Tampilkan posting dengan label tauhid. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label tauhid. Tampilkan semua posting

Selasa, 02 Februari 2016

Pergeseran Paradigma (Bagian 2)

pergeseran paradigma dabiq 12

“15 bulan pasca deklarasi Khilafah, kampanye militer yang dipimpin AS untuk melawannya telah meluas melebihi sebelumnya, akan tetapi kini di Barat banyak yang mengakui bahwa Daulah Islamiyyah adalah negara yang layak untuk dihuni. “

Pada tanggal 31 Maret, saya menulis sebuah artikel di majalah Dabiq edisi 8 dengan judul “Pergeseran Paradigma”, menganalisa bagaimana media Barat menggambarkan Daulah Islamiyyah serta perkembangan politiknya dari hanya sebuah “organisasi” menjadi sebuah entitas nyata. Dan saya menyebutnya sebagai sebuah negara. Saya tidak mengetahui apa-apa terkait pembangunan sebuah bangsa. Dan kebodohan membuat saya bahkan tidak pernah berhasil duduk sampai ke bangku universitas. Tapi setelah penolakan beberapa hal dari yang saya tulis di masa lalu sebagai “propaganda ISIS”, banyak wartawan dan dosen di Barat kini justru menyetujui kesimpulan saya. Mereka berkata, Daulah Islamiyyah adalah sebuah negara yang orisinil dengan segala perangkatnya.

Realitas akan Khilafah ini telah dikonfirmasi oleh banyak hal, diantaranya orang-orang dapat hidup di bawah satu pemerintahan. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, umat Islam hidup dalam keadaan aman serta mereka dapat menjalankan kehidupannya dengan lancar.

Sistem Zakat telah didirikan dan terus berjalan, dengan mengambil beberapa persen dari harta orang-orang kaya dan membagikannya kepada fakir miskin. Koin Dinar emas yang diperkenalkan setahun yang lalu sekarang sedang dicetak, sebagai persiapan sebelum diedarkan. Pengadilan Syariah telah didirikan di setiap kota untuk mengadili dengan hukum Islam. Korupsi yang merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan di Iraq dan Suriah, kini telah dibabat habis hingga hampir mencapai titik nol, sementara tingkat kejahatan menurun drastis. Sementara itu, seluruh negara-negara Teluk sedang berada dalam kekacauan. Mereka terpecah oleh perselisihan keagamaan dan permusuhan antar suku.

“Timur Tengah telah dirusak oleh amarah dan tak lagi berfungsi dengan baik karena perbuatan mereka sendiri, sehingga itu memberikan arti baru untuk kata ‘putus asa,’ sebagaimana yang ditulis oleh Aaron David Miller, Dosen Kebijakan Luar Negeri pada tanggal 11 September.

“Timur Tengah terkoyak dan terpecah belah oleh masalah sektarian, politik, kebencian agama dan konfrontasi yang tampaknya telah melampaui kapasitasnya yang tidak mungkin diperbaiki oleh pihak luar.”

Justru alasan seperti inilah yang menjadikan Daulah Islamiyyah muncul dan berkembang dengan begitu cepat dan dalam waktu yang relatif singkat. Disana Hanya ada satu sekte Sunni Islam, dan Khalifah hanya dari suku Quraisy. Di sini, di Kekhalifahan, tidak ada ruang bagi pluralisme. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Telegraph pada tanggal 8 Juni, Ruth Sherlock menulis: “Jihadis telah ber-evolusi menjadi sebuah birokrasi yang sangat teliti: memaksakan pajak [dia mengacu kepada zakat], membayar gaji tetap dan menetapkan hukum standar dalam perdagangan [dia mengacu pada pelarangan transaksi haram] dalam upaya untuk membangun ekonomi yang sehat. Banyak pengusaha Suriah yang melihat ISIS sebagai satu-satunya pilihan jika dibandingkan dengan anarkisme yang berlaku di wilayah yang dikuasai oleh pemberontak lainnya, termasuk kelompok yang didukung Barat.”

Ruth, kata-katamu itu jauh dari sifat barbar yang umumnya digunakan untuk menggambarkan Daulah Islamiyyah agar dapat diabadikan dalam sebuah citra dengan entitas jahat, sebuah gambaran yang akan dijadikan sebagai dasar propaganda pemerintahan Barat. Apa lagi, Ruth?

“Dokter dan insinyur, terutama mereka yang mengelola Kilang Minyak yang dikendalikan ISIS, mereka dibayar dengan mahal -setidaknya dibayar ganda, dan seringkali beberapa kali lipat daripada gaji yang ditawarkan di negara lain,” lanjutnya.

“Pelaku bisnis memilih untuk memindahkan industri mereka ke daerah-daerah ISIS”.

Bukan saya (John Cantlie) yang berbicara, tapi penulis di salah satu koran “terbaik” di Inggris. Dan sentimen ini -pernyataan bahwa Daulah Islamiyyah itu nyata, dan merupakan Negara yang sedang tumbuh- tengah meningkat di Barat. Setelah satu tahun serangan udara mereka, semua bukti menunjukkan tidak adanya “kemunduran” dari para mujahidin, dan setiap penurunan kekuatan perang, baik logistik maupun personel mereka disuplai dengan cepat dari hasil rampasan perang dan rekrutan baru. CIA memperkiraan pasukan tetap di Daulah Islamiyyah telah mencapai 32.000 personel tentara, tetapi beberapa tokoh mengisyaratkan dapat mencapai hingga 70 ribu atau bahkan 100.000 tentara yang siap dipanggil jika diperlukan. Seorang pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa intelijen AS telah “melihat tidak adanya degradasi/ penurunan yang berarti dalam jumlah mereka”.

Satu tahun mereka telah berperang dan tidak ada yang berubah. Dan ini merupakan masalah serius bagi koalisi. Menurut Barry Posen (Dosen Profesor Ilmu Politik di Universitas MIT, Amerika Serikat), militer Iraq sudah tidak ada wujudnya, dalam artian sebagai kekuatan tempur dalam segala maknanya. Mereka banyak digantikan oleh Unit Mobilisasi Rakyat (Hasyad Sya’biy), sebuah milisi Syiah dengan anggota hingga 100.000 pria bersenjata yang disuplai oleh Iran. Merekalah yang memimpin serangan di Tikrit pada bulan April dan yang bertanggung jawab atas banyaknya tindak kekejaman di beberapa daerah Sunni. Tapi setelah pengambil alihan Tikrit, tidak ada lagi penaklukan besar oleh Koalisi, dan pertempuran di Iraq tidak berjalan dengan baik, sejauh ini Letnan Jenderal Robert Neller dari USMC, ketika ditanya oleh senator John McCain tentang bagaimana pertimbangannya terkait kampanye militer yang akan datang? Ia menjawab, “Saya pikir kita melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang… Saya percaya bahwa kini mereka berada di jalan buntu.” Dan itu jauh dari “kemunduran” para mujahidin, Daulah Islamiyyah tetap menguasai wilayah dan bahkan terus meluas, dan ini dapat dibuktikan dengan pengambil alihan wilayah-wilayah baru di Iraq dan Suriah. Merupakan tuntutan dari pemerintah Amerika dan sekutunya untuk meremehkan Daulah Islamiyyah dalam pandangan publik dengan menjadikannya hanya sebagai sebuah “kelompok” teroris. Benar, bahwa negara itu berjalan dan menggunakan teror sebagai alat. Tetapi jika itu hanya disebut sebagai sebuah “organisasi” dan prajurit yang berjuang untuknya hanya teroris, maka ini hanya memberikan pengait kepada publik untuk menggantungkan topi mereka.

Ketika orang memahami kata-kata “teroris” atau “jihadis”, maka sebagian besar akan mendukung setiap tindakan militer terhadap mereka. Tetapi hal itu akan kehilangan urgensinya ketika Anda melawan tentara dari sebuah negara. Dan itu tidak akan dapat menyulap gambaran dari pidato politisi yang mengatakan mereka sangat berbahaya. Berperang melawan sekelompok teroris adalah suatu hal kecil, tapi memerangi sebuah negara, bahkan jika negara itu berdiri dan bangga lewat taktik teroris, ini merupakan lain hal.

Tapi mengakui bahwa Daulah Islamiyyah memang sebuah negara dalam setiap komentar akan menjadi sebuah pengakuan kemenangan bagi mereka, sehingga tidak ada pemimpin politik saat ini yang siap menyebutnya sebagai negara. Jadi mereka dengan sengaja terus memanggil Daulah Islamiyyah dengan “apa yang diklaim” sebagai negara, ISIL, IS, ISIS, Daesh dan julukan lain yang merupakan sebuah langkah untuk menunjukkan, “Ah.. Itu hanya omong kosong! Kami bahkan tidak tahu nama mereka. Kami juga telah memiliki senapan di tangan.” Itulah yang mereka katakan di depan umum. Tapi apa yang mereka katakan di belakang pintu tertutup bersama Sekretaris Pertahanan serta kepala Intelijen mereka, saya yakin hal itu akan sangat berbeda. Menurut laporan Barat, ada sekitar 7 juta orang yang tinggal di Khilafah, di daerah yang lebih besar dari Inggris dan dengan populasi yang lebih banyak dari Denmark, dan banyak dari mereka yang mengatakan bahwa kehidupan sekarang lebih baik daripada di bawah pemerintahan rezim Assad di Suriah dan Syiah di Iraq, dan juga jauh lebih baik daripada daerah kekuasaan FSA yang korup dan penuh kekacauan. Ini bukanlah apa yang diduga dapat dilakukan oleh sekelompok teroris “barbar berambut liar”.

Dalam berita di New York Times tanggal 21 Juli, Tim Arango menulis, “[Daulah Islamiyyah] telah mengalahkan pemerintah korup Suriah dan Pemerintah Iraq sebagaimana yang dikatakan oleh warga dan para pakar ahli. ‘Kamu dapat melakukan perjalanan dari Raqqah ke Mosul, dan tidak akan ada yang berani menghentikanmu sekalipun kamu membawa uang sebesar 1 juta Dollar Amerika,” ungkap Bilal yang tinggal di Raqqa (yang secara de facto adalah ibukota Daulah Islamiyyah di Suriah). ‘Dan Tidak satu orangpun yang berani mencuri walau hanya satu dolar’.”

Arango melanjutkan, dengan mengatakannya sebagai Daulah Islamiyyah maka kita telah meletakkannya di tempat yang lebih dari sekedar ukuran pemerintahan, termasuk kartu identitas untuk penduduk, menyebarkan pedoman dalam memancing untuk melestarikan alam, mensyaratkan mobil untuk dilengkapi dengan peralatan dalam keadaan darurat, dan tentu saja mengikuti dan melaksanakan syari’ah.

“[Seorang pemilik toko di Raqqa] mengatakan, ‘Di sini mereka menerapkan aturan Allah. Seorang pembunuh akan dibunuh. Pezina dirajam, dan pencuri dipotong tangannya’.”

Stephen M. Walt, seorang Dosen Profesor Hubungan International di Harvard, sebagaimana yang dikutip dalam artikel yang sama mengatakan, “Saya pikir tidak perlu ada lagi yang dipertanyakan tentang cara kita untuk memandangnya sebagai organisasi negara revolusioner.” Sebuah organisasi negara revolusioner? Kedengarannya tidak hanya sekedar “sekelompok” teroris sama sekali. Sangat penting untuk diingat, bahwa Walt telah menjelaskannya ditempat lain, negara-negara yang baru dibentuk sepanjang sejarah, membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka diakui oleh negara-negara lain. Dia menyebutkan sebagai contoh, bahwa Eropa menolak untuk mengakui Uni Soviet secara resmi selama bertahun-tahun setelah revolusi Bolshevik pada tahun 1917, dan AS juga tidak melakukannya sampai tahun 1933. Demikian juga Amerika yang tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China sampai tahun 1979, dan itu terjadi sekitar 30 tahun setelah China didirikan. “Jika Daulah Islamiyyah berhasil mempertahankan kekuasaannya, mengkonsolidasikan posisinya, dan menciptakan sebuah negara de facto di wilayah yang sebelumnya bagian dari Iraq dan Suriah.” Stephen Walt menyimpulkan, “Maka negara-negara lain perlu bekerja bersama untuk mengajarkannya tentang fakta-fakta kehidupan dalam sistem Internasional”. Tapi, tidaklah cukup sampai disitu. Karena Daulah Islamiyyah memegang prinsip bahwa “sistem internasional” adalah thoghut, sesuatu yang jahat dan memaksakan hukum positif atas manusia.

Mereka tidak pernah “belajar” untuk “bekerja sama” dengan hal itu. Tapi gencatan senjata dengan negara-negara Barat selalu menjadi pilihan di dalam Hukum Syari’ah.

Dan ada satu hal lagi, masa Assad sudah hampir selesai, dengan keruntuhan pemerintahannya yang kejam, sekarang ia hanya mengendalikan seperempat dari wilayah Suriah. Iraq terpecah belah karena kabilah-kabilah suku yang bergerak tak teratur dan tidak akan pernah pulih kembali sejak invasi Amerika. Daulah Islamiyyah kini mengangkangi kedua negara itu sebagai sebuah kerajaan Muslim, sebuah negara dimana tidak ada bentrokan konflik antar suku maupun agama. Hanya ada satu sekte dan satu keyakinan. Tempat ini dijalankan, diatur, dan dilindungi oleh Mujahidin Sunni, dan sekarang benar-benar menjadi fragmentasi unik, tidak seperti di Timur Tengah yang penuh dengan pertikaian dan kekacauan. Ini adalah singularitas, dan menjadi model yang lebih baik untuk stabilitas wilayah di masa depan daripada negara-negara Teluk yang didukung atau dibentuk oleh intervensi Barat yang kemudian menyatakan perang atasnya.

Sekali lagi, bukan hanya saya yang mengatakan ini. Yang akan menyebutnya sebagai “Propaganda ISIS”, dan kita tidak akan bisa memilikinya sekarang, atau bisakah kita? Brigadir Jenderal Ronald Magnum membuat beberapa komentar menarik dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Institut Kajian Strategis Georgia Kaukasus pada 29 Mei. “Daulah Islamiyyah telah memenuhi semua persyaratan untuk diakui sebagai sebuah negara,” katanya. “Ia memiliki struktur pemerintahan, wilayah yang terkontrol, populasi yang besar, ekonomi yang dinamis, kekuatan militer yang besar dan efektif serta memberikan pelayanan kepemerintahan pada masyarakat umum seperti perawatan kesehatan untuk penduduknya. Berurusan dengannya dan menganggapnya seolah-olah hanya sebuah gerakan teroris adalah seperti berlomba di pacuan dengan kuda yang lumpuh. Daulah Islamiyyah adalah sebuah negara dan jika Barat ingin mengalahkannya maka mereka harus menerima salah satu diantara dua hal: 1) Daulah Islamiyyah adalah ancaman yang cukup bagi perdamaian dunia atau regional, dan Barat dapat memeranginya, atau 2) Biaya perang terlalu besar dan Barat harus berencana untuk menahan diri dan membatasi Daulah Islamiyyah kemudian bernegosiasi dengannya sebagai sebuah negara yang berdaulat.” Kegagalan upaya Koalisi untuk “membendung” Khilafah adalah berita lama. Tapi untuk bernegosiasi? Itu adalah bom waktu. Baru-baru ini Obama mengatakan bahwa “tidak akan ada negosiasi” dengan Daulah Islamiyyah, dan ini sebuah fakta yang tidak akan hilang atas teman satu sel saya dulu. Tapi kemudian ia mengubah kebijakannya setelah kejadian itu, jadi mungkin dia atau presiden berikutnya harus mengubah kebijakan mereka tentang hal ini.

Dalam sebuah kutipan yang diterbitkan di “Foreign Policy” pada tanggal 10 Juni di bawah judul “Apa yang Harus Kita Lakukan jika Daulah Islamiyyah Menang?” Profesor Stephen Walt menyarankan bahwa kemenangan bagi Mujahidin tidaklah diukur dengan keberhasilan mereka dalam menancapkan bendera hitam di atas gedung-gedung baru, tetapi diukur jika mereka mampu mempertahankan wilayah yang mereka kontrol serta tidak adanya “kemunduran ataupun kehancuran”. Dan sejauh ini, mereka telah mencapai hal ini. Hingga akhirnya mereka berubah dari “sampah” menjadi mitra, khususnya ketika kepentingannya mulai beriringan dengan negara lain,” tulisnya. “Mungkin kehadiran mereka akan merepotkan di politik dunia, tetapi tidak lagi dikucilkan. Jika daulah Islamiyyah masih bertahan, maka itulah yang saya harapkan.”

Dan sekali lagi, Walt telah membuat asumsi kotor, Mujahidin tidak akan pernah menerima kemitraan dengan Barat. Tetapi jika negara-negara Barat menginginkan gencatan senjata, mereka benar-benar harus berpikir tiga kali sebelum membuang kesempatan itu.

Barat harus terus menjatuhkan bom dan membujuk berbagai kelompok Syiah untuk masuk ke dalam zona kematian setidaknya selama satu atau dua tahun sebelum mempertimbangkan dengan benar agar gencatan senjata dapat tercapai. Tapi itu adalah sebuah prospek yang menarik ketika Barat bernegosiasi dengan Daulah Islamiyyah. Apakah hal itu benar-benar mungkin terjadi?

Jonathan Powell adalah kepala negosiator di Irlandia Utara pada pemerintahan Tony Blair, dan pada tanggal 12 Agustus, ia berbicara kepada BBC tentang permasalahan ini. “Jika Anda ingin menghancurkan Daulah Islamiyyah, Anda tidak akan dapat melakukannya dari udara. Namun nampaknya tidak ada satupun negara Barat yang siap untuk menginjakkan kakinya disana. Jadi tidak ada strategi militer untuk menghancurkan ISIS. Yang diperlukan adalah sebuah strategi politik. Dalam pandangan saya, kita perlu untuk melibatkan mereka dalam negosiasi,” katanya.

“Kami telah berbicara dengan IRA, dan itu bukan karena mereka memiliki senjata, tapi karena mereka memiliki sepertiga suara dari Katholik. Jika Anda berhadapan dengan kelompok yang tidak memiliki keinginan berpolitik, seperti gangster, Anda tidak akan bisa bernegosiasi karena tidak ada pertanyaan politik disetiap masalah. Tapi bagi saya mungkin ada pertanyaan politik di jantung Suriah dan Iraq. Saya telah melihat konflik lebih dari 30 tahun terakhir, saya berpendapat bahwa jika ISIS memiliki keinginan berpolitik, maka kita dapat berbicara kepada mereka. Dan mungkin mereka akan memudar seperti salju di musim semi, tetapi keadaan semacam ini sedikit sekali terjadi dalam sejarah. Inilah hipotesis saya bahwa masih ada harapan dari sisi politik. Dan ide dari Islam ekstrimis tampaknya menjadikan kita cukup kesulitan dalam menanggulanginya, tapi kita masih memiliki opsi politik pada tahap tertentu, tidak hanya dengan kekuatan senjata.”

Powell menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Barat harus membuka jalan “negosiasi” di masa depan dengan”membangun dasar komunikasi”. Lebih dari satu tahun sejak awal operasi udara terhadap Daulah Islamiyyah dan belum ada hasilnya, jenderal bintang 4 Martin Dempsey yang bertanggung jawab atas kampanye militer yang dipimpin AS ini pastilah bertanya-tanya, berikutnya apa? Setiap orang di Barat selalu menuntut hasil dan tidak sabaran. Seperti halnya di Vietnam, perang melawan Daulah Islamiyyah nampak terlihat hanya seperti perang dengan gesekan untuk mencoba mengurangi jumlah musuh tanpa di ikuti dengan tujuan yang jelas.

Bom-bom itu sudah pasti membunuh banyak Mujahidin, tapi lebih banyak Mujahidin yang datang (daripada yang syahid) untuk mengambil tempat mereka setiap hari, masing-masing dari mereka ingin menjadi seperti mereka yang terakhir sebelumnya mati syahid di jalan Allah. Bombardir juga sudah pasti menghancurkan banyak tank dan kendaraan tempur Daulah Islamiyyah yang diambil dari rampasan perang dari tentara Iraq (hanya ada satu persneling di tank tentara Iraq) tapi Mujahidin telah memperoleh lebih banyak tank dan senjata dari pasukan yang melarikan diri. Para prajurit dari kekhalifahan ini telah terbukti menjadi kekuatan mengejutkan yang dapat bertahan dari pecahan dan ledakan bom atau rudal Hellfire.

Dan sementara itu, Daulah Khilafah terus tumbuh dan matang dengan andil mujahidin yang berjuang dan mati ketika mendukungnya. Mujahidin menikmati pertempuran, tetapi mereka telah terbukti sangat baik dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar dan pemerintah. Mereka mendirikan negara dan mengatur suatu tatanan baru di Timur Tengah, maka apa yang mungkin terjadi beberapa tahun ke depan itu terserah kepada Daulah Islamiyyah dan bukan tekanan dari luar. Opsi pertama adalah mereka akan terus memperluas perbatasan Khilafah di seluruh wilayah sampai mereka dihentikan oleh keterbatasan ekonomi atau militernya, dan setelah itu mereka akan mengonsolidasikan posisi mereka. Tapi harapan sangat buruk bagi Barat karena tidak terlihat ada keterbatasan pada kekhalifahan. Opsi kedua adalah mereka menghalau Barat dan meluncurkan serangan darat secara totalitas, sehingga memasuki perang terakhir antara Muslimin dan pasukan Salib sebagaimana yang telah dinubuwahkan akan terjadi di Dabiq Suriah, karena ketika Amerika dan sekutunya melakukan operasi di luar negeri maka mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengirim pasukan. Saya hanya menebak bahwa “elang” Amerika mungkin dengan senang hati datang ke Dabiq tanpa Daulah Islamiyyah perlu meledakkan bom di Manhattan.

Dalam sebuah kutipan yang diterbitkan oleh The Independent pada tanggal 21 Juni yang berjudul “Kami Tidak Bisa Menghancurkan ISIS, Jadi Kita Harus Belajar Untuk Hidup Bersamanya”, Richard Barrett, mantan kepala kontra-terorisme untuk MI6 menulis, “Iraq dan Suriah tidak akan pernah kembali sebagaimana semula, dan siapapun yang menang di dalamnya, maka entitas baru telah muncul yang akan tetap ada dalam beberapa bentuk. Untuk saat ini, entitas tersebut sangatlah agresif, tidak toleran dan tanpa kompromi, ISIS menawarkan kepada mereka untuk hidup di bawah kekuasaan pemerintahan yang lebih baik dalam beberapa hal daripada yang mereka terima dari negara sebelumnya. Korupsi turun drastis, dan penetapan keadilan lebih cepat dan merata meskipun brutal.”

Tidak ada keraguan lagi, konsolidasi yang cepat dan kecerdasan pemerintah Daulah Islamiyyah atas wilayahnya telah mengejutkan para pemimpin dunia ketika mereka dengan secepat kilat menaklukkan Mosul. Jika Anda mengatakan hal ini kepada seorang politisi di New York pada Juni 2014 bahwa Daulah Islamiyyah akan mencapainya pada bulan Oktober 2015, dia pasti akan tertawa tepat di depan wajah Anda. Sama halnya akan adil juga mengatakan bahwa politisi yang sama tidak akan tertawa pada hari ini.

Andre Tauladan

Senin, 04 Januari 2016

[VIDEO] Kewarganegaraan Alu Sa’ud Di Bawah Telapak Kakiku


Bismillahirrahmanirrahim

KDI MEDIA

Menghadirkan

Terjemahan Audio Dari

Syaikh Faaris Ash-Shuweil / Faaris Az-Zahrani – taqabbalahullah-
Kewarganegaraan Alu Sa’ud
di bawah Telapak Kakiku

Alih Bahasa & Editor : KDI MEDIA



Link : Download

Syaikh Faaris Alu Syuwail -taqabbalahullah- berkata :
“Agar dapat diketahui oleh siapa saja yang berbaris menghakimi-ku (eksekusi) bahwa darah-ku kan mengalir bagai bara dan gunung berapi yang akan membakar tirani thagut”.
***
Kementrian Dalam Negeri Saluliyah (Arab Saudi) Umumkan Pelaksanaan Eksekusi Irhabiyyin (Muwahidin Jihadis) diantara mereka adalah Syaikh Faaris Alu Syuwail ak. Syaikh Faaris Az-Zahrani. Syaikh Abdul Aziz Ath-Thawalei dan Syaikh Hamd bin Abdullah bin Ibrahim Al Humaidi dan Para Ulama Muwahidin Mujahidin serta Penuntut Ilmu lainnya.
Semoga Allah Menerima mereka dalam barisan Syuhada.
#Bayan_Mendagri_Salul
#Saudi_Eksekusi_Muwahhid_Jihadis
Link Pernyataan Kemendagri Saluliyah : ‏http://www.tmm24.org/97643


Andre Tauladan

Selasa, 08 Desember 2015

PENGKHIANATAN PARA PEMIMPIN HARAKAH ASY-SYABAB

Oleh: Abu Maisarah asy-Syami
Alih Bahasa: Usdul Wagha
Sumber: http://justpaste.it/pim0


Segala puji bagi Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi, shalawat serta salam tercurah kepada adh-dhahuk al-qattal (yang murah senyum namun tegas berperang), juga kepada keluarganya yang baik dan suci, wa ba’du:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

“إِذَا اطْمَأَنَّ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ ثُمَّ قَتَلَهُ بَعْدَمَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ نُصِبَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِوَاءُ غَدْرٍ“

“Apabila seorang laki-laki telah percaya kepada seorang laki-laki lain namun kemudian orang yang dipercaya ini membunuhnya setelah dia dipercaya, maka kelak pada hari Kiamat akan dipancangkan baginya bendera pengkhianatan” [Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Amr ibn al-Hamiq dan dia berkata; “Ini adalah hadits dengan sanad shahih namun belum ditakhrij oleh keduanya (al-Bukhari dan Muslim).” Dan berkata adz-Dahabi: “Shahih.”

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam banyak hadits bahwa apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan yang akan datang pada hari Kiamat, maka akan ditancapkan di belakang setiap pengkhianat sebuah bendera yang dapat dikenali dan akan diangkat sesuai kadar pengkhianatannya, kemudian akan dikatakan; “Ketahuilah ini adalah pengkhianatan Fulan ibn Fulan!” [“Bab Haramnya Pengkhianatan” – Shahih Muslim]. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

“وَلَا غَادِرَ أَعْظَمُ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ“

“Dan tidak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya dari pada seorang pemimpin umat.” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id].

Maka hendaklah para muwahhid mujahid dan seluruh manusia baik di timur maupun di barat mengetahui bahwa para pemimpin Harakah asy-Syabab – yang berbai’at kepada Zhawahiri si dungu thaghut Akhtar Manshur – bahwa para pemimpin ini, yang telah rusak dan membuat kerusakan, yang sesat lagi menyesatkan, telah berlaku melampaui batas kepada para junud khilafah di Somalia, mereka mengkhianati dan menumpahkan darah haram mereka, membunuh jiwa suci mereka tanpa haq.

Ya, setelah para muhajirin dan anshar berdatangan kepada para junud khilafah di Somalia, untuk mendengar seruan khilafah dan bersegera untuk bergabung ke dalam ikatan jama’ah, para pemimpin Harakah asy-Syabab kemudian mengirimkan tiga mata-matanya kepada Syaikh Mujahid Abu Nu’man al-Yintari (taqabbalahullah) yang telah datang bersama keluarganya dan putra-putra keluarganya kepada barisan khilafah dan menyingkir ke dalam hutan, lalu para mata-mata harakah asy-Syabab ini mengaku ingin melakukan pertemuan bersama Syaikh Abu Nu’man dan teman-temannya untuk berbai’at kepada Khalifah, maka datanglah Syaikh Abu Nu’man bersama lima teman karibnya untuk berkumpul bersama mereka, dan di akhir majlis, para mata-mata Harakah asy-Syabab ini membunuh mereka dengan darah dingin, keji dan licik! Dan setelah melakukan ightiyal, mereka mengirimkan surat kepada Ar-Raymi (Seorang tentara Akhtar di Yaman) dan memberikan kabar bahwa mereka baru saja melakukan amaliah dan mengklaim bahwa mereka telah membunuh seorang amir Daulah yang diutus dari Libya! Mereka telah berkhianat dan berdusta!

Ya, mereka juga telah melakukan ightiyal kepada Syaikh Mujahid Husain ‘Abdi Jaidiy (Taqabbalahullah) dengan penuh khianat sebagaimana yang mereka lakukan kepada Syaikh Abu Nu’man, di mana mereka mengirimkan seorang laki-laki yang dahulu dipercaya oleh Syaikh sebagai seorang supir dan sekaligus penjaganya, pengkhianat ini mengaku ingin bergabung ke dalam khilafah, namun ketika berkumpul bersama syaikh, dia pun melakukan ightyal kepada syaikh itu dan dua orang temannya!

Mereka juga membunuh (ightiyal) seorang muhajir mujahid Muhammad Makaqi Ibrahim Muhammad (Hudzaifah as-Sudani – taqabbalahullah) seorang buronan tentara Salib Amerika sejak 2008 karena ikut serta dalam pembunuhan John Granville, seorang diplomat Salibis AS di Sudan, dan setelah Hudzaifah ditahan di penjara Kobar, dia bersama teman-temannya berhasil melarikan diri dalam sebuah operasi yang diberkahi, bahkan pihak Amerika mempersiapkan dana lima juta dolar bagi siapa yang bisa menunjukkan orang ini. Dan barangkali mereka mengirimkan dana ini kepada para pemimpin Harakah asy-Syabab!

Dan sebelumnya, para mata-mata Harakah asy-Syabab menahan sepuluh sahabat Syaikh Mujahid Abdul Qadir Mu’min (Tsabbatahullah) yang membuat syaikh bersegera mengumumkan bai’atnya dengan harapan Allah akan memberikan petunjuk kepada para amir gerakan itu kepada kebenaran, atau semoga saja mereka menjadi malu untuk menumpahkan darah seorang muslim tanpa hak.

Mereka memenjarakan siapa saja dari kalangan anshar dan muhajirin yang mereka anggap memiliki sikap wala` (loyalitas) kepada Khilafah, menyita apa yang mereka miliki dan menakut-nakuti keluarga mereka, bahkan tidak selamat dari kejahatan mereka kalangan umum kaum muslimin yang mereka curigai bahwa mereka adalah penolong para tentara Khilafah atau simpatisan, seolah-olah menolong khilafah adalah sebuah tindak kriminal, yang mana “undang-undang” Harakah asy-Syabab akan menghukum siapa saja yang berbai’at atau menolong atau melindungi atau terindikasi hal itu…

Mereka juga tidak membedakan antara yang muda maupun yang tua, mereka menahan seorang yang telah beruban al-akh Abu Anas al-Mishri di kota Jamaame setelah keluar dari shalat maghrib dan akan kembali ke rumahnya. Dan ditahan bersamanya al-akh Abu Abdur Rahman al-Maghribi, dan ketika Syaikh Abdul Aziz Ruqayyah mengingkari akan perbuatan mereka, mereka pun menghinakannya, menahan dan memperlakukannya seperti orang-orang sebelumnya, mereka juga menahan Mu’awiyah al-Malaizi dan Uwais al-Anshari seminggu kemudian.

Mereka juga menculik Abdullah Yusuf (Salah seorang mantan komandan Harakah asy-Syabab) dan seorang temannya ketika dalam perjalanan dari kota Konborwa dan Jilib, dan sebagaimana kebiasaan mereka, yang mengkhianati keduanya dengan dalih ingin duduk-duduk bersama keduanya untuk berbincang-bincang saja!

Mereka juga menculik wakil pemimpin dewan ulama Badruddin al-Anshari. Juga menculik Abu Tsabit al-Muhajir dalam sebuah operasi pengkhianatan yang membunuh Hudzaifah as-Sudani (taqabbalahullah).

Dan setelah mereka ditahan dan juga orang-orang lainnya yang tidak diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, terputuslah berita tentang mereka dan tidak terdengar info apa pun mengenai mereka, semoga Allah meneguhkan dan membebaskan mereka, tuduhan yang sebenarnya atas mereka semua tidak lain adalah niat untuk masuk ke dalam jama’ah kaum muslimin dan keluar dari perpecahan buta dan untuk loyal kepada Khilafah yang baru kembali dan berlepas diri dari thaghut thaliban dan si dungunya, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dan di antara kejahatan para amir Harakah asy-Syabab adalah mereka mengirimkan utusan resmi kepada setiap front harakah ini dan kantor-kantornya dan mengabarkan kepada para amir dan tentara bahwa mereka akan memerangi dan membunuh siapa saja yang berusaha “memecah belah barisan!” mereka juga mengundang para ulama untuk melakukan pertemuan rahasia dan mengancam mereka dengan pembunuhan apabila berusaha menolong siapa saja yang akan “memecah belah barisan.” Seolah-olah jama’ah kaum muslimin adalah kelompok Harakah asy-Syabab yang berbai’at kepada si dungu azh-Zhawahiri pelayan Thaghut Thaliban!

Dan di tengah operasi pengkhianatan terhadap para junud khilafah di Somalia, dan sejak beberapa katibah dari Harakah ini menyatakan bai’at kepada Khilafah, para pemimpin Harakah asy-Syabab mengarahkan kebanyakan tentaranya dan usaha mereka untuk memburu para junud khilafah untuk dibunuh atau dibantai, bukannya menyerang kepala kekufuran Amerika yang menjadi tujuan utama mereka seperti yang diklaim oleh Zhawahiri. Bahkan mereka terus berdamai dengan milisi murtad, kemurtadannya sangat jelas, kelompok ini berlokasi di kota Gobowen selatan Somalia dekat Kismayo. Pemimpinnya biasa dipanggil Barri Hirali yang tidak diragukan lagi kemurtadannya, Barri Hirali adalah mantan menteri pertahanan dalam pemerintahan murtad dukungan Salibis dan anggota yang sangat semangat dalam “permainan” demokrasi. Para pemimpin Harakah asy-Syabab tidak menjadi milisi ini sebagai target serangan meskipun milisi ini memiliki basis militer di lokasi tersebut, dan mengizinkan orang-orang murtad ini untuk keluar-masuk ke lokasi-lokasi yang dikuasai Harakah dan tidak membolehkan siapapun untuk membunuh mereka atau menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, mereka berdamai dengan orang-orang murtad ini dan berkompromi di saat mereka memenjarakan dan membunuh siapa saja yang mereka anggap berwala` kepada khilafah, mereka seolah ingin menyamai Abu Mush’ab Abdul Wadud yang ingin bergabung bersama gerakan nasionalis untuk membebaskan Azwad, atau Khalid al-Bathir yang memiliki fikiran untuk menyerahkan kota Mukalla kepada thaghut Dewan Nasional Hadramaut, dan selain keduanya yang berbuat baik kepada kaum murtadin dan memerangi kaum muwahhidin.

Ya, sesungguhnya berhala golongan dan patung kesombongan (‘ujub) telah merusak hati para pemimpin Harakah asy-Syabab, sampai-sampai mereka tidak lagi mengenal seusatu yang ma’ruf dan mengingkari sesuatu yang munkar, bahkan mereka diam dari kesesatan thaghut Akhtar dan orang dungunya azh-Zhawahiri. Apakah mereka akan tetap berpegang kepada baiat atas seseorang yang menganggap thaghut Qatar sebagai saudara kandung? Dan kaum Rafidhah Khurasan dan seluruh dunia sebagai ikhwan? Apakah mereka akan tetap memegang bai’at kepada seseorang yang berwala` kepada Shahawat Saluliah (baca: Saudi_pent), nasionalisme, demokrasi, atheis, dan bukan kepada muhajirin dan anshar? Apakah mereka akan tetap berpegang kepada bai’at atas seseorang yang berpaling dari al-wala` wal-bara` dan melarang kelompoknya dari itu, mendekat kepada pemerintahan murtad Pakistan dan angkatan bersenjatanya serta dinas intelijennya. Apakah mereka akan mempertahankan bai’at kepada seseorang yang berperang demi nasionalisme Afghanistan dan berdamai dengan kaum murtad pemerintah Afghanistan demi hal itu?

Maka hendaklah mereka tahu, seandainya mereka tidak mengetahui keadaan imam mereka Akhtar dan si dungu Azh-Zhawahiri maka itu adalah musibah! Dan jika mereka tahu maka musibahnya lebih parah!

Dan kepada para junud Khilafah di Somalia, Allah Ta’ala telah berfirman: { dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal} [Asy-Syura: 39-40] dan berfirman; { Oleh sebab itu barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu} [Al-baqarah: 194] { Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu} [an-nahl: 126].

Maka harus ada hukuman kepada para pelaku kerusakan di muka bumi ini dengan hukuman yang setimpal atau lebih berat, maka bunuhlah para pemimpin hizbiyah dan perpecahan dengan senjata peredam, sabuk peledak atau bom, hingga terpisahlah barisan-barisan itu dan manusia akan mengetahui di barisan manakan para pemimpin ini, apakah bersama Akhtar dan Zhawahiri? Ataukah bersama Tauhid dan Jihad? Dan sesungguhnya di dalam barisan Harakah asy-Syabab terdapat jumlah yang sangat banyak orang-orang yang ingin masuk ke dalam Jama’ah kaum Muslimin, namun mereka dihalangi oleh sikap keras para pemimpin Harakah asy-Syabab dan para agen intelijen mereka, hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.

Dan terakhir, kepada para amir Harakah asy-Syabab, jika kalian menginginkan keselamatan maka berlepas dirilah dari Akhtar kalian, Zhawahiri kalian, sikap hizbiyah kalian, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan sehingga kalian akan ditimpa apa yang telah menimpa Jabhah Jaulani, berupa kerugian di dunia dan juga di akhirat.

Ditulis oleh: Abu Maysarah asy-Syami – semoga Allah mengampuninya.

Alih Bahasa: Usdul Wagha 26 Shafar 1437H – 08/12/2015

sumber : https://millahibrahim.wordpress.com/
Andre Tauladan

Minggu, 06 Desember 2015

REALITA DI INDONESIA : MUWAHIDIN DIMUSUHI, MUSYRIKIN DAN MUNAFIQIN DISAYANGI

Oleh : Abu Usamah. JR.

Kini kita tengah hidup pada akhir zaman yang penuh dengan fitnah. Bahkan fitnah yang meliputi kita hari ini bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita dan saling bertindihan. Akibatnya tidak sedikit orang yang melihat tiba-tiba menjadi buta dan orang yang berilmu spontan seperti orang dungu akibat fitnah ini. Inilah hari-hari dimana para pendusta dipercaya, penjahat dianggap sebagai pahlawan, si pandir dijadikan ulama bahkan iblis dipuja bak tuhan. Hampir-hampir tidak ada hamba yang selamat kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyalllahu’anhuma]

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.” [HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3650]

Mereka yang mengklaim sebagai seorang muslim tidak sedikit yang justru perilakunya lebih mendekati kepada yahudi dan nasrani daripada perilaku yang diajarkan oleh Nabinya. Kamus untuk menentukan kebaikan dan keburukan bukan lagi Al-Qur’an tapi siapa yang berkuasa. Maka kemudian gelar pahlawan dan penjahat ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Jika yang tertipu adalah orang awam tentu kita tidak risau tapi kenyataannya tidak sedikit mereka yang dianggap sebagai orang berilmu dan pejuang juga turut terseret arus ini.

Fenomena diatas semakin nampak seiring deklarasi Khilafah dan perkembangannya yang makin kuat dan meluas biidznillah. Sifat hasud dari sebagian individu dan kelompok terhadap Daulah Islam telah menyeret mereka pada perilaku layaknya kafirin dan munafiqin. Dimana mereka telah menampakkan loyalitas kepada kafirin dan menampakkan permusuhan kepada para muwahidin. Bahkan mereka tidak kalah aktif dengan para kafirin dan munafiqin dalam menyerang Daulah Islam.

Keadaan mereka sangat mirip dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, “Sesungguhnya orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir (muayyan) itu,bila kamu amati mereka ternyata kaum muwahidin adalah musuh mereka, dimana mereka membenci dan merasa dongkol dengan mereka, sedangkan kaum musyrikin dan kaum munafiqin itu justru adalah kawan dekat mereka yang mereka sangat akrab dengan mereka itu….”. (Ad Durar As Saniyyah 10/91)

Syaikh Muhammad mengatakan kalimat diatas lebih dari seratus tahun yang lalu, namun ternyata apa yang digambarkan oleh beliau adalah fenomena yang terus terjadi pada setiap zaman dan tempat. Lihatlah hari ini keadaan para pendengki Daulah Islam yang diantara Aqidah mereka adalah tidak mau mengkafirkan pendukung demokrasi, tidak mengkafirkan pendukung ideologi kufur dan menganggap muslim para thoghut dan ansor-anshornya yang ber-KTP Islam. Para pendengki sangat gencar melemparkan syubhat dan hujatan kepada Daulah Islam, jika diingatkan keadaannya seperti, ”Jika dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!,mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.“ (QS Al-Baqarah :11) Ya, para pendengki menganggap bahwa fitnah, hujatan dan sematan buruk mereka terhadap Daulah Islam adalah kebaikan dan kewajiban yang memiliki keutamaan. Sebab menurut klaim hawa nafsu mereka itu adalah upaya menyelamatkan umat dari paham khawarij. Namun hal yang sama tidak mereka lakukan terhadap ajaran kafir demokrasi. Mereka tidak gencar mengingatkan umat dari tipu daya dan bahaya riddah dari ajaran demokrasi. Para mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam tidak selamat dari lisan mereka sementara itu kaum musyrikin dianggap tidak berbahaya dengan ideologi kemusyrikannya yang didakwahkan di tengah umat Muhammad.

Keadaan mereka seperti yang Allah sebutkan tentang yahudi, ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari alkitab?, mereka percaya kepada jibt dan thoghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih baik jalannya dari orang-orang yang beriman.“ (QS An-Nisa : 51)

Lihatlah! bukankah mereka percaya apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dan para thoghut bahwa Daulah Islam bukan Islam, membunuh kaum muslimin, sadis, antek Amerika, antek Yahudi dan sederet tuduhan-tuduhan lainnnya? Bahkan secara tidak langsung mereka meyakini bahwa para thoghut agamanya lebih baik daripada mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam. Lihatlah media sampah mereka yang menyatakan turut berbahagia dengan kemenangan Erdogan thoghut Turki sebagai Presiden melalui cara demokrasi. Dan bandingkan dengan hujatan mereka terhadap Ustadz Aman Abdurrahman fakallahu asrah dengan menyebutnya sebagai thoghut dan arbab. Duhai bencana macam apa yang menimpa orang-orang sakit ini? thoghut dianggap pemimpin kaum muslimin sementara Da'i jujur yang menyeru Tauhid disebut sebagai thoghut dan arbab, apakah otak kalian telah berpindah ke lutut-lutut kalian?

Kelahiran Daulah Islam yang mewujudkan berlakunya hukum syariat Islam menjadi duri dan kedukaan bagi mereka, sementara itu kemenangan thoghut yang mempertahankan hukum kafir menjadi hari bahagia dan kemenangan mereka. Wahai kalian yang berakal, dari mana kalian mengambil agama dan petunjuk?

Para pendengki menampakkan permusuhan yang sangat terhadap Daulah Islam, sebaliknya kurang peduli dengan kejahatan orang-orang kafir. Mereka lebih gencar menyebarkan berita yang menfitnah Daulah Islam yang mereka sebut sebagai kekejaman daripada memberitakan kesadisan tentara salibis yang membantai warga Daulah Islam di Iraq dan Syam (Suriah). Mereka lebih bersemangat membongkar apa yang mereka sebut sebagai kesesatan Daulah Islam namun bisu dan malu-malu mengupas tuntas kekafiran demokrasi dan pancasila beserta para pembelanya.

Seorang Da’i Su’u (Ulama jahat penyeru ke pintu jahannam) yang sejak berada dalam penjara telah bersemangat menampakkan permusuhannya terhadap Daulah Islam, belum lagi sampai di rumahnya dia sudah menggonggong akan mendebat para pendukung Daulah Islam agar bertobat dari kesesatannya. Sementara si dungu ini telah bebas dari penjara dengan pembebasan bersyarat yang mengharuskan dia menandatangani syarat kekafiran di dalamnya. Orang ini seperti penderita HIV/AIDS yang merasa jijik dengan penderita panu dan memperingatkan orang lain agar tidak mendekati si penderita panu tersebut. Belum sampai hitungan bulan mantan mujahid ini sudah berencana akan mengadakan dialog terbuka tentang Khilafah di kota Semarang. Apakah dia akan melampiaskan dendamnya terhadap Khilafah ini dengan dendam yang belum terlampiaskan ketika di penjara? ataukah dia akan bertobat dari kesesatannya? kita tunggu saja. Namun pantas kita bertanya kepada si penanda tangan PB dengan syarat kekafiran tersebut, kenapa dia tidak segera mengingatkan umat dari bahaya kekafiran demokrasi dan pancasila yang bahayanya menghilangkan iman seorang hamba? Oh, saya lupa.… bukankah ia juga tidak peduli dengan keselamatan imannya sendiri sehingga rela membubuhkan tandatangan menerima syarat kekafiran?

Fenomena permusuhan terhadap muwahidin juga gencar disuarakan oleh kelompok mujahidin majelis, mujahidin tabligh akbar dan mujahidin seminar. Kelompok yang pernah mengeluarkan fatwa mubah untuk berpartisipasi dalam pesta syirik demokrasi dengan ikut serta dalam pencoblosan termasuk salah satu kelompok yang bersemangat menanamkan permusuhan terhadap Daulah Islam. Bahkan tokoh kelompok ini gencar bersafari melakukan seminar untuk menebar fitnah terhadap Daulah Islam agar umat membenci dan memusuhinya. Tokoh yang pernah menjadi kandidat presiden NKRI bersyariah ini belum pernah kita dapatkan mengadakan seminar untuk membongkar kesesatan demokrasi maupun kesesatan pancasila. Pengusung idiologi kafir selamat dari lisan dan tulisan Ustadz Ajib ini, namun penegak syariat Islam yang telah mengorbankan ribuan tentaranya menjadi musuh utamanya. Mungkinkah ia enggan mengkafirkan ajaran demokrasi dikarenakan ia masih berharap kelak ia bisa menjadi presiden NKRI bersyariah? jika iya maka mungkin umat ini kelak akan melihat aksinya di panggung kampanye mengenakan jubah dan sorban berorasi dengan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi.

Wujud NKRI bersyariah yang dicita-citakan oleh ustadz dari kelompok mujahidin majelis ini entah seperti apa, penulis sendiri bingung menggambarkannya. Apakah yang dimaksud adalah ketika terwujud NKRI bersyariah maka seluruh jalan protokol di Jakarta akan berganti nama menjadi nama malaikat seperti jalan Jibril, jalan Mikail, jalan Izroil dan Jalan Isrofil? Ataukah teks pancasila dan KUHP akan berubah menjadi bahasa Arab, para Menteri berjenggot dan istana negara dihiasi dengan kaligrafi? wallahu a’lam, entah seperti apa gambaran NKRI bersyariah versi orang-orang sakit tersebut.

Maka melihat segala tingkah polah dari pendengki Daulah Islam semakin lama semakin memperjelas kerusakan manhaj mereka. Tidak ada yang mereka untungkan dari seminar, tulisan dan ceramah-ceramah yang berisi fitnah dan hujatan terhadap Daulah Islam yang mereka gencarkan kecuali kafir salibis, yahudi dan para penguasa murtad di barat dan timur. Dan tidak ada pihak yang dirugikan dari aksi-aksi bejat mereka kecuali para mujahidin dan kaum muslimin. Dan nampaklah siapa sesungguhnya musuh yang mereka benci dan mereka dongkol kepadanya, tiada lain muwahidin dan mujahidin. Dan semakin terang juga siapa sebenarnya pihak yang mereka cenderung untuk dijadikan kawan, tiada lain adalah para thoghut dan anshor-anshornya, orang-orang musyrik demokrasi dan orang-orang yang rusak manhajnya.

Sebagai penutup aku sampaikan kepada siapa saja yang memiliki kedengkian, dendam dan permusuhan terhadap Daulah Islam, bertaubatlah kalian kepada Allah, tengoklah kembali Tauhid dan manhaj kalian, sebab sangat jelas penyimpangan kalian. Jangan sampai penyesalan mendatangi kalian tatkala tangan dan kaki kalian terikat serta wajah kalian tertelungkup di tanah lapang sementara senapan AK-47 Tentara Daulah Islam menempel di pelipis kalian dan memaksa kalian untuk berteriak “DAULAH ISLAM BAAQIYYAH“.

Jika kalian enggan dengan pilihan pertama maka berbuatlah sesuka kalian jika tidak malu, sebab Alhamdulillah semakin kalian menggonggong semakin nampak kebodohan dan kesesatan kalian. Bersamaan dengan itu kami semakin yakin bahwa Daulah Islam kami yang benar dan yang akan menang biidznillah.

Allahu musta’an

[Shoutussalam]
Andre Tauladan

Selasa, 01 Desember 2015

Tidak ada udzur jahil bagi pelaku syirik akbar


beberapa waktu yang lalu, saya (http://hijraazizy.tumblr.com/) berdiskusi dengan seorang yang memiliki pemahaman seperti sekte murjiah. kenapa ia saya disebut murjiah? karena mudah dan membawa syubhat dalam mengudzur pelaku syirik akbar dengan membawa nash al wa’du, tanpa melihat nash al wa’iid (contoh dalam gambar komentar di atas).

mereka membawa syubhat menggunakan hadits di bawah tanpa perincian, berikut ini teks lengkap haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، قَالَ : لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا ، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ ، فَقَالَ : اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ ، فَقَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ ، قَالَ : يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ ، وَقَالَ غَيْرُهُ مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ ” .

dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: ada seorang pria yang aniaya terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa), kemudian tatkala kematian menjemputnya dia berkata kepada anak-anaknya: “bila aku meninggal dunia maka bakarlah aku kemudian tumbuklah jasadku kemudian taburkanlah di angin, maka demi Allah seandainya Rabbku kuasa terhadap diriku pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun,” kemudian tatkala orang itu meninggal dunia maka hal tersebut dilakukan terhadapnya maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bumi dan Allah mengatakan: “kumpulkanlah apa yang ada di dalam perutmu,” kemudian bumi-pun melakukannya maka tiba-tiba orang itu berdiri kemudian Allah berfirman kepadanya: ” Apa yang mendorongmu kamu untuk melakukan apa yang kamu lakukan maka orang itu mengatakan ” yaa Rabb (yang mendorong saya untuk melakukan hal itu) adalah rasa takut kepada Engkau” maka Allah-pun mengampuninya.” (Riwayat Al Bukhari)

mereka para pengudzur pelaku syirik akbar karena kebodohan mereka mengatakan bahwa orang ini melakukan kekafiran yaitu mengingkari qudrah Allah, sedangkan mengingkari qudrah Allah adalah kekafiran tatkala orang ini melakukannya karena kejahilan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengkafirkannya, justru Allah memberikan ampunan karena dasar dia melakukan hal itu adalah karena rasa takut, jadi kesimpulannya menurut mereka bahwa pelaku syirik akbar karena kebodohan itu diudzur tidak boleh dikafirkan. Jadi hadits ini dipakai mereka untuk mengudzur para thaghut dan para ansharnya dan ubbadul qubur yang melakukan kesyirikan dengan alasan bahwa mereka itu orang-orang yang jahil.

ada beberapa hal yang menjadi bantahan atas syubhat yang mereka bawa, yaitu:

pertama, di dalam hadits yang sedang kita bahas ini yaitu kisah orang yang berwasiat itu, di dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad dari hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كان رجل ممن كان قبلكم لم يعمل خيرا قط ؛ إلا التوحيد ، فلما احتضر قال لأهله : انظروا : إذا أنا مت أن يحرقوه حتى يدعوه حمما ، ثم اطحنوه ، ثم اذروه في يوم ريح ، [ ثم اذروا نصفه في البر ، ونصفه في البحر ، فوالله ؛ لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين ]، فلما مات فعلوا ذلك به ، [ فأمر الله البر فجمع ما فيه ، وأمر البحر فجمع ما فيه ] ، فإذا هو [ قائم ] في قبضة الله ، فقال الله عز وجل : يا ابن آدم ! ما حملك على ما فعلت ؟ قال : أي رب ! من مخافتك ( وفي طريق آخر: من خشيتك وأنت أعلم ) ، قال : فغفر له بها ، ولم يعمل خيرا قط إلا التوحيده .

(المسند: 8040)

“Dahulu ada seorang pria dari kalangan umat sebelum kalian yang tidak melakukan sedikitpun amal kebaikkan kecuali tauhid, kemudian tatkala kematian menjemputnya ia berkata kepada keluarganya: Perhatikanlah, bila aku telah mati hendaklah mereka membakarnya sehingga membiarkannya menjadi arang, kemudian tumbuklah dan tebarkanlah di hari musim angin kencang (kemudian taburlah separuhnya di darat dan separuhnya di lautan, demi Allah seandainya Dia kuasa terhadapnya tentu Dia pasti mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorang-pun), kemudian tatkala ia mati maka mereka melakukan hal itu, (maka Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya), maka ia-pun tiba-tiba (berdiri) dalam genggaman Allah, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Hai anak Adam, apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah kamu lakukan?

Maka ia menjawab: Ya Rabbi! Rasa takut kepada Engkau (dan dalam jalur riwayat lain: karena rasa khawatir dari-Mu, sedangkan Engkau lebih mengetahui), maka beliau berkata: Maka Dia mengampuni baginya dengan sebab hal itu, padahal ia itu tidak melakukan sedikitpun kebaikan kecuali tauhid.”

itu di dalam teks Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

dalam hadits ibnu Mas’ud: “Bahwa seorang pria yang tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid “.

teks hadits ini menjelaskan dengan sangat nyata bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak berbuat syirik, dengan teks hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu berarti orang tersebut adalah seorang muwahhid karena orang yang bertauhid itu bukan pelaku syirik akbar karena kita sudah paham bahwa tauhid dan syirik itu adalah:

نقيضان لا يجتعان ولا يرتفعان

“Dua hal yang berlawanan yang tidak mungkin bersatu dan tidak mungkin kedua-duanya lenyap (pada satu orang dalam satu waktu)”.

Jadi dengan teks hadits ini gugurlah istidlal ahlul dlalal (orang-orang sesat), karena di dalam teks hadits itu sendiri disebutkan bahwa orang tersebut adalah seorang muwahhid, yaitu orang yang komitmen dengan tauhid. Maka Al Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr dalam Kitab At-Tauhid juz 18 hal. 37 mengatakan:

وفي رواية ابي رافع عن أبي هريرة رضي الله عنه في هذا الحديث أنه قال: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد…

“Diriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ dari Abu Hurairah dalam hadits ini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: Ada seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan sedikitpun kecuali tauhid.”

Kita telah paham bahwa tauhid itu adalah kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, juga baraa dari syirik dan dari para pelakunya. Imam Ibnu Abdil Barr melanjutkan teks ucapan ini, yaitu Rasulullah: Bila teks hadits ini shahih tentu sudah melenyapkan isykal perihal keimanan pria ini, berarti orang ini mu’min muwahhid. Dan seandainya teks ini tidak shahih dari sisi sanad dan dari sisi naql, akan tetapi shahih dari sisi makna, dan kaidah pun semuanya mendukungnya dan peninjauan pun mengharuskan untuk makna seperti itu, karena mustahil lagi tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni orang-orang yang mati sedangkan mereka itu kafir, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengabarkan bahwa Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menyekutukan-Nya bila dia mati dalam keadaan kafir dan ini adalah hal yang tidak bisa dibantah, dan hal ini adalah hal yang tidak ada perselisihan di antara ahli kiblat” juga Al-Allamah Muhammad bin Abdissalam Al-Mubarakfuri mengatakan :

وقد روي الحديث بلفظ: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد، وهذه اللفظة ترفع الاشكال في ايمانه والاصول تعضدها، قال تعالى، ((ان الله لا يغفر أن يشرك به )) النساء: 48. قلت: الخشية من لوازم الايمان، ولما كان فعله هذا من أجل خشية الله تعالى وخوفه، فلا بد من القول بإيمانه، وعلى هذا فالحديث ظاهر بل هو كالصريح في استثناء التوحيد كما تقدم فلا إشكال فيه.

(مرعاة المفاتيح 8/180)

“Perawi telah meriwayatkan hadits dengan teks: Berkata seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan kecuali tauhid,” Teks ini melenyapkan isykal tentang keimanan pria tersebut dan kaidah ushul-pun mendukungnya di mana Allah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya” terus beliau mengatakan: “Tatkala perbuatan dia ini dilakukannya karena rasa takut kepada Allah maka mesti dikatakan bahwa orang ini adalah orang mu’min, sehingga atas dasar ini maka hadits itu sangat nampak jelas bahkan seperti penegasan dalam pengecualiaan tauhid sebagaimana yang telah lalu, sehingga tidak ada isykal di dalamnya.”

Berarti tidak boleh hadits ini dibawa kepada makna pengudzuran pelaku syirik akbar karena kebodohan, karena itu bertentangan dengan teks hadist sendiri, di mana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkabarkan bahwa orang tersebut tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid, orang itu adalah orang yang bertauhid, berarti ini yang harus dipegang, makna ini bahwa orang tersebut adalah muwahhid atau yang bertauhid. Juga di akhir hadits ” apa yang mendorong kamu untuk melakukan hal tersebut? “Orang itu mengatakan: “rasa rakut kepada Engkau yaa Rabb ” sedangkan yang namanya Khasy-yah (rasa takut) itu hanya pada orang yang mengetahui Allah, di mana Allah mengatakan:

[إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:28

“Yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Ulama (orang yang alim) itu adalah orang yang alim (mengetahui) Allah (yaitu orang muwahhid). Sedangkan orang musyrik itu dengan nash Al-Qur’an adalah orang yang jahil (bodoh).

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah: Maka apakah kepada selain Allah kalian memerintahkan aku untuk beribdah wahai orang-orang bodoh.” (Az Zumar: 64).

Di dalam Ayat ini Allah subhanahu wa Ta’la menyebut orang-orang musyrik itu sebagai orang jahil atau bodoh, setiap orang musyrik itu jahil (bodoh) tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik, ini kaidah setiap orang musyrik itu bodoh walaupun ilmunya banyak namun dia itu bodoh, karena tidak mengenal Allah yang sebenarnya, tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik karena ada orang muslim yang bodoh, di mana dia bertauhid tapi rincian-rincian dalam masalah furu’ dia tidak paham. Yang takut kepada Allah hanyalah orang yang alim sedangkan orang musyrik itu orang yang bodoh dan tidak mempunyai khasy-yah, terus juga dalam syarat laa ilaaha illallah terdapat syarat yang pertama adalah ilmu (mengetahui), dan orang yang tidak berilmu itu tidak mungkin memiliki khasy-yah, bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal tauhid dia punya khasy-yah kepada Allah. Kemudian juga apa makna hadits tersebut setelah kita keluarkan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan masalah syirik akbar. Terus harus dipahami juga bahwa orang tersebut dia tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, dia menyakini bahwa Allah Maha Kuasa, dia menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana di dalam teks hadits tersebut sendiri terdapat pengakuan terhadap qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah tapi karena jahil maka dia diudzur. Maka kita katakan bahwa itu istinbath yang bathil, orang tersebut tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, itu dengan nash hadits tersebut, kalau seandainya orang tersebut mengingkari qudrah Allah secara mutlak dalam arti dia menyakini Allah itu tidak mampu apa-apa berarti kalau mengingkari qudrah Allah itu menyakini bahwa Allah tidak mampu apa-apa.

Justru di dalam hadits tersebut ada dilalah isyarat yang menunjukkan bahwa orang tersebut menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa buktinya? Buktinya adalah bahwa orang tersebut memerintahkan kepada anak-anaknya untuk membakar jasadnya kemudian abunya ditebar di mana-mana karena khasy-yah (takut), seandainya orang itu mengingkari qudrah Allah tentu dia tidak akan menyuruh anak-anaknya untuk membakar jasadnya dan menaburkan abunya di mana-mana tapi dia akan membiarkan jasadnya dikubur, karena kalau dia menyakini bahwa Allah tidak kuasa tentu dalam keyakinannya bahwa Allah-pun tidak akan mampu menghidupkan jasadnya yang sudah terkubur di dalam tanah, tapi tatkala orang itu menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengembalikan jasadnya utuh setelah dikubur dan hancur di dalam tanah, orang itu menyakini bahwa Allah kuasa untuk mengumpulkan jasad yang telah menjadi tanah.

Jadi orang ini menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’la akan tetapi yang tidak dia ketahui adalah qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang sudah dibakar menjadi debu dan ditabur di daratan dan di lautan. Nah sedangkan hal semacam ini yaitu rincian daripada qudrah adalah termasuk hal-hal yang pelik dan samar.

Kedua, orang tersebut adalah hidup di zaman fatrah sehingga tidak mengetahui dalil atau hujjah yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengumpulkan jasad yang sudah menjadi abu yang ditebar di daratan maupun di lautan. Makanya Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan dalam Kitab Asy Syifa Bii Ta’rif Huquq Al-Musthafa juz . 2 hal. 293:

(وقيل كان هذا في زمن الفترة وحيث ينفع مجرد التوحيد . ( الشفاء بتعرف حقوق المصطفي

“Sebagian mengatakan bahwa ini terjadi pada masa fatrah, pada saat ketika sekedar tauhid dapat bermanfaat.”

Al Imam An Nawawiy berkata:

.وقالت طائفة : كان هذا الرجل في زمن فترة حين ينفع مجرد التوحيد

“Sebagian kelompok ulama mengatakan: Orang ini hidup pada zaman fatrah di saat sekedar tauhid itu bermanfaat “. ( Syarah An Nawawi Terhadap Shahih Muslim (9/124).

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan

.أنه كان مثبتا للصانع وكان في زمن الفترة فلم تبلغ شرائط الإيمان

“Orang tersebut menetapkan adanya Pencipta, dan dia itu hidup pada zaman fatrah, di mana syari’at-syari’at keimanan belum sampai kepadanya…(Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, 6/523)

Dia itu muwahhid dan menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan jasad yang di kubur yang sudah hancur menjadi tanah, tapi hal yang tidak dia ketahui adalah hal yang menurut akal adalah mustahil, yaitu ketika jasad sudah dihancurkan dibakar menjadi abu dan ditabur di daratan dan di lautan terpisah-pisah ke mana-mana beribu-ribu mil berpencar bahwa jasadnya itu bisa kembali seperti semula, ia anggap itu mustahil dan itu dugaan dia, namun karena dia hidup di zaman fatrah maka dia diudzur karena dia orang yang memiliki tauhid. Itu makna hadits yang tepat, bukan mengingkari qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak, tapi dia tidak mengetahui qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang telah hancur lebur ditabur di mana-mana. Karena itu Imam Ibnu Hazm mengatakan:

( فهذا إنسان جهل إلى أن مات أن الله عز و جلّ يقدر على جمع رماده و إحيائه ، و قد غفر الله له لإقراره ، و خوفه ، و جهله )

[ الفصل في الملل والأهواء والنحل : 3 / 141 ] .

“Ini adalah orang yang tidak mengetahui sampai dia mati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla kuasa untuk mengumpulkan debunya dan menghidupkannya kembali, dan Allah mengampuni karena dia mengakui keesaan Allah, dan karena rasa takutnya (kepada-Nya), serta karena kebodohannya”.

Jadi dia itu tidak mengetahui bahwa Allah berkuasa untuk mengumpulkan debu-debunya yang sudah ditabur dimana-mana.

Ada juga yang mengatakan bahwa orang tersebut mengucapkan ucapan itu di dalam wasiatnya tersebut dalam kondisi dah-syat (kondisi yang mencekam) dalam kondisi yang sangat menakutkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’la sehingga muncul dari lisannya sesuatu yang dia tidak memaksudkannya. Ada ulama yang mengatakan takwil hadits itu seperti itu sedangkan kita sudah paham bahwa orang ketika mengucapkan sesuatu ucapan dengan intifaul qashdi (tidak ada maksud) karena saking bahagianya atau saking rasa takutnya kemudian muncul dari lisannya ucapan kekafiran karena salah ucap maka itu tidak dikafirkan, karena intifa al qashdi itu termasuk mawani’ takfir .

Karena itu Imam An-Nawawi mengatakan :

وقالت طائفة : اللفظ على ظاهره ، ولكن قاله هذا الرجل وهو غير ضابط لكلامه ، ولا قاصد لحقيقة معناه ، ومعتقد لها ، بل قاله في حالة غلب عليه فيها الدهش والخوف وشدة الجزع ، بحيث ذهب تيقظه وتدبر ما يقوله ، فصار في معنى الغافل والناسي ، وهذه الحالة لا يؤاخذ فيها ، وهو نحو قول القائل الآخر الذي غلب عليه الفرح حين وجد راحلته : أنت عبدي وأنا ربك ، فلم يكفر بذلك الدهش والغلبة والسهو

“Sekelompok ulama mengatakan: “Teks hadits itu sesuai dengan dhahirnya akan tetapi orang itu mengucapkannya dalam kondisi dia tidak bisa mengendalikan ucapannya dan tidak memaksudkan kepada hakekat maknanya dan tidak menyakininya, namun dia mengatakan dalam kondisi dikuasai oleh ketercengangan, ketakutan dan kekhawatiran yang sangat, sehingga lenyaplah kesadarannya dalam pengawasan terhadap apa yang diucapkannya. Sehingga keadaannya sama seperti orang yang lalai lagi lupa. Sedangkan kondisi orang semacam ini tidak dikenakan sangsi di dalamnya. Ini semakna dengan ucapan orang yang saking bahagianya saat mendapatkan unta tunggangannya, dia mengatakan: “Ya, Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu “, dia tidak kafir dengan sebab ketercengangannya, ketakutan dan kelalaian”.

Jadi, jelas orang yang menggunakan hadits ini untuk mengudzur para pelaku syirik akbar karena kebodohan adalah telah menampatkan hadits ini bukan pada tempat yang semestinya, di mana orang tersebut terbukti muwahhid tidak berbuat syirik melalui zhohir hadits dan muwahhid tersebut hidup di zaman fatrah.
Andre Tauladan

Minggu, 29 November 2015

When Umar R.A made Takfeer..

 
In the time of Muhammad (saw) Umar ibn Khattab had made takfeer on the one who disagreed with the judgment of Muhammad (saw), not only was his takfeer consented to by the Messenger (saw) but confirmed by Allah, Allah (swt) said,

“By your lord, they are not believers until they refer to you in all their disputes and find no hardship therein, and they must submit fully.” [4: 65]

This ayah was revealed concerning two men, Utbah ibn Dumrah narrated
“My father told me, ‘two men came to Muhammad (saw) for arbitration, he judged to one of them who had Haq, over the one who had no Haq, the man said “I disagree”, the other man said, “what do you want?” he said, “let us go to Abu Bakr” they went to Abu Bakr and told him that they arbitrated to Muhammad and that they disagreed, Abu Bakr said, “both of you are on the judgment that Muhammad (saw) gave you.” The man said, “I disagree” the other man said, “What do you want?” he said, “let us go to Umar ibn Khattab.” They went to Umar, they told Umar about their arbitration to Muhammad and Abu Bakr and that they disagreed and came to him for arbitration, Umar said, “Wait here, I will come back to give you my judgment,” he went out and returned with his sword, he killed the one who wanted to judge, and the other one ran and Umar chased him. The men went to Muhammad (saw), and said, “Umar killed my friend, and if I did not make it hard for him, he would have killed me, I was running away until he had nearly killed me,” Muhammad (saw) said, “I never thought that Umar could be brave to kill a Mu’min.” (He was very upset) Allah (swt) revealed the ayah, “By your lord, they are not believers until they refer to you in all their disputes and find no hardship therein, and they must submit fully.” [4: 65]

Muhammad (saw) said to Umar, “Allah purified you from your killing” and he (saw) hugged him.’”

Abu Waleed UK.
Andre Tauladan

[VIDEO] TURKI, DAN API NASIONALISME


AL-HAYAT MEDIA CENTER
Mempersembahkan:
تركيا و نار القومية
TURKI, DAN API NASIONALISME
(SUBTITLE BAHASA INDONESIA)
========================
Alih Bahasa: Usdul Wagha






DOWLOAD LINK:
Andre Tauladan

Jumat, 20 November 2015

SIAPAKAH THAGHUT?

Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah dan menjauhi thaghut, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadatilah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu." (QS. An Nahl [16]: 36)

Thaghut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati atau diibadati. Thaghut itu banyak, apalagi pada masa sekarang. Adapun pentolan-pentolan thaghut itu ada 5 (lima), yaitu sebagai berikut:

1. Syaitan

Syaitan selalu mengajak ibadah kepada selain Allah. Syaitan ada dua macam: Syaitan Jin dan Syaitan Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (QS. Al An’am [6]: 112)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An Naas [114]: 5-6)

Orang yang mengajak untuk mempertahankan tradisi tumbal dan sesajen, dia adalah syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Tokoh yang mengajak minta-minta kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu pentolan thaghut. Orang yang mengajak pada sistem demokrasi adalah syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah, dia berarti termasuk thaghut. Orang yang mengajak menegakkan hukum perundang-undangan buatan manusia, maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah. Orang yang mengajak kepada paham-paham syirik (seperti: sosialis, kapitalis, liberalis, dan falsafah syirik lainnya), maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam: "Janganlah kamu mengibadati syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu,” (QS. Yaasin [36]: 60)

2. Penguasa yang zalim

Penguasa yang zalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen (DPR), lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha." (Majmu Al Fatawa)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya para anggota parlemen itu adalah thaghut, tidak peduli dari mana saja asal kelompok atau partainya. Presiden dan para pembantunya, seperti menteri-menteri di negara yang bersistem syirik adalah thaghut, sedangkan para aparat keamanannya adalah sadanah (juru kunci) thaghut apapun status kepercayaan yang mereka klaim.

Orang-orang yang berjanji setia pada sistem syirik dan hukum thaghut adalah budak-budak (penyembah/hamba) thaghut. Orang yang mengadukan perkaranya kepada pengadilan thaghut disebut orang yang berhukum kepada thaghut, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. (QS. An Nisaa' [4]: 60)

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan

Kepala suku dan kepala adat yang memutuskan perkara dengan hukum adat adalah kafir dan termasuk thaghut. Jaksa dan Hakim yang memvonis bukan dengan hukum Allah, tetapi berdasarkan hukum/undang-undang buatan manusia (hukum Jahiliyah), maka sesungguhnya dia itu thaghut. Aparat dan pejabat yang memutuskan perkara berdasarkan Undang Undang Dasar thaghut adalah thagut juga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. (QS. An Nisaa' [4]: 60)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah [5]: 44)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al Maidah [5]: 45)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah [5]: 47)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Siapa yang meninggalkan aturan baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia justru merujuk pada aturan-aturan (hukum) yang sudah di-nasakh (dihapus), maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum Ilyasa (Yasiq) dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin." (Al Bidayah: 13/119).

Sedangkan Ilyasa (Yasiq) adalah hukum buatan Jengis Khan yang berisi campuran hukum dari Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Orang yang lebih mendahulukan hukum buatan manusia dan adat daripada aturan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia itu kafir. Dalam ajaran Tauhid, seseorang lebih baik hilang jiwa dan hartanya daripada dia mengajukan perkaranya kepada hukum thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Fitnah (syirik & kekafiran) itu lebih dahsyat dari pembunuhan. (QS. Al Baqarah [2]: 191)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata: "Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah." (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut)

Bila kita mengaitkan ini dengan realita kehidupan, ternyata umumnya manusia menjadi hamba thaghut dan berlomba-lomba meraih perbudakan ini. Mereka rela mengeluarkan biaya berapa saja (berkolusi; menyogok/risywah) untuk menjadi Abdi Negara dalam sistem thaghut, mereka mukmin kepada thaghut dan kafir terhadap Allah. Sungguh buruklah status mereka ini…!!

4. Orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah

Semua yang ghaib hanya ada di Tangan Allah, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dialah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib, tetapi Dia tidak menampakkan yang ghaib itu kepada seorangpun. (QS. Al Jin [72]: 26)

Bila ada orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah thaghut, seperti dukun, paranormal, tukang ramal, tukang tenung, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia mempercayainya, maka dia telah kafir, maka apa gerangan dengan status si dukunnya itu sendiri…?! Tentu lebih kafir lagi…

Dan memohon kepada selain Allah seperti dukun, paranormal, tukang ramal, orang pintar, orang suci, orang yang sudah mati, tukang tenung, pawang hujan, tempat keramat, tempat angker, kuburan, pohon, benda-benda mati, jin, dewa/dewi, makhluk halus, dan semacamnya adalah termasuk perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Yunus: 106)

5. Orang yang diibadati selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu

Orang yang senang bila dikultuskan, sungguh dia adalah thaghut. Orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah thaghut.

Orang yang mengatakan: “Saya adalah anggota badan legislatif” adalah sama dengan ucapan: “Saya adalah Tuhan”, karena orang-orang di badan legislatif itu sudah merampas hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu hak membuat hukum (undang-undang). Mereka senang bila hukum yang mereka gulirkan itu ditaati lagi dilaksanakan, maka mereka adalah thaghut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah ilah selain Allah.” Maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al Anbiya [21]: 29)

Itulah tokoh-tokoh thaghut di dunia ini…

Termasuk juga thaghut adalah patung, pohon, keris, batu, tempat keramat, dewa/dewi, kuburan, dan berhala-berhala lainnya yang disembah/diibadati selain Allah.

Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur kepada thaghut. Kufur kepada thaghut adalah separuh Laa ilaaha illallaah dan merupakan syarat sahnya iman. Thaghut yang paling berbahaya pada masa sekarang adalah thaghut hukum, yaitu para penguasa yang membabat aturan Allah, mereka menindas umat ini dengan besi dan api, mereka paksakan kehendaknya, mereka membunuh, menculik, dan memenjarakan kaum muwahhidin yang menolak tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi anehnya banyak orang yang mengaku beragama Islam berlomba-lomba untuk menjadi budak dan hamba mereka. Mereka juga memiliki ulama-ulama jahat yang siap mengabdikan lisan dan pena demi kepentingan ‘tuhan’ mereka.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala cepat membersihkan negeri kaum muslimin dari para thaghut dan kaki tangannya, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.[*]

[*](Tulisan ini merupakan syarah/penjelasan singkat dari Risalah fie Ma’na Thaghut karya Al-Imam Al-Mujaddid Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah, ed.)

Andre Tauladan

UUD 1945 VS AL-QURAN TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA

Terdapat kontradiksi yang sangat jelas antara UUD 1945 dengan Al-Quran terutama yang menyangkut tentang kebebasan beragama, perhatikan bunyi ayat-ayatnya:

- UUD 1945 Pasal 28 E mengatur:

(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Selanjutnya Pasal 29 mengatur:

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Kedua ayat di atas didukung dengan Ekaprasetia Pancakarsa (Butir-Butir Pengamalan Pancasila) sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang mengatakan:

(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

- Al-Quran surat At-Taubah* mengatur:

(29) Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

(73) Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

(123) Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

- Pilih yang mana?

Apakah hukum jahiliyah (buatan manusia) yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS. Al-Maidah: 50)

- Jika anda percaya bahwa aturan jahiliyah (UUD 1945) lebih baik daripada aturan Allah (Al-Quran), maka yakinlah bahwa anda telah kafir kepada Allah dan beriman kepada thaghut:

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 60)


Catatan:

* QS. At-Taubah: 1-129 yang berisi perintah memerangi orang-orang musyrik dan ahli kitab serta orang-orang kafir pada umumnya, turun di Madinah pada tahun 9 dan 10 Hijriyah (menjelang wafatnya Nabi Muhammad Saw). Bandingkan dengan ayat-ayat "damai" yang selalu dijadikan dalil oleh kebanyakan ulama su' untuk bertoleransi dan hidup rukun bersama orang-orang musyrik dan ahli kitab serta orang-orang kafir pada umumnya, justru turun sebelum QS. At-Taubah diturunkan, yaitu: (1) QS. Al-Kafirun: 1-6 turun di Mekah yang berarti turun sebelum Hijriyah; (2) QS. Al-Kahfi: 29 turun di Mekah/sebelum Hijriyah; (3) QS. Yunus: 99 juga turun di Mekah/sebelum Hijriyah; (4) QS. Al-Baqarah: 256 turun di Madinah pada tahun 3 Hijriyah; dan (5) QS. Al-Mumtahanah: 8 turun di Madinah pada tahun 6 Hijriyah. Sehingga jelaslah bahwa makna ayat "Tidak ada paksaan dalam (memasuki) dien (Islam)" (QS. Al-Baqarah: 256) adalah tidak ada paksaan dalam memeluk dien Islam bagi orang kafir yang dikenai jizyah dan telah membayarnya dan mereka ridha terhadap hukum Islam (Tafsir Ath-Thabari).
Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates