Tampilkan posting dengan label Ceramah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Ceramah. Tampilkan semua posting

Selasa, 19 Januari 2016

Hukum Berdiam di Masjid Bagi Wanita Haidh


Hukum Berdiam di Masjid Bagi Wanita Haidh

Oleh: Abu Mujahidah Al-Ghifari, M.E.I

Wanita dalam Islam sangat dimuliakan. Surat an-Nisa yang berarti wanita dalam al-Qur’an salah satu bukti bahwa Islam memberikan perhatian khusus untuk wanita. Secara umum hukum-hukum di dalam Islam untuk orang-orang beriman, baik laki-laki maupun wanita. Jika terdapat hukum khusus untuk laki-laki atau wanita maka Islam telah memberikan penjelasannya. Salah satu kekhususan wanita dan memiliki hukum khusus adalah haidh.

Diantara hukum terkait dengan haidh adalah hukum berdiam di dalam masjid ketika sedang haidh. Mayoritas ulama mengqiyaskan apa-apa yang dilarang bagi seorang yang junub maka dilarang pula bagi yang sedang haidh.

Alloh Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nisa ayat 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian sholat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. al-Nisa: 43)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang junub diharamkan berdiam di dalam masjid hingga dia mandi dari junubnya kecuali jika sekedar melewatinya. An-Nawawi rohimahulloh berkata dalam kitab minhaj at-Tholibin, “Diharamkan bagi haidh apa-apa yang diharamkan bagi junub.” Ibn Qudamah rohimahulloh berkata dalam kitab al-Mughni, “Dilarang berdiam di dalam masjid dan thawaf di ka’bah karena haidh satu makna dengan junub.” Jadi, ulama yang berpendapat melarang wanita haidh berdiam di dalam masjid karena meng-qiyaskan haidh dengan junub.

Dalil lain yang digunakan oleh ulama yang melarang wanita haidh berdiam di dalam masjid adalah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab sunannya:

Dari Aisyah rodhiallahu anha, beliau berkata bahwa Rosulalloh shollallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya saya tidak halalkan masjid bagi wanita haidh dan orang junub.” (HR. Abu Dawud No.232)

Hadits di atas didho’ifkan oleh al-Bani rohimahulloh dalam kitab Dho’if Sunan Abu Dawud dan dalam Irwa al-Gholil No.193. Sebab dho’ifnya hadits ini adalah karena di dalam sanadnya terdapat Jasrah ibn Dijajah yang didho’ifkan oleh al-Bukhori dan al-Bahaqi memberikan isyarat akan kedho’ifannya. Al-Baihaqi rohimahulloh berkata, “Dan hadits ini jika shahih maka diterapkan pada junub yang berdiam di dalam masjid bukan lewat dengan landasan dalil al-Qur’an.” (Irwa al-Gholil al-Bani, hlm.210)

Al-Kasani rohimahulloh seorang ulama mazhab Hanafi menjelaskan hukum yang dilarang bagi wanita haidh dan nifas, beliau berkata, “Adapun hukum haidh dan nifas yaitu tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf kecuali dengan sampul, masuk masjid dan thawaf di ka’bah.” (Bada’i al-Shana’i 1/163)

Ibn Rusd rohimahulloh seorang ulama mazhab Maliki dalam kitab Bidayah al-Mujtahid yang membahas fikih lintas mazhab, beliau menjelaskan bahwa perselisihan pendapat ulama terkait hukum berdiam di masjid bagi wanita haidh sama dengan orang yang junub: Ada yang mengharamkan secara mutlak yaitu mazhab Malik. Ada juga yang melarang kecuali hanya lewat saja yaitu mazhab al-Syafi’i. Dan ada juga yang membolehkan semuanya baik diam maupun lewat yaitu mazhab Dawud. (Lihat, Bidayah al-Mujtahid, hlm.57-58)

Dalam kitab fikih Asy-Syafi’i disebutkan bahwa apa-apa yang diharamkan bagi orang junub diharamkan pula bagi wanita haidh. Maka, hukum berdiam di dalam masjid tidak dibolehkan bagi wanita haidh. Hanya saja ulama mazhab Syafi’i berbeda pendapat bagi wanita haidh yang aman dari mengotori masjid seperti menggunakan pembalut dibolehkan atau tidak melewati masjid. Yang tepat adalah dibolehkannya melewati masjid jika aman sebagaimana junub boleh jika sekedar lewat. Dan jika tidak aman yaitu akan mengotori masjid maka diharamkan. (Lihat al-Siraj al-Wahaj Hlm.34 dan Kifayah al-Akhyar 1/114)

Muhammad ibn al-Khotib al-Syarbini rohimahulloh menjelaskan alasan diharamkannya wanita haidh melewati masjid jika dikhawatirkan mengotori masjid, beliau berkata:

Sebagai bentuk penjagaan masjid dari najis. Dan jika aman maka boleh baginya melewati masjid sebagaimana orang junub, akan tetapi hukumnya makruh sebagaimana dalam kitab al-Majmu. (Mughni al-Muhtaj 1/153-154)

Beliau juga menjelaskan hukum tersebut sama pada setiap yang dikhawatirkan najisnya seperti bagi orang yang sedang tertimpa penyakit beser, istihadhoh dan orang yang sandalnya terkena najis basah.

Al-Ghozali rohimahulloh berpendapat bahwa berdiam di dalam masjid hukumnya haram, sedangkan jika sekedar melewati maka dibolehkan jika aman dari mengotori masjid. (al-Wajiz fi Fiqhi Mazhab al-Imam al-Syafii, Hlm.23)

Muhammad Az-Zuhri al-Ghomrowi rohimahulloh berkata, “Diharamkan melewati masjid jika dikhawatirkan mengotorinya. Yaitu darah haidh yang mengenainya. Jika tidak dikhawatirkan maka dibolehkan baginya melewati masjid sebagaimana junub.” (Umdah al-Salik Hlm.45)

Dari penuturan ulama mazhab Asy-Syafi’i, dapat disimpulkan bahwa berdiam di dalam masjid di haramkan. Sedangkan jika sekedar melewatinya dibolehkan jika aman dari kemungkinan terjatuhnya darah haidh, dan jika tidak aman maka diharamkan.

Dalam kitab fikih Hambali al-Uddah syarh al-Umdah disebutkan bahwa ada sepuluh yang tidak diperbolehkan bagi wanita haidh, salah satunya adalah berdiam di dalam masjid. Ibn Qudamah rohimahulloh menerangkan dalam kitab al-Mughni bahwa orang junub, haidh dan orang yang selalu berhadats tidak diperkenankan berdiam di dalam masjid. Akan tetapi diperbolehkan melewati masjid untuk suatu keperluan seperti hendak mengambil sesuatu atau memang jalan yang harus dilewati adalah masjid.

Muhammad ibn Sholih al-Utsaimin rohimahulloh berkata:

Seorang wanita yang haidh tidak boleh berdiam di dalam masjid. Adapun sekedar melewati masjid maka tidak mengapa dengan syarat aman dari mengotori masjid disebabkan darah yang keluar.” (Majmu Fatawa wa Rosa’il 1/273)

Dari pemaparan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa jumhur ulama ahli fikih mengharamkan berdiam di dalam masjid bagi wanita haidh sebagaimana diharamkan bagi seorang yang junub kecuali jika hanya sekedar lewat. Diantara ulama salaf yang membolehkan melewati masjid untuk suatu kebutuhan adalah ibn Mas’ud, ibn Abbas, ibn al-Musayyab, ibn Jubair, al-Hasan, Malik dan al-Syafii rahimahumullah.

Sebagian ulama yang lain seperti Abu Muhammad ibn Hazm rohimahulloh dan Dawud rohimahulloh membolehkan bagi wanita haidh berdiam di dalam masjid. Musthofa al-Adawi seorang ulama kotemporer memperkuat pendapat ini dengan alasan tidak adanya dalil shahih yang melarang wanita haidh masuk masjid dan tidak diterimanya qiyas haidh dengan junub karena orang yang junub bisa bersuci kapan saja yang dia kehendaki, sedangkan wanita haidh tidak bisa. (Jami Ahkam al-Nisa, hlm.45-51)

Dengan demikian, maka masalah ini memang masalah yang diperselisihkan oleh ulama, dan jumhur ulama mengharamkan wanita haidh berdiam di dalam masjid. Adapun, yang lebih selamat adalah tidak duduk-duduk di dalam masjid bagi wanita haidh sebagai bentuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan pendapat. Jika memang ada kebutuhan seperti menghadiri kajian maka sepertinya cukup di luar masjid seperti di teras karena sekarang sudah terdapat sound system yang bisa mengantarkan suara terdengar dari luar masjid.

Allohu Ta’ala A’lam

Andre Tauladan | Fajrifm

Minggu, 06 Desember 2015

REALITA DI INDONESIA : MUWAHIDIN DIMUSUHI, MUSYRIKIN DAN MUNAFIQIN DISAYANGI

Oleh : Abu Usamah. JR.

Kini kita tengah hidup pada akhir zaman yang penuh dengan fitnah. Bahkan fitnah yang meliputi kita hari ini bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita dan saling bertindihan. Akibatnya tidak sedikit orang yang melihat tiba-tiba menjadi buta dan orang yang berilmu spontan seperti orang dungu akibat fitnah ini. Inilah hari-hari dimana para pendusta dipercaya, penjahat dianggap sebagai pahlawan, si pandir dijadikan ulama bahkan iblis dipuja bak tuhan. Hampir-hampir tidak ada hamba yang selamat kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyalllahu’anhuma]

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.” [HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3650]

Mereka yang mengklaim sebagai seorang muslim tidak sedikit yang justru perilakunya lebih mendekati kepada yahudi dan nasrani daripada perilaku yang diajarkan oleh Nabinya. Kamus untuk menentukan kebaikan dan keburukan bukan lagi Al-Qur’an tapi siapa yang berkuasa. Maka kemudian gelar pahlawan dan penjahat ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Jika yang tertipu adalah orang awam tentu kita tidak risau tapi kenyataannya tidak sedikit mereka yang dianggap sebagai orang berilmu dan pejuang juga turut terseret arus ini.

Fenomena diatas semakin nampak seiring deklarasi Khilafah dan perkembangannya yang makin kuat dan meluas biidznillah. Sifat hasud dari sebagian individu dan kelompok terhadap Daulah Islam telah menyeret mereka pada perilaku layaknya kafirin dan munafiqin. Dimana mereka telah menampakkan loyalitas kepada kafirin dan menampakkan permusuhan kepada para muwahidin. Bahkan mereka tidak kalah aktif dengan para kafirin dan munafiqin dalam menyerang Daulah Islam.

Keadaan mereka sangat mirip dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, “Sesungguhnya orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir (muayyan) itu,bila kamu amati mereka ternyata kaum muwahidin adalah musuh mereka, dimana mereka membenci dan merasa dongkol dengan mereka, sedangkan kaum musyrikin dan kaum munafiqin itu justru adalah kawan dekat mereka yang mereka sangat akrab dengan mereka itu….”. (Ad Durar As Saniyyah 10/91)

Syaikh Muhammad mengatakan kalimat diatas lebih dari seratus tahun yang lalu, namun ternyata apa yang digambarkan oleh beliau adalah fenomena yang terus terjadi pada setiap zaman dan tempat. Lihatlah hari ini keadaan para pendengki Daulah Islam yang diantara Aqidah mereka adalah tidak mau mengkafirkan pendukung demokrasi, tidak mengkafirkan pendukung ideologi kufur dan menganggap muslim para thoghut dan ansor-anshornya yang ber-KTP Islam. Para pendengki sangat gencar melemparkan syubhat dan hujatan kepada Daulah Islam, jika diingatkan keadaannya seperti, ”Jika dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!,mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.“ (QS Al-Baqarah :11) Ya, para pendengki menganggap bahwa fitnah, hujatan dan sematan buruk mereka terhadap Daulah Islam adalah kebaikan dan kewajiban yang memiliki keutamaan. Sebab menurut klaim hawa nafsu mereka itu adalah upaya menyelamatkan umat dari paham khawarij. Namun hal yang sama tidak mereka lakukan terhadap ajaran kafir demokrasi. Mereka tidak gencar mengingatkan umat dari tipu daya dan bahaya riddah dari ajaran demokrasi. Para mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam tidak selamat dari lisan mereka sementara itu kaum musyrikin dianggap tidak berbahaya dengan ideologi kemusyrikannya yang didakwahkan di tengah umat Muhammad.

Keadaan mereka seperti yang Allah sebutkan tentang yahudi, ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari alkitab?, mereka percaya kepada jibt dan thoghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih baik jalannya dari orang-orang yang beriman.“ (QS An-Nisa : 51)

Lihatlah! bukankah mereka percaya apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dan para thoghut bahwa Daulah Islam bukan Islam, membunuh kaum muslimin, sadis, antek Amerika, antek Yahudi dan sederet tuduhan-tuduhan lainnnya? Bahkan secara tidak langsung mereka meyakini bahwa para thoghut agamanya lebih baik daripada mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam. Lihatlah media sampah mereka yang menyatakan turut berbahagia dengan kemenangan Erdogan thoghut Turki sebagai Presiden melalui cara demokrasi. Dan bandingkan dengan hujatan mereka terhadap Ustadz Aman Abdurrahman fakallahu asrah dengan menyebutnya sebagai thoghut dan arbab. Duhai bencana macam apa yang menimpa orang-orang sakit ini? thoghut dianggap pemimpin kaum muslimin sementara Da'i jujur yang menyeru Tauhid disebut sebagai thoghut dan arbab, apakah otak kalian telah berpindah ke lutut-lutut kalian?

Kelahiran Daulah Islam yang mewujudkan berlakunya hukum syariat Islam menjadi duri dan kedukaan bagi mereka, sementara itu kemenangan thoghut yang mempertahankan hukum kafir menjadi hari bahagia dan kemenangan mereka. Wahai kalian yang berakal, dari mana kalian mengambil agama dan petunjuk?

Para pendengki menampakkan permusuhan yang sangat terhadap Daulah Islam, sebaliknya kurang peduli dengan kejahatan orang-orang kafir. Mereka lebih gencar menyebarkan berita yang menfitnah Daulah Islam yang mereka sebut sebagai kekejaman daripada memberitakan kesadisan tentara salibis yang membantai warga Daulah Islam di Iraq dan Syam (Suriah). Mereka lebih bersemangat membongkar apa yang mereka sebut sebagai kesesatan Daulah Islam namun bisu dan malu-malu mengupas tuntas kekafiran demokrasi dan pancasila beserta para pembelanya.

Seorang Da’i Su’u (Ulama jahat penyeru ke pintu jahannam) yang sejak berada dalam penjara telah bersemangat menampakkan permusuhannya terhadap Daulah Islam, belum lagi sampai di rumahnya dia sudah menggonggong akan mendebat para pendukung Daulah Islam agar bertobat dari kesesatannya. Sementara si dungu ini telah bebas dari penjara dengan pembebasan bersyarat yang mengharuskan dia menandatangani syarat kekafiran di dalamnya. Orang ini seperti penderita HIV/AIDS yang merasa jijik dengan penderita panu dan memperingatkan orang lain agar tidak mendekati si penderita panu tersebut. Belum sampai hitungan bulan mantan mujahid ini sudah berencana akan mengadakan dialog terbuka tentang Khilafah di kota Semarang. Apakah dia akan melampiaskan dendamnya terhadap Khilafah ini dengan dendam yang belum terlampiaskan ketika di penjara? ataukah dia akan bertobat dari kesesatannya? kita tunggu saja. Namun pantas kita bertanya kepada si penanda tangan PB dengan syarat kekafiran tersebut, kenapa dia tidak segera mengingatkan umat dari bahaya kekafiran demokrasi dan pancasila yang bahayanya menghilangkan iman seorang hamba? Oh, saya lupa.… bukankah ia juga tidak peduli dengan keselamatan imannya sendiri sehingga rela membubuhkan tandatangan menerima syarat kekafiran?

Fenomena permusuhan terhadap muwahidin juga gencar disuarakan oleh kelompok mujahidin majelis, mujahidin tabligh akbar dan mujahidin seminar. Kelompok yang pernah mengeluarkan fatwa mubah untuk berpartisipasi dalam pesta syirik demokrasi dengan ikut serta dalam pencoblosan termasuk salah satu kelompok yang bersemangat menanamkan permusuhan terhadap Daulah Islam. Bahkan tokoh kelompok ini gencar bersafari melakukan seminar untuk menebar fitnah terhadap Daulah Islam agar umat membenci dan memusuhinya. Tokoh yang pernah menjadi kandidat presiden NKRI bersyariah ini belum pernah kita dapatkan mengadakan seminar untuk membongkar kesesatan demokrasi maupun kesesatan pancasila. Pengusung idiologi kafir selamat dari lisan dan tulisan Ustadz Ajib ini, namun penegak syariat Islam yang telah mengorbankan ribuan tentaranya menjadi musuh utamanya. Mungkinkah ia enggan mengkafirkan ajaran demokrasi dikarenakan ia masih berharap kelak ia bisa menjadi presiden NKRI bersyariah? jika iya maka mungkin umat ini kelak akan melihat aksinya di panggung kampanye mengenakan jubah dan sorban berorasi dengan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi.

Wujud NKRI bersyariah yang dicita-citakan oleh ustadz dari kelompok mujahidin majelis ini entah seperti apa, penulis sendiri bingung menggambarkannya. Apakah yang dimaksud adalah ketika terwujud NKRI bersyariah maka seluruh jalan protokol di Jakarta akan berganti nama menjadi nama malaikat seperti jalan Jibril, jalan Mikail, jalan Izroil dan Jalan Isrofil? Ataukah teks pancasila dan KUHP akan berubah menjadi bahasa Arab, para Menteri berjenggot dan istana negara dihiasi dengan kaligrafi? wallahu a’lam, entah seperti apa gambaran NKRI bersyariah versi orang-orang sakit tersebut.

Maka melihat segala tingkah polah dari pendengki Daulah Islam semakin lama semakin memperjelas kerusakan manhaj mereka. Tidak ada yang mereka untungkan dari seminar, tulisan dan ceramah-ceramah yang berisi fitnah dan hujatan terhadap Daulah Islam yang mereka gencarkan kecuali kafir salibis, yahudi dan para penguasa murtad di barat dan timur. Dan tidak ada pihak yang dirugikan dari aksi-aksi bejat mereka kecuali para mujahidin dan kaum muslimin. Dan nampaklah siapa sesungguhnya musuh yang mereka benci dan mereka dongkol kepadanya, tiada lain muwahidin dan mujahidin. Dan semakin terang juga siapa sebenarnya pihak yang mereka cenderung untuk dijadikan kawan, tiada lain adalah para thoghut dan anshor-anshornya, orang-orang musyrik demokrasi dan orang-orang yang rusak manhajnya.

Sebagai penutup aku sampaikan kepada siapa saja yang memiliki kedengkian, dendam dan permusuhan terhadap Daulah Islam, bertaubatlah kalian kepada Allah, tengoklah kembali Tauhid dan manhaj kalian, sebab sangat jelas penyimpangan kalian. Jangan sampai penyesalan mendatangi kalian tatkala tangan dan kaki kalian terikat serta wajah kalian tertelungkup di tanah lapang sementara senapan AK-47 Tentara Daulah Islam menempel di pelipis kalian dan memaksa kalian untuk berteriak “DAULAH ISLAM BAAQIYYAH“.

Jika kalian enggan dengan pilihan pertama maka berbuatlah sesuka kalian jika tidak malu, sebab Alhamdulillah semakin kalian menggonggong semakin nampak kebodohan dan kesesatan kalian. Bersamaan dengan itu kami semakin yakin bahwa Daulah Islam kami yang benar dan yang akan menang biidznillah.

Allahu musta’an

[Shoutussalam]
Andre Tauladan

Senin, 30 November 2015

Sedikit bercanda


pic : http://www.slideshare.net/khomsyasholikha/jangan-asal-bercanda
Umar berkata, ”Barangsiapa yang banyak tertawa maka sedikit kemuliaannya, barangsiapa yang bercanda maka dia akan diremehkan.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Bertakwalah kepada Allah dan waspadalah terhadap canda. Sesungguhnya canda dapat mewariskan kedengkian dan membawanya kepada keburukan.”

Imam Nawawi di dalam kitabnya itu mengatakan bahwa para ulama berkata, ”Sesungguhnya canda yang dilarang adalah yang kebanyakan dan berlebihan karena ia dapat mengeraskan hati dan menyibukkannya dari dzikrullah dan menjadikan kebanyakan waktu untuk menyakiti, memunculkan kebencian, merendahkan kehormatan dan kemuliaan.“

Adapun canda yang tidak seperti demikian maka tidaklah dilarang. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit melakukan canda untuk suatu kemaslahatan, menyenangkan dan menghibur jiwa. Dan yang seperti ini tidaklah dilarang sama sekali bahkan menjadi sunnah yang dianjurkan apabila dilakukan dengan sifat yang demikian. Maka bersandarlah dengan apa yang telah kami nukil dari para ulama dan telah kami teliti dari hadits-hadits dan penjelasan hukum-hukumnya dan hal itu karena besarnya kebutuhkan terhadapnya. wa billah at Taufiq.
(Fatawa al Azhar juz X hal 225)

Wallahu A’lam.
Andre Tauladan

Kamis, 26 November 2015

A Warning to the Women from Conversing with Men


Shaykh Ibn ‘Uthaymeen was asked:

What is your opinion regarding some women who are easy going and free when talking to men? It is hoped that you could offer them (some) words of guidance; and may Allaah reward you with good.

Response:

“It is not permissible for a woman to extend her speech beyond that which is necessary with men who are not her mahram. This is because it leads to fitnah, and Allaah (Tabaaraka wa Ta’aala) says:

‘…then be not soft in speech, lest he in whose heart is a disease should be moved with desire, but speak in an honourable manner’

[Soorah al-Ahzaab: 32]

(So) she must speak to the (market) trader in accordance with her needs, without extending (her speech with him). This is because Shaytaan flows through the son of Aadam as blood flows. And how many a woman says that she is far removed from fitnah, however, Shaytaan is still with her in order to invite her to the fitnah.

It is possible that she has just left (the company of) a man with whom she unnecessarily extended her speech with, and then Shaytaan whispers evil thoughts to her until she returns back to this man and the first words (they exchange) become the sparks (which initiate the fitnah) and the final words – a blazing inferno (when they have both fallen into the fitnah); and refuge is sought in Allaah!

So it is required of the woman to fear Allaah and not to succumb to such speech, and nor to extend speech beyond that which is necessary. And an example of this – and it is indeed an evident scourge, rather a major scourge – and that is what occurs by way of the telephone.

So there are many pathetic fools who dial any random number (in the hope of speaking to a woman) and (then they find) a woman (who eventually) speaks to them. So he says words of affection to her and they continue like this again and again. He then records their conversations – and this is a problem, because he will never leave her alone. So he records all their conversations, and when matters turn ugly (between them), he says to her: ‘Either you do (such-and-such) or I will give (the recordings) to your son or brother or father or other than them, so they can hear your voice (and what we talked about).’

So because of this, I warn the women from (unnecessarily) extending conversation with men; indeed it is a danger of immense proportions, and we ask Allaah for safety from the fitan.”
dari : diary of a mujahidah
From: I’laam al-Mu’aasireen bi-Fataawa Ibn ‘Uthaymeen (pp. 391-392)
Andre Tauladan

Rabu, 16 Juli 2014

Buya Yahya : Benarkah Nabi Muhammad Tidak Dijamin Masuk Surga?

Video ini adalah Tanggapan dan Sekaligus Jawaban Buya Yahya terhadap Penjelasan salah seorang Ulama' Ahli Tafsir Indonesia yang menyatakan bahwa "Nabi Muhammad SAW Tidak Mempunyai Jaminan Masuk Surga"




Andre Tauladan

Selasa, 01 Juli 2014

Mengambil hikmah dari Piala Dunia

Beberapa hari terakhir jagad facebook diramaikan dengan status mengenai piala dunia. Sebuah momen luar biasa yang menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia. Saya pribadi tidak terlalu peduli dengan momen ini. Namun saya ingin berbagi dengan para soccer mania agar tidak membuat momen ini terlewat begitu saja tanpa ada manfaat apapun darinya.
logo piala dunia brazil

Piala dunia. Sebuah kejuaraan dunia dalam olahraga sepak bola. Melirik substansi dalam permainan sepak bola, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran.

Pertama, garis di lapangan sepak bola.

gambar lapangan sepak bola

Garis ini menjadi batas permainan.  Ketika seorang pemain membuat bola yang dibawanya keluar dari garis itu maka yang terjadi adalah kesempatan throw in bagi tim lawan. Dengan throw in ini tim lawan akan mendapat keuntungan karena dia yang mengendalikan bola. Dalam kehidupan kita garis itu adalah batasan-batasan agama, benar-salah, pahala-dosa. Jika kita melanggar batasan itu maka yang terjadi adalah kesempatan bagi setan untuk mengendalikan kehidupan kita, sehingga seringkali kita berbuat dosa.

Kedua, bola.

bola sepak

Bola dalam permainan sepakbola ibarat kehidupan kita. Kita memiliki tujuan dalam hidup, itu adalah gawang lawan. Kita akan berusaha untuk mencetak gol atau dengan kata lain meraih tujuan hidup. Kita hidup di dunia tentu memiliki keinginan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam permainan sepak bola tim lawan adalah penghalang, mereka akan berusaha sekuat mungkin agar kita tidak bisa mencetak gol. Untuk melewatinya seorang pemain sepak bola yang handal pasti bisa melakukan manuver-manuver cantik yang bisa mengelabui lawan dan lolos dari segala halangan. Tim lawan diibaratkan setan. Mereka akan menghalangi kita untuk mencapai kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Oleh karena itu kita harus pintar menghindarinya. Cara-cara untuk menghindari mereka ada dalam Al-Qur'an, kita harus rutin berdzikir, berbuat baik kepada orang tua,  dan cara-cara lainnya yang sudah tercantum dalam Al-Qur'an.

Ketiga, piala.

Tujuan akhir dalam kejuaraan piala dunia adalah untuk mendapatkan piala. Tujuan akhir dalam kehidupan kita adalah untuk kehidupan akhirat yang baik.
piala dunia

Keempat, seragam atau kostim.

Setiap tim dalam sepak bola pasti memiliki seragam yang berbeda. Kita sebagai umat muslim memiliki aturan juga dalam berpakaian, pakaian yang dipakai harus syar'i sesuai aturan islam. Setidaknya harus menutup aurat.

Kelima, wasit.

wasit sepak bola

Tugas seorang wasit adalah mengatur permainan agar tidak keluar dari aturan yang berlaku. Wasit memberikan arahan, memberikan peringatan dan memberikan hukuman jika terjadi pelanggaran. Ini ibarat petunjuk yang disampaikan Allah kepada kita. Aturan-aturan dalam hidup ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Di dalamnya terdapat petunjuk, peringatan, dan hukuman. Dalam permainan sepak bola jika wasit memberikan kartu kuning, itu artinya peringatan atas sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain. Jika kartu merah sudah diberikan berarti pemain tersebut sudah tidak berhak bermain dalam pertandingan tersebut, ia dihukum, dikeluarkan.

Keenam, linesman (hakim garis).

hakim garis piala dunia

Di samping kiri dan kanan lapangan ada petugas hakim garis. Mereka menjadi pengawas selama pertandingan, selalu memperhatikan apakah terjadi offside atau tidak. Dan jika offside maka ia akan mengangkat bendera di tangannya sebagai isyarat. Dalam kehidupan kita juga ada yang selalu mengawasi di kanan dan kiri kita. Malaikat raqib dan atid.

Ketujuh, waktu permainan.

Dalam setiap permainan sepak bola, sudah ditentukan durasinya. Jika dalam waktu 90 menit tidak ada yang menang dalam pertandingan tertentu ada waktu tambahan. Tetapi dalam hidup kita, jika waktu kita sudah habis tidak ada tambahan waktu.

Kedelapan, penonton.

soccer football stadium

Permainan sepakbola khususnya dalam pertandingan setingkat piala dunia pasti dilaksanakan di stadion. Setiap stadion ada tribun penontonnya. Posisi penonton mengelilingi lapangan dari setiap sisi dan sudut. Dalam kehidupan kita Allah selalu tahu, melihat, dan mengawasi apa yang kita lakukan di setiap saat, setiap tempat, setiap sisi dan sudut.

Nah, itulah pelajaran (hikmah) yang bisa kita ambil dari piala dunia. Sebagai seorang muslim kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Terkadang manusia yang keimanannya masih lemah perlu diberi penjelasan dengan analogi agar mereka mengerti dan mau menerima apa yang disampaikan oleh agama. Sedangkan bagi yang imannya kuat, mereka akan melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama tanpa banyak protes.

Tulisan ini adaptasi dari video berjudul "WORLD CUP WITH A LESSON ᴴᴰ - MUST WATCH"
Andre Tauladan

Selasa, 01 April 2014

Jangan Seperti Tukang Parkir

link tweet https://twitter.com/aagym/status/110639476916760577
Setiap kehilangan bukan tanggung jawab kami
Aa Gym sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahw kita bisa belajar dari tukang parkir. Karena mereka nggak pernah sedih ketika mobil-mobilnya pergi. Mereka juga tidak sombong dengan banyak kendaraan. Mereka tidak takabur walaupun sering ganti kendaraan. Itu semua karena mereka yakin bahwa segalanya hanya titipan.

Dulu, saya cuma iya-iya saja. Saya cuma manggut-manggut sebagai tanda bahwa saya sepakat. Dulu saya tidak punya kendaraan sendiri, jadi tidak terlalu tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Tapi sekarang saya mengalaminya dan tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Sekarang saya tidak lagi sepakat dengan Aa. Ini bukan karena saya tidak suka Aa, tapi saya hanya ingin mengoreksi saja. Mengoreksi orang lain itu memang menyenangkan, walaupun saya sendiri tidak suka dikoreksi oleh orang yang tidak saya suka. Saya memang hobi mengkritik, kali ini giliran Aa yang mendapat kritik dari saya. No offense ya a.. :)

Kalimat yang saya kutip di awal postingan ini adalah kalimat yang umum tertulis pada tiket parkir. Walaupun pada beberapa tiket parkir yang lain terdapat kalimat yang berbeda tapi intinya sama saja, yaitu mereka tidak akan bertanggungjawab atas segala kehilangan atau kerusakan pada kendaraan kita. Itu artinya mereka tidak memiliki sifat amanah. Hal lain yang membuat saya berpendapat jangan seperti tukang parkir adalah karena mereka itu selalu meminta bayaran. Tentu saja mereka tidak akan sedih ketika mobil-mobil itu diambil sampai habis karena mereka mendapat bayaran. Jadi mereka itu bukan orang ikhlas. Malah, ada beberapa parkiran yang tidak friendly. Ada tukang parkir yang memberi gratis kepada orang yang dikenalnya, ini adalah tindakan nepotisme. Ada juga beberapa parkiran yang memberatkan orang yang parkir. Misalnya mereka tidak terima dikasih sedikit, mereka punya patokan sendiri. Yang lebih parah lagi adalah parkiran yang memberikan tenggang waktu, jika melebihi batas yang ditentukan maka akan ditambah beban biayanya. Sifat lain dari tukang parkir yang seperti ini adalah mereka ingin untung sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan kita tetapi jika kita kehilangan tiket parkir kita harus membayar lebih.

Kesimpulannya, tukang parkir itu tidak amanah, hanya bisa meminta, tidak mau memberi, rakus, dan ingin untung sendiri.

Sebagai makhluk, kita harus tahu diri. Pesan yang disampaikan oleh Aa memang baik. Kita harus sadar bahwa harya yang saat ini ada pada kita hanyalah titipan sehingga ketika kehilangan kita tidak akan merasa sedih. Kita harus menjadi manusia yang memiliki sifat amanah. Sifat ini harus disertai dengan sikap syukur. Orang yang bersyukur akan menggunakan apa yang dimilikinya di jalan Allah. Orang yang amanah dan bersyukur, akan menggunakan hartanya untuk kebaikan tapi ketika kehilangan ia tidak akan merasa sedih.

Ah... buntu. Segini aja deh tulisan saya kali ini. Intinya, saya setuju dengan pesan yang disampaikan Aa, tapi nggak sepakat dengan analoginya. Saya sendiri tidak tah analogi yang tepat. Ada pendapat?

Andre Tauladan

Senin, 13 Januari 2014

Materialistis di kalangan muslim

Assalaamu'alaikum sodara-sodara.
Di zaman sekarang ini (mungkin dari dulu juga) banyak di antara muslim yang menilai orang lain dengan  penilaian yang berdasarkan harta. Mereka nggak menilai kalian berdasarkan karakter kalian, tapi mereka menilai berdasarkan apa yang kamu punya. Kamu punya mobil apa, tinggal dimana, atau penampilan kamu kaya gimana.
materialistis
picture : 123rf.com

Ingat kawan, Allah azza wa jalla menciptakan manusia, manusia nggak milih mau diciptakan seperti apa juga. Sekarang kita lihat fenomena di tengah masyarakat. Ada orang yang tadinya nggak pernah punya temen tapi setelah dia kaya raya tiba-tiba banyak orang yang pengen jadi temennya padahal tadinya nggak kenal sama sekali. Bagaimana pendapat mereka tentang kehidupan manusia? Sampai ada yang harus ngemis-ngemis cuma demi kepingan logam. Dan muslim juga banyak yang seperti itu.

Ada masa ketika seseorang dinilai berdasarkan karakter mereka, sifat mereka, atau perilaku mereka. Tapi sekarang banyak orang menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka kenakan. "Wah, kamu pake ouval", "Cie jamnya baru tuh, swiss army", dan sebagainya. Kalo mau menilai orang lain berdasarkan penampilan, berdasarkan apa yang mereka pakai, coba simak kisah berikut :
  • Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia dengan pakaian yang ada tambalannya. Di bajunya ada 11 tambalan.
  • Abu Bakar (ra), ketika meninggal mengenakan baju dengan 14 tambalan.
  • Umar bin Abdul Aziz, dia orang yang paling berkuasa di muka bumi. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa wilayah kekhalifahannya dari China sampai Spanyol. Rakyatnya dari suku Korku hingga orang-orang di pedalaman Afrika. Ketika meninggal dia mengenakan pakaiannya. Seseorang berkata pada istrinya "ganti pakaiannya!" tapi istrinya diam saja. Orang itu berkata lagi "Dia sudah sekarat, ganti pakaiannya!" istrinya tetap diam. Kemudian untuk ketiga kalinya orang itu berkata lagi dengan nada kesal. Istrinya menjawab "Demi Allah, hanya pakaian ini yang dia punya"
Tapi sejarah mencatatnya. Sejarah mencatat kisah Umar bin Abdul Aziz. Tentang kebaikannya, tentang pelayanannya terhadap masyarakat, dan tentang perannya dalam hal kemanusiaan. Karena hal-hal itulah sejarah mencatatnya.
Wallahu a'lam bishshawab.

Nih, kalo yang lebih ngerti bahasa Inggris tonton aja videonya. Sebuah potongan ceramah dari Zahir Mahmud. Cekidot. Tulisan diatas saya modifikasi biar lebih sesuai sama bahasa kita.
Andre Tauladan

Sabtu, 04 Januari 2014

New Years Revolution - Powerful Spoken Word

Bismillah.
May be this post is a bit late but I think there will never be late to spread the truth. Well, What do you think?


Andre Tauladan

Selasa, 23 April 2013

Komentar Ust. Yusuf Mansur Tentang Sinetron Haji Muhidin

Halow mantemans, nagimana barkabarnya ta' iye?

Ba'da shalat subuh tadi bukan kebetulan saya menyaksikan tayangan wisata hati. Memang saya sudah lama ingin menyaksikan tayangan yang dibawakan oleh Ustadz Yusuf Mansur (YM) ini. Jarang sekali saya bisa menonton tv di pagi hari, keterbatasan anak kos yang nggak punya TV membuat saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika sedang ada di rumah. Biidznillah

Dengan tema Sedekah #4, acara WH tadi pagi diawali dengan pembahasan tentang luasnya kekuasaan Allah, pembahasan diambil dari ayat 255 surat Al Baqarah, ayar Kursi. Namun di tengah penyampaian materi, Pak Ustadz 'melenceng' (begitu dia mengatakan) sedikit dari materi. Dia mengomentari salah satu sinetron yang dulu pernah dibintanginya, tetapi dulu dalam bentuk film layar lebar, bukan sinetron. Sinetron itu berjudul "Tukang Bubur Naik Haji", sinetron ini adalah versi serial dari film dengan judul yang sama. Film itu sendiri berkisah tentang sebuah testimoni dari seorang tukang bubur yang mendapatkan rezeki yang tak terduga, yaitu bisa menunaikan ibadah haji. Akan tetapi dalam sinetron ternyata bukan itu yang dijadikan point pentingnya. Justru dalam sinetron yang lebih banyak berperan adalah sosok Haji Muhidin yang memiliki sejumlah kepribadian buruk. Hingga masyarakat pun menyebut sinetron ini dengan sebutan sinetron "Haji Muhidin".



Adanya sosok yang mencerminkan buruknya sosok seorang haji dalam sinetron ini membuat banyak umat islam gerah dan meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menegur pihak TV yang bersangkutan. Selain sinetron Haji Muhidin ada juga sejumlah sinetron lain yang menjadi sorotan umat islam (yang peduli) untuk 'ditertibkan'. Di Islamedia misalnya, melalui artikel yang dipublish tanggal 11 April 2013 Islamedia menyampaikan rasa keberatan para pembaca terhadap sinetron sejenis.

Lantas bagaimana komentar Ust. YM sendiri atas munculnya sinetron semacam ini? Di akhir tulisan ini saya tampilkan videonya, dan di tulisan ini akan saya tuliskan beberapa point penting dari ucapan Ust. YM.

1. Di menit 03:34 Ust. YM mengatakan "Seharusnya umat islam marah". Alasannya adalah "sosok haji, dimaen-maenin, sosok ustadz, ustadzah juga dimaen-maenin". "Itu tuh sebenernya ngeledek atau nyari duit sih?" Dari raut wajahnya terlihat kekecewaan ustadz terhadap sinetron semacam ini. Bahkan ustadz mengungkapkan penyesalannya karena dia pernah memberi judul film bersangkutan.

2. Di menit 04:24 ustadz mengatakan bahwa "Bisa juga itu adalah cerminan dari masyarakat itu sendiri". Ustadz selanjutnya mengajak para ustadz - ustadzah untuk beristighfar seandainya perilaku mereka sesuai dengan sosok yang ada di sinetron sejenis itu. Termasuk dari kalangan haji, mungkin ada yang perilakunya sesuai dengan sosok yang ada di sinetron itu.

3. Menit ke 04:39 ustadz mencoba meluruskan, jika ada perilaku ustadz, ustadzah, atau haji yang mirip atau sama dengan yang diperankan di sinetron itu, maka bukan berarti semua ustadz, ustadzah atau haji memiliki sifat yang sama. Tidak bisa digeneralisir. Tayangan seperti itu banyak ditonton oleh anak-anak, remaja, yang akhirnya dikhawatirkan akan membuat sebuah mindset di kalangan penonton bahwa umat islam itu seperti tokoh di film itu.

4. Setelah jeda iklan, pada 05:00 melanjutkan pembahasan tentang sinetron yang bernuansa negatif, bahkan ustadz juga sempat menyinggung tayangan musik di pagi hari. Ustadz menyampaikan cara untuk menghindari tayangan seperti itu. "Sebenarnya remotnya di saudara, jika saudara tidak menonton acara itu maka acara itu tidak akan laku dan akan membuat pihak stasiun TV akan 'menurunkan' acara tersebut. Malah karena pemirsa suka menonton acara sejenis itu bisa jadi acara seperti itu akan semakin sering ditayangkan.

5. Pada menit 05:37 Ustadz YM menyampaikan dampak buruk dari acara seperti itu terhadap kondisi penontonnya yang notabene banyak dari kalangan anak-anak dan remaja. Banyak anak-anak yang menonton sinetron pada jam yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar. Acara seperti itu juga menyebarkan dosa. Sejak pagi pemirsa sudah disuguhi dengan tayangan yang menampilkan wanita yang bergoyang dengan seksi dan pamer aurat.

6. Pada menit 06:25 Ust. YM mengajak semua pihak baik dari pemirsa maupun stasiun TV untuk beristighfar, ustadz mengajak pemirsa untuk mendoakan semoga skenario dari acara sinetron seperti itu bisa diluruskan. Ustadz pun menyampaikan kepada pengelola TV untuk menyadari bahwa di tangan mereka kemajuan bangsa ini bisa ditentukan.

Kesimpulan :
- Banyak sinetron di TV yang bernuansa negatif tentang umat islam dan yang dapat merusak iman.
- Umat islam seharusnya (sewajarnya) marah atas tayangan seperti itu
- Umat islam juga harus bercermin apakah memang sekarang kondisinya seperti itu, jika iya beristighfarlah
- Kendali ada di pemirsa, jika pemirsa ingin tayangan seperti itu hilang, maka jangan nonton.
- Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatur acara TV, tapi Allah maha kuasa, kepadaNyalah kita meminta pertolongan agar tayangan seperti itu segera hilang.


Andre Tauladan

Jumat, 15 Maret 2013

( HIKMAH ) KEWAJIBAN BERILBAB DAN BERBAGAI ALASAN MEREMEHKANNYA -

aturan berjilbab

Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya. Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana.

Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak?

Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.

Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33).

Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.

Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.
Andre TauladanFB Yusuf Mansur

Jumat, 22 Februari 2013

Mengambil Pelajaran Dari Musibah

#MUSIBAH YANG MENIMPAMU ITU#


Bs jadi krn Allah mencintaimu
Maka Dia ingin mengujimu

Atau bs jadi krn Allah mencintaimu
Maka Dia ingin mengingatkanmu

Atau bs jadi krn ALlah mencintaimu
Maka Dia ingin membersihkan dosamu

Atau bs jadi krn Allah mencintaimu
Maka Dia ingin melipatgandakan pahalamu

Atau bs jadi krn ALlah mencintaimu
Maka Dia ingin menggantikan sesuatu yg lbh baik untukmu

Atau bs jadi krn Allah mencintaimu
Maka Dia ingin memasukkanmu ke jannah krn kesabaranmu

via Abu Umar Abdillah
http://www.facebook.com/abu.abdillah.7

Untaian bait karya Abu umar Abdillah menerangkan bahwa dalam setiap musibah pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Dengan mengambil pengalaman dari diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang pernah mengalami musibah. Musibah yang menimpa setiap orang tidak selalu berbeda, yang berbeda adalah kondisi orang itu dan cara dia merespon musibah yang dia alami. Misalnya gerobak PKL ditabrak oleh pengguna jalan raya, ada beberapa gerobak yang mengalami tingkat kerusakan yang sama tetapi respon dari masing-masing pemilik gerobak bisa saja berbeda.

tuntunan islam menghadapi musibah
gambar : maramissetiawan.wordpress.com

Timbulnya respon tergantung dari sifat dan kebiasaan masing-masing orang. Orang yang di hatinya penuh kesabaran akan santai dan tidak terlalu panik ketika mengalami musibah. Ia akan cenderung tegar dan sabar sembari introspeksi diri apakah musibah itu berupa ujian keimanan atau siksaan atas dosa yang telah diperbuat. Ketika seseorang mau berintrospeksi diri tentang musibah yang dialaminya, maka musibah itu akan berbuah nikmat. Sebaliknya, orang yang tidak mau berintrospeksi diri akan cenderung menyalahkan orang lain dan akan menambah kesulitan selain dari musibah yang dialaminya.

Islam adalah agama yang SUPER sempurna. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Begitu juga dalam menghadapi musibah, islam memberikan tuntunan. Tuntunan islam dalam menghadapi musibah terdapat pada Firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 155-157

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Musibah yang dialami manusia berfungsi sebagai pemisah antara orang yang hatinya baik dan hatinya buruk. Perbedaan diantara mereka akan terlihat dari cara mereka menanggapi musibah yang dialaminya. Berdasarkan pada ayat di atas, orang-orang yang baik adalah orang-orang yang bersabar. Bagi orang-orang yang sabar mereka akan memperoleh kebahagiaan berupa pahala yang besar. Kegembiraan pahala adalah bekal untuk kehidupan akhirat. Sedangkan kebahagiaan di dunia adalah berupa perasaan tenang dan tidak mengalami tekanan seperti yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak sabar.

Kata-kata إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah.

Pada ayat 157 disebutkan kebaikan yang didapat oleh orang-orang yang sabar. Imam al Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud “shalawat” dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata “rahmat” diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”. Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan). Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selain kebaikan yang sudah disebutkan di atas, kelebihan lain yang dimiliki oleh orang-orang sabar. Mereka juga termasuk dalam Muhtadin (orang-orang yang mendapatkan hidayah), mereka berada di atas kebenaran.

Berdasarkan beberapa keterangan di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa orang-orang yang tidak bersabar dalam menghadapi musibah akan mengalami ; (1) kerugian, (2) perasaan tertekan (tidak bahagia), (3) tidak mendapatkan hidayah, berada di jalan yang salah, (4) tidak mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Wallahu 'alam.

Andre Tauladan
Referensi : ngajialquran

Kamis, 28 Juni 2012

Mendekatkan Diri Kepada Allah


mendekatkan diri kepada Allah

"Ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah tidak akan merasa takut dan tidak akan merasa sedih. Mereka itu adlah orang-orang yang beriman dan tetap bertakwa." Q.S. Yunus 62-63

Ayat diatas menjelaskan bahwa orang yang mendekatkan diri kepada Allah tidak akan takut akan segala macam kesulitan di dunia ini dan tidak pula sedih kehilangan kesenangan di dunia. Ia akan beriman sepenuhnya bahwa kelak ia akan mendapat balasan dan ganti lebih baik di akhirat.

Bila kita beriman kepada Allah dan taat kepada-Nya, segala persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan ini akan mudah diatasi. Dengan berbekal iman dan ketaatan kepada Allah, segala hal yang kita hadapi, baik berupa kesulitan maupun kenikmatan, dengan cepat kita sadari bahwa semuanya itu datang dari Allah. Dengan pemikiran dan pertimbangan seperti ini, kita tidak akan pernah merasa resah dan susah menghadapi apa saja yang terjadi.

Untuk dapat bertakarrub kepada Allah, kita perlu melakukan usaha dan amal kebajikan yang diridhai Allah. Usaha tersebut antara lain.

1. Kita selalu mengingat Allah atau berdzikir sebagaimana Allah perintahkan dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28.
"(yaitu ) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram."

Mengingat Allah yang dimaksud pada ayat ini yaitu mengingat sifat-sifat Allah, baik dalam hati maupun dengan lisan atau menyebut asmaa'ul husna. Mengingat Allah seperti ini dapat kita lakukan apan saja dan di mana saja.

2. Kita membaca Istighfar, terutama pada 1/3 malam terakhir, seperti yang Allah firmankan dalam QS Ali 'Imran ayat 17.
"(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yan tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang beristighfar (memohon ampun) pada waktu sahur".

3. Kita membaca dan menkaji Al-Qur'an sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut.
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:"Sekelompok orang yang berkumpul di salah satu masjid untuk membaca dan mengkaji Al-Qur'andi kalangan mereka, pasti akan Allah turunkan ketenangan, dipenuhi rahmat, dan malaikat menaungi mereka (dengan sayapnya), serta Allah akan menyebut nama-nama mereka di lingkungan makhluk yang ada di sisi-Nya . H.R. Muslim, Abu Dawud, dll).

4. Kita memelihara shalat-shalat sunnah rawatib.
5. Kita memperbanyak puasa sunnah.

Bila kita dapat melakukan amalan-amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti tersebut di atas, kita akan terhindar dari ketegangan dan kecemasan. Insya Allah.

Dari buku : "35 langkah islami mengatasi stress"

Selasa, 26 Juni 2012

Delusions Of Dunya


delusion of dunya

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI TA’ALA WABARAKATUH,

RESPECTED BROTHERS & SISTERS IN ISLAM.

I AM REMINDING MYSELF FIRST BEFORE OTHERS ABOUT "Delusions of Dunya"SOLELY FOR THE SAKE OF ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA>

"...The life of this world is nothing but an illusion."
[Noble Quran al-Hadeed - 57:20]

"With firm words, Allah makes the believers steadfast in the life of this world and in the hereafter;and Allah lets the wrongdoers go astray. Allah does what He pleases."
[Noble Qur’an Surah Ibrahim - 14:27]

A person deeply involved in this worldly life puts his faith on the apparent meanings. A man might think that wealth makes him strong, gives him status and adorns him. We think that the medicines we eat cure us. We think the food we eat keeps us alive otherwise we will die. Our deep involvement in this Dunya forces us to believe that those who have the material support are more successful than the others. However, if one were to explore the domains of destiny, one would experience the reality that these ideas are nothing but illusions. ALLAH THE ALMIGHTY says in the Qur’an that the life of this world is nothing but an illusion of materials (wama al-hayatud-dunya illa mata'ul-ghuroor).

"Know that the life of this world is only play and amusement, a show and boasting among yourselves, a quest for greater riches and more children. Its similitude is that of vegetation that flourish after rain: the growth of which delights the tillers, then it withers and you see it turn yellow, soon it becomes dry and crumbles away. In the hereafter there will be either severe punishment or forgiveness from Allah and His good pleasure. The life of this world is nothing but an illusion." (Noble Qur’an Al-Hadid - 57:20]

Man wastes his lifetime running after something which has no effect on anything except that he ruins his hereafter. A believer is he who believes that nothing can happen without the Will of ALLAH THE ALMIGHTY. Therefore, his objective becomes to gain ALLAH THE ALMIGHTY's pleasure and not to run after this Dunya (World). No material possession can benefit or harm anyone if it is not desired by ALLAH THE ALMIGHTY. The principles say: Fire does not burn if ALLAH THE ALMIGHTY's Will is there. Cure comes from ALLAH THE ALMIGHTY, not from the doctor or the medicines. Nor does anyone die without His Will. Therefore, a Believer's trust should be on nothing and nothing but ALLAH THE ALMIGHTY alone, consequently ALLAH THE ALMIGHTY says: "..Allah is all sufficient for the person who puts his trust in Him..." [Noble Qur’an at-Talaaq - 65:3].

Prophet Dawud ('alaihi salam) was among the army of Talut ('alaihi salam). Recalling what Dawud ('alaihi salam) said to Jalut (Goliath): "You may have armor, shield, and sword, but I face you in the name of Allah, the Lord of the Israelites, Whose laws you have mocked. Today you will see that it is not the sword that kills but the will and power of Allah!". Companions of the Prophet Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) had a great degree of faith. The Sahabah say to the Prophet (sallallahu 'alaihi wasallam): "By Allah, if you were to ask us to cross this sea and you plunged into it, we would plunge into it with you; not a man would stay behind". It is with this faith that these men were prepared to do anything for ALLAH THE ALMIGHTY's Deen, without worrying about the effects of any physical law. Because they know the reality which we find difficult to accept. Ayat of the Qur'an contain reality & wisdom in them. ALLAH THE ALMIGHTY says: "Wainnahu lahaqqu al-yaqeen" "And Verily, it (this Quran) is an absolute truth with certainty." [Noble Qur’an al-Haqqah - 69:51]. The laws contained in this Qur'an are valid for all times to come, therefore we should never let any doubt to find ways into our hearts. Observe the following.

"But those who knew with certainty that they were to meet their Lord, said: 'How often a small group overcame a mighty host by Allah's Leave?'
And Allah is with As-Sabirin (the patient ones)"
[Noble Qur’an al-Baqarah - 2:249]

"...And there is no victory except from Allah.
Verily, Allah is All-Mighty, All-Wise."[Noble Qur’an Al-Anfaal - 8:10]

"O you who believe! If you help (in the cause of) Allah,
He will help you, and make your foothold firm."
[Noble Qur’an - 47:7]

Whenever Muslims place their Trust in ALLAH THE ALMIGHTY, Allah helps them. And whenever they rely on the worldly materials and numbers, they are deprived of ALLAH THE ALMIGHTY's help. Muslims lacked every material resource at Badr, but they were helped by ALLAH THE ALMIGHTY because of their Faith in ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. But in Hunayn Muslims were well equipped in everything, however many of them relied on these resources until the earth became tight for them and they realised that it is not the material things that profit but it is the help of ALLAH THE ALMIGHTY that gives success. Therefore, a believer does not rely on the material resources, even if the resources are in abundance.

"Allah has indeed helped you in many battlefields and on the day of Hunayn: when you were proud of your great numbers, but the numbers availed you nothing. The earth, with all its vastness, seemed to close in upon you, and you turned your backs and fled. But Allah sent down His Sakeenah (peace and tranquility) upon His Messenger and the believers and sent down to your aid those forces which you could not see, and punished the unbelievers. Thus was the recompense for the unbelievers." [Noble Qur’an At-Taubah - 9:25-26]

This world is made deceptive in such a way where the food obtained with illegal money tastes same as the food obtained with legal money. Similarly the criminals think there will be no recompense for their mischief. After all who would dare to stand against someone with the superpower? What superpower? Who is going to save them if ALLAH THE ALMIGHTY sends heavy stones or fireballs from the sky? Sayyidina Ibrahim ('alaihi salato was-salam) says: "why should I fear when the wrongdoers don't fear Allah?". Why fear from the criminals when they don't fear the Lord of the heavens and earth?

"[Ibrahim says:] Why should I fear your idols,when you are not afraid of your actions of making them partners with Allah, for which He has not given you any sanction?
Which one from the two parties of us deserves to feel secure? Tell me, if you know the truth." [Noble Qur’an Al-An'aam - 6:81]

How nice is the case of those who struggle for their rights; strive for the rights of others; struggle to defend the land of the Prophets; or defend the Deen of ALLAH THE ALMIGHTY?!!

How nice is the case of those who struggle without any weapon! How about the example of Prophet Zakariyah (Zechariah, 'alaihi salam) who was slaughtered because he was upholding the Deen of ALLAH THE ALMIGHTY. How about Sayyidina Yahya (John, 'alaihi salam), who also lost his neck for upholding the Book of ALLAH THE ALMIGHTY. They also plotted against Sayyidina Isa (Jesus, 'alaihi salam) but he was saved by the Will of ALLAH THE ALMIGHTY. Every soul has to return one day, but the successful will be those who return with His pleasure and with the fear of nothing but His alone. We should hope to join these people too (in sha'Allah).

ALLAH THE ALMIGHTY was watching those people before us. He is watching us too. ALLAH THE ALMIGHTY says: "Consider not that Allah is unaware of that which the Zalimoon do, but He gives them respite up to a Day when the eyes will stare in horror. (They will be) hastening forward with necks outstretched, their heads raised up (towards the sky), their gaze returning not towards them and their hearts empty (from thinking because of extreme fear)." [Noble Qur’an Surah Ibrahim - 14:42-43].

"So think not that Allah will fail to keep His Promise to His Messengers. Certainly, Allah is All-Mighty, - All-Able of Retribution." [Noble Qur’an Surah Ibrahim - 14:47]

If we could have even a glimpse of the Majesty of ALLAH THE ALMIGHTY, we would start to run over the oceans. If we could even recognise the beauty of our souls as being His beautiful gifts, we would not hesitate to move the high mountains. And if we could even understand that His Word, the Qur'an is the Absolute Truth, we would start to see the huge mountains moving aside from our path.

Now, lets learn from the instructions of Rasulullah (sallallahu 'alaihi wasallam) given to Abdullah Ibn Abbas (may Allah be pleased with him):

The Prophet (Sallallahu Alaihi wasallam) said: " Boy, I would like to teach you something. Be careful and follow Allah's commands perseveringly. Allah will protect you. You should safeguard His rights, and you will always find Him with you; if you need something, ask Allah, and when you need help, solicit Allah alone for the same. Bear it in mind that if all the people combined together to grant you some benefit, they would not be able to do so except that which Allah has determined for you and that if all of them were combined together to do you harm, they would not be able to do so except that which Allah has determined for you. The pens have been set aside and the writings of the book of fate have become dry." [ Tirmidhi]

"Glory be to your Lord, the Lord of Honor, He is free from what they ascribe to Him!Peace be on the Messengers, and praise be to Allah, the Lord of the Worlds." Al-Quran [37:180-182]

SUBHANALLAH! ALHAMDULILLAH!! WALA ILAHA ILLALLAHU ALLAHUAKBAR!!!

Reflect Reflectonthis

Minggu, 17 Juni 2012

CIRI-CIRI LELAKI SHOLEH, SUAMI IDAMAN

CIRI-CIRI LELAKI SHOLEH CALON SUAMI IDAMAN WANITA

laki-laki soleh idaman


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kesolehan seseorang lelaki menjadi idaman setiap isteri dan tidak dapat dinilai dari segi lahiriah semata-mata, tentu ada beberapa kriteria Lelaki soleh.

Ciri - Ciri Umum :
~ Terlihat selalu ISTIQOMAH beribadah
~ Salat tepat waktu
~ Senang berjama'ah di masjid
~ Bagus bacaan Al-Qur'annya
~ Wajahnya yang nyaman di tatap karna terbiasa "DAWAAMUL WUDHU" menjaga wudhu
~ Rendah hati, Perhatian dan Dermawan
~ Berbicaranya santun dengan KALIMAT PILIHAN
~ Tidak menatap bukan MAHRAMNYA
~ Terbiasa menunduk saat berbicara
~ Rapih, Bersih dan Wangi, punya Kharisma
~ "WARO" sangat taat
~ Dan tidak akan menyentuh WANITA kecuali setelah HALAL !!

Insya Allaah para ikhwan bagian dari ini,.,


Ciri-Ciri Khusus :

Lelaki soleh menurut Abu Mohd Jibril Abdul Rahman sesuai dengan yang dimaksudkan di dalam Al Qur’an dan Al Hadis.

1. Sentiasa taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala dan Rasullulah Shallallahu `Alaihi Wasallam
2. Jihad Fisabilillah adalah matlamat dan program hidupnya.
3. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
4. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'aala
5. Ikhlas dalam beramal.
6. Akhirat manjadi tujuan utama hidupnya.
7. Sangat takut kepada ujian Allah Subhanahu Wa Ta'aala dan ancamannya.
8. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
9. Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
10. Sholat malam menjadi kebiasaannya.
11. Tawakal penuh kepada Allah taala dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala
12. Selalu berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit.
13. Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka.
14. Sangat kuat amar maaruf dan nahi munkarnya.
15. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahasiaan.
16. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, senantiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala
17. kasih sayang dan penuh pengertian kepada keluarga.

Selain daripada ciri-ciri diatas, orang orang yang soleh juga merupakan insan insan yang senantiasa mendapat ujian dan cobaan daripada Allah swt. Para nabi nabi dan orang orang yang mulia Mereka menghadapi segala ujian tersebut dengan hati yang tabah dan tetap teguh dalam keimanan serta pendirian. Mereka tidak mudah menyerah kalah dari keganasan dan tekanan musuh.

Tugas tugas dan kewajiban Lelaki Soleh :
1. Mencari nafkah ( belanja hidup)
2. Berjihad Fisabilillah.
3. Melindungi dan membela kaum yang lemah dan tertindas.
4. Memimpin, mendidik dan berlaku adil terhadap isteri.

Berdasarkan kriteria di atas maka jelaslah bahwa suami yang sholeh tidak dapat memberikan sebagian besar dari kehendak duniawi isteri. Isteri tidak perlu mengeluh sebaliknya bersyukur karena doa untuk mendapat suami yang soleh mungkin sudah dikabulkan Allah. Ingatlah, Isteri-isteri Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wasallam sendiri pernah ditawarkan kesenangan dunia atau akhirat. Maka akhirnya isteri baginda memilih AKHIRAT.

Semoga Bermanfaat utk kita semua terutama untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allaah Subhanahu Wa Ta'aala... Aamiiin Ya Allaah..

SALAM SAYANG SENYUM SANTUN KARENA ALLAH
Ini sumber yang menjadi tauladan.

Selasa, 08 Mei 2012

Bacaan Setelah Membaca Al-Quran

gambar belajar baca quran

Sudah menjadi pemahaman umum bagi umat muslim bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci yang 'diturunkan' Allah subhanahu wa ta'ala melalui nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia. Sebagai umat yang meyakini kesucian Al-Qur'an, kita disyariatkan untuk selalu membacanya. Ada sebuah kebiasaan di kalangan sebagian besar umat islam ketika mereka selesai membaca Al-Quran. Mereka biasanya mengucapkan Shadaqallahul 'azhim. Namun sebenarnya kebiasaan ini adalah sebuah kebiasaan yang tidak ada tuntunannya dari rasulullah.

Kebiasaan ini termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul’adzim.(muslimah.or.id)

Lalu bacaan apakah yang disunnahkan? Berkaitan dengan hal ini, muslimah.or.id tidak menjelaskan lebih detail. Admin muslimah.or.id menganjurkan untuk tidak mengucapkan apa-apa. Dari sumber lain, didapat suatu keterangan tentang adanya ucapan yang disunnahkan ketika kita selesai membaca Al-Qur'an.


يُسْتَحَبُّ بعد الانتهاء من تلاوة القرآن أن يُقال:
((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ)).

Setelah selesai membaca al Qur’an dianjurkan untuk mengucapkan bacaan berikut ini: Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))([]).

Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Qur’an ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Qur’an ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. ”

) إسناده صحيح: أخرجه النسائي في “السنن الكبرى” (9/123/10067)، والطبراني في “الدعاء” (رقم1912)، والسمعاني في “أدب الإملاء والاستملاء” (ص75)، وابن ناصر الدين في “خاتمة توضيح المشتبه” (9/282).
Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.

وقال الحافظ ابن حجر في “النكت” (2/733): [إسناده صحيح]، وقال الشيخ الألباني في “الصحيحة” (7/495): [هذا إسنادٌ صحيحٌ أيضاً على شرط مسلم]، وقال الشيخ مُقْبِل الوادعي في “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (2/12: [هذا حديثٌ صحيحٌ
Al Hafizh Ibnu Hajar dalam an Nukat 2/733 mengatakan, “Sanadnya shahih”. Syaikh al Albani dalam Shahihah 7/495 mengatakan, “Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim”. Syaikh Muqbil al Wadi’I dalam al Jami’ al Shahih mimma laisa fi al Shahihain 2/12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.

وقد بَوَّبَ الإمام النسائي على هذا الحديث بقوله: [ما تُختم به تلاوة القرآن].
Hadits ini diberi judul bab oleh Nasai dengan judul “Bacaan penutup setelah membaca al Qur’an”.
(ustadzaris)

Demikianlah apa yang saya dapat dari hasil searching tentang bacaan atau ucapan yang disunnahkan setelah membaca Al-Qur'an. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Senin, 16 April 2012

~Don't Overburden Yourself in Religion~


Assalaamualaikum
~Don't Overburden Yourself in Religion~
http://i40.tinypic.com/2luawpw.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_MSLoNUTORXU/SXfh2wVOxjI/AAAAAAAAAEo/U-UC4AWqWJc/S176/allah-rose.jpg

Allah Subhanuhu wa Ta`ala says in Noble Qur`an
(interpretation of the meaning):

"Allah desires ease for you;
He does not desire difficulty for you."

(Al Qur'an ~ Surah al-Baqara, 185)
http://i40.tinypic.com/2luawpw.jpg
Allah likes the religion
which is true, straight and easy

http://i40.tinypic.com/2luawpw.jpg

Narrated Abu Huraira (may Allah be pleased with him):
The Prophet (peace be upon him) said,

" Religion is very easy
and whoever overburdens himself
in his religion
will not be able to continue in that way.
So you should not be extremists,
but try to be near to perfection
and receive the good tidings
that you will be rewarded;
and gain strength by worshiping
in the mornings, the nights."

(See Fath-ul-Bari, Page 102, Vol 1).

Bukhari Sharif, Volume 1, Book 2, Number 38.

http://i40.tinypic.com/2luawpw.jpg
Do (good) deeds
which is within your capacity

http://i40.tinypic.com/2luawpw.jpg


Narrated 'Aisha (may Allah be pleased with her):

Once the Prophet (peace be upon him) came
while a woman was sitting with me.

He (peace be upon him) asked, "Who is she?"
I replied, "She is so and so,"
and told him about her (excessive) praying.

He (peace be upon him) said disapprovingly,

"Do (good) deeds which is within your capacity
(without being overtaxed)
as Allah does not get tired (of giving rewards)
but (surely) you will get tired
and the best deed (act of Worship)
in the sight of Allah is that
which is done regularly."
 


 Share this POST with maximum number of people you can.
Guiding one soul to knowledge and faith
is a momentous achievement.
It is what will earn us great blessings, Insha Allah!

May Allah accept this little service from us!
(Allahumma-Aameen)

  http://www.alhudainstitute.ca/images/Eid_Banner_2008.png


http://groups.yahoo.com/group/Islam-Science/join

Minggu, 15 April 2012

Atas Nama Cinta

gambr cinta
Atas Nama Cinta. Sebuah kultwit bersama @candramalik. Cinta butuh pengorbanan, mencintai berarti rela melakukan sesuatu demi yang dicintai. Mencitai berarti segala perbuatan didedikasikan untuk yang dicintai. Mari kita simak.

1. Bismillaahi 'r-rahmaani 'r-rahiim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
2. Bismillah.. Ayat pertama dari Q.S. Al Fatihah ini sangat akrab dengan keseharian umat Muhammad S.A.W.
3. Bismillah... Ayat ini merupakan pembuka dari segala pembuka pintu rahmat Allah.
4. Dalam Hadits Qudsi, Allah menetapkan Kasih SayangNya melebihi segala hal, termasuk KemurkaanNya sendiri.
5. Kalimat "dengan menyebut nama Allah" sesungguhnya bukanlah sekadar ucapan tanpa makna, melainkan peneguhan.
6. Ayat "bismillah..." meneguhkan bahwa siapa pun yang mengucapkannya sedang bertindak atas nama Allah.
7. Yang membaca "Bismillah..", ia sedang menetapkan dirinya sebagai representasi Tuhan di permukaan bumi.
8. Yang membaca "bismillaahi 'r-rahmaani 'r-rahiim", ia menjadi bukan sembarang orang. Ia menjelma wakil Allah.
9. Yang membaca "bismillaahi 'r-rahmaani 'r-rahiim", ia menjelma wakil Allah. Menjadi lambang CintaNya.
10. Setiap saat seseorang membaca basmalah, seketika itu pula ia memakai jubah keagungan Rahmaan Rahiim Allah.
11. Setiap saat seseorang membaca basmalah, ia mengibarkan panji-panji Cinta dan Kasih SayangNya.
12. Pengucap "bismi 'l-laahi 'r-rahmaani 'r-rahiim" mewujud simbol Kehadiran Tuhan untuk menyentuh hati sesama.
13. Dengan basmalah, ia menemani yang sedih dan khawatir, merawat mereka yang sepi dan merasa ditinggalkan.
14. Pelayanan dan pertolongan pada sesama menjadi pelaksanaan dari menyebut nama Allah Maha Pengasih & Penyayang.
15. Ia yang menyebut nama Allah sekaligus menempatkan dirinya sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.
16. Q.S. Al Ashr menyebut golongan manusia yang tidak merugi: orang beriman, berbuat baik, dan saling menasihati.
17. Golongan Al Ashr saling menasihati tentang hanya Allah Yang Maha Benar dan sabar atas keadaan masing-masing.
18. Kearifan para guru pun mengajarkan Kasih Sayang tak cuma dengan menimang, tapi juga menuntun dan melepaskan
19. Cinta Allah adalah Kasih Sayang yang hakiki. Allah memberi tanpa diminta dan menjaga tiada jeda tiada lena.
20. Dalam Q.S. Al Baqarah ayat 255, Allah menegaskan, Dia bahkan tidak tidur tidak pula mengantuk. Dia Terjaga.
21. Allah Maha Welas Asih. Dia menerbitkan dan menenggelamkan matahari meski tak ada yang memohonnya. Harmoni.
22. Allah mengalirkan nafas dan mengeluarkan keringat dari pori-pori tanpa manusia sadar untuk syukur setiap saat.
23. Siapa yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, sebagaimana Q.S Al Anfal ayat 2, dialah Pecinta Allah.
24. Siapa yang menyebut nama Allah terus-menerus dan tiada berhenti, dialah Sang Kekasih yang merindukan Allah.
25. Dengan basmalah, ia bertindak atas nama Allah tidak membawa dan menyampaikan apa pun selain Kasih SayangNya.
26. Siapa yang senantiasa menyebut nama Allah sesungguhnya ia mencintai Allah dan Allah mencintainya.
27. Terhadap KekasihNya, Allah menjadi penglihatan baginya melihat, mewujud pendengaran baginya mendengar.
28. Terhadap KekasihNya, Allah merupa peneguh baginya berpegang, dan menjelma pijakan baginya melangkah.
29. Ia yang selalu mendekat kepada Allah menyediakan dirinya untuk menjadi cermin dari sifat dan perilaku Tuhan.
30. Bismillaahi 'r-rahmaani 'r-rahiim. Siapa menyebut nama Sang Rahman Rahiim, ia tak lagi memelihara kebencian.
31. Siapa pun yang bergerak, atau tidak bergerak, atas nama Rahmaan Rahiim, maka sesungguhnya Allah bersamanya.
32. "La tahzan, inna 'l-laaha ma'ana. Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita," Q.S. At Taubah 40.
33. Siapa pun yang berada di wilayah ketuhanan Allah Rahmaan Rahiim, ia aman dari segala jangkauan keburukan.
34. Cinta bagai matahari. Meski sangat jauh dari bumi; cahaya, sinar, dan panasnya menembus pori-pori manusia.
35. Cinta juga ibarat angin; terasa kehadirannya meski tak tampak. Ia hadir, bahkan manunggal dengan nafas.
36. Dengan menyebut nama Allah, semoga kita adalah orang-orang yang sabar menghadapi kebencian dengan cinta..
37. Dengan menyebut nama Allah, semoga kita adalah orang-orang yang sabar menghadapi permusuhan dengan kasih.
38. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersabar," kata Allah, dalam Q.S. Ali Imran ayat 146.
39. Bismi 'l-laahi 'r-rahmaani 'r-rahiim. Atas nama Allah, aku berikrar: akulah Cinta bagi semesta raya seisinya.
40. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang diriku sendiri, dari hawa-nafsuku sendiri.
Sekian, kultwit #ATASNAMACINTA. Demi Cinta. Jika ingin follow @candramalik silakan. Tapi jangan aneh dengan kicauannya yang sedikit 'nyeleneh', bahasa yang belum tentu bisa dipahami orang awam yang sedikit cintanya kepada Sang Maha Pencinta.

Senin, 02 April 2012

April Move

get a move on

April!!! 

Mumpung masih awal bulan, kayaknya masih pas waktunya. Jadi belum kadaluarsa gitu. Hehe...

Bulan April biasanya disambut dengan suatu budaya barat, yaitu April Mop atau April Fools Day. Dimana setiap orang yang turut merayakan tradisi ini melakukan sesuatu untuk menjahilli atau mengisengi temannya. Kalau dipikir-pikir, apa ya gunanya? Rasanya nggak ada gunanya ya? Karena itulah, saya beranggapan bahwa yang merayakan April Fools Day adalah orang-orang Fools (bodoh).

Mau nggak disebut orang bodoh? Nggak kan? Kalo gitu jangan ikut ngerayain. Ada alternatif lain, saya sebut April Move! Gerakan bulan April. Gerakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebenarnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik tidak harus di bulan April. Di setiap bulan, setiap hari, setiap saat pun harus menjadi moment untuk berubah. Hanya saja, di bulan April ini banyak orang yang merayakan aktivitas tak berguna, jadi saya menyarankan untuk mengganti kebiasaan itu dengan aktivitas yang lebih berguna. Hehe..

Gerakan perubahan ini tergantung masing-masing orang, orang itu sendiri yang tahu keadaannya, apa yang harus diubah, apa yang cukup, apa yang harus dipertahankan. Berikut ini tips untuk menjadi pribadi yang lebih baik. :)

1. Anda pikirin dulu apa sih yang mau dirubah.
contoh: anda ini seorang yang pemalu, penakut, anda ingin pandai berjualan, anda ini seorang yang bodoh dan anda ingin merubahnya menjadi seorang yang pintar, anda ingin menjadi orang yang terkenal.dan lain2

2. Ambil keputusan untuk berubah
mengambil sebuah keputusan untuk berubah inilah yang kebanyakan orang susah untuk melakukannya. mengambil keputusan ini bergantung kepada diri anda sendiri, sekarang apakah anda mau berubah???? anda sendiri yang tahu jawabannya,…

3. Belajar (Apa yang mau anda rubah)
setelah anda tau apa yang mau dirubah, kemudian anda telah mengambil keputusan untuk berubah. selanjutnya belajarlah semua hal yang bisa membuat anda berubah. misalkan anda ingin menjadi terkenal seperti tukul, sule atau yang lain. anda belajarlah dari mereka, kenapa mereka bisa terkenal??
perbanyaklah pertanyaan2 dalam diri anda, kemudian jawablah pertanyaan itu…

4. Berubahlah perlahan-lahan
dalam melakukan perubahan sebaiknya perlahan-lahan, karena bisa membuat anda cepat bosan atau jenuh. selain itu agar orang2 di sekitar anda tidak berfikir aneh tentang anda.

5. Konsistensi
dalam melakukan suatu perubahan kita harus tetap konsistensi pada apa yang mau kita rubah. Konsistensi, keteguhan terhadap tujuan, dan usaha/pengembangan yang tak kerkesudahan, tetaplah diperlukan walau seseorang telah mulai berhasil mencapai target-target dalam hidupnya. keteguhan pada prinsip, atau pun untuk hal-hal sepele, adalah garansi kesuksesan. Konsisten, konsistensi adalah kata lain untuk tidak mencla-mencle. (andika)

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates