Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Namun kini kau beranjak pergi meninggalkanku

Jujur, aku sangat merindukan kedatanganmu. Aku dan banyak muslim lainnya. Bahkan sejak beberapa bulan sebelum kedatanganmu kami sudah mempersiapkan diri. Di saat banyak orang lain yang merasa gelisah takut engkau menyusahkan mereka, kami sejak awal tahu bahwa engkau justru akan membawa kebaikan bagi kami.

Akhirnya engkau datang. Kabar gembira pertama yang engkau sampaikan adalah khilafah telah tegak kembali. Di samping malam-malam mulia dengan tarawih dan tadarus, dan keutamaan lainnya ketika engkau hadir, kau datang dengan berita spesial. Walaupun engkau hadir di tengah ramainya sambutan terhadap piala dunia, tapi aku lebih mencintaimu. Engkau tidak hanya memberikan kesenangan dunia tetapi juga akhirat. Banyak orang lain yang tidak mempedulikanmu. Mereka menganggap kau hadir tapi tidak memberikan hidangan. Mereka sibuk dengan taruhan timnas mana yang akan menang. Ada juga yang sejak awal sudah berani tidak mengindahkanmu. Mereka tetap makan di siang hari.

Aku pun sedih. Di tengah kehadiranmu yang mulia, orang-orang banyak yang lebih peduli terhadap calon presiden pilihannya. Hingga akhirnya engkau pun dinodai denga sebuah pesta demokrasi. Tidak sedikit orang yang bertaruh nasib kehidupannya terhadap calon presidennya. Mereka hanya beda sedikit dengan para pejudi bola. Untuk menghormatimu, aku sobek satu surat suara. Aku lebih memilih untuk menghormatimu daripada mereka.

Di antara yang menyambut, ada saja yang salah. Engkau datang disambut dengan petasan dan kembang api. Bagiku itu sangat tidak sopan. Jika engkau datang dengan kabar pengampunan yang engkau bawa, tetapi mereka yang berdosa itu menyambutmu seperti itu, berarti mereka tidak menghormatimu. Amalan-amalan yang bid'ah pun masih mewabah di masyarakat. Di antara mereka ada yang memenuhi makam keramat. Mungkin suatu saat mereka juga akan mendatangi makam kera sakti, atau kera putih. Masih untung tidak ada yang kera sukan.

Engkau hadir tidak lama. Tapi banyak kemuliaan yang engkau bawa. Awalnya memang banyak yang menyambutmu. Tapi sepuluh hari kedua, mulai ada kemajuan dalam shaf tarawih. Sang imam pun semakin bersemangan membaca surat-surat pendek dalam shalat tarawih, buktinya kian hari kian cepat.

Tak terasa kini waktumu hampir habis. Sebentar lagi kau akan pamit. Hari-hariku akan kembali seperti biasa. Amalan sunnah dihitung sunnah, yang wajib hanya dihitung 1 wajib. Tapi di 10 hari terakhir ini sebelum kau pergi kau memiliki harta karun yang sangat berharga. Kami tidak tahu kapan datangnya malam lailatul qadr. Yang kami tahu malam itu ada di malam ganjil 10 hari terakhir. Oleh karena itu banyak di antara kami yang memburunya. Sebuah masjid di dekat kampusku tiba-tiba penuh. Dikala masjid lain semakin sepi karena ditinggal mudik, masjid ini justru didatangi oleh jamaah dari berbagai daerah.

Tapi, hatiku sering kotor. Terkadang ketika di sana banyak yang hanya tidur dan aku tadarus aku sering merasa lebih baik dari mereka. Ketika aku tadarus kemudian ada orang lain yang tadarus lebih nyaring tensi darahku naik. Apalagi jika ada orang lain yang mampu membaca lebih cepat. Hatiku juga sering kotor, ketika sedang asyik bertadarus lalu ada bunyi musik dari sebuah ponsel. Ah... aku tak tahu apakah aku bisa memanfaatkan saat-saat terakhir besamamu untuk mencari ridha Allah atau tidak.

Maaf ramadhan, aku belum bisa berbuat banyak untuk menegur orang lain atau bahkan memerangi mereka yang tidak menghargaimu. Akupun belum mampu memuliakanmu seperti yang rasulullah contohkan. Ya, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi karena tidak ada persiapan, aku hanya bisa menyuguhimu sekedarnya. Terimakasih atas kedatanganmu. Semoga dengan adanya dirimu doaku yang di hari biasa tidak terkabul nanti bisa terkabul. Tilawah, shalat, dan sedekah yang hanya sedikit bisa menjadi berlipat ganda karena ada engkau. Terakhir, aku berharap kepada Allah swt agar tahun depan aku bisa bertemu lagi denganmu. Dan semoga di saat itu aku memiliki persiapan yang matang agar kedatanganmu tidak sia-sia bagiku.
Andre Tauladan

Selasa, 25 Februari 2014

Rencana Tulisan Selanjutnya

Nih temen-temen, topik tulisan saya selanjutnya dengan target yang belum ditentukan.
1. Transkrip ceramah K.H. A.F. Ghazali berjudul Syukur Nikmat.
2. Transkrip lagu Aisha Radhiallahu 'anha dari Esa
3. Analisa penerapan nilai-nilai islam dalam pendidikan jasmani (ditulis di jurnalnya andre)
4. Kisah saya mulai usaha baru (di jurnalnya andre juga)
5. Menghapus mereka dari kehidupan saya (transkrip dari Delete her nya NAK)
Lima aja dulu itu juga ga tahu kapan beresnya.

Andre Tauladan

Minggu, 05 Januari 2014

Didn't You see How your Lord Dealt with.. | illustrated

Today we are talking about Surah Al Fiil (the elephant). Well, I agree with people who suggested not to having 'favorite' surahs. Yes, there should not be favorite surah. Every surah or ayat in the Al Qur'an must be our favorite. Why should we read the word "naar", "jannah", "azaab" to feel touched? We need to reflect in every surah and ayah. What we need is not only read but also reflect. Any opinion?


Please wait for the next part ^_^

Selasa, 28 Mei 2013

Touring ((Hidup adalah perjalanan)

Hi guys, kali ini andre mau sharing pengalaman lagi. Ini tentang pengalaman andre waktu pulang dari Bandung. Perjalanan pulang dari Bandung ke Garut kali ini memberikan satu pelajaran untuk saya. Di awal perjalanan saya memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, bibi berpesan agar saya jangan kebut-kebutan di jalan. Lampu merah di persimpangan samsat menjadi tempat saya berhenti dan menemui tiga orang pengendara motor besar. Bukan Harley, entah motor apa. Rasa kagum saya terhadap mereka muncul. Motor mereka keren.

Tak jauh setelah melewati lampu hijau saya masih santai membawa motor. Terdengar sayup-sayup suara sirine, tadinya saya takut kalau sirine itu adalah suara motor polisi yang mengejar saya karena saat itu saya sedang berada di jalur cepat. Saya lirik spion, terlihat rombongan Harley Davidson mendekat dari arah belakang, “BBBBBBBBBBB”, mereka lewat dengan penuh aura kewibawaan (lebay xixixi). Kereeeeen... Rasa kagum kali ini mulai membuat saya ingin memacu kendaraan lebih cepat.

Wuung.. Wuung... Kini raungan motor sport yang semakin membangkitkan semangat saya. Barang bawaan di bagian depan motor terasa seperti fering. Sadar diri, motor yang saya kendarai bukan motor dengan CC besar. Setelah tertinggal jauh dari mereka saya pun memperlambat laju kendaraan.

Perjalanan terasa begitu mengesankan dengan banyaknya motor-motor keren yang saya temui. Dari sini saya mengambil pelajaran, bahwa hidup berkelompok itu akan terasa lebih menyenangkan daripada menyendiri. Dalam klub-klub motor yang saya temui, saya perhatikan selalu ada pemimpin atau pemandu yang selalu memberikan aba-aba dari depan. Kemudian saya perhatikan juga bahwa mereka berada dalam satu kelompok dengan nama-nama dan lambang yang berbeda, dan itu menjadi identitas mereka. Satu lagi yang saya perhatikan dari orang-orang yang touring ini adalah mereka selalu bersama. Mereka pergi bersamaan, ada yang bertugas memberi aba-aba, penunjuk arah, dan sweeper (penyapu) yang memastikan tidak adanya orang yang tertinggal atau tersesat dari kelompok mereka.

Pelajaran kembali saya dapatkan di daerah Rancaekek. Situasi lalu lintas yang macet membuat saya harus pandai memanfaatkan celah dari setiap kendaraan agar saya tidak terhambat. Namun saya bukan tipe orang yang ahli dalam hal ini. Kehadiran klub motor lain tidak saya sia-siakan. Mereka begitu lihai melewati celah-celah kemacetan. Saya mencoba mengikuti mereka, tapi saya hanya bisa mengikuti mereka beberapa meter saja dan akhirnya tertinggal jauh. Dari sini saya kembali mendapat hikmah, bahwa orang diluar kelompok biasanya tidak akan dianggap. Mereka tidak peduli ada orang lain yang mengikuti mereka atau tidak. Orang seperti saya yang hanya ikut-ikutan saja tanpa disertai dengan keahlian biasanya akan tertinggal.

Hal-hal seperti itu bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali orang yang tidak punya pendirian atau ikatan. Orang seperti itu biasanya akan mudah terpengaruhi oleh kehebatan orang lain atau orang lain yang terlihat hebat di matanya. Dalam hidup ini juga akan selalu ada persaingan. Setiap siswa pasti ingin lulus, mahasiswa ingin lulus, karyawan ingin gaji besar. Tetapi tidak setiap siswa ilmunya memadai, tidak setiap mahasiswa mau belajar agar mereka pandai, tidak setiap karyawan mau mengembangkan diri agar layak untuk naik gaji.

 
Satu lagi, sesampainya di garut akhirnya saya tahu bahwa para klub motor yang saya temui di jalan tadi sedang dalam perjalanan menuju garut. Mereka akan berkumpul di suatu event yang bernama Garut Bike Week. Saya membayangkan di tempat itu pasti akan banyak orang dengan kelompok masing-masing, identitas masing-masing. Di sana mereka berkumpul dan menunjukkan jati diri mereka. Yah, kesimpulannya begini.

Hidup ini adalah perjalanan, kita perlu adanya pemimpin / panutan / teladan. Perlu ada (dan mengerti) panduan / aba-aba yang diberikan oleh pemandu kita. Kita tidak boleh hanya meniru / mengikuti suatu kelompok tanpa kita memiliki pengetahuan (ilmu / keahlian) tentang mereka. Perjalanan hidup ini pasti ada tujuannya, pada akhirnya di tempat tujuan nanti kita akan melihat jati diri kita sebenarnya. ^___^

Andre Tauladan

Jumat, 24 Mei 2013

Baca Tulis Baca Tulis

Ayam bertelur - telur jadi ayam - ayam bertelur - telur jadi ayam

Baca buku buat bikin tulisan, dari tulisan yang kurang mau ga mau harus baca buku lagi. Yah, muter aja gitu masalah baca tulis mah. Apa yang kita baca bisa aja kita lupa kalo nggak ditulis, apa yang kita tulis bisa jadi pengingat kalo kita baca. ^__^

Pusing memang jika hanya berputar-putar di satu lingkaran yang jaraknya sama saja. Tetapi tidak akan pusing jika lingkaran itu spiral. Bentuk spiral ini bisa mengecil atau membesar, dalam konteks baca  tulis, spiral yang dimaksud adalah spiral yang membesar. Dalam membuat satu tulisan diperlukan sebuah ilmu (jika tidak ingin dibilang bodoh), walaupun tulisan itu bukan suatu karya ilmiah. Apa yang dibaca?

Sebagian orang mungkin tidak suka membaca buku, ada yang suka membaca artikel di internet atau bahkan tidak suka membaca tulisan sama sekali. Bacaan bukan sekedar teks ya bro, sis, cang, cing. Dalam membuat sebuah tulisan diperlukan kerangka berfikir, nah fikiran inilah yang kita gunakan sebagai pena dan pengalaman kita sebagai tintanya. Anggap saja sama, seorang penulis yang banyak membaca buku adalah hasil pengalamannya membaca buku. Jadi buat yang nggak baca buku berarti dari pengalaman sehari-hari.

Nggak salah kalo ada yang bilang salah satu cara biar otak kita encer dalam menulis itu adalah baca catatan kemana-mana. Bisa aja di perjalanan ke rumah atau ke sekolah kita menemukan sesuatu yang menarik yang ingin diceritakan kepada orang lain tetapi kemudian lupa karena tidak dicatat. Terserah nantinya akan diceritakan dalam bentuk tulisan atau lisan, tapi menulis (mencatat) itu penting.

Para ilmuwan baik islam maupun barat, bisa dikenal karena penemuan mereka dituliskan. Seandainya Isaac Newton hanya mengingat saja atau menyampaikan melalui lisan tentang hukum gravitasinya, yah MUNGKIN dia ga akan dikenal sampe sekarang. Bahkan dengan tulisan juga-lah diketahui bahwasanya Newton itu bukan orang pertama yang menemukan hukum gravitasi. Itulah gunanya tulisan. Lha wong motivator juga dibayar mahal saat dia tampil dipanggung, tapi selanjutnya dia menganjurkan peserta seminar buat beli buku mereka. Kenapa? ya iyalah, tampil dipanggung itu maksimal dua jam. Pulang dari situ ada peserta ada yang udah lupa apa yang disampaikan sama pemateri, ada yang langsung lupa ada yang lupa setelah beberapa waktu. Jadi kesimpulannya, NULIS ITU PENTING walaupun nggak semua yang ditulis itu hal penting. gitu aja dulu ah.. >_< babai,,,
Andre Tauladan

Minggu, 28 April 2013

Dia Sudah Punya Bekal Yang Banyak

Innalillahi wa inna ilayhi raajiuun. <ikut-ikutan membahas tentang kepergian Alm. Uje>

Pagi itu, setelah menonton wisata hati antv saya lanjut mencari channel lain yang bisa menambah ilmu dan iman saya. Saya tekan-tekan tombol next di remote, dan terhenti saat tv menampilkan khazanah dari trans 7. Seusai acara masih ada rasa ingin menambah ilmu, kembali saya cari channel lain. Sialnya, harus terhenti di acara islam itu indah di trans tv. Kebetulan saya tidak suka dengan gaya pematerinya.Saya tidak berhasil menjaga mulut saya sehingga keluar sedikit ocehan yang akhirnya disambung oleh ibu saya, tapi yang ibu komentari bukan gaya sang ustadz, melainkan tentang Aa Gym yang saat ini hampir tidak pernah terlihat berceramah di televisi. Kembali saya tidak bisa menahan mulut ini, dengan nada tidak sopan saya pun mengatakan bahwa bukan hanya Aa Gym yang jarang tampil di tv, Uje juga, dan banyak penceramah lain. Tanpa maksud membela Aa Gym dan merendahkan ustadz lain, saya hanya ingin menghindari arah pembicaraan agar tidak membahas poligami yang kemungkinan bisa membuat ibu menyalahkan poligami Aa Gym sehingga beliau jadi jarang tampil di tv.


Sekitar jam 09.30, sepulang dari warung ibu langsung menghampiri tv dan menyalakannya. Kemudian ibu memberitahu bahwa Uje meninggal dunia. Deg... Sedih memang, bukan sedih secara lahir, tapi sedih batin. Sosok ustadz fenomenal yang sebenarnya bukan favorit saya telah meninggal. Ternyata kiamat sudah semakin dekat.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash r.a. : aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda , “ Allah tidak akan mengambil kembali ilmu (agama) dengan (cara) mengambilnya dari (dalam hati) manusia, tetapi mengambilnya kembali dengan kematian para ulama sampai tidak bersisa, lalu orang-orang akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya yang bila orang-orang itu bertanya kepada mereka, mereka akan memberikan jawaban-jawaban yang tidak didasarkan pada ilmu. Maka mereka akan berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang-orang”
Di tengah acara tv, ada satu pikiran yang muncul di benak saya. Anggap saja itu tebakan, saya menebak akan ada segmen tentang 'tanda' bahwa Uje akan meninggal. Segmen ini hampir selalu ada di setiap acara tv ketika ada tokoh publik yang meninggal, misalnya pada peritiwa kepergian Alm. Taufik Savalas, atau peristiwa lainnya. Dan ternyata tebakan saya benar. Ah... dasar televisi. Ada segmen yang menampilkan Ust. Solmed yang menceritakan bahwa dia merasakan firasat aneh atas tingkah Alm. Uje beberapa waktu terakhir.

Di satu sisi saya mencoba menerima bahwa itu adalah firasat, di sisi lain saya mencoba menolak. Saya menerima bahwa itu adalah firasat dari Alm. Uje bahwa dia akan meninggal. Bukan bermaksud menyetarakan Uje dengan Rasulullah saw, saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang shaleh pasti memiliki firasat / mengetahui tanda-tanda bahwa ia akan meninggal. Hanya itu saja dasar saya untuk menerima. Sedangkan penolakan saya didasari oleh kekhawatiran saya. Khawatir adanya orang-orang yang misal dia bermimpi tentang kematian lalu dia menyimpulkan bahwa dia akan mati. Khawatir akan ada orang-orang yang berlebihan misalnya dia merasakan sesuatu yang dia anggap firasat kematian.

Entahlah, saya coba saja ulas sedikit disini, untuk menyanggah bahwa tindakan Uje itu adalah firasat.

Twit tentang titik jenuh dan kembali. 
Memang benar di twitternya juga dituliskan maksud dari kata kembali itu. "Kembali pada Dia" begitu twit selanjutnya. Bisa saja itu memang tanda bahwa ustadz akan meninggal. Tetapi kita lihat, sering kan orang-orang ngetwit atau membuat status facebook tentang kematian. Banyak kok ustadz atau mubaligh lain yang dalam twitternya atau facebooknya memberikan nasihat atau pesan-pesan tentang kematian. Titik jenuh? Sama saja, banyak nasihat-nasihat tentang kejenuhan dari ustadz lain.

Ustadz memberikan peci dan berpesan "Terusin dakwah gue".
kembali saya tegaskan, di satu sisi saya menerima, dan di sisi lain saya menolak. Alasan penolakan saya seperti ini. Uje memberikan peci kepada Ust. Solmed. Itu hanya peci, hanya salah satu peci yang pernah dipakai Uje dari sekian peci yang dimilikinya. Iyalah, masa sih Uje hanya memiliki satu peci? Saling memberi hadiah (kalau saya tidak salah) termasuk sunnah Rasulullah saw, karena bisa melembutkan hati, menimbulkan rasa saling mencintai, menghilangkan dengki, atau permusuhan. Selanjutnya ucapan "terusin dakwah gue". Memang pesan yang sangat berarti. Dari pesan itu tersirat tanda bahwa Uje akan mengakhiri dakwahnya. Berakhir. Tapi berakhir tidak selalu berarti selamanya. Misal, saya sedang memasak, atau kegiatan lain lalu tiba-tiba ada telefon atau sms panggilan dari teman. Saya menghentikan memasak dan berpesan ke adik, "terusin masaknya ya.." seperti itu. Bukan berarti nanti saya tidak akan masak lagi.

Takutnya gini, misal nanti ada yang ngetwit, "Ketika mati, kita hanya sendiri, tidak bawa apa-apa" terus dia menonaktifkan hp, fb, dan memberikan barang favoritnya ke salah satu rekannya, lalu sama rekannya itu disangka orang itu akan meninggal. Padahal belum tentu. Bisa saja dia mau pergi ke suatu tempat, misal ke gunung, mau berburu, dia menganggap di gunung tidak akan ada sinyal, atau takut gadgetnya kebasahan jadi dinonaktifkan dan ditinggal.

Ah, sudahlah, mungkin itu kreativitas kru tv yang bersangkutan untuk memenuhi waktu acara. Sekarang kita geser topik dulu sedikit. Kita hapus air mata (kalau memang menangis), hapus saja air mata kesedihan itu. Jangan kita terlalu lama menangis untuk Uje, siapa tahu kita butuh air mata itu untuk kita sendiri.

Sore itu, pekerja perbaikan rumah datang untuk membetulkan listrik di rumah. Yah, seperti biasa ibu mengajak ngobrol pekerja itu agar tidak terlalu membosankan. Obrolan pun sempat menyinggung tentang kepergian Uje. "Ustadz Jefri meninggal ya pak ya" kata ibu. Dengan cerdas bapak pekerja menjawab "Yah bu, dia mah meninggal juga bekalnya sudah banyak". JLEB. Wah,,, cerdas juga nih tukang.

Memang benar, mengingat masa lalu Uje yang menurut kabar bahwa dia dulunya adalah anak nakal, kemudian beliau meninggal sebagai seorang mubaligh yang punya banyak jama'ah, maka bisa disimpulkan bahwa beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Sedangkan kita? Mungkin saja disaat yang bersamaan ketika para jama'ah bersedih, Uje dalam keadaan bahagia. Walaupun sebenarnya kita tidak tahu pasti. Tapi satu yang pasti, beliau telah meninggal, hidupnya di dunia sudah berakhir, amalnya sudah terputus kecuali dari tiga sumber. Sedangkan kita? Ya, sedangkan kita?

Mari kita bercermin, apakah kita termasuk orang-orang yang punya banyak dosa? Jawabannya anda tahu sendiri. Selanjutnya apakah kita akan sempat bertaubat dan memperbanyak amal shalih? Memperbanyak amalan yang bisa menambah berat timbangan amal kita ke arah kanan. Melakukan segala sesuatu sesuai ajaran islam. Kembali lagi saya tuliskan. Kiamat sudah dekat.

Belok lagi, kita geser topik lagi. Belum habis rasa sentimen saya terhadap acara televisi yang terus-menerus memberitakan kepergian sang ustadz dengan cara yang lebay. Saya dibuat semakin tidak enak hati dengan adanya pihak yang tidak bertanggungjawab yang mengunggah foto awan di facebook. Tak apalah jika hanya foto awan biasa. Ini mah foto awan yang bentuknya seperti orang berdoa kemudian dikait-kaitkan dengan meninggalnya alm. Uje. Plis deh, mau sampai kapan kalian ini jadi orang bodoh? Ketika melihat postingan itu, saya sampai berani mengatakan sesat, sebuah kata yang sangat saya jaga agar tidak dengan mudah dikatakan. Upload foto seperti itu bisa menjadi bentuk penyesatan. BAHAYA! Foto itu, ah,,, gimana ya? Cobalah berfikir, foto itu bisa saja foto lama, bisa saja foto editan, dan jika itu foto baru, bukan editan, bisa saja foto itu tidak menandakan apapun atas meninggalnya Uje. Bisa saja itu hanya fenomena alam atas kebesaran Allah swt.

Sudahlah, kita kembali lagi ke topik sebelumnya. Mari kita bercermin, sudah punya bekal apa kita untuk mati? Sudah siapkah kita? Bukan terus bersedih atau membahas, atau menampilkan kembali acara ketika talkshow dengan Uje. Uje tidak butuh sedih kita, tidak butuh tangis kita, lebih baik kita berdoa agar beliau mendapatkan tempat terbaik dari Allah swt. Aamiin.

Hufth, lagi asik nulis diganggu, jadi ilang idenya. Udah aja deh. Ayo komen! Awas kalo nggak!

Andre Tauladan

Senin, 22 April 2013

Nyamuk Kebon

nyamuk kebon
gambar  : ceppi-note.blogspot.com

Serr.... Ide ini tiba-tiba muncul pas tadi lagi bersih-bersih halaman rumah. Di situ ada beberapa tanaman dalam pot dan tak jau di depan rumah ada kebun kecil dengan berbagai tanaman pangan dan tanaman buah. Melihat ada nyamuk yang terbang-terbang di situ, walau nyamuk itu tidak bahaya tetapi membuat saya berfikir, "jangan-jangan ada nyamuk yang berbahaya juga". Melihat kondisi pekarangan yang kotor membuat saya maklum tentang keberadaan nyamuk-nyamuk itu. Sadar kesehatan, sadar lingkungan, kebersihan sebagian dari iman, jadi iman sama badannya sehat. :D

Dari keberadaan nyamuk di situ, saya mencoba menganalogikan dengan kehidupan beragama. Intinya nyamuk dan lingkungan kotor itu dikait-kaitin ama iman. Disambung-sambungin aja ya, walau ga nyambung, namanya juga kan mengambil ibrah dari fenomena alam. Itung-itung menggunakan nikmat akal yang telah Allah berikan kepada saya sebagai manusia.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

(‘Aali ‘Imraan: 190-191)
Nyamuk kebon (kebun), menurut bahasa Indonesia yang benar ejaan aslinya adalah "kebun", tetapi dengan mengambil istilah umum yang mungkin berasal dari bahasa betawi jadi saya pakai saja kata "nyamuk kebon". Tanpa mencari definisi resmi dari kata "nyamuk" dan "kebun", saya akan langsung menuju pembahasan. Nyamuk, bagi sebagian besar adalah serangga yang mengganggu, seringkali mereka menghisap darah dan menyisakan bekas pada 'korban'nya. Bekas itu bisa berupa gatal dan bentol, gatal tanpa bentol, atau tanpa gatal tanpa bentol tapi membuat penyakit. Sedangkan kebun, kita ketahui bersama bahwa kebun bisa menjadi sumber penghasilan pagi para petani, intinya kebun ini membawa manfaat, dan nyamuk ini membawa penderitaan.

Jika dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dihubungkan dengan keimanan seseorang maka kebun ini ibarat tempat orang itu berkumpul, beraktivitas dan mencari manfaat yang bisa menghasilkan keteguhan iman. Misalnya suatu perkumpulan baik berupa LDK (lembaga dakwah kampus) ataupun sejenisnya. Di tempat seperti ini sering kali dijadikan tempat bagi para 'penyusup' untuk bersarang. Kita anggap bahwa nyamuk adalah penyusup. Mereka tidak diketahui datangnya, seolah mereka itu tidak ada. Tiba-tiba saja terasa gatal dan saat kita ingin menepuk (untuk membunuhnya) mereka berhasil menyelamatkan diri.

Dalam sebuah organisasi yang berorientasi pada kebaikan, seringkali ada penyusup yang tidak disadari kehadirannya. Mungkin saja mereka datang dengan perilaku yang baik, tetapi perilaku itu hanya bedak untuk menutupi wajah aslinya yang penuh borok. Mula-mula ia hanya datang dan diam seolah selalu setuju atas gerakan dakwah. Kemudian pelan-pelan ia akan mulai menusukkan alat penghisapnya ke tubuh organisasi ini. Pelan-pelan ia sebarkan atmosfer baru di kehidupan organisasi itu. Ia mulai berani mengemukakan pendapat yang seolah mengajak ke arah yang lebih baik. Awalnya anggota organisasi ini merasa tidak nyaman. Namun dengan lihainya dia terus memengaruhi mereka dengan berbagai ide hingga akhirnya ide-ide dia disetujui oleh yang lainnya. Satu per satu anggota mulai terbawa pemahamannnya hingga organisasi ini tidak kuat dan terjadi perbedaan pemahaman antar anggota. Ibarat zat racun dari nyamuk yang dimasukkan ke dalam tubuh namun ditolak oleh sel darah putih hingga menyebabkan rasa gatal.

Rasa gatal itu membuat korban menyadari ada nyamuk yang hinggap di badannya. Ia berusaha menepuk nyamuk itu. Pemimpin organisasi mulai menyadari adanya penyusup yang membuat propaganda di organisasinya, ia coba membasmi penyusup itu. Kadang nyamuk terlalu gesit hingga ia berhasil pergi namun rasa gatal atau bentolnya masih tersisa di tubuh korban. Mungkin penyusup di organisasi itu berhasil pergi atau dibasmi, tetapi sisa pemikiran dan ideologinya masih membekas di organisasi itu.

Entah apa selanjutnya yang ingin saya tulis. Dari beberapa penjabaran di atas mungkin para pembaca bisa tahu ke mana arah pembicaraan (seandainya dibicarakan) tulisan ini. Begitu melihat nyamuk di kebun tadi yang terlintas dalam pikiran saya adalah orang munafik, dan lingkungan yang kotor. Mungkin kita berada dalam satu komunitas yang membawa kebaikan, membawa manfaat bagi kita, tetapi kita tentu tahu bahwa tidak semua orang di sekitar kita punya niat baik. Selain itu keberadaan nyamuk kebon juga membuat saya membayangkan tentang budaya sekuler yang menyusup kedalam tubuh umat islam.

Wallahu a'lam bishshawabi.

Andre Tauladan

Rabu, 05 Desember 2012

Dunia Olahraga Indonesia

medali atlet renang

Mumpung lagi panas nih... Berita tentang parahnya dunia olahraga Indonesia.
Dua berita yang pernah saya baca baru-baru ini dan beberapa berita yang pernah saya baca beberapa bulan yang lalu akan saya jadikan acuan. Semoga bisa jadi masukan untuk pemerintah atau lembaga terkait, untuk kondisi dunia olahraga Indonesia. Kalo mau.

Berita tentang meninggalnya Diego Mendieta karena penyakit yang banyak diderita oleh orang-orang kurang gizi, adalah berita miris yang membuat malu nama Indonesia di mata dunia karena Diego adalah pemain bola asal luar negri. Dengan permintaan terakhir yang sangat memprihatinkan, Diego Mendieta meminta tiket pulang saja. Sedangkan berita tentang parahnya perhatian pemerintah terhadap atlet nasional sudah banyak beredar. Yang paling baru adalah tentang nasib mantan juara perahu naga yang akhirnya menjadi buruh cuci. Masih banyak lagi cerita tentang atlet sengsara yang bertebaran di google.

Begitulah Indonesia, perhatian pemerintah hanya ada ketika para atlet itu sedang 'di atas' agar terlihat bahwa pemerintah juga memerhatikan atlet. Ya, pemerintah tidak pernah sungguh-sungguh memerhatikan atlet, padahal mereka juga termasuk pahlawan lho.

Berita-berita seperti itu membuat kesan keolahragaan indonesia semakin buruk. Tambah lagi kebiasaan pemerintah indonesia yang suka ambil enaknya saja. Bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan pemerintah daerah suka menggunakan atlet sewaan menjelang kompetisi nasional. Misalnya atlet dari Provinsi Jabar bisa mewakili Jatim di PON. Atau naturalisasi menjelang kompetisi yang melibatkan beberapa pemain asing yang di WNI-kan.

Ah.. saya mah bukan siapa-siapa, omongan saya mah nggak akan dianggap sama orang lain, gini aja,  saya sisipkan link berita-berita tentang dunia olahraga Endonesah...

Dan seabreg link lainnya. 

Tapi jangan terlalu pesimis, ada juga pemerintah yang ingin terlihat peduli pada atletnya.
Bupati Banyumas membolehkan atlet sekolah gratis
Duh, ada banyak nih di sini 'perhatian baik' dari pemerintah

Dan berita tentang atlet yang tidak mendapat perhatian pemerintah tidak hanya di Indonesia kok. Jadi pemerintah Indonesia bisa punya alibi "Wong negara lain juga sama kok"
China nggak peduli sama atlet
yah,, saya cuma nemu satu sih.. xixixi
Andre Tauladan

Sabtu, 22 September 2012

Benarkah Bioskop Amerika Terbelah Dua?

Baru-baru ini sebuah postingan beredar di facebook, postingan itu menampilkan gambar sebuah bangunan besar yang terbelah dua. Kemudian di bawah gambar itu diberi keterangan bahwa bangunan itu adalah gedung bioskop yang terbelah dua setelah memutar film kontroversial "Innocence of Muslims". Berikut ini adalah gambar yang dimaksud.

Bioskop Film Innocence of Muslims Terbelah Dua
Di sebuah profil facebook bahkan ada yang menambahkan berita tentang gambar ini, seolah-olah kejadian ini benar. Isi beritanya seperti ini

Bioskop Film Innocence of Muslims Terbelah Dua


SHABESTAN – Sumber-sumber berita yang dipercaya menyatakan: Sebuah bangunan bioskop di Florida Amerika yang rencananya akan menayangkan film penghina Rasulullah Saw, telah terbelah dua karena gempa yang menimpanya.

Kantor Berita Shabestan dengan menukil dari kantor pemberitaan Bratha News, berita-berita yang telah dikonfirmasi dan sumber-sumber informasi menyatakan: sebuah bangunan bioskop di Florida yang rencananya akan menayangkan film penghina Rasulullah Saw, telah terkena gempa, dimana masalah ini telah menyebabkan bangunan ini longsor dan terbelah menjadi dua.

Para warga di kawasan ini heran dengan peristiwa ini, karena gempa ini hanya terjadi di bagian tempat bioskop ini berada, dan seluruh kawasan kota di negara bagian Florida Amerika ini tidak mengalami kerugian apapun.

Para pejabat Amerika segera mengambil tindakan untuk memperketat penjagaan di seputar tempat kejadian dan melarang segala bentuk pengambilan gambar, supaya berita ini tidak tersiar di media-media.

Dikatakan, pembuatan film Amerika Innocence of Muslim yang menghina Rasul Saw telah ditanggapi dengan gelombang demonstrasi masyarakat di dunia Islam dan di kalangan muslim dunia. (ini profilnya)

Saya sendiri begitu melihat gambar ini tanpa pikir panjang langsung saya share ulang, akan tetapi di postingan lain yang sejenis, saya membaca salah satu komentar yang mengatakan bahwa ini foto palsu. Saya pun segera mencari kebenaran tentang info ini dan akhirnya saya mengetahui bahwa foto ini memang palsu. Kejadian yang sebenarnya adalah foto ini tentang sebuah apartemen yang terbelah dua pada kejadian gempa bumi di Chile tahun 2010 (wafflesatnoon.com) . Ini gambar aslinya.

Bioskop Film Innocence of Muslims Terbelah Dua
Gambar asli (www.boston.com)

Gedung yang sama difoto dari sudut yang berbeda. (www.boston.com)
Dari postingan tersebut saya mendapatkan hikmah, bahwa kita harus lebih selektif dalam menyebarkan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai kita terjebak oleh info palsu kemudian para islamphobia menertawakan kita dan mengejek kita bahwa "umat muslim mengedit foto demi membela nabinya". Kita tidak perlu postingan seperti ini.  Memang segala sesuatu bisa saja terjadi jika Allah mengizinkan, karena Allah subhanahu wa ta'ala maha kuasa atas segala sesuatu. Biarlah keajaiban itu sampai kepada siapa saja yang Allah kehendaki, jangan kita memaksa orang lain untuk mengakui keagungan nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dengan foto-foto editan.

Saran saya, bagi orang-orang yang terlanjur menyebarluaskannya, segera menghapus postingan ini. Saya juga sempat terjebak, dan akan saya hapus postingan saya tersebut. Wallahu 'alam bishshawab.


Andre Tauladan Dari berbagai sumber

Sabtu, 15 September 2012

Betapa Sedikit Syukur Kita


oleh : GUS ULIL

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim 14:7)

mensyukuri keadaan

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

Sahabat.. Bersyukurlah kepada Allah, walau bagaimanapun adanya dirimu, karena sungguh.. tiada ada satupun yang terjadi, melainkan semua itu adalah atas kehendak-Nya.

Dulu, ada seorang anak kecil, perlahan-lahan ia berusaha mengejar cinta Tuhan-nya, berusaha untuk sholat lima waktu tapi tak pernah bisa, akhirnya.. suatu ketika keinginan itu terwujud di usianya 9 tahun. Ia begitu bahagia.. sangat bahagia sekali..

Tapi alangkah kagetnya ia, usai shalat, seakan ada yang berbisik, "...., umur 20 tahun engkau meninggal..," ia begitu kaget sekali, bertahun-tahun ia hidup dihantui ketakutan, sering jatuh sakit, karena walau sakit sekecil apapun, jika difikir berat, sakit itu sesuai dengan fikiran kita.

Saat cobaan itu datang, yang ada di benaknya hanya satu, bisa menjalani hari-hari dengan baik, tidak terfikir nanti apakah bisa menikah, mengandung dan punya anak. Ia malu terus-terusan menyusahkan orang tua, terkadang jika sakit itu datang, hanya dipendamnya sendiri, airmatanya sering mengalir, sadar akan banyak dosa-dosanya, sadar akan sedikit sekali bekalnya, sadar akan sedikit sekali syukurnya.

Ketika sakit itu reda dan ia kembali sehat, betapa senangnya ia bisa menjalani hari-hari lagi, berusaha mengejar lagi ibadah-ibadahnya yang tertinggal, ia mohon pada Allah diberikan jodoh, namun sang pangeran itu tak kunjung datang.

Silih bergantinya siang dan malam, bilangan hari yang berganti tahun, begitupun dengan kondisi kesehatannya, anak itu tumbuh menjadi wanita dewasa, dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa aku belum juga dipanggil Tuhan?, sedangkan usiaku sudah menjelang seperempat abad?!, Ya Allah, bukan maksud hatiku mendahului keputusan-Mu,...

Dari pengalaman yang panjang, dari jatuh bangun kehidupan, tibalah ia pada suatu kesimpulan, "Aku harus berusaha semaksimal mungkin di dunia ini untuk kehidupanku di akhirat kelak, karena sungguh, batas usia adalah takdir Allah yang tidak boleh kita dahului,"

Karena itu sahabatku, bersyukurlah akan bagaimanapun keadaan dirimu, jikalau kita melihat di bawah, sungguh.. masih banyak yang lebih menderita dari kita.

Jikalau engkau belum menikah, bersyukurlah.. karena dirimu masih diberi kesempatan untuk berbakti pada orangtua, jikalau tiba masanya nanti, butiran airmata akan mengalir dari kelopak matamu, sedih harus meninggalkan orangtua yang begitu tulus menyayangi kita, sedih berpisah dengan Bunda yang berpayah lelah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita, sedih berpisah dengan ayah yang rela membanting tulang agar kita bisa makan dan hidup layak, sedih berpisah dengan saudara-saudara yang selalu mau meringankan beban kita Ya Allah, betapa sedikit sekali syukurku pada-Mu..

Jikalau engkau telah menikah, namun pendampingmu tak sesuai dengan impianmu, bersyukurlah.. karena sungguh, kekurangan itu tak sepadan dengan kelebihannya. Wahai sahabatku yang kusayang karena Allah, bukankah pernikahan adalah suatu bentuk perjanjian yang amat kuat dan kokoh?, pendampingmu adalah amanah terbesar yang Allah titipkan kepadamu, karena itu, bersyukurlah.. setiap kita tak akan pernah ada yang sempurna, jadi bagaimanakah mungkin kita bisa berharap pasangan kita akan sempurna?, belajarlah menerima kekurangannya, ikhlaslah dalam mendidiknya, jadikan ia sebagai sahabat sejatimu di dunia ini, insya Allah.. sorga dunia berada dalam genggamanmu.

Jikalau kita lebih dalam merenung hidup yang tinggal sepenggalan ini, kembali menuju Allah, akan membuat kita jauh lebih tenang dan bersyukur.. Sahabat, sungguh.. Allah selalu bersamamu.., Ia sungguh sangat menyayangimu..

Wasalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.
Andre Tauladan

Minggu, 02 September 2012

Nikah Muda

Oleh : Gus Ulil

gambar nikah muda
Nikah memang punya banyak makna. Ia bisa berarti menegakkan sunnah Rasul. Bisa juga sebagai pemenuhan tuntutan fitrah. Juga, sebagai penyambung keberlangsungan hidup umat manusia. Ada hal lain buat mereka yang nikah di usia muda. Nikah juga bermakna perjuangan.

Hampir tak satu pun manusia yang betah membujang. Selalu saja ada hasrat untuk hidup berpasangan. Pria rindu ingin bersama wanita. Dan wanita kangen disayang pria. Hasrat-hasrat alami itu akan punya nilai tinggi dalam taman indah yang bernama nikah.

Masalahnya, bagaimana keindahan taman itu jika ikatannya terjalin di saat muda. Muda usia, muda pengalaman, muda pendidikan, dan muda penghasilan. Saat itulah terjadi pertarungan yang lumayan sengit: antara idealita dengan realita. Antara cita-cita tinggi dengan kenyataan hidup yang mesti dilakoni. Dan pertarungan itulah yang kini dialami Jaka.

Dua tahun sudah calon bapak ini mengarungi bahtera rumah tangganya. Seribu satu suka dan duka ia nikmati bersama isteri tercintanya. Kadang ia berkesimpulan bahwa nikah itu anugerah indah. Sedemikian indahnya, sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tapi, tak jarang kesimpulan sebaliknya bisa hinggap. Jaka juga kerap berkesimpulan bahwa nikah merupakan perjuangan yang teramat berat.

Awalnya, bayang-bayang indah pernikahan lebih dominan dari perjuangannya. Walau baru setahun lulus sekolah menengah atas, Jaka sudah punya tekad bulat: “Saya harus nikah, insya Allah!” Dan, tekad itu benar-benar menggulir walau mesti melalui rel yang tidak mulus.

Mungkin, banyak pihak di sekitar Jaka yang geleng-geleng kepala. Ada apa dengan anak ini? Apa ia tergolong hiper seks. Atau, jangan-jangan sudah terjadi kecelakaan. Atau…? Masih banyak lagi dugaan yang tidak enak didengar oleh seorang Jaka yang juga aktivis rohis di sekolahnya.

Dan yang tidak kalah sengitnya adalah orang tua Jaka sendiri. Ayah ibunya bingung. Kok, anak saya jadi begini. Apa ini pengaruh dari ajaran rohis? Orang tua Jaka yakin seratus persen kalau Jaka tidak mungkin melakukan penyimpangan. Jangankan hubungan gelap, hubungan terang saja tak pernah diperlihatkan Jaka. Boro-boro dua-duaan, ketemu wanita saja Jaka sudah alergi: pandangannya tertunduk, wajahnya pucat, tubuhnya banjir keringat. Lalu?

“Saya bertekad nikah karena ingin segera dapat surga dunia dan akhirat,” jawab Jaka tenang. Kontan saja, kedua orang tua Jaka tertegun. Hampir tak ada celah buat menjegal tekad Jaka. Sejak SMP, Jaka memang sudah rajin dagang. Ia memang bukan tipe anak yang suka berlidung di balik kantong orang tua. Semua biaya sekolahnya hampir seratus persen mengucur dari kocek sederhananya. Termasuk, biaya buat walimahan.

Saat itu, tak ada bayang-bayang pun yang melintas di benak Jaka kecuali keindahan. Betapa sejuknya hati ketika menatap senyum isteri. Betapa semangatnya hidup ketika cinta tak pernah redup. Betapa tenangnya pandangan mata ketika syahwat tak lagi terpenjara. Dan, betapa mantapnya iman ketika nafsu tak lagi gampang dipermainkan setan.

Berlangsunglah masa-masa indah kehidupan Jaka. Hari berganti hari dan bulan pun menjumpai tahun. Ternyata, hidup tak selamanya penuh pesona wewangian taman bunga. Ada kalanya hidup penuh bara api dan asap tebal yang menyesakkan. Idealita sering tak cocok dengan realita. Dan nada-nada itulah yang kini bersenandung mengiringi keluarga Jaka.

Bisnis serabutannya tak lagi lancar seperti dulu. Ada saja masalahnya. Madu yang biasa dilakoni Jaka kurang diminati pelanggan. Pedagang koran pun mulai bertebaran. Kian banyak saingan di sektor ini. Sementara, biaya kuliahnya kian naik. Biaya kontrak rumah pun mulai melonjak. Isteri mulai ngidam. Tubuhnya lemas, perutnya mual-mual, kepalanya sering pusing-pusing. Tentu saja, sang isteri tak lagi sempurna menunaikan urusan rumah tangga dan kampus. Apalagi mencari penghasilan sampingan.

Mulailah irama ketidakstabilan mengiringi hidup Jaka. Konflik pun kian bermunculan. Seperti saat ini saja, Jaka bingung mau pinjam duit ke siapa lagi. Bulan lalu sudah pinjam ke teman kampus. Minggu lalu pinjam ke teman pengajian. Sementara, kebutuhan terus mengalir dan tak kenal penundaan. Ke orang tua?

Ini yang paling dijaga Jaka. Seberat apa pun beban hidup, Jaka tak mau berurusan dengan orang tua. Ia bukan ragu tentang kemurahan orang tuanya. Bukan juga takut. Tapi, Jaka tak mau kalau idealismenya luntur hanya karena soal makan. Terlebih setelah Jaka janji tak mau ngerepotin orang tua.

Kadang, suasana kejepit seperti itu menumbuhkan bayang-bayang masa lalu. “Kamu yakin nggak akan menyesal, Jaka?” pertanyaan-pertanyaan ibunya dua tahun lalu tak jarang menggoda ketegarannya. Kenapa nggak selesai kuliah dulu. Kenapa nggak cari kerja yang enak dulu.Kenapa nggak beli rumah dulu.

“Benarkah saya menempuh rute jalan yang salah?” sebuah pertanyaan menukik tajam ke lubuk hati Jaka. Ah, benarkah? Sikap tegar Jaka kian sengit bertarung dengan kegelisahannya. Kadang tegar menguasai keadaan. Dan tak jarang, gelisah menyetir suasana. Dalam pertarungan imbang itu, sikap kritis Jaka kerap menjadi penengah. Mestikah roda hidup selalu bergulir secara seri dan linier? Tidakkah mungkin ada lompatan-lompatan?

Ketegarannya mulai menguasai keadaan. Masih kuat dalam benak Jaka kisah teladan Rasul dan para sahabat. Sebuah fragmen hidup masa lalu yang tak kunjung kering dari air pelajaran. Siapa yang mengira kalau seorang penggembala yatim bisa menjadi pemimpin besar umat ini. Siapa yang menyangka kalau seorang budak, Bilal bin Rabbah, bisa tampil menjadi pemimpin yang disegani. Siapa yang menyana kalau seorang budak buangan, Zaid bin Haritsah, bisa melahirkan seorang panglima perang yang ditakuti.

Hidup memang perjuangan. Suka dan duka pasti akan menjambangi setiap manusia. Tak peduli apakah manusia itu menganggap hidup sebagai perjuangan atau tempat bersantai. Jaka tersadar dengan keadaannya. Kini, bukan saatnya lagi mempersoalkan halte hidup yang telah terlewati. Ada dua resep yang akan ditebus Jaka: hadapi hidup apa adanya, dan jangan coba-coba lari dari kenyataan perjuangan.

Kesusahan dan kemudahan tak ubahnya seperti dua muka kepingan uang logam. Satu sama lain tak akan berpisah jauh. Bersama kesusahan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan. Kesusahanlah yang menguatkan bahwa menikah itu perjuangan. Dan kemudahan, insya Allah, kian menguatkan warna-warni indahnya pernikahan.
Andre Tauladan

Anak Zaman Sekarang (Mayoritas)

-Pacarnya sakit khawatir tpi Ibunya sakit cuek

-Pacarnya Ulang tahun di kadoin tpi Ibunya Ulang tahun BOMAT

-Pacarnya belum makan di ingetin tpi Ibunya belum makan biasa aja

-Pacarnya marah sedih tpi Ibunya marah balas marah

-Btuh pacar setiap waktu tapi butuh Ibu klo ada Maunya

Tapi klo lagi begini:

-Lagi sakit Manggil IBU
-Lagi sedih ke IBU
-Di marahin ayah ngadu ke IBU
-Minta apa saja bilangnya ke IBU

-Giliran IBU meninggal baru NANGIS!!!

BY:GUS ULIL
Andre Tauladan

Kisah Kematian Nabiyullah Adam 'Alaihissalam

KISAH KEMATIAN NABIYULLAH ADAM ‘Alayhi Salam

PENGANTAR

Kisah ini memberitakan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan bapak kita Adam dan keadaannya pada saat sakaratul maut. Para Malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya dan menimbunnya dengan tanah.

Mereka melakukan itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana cara menangani orang mati.

NASH HADIS

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa'di berkata, "Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya." Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Kaab." Ubay berkata, "Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, 'Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Jannah." Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul.

Para Malaikat bertanya, "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari Jannah." Para Malaikat menjawab, "Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba."

Lalu para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, "Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala." Lalu para Malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."


TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/136.

Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadis ini berkata, Sanadnya shahih kepadanya." (Yakni kepada Ubay bin Kaab). Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi hadis shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah." Majmauz Zawaid, 8/199.

Hadis ini walaupun mauquf (sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya.

PENJELASAN HADIS

Hadis ini menceritakan berita bapak kita, Adam manakala maut datang menjemputnya -Adam rindu buah Jannah. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada Jannah dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu Jannah, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.

Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah Jannah merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-tahun umurnya. Dia menghitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam Akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus Jannah lalu memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk berangkat mencari.

Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya, mereka telah dihadang oleh beberapa Malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati.

Para Malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini. Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.

Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para Malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya.

Manakala para Malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan Akhirat .pen) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, "Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu." Adam mengisyaratkan rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Jannah.

Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para Malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."

Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal mengurusi mayat kalian. Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh Rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dari petunjuk Allah, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barang siapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para Malaikat kepada Adam.

Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti piramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatu

yang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.



PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS


1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya seperti disebutkan di dalam hadis.
2. Sunnah terhadap mayit adalah petunjuk semua Rasul dalam setiap syariat mereka.
3. Pengajaran Malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.
4. Semua cara menangani mayit selain cara yang disebutkan di dalam hadis diatas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.
5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para Malaikat mengurusi jenazahnya, menshalatkannya dan menguburkannya.
6. Kemampuan para Malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia.
7. Sudah munculnya beberapa peralatann sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.
8. Seseorang harus berhati-hati terhadap istrinya yang bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah telah meminta kita agar berhati-hati terhadap sebagian istri dan anak-anak kita, "Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka." (QS. At-Thaghabun: 14)


Sumber : Kisah-kisah Shahih Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah oleh Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor
By : Wirawan @ Milis MyQuran
Andre Tauladan

Minggu, 05 Agustus 2012

Blind Imam, Subhanallah

Subhan'Allah, do you know what this is picture of? It is a man leading prayer reading a Quran based off of braille for those that are blind! Indeed, some people may not be able to see with their eyes (like this man), but how many of us are blind when it comes to our hearts! This is truly a man who can see, ma'sha'Allah!

[And for those who are quick to complain, let us respect the fact that there is a legitimate and acceptable difference of opinion when it comes to reading out of the Quran when it comes to non-obligatory prayers (like the Taraweeh) and remember, "Let him who believes in Allah and the Last Day speak good, or keep silent."]

Allahu Akbar!


Andre Tauladan |  ♥ I Need Allah In My Life ♥

 

Kamis, 02 Agustus 2012

Niat si gadis kecil

Assalaamu'alaikum.
Nggak banyak yang bisa saya jelaskan tentang gambar di bawah ini. Rasanya keterangan yang ada di gambar ini sudah cukup untuk bisa menjelaskan apa, siapa, dan sedang apa mereka. Seorang gadis kecil yang sudah meniatkan untuk membayar zakat dari tabungannya sejak masih kelas 1 SD. Benar-benar inspiring.

Tentang kebenaran gambar ini, wallahu 'alam.
Andre Tauladan | Key to the Treasures of Jannah

Senin, 30 Juli 2012

ABOUT PEOPLE OF THE ROCK!!!

Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) used many methods in order to call people to Islam. For example, he used to tell them true realistic stories as well as the stories of the earlier nations so that they would deduce lessons from them. In these stories, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala says which translates as: "there is a message for any that has a heart and understanding or who gives ear and earnestly witnesses the truth" (Noble Qur’an Sura Qaaf: 37).


Three persons in the cave

Stories have an undeniable effect on people. Let's mention, respected brothers & sisters in Islam, one of the stories about one of the earlier nations as narrated by Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) so that we can deduce useful lessons. Bukhari and Muslim reported that `Abdullah bin `Umar (may Allah be pleased with him) said: I heard Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) says: “While three persons were traveling, the night fell and they had to enter a cave in a mountain in order to spend the night. A big rock rolled over and blocked the mouth of the cave. They said to each other: Nothing could rescue you but invoking Allah with the best deed you have performed (so Allah might remove the rock)”. One of them said, 'O Allah! My parents were old and I used to go out to collect wood. On my return I would milk (the animals) and take the milk in a vessel to my parents to drink. After they had drunk from it, I would give it to my children, family and wife. One day I was delayed and on my return I found my parents sleeping, but I disliked to wake them up, or to feed my family before them. I waited with the vessel in my hand with my children crying at my feet (because of hunger) until dawn when they woke up and drank their share of the milk. O Allah! If You regard that I did it for Your sake, then please remove this rock so that we may see the sky.' So, the rock was moved a bit but it was too small for them to get out.

The second said, 'O Allah! You know that I was in love with a cousin of mine, like the deepest love a man may have for a woman, and I tried to seduce her but she refused, until one day she became in need of money, and she came to me for help, so I offered her one hundred and twenty Dinaars (gold currency) provided she gives in to my desire, and she accepted. When I sat in between her legs, she said to me: Fear Allah, and asked me not to deflower her except rightfully (by marriage). So, I got up and left her, though she was the most desired and beloved to me, and made her keep the money. O Allah! If You regard that I did it for Your sake, kindly remove this rock.' So, the rock was moved a bit but it was to small for them to get out.

Then the third man said, “O Allah! Once I employed workers, and I paid them, except one who left with out taking his due share, so I invested it and from it great wealth developed. After some time that man came and demanded his money. I said to him: Go to those camels, cows and the shepherd and take them for they are all for you. He asked me not to mock him. I told him that I was not mocking him, so he took it all and left nothing behind. O Allah! If You regard that I did it sincerely for Your sake, then please remove the rock. So, the rock was removed completely from the mouth of the cave, and they came out walking”.

Remember Allah The Almighty

MASHAALLAH!! Respected brothers & sisters in Islam. Think over this great story. These three persons remembered ALLAH THE ALMIGHTY and followed his commands when they were free from any troubles and ALLAH THE ALMIGHTY saved them when they were in distress. Hence, whenever a man fulfills his duties towards ALLAH THE ALMIGHTY during times of ease, ALLAH THE ALMIGHTY will support him in times of worry, trouble and distress; He will be Most Gracious to him and facilitate maters for him. Allah says which translates as: " … And whosoever fears Allah, He will make for him a way out ( from hardships). And will provide him from sources he could never imagine" (At-Talaaq: 2-3). He also said which translates as: "And whosoever fears Allah, He will make his matter easy for him" (At- Talaaq: 4).

THE FIRST MAN in the cave gave a great example of dutifulness towards his parents. Throughout the whole night, he was holding the vessel of milk not allowing his children nor himself to drink (until his parents had drunk their share). He did not even disturb his parents by waking them up until dawn. This indicates the excellence of having and showing dutifulness to parents and that it is a means for facilitating one's affairs and avoiding distress. Dutifulness to one's parents is the best act of keeping relations with one's family and relatives.

Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) said: "Whoever would like to have wider provisions and prolong his life, should keep good relations with his kith and kin" ~(Al-Bukhari & Muslim).

This is an advanced reward in this worldly life. His provisions are lavish and his life is prolonged, let aside the reward in the Hereafter. ALLAH THE ALMIGHTY highly honors parents to an extent that He prohibited the son to utter even the smallest word that indicates annoyance as He says which translates as: "Thy Lord has decreed that you worship none but him, and that you be kind to parents. Whether one or both of them attain old age in thy life, say not to them a word of contempt, nor repel them, but address them in terms of honor. And, out of kindness, lower to them the wing of humility, and say: my Lord bestow on them thy mercy even as they cherished me in childhood"~ (Noble Qur’an Sura Al-Isra’: 23-24).

Respected Brothers & Sisters in Islam! THE SECOND PERSON of the three in the story gave a great example of unmitigated virtuousness. He almost managed to fulfil his desire with this woman who was the most beloved person to him. Yet, when she reminded him to fear ALLAH THE ALMIGHTY, he left her in spite of his love and did not even take back his money.

Bukhari and Muslim reported a Hadith that there are seven people whom ALLAH THE ALMIGHTY will give shade on the Day when there will be no shade but His, one of these is "a man who refuses the call of a charming woman of noble birth for illicit intercourse with her and says: I fear Allah".

What a great difference it is between this man and the man who travels to countries where adultery is practiced openly! He travels in order to commit adultery with prostitutes. I seek refuge in ALLAH Subhanahu wa Ta’ala from such an act. Travelers to such countries should know that ALLAH THE ALMIGHTY sees them and that He is All-Knowing. He knows all about them in this country as well as in the other and they will find themselves with destruction if they do not repented. ALLAH THE ALMIGHTY says which translates as: "Those who invoke not, with Allah, any other god, nor slay such life as Allah has made sacred, except for just cause, nor commit fornication; and any that does this (not only) meets punishment. (But) the Penalty on the Day of Judgment will be doubled to him, and he will dwell therein in ignominy. Except he who, repents, believes, and works righteous deeds, for Allah will change the evil of such persons into good, and Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful" ~(Al-Furqan: 68).

In order to know how disgraceful adultery is, it is enough to think over the legal penalty of it in this worldly life. An unmarried adulterer (adulteress) is to be lashed one hundred times and exiled for a year. A married adulterer (adulteress) is to be put to death, but in a most horrible manner - stoning till death.

I seek refuge in ALLAH THE ALMIGHTY from the accursed Satan, ALLAH THE ALMIGHTY says which translates as: "Nor come close to adultery: for it is a shameful (deed) and an evil, opening the road (to other evils)" (Noble Qur’an Al-Isra’: 32).

Respected Brothers & sisters in faith! THE THIRD PERSON mentioned in this story was a man who gave the best example of honesty and sincerity. He invested the employee's wages and increased it greatly, he gave it (the accumulated wealth) to him and refused to take anything in return. What a great difference between this man and those who treat their employees unjustly and devour their wages, especially if such employees are from different countries! Such employers are very near to the people mentioned in ALLAH THE ALMIGHTY's saying which translates as: "Woe to those that deal in fraud, Those who, when they have to receive by measure from men, exact full measure, But when they have to give by measure or weight to men, give less than due. Do they not think that they will be called to account?" ~(Noble Qur’an Al- Mutaffifeen: 1-4).

They want the employees to perform their work as best as they can, but they do not give them their due wages or procrastinate in giving them. Some employees may return home without getting all their wages. Let those employers who hire an employee and deny him his wages, be aware that this helpless employee will not be their adversary; it will be ALLAH the Lord of the Worlds.

Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) said that ALLAH has said: "There are three people whom I will litigate against on the Day of Judgment, and whosoever I litigate against will lose" Out of them, Prophet Muhammad (Sallallahu ‘Alaihi Wasallam) mentioned: "A man who hires a worker who fulfilled his duties, but he did not give him his wages".
This Hadith indicates that It is permissible to supplicate to ALLAH THE ALMIGHTY by mentioning good deeds. Such supplication is a means of relieving distress. Think about these three people who supplicated to ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala by mentioning their best deeds when they were in distress and how ALLAH THE ALMIGHTY relieved it.

By : Reflect reflect on this

Para Jagoan Wanita Di Jaman Rasulullah

Muslimah & Mujahidah (Arrahmah.com)

Jika kita membaca sejarah para sahabat perempuan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kita akan banyak menemukan kekaguman-kekaguman yang luar biasa. Mereka bukan hanya berilmu, berakhlaq, pandai membaca Al Qur'an, tapi juga jago pedang, berkuda dan memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi "dokter" yang pintar mengobati para sahabat yang terluka di medan perang. Bahkan, ada di antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah! Subhanallah... Simak kisah mereka..


Nusaibah si Jago Pedang


Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman.

Kata Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam kemudian, "Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka'ab berperang membelaku."

Memang Nusaibah binti Ka'ab Ansyariyah demikian cinta dan setianya kepada Rasulullah sehingga begitu melihat junjungannya itu terancam bahaya, dia maju mengibas-ngibaskan pedangnya dengan perkasa sehingga dikenal dengan sebutan Ummu Umarah, adalah pahlawan wanita Islam yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi Islam termasuk ikut dalam perang Yamamah di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid sampai terpotong tangannya. Ummu Umarah juga bersama Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dalam menunaikan Baitur Ridhwan, yaitu suatu janji setia untuk sanggup mati syahid di jalan Allah.

Nusaibah adalah satu dari dua perempuan yang bergabung dengan 70 orang lelaki Ansar yang berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam. Dalam baiat Aqabah yang kedua itu ia ditemani suaminya Zaid bin Ahsim dan dua orang puteranya: Hubaib dan Abdullah. Wanita yang seorang lagi adalah saudara Nusaibah sendiri. Pada saat baiat itu Rasulullah menasihati mereka, "Jangan mengalirkan darah denga sia-sia."

Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan mengikuti suami serta kedua orang anaknya ke medan perang. Pada saat itu Nusaibah menyaksikan betapa pasukan Muslimin mulai kocar-kacir dan musuh merangsek maju sementara Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri tanpa perisai. Seorang Muslim berlari mundur sambil membawa perisainya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berseru kepadanya, "berikan perisaimu kepada yang berperang." Lelaki itu melemparkan perisainya yang lalu dipungut oleh Nusaibah untuk melindungi Nabi.

Ummu Umarah sendiri menuturkan pengalamannya pada Perang Uhud, sebagaimana berikut: "…saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka."

Ketika ditanya tentang 12 luka ditubuhnya, Nusaibah menjawab, "Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang Rasulullah ketika para sahabat sedang meninggalkan baginda. Lalu (Ibnu Qumaiah) berkata, ‘mana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup.' Lalu Mushab bin Umair dengan beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibny Qumaiah memukulku."

Rasulullah juga melihat luka di belakang telinga Nusaibah, lalu berseru kepada anaknya, "Ibumu, ibumu…balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surge!" Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anaknya, "Aku tidak perduli lagi apa yang menimpaku di dunia ini."

Subhanallah, sungguh setianya beliau kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.

Khaulah binti Azur (Ksatria Berkuda Hitam)


Siapa Ksatria Berkuda Hitam ini? Itulah Khaulah binti Azur. Dia seorang muslimah yang kuat jiwa dan raga. Sosok tubuhnya tinggi langsing dan tegap. Sejak kecil Khaulah suka dan pandai bermain pedang dan tombak, dan terus berlatih sampai tiba waktunya menggunakan keterampilannya itu untuk membela Islam bersama para mujahidah lainnya.

Diriwayatkan betapa dalam salah satu peperangan melawan pasukan kafir Romawi di bawah kepemimpinan Panglima Khalid bin Walid, tiba-tiba saja muncul seorang penunggang kuda berbalut pakaian serba hitam yang dengan tangkas memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Seperti singa lapar yang siap menerkam, sosok berkuda itu mengibas-ngibaskan pedangnya dan dalam waktu singkat menumbangkan tiga orang musuh.

Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasan sosok berbaju hitam itu. Mereka bertanya-tanya siapakah pejuang tersebut yang tertutup rapat seluruh tubuhnya dan hanya terlihat kedua matanya saja itu. Semangat jihad pasukan Muslimin pun terbakar kembali begitu mengetahui bahwa the Black Rider, di penunggang kuda berbaju hitam itu adalah seorang wanita!

Keberanian Khaulah teruji ketika dia dan beberapa mujahidah tertawan musuh dalam peperangan Sahura. Mereka dikurung dan dikawal ketat selama beberapa hari. Walaupun agak mustahil untuk melepaskan diri, namun Khaulah tidak mau menyerah dan terus menyemangati sahabat-sahabatnya. Katanya, "Kalian yang berjuang di jalan Allah, apakah kalian mau menjadi tukang pijit orang-orang Romawi? Mau menjadi budak orang-orang kafir? Dimana harga diri kalian sebagai pejuang yang ingin mendapatkan surga Allah? Dimana kehormatan kalian sebagai Muslimah? Lebih baik kita mati daripada menjadi budak orang-orang Romawi!"

Demikianlah Khaulah terus membakar semangat para Muslimah sampai mereka pun bulat tekad melawan tentara musuh yang mengawal mereka. Rela mereka mati syahid jika gagal melarikan diri. "Janganlah saudari sekali-kali gentar dan takut. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, perbanyak takbir serta kuatkan hati. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat.

Dikisahkan bahwa akhirnya, karena keyakinan mereka, Khaulah dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri dari kurungan musuh! Subhanallah…

Nailah si Cantik yang Pemberani


Nailah binti al-Farafishah adalah istri Khalifah Ustman bin Affan. Dia terkenal cantik dan pandai. Bahkan suaminya sendiri memujinya begini: "Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku." Subhanallah!

Mereka menikah di Madinah al-Munawwarah dan sejak itu Ustman kagum pada tutur kata dan keahlian Nailah di bidang sastra. Karena cintanya, Ustman paling senang memberikan hadiah untuk istrinya itu. Mereka punya satu orang anak perempuan, Maryan binti Ustman.

Ketika terjadi fitnah yang memecah belah umat Islam pada tahun 35 Hijriyah, Nailah ikut mengangkat pedang untuk membela suaminya. Seorang musuh menerobos masuk dan menyerang dengan pedang pada saat Ustman sedang memegang mushaf atau Al Qur'an. Tetesan darahnya jatuh pada ayat 137 surah Al Baqarah yang berbunyi, "Maka Allah akan memelihara engkau dari mereka."

Seseorang pemberontak lain masuk dengan pedang terhunus. Nailah berhasil merebut pedang itu namun si musuh kembali merampas senjata itu, dan menyebabkan jari-jari Nailah terputus Ustman syahid karena sabetan pedang pemberontak. Air mata Nailah tumpah ruah saat memangku jenazah sang suami. Ketika kemudian ada musuh yang dengan penuh kebencian menampari wajah Ustman yang sudah wafat itu, Nailah lalu berdoa, "Semoga Allah menjadikan tanganmu kering, membutakan matamu dan tidak ada ampunan atas dosa-dosamu!"

Dikisahkan dalam sejarah bahwa si penampar itu keluar dari rumah Ustman dalam keadaan tangannya menjadi kering dan matanya buta!

Sesudah Ustman wafat, Nailah berkabung selama 4 bulan 10 hari. Ia tak berdandan dan berhias dan tidak meninggalkan rumah Ustman ke rumah ayahnya.

Nailah memandang kesetiaan terhadap suaminya sepeninggalnya lebih berpengaruh dan lebih besar dari apa yang dilihatnya terhadap ayahnya, saudara perempuannya, ibunya dan juga kerabatnya. Ia selalu mendahulukan keutamaannya, mengingat kebaikannya di setiap tempat dan kesempatan. Ketika Ustman terbunuh, ia mengatakan, "Sungguh kalian telah membunuhnya padahal ia telah menghidupkan malam dengan Al Qur'an dalam rangkaian rakaat."

Subhanallah yah, ternyata umat muslim juga memiliki jagoan wanita yang memang nyata adanya, semoga kita, para muslimah dapat mengambil teladan dari mereka, aamiin. (sumber)

Minggu, 29 Juli 2012

Manfaatkan Kesempatan! Selagi Masih Ada!

Assalamu'alaikum. Izinkan Andre Tauladan untuk mendongeng ya... Ini tentang seorang pemuda yang ingin melamar gadis pujaannya. Sebut aja nama pemuda itu Alex dan gadis itu Alice. Nah,  ayah Alice itu seorang peternak, anggap aja dia beternak banteng, yah, namanya juga dongeng. Untuk menguji kemampuan Alex, ayah Alice berkata seperti ini,

"Nak, saya ingin mengetes kemampuanmu, saya akan mengeluarkan banteng dari kandangnya, ada tiga banteng yang akan dikeluarkan satu per satu. Kamu harus memegang ekor banteng itu, jika bisa, kamu boleh meminang anak saya." Begitu kata ayah Alice.

Banteng Lucu
Gambar : http://ignorance-is-blistering.blogspot.com/

Si pemuda sudah bersiap-siap jauh di depan pintu kandang. Begitu pintu dibuka, yang keluar adalah banteng besar, dengan tatapan menyeramkan. Banteng itu banteng yang paling ganas yang pernah ia lihat. Pemuda itu kemudian minggir, membiarkan banteng terus berlari hingga keluar area peternakan. Ia berpikir masih ada dua banteng lagi, berarti masih ada kesempatan.

Si pemuda bersiap-siap lagi. Pintu kandang dibuka lagi, kali ini banteng yang keluar lebih besar dari yang pertama. Dengan tatapan ganas, nafas memburu, terus menatap ke Alex. Lagi-lagi Alex menepi untuk menyelamatkan diri, dengan anggapan masih ada satu kesempatan lagi.

Alex bersiap-siap lagi. Pintu kandang dibuka, dan yang keluar adalah banteng kecil yang lebih jinak daripada banteng pertama dan kedua. Alex menghadapinya dengan santai, ia berhasil menangkap banteng itu, tapi sayang sekali, ternyata banteng itu tidak punya ekor. (namanya juga dongeng).

Pesan Moral

Hidup ini penuh dengan kesempatan. Ada beberapa yang mudah diambil, ada beberapa yang sulit. Tapi sekali kesempatan itu kamu lewatkan, ia tak akan kembali lagi. Jadi manfaatkan kesempatan itu, jangan sampai terlewat karena berfikir akan ada kesempatan lain.

Sabtu, 07 Juli 2012

Belajar Dari Para Imam Besar

Al-Syafi’I (w. 240 H), pendiri mazhab Syafi’iyyah memiliki sebuah semboyan: “Pendapatku benar tetapi mungkin salah, sedangkan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar” (ra’yi sawabun yahtamilu al-khata’a wa ra’yu ghayri khata’un yahtamilu al-sawaba)

Dengan prinsip tersebut, Al-Syafi’i atau Imam Syafi’i di satu sisi berusaha terhindar dari dogmatisme dan absolutisme yang mengganggap bahwa dirinya sendiri adalah yang benar sedangkan orang lain pasti salah. Di sisi lain, Al-Syafi’i berusaha menyingkir dari jebakan-jebakan relativisme yang membenarkan semua pendapat tergantung persepektif masing-masing.

Dalam tradisi Islam, tidak sedikit ahli usul fikih (usuliyyin) yang terjebak dalam relativisme. Mereka popular disebut sebagai musawwibah, yakni sebuah kelompok yang membenarkan semua pendapat pakar hukum Islam (mujtahidin). Konsep toleransi yang modern ala Al-Syafi’i member inspirasi kepada kita bahwa “penyesatan” terhadap orang yang berbeda pendapat adalah tindakan yang tidak etis.

Malik bin Anas (w. 179 H), pendiri mazhab Malikiyyah, termasuk ulama yang mengusung semangat toleransi. Baginya, kebebasan berpendapat dan perbedaan harus dihargai dan tidak boleh diberangus dengan upaya unifikasi melalui kebijakan penguasa. Pembelaannya terhadap kebebasan berpendapat tampak dalam kasus ketika Harun al-Rasyid (w. 193 H) berinisiatif menggantung Al-Muwatta karya Malik di atas Ka’bah dan memerintahkan semua orang agar mengikuti kitab tersebut. Namun, Malik menolak keinginan itu dengan berkata, “Wahai pemimpin kaum mukminin, janganlah Anda gantung kitab itu di atas Ka’bah, sebab para sahabat Nabi telah berbeda pendapat”. Jawaban tersebut menunjukkan sikap toleran Malik terhadap keragaman pendapat dan sikap empatinya terhadap perbedaan.

Toleransi sangat lekat dengan kerendahan hati, kemurahan hati, keramahan, dan kesopanan dalam menghargai orang lain, sedangkan intoleransi merupakan bentuk keangkuhan yang menghancurkan apa saja yang tidak dipahami dan yang berbeda. Ulama yang toleran tidak takut untuk mengakui kebodohan atau ketidakpastian pendapatnya sendiri.

Malik bin Anas adalah salah satu ulama yang sangat menekankan pentingnya kritik diri untuk mengantisipasi munculnya dogmatism di kalangan umat Islam. Beliau berkata, “Aku hanyalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Maka telitilah pendapatku. Jika sesuai dengan al Qur’an dan Sunnah maka ambillah. Jika tidak sesuai maka tinggalkanlah.”

Toleransi mengharuskan kita sudi melihat pendapat orang lain sebagai hal yang layak dihormati. Sementara tangga-tangga yang menuntun kita mencapai sikap toleran adalah keluasan wawasan dan pendidikan yang inklusif. Al-Syafi’i dalam dialog dengan muridnya yang bernama Ibrahim al_muzani (w. 264), dia berkata: “Wahai Ibrahim janganlah engkau mengikuti semua ucapanku, tetapi telitilah dan berfikirlah untuk dirimu sendiri”. Pendidikan inklusif Imam Syafi’i tidak bertujuan mendoktrin murid tetapi justru memberikan kesempatan kepada murid untuk berfikir kreatif dan independen. Pendidikan inklusif tidak mengekang seorang murid harus sama dengan pendapat gurunya yang berbeda.

Imam Al-Ghazali (1058-111 M / 450 – 505 H) dalam karyanya Ihya’ ‘Ulum al-Din, mengulas pentingnya kontrol emosi dalam menghargai perbedaan. Kontrol emosi dapat dilakukan dalam enam langkah: Pertama, merenungi keutamaan memaafkan dan menahan amarah sebagaimana firman Alloh dalam QS. Ali Imran (3): 133-134; kedua, takut pada siksa Alloh terhadap pemarah; ketiga, menghindari ekses negatif dari permusuhan; keempat, membayangkan raut wajah yang amat jelek seperti anjing dan binatang buas saat marah-marah; kelima, berfikir ulang tentang penyebab kemarahan; dan keenam, menyadari bahwa kemarahan keluar dari kesombongan karena pemarah merasa seakan-akan perilakunya sesuai dengan maksud Alloh.

Jangankan dalam dakwah, dalam perang pun tidak boleh emosional. Masih ingatkah cerita Ali bin Abi Thalib saat perang? Suatu ketika dalam perang tanding, Sayyidina Ali bisa menjatuhkan musuhnya, hingga terlentang dan siap terbunuh. Pada saat itu musuh Sayyidina Ali meludahi beliau hingga kena mukanya. Merah padamlah wajah Sayyidina Ali karena kemarahan.

Tapi, apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ali? Beliau justru meninggalkan musuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Ketika ditanya oleh seorang sahabat, kenapa musuh itu malah ditinggalkan? Sayyidina Ali menjawab: “Saya sedang sangat marah karena diludahi. Maka kalau saya membunuh dia, itu bukan karena Alloh. Tapi karena kemarahan saya”.

Fanatisme dan taqlid buta sangat bertentangan dengan semangat inklusif dan toleran yang ditunjukkan oleh Imam Al-Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad Ibn Hanbal. Al-Syafi’i dengan rendah hati rela tidak berdoa qunut pada saat sholat subuh di dekat makam Abu Hanifah dengan alasan menghormati Abu Hanifah yang tidak menganjurkan doa qunut. Malik bin Anas secara inklusif berkata, “Aku adalah manusia biasa yang bisa salah dan benar, maka telitilah pendapatku. Jika sesuai dengan al Qur’an dan Sunnah maka ambillah. Jika tidak sesuai maka tinggalkanlah”. Ahmad bin Hanbal berkata, “Janganlah kalian bertaklid kepadaku, Malik, Al-Syafi’i, dan Al-Tsauri. Tetapi belajarlah kalian seperti kami”. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa para Imam tidak rela apabila pendapat-pendapat mereka ditelan mentah-mentah oleh para pengikut fanatik mazhab.

Wallohu a'lam...

Jumat, 29 Juni 2012

Syaikh Ahmad Yasiin

SYAIKH AHMAD YASIIN

Pemimpin perjuangan rakyat Palestina, Syekh Ahmad Yasin kehidupannya sangat sederhana. Anaknya Mariyam Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya: Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat.

Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza. Namun Tawaran itupun di tolak

Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapurpun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya.

Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surgaNYa nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau.

Jika Syekh Ahmad Yasin ingin kaya, harta menumpuk, rumah mewah bertingkat, mobil mengkilat lebih dari empat, makanannya serba lezat, semuanya bisa saja beliau dapatkan

Syekh Ahmad Yasin mengikuti resep zuhud, Nabi dan shahabatnya. Jalan lurus kehidupan yang senantiasa dimiliki para kekasih Allah SWT dimana ia mengutamakan akhiratnya.

Allah SWT Berfirman : Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS:An Nisaa/4: 69)
Yusuf Mansur Network

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates