Tampilkan postingan dengan label islamic knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic knowledge. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Mei 2017

TABAYYUNLAH ! ATAU KALIAN AKAN MENYESAL

oleh: Abu Usamah JR

tabayyun
tabayyun

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman!, jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa suatu berita,maka telitilah kebenarannya,agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan),yang akhirnya kamu menyesali perbuatan tersebut". (QS Al Hujurat:6).

Meneliti kebenaran suatu berita yang sampai atau tersebar di tengah kaum muslimin adalah sesuatu yang sangat penting. Karena tersebarnya suatu berita di tengah masyarakat akan menimbulkan reaksi.Apakah reaksi tersebut positif atau negatif tergantung pada berita yang tersebar.Bahkan menyebarkan berita bisa berkonsekwensi pada hukum syariat.

Jika berita yang disebarkan oleh seseorang itu benar tetapi ia adalah aib dari saudara sesama muslim,berarti ia masuk kategori menyebarkan aib. Dan bagaimana kemudian jika ternyata orang yang disebarkan aibnya telah tobat dari perbuatannya?. Dan jika berita tentang aib tersebut dusta,maka itu artinya menyebarkan fitnah dan menuduh tanpa bukti.

Begitu besarnya dampak dari sebuah berita,sehingga ia sering disalah gunakan untuk melakukan kejahatan. Ia bisa digunakan untuk melakukan pembunuhan karakter,menyebarkan isyu yang meresahkan masyarakat hingga memanipulasi antara kebenaran dan kebatilan. Dan sudah dimaklumi bahwa propaganda berupa penyebaran isyu termasuk sarana efektif untuk memenangkan peperangan. Sehingga pihak yang unggul dalam propaganda telah memenangkan sebagian dari peperangan.

Demikian besarnya dampak dari penyebaran berita yang bisa berujung pada hancurnya martabat seseorang hingga peperangan antar kelompok. Sehingga Allah mewajibkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun (meneliti/check and balance) ketika mereka mendengar suatu berita. Salah satu peristiwa terbesar di dunia pada abad ini yang sangat membuat marah kaum kafir adalah kembalinya khilafah islam/daulah islam. Berbagai upaya dilakukan oleh kaum kafir untuk menghancurkan daulah islam,salah satunya melalui pemberitaan.

Melalui kekuatan media massa, kaum kafir menyebarkan berita yang menfitnah dan mencitrakan buruk tentang daulah islam. Tujuan dari penyebaran berita tersebut adalah untuk menjauhkan kaum muslimin dari mendukung daulah islam. Dan membentuk opini bahwa daulah islam adalah organisasi kejahatan yang membahayakan semua umat manusia. Karenanya bisa dibenarkan ketika umat manusia (kafir dan yang mengaku muslim) bersatu padu untuk menghancurkan daulah islam.

Dan hasil dari penyebaran berita dusta oleh kaum kafir cukup efektif untuk menjauhkan kaum muslimin dari daulah islam. Akibatnya kaum muslimin menuduh daulah islam dengan tuduhan yang sama dengan yang diopinikan oleh kaum kafir. Bahkan kaum muslimin yang tertipu mengambil posisi yang sama dengan kaum kafir,yaitu memusuhi daulah islam. Tanpa sadar banyak kaum muslimin yang kemudian justru membantu kaum kafir dalam memerangi kaum muslimin.

Dengan keberpihakan kaum muslimin bersama kaum kafir dalam memerangi daulah islam berkonsekwensi pada kekafiran pada pelakunya. Sebab ia telah membantu kaum kafir dalam memerangi kaum muslimin. Itulah akibat mereka meninggalkan petunjuk Alloh yang mewajibkan kaum beriman untuk meneliti berita yang sampai kepada mereka. Jika berita dari kaum fasiq (muslim yang berdosa) saja diwajibkan untuk melakukan tabayyun,tentu harus lebih waspada jika yang menyampaikan berita adalah kaum kafir. Dan Alloh telah mengungkap hakikat sifat kaum kafir dengan firman-Nya:

"Dan orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada kamu sampai kamu mengikuti agama mereka...". (QS Al Baqarah:120).

Ayat ini menyebutkan bahwa orang kafir memiliki kebencian yang sangat besar kepada kaum muslimin. Mereka memiliki misi untuk memurtadkan kaum muslimin sehingga berpindah keyakinan mengikuti agama mereka. Jika misi ini tidak berhasil maka mereka berusaha untuk menghancurkan kaum muslimin dengan berbagai macam cara. Pada intinya kaum kafir tidak pernah punya niat baik kepada kaum muslimin.

Sudah bisa dipastikan kaum kafir akan berusaha keras agar kaum muslimin tidak mendapatkan kebaikan. Sehingga tidak mungkin mereka akan jujur dalam memberitakan hal-hal yang terjadi dalam dunia islam, jika itu adalah hal yang baik. Namun jika ada sesuatu yang dianggap buruk tentang kaum muslimin maka mereka akan menyebarkan dengan ditambahi seribu kedustaan untuk tambah memperburuknya.

Maka sangat disayangkan jika kaum muslimin kemudian menerima mentah-mentah setiap berita yang bersumber dari media-media kafir. Padahal berita-berita tersebut membawa kepentingan untuk menyesatkan kaum muslimin. Maka tidaklah mungkin media-media kafir akan memberitakan hal-hal yang baik tentang daulah islam. Juga tidak mungkin mereka akan memberitakan kemajuan dan kemenangan daulah islam.

Hari ini banyak kaum muslimin yang percaya bahwa daulah islam membunuh kaum muslimin, menghancurkan masjid dan membuat banyak kerusakan di iraq dan syuriah. Sebagian lagi menuduh daulah islam berpaham khawarij. Adanya anggapan dan tuduhan tersebut dikarenakan mereka termakan dengan berita yang disebarkan oleh kalangan kafirin dan munafikin.

Percaya dengan berita dusta tanpa tabayyun akan berakibat penyesalan.Sebab berawal dari berita yang salah akan menimbulkan reaksi yang salah pula. Dan reaksi yang salah akan menimbulkan konsekwensi di dunia dan di akhirat yang harus dipertanggung jawabkan. Di saat Itulah akan timbul penyesalan yang tidak ada gunanya.

Ketika seorang muslim percaya dengan opini yang diberitakan oleh kaum kafir tentang daulah islam, maka ia akan menimbulkan reaksi seperti yang diharapkan dari opini tersebut. Maka sikap mereka (kaum muslimin yang tertipu) terhadap daulah islam adalah tidak simpati,membenci dan berprasangka buruk. Dan maksimalnya adalah turut memusuhi dan memeranginya dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Jika kemudian akibat percaya dengan pemberitaan kaum kafir tentang daulah islam, lantas kaum muslimin turut memerangi daulah islam, maka celakalah dia. Kelak jika Allah memenangkan daulah islam dan kebenarannya nampak di mata manusia, maka dia akan menjadi pihak yang diperangi oleh daulah islam. Atau jika kelak di hari kiamat ia dihisab oleh Alloh dan ditampakkan perbuatan dia yang telah membantu kaum kafir memerangi kaum muslimin, tentu ia lebih menyesal lagi. Dan penyesalan tersebut tidak berguna sama sekali.

Itulah diantara dampak yang mengerikan yang menimpa umat islam pada hari ini akibat percaya dengan pemberitaan kaum kafir. Hal tersebut terjadi karena umat ini telah meninggalkan petunjuk Alloh ketika menerima berita. Padahal jika seseorang melakukan tabayyun ia akan bisa menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan saudaranya muslim dari kedzalimannya.

Fenomena meninggalkan kewajiban melakukan tabayyun juga terjadi dikalangan mereka yang mengaku sebagai aktifis islam. Tidak sedikit para ikhwan yang lekas percaya dengan suatu berita yang disampaikan oleh ikhwan yang lainnya. Apalagi kemudian jika yang menyampaikan berita adalah orang yang ditokohkan seperti ustadz. Padahal tidak ada jaminan bahwa seorang ustadz terjaga dari kesalahan.

Sering terjadi di kalangan ikhwan tersebar berita yang menyebut bahwa si fulan misalnya adalah jasus. Kadang berita tersebut muncul dari praduga yang tidak disertai bukti dan saksi.Ada kalanya hanya karena seseorang berinteraksi dengan anshor thoghut lantas dituduh jasus. Padahal boleh jadi ikhwan tersebut berinteraksi dengan anshor thoghut karena urusan muamalah.

Saya sendiri sudah berulang kali mengalami ada orang yang menyampaikan berita bahwa beberapa ikhwan adalah jasus. Dan masyaa Allah... beberapa orang yang disebut jasus tersebut sebagiannya telah gugur dibunuh anshor thoghut karena terlibat amaliyah jihad. Sebagian dari mereka yang pernah dituduh jasus ada juga yang kini berada di penjara thoghut juga karena terlibat amaliyah jihad. Sedangkan orang yang menuduh tetap hidup nyaman tidak diganggu thoghut karena enggan berjihad.

Menyebarkan berita dan menuduh seorang ikhwan sebagai jasus sama artinya dengan menvonisnya kafir dan menghalalkan darahnya. Sebab seorang muslim yang menjadi jasus bagi thoghut maka ia telah kafir keluar dari islam serta halal harta dan darahnya. Dan menuduh seorang muslim sebagai orang kafir adalah kedzaliman dan dosa besar. Yang pasti ia akan dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah. Dan bagaimana dia akan bertobat jika kemudian orang yang dituduh jasus telah mati?.

Dan alangkah celakanya jika tuduhan jasus kepada seorang ikhwan dilatar belakangi karena kebencian atau kedengkian. Apalagi kalau tujuannya untuk pembunuhan karakter agar orang-orang menjauhi si tertuduh dan berpihak kepada diri dan kelompoknya. Tentu ini adalah cara yang sangat keji dan mirip prilakunya para politikus kafir.

Allah 'azza wa jalla membimbing dan memperingatkan kita ketika mendengar berita dengan firman-Nya:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).".(QS An nisa:83)

Pada ayat di atas Alloh mencela orang-orang yang ketika mendapatkan berita tentang keamanan atau ketakutan langsung menyebarkannya tanpa terlebih dahulu meneliti kebenarannya. Dan Alloh membimbing orang-orang beriman agar menyerahkan kabar berita tersebut kepada Rasul dan ulil amri. Sehingga ketika ada pihak yang ingin tahu kebenaran berita tersebut bisa merujuk kepada mereka. Menyerahkan informasi yang beredar kepada pihak yang memegang urusan agar tidak terjadi kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat. Serta agar informasi tersebut diteliti kebenarannya.

Berpartisipasi dalam menyebarkan suatu berita bohong termasuk dosa besar yang diancam oleh Alloh dengan azab. Hal ini dikarenakan begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari berita bohong. Ia bisa berupa hancurnya martabat seseorang,keresahan dan teror di masyarakat hingga terjadinya pertumpahan darah. Maka Alloh mengancam kepada orang yang turut serta menyebarkan berita bohong dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu dari kalangan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapatkan balasan dari apa yang diperbuatnya.Dan barang siapa diantara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya),dia mendapat azab yang besar pula".(QS An Nur:11).

Alloh 'azza wa jalla mengancam dengan azab kepada setiap orang yang memiliki peran dalam menyiarkan berita bohong. Besarnya azab tergantung besarnya peranan setiap orang dalam penyebaran berita bohong. Ayat ini menghati-hatikan kita ketika mendapatkan suatu berita,sebab boleh jadi berita itu dusta. Maka tabayyun adalah cara yang selamat agar tidak jatuh ke dalam dosa besar. Tabayyunlah sebelum anda menyesal!.


Wallahu a'lam
01 jumadilakhir 1438H

📢 @maktabahmufidah 📢
Andre Tauladan

Minggu, 26 Maret 2017

▪️Sikap Bijak Ulama Ahlus sunnah Terhadap Perselisian qunut shubuh▪️

Qunut Subuh
Subuh

Pertanyaan :
Assalamualaikum,
Bagaimana  hukum bacaan doa qunut pada sholat shubuh dan menjadi imam dengan makmum yang mayoritas menggunakan qunut ?

Jawaban :
Persoalan membaca doa qunut pada shalat subuh, merupakan perselisihan fiqih sejak zaman para sahabat Nabi. Ini termasuk perselisihan yang paling banyak menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan sampai memecahkan barisan kaum muslimin. Sebenarnya, bagaimanakah sebenarnya masalah ini? Benarkah para Imam Ahlus Sunnah satu sama lain saling mengingkari secara keras, sebagaimana perilaku para penuntut ilmu dan orang awam yang kita lihat hari ini dari kedua belah pihak?

Kali ini, saya tidak akan membahas qunut pada posisi, “Mana yang lebih benar, qunut atau tidak qunut?” yang justru kontra produktif dengan tujuan tema yang sedang saya bahas.

 Mereka semua baik yang pro dan kontra saling bersaudara seiman yang harus dijaga perasaan dan dipelihara hubungannya. Tidak mengingkari salah satu dari mereka, lantaran masing-masing mereka pun berpijak pada pendapat para Imam Ahlus Sunnah lainnya, yang juga memiliki sejumlah dalil dan alasan yang dipandang kuat oleh mereka. Sedangkan para imam kita telah menegaskan kaidah, “Al Ijtihad Laa Yanqudhu bil Ijtihad (Suatu Ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh Ijtihad lainnya),” dan “Laa inkara fi masaail ijtihadiyah (tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihadiyah).”

📌 Qunut Subuh Benar-Benar Khilafiyah Ijtihadiyah

Kita lihat peta perbedaan ini, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama sebagai berikut:

📕 Berkata Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya sebagai berikut:

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْقُنُوتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يُقْنَتُ فِي الْفَجْرِ إِلَّا عِنْدَ نَازِلَةٍ تَنْزِلُ بِالْمُسْلِمِينَ فَإِذَا نَزَلَتْ نَازِلَةٌ فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ لِجُيُوشِ الْمُسْلِمِينَ

“Para Ahli ilmu berbeda pendapat tentang qunut pada shalat fajar (subuh), sebagian Ahli ilmu dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan lainnya berpendapat bahwa qunut ada pada shalat subuh, dan ini adalah pendapat Malik dan Asy Syafi’i. Sedangkan, Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut pada shalat subuh kecuali saat nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin. Jika turun musibah, maka bagi imam berdoa untuk para tentara kaum muslimin.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

📗 Berkata Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah :

اختلفوا في القنوت، فذهب مالك إلى أن القنوت في صلاة الصبح مستحب، وذهب الشافعي إلى أنه سنة وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا يجوز القنوت في صلاة الصبح، وأن القنوت إنما موضعه الوتر وقال قوم: بيقنت في كل صلاة، وقال قوم: لا قنوت إلا في رمضان، وقال قوم: بل في النصف الاخير منه وقال قوم: بل في النصف الاول منه.

“Mereka berselisih tentang qunut, Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat subuh adalah sunah, dan Asy Syafi’i juga mengatakan sunah, dan Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat subuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir. Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat. Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan. Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.” (Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz. 1, Hal. 107-108. Darul Fikr)

📙 Juga diterangkan di dalam kitab Al Mausu’ah sebagai berikut:

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ . قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَنُدِبَ قُنُوتٌ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ دُونَ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ قَبْل الرُّكُوعِ ، عَقِبَ الْقِرَاءَةِ بِلاَ تَكْبِيرٍ قَبْلَهُ .

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَال ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، يَعْنِي بَعْدَ مَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَلَمْ يُقَيِّدُوهُ بِالنَّازِلَةِ .

وَقَال الْحَنَفِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ قُنُوتَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ إِلاَّ فِي النَّوَازِل وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : – أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَشْرُوعِيَّةَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ مَنْسُوخَةٌ فِي غَيْرِ النَّازِلَةِ

“Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) dan Asy Syafi’iyah (pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat bahwa doa qunut pada shalat subuh adalah disyariatkan. Berkata Malikiyah: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan) pada shalat subuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir dulu.

Kalangan Asy Syafi’iyah mengatakan: qunut disunnahkan ketika i’tidal kedua shalat subuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) mengatakan: Tidak ada qunut dalam shalat subuh kecuali qunut nazilah. Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, tsumma tarakahu (kemudian beliau meninggalkan doa tersebut).”

 (HR. Muslim dan An Nasa’i). Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat subuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban). Artinya, syariat berdoa qunut pada shalat subuh telah mansukh (dihapus), selain qunut nazilah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/321-322. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

Sedikit saya tambahkan, bahwa hadits Ibnu Mas’ud yang dijadikan hujjah oleh golongan Hanafiyah dan Hanabilah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, lalu beliau meninggalkan doa tersebut. Merupakan hadits shahih, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al Masajid wa Mawadhi’ Ash Shalah Bab Istihbab Al Qunut fi Jami’ish Shalah Idza Nazalat bil Muslimina Nazilah, No. 677.

Ada pun hadits Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat subuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum. Disebutkan oleh Imam Az Zaila’i, bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan penulis At Tanqih mengatakan, hadits ini shahih. (Al Hazifh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, 3/180. Mawqi’ Al Islam)

Sedangkan dalil yang menyunnahkan qunut subuh, yang digunakan oleh kalangan Asy Syafi’iyah dan Malikiyah adalah riwayat dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan qunut subuh sampai faraqat dunia (meninggalkan dunia/wafat). (HR. Ahmad No. 12196. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 2/201. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 4964. Ath Thabarani, Tahdzibul Atsar, No. 2682, 2747, katanya: shahih. Ad Daruquthni No. 1711. Al Haitsami mengatakan: rijal hadits ini mautsuq (bisa dipercaya). Majma’ Az Zawaid, 2/139)

Sementara Al Hafizh Az Zaila’i menyebutkan riwayat dari Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya, lafazhnya dari Rabi’ bin Anas: Ada seorang laki-laki datang kepada Anas bin Malik dan bertanya: “Apakah Rasulullah berqunut selama satu bulan saja untuk mendoakan qabilah?” Anas pun memberikan peringatan padanya, dan berkata: “Rasulullah senantiasa berqunut subuh sampai beliau meninggalkan dunia.” Ishaq berkata: hadits yang berbunyi: tsumma tarakahu (kemudian beliau meninggalkannya) maknanya adalah beliau meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah dalam qunutnya.” (Nashbur Rayyah, 3/183).

Jadi, bukan meninggalkan qunutnya, tetapi meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah yang beliau doakan dalam qunut nazilah.

Imam Asy Syaukani, menyebutkan dari Al Hazimi tentang siapa saja yang berpendapat bahwa qunut subuh adalah masyru’ (disyariatkan), yakni kebanyakan manusia dari kalangan sahabat, tabi’in, orang-orang setelah mereka dari kalangan ulama besar, sejumlah sahabat dari khalifah yang empat, hingga sembilan puluh orang sahabat nabi, Abu Raja’ Al ‘Atharidi, Suwaid bin Ghaflah, Abu Utsman Al Hindi, Abu Rafi’ Ash Shaigh, dua belas tabi’in, juga para imam fuqaha seperti Abu Ishaq Al Fazari, Abu Bakar bin Muhammad, Al Hakam bin ‘Utaibah, Hammad, Malik, penduduk Hijaz, dan Al Auza’i.

 Dan, kebanyakan penduduk Syam, Asy Syafi’i dan sahabatnya, dari Ats Tsauri ada dua riwayat, lalu dia (Al Hazimi) mengatakan: kemudian banyak manusia lainnya. Al ‘Iraqi menambahkan sejumlah nama seperti Abdurraman bin Mahdi, Sa’id bin Abdul ‘Aziz At Tanukhi, Ibnu Abi Laila, Al Hasan bin Shalih, Daud, Muhammad bin Jarir, juga sejumlah ahli hadits seperti Abu Hatim Ar Razi, Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Abdullah Al Hakim, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, Al Khathabi, dan Abu Mas’ud Ad Dimasyqi. (Nailul Authar, 2/345-346) Itulah nama-nama yang menyetujui qunut subuh pada rakaat kedua.

Nah, demikian peta perselisihan mereka, dan juga sebagian kecil dalil-dalil kedua kelompok. Pastinya, sekuat apapun seorang pengkaji meneliti masalah ini, dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini, bahwa memang khilafiyah ini benar-benar wujud (ada). Maka, yang lebih esensi dan krusial pada saat ini adalah bagaimana mengelola perbedaan ini menjadi kekayaan yang bermanfaat, bukan warisan pemikiran yang justru membahayakan.

Selanjutnya, kita lihat bagaimana sikap para Imam Ahlus Sunnah menyikapi perselisihan qunut subuh ini.

1️⃣ Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu
Beliau adalah salah satu dari imam empat mazhab terkenal di dunia Islam, khususnya Ahlus Sunnah, yang memiliki jutaan pengikut di berbagai belahan dunia Islam. Beliau termasuk yang menyatakan kesunnahan membaca doa qunut ketika shalat subuh. Beliau sendiri memiliki sikap yang amat bijak ketika datang ke jamaah yang tidak berqunut subuh.

Diceritakan dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَال الْحَنَفِيَّةُ : فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الإِْمَامِ ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ .

“Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu meninggalkan qunut dalam subuh ketika Beliau shalat bersama jamaah bersama kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Berkata Hanafiyah: “Itu merupakan adab bersama imam.” Berkata Asy Syafi’iyyah (pengikut Asy Syafi’i): “Bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

2️⃣ Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu
Imam Ahmad bin Hambal termasuk yang membid’ahkan qunut dalam subuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap. Hal ini dikatakan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

فقد كان الإمام أحمدُ رحمه الله يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض.

“Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)

3️⃣ Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu
Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip Imam At Tirmidzi sebagai berikut:

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Berkata Sufyan Ats Tsauri: “Jika berqunut pada shalat subuh, maka itu bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

4️⃣ Imam Ibnu Hazm Rahimahullah
Beliau berpendapat, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy Syaukani:

وقال الثوري وابن حزم : كل من الفعل والترك حسن

“Berkata Ats Tsauri dan Ibnu Hazm: “Siapa saja yang melakukannya dan meninggalkannya, adalah baik.” (Nailul Authar, 2/346)

5️⃣I mam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau memiliki pandangan yang jernih dalam hal qunut subuh ini. Walau beliau sendiri lebih mendukung pendapat yang tidak berqunut. Berikut ini ucapannya:

وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ إنَّمَا النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ فِي اسْتِحْبَابِهِ أَوْ كَرَاهِيَتِهِ وَسُجُودِ السَّهْوِ لِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ وَإِلَّا فَعَامَّتُهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ مَنْ تَرَكَ الْقُنُوتَ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ وَكَذَلِكَ مَنْ فَعَلَهُ

“Demikian juga qunut subuh, sesungguhnya perselisihan di antara mereka hanyalah pada istihbab-nya (disukai) atau makruhnya (dibenci). Begitu pula perselisihan seputar sujud sahwi karena meninggalkannya atau melakukannya, jika pun tidak qunut, maka kebanyakan mereka sepakat atas sahnya shalat yang meninggalkan qunut, karena itu bukanlah wajib. Demikian juga orang yang melakukannya (qunut, maka tetap sah shalatnya –pen).” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 5/185. Mauqi’ Al Islam)

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama sepakat berqunut atau tidak, shalat subuh adalah shahih. Perbedaan terjadi pada mana yang lebih utama. Katanya:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ إذَا فَعَلَ كُلًّا مِنْ الْأَمْرَيْنِ كَانَتْ عِبَادَتُهُ صَحِيحَةً، وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ: لَكِنْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْأَفْضَلِ.

وَفِيمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ، وَمَسْأَلَةُ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَالْوِتْرِ، مِنْ جَهْرٍ بِالْبَسْمَلَةِ، وَصِفَةِ الِاسْتِعَاذَةِ وَنَحْوِهَا، مِنْ هَذَا الْبَابِ.

فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ مَنْ جَهَرَ بِالْبَسْمَلَةِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ خَافَتْ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَعَلَى أَنَّ مَنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ لَمْ يَقْنُتْ فِيهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْوِتْرِ.

Ulama sepakat bahwa melakukan salah satu di antara dua hal maka ibadahnya tetap shahih (sah), dan tidak berdosa atasnya, tetapi mereka berbeda pendapat tentang mana yang utama. Pada apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, masalah qunut pada subuh dan witir, mengeraskan basmalah, bentuk isti’adzah, dan hal semisalnya yang termasuk pembahasan ini.

Mereka sepakat bahwa orang yang mengeraskan basmalah adalah sah shalatnya, dan yang menyembunyikan juga sah shalatnya, yang berqunut subuh sah shalatnya, begitu juga yang berqunut pada witir. (Al Fatawa Al Kubra, 2/116, Cet. 1, 1987M-1408H. Darul Kutub Al ’Ilmiyah)

6️⃣ Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah

Beliau termasuk yang melemahkan pendapat qunut subuh sebagaimana beliau uraikan dalam Zaadul Ma’ad, dan baginya adalah hal mustahil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merutinkannya pada shalat subuh. Tetapi, tak satu pun kalimat darinya yang menyebut bahwa qunut subuh adalah bid’ah, walau dia mengutip beberapa riwayat sahabat yang membid’ahkannya.

Bahkan Beliau sendiri mengakui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kadang melakukan qunut dalam shalat subuh. Berikut ini ucapannya:

كَانَ تَطْوِيلَ الْقِرَاءَةِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يُخَفّفُهَا أَحْيَانًا وَتَخْفِيفَ الْقِرَاءَةِ فِي الْمَغْرِبِ وَكَانَ يُطِيلُهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِيهَا أَحْيَانًا وَالْإِسْرَارَ فِي الظّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْقِرَاءَةِ ِكَانَ يُسْمِعُ الصّحَابَةَ الْآيَةَ فِيهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْجَهْرِ بِالْبَسْمَلَةِ وَكَانَ يَجْهَرُ بِهَا أَحْيَانًا .

“Dahulu Nabi memanjangkan bacaan pada shalat subuh dan kadang meringankannya, meringankan bacaan dalam shalat Maghrib dan kadang memanjangkannya, beliau meninggalkan qunut dalam subuh dan kadang dia berqunut, beliau tidak mengeraskan bacaan dalam shalat Ashar dan kadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat, beliau tidak mengeraskan bacaan basmalah dan kadang beliau mengeraskan.” (Zaadul Ma’ad, 1/247. Muasasah Ar Risalah)

Beliau tidaklah mengingkari qunut secara mutlak, yang beliau ingkari adalah anggapan bahwa qunut subuh dilakukan terus menerus. Berikut ini ucapannya:

وقنت في الفجر بعد الركوع شهراً، ثم ترك القنوت ولم يكن مِن هديه القنوتُ فيها دائماً، ومِنْ المحال أن رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان في كل غداة بعد اعتداله من الركوع يقول: “اللَّهُمَ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ…” الخ ويرفعُ بذلك صوته، ويؤمِّن عليه أصحابُه دائماً إلى أن فارق الدنيا

“(Beliau) Qunut dalam subuh setelah ruku selama satu bulan, kemudian meninggalkan qunut. Dan, bukanlah petunjuk beliau melanggengkan qunut pada shalat subuh, dan termasuk hal mustahil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap paginya setelah i’tidal dari ruku mengucapkan: “Allahumahdini fiman hadait wa tawallani fiman tawallait … dst” dengan meninggikan suaranya, dan selalu diaminkan oleh para sahabatnya sampai meninggalkan dunia. (Ibid, 1/271)

Lalu beliau mengutip pertanyaan Sa’ad bin Thariq Al Asyja’i kepada ayahnya, di mana ayahnya pernah shalat di belakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, apakah mereka pernah qunut subuh? Ayahnya menjawab: Anakku, itu adalah muhdats (perkara yang diada-adakan). (HR. Ahmad, At Tirmidzi, dan lainnya, At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih)

Beliau juga mengutip dari Said bin Jubair, dia berkata aku bersaksi bahwa aku mendengar, dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Qunut yang ada pada shalat subuh adalah bid’ah.” (HR. Ad Daruquthni No. 1723)

Tetapi riwayat ini dhaif (lemah). (Nashbur Rayyah, 3/183). Imam Al Baihaqi mengatakan: tidak shahih. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/345. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah) Karena di dalam sanadnya ada periwayat bernama Abdullah bin Muyassarah dia adalah seorang yang dhaiful hadits (hadits darinya dhaif). (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 6/ 44. Lihat juga Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 16/197)

Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah. Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits. Katanya:

فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعدُ بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنُتون حيثُ قنت رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم، ويتركُونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه،ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة، ومع هذا فلا يُنكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعِلَه مخالفاً للسنة، كما لا يُنكِرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تارِكه مخالفاً للسنة، بل من قنت، فقد أحسن، ومن تركه فقد أحسن

“Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini. Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya. Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya telah berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” (Ibid, 1/274-275)

Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟

Kami memiliki imam yang berqunut pada shalat subuh yang melakukannya secara terus menerus, apakah kami mesti mengikutinya? Dan apakah kami mesti mengaminkan doanya?

Beliau menjawab:

من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى

Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat subuh, maka hendaknya dia mengikuti imam berqunut pada shalat subuh, dan mengaminkan doanya dengan baik. Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah. (Majmu’ Fafatwa, 14/177

Demikian. Pemaparan ini bukanlah dalam rangka mengaburkan permasalahan, tetapi dalam rangka – sebagaimana kata Imam Ahmad- menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghapuskan kebencian sesama kaum muslimin. Sebab, para imam yang berselisih pendapat pun memiliki sikap yang tidak melampaui batas-batas akhlak dan adab Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam fiqih. Sudah selayaknya kita mengambil banyak pelajaran dari para A’immatil A’lam (imam-imam dunia) ini.

Washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala Aalihi wa shahbihi wa sallam

Wallahu A'lam



Andre Tauladan

Selasa, 07 Juni 2016

Isbal, Ditolak Ahlu Sunnah, Dibela Ahlu Bid'ah

isbal

Hidup sebagai seorang muslim berarti secara langsung harus patuh terhadap segala aturan dalam agama islam, termasuk dalam perkara berpakaian. Tidak peduli anda dari golongan atau ormas apapun. Salah satu perkara yang masih dianggap remeh saat ini adalah isbal. Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal bagi laki-laki terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang haramnya isbal. Beberapa dalil yang paling sering dibahas adalah dalil-dalil berikut :
“Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
“Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda :
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
“Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]
“Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]
Dari beberapa hadits di atas sudah jelas bagi kita bahwa isbal hukumnya minimal makruh bahkan haram. Namun, masih ada di antara kaum muslimin yang terjerumus oleh syubhat para penentang sunnah. Salah satu syubhat yang saat ini melanda kaum muslimin adalah "boleh isbal asal tidak sombong". Sekilas, memang syubhat tersebut memang bisa diterima logika karena pada dalil yang ada terdapat kata "sombong". Tetapi, jika kita berfikir lebih kritis maka syubhat tersebut justru sangat lemah dari sisi logika. Berdasarkan tiga hadits di atas balasan bagi orang yang isbal adalah Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat (jika dilakukan dengan sombong), masuk neraka (dilakukan dengan kesombongan maupun tidak), dan tidak akan disukai oleh Allah (jika dilakukan dengan kesombongan). Kesimpulannya adalah, isbal itu tetap dilarang, sedangkan hukuman setiap orang yang melakukan isbal itu berbeda tergantung sombong atau tidaknya.

Di kalangan masyarakat umum saat ini memang sunnah ini masih kurang dikenal sehingga jika ada orang-orang yang mengamalkan sunnah ini dianggap nyeleneh. Walaupun begitu, saya bersyukur masih ada orang-orang yang berusaha melakukannya dan mendakwahkannya. Selain berdakwah di majelis ilmu, buletin, atau media lainnya orang-orang tersebut juga berdakwah dengan mempraktekkannya.

Sayangnya ada pihak tertentu yang menganggap bahwa pengamalan sunnah oleh sebagian kaum muslimin adalah bentuk kesombongan. Di sebuah situs disebutkan bahwa "Zaman Sekarang, celana isbal justru lebih dekat kepada sombong". Memang bisa seseorang memiliki sifat sombong atau pamer dalam ibadahnya, tetapi hal ini bersifat umum, tidak hanya dalam perkaran non-isbal tetapi juga dalam perkara lain. Kita memang tidak bisa menganggap semua orang baik, tetapi tidak bisa juga menganggap semua orang sombong. Salahnya lagi, admin situs tersebut menggunakan gambar syekh saudi sebagai perbandingan padahal syekh saudi bukan patokan sebuah kebenaran. (Saya pribadi masih heran, mengapa masih sering ditemui orang saudi yang isbal).

Jika seseorang menjadi sombong dengan ibadahnya berarti yang harus diperbaiki adalah hatinya, bukan ibadahnya. Jangan sampai karena ingin mengkritik kesombongan pada diri orang lain justru mengakibatkan ibadah tersebut menjadi ditinggalkan, lebih parah lagi jika orang yang mengkritik justru tidak mengamalkan sunnah tersebut. Alasan mereka pun tidak syar'i, yaitu menganggap orang yang tidak isbal sebagai orang yang na'if karena tidak menghargai desainer atau terlihat ganjil.

Pembahasan lengkap bisa dibaca di :
- Sumber 1
- Sumber 2
- Sumber 3
- Sumber 4
- Sumber 5


Andre Tauladan

Selasa, 31 Mei 2016

Sudah siap berburu Lailatul Qadar?

Tidak lama lagi in syaa Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat besar keutamaannya. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar. Malam tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar bagi umat islam, karena merupakan malam pertama kali turunnya Al Qur'an.  Dengan Al Qur'an manusia menjadi memiliki pedoman agar kehidupannya lebih jelas dan derajatnya terangkat menjadi lebih tinggi. Malam ini hendaknya tidak perlu diperingati dengan acara-acara tertentu, tetapi menjadi momen bagi seluruh umat islam untuk berlomba-lomba melakukan amal shalih dan bangun di malam hari dengan mengharap ridha dan ampunan Allah ta'ala.

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang keutamaan di malam Lailatul Qadar.

lailatul qadr

1.Lailatul Qadar adalah malam seribu bulan.

Di dalam Al Qur'an terdapat firman Allah yang menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

 “Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)

Dalam ayat lain Allah berfirman bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah:

“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ad Dukhan : 3 – 6)

2. Kapankah malam Lailatul Qadar itu?

Terdapat beberapa riwayat yang dapat dijadikan landasan untuk menjawab "kapankah malam Lailatul Qadar?". Dalam sebuah riwayat (masih terjadi perbedaan pendapat para ulama) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa malam tersebut terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan.

Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini?’ Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.'”

Terdapat pendapat yang diyakini paling kuat yang menerangkan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))


Sebagai referensi tambahan, berikut ini tausyiah pendek tentang kapankah malam Lailatul Qadar?



3. Bagaimana mencari malam Lailatul Qadar

Alangkah meruginya orang yang tidak mampu mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar. Sayangnya, tidak setiap orang akan mendapat keutamaannya. Ada orang-orang yang telah Allah haramkan baginya seluruh kebaikan. Oleh karena itu, sebagai umat islam yang dalam setiap harinya tidak pernah bersih dari dosa, maka malam tersebut adalah malam yang ditunggu-tunggu untuk melakukan amalan yang disyari'atkan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar dan memohon ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya,
“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab “Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.(Allahumma Innaka ‘Affuwun Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna)” (HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan berkah dari Allah dan taufiq untuk menaati-Nya. Mari kita bangun untuk shalat malam di sepuluh malam terakhir, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, menjauhi wanita, dan melaksanakan perintah Allah. 

Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah di malam-malam tersebut dalam sebuah riawayat dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha :

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))

Juga dari ‘Aisyah, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Muslim (1174))

4. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar

Jangan sampai kita melewatkan malam yang penuh keistimewaan di bulan Ramadhan. Kita sudah tahu bahwa untuk mendapatkan keutamaannya berarti kita harus mempersiapkan diri dan menyambutnya di sepuluh hari terakhir. Agar lebih yakin kita juga harus tahu tanda-tanda malam Lailatul Qadar. Berikut ini beberapa riwayat tentang tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar.


Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (Muslim (762))

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:

“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan.” (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)

sumber : Ikhtisar Shifat Shaum Nabi SAW Fi Ramadhan

Oleh : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Saudaraku, semoga kita diberikan kemampuan lahir dan bathin, diberikan kesehatan lahir dan bathin agar sampai kepada bulan Ramdhan dan mampu meraih pahala di dalamnya dan mendapatkan keutamaan di malam-malam terakhirnya. Masih banyak orang yang belum tahu keutamaan malam lailatul qadar, jangan biarkan mereka dalam kegelapan. Sebarkanlah artikel ini semoga menjadi amal shalih sebagai bagian dari dakwah kita semua.

Aamiin.
Andre Tauladan

Rabu, 09 Desember 2015

Fabricated Hadeeth Series

Fabricated Hadeeth Warning

This hadeeth has been classed as maudoo (FABRICATED).

Like the Farewell Sermon, some have attributed false sources to this, saying it is found in Bukhaaree (No. 6:19) and Tirmidhee (No. 14:79).

It is found in neither, but can be found in Silsilatul-Ahaadeeth ad-Da’eefah wa al-Mawdoo’a (No. 3274) of Imaam al-Albaanee, where he said:

“Verily when a man looks at his wife and she looks at him, Allaah will look at them both with glance of Mercy, when he takes her hand their sins will be wiped away through their fingers”

(This is) fabricated, reported by ar-Raafi’ee in his Taarikh (2/47) commenting on Maysara bin ‘Alee in his Mashaykha with its chain of narration from al-Hussain bin Mu’aadh al-Khurasaanee who narrated from Ismaa’eel bin Yahya at-Taymee from Mis’ar bin Kidaam from al-‘Awfee from Abee Sa’eed al-Khudree who said: The Messenger of Allaah (sallallaahu ‘alayhi wa sallam): and then he mentioned the hadeeth.

I [al-Albaanee] say (regarding this hadeeth):

“This is fabricated, damaged by this at-Taymee; he is known to fabricate ahadeeth and he has false and troublesome narrations which some of it were already mentioned, and Hussain bin Mu’aadh is almost like him. Al-Khateeb said (regarding him): ‘He is not trustworthy and his hadeeth is fabricated.’”

Be warned, lying upon the Prophet (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) will result to entering the Hell-Fire (if Allaah wills)!

The Prophet (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) said:

“Whoever (intentionally) ascribes to me what I have not said then (surely) let him occupy his seat in Hell-fire.”

[Saheeh al-Bukhaaree]
Andre Tauladan

Selasa, 01 Desember 2015

Tidak ada udzur jahil bagi pelaku syirik akbar


beberapa waktu yang lalu, saya (http://hijraazizy.tumblr.com/) berdiskusi dengan seorang yang memiliki pemahaman seperti sekte murjiah. kenapa ia saya disebut murjiah? karena mudah dan membawa syubhat dalam mengudzur pelaku syirik akbar dengan membawa nash al wa’du, tanpa melihat nash al wa’iid (contoh dalam gambar komentar di atas).

mereka membawa syubhat menggunakan hadits di bawah tanpa perincian, berikut ini teks lengkap haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، قَالَ : لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا ، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ ، فَقَالَ : اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ ، فَقَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ ، قَالَ : يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ ، وَقَالَ غَيْرُهُ مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ ” .

dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: ada seorang pria yang aniaya terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa), kemudian tatkala kematian menjemputnya dia berkata kepada anak-anaknya: “bila aku meninggal dunia maka bakarlah aku kemudian tumbuklah jasadku kemudian taburkanlah di angin, maka demi Allah seandainya Rabbku kuasa terhadap diriku pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun,” kemudian tatkala orang itu meninggal dunia maka hal tersebut dilakukan terhadapnya maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bumi dan Allah mengatakan: “kumpulkanlah apa yang ada di dalam perutmu,” kemudian bumi-pun melakukannya maka tiba-tiba orang itu berdiri kemudian Allah berfirman kepadanya: ” Apa yang mendorongmu kamu untuk melakukan apa yang kamu lakukan maka orang itu mengatakan ” yaa Rabb (yang mendorong saya untuk melakukan hal itu) adalah rasa takut kepada Engkau” maka Allah-pun mengampuninya.” (Riwayat Al Bukhari)

mereka para pengudzur pelaku syirik akbar karena kebodohan mereka mengatakan bahwa orang ini melakukan kekafiran yaitu mengingkari qudrah Allah, sedangkan mengingkari qudrah Allah adalah kekafiran tatkala orang ini melakukannya karena kejahilan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengkafirkannya, justru Allah memberikan ampunan karena dasar dia melakukan hal itu adalah karena rasa takut, jadi kesimpulannya menurut mereka bahwa pelaku syirik akbar karena kebodohan itu diudzur tidak boleh dikafirkan. Jadi hadits ini dipakai mereka untuk mengudzur para thaghut dan para ansharnya dan ubbadul qubur yang melakukan kesyirikan dengan alasan bahwa mereka itu orang-orang yang jahil.

ada beberapa hal yang menjadi bantahan atas syubhat yang mereka bawa, yaitu:

pertama, di dalam hadits yang sedang kita bahas ini yaitu kisah orang yang berwasiat itu, di dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad dari hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كان رجل ممن كان قبلكم لم يعمل خيرا قط ؛ إلا التوحيد ، فلما احتضر قال لأهله : انظروا : إذا أنا مت أن يحرقوه حتى يدعوه حمما ، ثم اطحنوه ، ثم اذروه في يوم ريح ، [ ثم اذروا نصفه في البر ، ونصفه في البحر ، فوالله ؛ لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين ]، فلما مات فعلوا ذلك به ، [ فأمر الله البر فجمع ما فيه ، وأمر البحر فجمع ما فيه ] ، فإذا هو [ قائم ] في قبضة الله ، فقال الله عز وجل : يا ابن آدم ! ما حملك على ما فعلت ؟ قال : أي رب ! من مخافتك ( وفي طريق آخر: من خشيتك وأنت أعلم ) ، قال : فغفر له بها ، ولم يعمل خيرا قط إلا التوحيده .

(المسند: 8040)

“Dahulu ada seorang pria dari kalangan umat sebelum kalian yang tidak melakukan sedikitpun amal kebaikkan kecuali tauhid, kemudian tatkala kematian menjemputnya ia berkata kepada keluarganya: Perhatikanlah, bila aku telah mati hendaklah mereka membakarnya sehingga membiarkannya menjadi arang, kemudian tumbuklah dan tebarkanlah di hari musim angin kencang (kemudian taburlah separuhnya di darat dan separuhnya di lautan, demi Allah seandainya Dia kuasa terhadapnya tentu Dia pasti mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorang-pun), kemudian tatkala ia mati maka mereka melakukan hal itu, (maka Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya), maka ia-pun tiba-tiba (berdiri) dalam genggaman Allah, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Hai anak Adam, apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah kamu lakukan?

Maka ia menjawab: Ya Rabbi! Rasa takut kepada Engkau (dan dalam jalur riwayat lain: karena rasa khawatir dari-Mu, sedangkan Engkau lebih mengetahui), maka beliau berkata: Maka Dia mengampuni baginya dengan sebab hal itu, padahal ia itu tidak melakukan sedikitpun kebaikan kecuali tauhid.”

itu di dalam teks Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

dalam hadits ibnu Mas’ud: “Bahwa seorang pria yang tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid “.

teks hadits ini menjelaskan dengan sangat nyata bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak berbuat syirik, dengan teks hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu berarti orang tersebut adalah seorang muwahhid karena orang yang bertauhid itu bukan pelaku syirik akbar karena kita sudah paham bahwa tauhid dan syirik itu adalah:

نقيضان لا يجتعان ولا يرتفعان

“Dua hal yang berlawanan yang tidak mungkin bersatu dan tidak mungkin kedua-duanya lenyap (pada satu orang dalam satu waktu)”.

Jadi dengan teks hadits ini gugurlah istidlal ahlul dlalal (orang-orang sesat), karena di dalam teks hadits itu sendiri disebutkan bahwa orang tersebut adalah seorang muwahhid, yaitu orang yang komitmen dengan tauhid. Maka Al Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr dalam Kitab At-Tauhid juz 18 hal. 37 mengatakan:

وفي رواية ابي رافع عن أبي هريرة رضي الله عنه في هذا الحديث أنه قال: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد…

“Diriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ dari Abu Hurairah dalam hadits ini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: Ada seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan sedikitpun kecuali tauhid.”

Kita telah paham bahwa tauhid itu adalah kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, juga baraa dari syirik dan dari para pelakunya. Imam Ibnu Abdil Barr melanjutkan teks ucapan ini, yaitu Rasulullah: Bila teks hadits ini shahih tentu sudah melenyapkan isykal perihal keimanan pria ini, berarti orang ini mu’min muwahhid. Dan seandainya teks ini tidak shahih dari sisi sanad dan dari sisi naql, akan tetapi shahih dari sisi makna, dan kaidah pun semuanya mendukungnya dan peninjauan pun mengharuskan untuk makna seperti itu, karena mustahil lagi tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni orang-orang yang mati sedangkan mereka itu kafir, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengabarkan bahwa Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menyekutukan-Nya bila dia mati dalam keadaan kafir dan ini adalah hal yang tidak bisa dibantah, dan hal ini adalah hal yang tidak ada perselisihan di antara ahli kiblat” juga Al-Allamah Muhammad bin Abdissalam Al-Mubarakfuri mengatakan :

وقد روي الحديث بلفظ: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد، وهذه اللفظة ترفع الاشكال في ايمانه والاصول تعضدها، قال تعالى، ((ان الله لا يغفر أن يشرك به )) النساء: 48. قلت: الخشية من لوازم الايمان، ولما كان فعله هذا من أجل خشية الله تعالى وخوفه، فلا بد من القول بإيمانه، وعلى هذا فالحديث ظاهر بل هو كالصريح في استثناء التوحيد كما تقدم فلا إشكال فيه.

(مرعاة المفاتيح 8/180)

“Perawi telah meriwayatkan hadits dengan teks: Berkata seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan kecuali tauhid,” Teks ini melenyapkan isykal tentang keimanan pria tersebut dan kaidah ushul-pun mendukungnya di mana Allah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya” terus beliau mengatakan: “Tatkala perbuatan dia ini dilakukannya karena rasa takut kepada Allah maka mesti dikatakan bahwa orang ini adalah orang mu’min, sehingga atas dasar ini maka hadits itu sangat nampak jelas bahkan seperti penegasan dalam pengecualiaan tauhid sebagaimana yang telah lalu, sehingga tidak ada isykal di dalamnya.”

Berarti tidak boleh hadits ini dibawa kepada makna pengudzuran pelaku syirik akbar karena kebodohan, karena itu bertentangan dengan teks hadist sendiri, di mana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkabarkan bahwa orang tersebut tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid, orang itu adalah orang yang bertauhid, berarti ini yang harus dipegang, makna ini bahwa orang tersebut adalah muwahhid atau yang bertauhid. Juga di akhir hadits ” apa yang mendorong kamu untuk melakukan hal tersebut? “Orang itu mengatakan: “rasa rakut kepada Engkau yaa Rabb ” sedangkan yang namanya Khasy-yah (rasa takut) itu hanya pada orang yang mengetahui Allah, di mana Allah mengatakan:

[إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:28

“Yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Ulama (orang yang alim) itu adalah orang yang alim (mengetahui) Allah (yaitu orang muwahhid). Sedangkan orang musyrik itu dengan nash Al-Qur’an adalah orang yang jahil (bodoh).

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah: Maka apakah kepada selain Allah kalian memerintahkan aku untuk beribdah wahai orang-orang bodoh.” (Az Zumar: 64).

Di dalam Ayat ini Allah subhanahu wa Ta’la menyebut orang-orang musyrik itu sebagai orang jahil atau bodoh, setiap orang musyrik itu jahil (bodoh) tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik, ini kaidah setiap orang musyrik itu bodoh walaupun ilmunya banyak namun dia itu bodoh, karena tidak mengenal Allah yang sebenarnya, tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik karena ada orang muslim yang bodoh, di mana dia bertauhid tapi rincian-rincian dalam masalah furu’ dia tidak paham. Yang takut kepada Allah hanyalah orang yang alim sedangkan orang musyrik itu orang yang bodoh dan tidak mempunyai khasy-yah, terus juga dalam syarat laa ilaaha illallah terdapat syarat yang pertama adalah ilmu (mengetahui), dan orang yang tidak berilmu itu tidak mungkin memiliki khasy-yah, bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal tauhid dia punya khasy-yah kepada Allah. Kemudian juga apa makna hadits tersebut setelah kita keluarkan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan masalah syirik akbar. Terus harus dipahami juga bahwa orang tersebut dia tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, dia menyakini bahwa Allah Maha Kuasa, dia menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana di dalam teks hadits tersebut sendiri terdapat pengakuan terhadap qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah tapi karena jahil maka dia diudzur. Maka kita katakan bahwa itu istinbath yang bathil, orang tersebut tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, itu dengan nash hadits tersebut, kalau seandainya orang tersebut mengingkari qudrah Allah secara mutlak dalam arti dia menyakini Allah itu tidak mampu apa-apa berarti kalau mengingkari qudrah Allah itu menyakini bahwa Allah tidak mampu apa-apa.

Justru di dalam hadits tersebut ada dilalah isyarat yang menunjukkan bahwa orang tersebut menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa buktinya? Buktinya adalah bahwa orang tersebut memerintahkan kepada anak-anaknya untuk membakar jasadnya kemudian abunya ditebar di mana-mana karena khasy-yah (takut), seandainya orang itu mengingkari qudrah Allah tentu dia tidak akan menyuruh anak-anaknya untuk membakar jasadnya dan menaburkan abunya di mana-mana tapi dia akan membiarkan jasadnya dikubur, karena kalau dia menyakini bahwa Allah tidak kuasa tentu dalam keyakinannya bahwa Allah-pun tidak akan mampu menghidupkan jasadnya yang sudah terkubur di dalam tanah, tapi tatkala orang itu menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengembalikan jasadnya utuh setelah dikubur dan hancur di dalam tanah, orang itu menyakini bahwa Allah kuasa untuk mengumpulkan jasad yang telah menjadi tanah.

Jadi orang ini menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’la akan tetapi yang tidak dia ketahui adalah qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang sudah dibakar menjadi debu dan ditabur di daratan dan di lautan. Nah sedangkan hal semacam ini yaitu rincian daripada qudrah adalah termasuk hal-hal yang pelik dan samar.

Kedua, orang tersebut adalah hidup di zaman fatrah sehingga tidak mengetahui dalil atau hujjah yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengumpulkan jasad yang sudah menjadi abu yang ditebar di daratan maupun di lautan. Makanya Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan dalam Kitab Asy Syifa Bii Ta’rif Huquq Al-Musthafa juz . 2 hal. 293:

(وقيل كان هذا في زمن الفترة وحيث ينفع مجرد التوحيد . ( الشفاء بتعرف حقوق المصطفي

“Sebagian mengatakan bahwa ini terjadi pada masa fatrah, pada saat ketika sekedar tauhid dapat bermanfaat.”

Al Imam An Nawawiy berkata:

.وقالت طائفة : كان هذا الرجل في زمن فترة حين ينفع مجرد التوحيد

“Sebagian kelompok ulama mengatakan: Orang ini hidup pada zaman fatrah di saat sekedar tauhid itu bermanfaat “. ( Syarah An Nawawi Terhadap Shahih Muslim (9/124).

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan

.أنه كان مثبتا للصانع وكان في زمن الفترة فلم تبلغ شرائط الإيمان

“Orang tersebut menetapkan adanya Pencipta, dan dia itu hidup pada zaman fatrah, di mana syari’at-syari’at keimanan belum sampai kepadanya…(Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, 6/523)

Dia itu muwahhid dan menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan jasad yang di kubur yang sudah hancur menjadi tanah, tapi hal yang tidak dia ketahui adalah hal yang menurut akal adalah mustahil, yaitu ketika jasad sudah dihancurkan dibakar menjadi abu dan ditabur di daratan dan di lautan terpisah-pisah ke mana-mana beribu-ribu mil berpencar bahwa jasadnya itu bisa kembali seperti semula, ia anggap itu mustahil dan itu dugaan dia, namun karena dia hidup di zaman fatrah maka dia diudzur karena dia orang yang memiliki tauhid. Itu makna hadits yang tepat, bukan mengingkari qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak, tapi dia tidak mengetahui qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang telah hancur lebur ditabur di mana-mana. Karena itu Imam Ibnu Hazm mengatakan:

( فهذا إنسان جهل إلى أن مات أن الله عز و جلّ يقدر على جمع رماده و إحيائه ، و قد غفر الله له لإقراره ، و خوفه ، و جهله )

[ الفصل في الملل والأهواء والنحل : 3 / 141 ] .

“Ini adalah orang yang tidak mengetahui sampai dia mati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla kuasa untuk mengumpulkan debunya dan menghidupkannya kembali, dan Allah mengampuni karena dia mengakui keesaan Allah, dan karena rasa takutnya (kepada-Nya), serta karena kebodohannya”.

Jadi dia itu tidak mengetahui bahwa Allah berkuasa untuk mengumpulkan debu-debunya yang sudah ditabur dimana-mana.

Ada juga yang mengatakan bahwa orang tersebut mengucapkan ucapan itu di dalam wasiatnya tersebut dalam kondisi dah-syat (kondisi yang mencekam) dalam kondisi yang sangat menakutkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’la sehingga muncul dari lisannya sesuatu yang dia tidak memaksudkannya. Ada ulama yang mengatakan takwil hadits itu seperti itu sedangkan kita sudah paham bahwa orang ketika mengucapkan sesuatu ucapan dengan intifaul qashdi (tidak ada maksud) karena saking bahagianya atau saking rasa takutnya kemudian muncul dari lisannya ucapan kekafiran karena salah ucap maka itu tidak dikafirkan, karena intifa al qashdi itu termasuk mawani’ takfir .

Karena itu Imam An-Nawawi mengatakan :

وقالت طائفة : اللفظ على ظاهره ، ولكن قاله هذا الرجل وهو غير ضابط لكلامه ، ولا قاصد لحقيقة معناه ، ومعتقد لها ، بل قاله في حالة غلب عليه فيها الدهش والخوف وشدة الجزع ، بحيث ذهب تيقظه وتدبر ما يقوله ، فصار في معنى الغافل والناسي ، وهذه الحالة لا يؤاخذ فيها ، وهو نحو قول القائل الآخر الذي غلب عليه الفرح حين وجد راحلته : أنت عبدي وأنا ربك ، فلم يكفر بذلك الدهش والغلبة والسهو

“Sekelompok ulama mengatakan: “Teks hadits itu sesuai dengan dhahirnya akan tetapi orang itu mengucapkannya dalam kondisi dia tidak bisa mengendalikan ucapannya dan tidak memaksudkan kepada hakekat maknanya dan tidak menyakininya, namun dia mengatakan dalam kondisi dikuasai oleh ketercengangan, ketakutan dan kekhawatiran yang sangat, sehingga lenyaplah kesadarannya dalam pengawasan terhadap apa yang diucapkannya. Sehingga keadaannya sama seperti orang yang lalai lagi lupa. Sedangkan kondisi orang semacam ini tidak dikenakan sangsi di dalamnya. Ini semakna dengan ucapan orang yang saking bahagianya saat mendapatkan unta tunggangannya, dia mengatakan: “Ya, Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu “, dia tidak kafir dengan sebab ketercengangannya, ketakutan dan kelalaian”.

Jadi, jelas orang yang menggunakan hadits ini untuk mengudzur para pelaku syirik akbar karena kebodohan adalah telah menampatkan hadits ini bukan pada tempat yang semestinya, di mana orang tersebut terbukti muwahhid tidak berbuat syirik melalui zhohir hadits dan muwahhid tersebut hidup di zaman fatrah.
Andre Tauladan

Senin, 30 November 2015

Sedikit bercanda


pic : http://www.slideshare.net/khomsyasholikha/jangan-asal-bercanda
Umar berkata, ”Barangsiapa yang banyak tertawa maka sedikit kemuliaannya, barangsiapa yang bercanda maka dia akan diremehkan.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Bertakwalah kepada Allah dan waspadalah terhadap canda. Sesungguhnya canda dapat mewariskan kedengkian dan membawanya kepada keburukan.”

Imam Nawawi di dalam kitabnya itu mengatakan bahwa para ulama berkata, ”Sesungguhnya canda yang dilarang adalah yang kebanyakan dan berlebihan karena ia dapat mengeraskan hati dan menyibukkannya dari dzikrullah dan menjadikan kebanyakan waktu untuk menyakiti, memunculkan kebencian, merendahkan kehormatan dan kemuliaan.“

Adapun canda yang tidak seperti demikian maka tidaklah dilarang. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit melakukan canda untuk suatu kemaslahatan, menyenangkan dan menghibur jiwa. Dan yang seperti ini tidaklah dilarang sama sekali bahkan menjadi sunnah yang dianjurkan apabila dilakukan dengan sifat yang demikian. Maka bersandarlah dengan apa yang telah kami nukil dari para ulama dan telah kami teliti dari hadits-hadits dan penjelasan hukum-hukumnya dan hal itu karena besarnya kebutuhkan terhadapnya. wa billah at Taufiq.
(Fatawa al Azhar juz X hal 225)

Wallahu A’lam.
Andre Tauladan

Minggu, 29 November 2015

When Umar R.A made Takfeer..

 
In the time of Muhammad (saw) Umar ibn Khattab had made takfeer on the one who disagreed with the judgment of Muhammad (saw), not only was his takfeer consented to by the Messenger (saw) but confirmed by Allah, Allah (swt) said,

“By your lord, they are not believers until they refer to you in all their disputes and find no hardship therein, and they must submit fully.” [4: 65]

This ayah was revealed concerning two men, Utbah ibn Dumrah narrated
“My father told me, ‘two men came to Muhammad (saw) for arbitration, he judged to one of them who had Haq, over the one who had no Haq, the man said “I disagree”, the other man said, “what do you want?” he said, “let us go to Abu Bakr” they went to Abu Bakr and told him that they arbitrated to Muhammad and that they disagreed, Abu Bakr said, “both of you are on the judgment that Muhammad (saw) gave you.” The man said, “I disagree” the other man said, “What do you want?” he said, “let us go to Umar ibn Khattab.” They went to Umar, they told Umar about their arbitration to Muhammad and Abu Bakr and that they disagreed and came to him for arbitration, Umar said, “Wait here, I will come back to give you my judgment,” he went out and returned with his sword, he killed the one who wanted to judge, and the other one ran and Umar chased him. The men went to Muhammad (saw), and said, “Umar killed my friend, and if I did not make it hard for him, he would have killed me, I was running away until he had nearly killed me,” Muhammad (saw) said, “I never thought that Umar could be brave to kill a Mu’min.” (He was very upset) Allah (swt) revealed the ayah, “By your lord, they are not believers until they refer to you in all their disputes and find no hardship therein, and they must submit fully.” [4: 65]

Muhammad (saw) said to Umar, “Allah purified you from your killing” and he (saw) hugged him.’”

Abu Waleed UK.
Andre Tauladan

Hukum Mempercayai Pawang Hujan


Alloh Subhaanahu wa ta'ala berfirman :

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَ‌ٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yg meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung , Kami halau ke suatu daerah yg tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan . Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yg telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Qs. al-A'rof : 57)

1. Yg menggerakkan angin, cuaca, hujan dan lain sebagainya hanyalah Alloh . Manusia hanya bisa memprediksi dari tanda-tanda alami (kauniyah) yg mana prediksi tsb bisa salah dan bisa benar . Maka prediksi cuaca seperti ini yg bersandar pada tanda-tanda alami adalah tidak mengapa, selama tidak diiringi dengan keyakinan kebenarannya. Jadi, hanyalah prediksi belaka…

2. Pawang hujan yg diklaim bisa memindahkan hujan atau menahan hujan , maka sejatinya mereka ini adalah DUKUN yg seringkali bekerjasama dengan jin, sebagaimana dukun-dukun lainnya.

3. Kata para ulama, DUKUN dan TUKANG SIHIR adalah THOGHUT dan PARA PENDUSTA .

Alloh Subhaanahu wa ta'ala berfirman :

{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ، يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ}

“Maukah Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Syaitan-syaitan tersebut menyampaikan berita yg mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta.“
(QS asy-Syu’araa’: 221-223)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa para pendusta dalam ayat di atas adalah DUKUN dan yg semisal dengan mereka .

4. Mendatangi pawang hujan sama hukumnya dengan mendatangi DUKUN .

Hukumnya diperinci sebagai berikut :

● Mendatangi dan bertanya kpd mereka TANPA MEMBENARKANNYA, maka ini hukumnya dosa yg sangat besar dan tidak diterima sholatnya selama 40 hari .
(( Bukan artinya tidak perlu sholat, karena sholat itu kewajiban yg tidak boleh ditanggalkan )) = SYIRIK ASHGHOR

● Mendatangi mereka dan MEMBENARKANNYA maka ini adalah KAFIR –Wal'iyadzubillah– = SYIRIK AKBAR

5. Apabila yg dilakukan DUKUN itu terjadi dan nyata seperti yg diklaim. Maka jangan tertipu , sebagaimana Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- ketika ditanya tentang al-kuhhaan (para DUKUN) , Beliau menjawab ,

“Mereka adalah orang-orang yg tidak ada artinya.”

Salah seorang sahabat berkata,

“Sesungguhnya para DUKUN tersebut TERKADANG MENYAMPAIKAN KEPADA KAMI SUATU (BERITA) YANG (kemudian ternyata) BENAR.
Maka Rosululloh bersabda,

“Kalimat (berita) yg benar itu adalah yg dicuri (dari berita di langit) oleh jin (syaitan), lalu dimasukkannya ke telinga teman dekatnya (yaitu dukun dan tukang sihir), yg kemudian mereka mencampuradukkan berita tersebut dengan 100 kedustaan”
(Muttafaq alaihi)

Wallohu a’lam.

Andre Tauladan

Bantahan Untuk Kebodohan & Kemunafikan Para Pengikut buta MMI & Arrahmah Yang Pendengki

Bantahan Menggelegar Terhadap Kebodohan & Kemunafikan Para Pengikut buta MMI & Arrahmah Yang Pendengki
Oleh : Abu Ismail al-Indonesiy

Segala puji bagi Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah yang telah diutus dengan pedang sebagai rahmat semesta alam, keluarga, para sahabat dan siapa yang loyal kepada mereka

Salah satu pengikut buta Jel Fathullah (salah seorang pimpinan Ormas munafik MMI) yang sangat bodoh sekarang sudah menjadi pembela Demokrasi padahal dulu ormas MMI adalah anti demokrasi tapi sekarang lihatlah.. Jel fathullah dan pengikutnya yang bodoh itu telah menjadi pembela diin kafir Demokrasi dan pelakunya.

Salah seorang pengikut buta Jel Fathullah bernama Abu Ibrahim Al Khalil (https://www.facebook.com/musab.azzarqawi/posts/970035206401069) di statusnya membela HAMAS si kera Demokrasi dengan memposting berita dari situs pendengki yang bernada berpihak pada HAMAS dibawah ini :

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/02/isis-lebih-memilih-tantang-hamas-perang-di-gaza-daripada-melawan-israel.html

Bantahan saya terhadap berita tersebut adalah wajar jika Daulah Islamiyah nanti akan memerangi HAMAS si kera demokrasi nasionalis yang juga bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran karena Daulah Islamiyah akan memerangi seluruh pelaku syirik akbar Demokrasi Nasionalis.

Yang jadi masalah adalah ormas MMI dan media Arrahmah yg dulunya adalah anti HAMAS karena syirik akbar Demokrasinya sekarang berbalik arah menjadi pembela kera Demokrasi dan Sekutu Salibis Amerika seperti si Murtadin Erdogan dan HAMAS ataupun sekutu Salibis Amerika Thaghut Salul (Saudi).

Apakah kaum muslimin mau bukti bahwa media yang jadi acuan ormas munafik MMI (arrahmah) ini dulunya adalah anti HAMAS dan membongkar pengkhianatan HAMAS terhadap islam ?

ini buktinya :
http://www.arrahmah.com/read/2009/08/20/5407-syahidnya-syekh-maqdisi-dan-pengkhianatan-hamas.html

untuk kaum muslimin :

Lihatlah buktinya .. Arrahmah kala itu membongkar habis pengkhianatan HAMAS si kera demokrasi yang kafir lagi murtad terhadap Islam. HAMAS membantai mujahidin Jundu Ansharullah tahun 2009 lalu yang kala itu memproklamirkan Imarah Islam Palestina. HAMAS yang juga mesra dengan Syiah Rafidah Iran ini membantai habis mujahidin Jundu Ansharullah yang ingin menegakkan Syariat Islam secara kaffah di Palestina.

HAMAS si kera demokrasi yang kafir lagi murtad yang juga bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran itu membantai habis mujahidin muwahidin Jundu Ansharullah yang sedang berada di dalam mesjid Ibnu Taimiyah di Rafah Palestina.

INGAT INI WAHAI KAUM MUSLIMIN..! INGATLAH INI..! HAMAS YANG MUSYRIK LAGI NAJIS ITU MEMBANTAI KAUM MUSLIMIN YANG SEDANG BERADA DI DALAM MESJID..! DI DALAM MESJID..!, DI DALAM MESJID..!

berikut videonya :


Selain membantai kaum muslimin di dalam Mesjid, HAMAS si kera Demokrasi yang kafir lagi murtad ini juga mesra dan bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran.

Mau bukti ?

Ini buktinya :

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2015/03/13/bukti-nyata-persahabatan-hamas-dan-iran/

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2014/12/31/terkait-hubungan-iran-dengan-hamas-ismail-haniyeh-hubungan-hamas-dengan-iran-islamiyah-berlangsung-lama-dan-solid/

Cabang kelompak HAMAS di Kamp Yarmuk menyiksa kaum muslimin dengan menjual sembako dengan harga tinggi. Pada tahun 2014 seorang ibu di Kamp Yarmuk meluapkan rasa sakit hatinya pada kera Demokrasi HAMAS, Ibu tersebut mengatakan :

” TAKUTLAH KEPADA ALLAH WAHAI ANJING-ANJING!!”

Videonya :


Begitu besar kebencian kaum muslimin Palestina di Kamp Yarmuk terhadap HAMAS.

Apa yang terjadi setelah Kamp Yarmuk dikuasai dan dibebaskan oleh Daulah Islamiyah dari cengkraman orang-orang zalim yang munafik dan pendusta besar seperti Aknaf Bait Al-Maqdis (cabang HAMAS di Kamp Yarmuk)..?

Lihat video yang sangat mengharukan dibawah ini untuk mengetahuinya :




Kenapa HAMAS gak kalian sebut khawarij hai MMI & Arrahmah yang sangat zalim dan munafik..? bukankah HAMAS si kera Demokrasi Nasionalis yang mesra dengan Syiah itu membantai habis mujahidin Jundu Ansharullah di dalam mesjid ? bukankah mereka (HAMAS) telah memenuhi kriteria untuk disebut khawarij menurut kaidah kalian..? Kenapa lisan kalian hari ini malah menikam mujahidin muwahidin di Daulah Islamiyah yang telah menegakkan Syariat Islam secara kaffah dengan jalan tauhid dan jihad fisabilillah? kenapa kalian sekarang berdiri satu barisan dengan HAMAS si kera demokrasi nasionalis yang telah membantai mujahidin Jundu Ansharullah di Palestina ? dulu kalian membela Mujahidin Jundu Ansharullah sekarang malah kalian bela para pembantai Mujahidin Jundu Ansharullah… subhanallah.. alangkah jelasnya dan terangnya kemunafikan kalian ini kecuali bagi orang yg telah buta bashirohnya..! kecuali bagi para pengikut buta MMI dan Arrahmah yang jahil murakkab..!

Kenapa kalian hari ini menjadi pembela kera Demokrasi seperti HAMAS dan Thaghut Murtad Erdogan? kenapa kalian sekarang menjadi pembela dan pengangkat pamor dan memuji2 thaghut murtad Erdogan & Thaghut murtad Salul (Saudi) yang hari ini berkoalisi dengan Salibis Amerika & Salibis Perancis dalam membantai kaum muslimin di Iraq & Suriah? dimanakah al wala wal bara? Kenapa sekarang kalian membela2 dan memuji2 Thaghut Murtad Salul (Saudi) musuh Al Qaedanya Syaikh Usamah..? bukankah media Al Qaedanya Syaikh Usamah sempat merilis video yang membongkar kekafiran dan kemurtadan dari Thaghut Salul (Saudi)..? (bukti video https://www.youtube.com/watch?v=jBWDO7caRdc)

Kenapa hari ini kalian membela dan memuji2 thaghut Murtad Salul (Saudi)..? Bukankah Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy yang hari ini kalian puji karena telah berada satu barisan dengan kalian dalam kedengkian terhadap Daulah Islamiyah pernah membongkar kekafiran dan kemurtadan dari Thaghut Saudi yang berlipat2 itu?

Membongkar kekafiran Thaghut Saudi oleh Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy :

1. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-pertama-kekafiran-negara-saudi/
2. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-kedua-kekafiran-negara-saudi/
3. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/19/seri-ketiga-kekafiran-negara-saudi/
4. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-keempat-kekafiran-negara-saudi/
5. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-kelima-kekafiran-negara-saudi/
6. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-keenam-kekafiran-negara-saudi/
7. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-terakhir-kekafiran-negara-saudi/

Jika link diatas gak bisa dibuka maka ini alternatif link :

1. https://justpaste.it/ThaghutSalul1
2. https://justpaste.it/ThaghutSalul2
3. https://justpaste.it/ThaghutSalul3
4. https://justpaste.it/ThaghutSalul4
5. https://justpaste.it/ThaghutSalul5
6. https://justpaste.it/ThaghutSalul6
7. https://justpaste.it/ThaghutSalul7

Kenapa kalian hari ini menjadi pembela dan memuji HAMAS dan Thaghut Murtad Erdogan yang musyrik kafir lagi murtad itu? apa karena ormas kalian MMI yang sekarang telah menjadi penyeru kekafiran dan kesyirikan (Demokrasi) makanya kalian hari ini membela dan memuji kera Demokrasi seperti HAMAS dan si Murtadin Erdogan..? apakah kalian mau mengajak umat dan anggota ormas kalian ke Neraka Jahanam bersama kalian dengan seruan kekafiran/kesyirikan (demokrasi) tersebut..?

Ormas munafik MMI adalah ormas yg dulunya adalah anti Demokrasi yang sekarang telah menjelma menjadi ormas pembela penganut dien kafir Demokrasi dan telah menjelma menjadi ormas Thaghut yg menyeru pada kekafiran dan kesyirikan (Demokrasi). Bagi kaum muslimin yang ingin selamat dunia dan akhiratnya maka meloncatlah keluar dari kereta api bernama MMI seperti Ustad ABB yang telah lama meloncat keluar dari MMI karena MMI sekarang sedang meniti jalan di rel setan (thaghut) demokrasi yang sedang menuju ke Neraka.

Mau bukti kalau dulunya ormas munafik MMI adalah anti Demokrasi dan mewajibkan umat utk golput karena Demokrasi itu adalah kekafiran besar & kesyrikan besar yg mengeluarkan dari Islam..?

ini buktinya :

2009 –> MMI cs termasuk Jel Fathullah [si munafiq pembela sekutu salibis Amerika (thaghut murtad Erdogan)] sepakat demokrasi adalah syirik akbar dan kufur akbar dan menjatuhkan para pelakunya pada kemusyrikan.

bukti :
http://www.arrahmah.com/read/2009/03/27/3729-hukum-demokrasi-dan-golput-dalam-pandangan-islam.html

2014 –> MMI berbalik arah menjadi penyeru diin kafir Demokrasi dan menyerukan umat agar ikut pesta syirik akbar demokrasi padahal 2009 lalu mewajibkan golput karena demokrasi itu syirik akbar dan kufur akbar yg bisa mengeluarkan dari Islam (murtad). Tetapi pada 2014 malah menyerukan umat utk ikut pada pesta kekafiran dan kesyirikan tsb dan menyeru umat utk mengangkat thaghut lewat jalan setan (thaghut) demokrasi.

bukti :
http://www.muslimdaily.net/berita/nasional/majelis-mujahidin-jangan-pilih-partai-yang-menolak-syariat-islam.html

http://www.muslimdaily.net/berita/nasional/tausiyah-politik-majelis-mujahidin-tentang-pemilu-dan-parlemen.html

Untuk memuluskan agenda mereka (MMI) yang sekarang telah berada dan sedang meniti jalan setan (thaghut) demokrasi maka dibuatlah syubhat yang lemah dan rapuh lalu disebar lewat media pendengki Arrahmah agar umat mengikuti mereka di jalan setan (thaghut) demokrasi tersebut. Syubhat lemah dan rapuh bak jaring laba-laba tsb langsung dibantah oleh seorang ustad di negeri ini yang istiqomah mendakwahkan Tauhid yaitu Ustad Abu Sulaiman Ar Arkhabiliy (fakallahuasrah).

bantahan tersebut bisa dibaca dilink di ini :

https://millahibrahim.wordpress.com/2013/09/09/membantah-penyesatan-irfan-s-awwas-yang-disebarkan-oleh-situs-arrahmah-com/

atau di alternatif link berikut :

https://justpaste.it/MembantahMMI

Jadi jelas, MMI sekarang telah berada di jalan setan (thaghut) demokrasi dengan menyerukan umat utk ikut pesta Syirik akbar Demokrasi dengan cara membuat syubhat2 bathil yang lemah lagi rapuh untuk membenarkan jalan setan (thaghut) demokrasi yang mereka serukan dan telah mengajak umat utk ikut ke Neraka Jahanam bersama mereka.

Salah satu kezaliman lain yang teramat keji dari ormas munafik MMI ini adalah memfitnah Daulah Islamiyah dengan mengatakan bahwa Daulah Islamiyah adalah hasil rekayasa Syiah seperti yang terlihat di foto di bawah ini :

Padahal kita tahu semua bahwa Syiah adalah salah satu musuh yang sudah sejak dari dulu diperangi oleh pionir Daulah Islam Syaikh Abu Mushab Al Zarqawi rahimahullah dan itu terus berlanjut pada zaman Amirul Mukminin yang pertama Daulah Islam Iraq Syaikh Abu Umar Al Baghdadiy rahimahullah dan terus berlanjut pada masa Amirul Mukminin Daulah Islam Iraq yang kedua Syaikh Abu Bakar Al Baghdadiy hafidzahullah yang kemudian menjadi Daulah Islam Iraq & Syam dan kemudian menjadi Khilafah Islamiyah. Alangkah keji dan zalimnya fitnah dari ormas munafik MMI ini terhadap Khilafah Islamiyah dengan mengatakan Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Al Baghdadiy adalah hasil dari rekayasa Syiah. Rupanya ada kesamaan antara MMI & Arrahmah ini dengan Syiah Rafidah yaitu mereka sama-sama pendusta & tukang fitnah, Nauzu billahi min zalik.

Para pendengki munafik di MMI dan di Arrahmah ini mengatakan bahwa Daulah Islamiyah hasil rekayasa syiah padahal MMI & Arrahmah ini lah yang sejatinya adalah kepanjangan lidah dari Syiah Rafidah dengan membela-bela HAMAS si kera demokrasi yang musyrik lagi najis yang tak lain adalah sahabat dari Syiah Rafidah Iran..!

Bukti persabahatan HAMAS dengan Syiah Rafidah Iran

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2015/03/13/bukti-nyata-persahabatan-hamas-dan-iran/

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2014/12/31/terkait-hubungan-iran-dengan-hamas-ismail-haniyeh-hubungan-hamas-dengan-iran-islamiyah-berlangsung-lama-dan-solid/

Subhanallah.. fitnah MMI & Arrahmah terhadap Daulah Islamiyah ternyata faktanya MMI dan Arrahmah lah yang telah menjadi pembela Syiah dengan membela-bela HAMAS si kera demokrasi sahabatnya Syiah Rafidah Iran..!

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/02/isis-lebih-memilih-tantang-hamas-perang-di-gaza-daripada-melawan-israel.html

Jadi wajar jika nanti Daulah Islamiyah akan memerangi HAMAS si kera demokrasi yang musyrik lagi najis yang juga menjalin persahabatan dengan Syiah Rafidah Iran..! Memerangi HAMAS yang musyrik juga berarti memerangi Yahudi karena HAMAS adalah sahabat sejati Syiah Rafidah Iran dan Syiah Rafidah Iran adalah anak dari Yahudi..!

Kalian hai MMI & Arrahmah terkhususnya si munafik Jelita Donal (Jel Fathullah) dan para pengikut butanya yang jahil murakkab, kalian mencari-cari bermacam-macam uzur sesuai hawa nafsu kalian serta berhati-hati dari mengkafirkan para thaghut & anshar thaghut yang musyrik lagi najis yang juga merangkap sekutu salibis Amerika dalam memerangi tauhid dan kaum muslimin tetapi kalian begitu mudahnya mengkafirkan Ahlut Tauhid Al-Mujahidin di Daulah Islamiyah dan kalian tidak mencari uzur bagi Ahlut Tauhid Al-Mujahidin di Daulah Islamiyah. Si Munafik Jelita Donal (Jel Fathullah) mengatakan di sebuah komentarnya di Facebook bahwa dia sangat hati-hati dan tidak ingin berhujjah semberono dalam memvonis kafir si Thaghut Murtad Erdogan (Kera Demokrasi dan sekutu salibis Amerika) tetapi dia begitu sangat tidak hati-hati dan sangat semberono dalam berhujjah terkait vonis khawarijnya pada Daulah Islamiyah.

Alangkah samanya kalian hai MMI & Arrahmah yang pendengki yang mesra dengan thaghut & anshar thaghut dengan orang yang dikatakan oleh Mujaddid besar abad ke 7 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah, Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya mereka orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati mereka, ternyata orang-orang muwahhid itu musuh-musuh mereka, mereka membencinya dan dongkol dengannya, sedangkan orang-orang musyrik dan orang-orang munafiq adalah kawan dekat mereka yang mana mereka bercengkrama dengannya. Tapi realita ini telah terjadi pada kami dari orang-orang yang ada di kota Dir’iyyah dan ‘Uyainah yang (akhirnya) murtad dan benci akan dien ini”. (Ad Durar: 10/92)

MMI bisa mesra dengan thaghut & anshar thaghut sedangkan pada muwahidin mereka menampakkan permusuhan dan kebenciannya. Subhanallah… alangkah samanya MMI dengan orang yang dikatakan Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah diatas.

Untuk kaum muslimin yang saya cintai

Orang-orang seperti munafikun MMI dan Arrahmah inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shahallahu alaihi wasallam dari pada sosok Dajjal itu sendiri karena mereka orang munafik yang pintar berbicara.

“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan dari umatku ialah setiap munafik yang pandai berbicara” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari ‘Umar].

Munafik yang pandai berbicara ini termasuk para ustad atau dai atau ulama yang menyesatkan yang disebutkan dalam hadits lain. Abu Dzar radiallahuanhu meriwayatkan bahwa ketika ia berjalan bersama dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam Nabi berkata tiga kali, “Sesungguhnya, ada yang lebih kutakutkan atas umatku melebihi Dajjal.” Abu Dzar bertanya kepada beliau, “Apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal?” Beliau menjawab, “Para imam yang menyesatkan” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari Abu Dzar]

Dari Huadzaifah ibnul Yaman berkata :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

” يَكُونُ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ , مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ” ,
قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , صِفْهُمْ لَنَا ,
قَالَ : ” هُمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا , يَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ” ,
قُلْتُ : فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟
قَالَ : ” فَالْزَمْ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ , فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا , وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ , وَأَنْتَ كَذَلِكَ “

“Akan ada para penyeru diataas pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka, maka akan dilemparkan ke dalamnya”

Aku berkata : “Wahai Rosulullah, terangkanlah ciri-iri mereka”

Beliau berkata : “Mereka adalah orang-orang dari bangsa kita sendiri dan berbicara dengan lisan kita”

Aku berkata : “Apa yang engkau perintahkankepadaku jika aku menemui hal itu”

Beliau menjawab : “Maka lazimilah Jama’atul Muslimin dan imam mereka. Dan jika tidak ada jamaah dan imam, maka jauhilah firqoh-firqoh itu, meskipun engkau menggigit akar pohon hingga maut menghampirimu sedangkan engkau dalam kondisi demikian”

Bukankah MMI & Arrahmah itu sebangsa dan sebahasa dengan kita wahai kaum muslimin? dan lihat seruannya dan pembelaannya kepada siapa? pada pelaku kekafiran dan kesyirikan Demokrasi, bukan? itulah seruan diatas pintu-pintu Jahanam.

Mengenai perintah Rasulullah untuk melazimi Jama’atul Muslimin dan Imam mereka, Imam yang Satu dan Jamaah yang Satu tentu tidak perlu saya jawab siapa Imam yang satu itu dan dimana Jama’atul Muslimin dengan Imam mereka yang satu sekarang ini berada karena pasti udah tahu jawabannya bagi para pendukung Khilafah Islamiyah, bukan begitu ? :)

Mujaddid besar abad ke 12 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah mengatakan :

فالله الله يا إخواني تمسكوا بأصل دينكم، وأوله وآخره وأسه ورأسه : شهادة أن لا إله إلا الله.. واعرفوا معناها، وأحبوها وأحبوا أهلها ، واجعلوهم إخوانكم ، ولو كانوا بعيدين ، واكفروا بالطواغيت وعادوهم وابغضوهم ، وابغضوا من أحبهم أو جادل عنهم أو لم يكفرهم أو قال ما علي منهم أو قال ما كلفني الله بهم ، فقد كذب هذا على الله وافترى ، فقد كلفه الله بهم وافترض عليه الكفر بهم والبراءة منهم ..فالله الله ، تمسكوا بذلك لعلكم تلق
ون ربكم لا تشركون به شيئا ، اللهم توفـنا مسلمين ، وألحقنا بالصالحين

“Allah Allah wahai saudara-saudaraku, berpegang-teguhlah pada pokok Din kalian, awal dan akhirnya, pondasi dan kepalanya, yaitu syahad LAA ILAHA ILLALLAH ketahuilah maknanya, cintailah pemeluknya, jadikanlah mereka saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh. Kufurlah terhadap thoghut, musuhi mereka, bencilah siapa yang mencintai mereka atau yang membela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau mengatakan Allah tidak memerintahkanku untuk mengkafirkan mereka, maka dia berdutsa dan mengada-ada atas nama Allah. Justeru Allah telah memerintahkannya untuk mengkafirkan mereka dan mewajibkannya, bara’-lah dari mereka meskipun mereka itu saudara-saudaranya dan anak-anaknya. Takutlah kepada Allah dan takutlah kepada Allah, peganglah pokok agama kalian, semoga kalian bertemu dengan Rabb kalian dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ya Allah wafatkanlah kami dalam kondisi muslim dan gabungkanlah kami dengan orang-orang yang shaleh” [Ad-Duror As-Saniyyah 2/119 – 120]

Mujaddid besar abad ke 7 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah juga berkata :

هذا من أعظم ما يبين معنى لا إله إلا الله فإنه لم يجعل التلفظ بها عاصماً للدم والمال بل ولا معرفة معناها مع لفظها بل ولا الإقرار بذلك بل ولا كونه لا يدعوا إلا الله وحده لا شريك له بل لا يحرم دمه ولا ماله حتى يضيف إلى ذلك الكفر بما يعبد من دون الله ، فإن شك أو توقف لم يحرم دمه ولا ماله فيا لها من مسائل ما أعظمها ، وأجلها ، ويا له من بيان ما أوضحه وحجة ما أقطعها للمنازع

“Dan ini termasuk yang paling agung yang dijelaskan makna Laa Ilaaha illallah karena dengan mengucapkannya saja tidak menjadikan seseorang terjaga harta dan darahnya. Bahkan tidak juga sekedar mengetahui maknanya, tidak juga hanya sekedar mengakuinya, bahkan tidak pula hanya dengan tidak berdoa kecual hanyakepada kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, bahkan tidak menjadi haram darah dan hartanya hingga menambahkan itu dengan sikap kufur terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah. Jika ia masih ragu maka darah dan hartanya tidak menjadi haram. Duhai betapa agungnya masalah ini! Betapa jelasnya keterangan ini! Betapa qath’inya hujjah ini” [Kitabut Tauhid hal 26].

Hanya dengan timbangan kalimat tauhid laa ilaaha illallah dan al wala wal bara’ bisa terlihat kemunafikan dari Ormas MMI dan Arrahmah ini, oleh karena itu untuk kaum muslimin marilah kita mempelajari tauhid, al wala wal bara, had syirik, pembatal-pembatal tauhid, faham hujjah & tegak hujjah dan kaitannya dengan penamaan musyrik, takfir muayyan terhadap pelaku syirik akbar, permasalahan udzur jahil terhadap pelaku syirik akbar yang sering didengung2kan oleh penganut aqidah ghulat murjiah, dll. Karena hanya dengan mengkaji tauhid, pembatal-pembatal tauhid & al wala wal bara inilah kita harapkan mudah-mudahan kaum muslimin tidak tertipu oleh seruan dari dai seperti di MMI dan yang sejenis dengan mereka yang menyeru ke neraka jahanam.

Untuk kaum muslimin yang ingin selamat di dunia akhirat dan dari fitnah yang ditimbulkan oleh MMI dan Arrahmah (dan yang sebarisan dengan mereka dalam kedengkian dan fitnah) maka larilah darinya seperti lari dari anjing koreng dan jangan menoleh ke arahnya, meskipun engkau melihatnya berpura pura islam atau menampak nampakkan keislamannya ataupun berpura pura menangis… Karena itu hanyalah air mata serigala dan tipuan belaka.

Wallaahu Akbar

Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

sumber :https://justpaste.it/PengikutButaMMIArrahmah

Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates