalu, dalam film Janur Kuning diceritakan Kumpeni melanggar perjanjian Renville dan terus menyerang rakyat Indonesia. Ada satu hal yang unik dalam film Janur Kuning. Ada adegan ketika Kumpeni menyiarkan melalui radio bahwa tentara Indonesia itu tidak ada, yang ada hanyalah ekstrimis-ekstrimis yang melakukan berbagai tindakan kejahatan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Tentara republik dianggap sebagai ekstrimis atau gerombolan yang selalu melakukan perampokan dan pembunuhan yang membuat penduduk menjadi gelisah. Bagi orang-orang bodoh, pengumuman Kumpeni itu dianggap sebagai kenyataan. Namun, orang-orang cerdas pasti tahu bahwa itu hanya fitnah yang disampaikan agar rakyat membenci tentara. Dalam pengumuman itu juga Kumpeni mengatakan akan meminta bantuan PBB untuk menumpas gerombolan-gerombolan dan kaum ekstrimis.

Keadaan ini kembali berlaku, namun bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Munculnya gerakan mujahidin daulah islam yang telah mendirikan khilafah dianggap sebagai ekstrimis yang selalu mengacau. Anggapan itu awalnya muncul dari kafirin salibis Amerika yang kemudian menular ke sebagian orang islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang-orang bodoh yang menganggap pengumuman kafirin itu adalah kenyataan. Orang-orang yang sebenarnya adalah mujahidin dianggap sebagai pengacau yang dituduh melakukan perampokan, pembunuhan (kepada rakyat), dan tindakan kriminal lainnya. Namun, masih ada orang-orang cerdas yang tahu bahwa itu hanyalah fitnah belaka.

Sifat buruk lain dari orang-orang kafir adalah selalu melanggar perjanjian. Namun, rupanya masih ada orang-orang Islam yang mau 'berdamai' di atas berkas perjanjian yang kemungkinan besar akan dilanggar oleh orang kafir. Entah sudah berapa kali perjanjian damai antara Palestina dengan Israel dilakukan tetapi selalu berlanjut dengan pelanggaran perjanjian. Sayangnya, masih banyak umat islam yang masih ingin melakukan perdamaian dengan orang-orang kafir untuk mencapai kedamaian yang semu. Umat Islam saat ini sebenarnya sedang dijajah. Namun, bentuk penjajahannya bukan dengan cara kuno. Diterapkannya demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap umat Islam. Orang kafir tidak perlu mengirimkan tentara untuk menghancurkan negeri ini karena negeri ini akan hancur dengan sendirinya jika masih menerapkan demokrasi yang menempatkan aturan buatan manusia di atas aturan yang ditetapkan oleh Allah.


Andre Tauladan

Selasa, 21 April 2015

Infopurwokerto.info Persembahan Dari Seorang Tunanetra

Setiap orang pasti akan mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Di antara sekian banyak orang ada yang diuji dalam bentuk musibah, kesengsaraan, kemiskinan, atau ujian dalam bentuk fisik. Misalnya keterbatasan dalam penglihatan atau lebih sering disebut dengan tunanetra. Namun, bagi orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, ujian seperti itu tidak akan menghalangi mereka untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Mereka juga tetap memiliki keinginan untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang normal. Di antaranya adalah berbagi informasi dengan orang lain melalui internet.

Salah satu situs yang dikelola oleh tunanetra adalah www.infopurwokerto.info. Situs ini dikelola oleh Ardynal Purbowo. Berbeda dengan situs milik tunanetra lain yang cenderung berisi cerita pengalaman pribadi, situs ini berisi informasi umum seputar Purwokerto. Sang pengelola situs menuturkan bahwa situs tersebut memang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin tahu Purwokerto. Situs ini dipublish sejak tahun 2014. Tampilannya memang sederhana, tidak terlalu banyak menggunakan script sehingga membuat waktu loadingnya pun cepat.

Mengapa saya tertarik mereview situs ini? Karena pagi ini, tadi banget saya baru sarapan bubur ayam di depan lapangan Gemplang. Apa hubungannya? Hubungannya adalah saya bukan orang Purwokerto asli, pagi ini saya ingin sarapan dan ketika melakukan pencarian di Google saya menemukan situs ini. Dari situs ini saya akhirnya dapat menemukan tempat sarapan yang enak. Dari informasi tersebut saya berlanjut ke artikel-artikel lainnya di situs ini hingga akhirnya saya tahu bahwa pengelola (pemilik) situs tersebut adalah seorang tunanetra.

Di situs ini juga pengelola memberikan informasi seputar ongkos transportasi, harga bahan dasar makan, harga makanan jadi, dan beberapa lokasi penting di Purwokerto. Misalnya, lokasi rumah sakit, poliklinik, tempat makan, bank, dan kantor pos. Memang informasi seperti itu bisa didapatkan dari situs lain. Namun yang membuat saya kagum adalah kerja keras sang pemilik situs dalam berbagi informasi dalam keadaannya yang terbatas. Dia memang memiliki keterbatasan penglihatan, namun dia yang menuntun saya untuk bisa berjalan di Purwokerto ini. Singkatnya, dilihat dari sudut pandang wawasan tentang Purwokerto sebenarnya saya yang buta, bukan dia.

Keterbatasan bukan halangan untuk berbuat baik.

Andre Tauladan

Kamis, 16 April 2015

Mau sampai kapan?

Siang ini lagi-lagi saya kepikiran buat nulis tentang perilaku masyarakat yang nggak taat aturan. Sebabnya, tadi saya melihat orang menyeberang sembarangan padahal ada zebra cross tak jauh dari tempat dia menyeberang. Tanpa bertanya apa alasan mereka melanggar peraturan, saya berasumsi bahwa mereka melakukannya karena 'sudah biasa'. Mungkin ada di antara mereka yang melakukannya karena kepepet. Yah, itu mah dimaklum aja deh. Yang mau saya bahas di sini adalah yang 'sudah biasa'. Dari kebiasaan itu muncul pertanyaan 'mau sampai kapan?'

Kalo ngebahas soal perilaku melanggar saya sering keingetan 'lingkaran setan'. Lingkaran setan yang saya maksud adalah budaya saling menyalahkan. Contohnya, jumlah tempat sampah yang tersedia di lingkungan saya tinggal terbilang sedikit. Dari keadaan itu timbullah fenomena lingkaran setan. Masyarakat (yang kesadarannya kurang) membuang sampah sembarangan dengan dalih tidak ada tempat sampah. Pemerintah juga (yang putus asa) tidak lagi menyediakan tempat sampah dengan dalih disediakan tempat sampah pun masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi, masyarakat dan pemerintah saling menuduh siapa yang salah. Tidak ada yang mau sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya. Semestinya pemerintah menyediakan tempat sampah walaupun masyarakat masih banyak yang tidak sadar. Masyarakat juga seharusnya sadar jika tidak ada tempat sampah yang dekat, tahanlah, jangan buang sembarangan.

Fenomena lingkaran setan seperti itu tidak pernah usai. Akibatnya masyarakat terbiasa melakukan pelanggaran. Dari kebiasaan satu orang menular ke orang lain hingga semakin banyak orang yang melakukan pelanggaran. Dari pelanggaran banyak orang kemudian muncul orang-orang 'baru' yang mencoba melanggar dengan menganggap bahwa pelanggaran itu benar. Dalam sebuah acara tv bertema kegiatan polisi menampilkan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas. Banyak di antara pelanggar itu menolak ditilang dengan alasan 'biasanya lewat sini tidak apa-apa'.

Memang sulit jika masih tidak ada kesadaran dalam diri masing-masing untuk menaati peraturan. Sebesar apapun usaha petugas menegakkan aturan, akan selalu ada pelanggaran. Ketika peringatan tidak diindahkan, pemerintah mencoba menerapkan aturan denda. Ketika denda pun tidak mempan, diambillah tindakan tegas. Namun, tindakan tegas itu malah dianggap tidak berbelas kasih. Entah mau sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut.
Andre Tauladan

Rabu, 08 April 2015

⇨JANGANLAH BERSIKAP SOMBONG⇦

Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab
"Siapa dulu doonk...ini kan semua berkat usaha keras saya"
"Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain."
Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah. Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?

Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong.
Pengertian sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain.
Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkanorang lain. Padahal Allah telah melarang kita dlm firmanNya:
QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya.
Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka Sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah(biji sawi) Laa haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan SOMBONG
Eits.. tunggu dulu....
Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain.
Bahkan Allah menantang kita dlm firmanNya :
QS. Al Isra’ {17}:37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dgn sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
"Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuatu. Bukankah begitu ?
Begitu saja kok sombong. Oleh karena itu seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi. Ingatlah kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Rabb semesta alam ini.....
Siapakah diri kita...???
Wallohu A'lam bi shawab...
Smoga bermanfaat
Andre Tauladan

Senin, 06 April 2015

Mungkin Karena Indonesia Bukan Negara Islam

Lagi-lagi terlintas pikiran iseng yang ada hubungannya dengan tema ini. Indonesia Bukan Negara Islam. Kalimat yang sering sekali ditemui di kehidupan masyarakat yang notabene banyak sekali penduduk muslimnya. Sedih memang sedih. Ulama-ulama hanya bisa memberikan dakwah baik melalui lisan maupun tulisan yang disajikan di media cetak dan media elektronik. Tak terlalu besar pengaruhnya. Keadaan seperti ini saja masih banyak yang belum menyadari bahwa dari sekian banyak ulama ada di antara mereka yang memiliki kepentingan duniawi. Entah itu untuk popularitas atau materi. Yah, keadaan di Indonesia ini jauh dari nilai islami mungkin karena INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM.

Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang pacaran dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang berzina dimaklumi.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang mencuri dipenjara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat toko tetap buka.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat transaksi tetap berlanjut.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi sholat-nggak sholat nggak masalah.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bulan ramadhan nggak puasa nyantai aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pamer aurat dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi iklan di media ngumbar aurat.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masjid banyak yang kosong.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pemerintah bohong dibiarin aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak perlu dipake.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak cocok.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi boleh bikin aturan baru.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi orang kafir boleh jadi pemimpin.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi perjudian diizinkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi miras boleh beredar.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi menzhalimi orang lain via asap rokok dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mau pake jilbab aja nunggu izin komandan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi zakat bukan tanggung jawab negara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pernikahan dipersulit.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek syirik tidak dimusnahkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi dukun bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mencela orang juga bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bencong dan banci (sama aja hehe) berkeliaran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bisa akur sama amiriki dan iran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masalah jihad dianggap radikal.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek dari Al Qur'an dan sunnah harus dipilih-pilih yang sesuai UUD '45 dan Pancasila, yang nggak sesuai jangan dipraktekkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi syari'at islam tidak boleh ditegakkan.
Yah, itu hanya kemungkinan saja.
Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates