Tampilkan posting dengan label kehidupan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label kehidupan. Tampilkan semua posting

Minggu, 09 April 2017

Temanmu Masih Pacaran?

Ada seorang teman yang bertanya kepada saya, "Kang Andre, gimana ya cara nyadarin temen biar dia tau kalo pacaran itu haram? Saya ada teman yang suka pacaran, sudah sering saya beritahu tapi dia tidak sadar juga"

Sahabat muslim yang saya cintai karena Allah, perkara menyadarkan seorang teman dari sebuah perbuatan maksiat itu termasuk dakwah. Dalam dakwah kita hanya diperintah untuk menyampaikan dan tidak dibebani untuk memberi hidayah. Urusan hidayah itu mutlak kehendak Allah. Hampir sama dengan urusan dakwah lainnya, menyadarkan seseorang yang sudah terbiasa pacaran memang belum tentu mudah, tergantung siapa orangnya. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai memahami karakter seseorang. Ada orang yang dapat menerima dakwah dengan mudah, ada juga sudah berkali-kali diingatkan namun seperti tidak ada pengaruhnya.

Dalam menyadarkan seseorang tentang larangan pacaran, setidaknya kita harus memahami dua hal. Pertama, kita harus memahami dasar larangan tersebut dengan kata lain kita harus tahu ilmunya. Sebelum menyampaikan kepada teman anda, coba anda pelajari dahulu apa saja dalil-dalil yang melarang pacaran dan bagaimana fenomena di masyarakat akibat pacaran. Jika dia tidak mempan oleh dalil, mungkin dia bisa mempan oleh logika. Walaupun begitu, kita juga harus siap jika orang yang kita dakwahi membantah dengan 1001 alasan. Oleh sebab itu, sebelum kita mendakwahinya kita harus tahu juga apa saja alasan orang pacaran dan bagaimana jawaban yang benar terhadap alasan itu. Orang yang suka melakukan dosa biasanya lebih pandai dalam beralasan, jika kita tidak dapat memberikan jawaban yang tepat bisa-bisa justru kita yang diceramahi olehnya. Kalaupun kita tidak terlalu menguasai atau memahami dasar-dasar larangan pacaran, kita bisa memberikan materi-materi tentang hal tersebut kepadanya.

Kedua, kita harus memahami cara yang tepat untuk menghadapi orang yang kita dakwahi. Kita harus bisa mendekatinya sedekat mungkin agar tahu betul bagaimana karakternya. Gunakanlah cara yang baik, bukan menghakimi atau menggurui. Bersikap baiklah kepadanya, ingat kawan dakwah itu lembut. Cari celah di mana anda bisa mendapatkan simpatinya, tunjukkan bahwa anda peduli padanya. Sampaikan kepadanya bahwa ketika kita mengingatkan larangan pacaran kepadanya berarti kita tidak ingin dia terjerumus ke dalam perbuatan dosa.

Coba kita fikirkan betul-betul dua hal tadi sebelum menasihati teman kita yang suka pacaran. Selain itu, kita juga harus tetap rendah hati padanya jangan ada rasa sombong seolah kita lebih mengerti tentang islam daripada teman kita. Kita juga harus sadar betul bahwa kita memiliki kekurangan dan tidak pernah luput dari perbuatan dosa. Oleh karena itu pandai-pandailah menjaga diri dari perbuatan dosa lainnya. Teman kita juga pasti akan melihat bagaimana perilaku kita, jika kita tidak mampu menjaga diri dari perbuatan dosa yang lain, teman kita bisa mencap munafik. Sebagai manusia biasa kita bukanlah orang yang sempurna, ada kelebihan dan kekurangan. Dalam satu hal kita menasihati orang lain, namun dalam hal lain kita bisa meminta nasihat dari orang lain. Tetaplah jaga ukhuwah, jangan sampai menyinggung atau menyakiti hati saudara kita.

Terakhir, kembali saya tekankan bahwa hidayah adalah mutlak kehendak Allah. Jika kita sudah berusaha maksimal untuk menasihati teman kita, jangan lupa berdo'a kepada Allah agar Dia menyadarkan teman kita. Bertawakkallah padaNya. Jika suatu saat teman kita mendapat hidayah dan berhenti pacaran, jangan merasa berjasa padanya. Dukung dan bimbinglah mereka agar tidak mudah kembali lagi ke jalan yang salah di suatu saat. Namun, jika teman kita tidak mendapat hidayah tidak usah berkecil hati. Tetaplah sampaikan kebenaran, sampaikan kepada teman anda yang lainnya. Mungkin saja satu teman tidak mau sadar, tetapi teman yang lain bisa tersentuh hatinya.

"OK, terimakasih Kang Andre, semoga saya bisa istiqomah dalam jalan dakwah."
"Sama-sama, barakallahu fiikum."
Andre Tauladan

Minggu, 26 Maret 2017

Yang halal bikin heboh, yang haram biasa saja

Hm... lama nggak posting ya???

rokim - tampi - madiun

Beberapa hari yang lalu sempat viral (ramai) berita tentang seorang pemuda 24 tahun yang menikahi seorang janda 67 tahun. Berbagai respon muncul dari masyarakat kita. Mulai dari respon positif, nyeleneh, sampai yang negatif. Beberapa orang menyatakan salut karena sang pemuda mau menerima wanita yang dinikahinya dalam kondisi apa adanya. Komentar lain terlontar dari para jomblo yang bertahun-tahun tidak punya pacar, menikah pun tidak. Sedangkan segelintir orang berpikiran negatif bahwa sang pemuda menikahi janda karena tergiur hartanya, padahal kenyataannya mereka berdua hidup dalam keadaan yang jauh dari status mewah. Terlepas dari apapun komentar mereka, saya melihat masyarakat kita lebih mudah merespon sesuatu yang halal tetapi tidak umum, daripada yang haram padahal sudah umum.

Cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Namun, ada hubungan cinta yang halal, ada juga yang haram. Bagaimanapun juga, hubungan antara dua orang yang usianya terpaut cukup jauh yang sempat viral tadi adalah sesuatu yang halal, karena mereka menikah sesuai dengan aturan yang ada dalam agama. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak perlu disikapi dengan heboh pula. Di sisi lain, terdapat fenomena keharaman yang seharusnya mendapat respon lebih serius. Kira-kira fenomena apakah itu?

Pacaran. Ya! Pacaran adalah hubungan cinta antara dua insan yang terjalin yang seharusnya ditinggalkan. Bukan masalah cintanya, tetapi ikatannya. Miris memang, fenomena ini justru dianggap biasa oleh masyarakat kita. Teman-teman ada yang masih jomblo? (adaaaaaa.....). Tidak perlu malu menjadi jomblo, in syaa Allah itu lebih baik daripada punya pacar.

Ada satu hal yang sangat aneh di kalangan masyarakat kita. Sebut saja keluarga A, punya anak gadis yang sudah masuk usia 21 tahun. Gadis ini sudah pacaran kurang lebih tiga tahun. Singkat cerita, pacar si gadis datang untuk melamar tetapi ditolak karena sang Ayah menganggap si pemuda tadi kurang mapan. Dari kisah singkat ini dapat disimpulkan bahwa sang Ayah lebih rela anaknya dipacari daripada dinikahi. Kisah seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Fenomena lainnya adalah pelacuran. Telinga kita pasti sudah sangat familiar dengan kata "Om-om". Setiap kali mendengar atau membaca kata "om-om" biasanya pikiran kita langsung beranggapan negatif. Kata "om-om" sering diartikan sebagai bapak-bapak hidung belang yang kalau "jalan-jalan" selalu bawa perempuan, dan perempuan yang diajak "jalan-jalan" oleh "om-om" itu biasanya yang masih muda, entah itu usia SMA atau kuliahan. Sekali lagi, masyarakat kita tidak heboh dengan fenomena ini.

Uraian yang saya sampaikan diatas perlu menjadi perhatian kita, khususnya umat muslim. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang itu. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim masih belum bisa mencegah budaya pacaran, bahkan hingga anak SD pun sekarang sudah banyak yang pacaran. Bagi para orang tua, sangat penting menanamkan nilai-nilai islam kepada anaknya, dan jika anaknya sudah sampai usia ideal untuk menikah sebaiknya dipermudah karena itu bagian dari ibadah, bukan justru dipersulit dengan setumpuk syarat yang akhirnya membebani orang yang melamarnya.
Andre Tauladan
Andre Tauladan

Senin, 30 November 2015

Rehabilitation of the Disabled by The IS

[SyamToday] Daulah Khilafah Islamiyyah wilayah Jazirah merilis video “Rehabilitation of the Disabled” yang berisi program rehabilitasi bagi mujahidin Khilafah yang terluka dan cacat dalam pertempuran. Khilafah membiayai seluruh kesehatan dan kebutuhan dia dan keluarganya. Link video atau video








Andre Tauladan

Sedikit bercanda


pic : http://www.slideshare.net/khomsyasholikha/jangan-asal-bercanda
Umar berkata, ”Barangsiapa yang banyak tertawa maka sedikit kemuliaannya, barangsiapa yang bercanda maka dia akan diremehkan.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Bertakwalah kepada Allah dan waspadalah terhadap canda. Sesungguhnya canda dapat mewariskan kedengkian dan membawanya kepada keburukan.”

Imam Nawawi di dalam kitabnya itu mengatakan bahwa para ulama berkata, ”Sesungguhnya canda yang dilarang adalah yang kebanyakan dan berlebihan karena ia dapat mengeraskan hati dan menyibukkannya dari dzikrullah dan menjadikan kebanyakan waktu untuk menyakiti, memunculkan kebencian, merendahkan kehormatan dan kemuliaan.“

Adapun canda yang tidak seperti demikian maka tidaklah dilarang. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit melakukan canda untuk suatu kemaslahatan, menyenangkan dan menghibur jiwa. Dan yang seperti ini tidaklah dilarang sama sekali bahkan menjadi sunnah yang dianjurkan apabila dilakukan dengan sifat yang demikian. Maka bersandarlah dengan apa yang telah kami nukil dari para ulama dan telah kami teliti dari hadits-hadits dan penjelasan hukum-hukumnya dan hal itu karena besarnya kebutuhkan terhadapnya. wa billah at Taufiq.
(Fatawa al Azhar juz X hal 225)

Wallahu A’lam.
Andre Tauladan

Minggu, 29 November 2015

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak


Al-Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh mengatakan,

“Betapa banyak orang yg mencelakakan anaknya –Belahan hatinya– di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka .

Orangtua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya . Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak , padahal sejatinya dia telah menghinakannya.

Bahkan dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian.

Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya . Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat.

Apabila engkau meneliti kerusakan yg terjadi pada anak , akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orangtua.”
(Tuhfatul Maudud hlm. 351)

Beliau rohimahulloh menyatakan pula,

“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yg bersumber dari orangtua , dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya .

Orangtua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia.

Ketika sebagian orangtua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab ,

‘Wahai Ayah…
engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil , maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia . Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.”
(Tuhfatul Maudud hlm. 337)

(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdulloh bin Abdirrohim al-Bukhory hafizhohulloh)
Andre Tauladan

Kamis, 02 Juli 2015

Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang

*Nyanyi.
Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang
Dulu disayang sekarang kau ditendang
Dulu dulu dulu dulu kau pejuang
Sekarang engkau sobat Iran

Jadi ceritanya, hari ini di TL twitterku lagi banyak nyoalin HAMAS.
Jujur, aku DULU PERNAH suka sama HAMAS.
PERNAH!
Tapi, yah, Hamas yang dulu bukanlah yang sekarang.Aku yang dulu juga bukan yang sekarang.
Udah ah. Biar gambar sama video aja yang berbicara. *sumber lain nyusul

Aduh Mesranya....

Dialog dulu sama Bos Iran



Mmmmmuach...... hehehe...
Peaceful Power Sharing? Even with the filthy shia?

Oh, Yes! You're So Islam-Christianic.

Wow! May be someday the primitive will exist in their ranks.

Komplit



Ternyata Pemimpin Hamas Memuji Iran dan Khomeini
Berikut ini adalah bukti nyata tentang persahabatan HAMAS dan IRAN, pemimpin hamas tersebut mengucapkan terima kasih kepada Iran, hizbullah dll bahkan pemimpin hamas tersebut memuji Khomeini yaitu sang pencela kehormatan Ummul Mukminin.Lalu bagaimana bisa Palestina terkhusus GAZA akan menang sedangkan HAMAS berhianat dan berteman dengan IRAN yang merupakan sahabat karip yahudi.Dan hari ini pendukung HAMAS sangat benci bahkan tidak suka dengan DAWLA ISLAMIYAH, bahkan menfitnah dengan fitnah yang kejam dengan mengatakan DAWLA ISLAMIYAH antek IRAN, YAHUDI dll.Maka saksikanlah wahai kaum muslimin,saksikanlah siapa yang ANTEK SYIAH dan siapa yang memperjuangkan Islam dan kaum ahlu sunnah dengan jiwa,harta dan darah.Saksikanlah jika HAMAS bersatu dengan kaum yang menghina kehormatan Ummul Mukminin, Khalifah Abu Bakr ash-shidiq, Umar dan Usman R.A.
Posted by Gerakan Anti Pembohong on Thursday, March 12, 2015
Andre Tauladan

Senin, 29 Juni 2015

Damai? Coba Fikir Lagi Pak!

Lagi-lagi Om WhaPhres bikin pernyataan yang ngaco. Om WhaPhres menyatakan bahwa umat Islam Indonesia patut bersyukur karena dapat berpuasa dengan damai. Ya, kalo memang yang dimaksud adalah bisa puasa tanpa ada konflik, serangan bom, atau perang memang benar. Tapi benarkah umat Islam Indonesia bisa berpuasa dengan damai?

Suasana berpuasa di Indonesia memang tidak ada konflik atau perang, tetapi 'godaan'nya tetap ada. Godaan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat yang tidak terbatas. Di bulan ramadhan banyak orang yang berpacaran, wanita berpakaian ketat, aurat yang terbuka, dan banyak orang yang tidak berpuasa makan dengan bebas. Dengan keadaan seperti itu mustahil orang bisa berpuasa dengan tenang, kecuali orang yang diam di masjid dari subuh sampai petang.

Selain itu masih banyaknya anak-anak yang bermain petasan, sungguh tidak membuat tenang. Om WhaPhres juga nampaknya tidak tahu acara-acara TV di bulan Ramadhan banyak yang sangat merusak ibadah shaum. Mungkin jika puasa yang dimaksud oleh si Om adalah puasa yang hanya menahan lapar dan haus sih iya. Tapi puasa kan menahan yang lain juga.
Do And Donts Ramadhan

Di negara endonesah ini bukan ibadah yang bisa dilaksanakan dengan tenang, tapi maksiat. Jadi, Republika sebaiknya ganti judul artikel itu jadi "Umat Islam Indonesia bisa melakukan maksiat dengan damai".
Andre Tauladan

Rabu, 29 April 2015

Ekstrimis, Kumpeni, dan Pelanggaran Perjanjian

Menengok kejadian masa lalu dari beberapa film perjuangan jaman dulu memberikan saya sedikit pemahaman tentang perilaku orang kafir (penjajah Belanda) yang saat ini sedang ditiru oleh pemerintah Indonesia. Perilaku mereka yang paling mencolok adalah selalu melanggar perjanjian dan menjuluki pejuang sebagai ekstrimis. Kejadian ini persis dengan yang terjadi saat ini. Sifat-sifat orang kafir yang busuk itu seolah tidak pernah hilang dan justru menular ke sebagian orang islam.

Dalam film Kereta Api Terakhir, diceritakan bahwa Kumpeni (Belanda) telah melanggar perjanjian Linggar Jati lalu mereka melanjutkan serangan ke rakyat Indonesia. Lalu, dalam film Janur Kuning diceritakan Kumpeni melanggar perjanjian Renville dan terus menyerang rakyat Indonesia. Ada satu hal yang unik dalam film Janur Kuning. Ada adegan ketika Kumpeni menyiarkan melalui radio bahwa tentara Indonesia itu tidak ada, yang ada hanyalah ekstrimis-ekstrimis yang melakukan berbagai tindakan kejahatan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Tentara republik dianggap sebagai ekstrimis atau gerombolan yang selalu melakukan perampokan dan pembunuhan yang membuat penduduk menjadi gelisah. Bagi orang-orang bodoh, pengumuman Kumpeni itu dianggap sebagai kenyataan. Namun, orang-orang cerdas pasti tahu bahwa itu hanya fitnah yang disampaikan agar rakyat membenci tentara. Dalam pengumuman itu juga Kumpeni mengatakan akan meminta bantuan PBB untuk menumpas gerombolan-gerombolan dan kaum ekstrimis.

Keadaan ini kembali berlaku, namun bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Munculnya gerakan mujahidin daulah islam yang telah mendirikan khilafah dianggap sebagai ekstrimis yang selalu mengacau. Anggapan itu awalnya muncul dari kafirin salibis Amerika yang kemudian menular ke sebagian orang islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang-orang bodoh yang menganggap pengumuman kafirin itu adalah kenyataan. Orang-orang yang sebenarnya adalah mujahidin dianggap sebagai pengacau yang dituduh melakukan perampokan, pembunuhan (kepada rakyat), dan tindakan kriminal lainnya. Namun, masih ada orang-orang cerdas yang tahu bahwa itu hanyalah fitnah belaka.

Sifat buruk lain dari orang-orang kafir adalah selalu melanggar perjanjian. Namun, rupanya masih ada orang-orang Islam yang mau 'berdamai' di atas berkas perjanjian yang kemungkinan besar akan dilanggar oleh orang kafir. Entah sudah berapa kali perjanjian damai antara Palestina dengan Israel dilakukan tetapi selalu berlanjut dengan pelanggaran perjanjian. Sayangnya, masih banyak umat islam yang masih ingin melakukan perdamaian dengan orang-orang kafir untuk mencapai kedamaian yang semu. Umat Islam saat ini sebenarnya sedang dijajah. Namun, bentuk penjajahannya bukan dengan cara kuno. Diterapkannya demokrasi di Indonesia adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap umat Islam. Orang kafir tidak perlu mengirimkan tentara untuk menghancurkan negeri ini karena negeri ini akan hancur dengan sendirinya jika masih menerapkan demokrasi yang menempatkan aturan buatan manusia di atas aturan yang ditetapkan oleh Allah.


Andre Tauladan

Selasa, 21 April 2015

Infopurwokerto.info Persembahan Dari Seorang Tunanetra

Setiap orang pasti akan mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Di antara sekian banyak orang ada yang diuji dalam bentuk musibah, kesengsaraan, kemiskinan, atau ujian dalam bentuk fisik. Misalnya keterbatasan dalam penglihatan atau lebih sering disebut dengan tunanetra. Namun, bagi orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, ujian seperti itu tidak akan menghalangi mereka untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Mereka juga tetap memiliki keinginan untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang normal. Di antaranya adalah berbagi informasi dengan orang lain melalui internet.

Salah satu situs yang dikelola oleh tunanetra adalah www.infopurwokerto.info. Situs ini dikelola oleh Ardynal Purbowo. Berbeda dengan situs milik tunanetra lain yang cenderung berisi cerita pengalaman pribadi, situs ini berisi informasi umum seputar Purwokerto. Sang pengelola situs menuturkan bahwa situs tersebut memang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin tahu Purwokerto. Situs ini dipublish sejak tahun 2014. Tampilannya memang sederhana, tidak terlalu banyak menggunakan script sehingga membuat waktu loadingnya pun cepat.

Mengapa saya tertarik mereview situs ini? Karena pagi ini, tadi banget saya baru sarapan bubur ayam di depan lapangan Gemplang. Apa hubungannya? Hubungannya adalah saya bukan orang Purwokerto asli, pagi ini saya ingin sarapan dan ketika melakukan pencarian di Google saya menemukan situs ini. Dari situs ini saya akhirnya dapat menemukan tempat sarapan yang enak. Dari informasi tersebut saya berlanjut ke artikel-artikel lainnya di situs ini hingga akhirnya saya tahu bahwa pengelola (pemilik) situs tersebut adalah seorang tunanetra.

Di situs ini juga pengelola memberikan informasi seputar ongkos transportasi, harga bahan dasar makan, harga makanan jadi, dan beberapa lokasi penting di Purwokerto. Misalnya, lokasi rumah sakit, poliklinik, tempat makan, bank, dan kantor pos. Memang informasi seperti itu bisa didapatkan dari situs lain. Namun yang membuat saya kagum adalah kerja keras sang pemilik situs dalam berbagi informasi dalam keadaannya yang terbatas. Dia memang memiliki keterbatasan penglihatan, namun dia yang menuntun saya untuk bisa berjalan di Purwokerto ini. Singkatnya, dilihat dari sudut pandang wawasan tentang Purwokerto sebenarnya saya yang buta, bukan dia.

Keterbatasan bukan halangan untuk berbuat baik.

Andre Tauladan

Kamis, 16 April 2015

Mau sampai kapan?

Siang ini lagi-lagi saya kepikiran buat nulis tentang perilaku masyarakat yang nggak taat aturan. Sebabnya, tadi saya melihat orang menyeberang sembarangan padahal ada zebra cross tak jauh dari tempat dia menyeberang. Tanpa bertanya apa alasan mereka melanggar peraturan, saya berasumsi bahwa mereka melakukannya karena 'sudah biasa'. Mungkin ada di antara mereka yang melakukannya karena kepepet. Yah, itu mah dimaklum aja deh. Yang mau saya bahas di sini adalah yang 'sudah biasa'. Dari kebiasaan itu muncul pertanyaan 'mau sampai kapan?'

Kalo ngebahas soal perilaku melanggar saya sering keingetan 'lingkaran setan'. Lingkaran setan yang saya maksud adalah budaya saling menyalahkan. Contohnya, jumlah tempat sampah yang tersedia di lingkungan saya tinggal terbilang sedikit. Dari keadaan itu timbullah fenomena lingkaran setan. Masyarakat (yang kesadarannya kurang) membuang sampah sembarangan dengan dalih tidak ada tempat sampah. Pemerintah juga (yang putus asa) tidak lagi menyediakan tempat sampah dengan dalih disediakan tempat sampah pun masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi, masyarakat dan pemerintah saling menuduh siapa yang salah. Tidak ada yang mau sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya. Semestinya pemerintah menyediakan tempat sampah walaupun masyarakat masih banyak yang tidak sadar. Masyarakat juga seharusnya sadar jika tidak ada tempat sampah yang dekat, tahanlah, jangan buang sembarangan.

Fenomena lingkaran setan seperti itu tidak pernah usai. Akibatnya masyarakat terbiasa melakukan pelanggaran. Dari kebiasaan satu orang menular ke orang lain hingga semakin banyak orang yang melakukan pelanggaran. Dari pelanggaran banyak orang kemudian muncul orang-orang 'baru' yang mencoba melanggar dengan menganggap bahwa pelanggaran itu benar. Dalam sebuah acara tv bertema kegiatan polisi menampilkan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas. Banyak di antara pelanggar itu menolak ditilang dengan alasan 'biasanya lewat sini tidak apa-apa'.

Memang sulit jika masih tidak ada kesadaran dalam diri masing-masing untuk menaati peraturan. Sebesar apapun usaha petugas menegakkan aturan, akan selalu ada pelanggaran. Ketika peringatan tidak diindahkan, pemerintah mencoba menerapkan aturan denda. Ketika denda pun tidak mempan, diambillah tindakan tegas. Namun, tindakan tegas itu malah dianggap tidak berbelas kasih. Entah mau sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut.
Andre Tauladan

Rabu, 08 April 2015

⇨JANGANLAH BERSIKAP SOMBONG⇦

Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab
"Siapa dulu doonk...ini kan semua berkat usaha keras saya"
"Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain."
Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah. Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?

Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong.
Pengertian sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain.
Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkanorang lain. Padahal Allah telah melarang kita dlm firmanNya:
QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya.
Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka Sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah(biji sawi) Laa haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan SOMBONG
Eits.. tunggu dulu....
Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain.
Bahkan Allah menantang kita dlm firmanNya :
QS. Al Isra’ {17}:37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dgn sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
"Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuatu. Bukankah begitu ?
Begitu saja kok sombong. Oleh karena itu seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi. Ingatlah kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Rabb semesta alam ini.....
Siapakah diri kita...???
Wallohu A'lam bi shawab...
Smoga bermanfaat
Andre Tauladan

Minggu, 08 Maret 2015

Fanatik, Emang Kamu Tahu Artinya?

"Udahlah, jangan terlalu fanatik sama agama!"
Brothers and sisters, pernah nggak kamu disebut fanatik oleh seseorang gara-gara kamu menolak sesuatu yang nggak sesuai aturan agama? Pasti ada beberapa orang yang pernah. Tapi bener nggak sih apa yang dikatakan orang itu? Apakah kamu memang fanatik? Biar tahu jawabannya, sekarang kita bahas apa itu fanatik dan seperti apa orang yang fanatik.

Kata fanatik berasal dari bahasa Inggris "fanatic". Menurut kamus Oxford (ciye, mainannya Oxford) fanatik adalah seseorang yang memiliki semangat berlebihan dalam urusan politik atau agama. Kata yang sama dapat juga diartikan sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat terhadap aktivitas tertentu. Sedangkan menurut KBBI, fanatik adalah keyakinan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Nah, dari keterangan tersebut kalo kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama berarti kamu memang fanatik. Tapi itu cuma kesimpulan awal. Lebih baik kita perdalam lagi pembahasan ini.

Dari beberapa definisi di atas ada kata yang menjadikan sesuatu disebut fanatik atau tidak, kata tersebut adalah "terlalu" atau "berlebihan". Sekarang mari kita berfikir sejenak apakah ketika melakukan sesuatu karena pertimbangan agama itu termasuk sesuatu yang berlebihan atau tidak? Saya pribadi merasa tidak. Kata "fanatik" seringkali ditujukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama dan politik walaupun tidak jarang dikaitkan dengan olahraga, misalnya "supporter fanatik". Tetapi, ternyata ada perbedaan persepsi diantara julukan fanatik yang ada. Seseorang dikatakan fanatik terhadap klub sepakbola tertentu atau partai politik tertentu jika mereka memberikan dukungan atan pembelaan yang memang berlebihan. Tetapi dalam urusan agama, kata "fanatik" lebih sering ditujukan kepada orang yang ingin melaksanakan aturan agama sebaik-baiknya.

Jika melaksanakan aturan disebut fanatik maka polisi juga dapat disebut fanatik. Ketika seorang polisi menilang pelanggar lalu lintas berarti ia fanatik terhadap aturan lalu lintas. Ketika seorang polisi menangkap pencuri atau pelaku kriminal lain berarti ia juga fanatik terhadap aturan kepolisian yang berlaku. Tapi apakah tepat jika polisi disebut fanatik? Jika tidak, maka orang yang ingin melaksanakan aturan agama juga tidak tepat disebut fanatik.

Seseorang yang berusaha untuk menaati aturan agama bukan fanatik, justru dia orang baik dan ingin selamat dalam hidupnya. Seperti halnya pengemudi kendaraan yang berhenti saat lampu merah dan melaju saat lampu hijau. Orang yang ingin taat terhadap aturan agama juga tidak bisa dikatakan "merasa benar sendiri". Layaknya seseorang yang ditilang oleh polisi, ia tidak bisa mengatakan polisi itu merasa benar sendiri. Semua sudah ada aturannya. Jadi ketika kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama, sebenarnya kamu itu tidak fanatik.

Kata fanatik tepat jika ditujukan kepada orang-orang politik yang merasa partainya yang paling baik. Tepat karena perasaan "paling baik" itu tidak berkaitan dengan aturan partai. Sejauh yang saya tahu (padahal nggak tahu apa-apa) tidak ada satu partai pun yang dalam AD/ARTnya mengatakan bahwa partai itu adalah yang terbaik. Hal ini berlaku juga bagi para supporter klub sepakbola. Kata "klub terbaik" bukanlah sebuah aturan dalam dunia sepakbola, melainkan hasil dari apa yang diusahakan oleh masing-masing klub. Jadi ketika sebuah klub berada di klasemen tengah atau bawah tetapi banyak supporter yang tetap menganggapnya terbaik, maka supporter itu tepat jika disebut supporter fanatik. Jika seorang politisi atau pendukung partai melihat keburukan dalam partainya tetapi keukeuh menganggap partainya adalah partai terbaik berarti dia adalah politisi atau pendukung yang fanatik.

Gitu aja sih kesimpulan saya mah. Yah, kalo mau beda pendapat boleh lah... Komen aja, tapi jangan memaksa saya harus sependapat dengan kesimpulan kamu. Hihi... :D
*tulisan ini dibuat dengan harapan nggak ada lagi sebutan "fanatik" buat orang yang ingin menaati aturan agamanya.

Andre Tauladan

Senin, 08 Desember 2014

Betapa tuduhan itu sangat mudah diutarakan

Teman, pernah dengar istilah "maling teriak maling"? Jika pernah, pasti tahu apa artinya. Tapi sekarang ini istilahnya semakin bervariasi. Misalnya, "teroris teriak teroris", atau "penjahat teriak penjahat".
Tulisan ini khusus untuk muslim yang mau berfikir.

Ramai di masyarakat tuduhan bahwa ISIS adalah teroris. Bila ada orang yang mendukung ISIS lalu dituduh pendukung teroris. Tapi coba kita berfikir.Teroris artinya orang atau kelompok yang melakukan teror. Teror sendiri berarti sesuatu yang meresahkan dan membuat takut masyarakat. Lalu, eror seperti apa yang dilakukan ISIS terhadap masyarakat Indonesia? Tidak ada kan? Kita di sini justru diteror, ditekan, ditakut-takuti oleh pemerintah kita sendiri. Jadi, teroris sebenarnya di negara kita adalah pemerintah kita sendiri.

Anda muslim? Mari berfikir. Pemerintah semakin menekan rakyat dengan berbagai cara. Salah satunya menaikkan harga BBM yang buntutnya akan meningkatkan kriminalitas. Sekarang belum sampai buntut, masih kepala. Supir angkutan umum lebih 'beringas' di jalanan. Alasan utama mereka adalah 'kejar setoran'. Hal itu membuat penumpang atau pengguna jalan lain berada dalam bahaya. Okelah jika ada yang berkata 'supir angkot mah dari dulu emang gitu'. Memang, tetapi sekarang mereka lebih 'gitu', karena jika pendapatannya sama dengan dulu, saat ini tidak akan mencukupi kebutuhan mereka. Sering juga penumpang dimarahi supir karena masalah ongkos.

Kriminalitas di negeri kita juga merupakan bentuk teror pemerintah. Pencuri, perampok, pembunuh, dsb dihukum dengan hukuman yang tidak seberapa. Setelah bebas dari penjara mereka kembali ke tengah masyarakat dengan kemungkinan melakukan kejahatan lagi. Kita juga pasti tahu kan ada beberapa oknum yang justru sengaja melindungi para kriminal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tukang parkir liar (banyak di antara mereka adalah preman) pasti memberikan setoran ke oknum aparat. Termasuk pungli di tempat ramai, itu pasti ada setorannya ke oknum. Kita tahu bahwa illegal logging itu berbahaya bagi lingkungan, menimbulkan ancaman longsor. Tetapi kita juga tahu ada pelaku illegal logging yang bekerjasama dengan oknum aparat. Adalagi beberapa kasus pemerasan oleh oknum juga. Misalnya, ketika melapor tentang kehilangan kendaraan ada oknum yang meminta uang jika ingin dicarikan. Jadi, orang berada dalam kondisi "sudah jatuh tertimpa tangga". Aparat yang diharapkan dapat membantu justru menambah kesulitan.

Belum lagi kerusakan moral anak-anak dan remaja yang seolah tidak diperhatikan oleh pemerintah. Suatu saat mereka akan menjadi orang dewasa. Dikhawatirkan mereka akan menjadi generasi penerus para kriminal. Anak SMP, SMA, pacaran di berbagai tempat. Apakah para orang tua tidak takut terjadi 'apa-apa' dengan anak mereka? Kita sering menemui berbagai kasus pemerkosaan bahkan oleh anak SMP. Itulah teror nyata yang dilakukan secara tidak langsung oleh pemerintah. Dengan kata lain, jika pemerintah memang peduli dan melakukan langkah-langkah pencegahan (mis. melarang pacaran) orang tua pun akan merasa tenang dan tidak takut.

Berapa banyak orang yang semakin sengsara oleh 'kebijakan yang tidak bijak' dari pemerintah? Ingat juga akibat yang ditimbulkan oleh koruptor kita. Jatah orang miskin sering diembat. Jadi, tak perlulah takut oleh ISIS yang tidak melakukan apa-apa terhadap kita. Apalagi sampai membuat tuduhan teroris. Kita berada di tengah teror pemerintah selama ini tapi tidak sadar. Ingat, tuduhan teroris kepada umat islam itu asalnya dari orang kafir. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang kafir yang justru menjadi musuh islam.
Andre Tauladan

Minggu, 07 Desember 2014

Agar tidak serampangan mengimplementasikan jihad

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Tulisan ini saya publikasikan untuk merespon pernyataan orang ini. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kehati-hatian agar ketika menemui pernyataan dari seseorang kita mau memikirkan terlebih dahulu. Dengan demikian, pernyataan orang tersebut akan membuat kita semakin rajin  beribadah dan bersemangat untuk berjihad dengan memperbaiki ibadah kita. Namun, syarat dan ketentuan berlaku. Syarat dan ketentuannya akan saya bahas di sini.

link status 

Apa yang disampaikan orang ini memang baik. Tetapi jika kita memahami lebih lanjut, tujuannya adalah menggembosi semangat jihad. Persis seperti yang disampaikan oleh Sh. Khalid Yasin, seorang ulama Amerika. Yang disampaikan olehnya sangat logis dan dapat diterima oleh akal.

Hal pertama yang ingin saya tekankan. Orang ini salah satu dari sekian banyak yang menganggap bahwa jihad hanya di Palestina.

Mari kita bahas.
Orang ini mengatakan agar kita tidak serampangan mengimplementasikan jihad. BENAR! Kita jangan serampangan. Namun, di negeri sekuler yang sangat anti dengan syari'at islam semacam Indonesia, apakah kita akan belajar tentang jihad kepada ulama su'u yang sudah menjadi budak para thaghut? Ketika thaghut penguasa melarang rakyat melawannya padahal dia berbuat zhalim, ulama su'u pun akan mengikuti perintahnya dan akhirnya rakyat akan terus berada di bawah pemerintahan zhalim dan jauh dari syariat Allah.

Para saudara kita yang telah berhijrah, pergi ke syam untuk bergabung dengan mujahidin. Sedangkan kelompok mujahidin di sana bukan orang yang serampangan mengamalkan jihad. Untuk terlibat dalam jihad, mereka diseleksi dan dibina dalam hal aqidah, akhlak, dan ilmu islam lain yang esensial. Apakah belum pernah sampai ke telinga orang ini pernah ada seorang amir di sana yang diberhentikan hanya karena ucapan yang tidak pantas kepada orang tua? Apakah tidak sampai juga kepadanya gambar-gambar mujahidin yang sedang shalat atau tilawah? Ataukah orang ini memiliki akses yang terbatas untuk membuka internet sehingga tidak tahu bagaimana pendidikan anak-anak di daulah islam? Saya rasa tidak.

Shalat yang bolong, tahajud yang jarang, tilawah yang 'edan eling', dan berbagai keburukan kita di negara ini dalam hal beragama tidak pernah menjadi 'beban pikiran' pemerintah. Bahkan, pemerintah cenderung membawa rakyatnya ke arah yang sekuler. Sederhanyanya, di negara ini dosa didukung, ibadah diterlantarkan. Sehingga, ketika seseorang tidak melakukan ibadah, berbuat dosa, orang itu akan cuek karena tidak ada yang mengingatkannya kecuali ustadz yang dekat dengannya, itu pun belum tentu berpengaruh. Peluang untuk berbuat dosa di negara ini sangat besar. Acara tv yang vulgar, kesempatan yang lebar untuk korupsi atau riba, juga minuman keras, rokok, dan narkoba sangat mudah didapat. Pacaran bisa bebas, pezina dipenjara sampai dibebaskan tetap dipuja, pencuri yang tertangkap dipenjara lalu setelah bebas bisa mencuri lagi. Andaikan seseorang sadar dan mau bertobat, dalam hitungan jam, hari, atau bulan dia bisa terjebak lagi dalam dosa.

Akan berbeda halnya jika kita berada di lingkungan mujahidin, khususnya yang memiliki 'kuasa' pemerintahan. Dalam hal ini contoh yang paling real adalah Daulah Islam ( IS / ISIS ). Di wilayah daulah islam, tidak akan ditemui orang yang sedang berpacaran, gambar-gambar vulgar, minuman keras, atau hal lain yang memudahkan seseorang berbuat dosa. Syari'at islam benar-benar ditegakkan. Bahkan sampai hal kecil pun ada hukumannya. Baru-baru ini diberitakan sebuah toko ditutup selama dua hari karena pemiliknya meninggalkan shalat berjama'ah. Masyarakat didakwahi tentang cara shalat, mengaji, aturan jual beli, akhlak kepada orang lain, dan aturan islam lainnya. Jika kita berada di tempat seperti itu untuk berbuat dosa akan sangat sulit, ibadah akan terjaga. Bukankan kita sama-sama tahu hadits nabi tentang sifat seseorang yang tergantung lingkungannya?

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Selama kita berada di lingkungan semacam Indonesia saat ini, sampai kapan kita akan dapat terlibat dalam Jihad yang orang ini katakan sebagai puncak agama? Kasihan sekali umat Islam yang ada di Indonesia yang tidak akan pernah merasakan nikmatnya mencapai puncak agama. Apakah kita akan berada di siklus beribadah-berbuat dosa-tobat, beribadah-berbuat dosa-tobat dan begitu seterusnya? Apakah kita tidak akan menyesal jika kita meninggal di tengah lingkungan penolak syari'at Allah tanpa sempat bertobat? Apakah kita tidak menginginkan adanya orang yang selalu mengingatkan ketika kita berbuat dosa?
Saya katakan juga TIDAK!

Orang ini mengatakan bahwa isu ISIS ini adalah pengalihan isu untuk menutupi kekalahan israel. Okelah, jika memang ini pengalihan isu. Tetapi, izinkan saya mengatakan bahwa ini adalah kabar gembira bagi umat muslim. Karena di belahan bumi lain, ada sekelompok orang yang sedang berusaha mengembalikan kejayaan Islam. Saat sebagian besar muslim di Indonesia hanya mampu berdemo untuk melawan kezhaliman pemerintah, tidak mampu melaksanakan syari'at sepenuhnya, usaha dengan 'masuk' di parlemen tak banyak membuahkan hasil, dan maksiat bertebaran di mana-mana. Muslim Indonesia menjadi golongan yang hina. Berada di bawah garis kemiskinan, sebagian besar tidak terdidik, dan menjadi budak hawa nafsu dan selalu dikendalikan oleh orang kafir. Namun, ISIS telah mampu mendeklarasikan khilafah dan menjalankan roda pemerintahan berdasarkan syari'at Islam dalam semua aspek mulai dari kesehatan, pendidikan, jual beli, hukum, dsb. Para wanitanya dimuliakan, anak-anaknya dididik, kesehatan didukung, dan infrastruktur ditingkatkan. Rakyatnya berada dalam rahmat Allah. In syaa Allah. Contoh kecilnya, jika Rupiah saat ini tertekan oleh dolar Amerika, di wilayah Daulah Islam (masyarakat sebut ISIS) diberlakukan mata uang dinar yang tidak terpengaruh sama sekali oleh dolar.

Orang ini juga mengatakan bahwa "jika melihat dari senjata yang ada maka orang palestina tidak mungkin menang melawan Israel". Anda benar saudaraku. Semua terjadi atas kehendak Allah. Senjata hanya bagian dari ikhtiar dalam melawan zionis yahudi laknatullah a'aihim. Dengan logika itu, mari kita menilai dengan seimbang. Apa yang dialami oleh tentara ISIS juga demikian. Dengan persenjataan yang ada di sana, tidak mungkin mereka mendapatkan kemenangan dalam berbagai pertempuran. Segala kemenangan adalah bentuk rahmat Allah kepada orang-orang yang rela mati demi menjaga kemuliaan Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah. Dengan kenyataan itu, mari kita sepakat dengan pendapat bahwa tidak mungkin orang yang terlibat di sana adalah orang-orang yang serampangan mengamalkan jihad.

Kembali saya sampaikan, saya setuju dengan orang ini bahwa untuk mengamalkan jihad memang tidak boleh serampangan. Oleh karena itu kita harus berada di tengah orang-orang yang akidahnya lurus, yang mencintai Allah dan rasulNya, yang rela mati demi agama Islam, dan tidak terpengaruh oleh harta duniawi dan penguasa thaghut. Apakah di Indonesia bisa? Di belahan bumi manapun bisa. Di Indonesia ada kelompok mujahidin, di Filipina ada, di Pakistan ada, di Somalia ada, di mana pun ada. Kalaupun tidak berada di tengah mereka, berkumpullah dengan orang-orang yang mendukung mereka. Orang-orang yang cinta dengan jihad dan mujahidin. *Siapa tahu kita akan ketularan untuk bisa mencapai puncak agama. Jangan sampai kita menyesal di akhirat nanti. Firman Allah dalam Al Qur'an.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Terakhir, saya sampaikan pesan khususnya bagi diri saya pribadi. Kita hidup tidak hanya di dunia. Sebagai muslim kita harus meyakini adanya kehidupan akhirat. Lakukan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Jangan hanya mengejar kebaikan hidup di dunia tetapi membawa penyesalan di akhirat. Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang akan membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Sifat manusia akan selalu terbagi dalam dua sisi, ada baik dan buruk (jahat). Kita pasti akan menemui keburukan itu bahkan dalam diri orang-orang yang kerap disebut sebagai ulama. Kita ambil pelajaran dari peristiwa 'ulama yang korupsi', namun jangan kita tiru. Setidaknya peristiwa itu membuat kita lebih waspada dan berhati-hati dalam bergaul, memilih teman, atau mengikuti ulama mana yang baik dan akidahnya lurus.

Allahu a'lam bisshawwab.
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Andre Tauladan

Jumat, 05 Desember 2014

Perkara Jihad Bukan Hal Tabu

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, dengan perkembangan teknologi sekarang ini kegiatan dakwah dapat lebih mudah dilakukan. Mudahnya akses internet juga sangat mendukung dalam aktivitas dakwah. Dengan facebook, twitter, dan media sosial lainnya setiap orang dapat melibatkan diri dalam menyampaikan kebenaran dan informasi seputar agama islam. Dengan internet pula setiap orang dapat lebih mudah dalam mendapatkan jawaban ketika mereka mengalami kebingungan dalam hal ibadah. Situs-situs dakwah seputar fiqih, tarikh, aqidah, akhlak, dan lain sebagainya kini semakin banyak dan saling melengkapi.
jihad
gambar : islamicrenaissance.co.uk

Namun sebagai muslim yang meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup seluruh aspek kehidupan hendaknya kita tidak berat sebelah. Sayangnya dari sekian banyak situs-situs islami, sebagian besar masih enggan untuk membahas tentang jihad khususnya jihad perang. Malah ada sebagian diantara mereka yang berusaha mengalihkan semangat jihad umat islam agar melunak hingga akhirnya tidak memiliki semangat jihad. Padahal, jihad adalah bagian dari perjuangan islam. Jihad juga menjadi salah satu perintah Allah yang ada dalam Al Qur'an. Sama halnya dengan ibadah lain seperti shalat dan puasa, jihad juga memiliki hukum yang berbeda tergantung kondisi. Jika dalam shalat kita mengenal shalat wajib dan shalat sunnah, demikian halnya dalam perkara jihad. Namun yang saya lihat sekarang, masih banyak ulama (yang kemudian membuat umat islam pada umumnya) enggan membahas perkara jihad dan menjadikannya hal tabu. Alasan yang paling umum adalah "islam adalah agama damai, kita tidak suka pakai kekerasan".

Berikut ini saya salinkan dalil-dalil tentang perintah berjihad dari dakwah.info :

1. Allah SWT berfirman:
(انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ) (التوبة: 14)
“Berangkatlah kamu untuk berperang baik kamu merasa ringan maupun kamu merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah: 41).

2. Allah SWT berfirman:
(وَقَاتِلُوْا الْمُشْرِكِيْنَ كاَفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كاَفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ) (التوبة: 26)
“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwa Allah itu beserta orang-orang yang bertakwa” (At Taubah: 36)

3. Allah SWT berfirman:
(وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ) (الأنفال: 40)
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan sampai agama itu semuanya untuk Allah.” (Al Anfal : 39)

4. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ فَإِذَا اسْتَنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا .)رواه البخاري.
“Tidak ada hijrah (dari Mekah ke Madinah) setelah pembebasan kota Mekah. Yang ada ialah jihad dan niat (yang baik). Maka oleh sebab itu bila kamu diseru untuk berjihad memerangi orang kafir maka keluarlah”[5] (HR Bukhari)

5. Hukum orang yang memerangi atau memusuhi Islam
إِنَّمَا جَزَاء الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَن يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya balasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, ialah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang berat.” (Al Maidah: 33)

Untuk dalil lebih lengkap dan rinci silakan kunjungi Dalil-dalil perintah umum berjihad.

Peran jihad qital (perang) dalam perkembangan agama Islam sangat besar. Jika pada saat Abu Jahal menyerang umat islam di Badar umat islam tidak melayani (dengan alasan tidak ingin perang) mungkin  saat ini umat Islam hanya sedikit.

Adapun, situs-situs islam yang berkenan membahas perkara jihad, pembahasannya sebatas apa arti jihad yang selanjutnya diarahkan pada pembahasan jihad dalam perkara lain (bukan perang). Misalnya, dengan mengartikan kata "jihad" sebagai "bersungguh-sungguh" mereka menjuruskan pemikiran umat muslim bahwa dengan belajar, bekerja, atau beribadah dengan sungguh-sungguh adalah bentuk jihad. Memang tidak salah, namun kurang lengkap. Dengan pemikiran seperti itu dikhawatirkan umat islam tidak akan pernah memiliki keberanian berperang. Contoh mudahnya, ketika banyak umat islam yang dibantai di Mesir, demonstrasi sering dijadikan cara untuk melawan. Mereka bersungguh-sungguh menyuarakan perlawanan, tetapi melalui demo saja. Yang akhirnya para pendemo itu justru menjadi korban pembantaian berikutnya. Berbeda halnya ketika ada seorang pelaku bom isytisyhad (bunuh diri) yang rela mengorbankan nyawanya untuk meledak bersama salah satu pejabat yang berperan dalam pembantaian di sana. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika mereka tidak berani berperang, mereka justru masuk ke dalam lingkungan musuh. Akibatnya, alih-alih melawan musuh dia malah menjadi bagian dari musuh.

Jika masyarakat memang mau memahami lebih dalam maksud dari kata "bersungguh-sungguh" seperti yang disampaikan oleh ulama tersebut efeknya akan berbeda. "Bersungguh-sungguh dalam belajar" sehingga tahu bahwa jihad perang adalah bagian dari agama Islam. "Bersungguh-sungguh dalam bekerja" sehingga tahu bahwa pengorbanan mereka untuk pekerjaan tidak ada artinya dibandingkan pengorbanan para mujahid. "Bersungguh-sungguh dalam beribadah" sehingga tahu bahwa para mujahid lebih sungguh-sungguh sehingga rela mengorbankan nyawa mereka. Sayangnya masyarakat pada umumnya hanya "bersungguh-sungguh" untuk kepentingan dunia saja. Belajar agar dapat nilai bagus, bekerja agar dapat uang banyak, beribadah agar dianggap orang shaleh.

Satu hal lagi yang membuat miris adalah di antara sebagian ulama yang tidak berani membahas perkara jihad, ada yang malah menghina para mujahid (pelaku jihad). Seperti saat ini, ketika para mujahidin sedang berusaha menjaga kemuliaan Islam di Irak dan Suriah. Namun, banyak ulama dunia yang menyebut mereka adalah khawarij, anjing neraka, lebih parah lagi ada yang memandang para mujahidin itu lebih rendah dari atheis.

Masyarakat pada umumnya telah terpengaruhi oleh pemikiran barat yang mencoba menanamkan di benak masyarakat bahwa mujahidin adalah teroris. Sayangnya, selain diracuni pemikirannya, masyarakat pun dibutakan matanya sehingga tidak mampu melihat siapa teroris sebenarnya. Ketika mujahidin menangkap dan membunuh salah satu tawanan orang kafir, masyarakat tahu. Namun, ketika pesawat Amerika membunuh puluhan orang Pakistan, masyarakat tidak tahu. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya senang ketika melihat kemenangan kaum muslim atas kafir, malah cenderung membenci mereka. Ketika ada perintah jihad, informasi seputar jihad dan mujahidin mereka takut untuk menyebarkannya.

Beberapa usaha telah dilakukan oleh pecinta jihad seperti menyebarkan info yang benar seputar perjuangan mujahidin. Namun, lagi-lagi informasi tersebut hanya berputar di kalangan pecinta jihad. Sedangkan masyarakat umum tidak akan menerima apalagi menyebarkan berita tersebut karena takut dengan istilah teroris.

Sebagai penutup, saya sampaikan nasihat khususnya untuk diri saya sendiri dan untuk pembaca pada umumnya. Jika kita tidak mampu berperang melawan orang kafir, setidaknya kita memberi dukukan kepada para mujahidin dengan tidak menutup-nutupi informasi tentang mereka dan tidak menghina mereka. Janganlah merasa tabu terhadap informasi seputar jihad hanya karena kita tidak menyukai peperangan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216)


Wallahu a'lam bishshawab.
Barakallahu lii wa lakum. Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

*Tulisan ini disampaikan sebagai bentuk usaha saya dalam berdakwah. Terbuka untuk segala kritik dan koreksi.
Andre Tauladan

Rabu, 13 Agustus 2014

Ketika Gereja Spanyol Menyiksa Siapapun Yang Berkata Kami Muslim

Pada tanggal 2 Januari 1492, cardinal Devider telah memasang salib di atas Istana Hamra; istana kerajaan Nashiriyah di Spanyol. Tujuannya berbuat demikian ialah sebagai bentuk proklamasi atas berakhirnya pemerintahan Islam di Spanyol.
alat penyiksaan muslim spanyol

Dengan berakhirnya pemerintahan Islam ini berarti saat itu lenyaplah peradaban besar yang pernah dikembangkan oleh Islam di eropa selama abad pertengahan. Kaum salib yang saat itu menang perang yang awalnya mereka melakukan kerjasama dengan pemerintahan Islam, beralih berusaha untuk menghancurkan kaum muslimin dan peradabannya.

Kaum muslimin dilarang menganut Islam, dan dipaksa untuk murtad. Begitu juga mereka tidak boleh menggunakan bahasa arab, siapa yang menentang perintah itu akan dibakar hidup hidup setelah disiksa dengan berbagai cara.

Beginilah selesai riwayat hidup berjuta juta kaum muslimin di Spanyol, tak ada seorang muslim yang tinggal yang tampil dengan agamanya saat itu.

Setelah empat abad dari kejatuhan Islam di Spanyol, Napoleon telah mengirim sepasukan tentara angkatan perang dan mengeluarkan satu instruksi tahun 1808 supaya menghapuskan dewan dewan mahkamah luar biasa (Dewan pengadilan dan pemberi hukuman) di Spanyol.

Berkata seorang panglima Prancis ; “ Kami pimpin satu angkatan bersenjata hendak menyelidiki satu gereja yang kami dengar disitu ada mahkamah luar biasa. Tapi kami disana tak menemui apapun, kami periksa semua kamar penyiksaan dan kami selidiki seluruh kawasan gereja, lorong lorong dan tabirnya, tak ada tanda tanda adanya mahkamah luar biasa. Hampir kami putus asa dan nyaris kami meninggalkan tempat itu. Dan saat itu pula ada seorang pendeta bersumpah untuk menguatkan kebenaran yang dikatakannya bahwa tuduhan terhadap gereja itu adalah tuduhan kosong belaka. Dan ketua mereka pun menegaskan bahwa pengikut pengikutnya tidak ada yang terlibat dengan masalah itu.

Dan dengan nada yang lembut dan menunduk serta linangan air matanya para pendeta mempersilahkan kami keluar dari situ. Tapi salah satu letnan kami , Letnan De lael menahan saya dengan berkata,”Maaf dan izinkan saya mengatakan bahwa tugas kita belum selesai”. Lantas kujawab, “Kita periksa sekeliling gereja ini, tapi tidak kita jumpai dengan suatu yang mencurigakan.” Kemudian kutanya kepada letnan,”Apa yang engkau maksudkan?” maka jawab letnan,” Saya mau periksa dibawah lantai kamar ini, sebab hati saya merasa seakan akan ada rahasia dibawahnya.”

Waktu itu para pendeta tadi terlihat sangat gelisah karena kami belum beranjak pergi, lantas saya izinkan para komandan untuk memeriksa, dan ketika itu kami perintahkan para tentara untuk menyingkap permadani di lantai dan diperintahkan menuangkan air sebanyak banyaknya di setiap kamar. Tiba tiba tampaklah pada salah satu kamar itu airnya meresap kebawah. Letnan De Lael bertepuk tangan tertawa sambil  berkata,”Inikah pintunya? Lihatlah ! kami semua lihat dan ternyata ada pintu yang bisa dibuka.

Rupanya setiap sambungan lantai kamar itu dapat dibuka secara rahasia; yaitu dengan satu alat kecil yang terletak di kaki meja ketua gereja. Para tentara pun memulai memecahkan pintu itu dengan bayonet , waktu itu wajah pendeta pun menjadi pucat karena rahasia mereka pasti terbongkar.
Ketika pintu itu dibuka, tampaklah kepada kami satu tangga yang bisa turun sampai ke dasar ruangan bawah tanah. Sayapun turun dan pergi menghampiri satu batang lilin besar yang panjangnya lebih kurang satu meter. Lilin itu menyala di hadapan satu gambar besar terpampang lukisan bekas pimpinan ketua Mahkamah Luar Biasa itu. Saya cuma menghampiri saja, lalu seorang pendeta Kristen memegang bahu saya sambil berkata,”Hai anakku jangan kau pegang lilin itu, tangan kau kotor dengan darah pembunuhan, sedangkan lilin itu sangat kudus sekali.” Lalu saya katakan kepadanya,”Masak saya tidak boleh menyentuhnya, bukankah lilin ini kau basahi dengan darah orang orang baik? Nanti kita lihat siapa yang mengotorkan dari kalangan kita ini dan siapa yang pembunuh sebenarnya.”

Kemudian saya turun melalui tangga itu dan terus diikuti oleh para tentara dengan pedang pedang yang terhunus. Lalu sampailah kami ke suatu pojok, dan disitu kami lihat ada satu kamar besar bersegi empat, disitulah dewan mahkamah bersidang, yang ditengah tengahnya terdapat lantai marmer. Di tangga itulah terdapat belenggu besar yang memakai rantai untuk mengikat orang orang hukuman. Dan di hadapan tangga itu pula terletak satu podium yang diduduki oleh ketua mahkamah dan para hakim untuk menghukum orang orang tak berdosa itu.

Setelah itu kami menuju pula ke suatu kamar besar dan panjang yang rupanya adalah tempat penyiksaan. Di situ saya melihat banyak benda benda yang menyeramkan dan membuat bulu bergidik sepanjang hidup saya. Saya melihat lubang lubang kecil sebesar tubuh manusia. Ada bentuk sempit dan tinggi, dan ada yang sempit tapi rendah. Di dalam petak petak itulah dikurungnya tawanan sambil berdiri sepanjang hidup dan sampai meninggal di situ. Dan mayat mayat orang tawanan itu dibiarkan hancur di situ, berulat dan hingga gugur dagingnya dan tulang tulangnya. Dan untuk mengurangi bau busuk dibuatkannya sebuah lubang ke udara luar.

Saya lihat dalam kamar itu juga ada tubuh tubuh manusia yang masih terikat dengan rantai. Orang orang kurungan itu ada lelaki dan wanita dari berbagai tingkatan umur, antara 14 tahun hingga 70 an tahun. Ketika itu sempat kami bebaskan beberapa orang tawanan yang masih hidup. Kami pecahkan belenggu belenggunya, orang orang yang masih hidup cenderung sekarat, sementara yang lain ada yang sudah menjadi gila, karena terlalu berat siksaannya. Dan tawanan tawanan tersebut seluruhnya telanjang, sehingga tentara kami yang hendak mengeluarkan mereka terpaksa memberi kain untuk menutupi tubuhnya. Kami iringi tawanan itu perlahan lahan ke tempat terang agar tidak merusakkan pandangan mata mereka. Mereka teriak gembira dan merangkul tentara yang membebaskannya dari siksaan tersebut.

Kemudian kami pindah ke ruangan lainnya, dan kami lihat beberapa keadaan yang menyeramkan, kami lihat ada alat alat penyiksaan seperti alat pematah tulang dan alat pengoyak badan. Mereka dimulai dengan membelah kaki, dicabutnya tulang, dibelah dada dan diambilnya tulang. Dibelah kepala dan tangan serta diambil tulang sedikit sedikit hingga hancurlah semuanya. Demikianlah diperlakukan terhadap orang orang yang teraniaya itu.
Dan kami lihat juga satu peti sebesar kepala manusia. Disitulah diletakkannya kepala orang yang hendak disiksa. Dimana setelah ia diikat kaki, tangan dengan rantai sehingga tidak dapat bergerak. Dan diatas peti itu dibuatnya satu lubang untuk menetes air secara teratur ke atas kepala orang yang di siksa itu. Akibat siksaan jenis ini banyak orang menjadi gila dan dibiarkan sedemikian hingga tawanan tewas.

Satu lagi alat penyiksaan ialah satu kotak yang dipasang mata pisau yang tajam. Mereka campakkan orang orang muda ke dalam kotak ini, bila dihempaskan pintu maka terkoyaklah badan yang disiksa tersebut.
Disamping itu ada mata kail yang menusuk lidah dan tersentak keluar, dan ada pula yang disangkutkan ke payudara wanita, lalu ditarik dengan kuat sehingga payudara tersebut terkoyak dan putus karena tajamnya benda benda tersebut.

Nasib wanita dalam siksaan ini sama saja dengan nasib laki laki, mereka ditelanjangi dan tak terhindar dari siksaan.

Cara cara penyiksaan wanita yang lain tidaklah saya bisa gambarkan, karena tempat tempat sensitif ditubuh wanita yang disiksa, dan cara cara yang sadis dan kotor yang dilakukan membuat saya malu untuk menuliskannya.

Penyiksaan ini dilakukan terhadap orang orang yang menentang kristenisasi. Mereka lakukan penyiksaan tersebut karena para tawanan tersebut tetap berpendirian dan tetap mengatakan bahwa mereka Muslimin.
- Petikan dari buku At Ta’asub Wat Tasamuh, Syaikh Muhammad Al Ghazali (hal 311-318)
Andre Tauladan Sumber

Selasa, 22 Juli 2014

Namun kini kau beranjak pergi meninggalkanku

Jujur, aku sangat merindukan kedatanganmu. Aku dan banyak muslim lainnya. Bahkan sejak beberapa bulan sebelum kedatanganmu kami sudah mempersiapkan diri. Di saat banyak orang lain yang merasa gelisah takut engkau menyusahkan mereka, kami sejak awal tahu bahwa engkau justru akan membawa kebaikan bagi kami.

Akhirnya engkau datang. Kabar gembira pertama yang engkau sampaikan adalah khilafah telah tegak kembali. Di samping malam-malam mulia dengan tarawih dan tadarus, dan keutamaan lainnya ketika engkau hadir, kau datang dengan berita spesial. Walaupun engkau hadir di tengah ramainya sambutan terhadap piala dunia, tapi aku lebih mencintaimu. Engkau tidak hanya memberikan kesenangan dunia tetapi juga akhirat. Banyak orang lain yang tidak mempedulikanmu. Mereka menganggap kau hadir tapi tidak memberikan hidangan. Mereka sibuk dengan taruhan timnas mana yang akan menang. Ada juga yang sejak awal sudah berani tidak mengindahkanmu. Mereka tetap makan di siang hari.

Aku pun sedih. Di tengah kehadiranmu yang mulia, orang-orang banyak yang lebih peduli terhadap calon presiden pilihannya. Hingga akhirnya engkau pun dinodai denga sebuah pesta demokrasi. Tidak sedikit orang yang bertaruh nasib kehidupannya terhadap calon presidennya. Mereka hanya beda sedikit dengan para pejudi bola. Untuk menghormatimu, aku sobek satu surat suara. Aku lebih memilih untuk menghormatimu daripada mereka.

Di antara yang menyambut, ada saja yang salah. Engkau datang disambut dengan petasan dan kembang api. Bagiku itu sangat tidak sopan. Jika engkau datang dengan kabar pengampunan yang engkau bawa, tetapi mereka yang berdosa itu menyambutmu seperti itu, berarti mereka tidak menghormatimu. Amalan-amalan yang bid'ah pun masih mewabah di masyarakat. Di antara mereka ada yang memenuhi makam keramat. Mungkin suatu saat mereka juga akan mendatangi makam kera sakti, atau kera putih. Masih untung tidak ada yang kera sukan.

Engkau hadir tidak lama. Tapi banyak kemuliaan yang engkau bawa. Awalnya memang banyak yang menyambutmu. Tapi sepuluh hari kedua, mulai ada kemajuan dalam shaf tarawih. Sang imam pun semakin bersemangan membaca surat-surat pendek dalam shalat tarawih, buktinya kian hari kian cepat.

Tak terasa kini waktumu hampir habis. Sebentar lagi kau akan pamit. Hari-hariku akan kembali seperti biasa. Amalan sunnah dihitung sunnah, yang wajib hanya dihitung 1 wajib. Tapi di 10 hari terakhir ini sebelum kau pergi kau memiliki harta karun yang sangat berharga. Kami tidak tahu kapan datangnya malam lailatul qadr. Yang kami tahu malam itu ada di malam ganjil 10 hari terakhir. Oleh karena itu banyak di antara kami yang memburunya. Sebuah masjid di dekat kampusku tiba-tiba penuh. Dikala masjid lain semakin sepi karena ditinggal mudik, masjid ini justru didatangi oleh jamaah dari berbagai daerah.

Tapi, hatiku sering kotor. Terkadang ketika di sana banyak yang hanya tidur dan aku tadarus aku sering merasa lebih baik dari mereka. Ketika aku tadarus kemudian ada orang lain yang tadarus lebih nyaring tensi darahku naik. Apalagi jika ada orang lain yang mampu membaca lebih cepat. Hatiku juga sering kotor, ketika sedang asyik bertadarus lalu ada bunyi musik dari sebuah ponsel. Ah... aku tak tahu apakah aku bisa memanfaatkan saat-saat terakhir besamamu untuk mencari ridha Allah atau tidak.

Maaf ramadhan, aku belum bisa berbuat banyak untuk menegur orang lain atau bahkan memerangi mereka yang tidak menghargaimu. Akupun belum mampu memuliakanmu seperti yang rasulullah contohkan. Ya, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi karena tidak ada persiapan, aku hanya bisa menyuguhimu sekedarnya. Terimakasih atas kedatanganmu. Semoga dengan adanya dirimu doaku yang di hari biasa tidak terkabul nanti bisa terkabul. Tilawah, shalat, dan sedekah yang hanya sedikit bisa menjadi berlipat ganda karena ada engkau. Terakhir, aku berharap kepada Allah swt agar tahun depan aku bisa bertemu lagi denganmu. Dan semoga di saat itu aku memiliki persiapan yang matang agar kedatanganmu tidak sia-sia bagiku.
Andre Tauladan

Selasa, 01 Juli 2014

Mengambil hikmah dari Piala Dunia

Beberapa hari terakhir jagad facebook diramaikan dengan status mengenai piala dunia. Sebuah momen luar biasa yang menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia. Saya pribadi tidak terlalu peduli dengan momen ini. Namun saya ingin berbagi dengan para soccer mania agar tidak membuat momen ini terlewat begitu saja tanpa ada manfaat apapun darinya.
logo piala dunia brazil

Piala dunia. Sebuah kejuaraan dunia dalam olahraga sepak bola. Melirik substansi dalam permainan sepak bola, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran.

Pertama, garis di lapangan sepak bola.

gambar lapangan sepak bola

Garis ini menjadi batas permainan.  Ketika seorang pemain membuat bola yang dibawanya keluar dari garis itu maka yang terjadi adalah kesempatan throw in bagi tim lawan. Dengan throw in ini tim lawan akan mendapat keuntungan karena dia yang mengendalikan bola. Dalam kehidupan kita garis itu adalah batasan-batasan agama, benar-salah, pahala-dosa. Jika kita melanggar batasan itu maka yang terjadi adalah kesempatan bagi setan untuk mengendalikan kehidupan kita, sehingga seringkali kita berbuat dosa.

Kedua, bola.

bola sepak

Bola dalam permainan sepakbola ibarat kehidupan kita. Kita memiliki tujuan dalam hidup, itu adalah gawang lawan. Kita akan berusaha untuk mencetak gol atau dengan kata lain meraih tujuan hidup. Kita hidup di dunia tentu memiliki keinginan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam permainan sepak bola tim lawan adalah penghalang, mereka akan berusaha sekuat mungkin agar kita tidak bisa mencetak gol. Untuk melewatinya seorang pemain sepak bola yang handal pasti bisa melakukan manuver-manuver cantik yang bisa mengelabui lawan dan lolos dari segala halangan. Tim lawan diibaratkan setan. Mereka akan menghalangi kita untuk mencapai kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Oleh karena itu kita harus pintar menghindarinya. Cara-cara untuk menghindari mereka ada dalam Al-Qur'an, kita harus rutin berdzikir, berbuat baik kepada orang tua,  dan cara-cara lainnya yang sudah tercantum dalam Al-Qur'an.

Ketiga, piala.

Tujuan akhir dalam kejuaraan piala dunia adalah untuk mendapatkan piala. Tujuan akhir dalam kehidupan kita adalah untuk kehidupan akhirat yang baik.
piala dunia

Keempat, seragam atau kostim.

Setiap tim dalam sepak bola pasti memiliki seragam yang berbeda. Kita sebagai umat muslim memiliki aturan juga dalam berpakaian, pakaian yang dipakai harus syar'i sesuai aturan islam. Setidaknya harus menutup aurat.

Kelima, wasit.

wasit sepak bola

Tugas seorang wasit adalah mengatur permainan agar tidak keluar dari aturan yang berlaku. Wasit memberikan arahan, memberikan peringatan dan memberikan hukuman jika terjadi pelanggaran. Ini ibarat petunjuk yang disampaikan Allah kepada kita. Aturan-aturan dalam hidup ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Di dalamnya terdapat petunjuk, peringatan, dan hukuman. Dalam permainan sepak bola jika wasit memberikan kartu kuning, itu artinya peringatan atas sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain. Jika kartu merah sudah diberikan berarti pemain tersebut sudah tidak berhak bermain dalam pertandingan tersebut, ia dihukum, dikeluarkan.

Keenam, linesman (hakim garis).

hakim garis piala dunia

Di samping kiri dan kanan lapangan ada petugas hakim garis. Mereka menjadi pengawas selama pertandingan, selalu memperhatikan apakah terjadi offside atau tidak. Dan jika offside maka ia akan mengangkat bendera di tangannya sebagai isyarat. Dalam kehidupan kita juga ada yang selalu mengawasi di kanan dan kiri kita. Malaikat raqib dan atid.

Ketujuh, waktu permainan.

Dalam setiap permainan sepak bola, sudah ditentukan durasinya. Jika dalam waktu 90 menit tidak ada yang menang dalam pertandingan tertentu ada waktu tambahan. Tetapi dalam hidup kita, jika waktu kita sudah habis tidak ada tambahan waktu.

Kedelapan, penonton.

soccer football stadium

Permainan sepakbola khususnya dalam pertandingan setingkat piala dunia pasti dilaksanakan di stadion. Setiap stadion ada tribun penontonnya. Posisi penonton mengelilingi lapangan dari setiap sisi dan sudut. Dalam kehidupan kita Allah selalu tahu, melihat, dan mengawasi apa yang kita lakukan di setiap saat, setiap tempat, setiap sisi dan sudut.

Nah, itulah pelajaran (hikmah) yang bisa kita ambil dari piala dunia. Sebagai seorang muslim kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Terkadang manusia yang keimanannya masih lemah perlu diberi penjelasan dengan analogi agar mereka mengerti dan mau menerima apa yang disampaikan oleh agama. Sedangkan bagi yang imannya kuat, mereka akan melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama tanpa banyak protes.

Tulisan ini adaptasi dari video berjudul "WORLD CUP WITH A LESSON ᴴᴰ - MUST WATCH"
Andre Tauladan

Sabtu, 24 Mei 2014

Nitip

"Oy Bro, mau ke mana?"
"Ya ke masjidlah, kan udah adzan. Ente mau ikut?"
"Oh iya, ane nitip aja dah"

Bagi saya, obrolan seperti itu udah nggak aneh. Bingung juga sih, kok bisa-bisanya mereka menganggap remeh suatu kegiatan ibadah. Pengen banget jawab "iya nanti ane titipin salam ke malaikat Izrail". Tapi saya nggak bisa bilang gitu walaupun hanya bercada. Saya nggak berani bawa-bawa malaikat untuk bercanda, emangnya siapa saya? Berani-beraninya ngajak ngobrol sama malaikat, mau titip-titip salam segala.

Nitip.
Entah apa yang ada di pikiran mereka. Seolah-olah ibadah ini disamakan dengan kuliah yang (kadang) bisa nitip absen. Kesalahan mereka berlipat ganda. Satu, mereka tidak mendirikan salat. Dua, mereka bercanda dengan agama. Padahal, bercanda tentang agama adalah sesuatu yang dilarang. Tapi, jangankan untuk masalah gituan, ibadah yang wajib aja mereka abaikan.

Nitip.
Nitip ibadah? Ah, yang bener aja lu Don!. Enak banget ya? Ane yang ibadah, terus ente dapet pahala juga.
Ah, seandainya bisa, besok-besok ente yang kerja tapi gajinya buat ane ya? Ente olahraga tapi sehatnya buat ane juga dong. Ente yang makan tapi ane yang kenyang. Atau biar lebih enak, kalo ente punya anak, biar anak ente yang sekolah, tambahin biaya ekstra buat ikutan bimbel, habisin waktu malamnya buat belajar, biar ekstra mikir pas ujian, tapi nanti nilai ujiannya atas nama anak ane, pinternya buat anak ane. Terus kalo udah gede, biar anak ente yang ngelamar kerja, anak ane yang nempatin posisinya, anak ente yang kerja, anak ane yang dapet gajinya.

Mau???
Kalo nggak mau, lha kenapa ente nitip-nitip segala pas ane mau ibadah?

MIKIR!!!

mikir cak lontong

Andre Tauladan

Kamis, 06 Maret 2014

Fenomena Kelompok Islam Katolik

Sebelumnya saya mohon maaf, ini bukan tulisan yang menjelek-jelekkan umat katolik. Tulisan ini berisi tentang kondisi sebagian umat islam yang perilakunya menyerupai umat katolik. Sebagai umat islam seharusnya kita tidak boleh meniru kebiasaan umat lain yang menyangkut peribadatan. Saya rasa umat katolik juga tidak boleh meniru cara ibadah umat islam. Iya kan?

Bagi saya pribadi, boleh saja umat islam meniru umat lain selama yang ditiru itu bukan dalam hal ibadah. Misalnya teknologi yang ada saat ini. Saya sendiri menggunakan komputer, menggunakan internet, mempunyai akun facebook, dan hal-hal lain yang menyerupai umat kristen. Tapi, hal-hal itu sebenarnya bukan hal keagamaan. Toh, penemu Windows, Bill Gates, membuat sistem operasi ini bukan sebagai bentuk ibadah kepada Tuhannya. Iya kan?

Nah, saat ini banyak sekali umat islam yang meniru perilaku umat lain yang sebenarnya perilaku itu adalah sesuatu yang menyangkut ibadah umat lain. Walaupun pada dasarnya umat islam yang meniru itu bukan bertujuan untuk ibadah. Saya ambil contoh yang sangat umum saja.

R.I.P (Rest in Peace)

Istilah ini sering sekali digunakan oleh umat kristen dalam kegiatan keagamaan ketika ada seseorang penganut agama itu meninggal. Selain digunakan oleh umat kristen istilah ini juga digunakan oleh penganut judaism (wikipedia). Karena hal ini menyangkut tata cara peribadatan, walaupun dalam agama tersebut tidak ada keterangan khusus yang memerintahkannya, tapi itulah yang dipakai oleh umat tersebut untuk dituliskan di batu nisan mereka. Sebenarnya kalimat ini hanya sebuah penghormatan saja, seperti halnya kalimat "selamat tinggal", atau "sampai jumpa".

Oleh karena itu mengucap R.I.P bagi umat islam sama saja dengan meniru tata cara ibadah umat lain. Padahal islam memiliki aturan sendiri yang biasa diucapkan ketika terjadi musibah, salah satunya adalah ketika seseorang meninggal dunia. Aturan islam ketika terjadi peristiwa itu adalah dengan mengucap "inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun".

Beberapa hari yang lalu, kita mendapat berita sedih dari dunia hiburan. Pelawak legendaris Jojon meninggal dunia. Saat itu banyak sekali teman-teman saya di facebook yang mengatakan R.I.P Jojon. Nah, hal ini lah yang saya maksud islam katolik. Teman saya itu muslim, tapi dia mengucapkan kalimat yang biasa dilakukan oleh umat katolik. Sangat tidak bisa diterima. Padahal yang meninggal juga seorang muslim. Bagaimana bisa seorang muslim mengucapkan kalimat umat kristen kepada seorang muslim lainnya. Ibaratnya seorang muslim mengucapkan salam "om swa siastu" kepada muslim lainnya. Tidak bisa diterima bukan?

Lalu bagaimana jika kepada non muslim? Jika yang meninggal non muslim bukan berarti kita juga bisa mengucapkan R.I.P kepada mereka. Walaupun begitu, kita tetap bisa menghormati keluarga yang kehilangan dengan mengucapkan "turut berduka cita", "turut merasa kehilangan", atau "turut bersedih". Dengan begitu kita bisa menjaga aqidah kita sekaligus menghormati orang lain yang sedang sedih walaupun mereka berbeda agama.

Berdasarkan berbagai sumber, umat islam haram mengucapkan R.I.P. Bagaimanapun juga kalimat itu adalah do'a yang diungkapkan oleh umat katolik khususnya kepada Tuhan mereka. Jadi ucapan itu termasuk ibadah. Dalam hal keyakinan, kita tidak bisa menganggap semua agama sama. Seorang muslim harus meyakini bahwa selain muslim pasti akan mendapatkan siska kubur. Begitu juga, sangat wajar jika ada seorang kristen yang meyakini umat islam ini berada di jalan yang salah. Biar sajalah. Kita tidak dapat mengganggu keyakinan orang lain, tetapi janganlah kita mencampuradukkan keyakinan kita dengan keyakinan agama lain.

referensi :
Forum ummah.com
Sunni muslim youth
Islam itu indah
Catatan Mohammad Fauzil Adhim
Gotquestion.org
Pernyataan Abu Mussab Wajdi Akkari


Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates