Tampilkan posting dengan label sunnah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label sunnah. Tampilkan semua posting

Selasa, 07 Juni 2016

Isbal, Ditolak Ahlu Sunnah, Dibela Ahlu Bid'ah

isbal

Hidup sebagai seorang muslim berarti secara langsung harus patuh terhadap segala aturan dalam agama islam, termasuk dalam perkara berpakaian. Tidak peduli anda dari golongan atau ormas apapun. Salah satu perkara yang masih dianggap remeh saat ini adalah isbal. Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal bagi laki-laki terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang haramnya isbal. Beberapa dalil yang paling sering dibahas adalah dalil-dalil berikut :
“Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
“Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda :
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
“Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]
“Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]
Dari beberapa hadits di atas sudah jelas bagi kita bahwa isbal hukumnya minimal makruh bahkan haram. Namun, masih ada di antara kaum muslimin yang terjerumus oleh syubhat para penentang sunnah. Salah satu syubhat yang saat ini melanda kaum muslimin adalah "boleh isbal asal tidak sombong". Sekilas, memang syubhat tersebut memang bisa diterima logika karena pada dalil yang ada terdapat kata "sombong". Tetapi, jika kita berfikir lebih kritis maka syubhat tersebut justru sangat lemah dari sisi logika. Berdasarkan tiga hadits di atas balasan bagi orang yang isbal adalah Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat (jika dilakukan dengan sombong), masuk neraka (dilakukan dengan kesombongan maupun tidak), dan tidak akan disukai oleh Allah (jika dilakukan dengan kesombongan). Kesimpulannya adalah, isbal itu tetap dilarang, sedangkan hukuman setiap orang yang melakukan isbal itu berbeda tergantung sombong atau tidaknya.

Di kalangan masyarakat umum saat ini memang sunnah ini masih kurang dikenal sehingga jika ada orang-orang yang mengamalkan sunnah ini dianggap nyeleneh. Walaupun begitu, saya bersyukur masih ada orang-orang yang berusaha melakukannya dan mendakwahkannya. Selain berdakwah di majelis ilmu, buletin, atau media lainnya orang-orang tersebut juga berdakwah dengan mempraktekkannya.

Sayangnya ada pihak tertentu yang menganggap bahwa pengamalan sunnah oleh sebagian kaum muslimin adalah bentuk kesombongan. Di sebuah situs disebutkan bahwa "Zaman Sekarang, celana isbal justru lebih dekat kepada sombong". Memang bisa seseorang memiliki sifat sombong atau pamer dalam ibadahnya, tetapi hal ini bersifat umum, tidak hanya dalam perkaran non-isbal tetapi juga dalam perkara lain. Kita memang tidak bisa menganggap semua orang baik, tetapi tidak bisa juga menganggap semua orang sombong. Salahnya lagi, admin situs tersebut menggunakan gambar syekh saudi sebagai perbandingan padahal syekh saudi bukan patokan sebuah kebenaran. (Saya pribadi masih heran, mengapa masih sering ditemui orang saudi yang isbal).

Jika seseorang menjadi sombong dengan ibadahnya berarti yang harus diperbaiki adalah hatinya, bukan ibadahnya. Jangan sampai karena ingin mengkritik kesombongan pada diri orang lain justru mengakibatkan ibadah tersebut menjadi ditinggalkan, lebih parah lagi jika orang yang mengkritik justru tidak mengamalkan sunnah tersebut. Alasan mereka pun tidak syar'i, yaitu menganggap orang yang tidak isbal sebagai orang yang na'if karena tidak menghargai desainer atau terlihat ganjil.

Pembahasan lengkap bisa dibaca di :
- Sumber 1
- Sumber 2
- Sumber 3
- Sumber 4
- Sumber 5


Andre Tauladan

Selasa, 31 Mei 2016

Sudah siap berburu Lailatul Qadar?

Tidak lama lagi in syaa Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat besar keutamaannya. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar. Malam tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar bagi umat islam, karena merupakan malam pertama kali turunnya Al Qur'an.  Dengan Al Qur'an manusia menjadi memiliki pedoman agar kehidupannya lebih jelas dan derajatnya terangkat menjadi lebih tinggi. Malam ini hendaknya tidak perlu diperingati dengan acara-acara tertentu, tetapi menjadi momen bagi seluruh umat islam untuk berlomba-lomba melakukan amal shalih dan bangun di malam hari dengan mengharap ridha dan ampunan Allah ta'ala.

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang keutamaan di malam Lailatul Qadar.

lailatul qadr

1.Lailatul Qadar adalah malam seribu bulan.

Di dalam Al Qur'an terdapat firman Allah yang menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

 “Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)

Dalam ayat lain Allah berfirman bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah:

“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ad Dukhan : 3 – 6)

2. Kapankah malam Lailatul Qadar itu?

Terdapat beberapa riwayat yang dapat dijadikan landasan untuk menjawab "kapankah malam Lailatul Qadar?". Dalam sebuah riwayat (masih terjadi perbedaan pendapat para ulama) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa malam tersebut terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan.

Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini?’ Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.'”

Terdapat pendapat yang diyakini paling kuat yang menerangkan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))


Sebagai referensi tambahan, berikut ini tausyiah pendek tentang kapankah malam Lailatul Qadar?



3. Bagaimana mencari malam Lailatul Qadar

Alangkah meruginya orang yang tidak mampu mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar. Sayangnya, tidak setiap orang akan mendapat keutamaannya. Ada orang-orang yang telah Allah haramkan baginya seluruh kebaikan. Oleh karena itu, sebagai umat islam yang dalam setiap harinya tidak pernah bersih dari dosa, maka malam tersebut adalah malam yang ditunggu-tunggu untuk melakukan amalan yang disyari'atkan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar dan memohon ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya,
“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab “Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.(Allahumma Innaka ‘Affuwun Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna)” (HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan berkah dari Allah dan taufiq untuk menaati-Nya. Mari kita bangun untuk shalat malam di sepuluh malam terakhir, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, menjauhi wanita, dan melaksanakan perintah Allah. 

Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah di malam-malam tersebut dalam sebuah riawayat dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha :

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))

Juga dari ‘Aisyah, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Muslim (1174))

4. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar

Jangan sampai kita melewatkan malam yang penuh keistimewaan di bulan Ramadhan. Kita sudah tahu bahwa untuk mendapatkan keutamaannya berarti kita harus mempersiapkan diri dan menyambutnya di sepuluh hari terakhir. Agar lebih yakin kita juga harus tahu tanda-tanda malam Lailatul Qadar. Berikut ini beberapa riwayat tentang tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar.


Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (Muslim (762))

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:

“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan.” (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)

sumber : Ikhtisar Shifat Shaum Nabi SAW Fi Ramadhan

Oleh : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Saudaraku, semoga kita diberikan kemampuan lahir dan bathin, diberikan kesehatan lahir dan bathin agar sampai kepada bulan Ramdhan dan mampu meraih pahala di dalamnya dan mendapatkan keutamaan di malam-malam terakhirnya. Masih banyak orang yang belum tahu keutamaan malam lailatul qadar, jangan biarkan mereka dalam kegelapan. Sebarkanlah artikel ini semoga menjadi amal shalih sebagai bagian dari dakwah kita semua.

Aamiin.
Andre Tauladan

Rabu, 09 Desember 2015

Fabricated Hadeeth Series

Fabricated Hadeeth Warning

This hadeeth has been classed as maudoo (FABRICATED).

Like the Farewell Sermon, some have attributed false sources to this, saying it is found in Bukhaaree (No. 6:19) and Tirmidhee (No. 14:79).

It is found in neither, but can be found in Silsilatul-Ahaadeeth ad-Da’eefah wa al-Mawdoo’a (No. 3274) of Imaam al-Albaanee, where he said:

“Verily when a man looks at his wife and she looks at him, Allaah will look at them both with glance of Mercy, when he takes her hand their sins will be wiped away through their fingers”

(This is) fabricated, reported by ar-Raafi’ee in his Taarikh (2/47) commenting on Maysara bin ‘Alee in his Mashaykha with its chain of narration from al-Hussain bin Mu’aadh al-Khurasaanee who narrated from Ismaa’eel bin Yahya at-Taymee from Mis’ar bin Kidaam from al-‘Awfee from Abee Sa’eed al-Khudree who said: The Messenger of Allaah (sallallaahu ‘alayhi wa sallam): and then he mentioned the hadeeth.

I [al-Albaanee] say (regarding this hadeeth):

“This is fabricated, damaged by this at-Taymee; he is known to fabricate ahadeeth and he has false and troublesome narrations which some of it were already mentioned, and Hussain bin Mu’aadh is almost like him. Al-Khateeb said (regarding him): ‘He is not trustworthy and his hadeeth is fabricated.’”

Be warned, lying upon the Prophet (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) will result to entering the Hell-Fire (if Allaah wills)!

The Prophet (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) said:

“Whoever (intentionally) ascribes to me what I have not said then (surely) let him occupy his seat in Hell-fire.”

[Saheeh al-Bukhaaree]
Andre Tauladan

Senin, 30 November 2015

Sedikit bercanda


pic : http://www.slideshare.net/khomsyasholikha/jangan-asal-bercanda
Umar berkata, ”Barangsiapa yang banyak tertawa maka sedikit kemuliaannya, barangsiapa yang bercanda maka dia akan diremehkan.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Bertakwalah kepada Allah dan waspadalah terhadap canda. Sesungguhnya canda dapat mewariskan kedengkian dan membawanya kepada keburukan.”

Imam Nawawi di dalam kitabnya itu mengatakan bahwa para ulama berkata, ”Sesungguhnya canda yang dilarang adalah yang kebanyakan dan berlebihan karena ia dapat mengeraskan hati dan menyibukkannya dari dzikrullah dan menjadikan kebanyakan waktu untuk menyakiti, memunculkan kebencian, merendahkan kehormatan dan kemuliaan.“

Adapun canda yang tidak seperti demikian maka tidaklah dilarang. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit melakukan canda untuk suatu kemaslahatan, menyenangkan dan menghibur jiwa. Dan yang seperti ini tidaklah dilarang sama sekali bahkan menjadi sunnah yang dianjurkan apabila dilakukan dengan sifat yang demikian. Maka bersandarlah dengan apa yang telah kami nukil dari para ulama dan telah kami teliti dari hadits-hadits dan penjelasan hukum-hukumnya dan hal itu karena besarnya kebutuhkan terhadapnya. wa billah at Taufiq.
(Fatawa al Azhar juz X hal 225)

Wallahu A’lam.
Andre Tauladan

Senin, 24 Maret 2014

Majalah Al Qolam Edisi 1

Semua orang bisa mengukir sejarah (kalo mau). Menciptakan sejarah bisa saja dilakukan dalam bentuk lukisan, patung, bangunan, bisa juga lewat tulisan. Alhamdulillah, majalah Al Qolam udah terbit. Al Qolam adalah UKM Kepenulisan Islami di UPI. Para anggotanya pada hobi nulis. Nah, kali ini tulisan mereka dituangkan dalam majalah. Kalo anda mau membaca di sini boleh, mau di download juga boleh.
ukm kepenulisan islami al qolam

Tadinya sih majalah ini cuma ada dalam bentuk PDF. Nah, tadi siang saya jalan-jalan di timelinenya kang Emil, walikota Bandung yang cool tea. Di situ ada yang nanya tentang kinerja pemkot, dan kang Emil ngasih link ke issuu.com. Bagus juga nih fiturnya, jadi seperti baca e-paper koran-koran gitu. Dari situ saya jadi kepikiran untuk mengupload majalah ini. Selamat membaca :)


Andre Tauladan

Jumat, 15 Maret 2013

( HIKMAH ) KEWAJIBAN BERILBAB DAN BERBAGAI ALASAN MEREMEHKANNYA -

aturan berjilbab

Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya. Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana.

Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak?

Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.

Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33).

Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.

Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.
Andre TauladanFB Yusuf Mansur

Minggu, 02 September 2012

Nikah Muda

Oleh : Gus Ulil

gambar nikah muda
Nikah memang punya banyak makna. Ia bisa berarti menegakkan sunnah Rasul. Bisa juga sebagai pemenuhan tuntutan fitrah. Juga, sebagai penyambung keberlangsungan hidup umat manusia. Ada hal lain buat mereka yang nikah di usia muda. Nikah juga bermakna perjuangan.

Hampir tak satu pun manusia yang betah membujang. Selalu saja ada hasrat untuk hidup berpasangan. Pria rindu ingin bersama wanita. Dan wanita kangen disayang pria. Hasrat-hasrat alami itu akan punya nilai tinggi dalam taman indah yang bernama nikah.

Masalahnya, bagaimana keindahan taman itu jika ikatannya terjalin di saat muda. Muda usia, muda pengalaman, muda pendidikan, dan muda penghasilan. Saat itulah terjadi pertarungan yang lumayan sengit: antara idealita dengan realita. Antara cita-cita tinggi dengan kenyataan hidup yang mesti dilakoni. Dan pertarungan itulah yang kini dialami Jaka.

Dua tahun sudah calon bapak ini mengarungi bahtera rumah tangganya. Seribu satu suka dan duka ia nikmati bersama isteri tercintanya. Kadang ia berkesimpulan bahwa nikah itu anugerah indah. Sedemikian indahnya, sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tapi, tak jarang kesimpulan sebaliknya bisa hinggap. Jaka juga kerap berkesimpulan bahwa nikah merupakan perjuangan yang teramat berat.

Awalnya, bayang-bayang indah pernikahan lebih dominan dari perjuangannya. Walau baru setahun lulus sekolah menengah atas, Jaka sudah punya tekad bulat: “Saya harus nikah, insya Allah!” Dan, tekad itu benar-benar menggulir walau mesti melalui rel yang tidak mulus.

Mungkin, banyak pihak di sekitar Jaka yang geleng-geleng kepala. Ada apa dengan anak ini? Apa ia tergolong hiper seks. Atau, jangan-jangan sudah terjadi kecelakaan. Atau…? Masih banyak lagi dugaan yang tidak enak didengar oleh seorang Jaka yang juga aktivis rohis di sekolahnya.

Dan yang tidak kalah sengitnya adalah orang tua Jaka sendiri. Ayah ibunya bingung. Kok, anak saya jadi begini. Apa ini pengaruh dari ajaran rohis? Orang tua Jaka yakin seratus persen kalau Jaka tidak mungkin melakukan penyimpangan. Jangankan hubungan gelap, hubungan terang saja tak pernah diperlihatkan Jaka. Boro-boro dua-duaan, ketemu wanita saja Jaka sudah alergi: pandangannya tertunduk, wajahnya pucat, tubuhnya banjir keringat. Lalu?

“Saya bertekad nikah karena ingin segera dapat surga dunia dan akhirat,” jawab Jaka tenang. Kontan saja, kedua orang tua Jaka tertegun. Hampir tak ada celah buat menjegal tekad Jaka. Sejak SMP, Jaka memang sudah rajin dagang. Ia memang bukan tipe anak yang suka berlidung di balik kantong orang tua. Semua biaya sekolahnya hampir seratus persen mengucur dari kocek sederhananya. Termasuk, biaya buat walimahan.

Saat itu, tak ada bayang-bayang pun yang melintas di benak Jaka kecuali keindahan. Betapa sejuknya hati ketika menatap senyum isteri. Betapa semangatnya hidup ketika cinta tak pernah redup. Betapa tenangnya pandangan mata ketika syahwat tak lagi terpenjara. Dan, betapa mantapnya iman ketika nafsu tak lagi gampang dipermainkan setan.

Berlangsunglah masa-masa indah kehidupan Jaka. Hari berganti hari dan bulan pun menjumpai tahun. Ternyata, hidup tak selamanya penuh pesona wewangian taman bunga. Ada kalanya hidup penuh bara api dan asap tebal yang menyesakkan. Idealita sering tak cocok dengan realita. Dan nada-nada itulah yang kini bersenandung mengiringi keluarga Jaka.

Bisnis serabutannya tak lagi lancar seperti dulu. Ada saja masalahnya. Madu yang biasa dilakoni Jaka kurang diminati pelanggan. Pedagang koran pun mulai bertebaran. Kian banyak saingan di sektor ini. Sementara, biaya kuliahnya kian naik. Biaya kontrak rumah pun mulai melonjak. Isteri mulai ngidam. Tubuhnya lemas, perutnya mual-mual, kepalanya sering pusing-pusing. Tentu saja, sang isteri tak lagi sempurna menunaikan urusan rumah tangga dan kampus. Apalagi mencari penghasilan sampingan.

Mulailah irama ketidakstabilan mengiringi hidup Jaka. Konflik pun kian bermunculan. Seperti saat ini saja, Jaka bingung mau pinjam duit ke siapa lagi. Bulan lalu sudah pinjam ke teman kampus. Minggu lalu pinjam ke teman pengajian. Sementara, kebutuhan terus mengalir dan tak kenal penundaan. Ke orang tua?

Ini yang paling dijaga Jaka. Seberat apa pun beban hidup, Jaka tak mau berurusan dengan orang tua. Ia bukan ragu tentang kemurahan orang tuanya. Bukan juga takut. Tapi, Jaka tak mau kalau idealismenya luntur hanya karena soal makan. Terlebih setelah Jaka janji tak mau ngerepotin orang tua.

Kadang, suasana kejepit seperti itu menumbuhkan bayang-bayang masa lalu. “Kamu yakin nggak akan menyesal, Jaka?” pertanyaan-pertanyaan ibunya dua tahun lalu tak jarang menggoda ketegarannya. Kenapa nggak selesai kuliah dulu. Kenapa nggak cari kerja yang enak dulu.Kenapa nggak beli rumah dulu.

“Benarkah saya menempuh rute jalan yang salah?” sebuah pertanyaan menukik tajam ke lubuk hati Jaka. Ah, benarkah? Sikap tegar Jaka kian sengit bertarung dengan kegelisahannya. Kadang tegar menguasai keadaan. Dan tak jarang, gelisah menyetir suasana. Dalam pertarungan imbang itu, sikap kritis Jaka kerap menjadi penengah. Mestikah roda hidup selalu bergulir secara seri dan linier? Tidakkah mungkin ada lompatan-lompatan?

Ketegarannya mulai menguasai keadaan. Masih kuat dalam benak Jaka kisah teladan Rasul dan para sahabat. Sebuah fragmen hidup masa lalu yang tak kunjung kering dari air pelajaran. Siapa yang mengira kalau seorang penggembala yatim bisa menjadi pemimpin besar umat ini. Siapa yang menyangka kalau seorang budak, Bilal bin Rabbah, bisa tampil menjadi pemimpin yang disegani. Siapa yang menyana kalau seorang budak buangan, Zaid bin Haritsah, bisa melahirkan seorang panglima perang yang ditakuti.

Hidup memang perjuangan. Suka dan duka pasti akan menjambangi setiap manusia. Tak peduli apakah manusia itu menganggap hidup sebagai perjuangan atau tempat bersantai. Jaka tersadar dengan keadaannya. Kini, bukan saatnya lagi mempersoalkan halte hidup yang telah terlewati. Ada dua resep yang akan ditebus Jaka: hadapi hidup apa adanya, dan jangan coba-coba lari dari kenyataan perjuangan.

Kesusahan dan kemudahan tak ubahnya seperti dua muka kepingan uang logam. Satu sama lain tak akan berpisah jauh. Bersama kesusahan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan. Kesusahanlah yang menguatkan bahwa menikah itu perjuangan. Dan kemudahan, insya Allah, kian menguatkan warna-warni indahnya pernikahan.
Andre Tauladan

Minggu, 15 Januari 2012

Best Islamic Apps for Android

Wuah.. Beberapa postingan terakhir saya semuanya berkaitan dengan komputer dan internet, baiklah, postingan sekarang dikombinasikan sedikit. Postingan kali ini, saya isi dengan kombinasi "Islamic-related" dan "Gadget-related" topics. Saya mau sekedar berbagi informasi tentang Aplikasi Islami Terbaik untuk Android (Best Islamic Apps for Android). Saya ambil dari berbagai sumber. Sekalian belajar bahasa Inggris. Hehehe. ^____^



Aplikasi ini dianggap sebagai aplikasi terbaik dan terlengkap. Dikembangkan oleh Iqra Tech, LLC untuk Android 2.1 ke atas. Fiturnya sangat lengkap, Al-Quran dengan terjemahan (bahasa Inggris, Perancis, dan Belanda), Hadits (Shahih Muslim, Shahih Bukhari, Malik Muwatta, dan hadits Qudsi), Muslim Yellow Pages, Jadwal shalat, Petunjuk arah kiblat dan kumpulan doa-doa.



Aplikasi ini dikembangkan oleh NextWorldMobile untuk digunakan di Android 2.1 ke atas. Aplikasi ini 100% tidak berisi iklan ataupun pop-up. Anda hanya perlu mengatur posisi lokasi Anda berdasarkan inisial yang tersedia, kemudian aplikasi ini akan mengingatkan Anda akan waktu shalat melalui pesan suara secara otomatis. Pesan suara yang digunakan bisa berupa alarm atau suara adzan. Fitur-fitur lain yang tersedia adalah Qibla Compass, Hijri-Gregorian Converter, dan hari-hari penting dalam islam. Aplikasi ini sangat disarankan karena banyak kegunaanya. Oh ya, aplikasi ini Free alias gratis.




Ada dua versi iQuran. Versi Free dan versi Pro. iQuran memudahkan kita untuk selalu keep in touch dengan Al-Quran tanpa harus selalu membawa Al-Quran versi cetak. Aplikasi ini dikembangkan oleh Guided Ways untuk Android 1.6 ke atas. Beberapa fitur yang tersedia antara lain, Al-Quran dengan terjemahan Bahasa Inggris, Bookmark ayat (free hanya 5 Bookmark),  audio bacaan Al Quran oleh berbagai Qari (free hanya Syekh Husary). Bagi yang memiliki uang cukup, nggak ada salahnya beli yang Pro. ^__^



Qibla Compass dikembangkan oleh Binary Solution untuk digunakan di Android 1.5 keatas, kegunaannya sama seperti namanya, yaitu sebagai penunjuk arah kiblat. Setelah dilakukan pengaturan yang tidak terlalu rumit, Anda tinggal meletakkan ponsel di tanah (lantai) agar aplikasi ini berfungsi dengan baik. Selain itu, aplikasi ini juga memiliki fitur waktu shalat, dan pengukur jarak dan arah dari lokasi Anda ke Mekah. Berguna sekali. Aplikasi ini juga gratis.

Sekian daftar Aplikasi Islami Terbaik untuk Android (Best Islamic Apps for Android). Saya ambil dari nascenstuff dengan terjemahan sebisanya. Selamat mencoba dan berkomentar. ^__^

Jumat, 09 Desember 2011

Tiket Murah Menuju Surga

 http://acehmall.files.wordpress.com/2010/03/a_muslim_woman_stock.jpg
Pada suatu masa, ada seorang saudagar kaya yang baru datang ke wilayah Balkh, Iran selatan. Ia datang bersama istri dan anaknya. Singkat cerita, tidak lama setelah ia sampai disana, ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Tanpa dirinya, sang istri dan anaknya jatuh miskin dan harus berjuang keras untuk hidup. Karena tidak tahan oleh ejekan orang lain, akhirnya dia (istrinya) pergi dari Balkh ke Samarkand.

Pada hari kedatangannya di Samarkand, waktu itu cuaca sangat dingin. Ia meninggalkan anak perempuannya di sebuah masjid kemudian pergi untuk mencari makanan. Di perjalanan, ia bertemu dengan dua kelompok orang. Kelompok yang satu adalah orang dengan gelar syekh, dan kelompok yang satunya adalah Zoroastrian (Majusi) yang menjadi petugas keamanan di kota itu.

Pertama, wanita itu mendatangi sang Syekh dan menceritakan keadaannya, ia berkata "Saya wanita dari keluarga terhormat, saya ke sini dengan anak perempuan saya yang saat ini sedang berada di sebuah masjid, dan saya datang menemui anda untuk meminta makanan." Sang Syekh berkata "Buktikan bahwa kau berasal dari keluarga terhormat." Wanita itu menjawab, "Saya orang asing di kota ini, oleh karena itu tidak akan ada orang yang bisa memberikan kesaksian untuk saya." Akhirnya dengan berat hati ia meninggalkan tempat kediaman Syekh. Kemudian wanita itu mendatangi sang Zoroastrian dan bercerita tentang keadaannya, bercerita kepada orang majusi itu tentang latar belakang keluarganya, dan tentang anak perempuannya yang sedang ditinggal di sebuah masjid. Wanita itu juga bercerita tentang perlakuan Syekh kepadanya. Kemudian orang majusi itu berdiri dan menyuruh wanita itu untuk membawa anaknya datang ke rumah orang majusi itu. Di situ wanita itu dan anaknya dirawat dan dilayani dengan baik. Ia diberi makanan yang baik dan pakaian yang bagus.

Malamnya, sang Sheikh bermimpi tentang hari kiamat, ia melihat sebuah panji terbentang di dekat Rasulullah SAW. Di depannya, ada istana yang terbuat dari zamrud, balkonnya dari mutiara dan batu rubi, dan kubahnya dari mutiara juga. Dalam mimpi itu Syekh bertanya kepada Rasulullah SAW "Ya Rasulullah, untuk siapakah istana ini?" Rasulullah SAW menjawab "Untuk muslim" Syekh membalas "Saya muslim". Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata "Buktikan padaku bahwa kau seorang muslim!". Sang Syekh langsung terdiam. Kemudian Rasulullah SAW berkata "Engkau meminta bukti kepada seorang wanita tentang kehormatannya, maka aku tanya padamu, dapatkah kamu membuktikan bahwa kamu seorang muslim?" Mendengar hal itu sang Syekh menyesal tentang perbuatannya terhadap seorang wanita dan anaknya yang terlantar.

Di keesokan paginya, Ia langsung pergi untuk menemui wanita itu. Ia tahu bahwa wanita itu tinggal dengan seorang zoroastrian, dan ia pun memanggilnya. Ketika orang zoroaster itu datang, Sang Syekh memintanya untuk membawa wanita yang ada padanya beserta anaknya ke hadapannya. Si Zoroaster berkata "Tak akan pernah! Darinya saya mendapatkan berkah." Sang Syekh berkata "Aku akan memberimu seribu dinar, asalkan kau membawa mereka padaku." Si Zoroaster membalas "Tidak mungkin! Seseorang yang ada dalam mimpimu telah memberikan sebuah istana untukku. Apakah kamu terkejut karena saya bukan seorang muslim? Demi Allah (SWT), Aku tidak tidur semalam, sebelum aku dan keluargaku memeluk islam atas bimbingan wanita itu dan aku bermimpi persis seperti mimpimu; Nabi Muhammad SAW bertanya padaku, "Apakah wanita yang terhormat itu dan anak perempuannya ada bersamamu?" Saya menjawab: "Ya, wahai rasulullah." Nabi Muhammad SAW berkata, "Istana ini untukmu dan keluargamu. Allah (SWT) menjadikanmu seseorang yang beriman kepada hari yang kekal." Seketika itu juga sang Syekh menjadi sangat sedih karena telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kedudukan yang mulia di surga, karena dia telah mengabaikan seorang wanita yang ditinggal mati suaminya beserta anaknya.

Nabi s.a.w telah bersabda: Orang yang berusaha untuk membantu para janda dan orang miskin diibaratkan sebagai orang yang berperang di jalan Allah, orang yang bangun sembahyang sepanjang malam dan seperti orang yang berpuasa tanpa berhenti. (Bukhari and Muslim)  Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa melakukan yang benar, Dialah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Diterjemahkan secara "seadanya" oleh Andre Tauladan dari sumber 

Rabu, 07 Desember 2011

Ucapan Ketika Melewati Kuburan

http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/387438_178159778946382_100002570824843_320050_982193357_n.jpg 

Membaca Ta’awudz Ketika Melintasi Kuburan Membaca ta’awudz atau meminta perlindungan kepada Allah ketika melintasi kuburan atau tempat-tempat yang dianggap keramat dan membahayakan, sekilas terkesan merupakan amalan yang disyariatkan bahkan mungkin ada sebagian yang menganggapnya sebagai ibadah. Karenanya ketika seorang muslim -bahkan sebagian penuntut ilmu- mendengar amalan ini maka mereka serta merta akan membenarkannya. Atau bahkan mereka sendiri mungkin mengamalkannya. Akan tetapi tahukah anda bahwa di dalam amalan ini - yakni membaca ta’awudz ketika lewat atau berada di tempat-tempat menyeramkan- terdapat ‘sesuatu’? Sebagai catatan pertama terhadap amalan ini kami katakan: Yang menjadi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika melewati kuburan atau berada di kuburan adalah mengucapkan salam, bukannya membaca ta’awudz. Di antara lafazh salam yang disyariatkan adalah: 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian keselamatan.” (HR. Muslim no. 1620 dari Buraidah radhiallahu anhu)

Maka berta’awudz ketika melalui atau berada di kuburan adalah menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Catatan kedua: Kita tanyakan kepada orang yang berta’awudz ketika melewati kuburan atau yang semacamnya ini. Kenapa dia membaca ta’awudz?
Jika dia menjawab: Saya takut kepada makhluk ghaib (dengan semua jenisnya), karena makhluk ghaib ini bisa menimpakan mudharat kepada saya.

Maka ucapan seperti ini merupakan kekeliruan yang besar dan dia telah berbuat kesyirikan dengan keyakinannya itu. Hal itu karena khauf (takut) itu adalah ibadah, sehingga khauf kepada selain Allah adalah kesyirikan. Karenanya para ulama ketika menyebutkan jenis-jenis khauf yang merupakan kesyirikan, mereka menyebutkan di antara bentuknya adalah khauf kepada orang yang telah meninggal atau kepada jin-jin. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)

Ayat ini tegas menyebutkan bahwa yang bisa ditakut-takuti oleh setan hanyalah orang-orang yang memang pada dasarnya takut kepada setan, yang dalam ayat ini diungkapkan sebagai ‘kawan-kawannya’. Lalu Allah Ta’ala memerintahkan untuk menunggalkan rasa takut kepada-Nya dan melarang takut kepada setan-setan itu, sebagai syarat keimanan seorang hamba.

Dan jika dia menjawab: Saya yakin bahwa mudharat dan bahaya itu di tangan Allah, karenanya saya berta’awudz agar jangan sampai Allah mengizinkan mereka (penghuni kubur) menimpakan mudharat kepada saya.

Maka ucapan seperti ini hakikatnya bertentangan dengan keyakinannya.
Karena kita akan bertanya: Apakah betul orang yang telah meninggal masih bisa menimpakan mudharat kepada orang yang masih hidup?

Jika dia menjawab: Ya masih bisa. Maka ini adalah keyakinan yang batil. Orang yang telah meninggal telah berada di alam barzakh, mungkin mendapatkan nikmat dan mungkin juga mendapatkan siksa. Maka bagaimana bisa mereka menimpakan mudharat kepada orang yang masih hidup?! Maka keyakinannya yang batil ini telah mengantarkan dia kepada perbuatan kesyirikan yaitu meyakini bahwa selain Allah (makhluk ghaib) bisa menimpakan mudharat walaupun tanpa izin dari Allah. Dan walaupun dia tidak mengucapkan hal itu, akan tetapi yang menjadi patokan di sini adalah hatinya, bukan lisannya.

Yang menjadi indikasi bahwa dia takutnya kepada mayit atau jin adalah bahwa biasanya dia hanya membaca ta’awudz ketika melewati kuburan dan semacamnya sendirian, adapun ketika ramai-ramai maka dia tidak membacanya. Atau ketika dia melaluinya di malam hari dan tidak membacanya ketika melaluinya di siang hari. Semua indikasi ini menunjukkan bahwa ucapannya: “Saya yakin bahwa mudharat dan bahaya itu di tangan Allah,” adalah kedustaan yang bertentangan oleh amalan dan keyakinannya.

Catatan ketiga: Bahwasanya orang ini -karena keseringan dia membaca ta’awudz-, maka besar kemungkinan dia akan meyakini bahwa ta’awudz ini disyariatkan ketika melewati kuburan atau tempat-tempat keramat. Dan ini keyakinan lain yang salah besar. Hal itu karena ta’awudz adalah ibadah, sehingga dalam pengucapannya -termasuk dalam masalah tempat mengucapkannya- harus sesuai dengan petunjuk syariat. Karenanya kapan ta’awudz ini dibaca dan dikhususkan pada tempat tertentu tanpa dalil maka jadilah dia bid’ah dalam agama. Dan sama sekali tidak ada dalil yang mensyariatkan ta’awudz ketika melewati kuburan, bahkan sebaliknya yang ada adalah disyariatkan mengucapkan salam kepada penghuni kubur, sebagaimana yang disebutkan di atas.

Jika ada yang bertanya: Bagaimana dengan hadits Khaulah bintu Hakim radhiallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
 “Barang siapa yang singgah pada suatu tempat kemudian dia membaca, “A’AUUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAH MIN SYARRI MAA KHALAQ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang Dia ciptakan),” niscaya tidak akan ada yang membahayakannya hingga di pergi dari tempat itu.” (HR. Muslim no. 4881)

Maka jawabannya: Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan doa di atas bagi siapa saja yang singgah atau tiba pada suatu tempat dalam perjalanannya, dan sama sekali Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mengkhususkan doa itu ketika singgah atau melewati kuburan atau tempat-tempat keramat. Karenanya doa di atas tetap disyariatkan dibaca walaupun ketika seseorang itu mampir di masjid untuk shalat di tengah perjalanannya. Jadi sama sekali tidak ada sisi pendalilan bagi dia dalam hadits di atas.

Demikian yang bisa kami jelaskan, semoga kaum muslimin seluruhnya bisa mengambil manfaat darinya dan bersegera meninggalkan kebiasaan yang tidak sejalan dengan tuntunan syariat Islam, wallahul Musta’an.

Sumber : Al-Atsariyah

Sabtu, 12 November 2011

Keselarasan Antara Bimbingan Rasul dan Ilmu Bumi

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Di antara mukjizat dalam ilmu pengetahuan pada sunnah adalah sabda Rasulullah, "Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga tanah Arab kembali menjadi padang rerumputan atau perkebunan." (HR Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah bersabda "sehingga tanah Arab kembali" maksudnya tanah jazirah Arab. Adapun makna sabda Rasul SAW "sehingga kembali" yaitu bahwa dahulu tanah Arab dipadati oleh rerumputan dan perkebunan, dan nanti tanah Arab akan kembali seperti semula.

Pembuktian hadits ini, bahwa berkat kemajuan teknologi dan ilmu geologi serta kemajuan teknologi riset, para ahli geologi memprediksi bahwa sebagian daratan Arab pada masa dahulu adalah tanah yang subur untuk pertanian dan perkebunan.

Sungguh dahulu tanah Arab sangat subur dan bukan gurun pasir yang tandus. Akan tetapi perubahan iklim menyebabkan kekeringan air yang mengakibatkan padang yang tadinya subur menjadi gurun pasir yang tandus.

Lalu para ahli geologi menyebutkan bahwa tanah ini akan mengalami perubahan iklim yang dapat mengembalikan tanah tersebut seperti sedia kala.

Semua makna ini tertuang dalam sabda Rasulullah SAW yang sangat singkat dan padat. Walaupun beliau bukan seorang yang ahli dalam ilmu geologi atau ilmu lainnya. Ini menegaskan kebenaran risalah Rasulullah SAW.

Senin, 22 Agustus 2011

Sunnah dan Sains: Khasiat Buah Kurma


"Jika Nabi Muhammad Saw mengatakan ini, maka sangat layak untuk kita ikuti." (Oreintalis Bernand Shou)

Dari sekumpulan sabda-sabda Rasulullah SAW yang terdapat kandungan ilmu pengetahuan, adalah sabdanya:

"Rumah yang tidak terdapat kurma melaparkan penghuninya." (HR Ibnu Majah)

"Sesungguhnya pada kurma Aliyah terdapat penawar penyakit."
(HR Muslim dan Ahmad) Kalimat-kalimat yang sangat singkat namun mengandung makna yang sangat mendalam dari sisi ilmu pengetahuan. Dan riset telah membuktian keistimewaan hadits Nabi ini.Bahwa kurma mengandung unsur-unsur gula yang sangat tinggi hingga mencapai 70 persen, juga mengandung 3 persen protein dan 1 persen lemak. Kurma juga mengandung unsur potasium dan magnesium hingga buah ini sangat ampuh untuk pertahanan tubuh dari penyakit kanker.

Maksud dari kurma mengandung 70 persen gula, bahwasannya prosentase aliran panas akibat memakan kurma sangat besar. Sehingga energi yang dihasilkan oleh kurma pun sangat besar.

Energi yang terkandung dalam sel-sel tubuh manusia akan memberikan daya dan rasa hangat yang lebih, sebagaimana energi tersebut akan membuat kenyang pemakannya karena kurma memberikan aliran panas yang cukup.

Oleh sebab itulah Rasulullah SAW senantiasa memulai berbuka puasa dengan kurma.  Lalu kita bertanya, "Apakah Nabi Muhammad SAW seorang dokter atau seorang peneliti dalam ilmu kimia hingga beliau bersabda seperti ini?"

Juga beliau tidak pernah meminta fatwa kepada seorang pun tentang masalah ini, atau apakah anda melihat bahwa Nabi Muhammad tidak mengetahui sesuatu yang akan terjadi terhadap dakwahnya, kalau seandainya laboratorium ilmu pengetahuan menegaskan adanya kesalahan pada sabdanya.

Ketahuilah, bahwa pada hakekatnya yang berkata demikian bukanlah Muhammad SAW, akan tetapi Allah SWT, sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates