Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2018

Tugas


Setiap muslim punya tugas untuk mengajakan orang lain ke arah kebaikan. Tidak harus jadi orang yang sempurna untuk melakukannya. Sebagaimana seorang guru di sekolah, mereka punya tugas untuk mengajar muridnya. Lantas apakah sang guru adalah orang yang sempurna? Tentu saja tidak. Banyak orang yang sudah jadi guru tapi kuliah lagi, mereka ingin menambah ilmu, agar menjadi lebih baik.


Ketika seorang guru memberikan pelajaran, apakah ia menganggap muridnya bodoh? Tentu tidak. ia memberikan pelajaran karena memang tugasnya demikian. Selain itu jika niatnya tulus, tujuan seorang guru mengajar adalah agar muridnya paham materi, ilmunya bertambah, dan menjadi orang yang berguna di suatu hari nanti.


Kita berimajinasi sebentar yuk! Coba bayangkan seorang murid berkata seperti ini kepada gurunya? "ngapain bu guru ngajarin kami? emangnya ibu sudah sempurna?", "ibu nggak usah sok pinter deh, pake ngajarin kami segala?" Kira-kira kalau ada murid berkata demikian itu wajar nggak? lumrah nggak? bagus nggak?

Sekarang coba terapkan dalam bidang dakwah. Jika seseorang mendakwahimu, bukan berarti dia menganggap kamu bodoh, goblok, dsb. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim. Justru dia ingin mengajakmu kepada kebaikan, agar kamu paham mana yang salah dan mana yang benar, agar hidupmu tidak sia-sia, dan agar kamu tidak menyesal di suatu hari nanti.

Persoalannya, seringkali masyarakat kita jika didakwahi banyak yang membantah dengan kalimat "jangan sok suci lo!" atau "ngapain lu nasihatin gue? emangnya lu udah sempurna?". Jika dibalikkan justru yang merasa sok suci adalah orang yang tidak mau diberi nasihat. Begitu juga yang merasa sempurna adalah orang yang merasa tidak perlu nasihat orang lain.

Dakwah adalah tugas setiap orang muslim. Jika kami berdakwah, bukan berarti kami merasa sebagai orang suci atau sempurna.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110)

Bandung, 25 Ramadhan 1439 H
Andreansyah Dwiwibowo
Andre Tauladan

Rabu, 30 Mei 2018

Hati-hati Kena Tilang


Sekali-kali pengen gitu bikin postingan kontroversi. Eh, nanti dulu! Maksud kontroversi itu bukan berarti mau ngajak debat atau pengen cari musuh. Contohnya seperti video ini. Dua orang polisi bikin semacam "operasi" di suatu tempat, cuma berdua! Mereka nyetop beberapa kendaraan buat ditanya surat-surat kelengkapannya dan menindak kalo memang ada pelanggaran.

Nah...!!! permasalahannya saya kan ga tau aturan kepolisian tentang operasi semacam ini. Kalau lagi di jalan terus nyetop satu kendaraan yang terlihat melanggar mungkin boleh dan ada aturannya ya... Tapi kalo ini kan bukan ngejar satu kendaraan, jelas banget mereka ngepos di situ terus nyetop beberapa kendaraan dan jelas ini bukan operasi resmi. 

Emang boleh ya?

Btw, saya ga tau ini kejadian kapan, dimana, dan bagaimana kronologisnya. Kalo saya lihat sih, pemotor pertama memang jelas melanggar karena ga pake helm. Tapi, itu uang 100ribuan kan yang dikantongin polisi? Pengendara lain yang disetop mah dapet surat tilang.


Andre Tauladan

Minggu, 26 Maret 2017

Yang halal bikin heboh, yang haram biasa saja

Hm... lama nggak posting ya???

rokim - tampi - madiun

Beberapa hari yang lalu sempat viral (ramai) berita tentang seorang pemuda 24 tahun yang menikahi seorang janda 67 tahun. Berbagai respon muncul dari masyarakat kita. Mulai dari respon positif, nyeleneh, sampai yang negatif. Beberapa orang menyatakan salut karena sang pemuda mau menerima wanita yang dinikahinya dalam kondisi apa adanya. Komentar lain terlontar dari para jomblo yang bertahun-tahun tidak punya pacar, menikah pun tidak. Sedangkan segelintir orang berpikiran negatif bahwa sang pemuda menikahi janda karena tergiur hartanya, padahal kenyataannya mereka berdua hidup dalam keadaan yang jauh dari status mewah. Terlepas dari apapun komentar mereka, saya melihat masyarakat kita lebih mudah merespon sesuatu yang halal tetapi tidak umum, daripada yang haram padahal sudah umum.

Cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Namun, ada hubungan cinta yang halal, ada juga yang haram. Bagaimanapun juga, hubungan antara dua orang yang usianya terpaut cukup jauh yang sempat viral tadi adalah sesuatu yang halal, karena mereka menikah sesuai dengan aturan yang ada dalam agama. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak perlu disikapi dengan heboh pula. Di sisi lain, terdapat fenomena keharaman yang seharusnya mendapat respon lebih serius. Kira-kira fenomena apakah itu?

Pacaran. Ya! Pacaran adalah hubungan cinta antara dua insan yang terjalin yang seharusnya ditinggalkan. Bukan masalah cintanya, tetapi ikatannya. Miris memang, fenomena ini justru dianggap biasa oleh masyarakat kita. Teman-teman ada yang masih jomblo? (adaaaaaa.....). Tidak perlu malu menjadi jomblo, in syaa Allah itu lebih baik daripada punya pacar.

Ada satu hal yang sangat aneh di kalangan masyarakat kita. Sebut saja keluarga A, punya anak gadis yang sudah masuk usia 21 tahun. Gadis ini sudah pacaran kurang lebih tiga tahun. Singkat cerita, pacar si gadis datang untuk melamar tetapi ditolak karena sang Ayah menganggap si pemuda tadi kurang mapan. Dari kisah singkat ini dapat disimpulkan bahwa sang Ayah lebih rela anaknya dipacari daripada dinikahi. Kisah seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Fenomena lainnya adalah pelacuran. Telinga kita pasti sudah sangat familiar dengan kata "Om-om". Setiap kali mendengar atau membaca kata "om-om" biasanya pikiran kita langsung beranggapan negatif. Kata "om-om" sering diartikan sebagai bapak-bapak hidung belang yang kalau "jalan-jalan" selalu bawa perempuan, dan perempuan yang diajak "jalan-jalan" oleh "om-om" itu biasanya yang masih muda, entah itu usia SMA atau kuliahan. Sekali lagi, masyarakat kita tidak heboh dengan fenomena ini.

Uraian yang saya sampaikan diatas perlu menjadi perhatian kita, khususnya umat muslim. Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang itu. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim masih belum bisa mencegah budaya pacaran, bahkan hingga anak SD pun sekarang sudah banyak yang pacaran. Bagi para orang tua, sangat penting menanamkan nilai-nilai islam kepada anaknya, dan jika anaknya sudah sampai usia ideal untuk menikah sebaiknya dipermudah karena itu bagian dari ibadah, bukan justru dipersulit dengan setumpuk syarat yang akhirnya membebani orang yang melamarnya.
Andre Tauladan
Andre Tauladan

Senin, 29 Juni 2015

Damai? Coba Fikir Lagi Pak!

Lagi-lagi Om WhaPhres bikin pernyataan yang ngaco. Om WhaPhres menyatakan bahwa umat Islam Indonesia patut bersyukur karena dapat berpuasa dengan damai. Ya, kalo memang yang dimaksud adalah bisa puasa tanpa ada konflik, serangan bom, atau perang memang benar. Tapi benarkah umat Islam Indonesia bisa berpuasa dengan damai?

Suasana berpuasa di Indonesia memang tidak ada konflik atau perang, tetapi 'godaan'nya tetap ada. Godaan yang dimaksud adalah perbuatan maksiat yang tidak terbatas. Di bulan ramadhan banyak orang yang berpacaran, wanita berpakaian ketat, aurat yang terbuka, dan banyak orang yang tidak berpuasa makan dengan bebas. Dengan keadaan seperti itu mustahil orang bisa berpuasa dengan tenang, kecuali orang yang diam di masjid dari subuh sampai petang.

Selain itu masih banyaknya anak-anak yang bermain petasan, sungguh tidak membuat tenang. Om WhaPhres juga nampaknya tidak tahu acara-acara TV di bulan Ramadhan banyak yang sangat merusak ibadah shaum. Mungkin jika puasa yang dimaksud oleh si Om adalah puasa yang hanya menahan lapar dan haus sih iya. Tapi puasa kan menahan yang lain juga.
Do And Donts Ramadhan

Di negara endonesah ini bukan ibadah yang bisa dilaksanakan dengan tenang, tapi maksiat. Jadi, Republika sebaiknya ganti judul artikel itu jadi "Umat Islam Indonesia bisa melakukan maksiat dengan damai".
Andre Tauladan

Sabtu, 13 Juni 2015

Murotal Kaset di Masjid? Jangan Deh...

Baru-baru ini seorang pejabat di Endonesah sebut saja namanya Pak WhaPhrez (bukan nama sebenarnya) mengutarakan pernyataan yang menjadi kontroversi di masyarakat. Pasalnya, dia mengatakan bahwa suara murotal dari kaset yang sering diputar di masjid-masjid adalah polusi suara

Walaupun tidak setuju dengan pernyataan polusi suaranya tapi saya setuju anjuran untuk tidak memutar kaset murotal di masjid-masjid. Tapi...
toa masjid

Saya sarankan buat Pak WhaPhrez sebelum anda melarang murotal kaset di masjid-masjid, sebaiknya anda lihat dulu kondisi di masyarakat. Saya lihat ada upaya de-islam-isasi dari Pak WhaPhrez. Kondisi masyarakat saat ini saya rasa sudah cukup jauh dari tuntunan agama. Keadaan ini diperparah oleh pernyataan Pak WhaPhrez yang seolah ingin membuat masyarakat nyaris tidak beragama, atau setidaknya masyarakat beragama tanpa tuntunan.

Daripada melarang pemutaran kaset murotal di masjid, sebaiknya Pak WhaPhrez mengajak membudayakan tilawah atau tadarus di negara Endonesah ini. Suatu saat, jika masyarakat sudah terbiasa tilawah manual, maka di masjid-masjid pun otomatis tidak akan ada suara murotal dari kaset-kaset lagi. Jadi, saya setuju kalo pemutaran kaset pengajian di masjid-masjid itu dihentikan, diganti oleh ngaji manual. Yah, itu saran saya kalo Pak WhaPhrez ngeles dari tuduhan saya (tuduhan deislamisasi).

Tapi, nampaknya walaupun Pak WhaPhrez nggak akan bisa ngeles. Toh, dia mengatakan bahwa suara pengajian di speaker itu polusi suara. Jadi, walaupun yang ngaji bukan kaset tapi ngaji manual, tetap akan disebut polusi suara. Sayangnya si Pak WhaPhrez ini nggak pernah bikin pernyataan bahwa konser musik, letusan kembang api, dan terompet tahun baru sebagai polusi suara. Jadi, jelaslah bahwa pernyataannya itu adalah upaya de-islam-isasi. Yah, mungkin Pak WhaPhrez hatinya sudah keras. Sehingga hatinya tidak bergetar ketika mendengar ayat Allah dibacakan. Atau, jika saya boleh menyampaikan tuduhan lain, saya rasa Pak WhaPrez ini sudah mulai mengikuti jalannya orang-orang Nasrani dan Yahudi.

Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayatnya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal."
(Al-Anfal:2)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..
(al Baqarah 120)
Andre Tauladan

Selasa, 21 April 2015

Infopurwokerto.info Persembahan Dari Seorang Tunanetra

Setiap orang pasti akan mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Di antara sekian banyak orang ada yang diuji dalam bentuk musibah, kesengsaraan, kemiskinan, atau ujian dalam bentuk fisik. Misalnya keterbatasan dalam penglihatan atau lebih sering disebut dengan tunanetra. Namun, bagi orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, ujian seperti itu tidak akan menghalangi mereka untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Mereka juga tetap memiliki keinginan untuk dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan oleh orang normal. Di antaranya adalah berbagi informasi dengan orang lain melalui internet.

Salah satu situs yang dikelola oleh tunanetra adalah www.infopurwokerto.info. Situs ini dikelola oleh Ardynal Purbowo. Berbeda dengan situs milik tunanetra lain yang cenderung berisi cerita pengalaman pribadi, situs ini berisi informasi umum seputar Purwokerto. Sang pengelola situs menuturkan bahwa situs tersebut memang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin tahu Purwokerto. Situs ini dipublish sejak tahun 2014. Tampilannya memang sederhana, tidak terlalu banyak menggunakan script sehingga membuat waktu loadingnya pun cepat.

Mengapa saya tertarik mereview situs ini? Karena pagi ini, tadi banget saya baru sarapan bubur ayam di depan lapangan Gemplang. Apa hubungannya? Hubungannya adalah saya bukan orang Purwokerto asli, pagi ini saya ingin sarapan dan ketika melakukan pencarian di Google saya menemukan situs ini. Dari situs ini saya akhirnya dapat menemukan tempat sarapan yang enak. Dari informasi tersebut saya berlanjut ke artikel-artikel lainnya di situs ini hingga akhirnya saya tahu bahwa pengelola (pemilik) situs tersebut adalah seorang tunanetra.

Di situs ini juga pengelola memberikan informasi seputar ongkos transportasi, harga bahan dasar makan, harga makanan jadi, dan beberapa lokasi penting di Purwokerto. Misalnya, lokasi rumah sakit, poliklinik, tempat makan, bank, dan kantor pos. Memang informasi seperti itu bisa didapatkan dari situs lain. Namun yang membuat saya kagum adalah kerja keras sang pemilik situs dalam berbagi informasi dalam keadaannya yang terbatas. Dia memang memiliki keterbatasan penglihatan, namun dia yang menuntun saya untuk bisa berjalan di Purwokerto ini. Singkatnya, dilihat dari sudut pandang wawasan tentang Purwokerto sebenarnya saya yang buta, bukan dia.

Keterbatasan bukan halangan untuk berbuat baik.

Andre Tauladan

Kamis, 16 April 2015

Mau sampai kapan?

Siang ini lagi-lagi saya kepikiran buat nulis tentang perilaku masyarakat yang nggak taat aturan. Sebabnya, tadi saya melihat orang menyeberang sembarangan padahal ada zebra cross tak jauh dari tempat dia menyeberang. Tanpa bertanya apa alasan mereka melanggar peraturan, saya berasumsi bahwa mereka melakukannya karena 'sudah biasa'. Mungkin ada di antara mereka yang melakukannya karena kepepet. Yah, itu mah dimaklum aja deh. Yang mau saya bahas di sini adalah yang 'sudah biasa'. Dari kebiasaan itu muncul pertanyaan 'mau sampai kapan?'

Kalo ngebahas soal perilaku melanggar saya sering keingetan 'lingkaran setan'. Lingkaran setan yang saya maksud adalah budaya saling menyalahkan. Contohnya, jumlah tempat sampah yang tersedia di lingkungan saya tinggal terbilang sedikit. Dari keadaan itu timbullah fenomena lingkaran setan. Masyarakat (yang kesadarannya kurang) membuang sampah sembarangan dengan dalih tidak ada tempat sampah. Pemerintah juga (yang putus asa) tidak lagi menyediakan tempat sampah dengan dalih disediakan tempat sampah pun masyarakat buang sampah sembarangan. Jadi, masyarakat dan pemerintah saling menuduh siapa yang salah. Tidak ada yang mau sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya. Semestinya pemerintah menyediakan tempat sampah walaupun masyarakat masih banyak yang tidak sadar. Masyarakat juga seharusnya sadar jika tidak ada tempat sampah yang dekat, tahanlah, jangan buang sembarangan.

Fenomena lingkaran setan seperti itu tidak pernah usai. Akibatnya masyarakat terbiasa melakukan pelanggaran. Dari kebiasaan satu orang menular ke orang lain hingga semakin banyak orang yang melakukan pelanggaran. Dari pelanggaran banyak orang kemudian muncul orang-orang 'baru' yang mencoba melanggar dengan menganggap bahwa pelanggaran itu benar. Dalam sebuah acara tv bertema kegiatan polisi menampilkan penilangan terhadap pelanggar lalu lintas. Banyak di antara pelanggar itu menolak ditilang dengan alasan 'biasanya lewat sini tidak apa-apa'.

Memang sulit jika masih tidak ada kesadaran dalam diri masing-masing untuk menaati peraturan. Sebesar apapun usaha petugas menegakkan aturan, akan selalu ada pelanggaran. Ketika peringatan tidak diindahkan, pemerintah mencoba menerapkan aturan denda. Ketika denda pun tidak mempan, diambillah tindakan tegas. Namun, tindakan tegas itu malah dianggap tidak berbelas kasih. Entah mau sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut.
Andre Tauladan

Rabu, 08 April 2015

⇨JANGANLAH BERSIKAP SOMBONG⇦

Suatu hari mungkin kita menemui suatu kemudahan dalam urusan kita. Orang lain bertanya kepada kita bagaimana cara anda menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan lantang dan bangganya anda menjawab
"Siapa dulu doonk...ini kan semua berkat usaha keras saya"
"Nah, dari contoh di atas kita sering membanggakan diri kita, dan merendahkan orang lain yang kita anggap di bawah kita kedudukannya. Atau mungkin merasa memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain."
Sehingga mengejek atau bahkan merendahkan martabat orang lain. Na'udzubillah. Kita tidak mengetahui siapa zat yang memudahkan urusan kita hingga berhasil seperti itu. Kita tidak menyadari, bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya. Atau mungkin saat itu nyawa kita dicabut sehingga kita menjadi orang yang merugi karena mati dalam keadaan su'ul khatimah (mati dalam keburukan)?

Disinilah, saya berusaha membahas mengenai larangan sombong dalam Islam. Sampai-sampai Rosulullah saw sendiri sangat membenci orang-orang yang sombong.
Pengertian sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain.
Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dabat menjelekkanorang lain. Padahal Allah telah melarang kita dlm firmanNya:
QS. Al Luqman {31}:18
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sementara itu ada sebuah teladan yang di ambil dari imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya.
Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya.
Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka Sungguh ini tergolong kesobongan yang paling besar.
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah(biji sawi) Laa haula wa la quwwata illa billah.”
Jangan SOMBONG
Eits.. tunggu dulu....
Kita ingin selamat dunia ataukah dunia-akhirat. Sebab, kita tentu masih punya kewibawaan meskipun sikap kita tidak berbanggga-bangga diri. Bahkan orang lain akan lebih menghargai dan menghormati kita karena kita menghargai orang lain.
Bahkan Allah menantang kita dlm firmanNya :
QS. Al Isra’ {17}:37
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dgn sombong karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
"Wah, tentu kita keberatan bila kita disuruh menembus bumi dan tinggi badan kita tidak dapat menyamai gunung-gunung yang ada di Bumi. Bagaimana caranya? Terkadang untuk melakukan sesuatu kita juga butuh orang lain. Meskipun kita berkuasa, toh ujungnya kita memerintahkan orang lain berbuat sesuatu. Bukankah begitu ?
Begitu saja kok sombong. Oleh karena itu seharusnya kita tidak boleh sombong. Hargai orang lain dan perdulikan nasib orang lain. Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi kita khususnya pemimpin-pemimpin negeri ini. Jangan sampai mengorbankan rakyat hanya untuk keperluan pribadi. Ingatlah kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Rabb semesta alam ini.....
Siapakah diri kita...???
Wallohu A'lam bi shawab...
Smoga bermanfaat
Andre Tauladan

Senin, 06 April 2015

Mungkin Karena Indonesia Bukan Negara Islam

Lagi-lagi terlintas pikiran iseng yang ada hubungannya dengan tema ini. Indonesia Bukan Negara Islam. Kalimat yang sering sekali ditemui di kehidupan masyarakat yang notabene banyak sekali penduduk muslimnya. Sedih memang sedih. Ulama-ulama hanya bisa memberikan dakwah baik melalui lisan maupun tulisan yang disajikan di media cetak dan media elektronik. Tak terlalu besar pengaruhnya. Keadaan seperti ini saja masih banyak yang belum menyadari bahwa dari sekian banyak ulama ada di antara mereka yang memiliki kepentingan duniawi. Entah itu untuk popularitas atau materi. Yah, keadaan di Indonesia ini jauh dari nilai islami mungkin karena INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM.

Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang pacaran dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang berzina dimaklumi.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi yang mencuri dipenjara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat toko tetap buka.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi waktu sholat transaksi tetap berlanjut.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi sholat-nggak sholat nggak masalah.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bulan ramadhan nggak puasa nyantai aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pamer aurat dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi iklan di media ngumbar aurat.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masjid banyak yang kosong.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pemerintah bohong dibiarin aja.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak perlu dipake.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi aturan islam nggak cocok.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi boleh bikin aturan baru.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi orang kafir boleh jadi pemimpin.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi perjudian diizinkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi miras boleh beredar.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi menzhalimi orang lain via asap rokok dibiarkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mau pake jilbab aja nunggu izin komandan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi zakat bukan tanggung jawab negara.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi pernikahan dipersulit.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek syirik tidak dimusnahkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi dukun bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi mencela orang juga bisa eksis di media.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bencong dan banci (sama aja hehe) berkeliaran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi bisa akur sama amiriki dan iran.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi masalah jihad dianggap radikal.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi praktek dari Al Qur'an dan sunnah harus dipilih-pilih yang sesuai UUD '45 dan Pancasila, yang nggak sesuai jangan dipraktekkan.
Mungkin karena Indonesia Bukan Negara Islam, jadi syari'at islam tidak boleh ditegakkan.
Yah, itu hanya kemungkinan saja.
Andre Tauladan

Minggu, 08 Maret 2015

Fanatik, Emang Kamu Tahu Artinya?

"Udahlah, jangan terlalu fanatik sama agama!"
Brothers and sisters, pernah nggak kamu disebut fanatik oleh seseorang gara-gara kamu menolak sesuatu yang nggak sesuai aturan agama? Pasti ada beberapa orang yang pernah. Tapi bener nggak sih apa yang dikatakan orang itu? Apakah kamu memang fanatik? Biar tahu jawabannya, sekarang kita bahas apa itu fanatik dan seperti apa orang yang fanatik.

Kata fanatik berasal dari bahasa Inggris "fanatic". Menurut kamus Oxford (ciye, mainannya Oxford) fanatik adalah seseorang yang memiliki semangat berlebihan dalam urusan politik atau agama. Kata yang sama dapat juga diartikan sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat terhadap aktivitas tertentu. Sedangkan menurut KBBI, fanatik adalah keyakinan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Nah, dari keterangan tersebut kalo kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama berarti kamu memang fanatik. Tapi itu cuma kesimpulan awal. Lebih baik kita perdalam lagi pembahasan ini.

Dari beberapa definisi di atas ada kata yang menjadikan sesuatu disebut fanatik atau tidak, kata tersebut adalah "terlalu" atau "berlebihan". Sekarang mari kita berfikir sejenak apakah ketika melakukan sesuatu karena pertimbangan agama itu termasuk sesuatu yang berlebihan atau tidak? Saya pribadi merasa tidak. Kata "fanatik" seringkali ditujukan untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama dan politik walaupun tidak jarang dikaitkan dengan olahraga, misalnya "supporter fanatik". Tetapi, ternyata ada perbedaan persepsi diantara julukan fanatik yang ada. Seseorang dikatakan fanatik terhadap klub sepakbola tertentu atau partai politik tertentu jika mereka memberikan dukungan atan pembelaan yang memang berlebihan. Tetapi dalam urusan agama, kata "fanatik" lebih sering ditujukan kepada orang yang ingin melaksanakan aturan agama sebaik-baiknya.

Jika melaksanakan aturan disebut fanatik maka polisi juga dapat disebut fanatik. Ketika seorang polisi menilang pelanggar lalu lintas berarti ia fanatik terhadap aturan lalu lintas. Ketika seorang polisi menangkap pencuri atau pelaku kriminal lain berarti ia juga fanatik terhadap aturan kepolisian yang berlaku. Tapi apakah tepat jika polisi disebut fanatik? Jika tidak, maka orang yang ingin melaksanakan aturan agama juga tidak tepat disebut fanatik.

Seseorang yang berusaha untuk menaati aturan agama bukan fanatik, justru dia orang baik dan ingin selamat dalam hidupnya. Seperti halnya pengemudi kendaraan yang berhenti saat lampu merah dan melaju saat lampu hijau. Orang yang ingin taat terhadap aturan agama juga tidak bisa dikatakan "merasa benar sendiri". Layaknya seseorang yang ditilang oleh polisi, ia tidak bisa mengatakan polisi itu merasa benar sendiri. Semua sudah ada aturannya. Jadi ketika kamu melakukan atau menghindari sesuatu karena alasan agama, sebenarnya kamu itu tidak fanatik.

Kata fanatik tepat jika ditujukan kepada orang-orang politik yang merasa partainya yang paling baik. Tepat karena perasaan "paling baik" itu tidak berkaitan dengan aturan partai. Sejauh yang saya tahu (padahal nggak tahu apa-apa) tidak ada satu partai pun yang dalam AD/ARTnya mengatakan bahwa partai itu adalah yang terbaik. Hal ini berlaku juga bagi para supporter klub sepakbola. Kata "klub terbaik" bukanlah sebuah aturan dalam dunia sepakbola, melainkan hasil dari apa yang diusahakan oleh masing-masing klub. Jadi ketika sebuah klub berada di klasemen tengah atau bawah tetapi banyak supporter yang tetap menganggapnya terbaik, maka supporter itu tepat jika disebut supporter fanatik. Jika seorang politisi atau pendukung partai melihat keburukan dalam partainya tetapi keukeuh menganggap partainya adalah partai terbaik berarti dia adalah politisi atau pendukung yang fanatik.

Gitu aja sih kesimpulan saya mah. Yah, kalo mau beda pendapat boleh lah... Komen aja, tapi jangan memaksa saya harus sependapat dengan kesimpulan kamu. Hihi... :D
*tulisan ini dibuat dengan harapan nggak ada lagi sebutan "fanatik" buat orang yang ingin menaati aturan agamanya.

Andre Tauladan

Sabtu, 24 Mei 2014

Nitip

"Oy Bro, mau ke mana?"
"Ya ke masjidlah, kan udah adzan. Ente mau ikut?"
"Oh iya, ane nitip aja dah"

Bagi saya, obrolan seperti itu udah nggak aneh. Bingung juga sih, kok bisa-bisanya mereka menganggap remeh suatu kegiatan ibadah. Pengen banget jawab "iya nanti ane titipin salam ke malaikat Izrail". Tapi saya nggak bisa bilang gitu walaupun hanya bercada. Saya nggak berani bawa-bawa malaikat untuk bercanda, emangnya siapa saya? Berani-beraninya ngajak ngobrol sama malaikat, mau titip-titip salam segala.

Nitip.
Entah apa yang ada di pikiran mereka. Seolah-olah ibadah ini disamakan dengan kuliah yang (kadang) bisa nitip absen. Kesalahan mereka berlipat ganda. Satu, mereka tidak mendirikan salat. Dua, mereka bercanda dengan agama. Padahal, bercanda tentang agama adalah sesuatu yang dilarang. Tapi, jangankan untuk masalah gituan, ibadah yang wajib aja mereka abaikan.

Nitip.
Nitip ibadah? Ah, yang bener aja lu Don!. Enak banget ya? Ane yang ibadah, terus ente dapet pahala juga.
Ah, seandainya bisa, besok-besok ente yang kerja tapi gajinya buat ane ya? Ente olahraga tapi sehatnya buat ane juga dong. Ente yang makan tapi ane yang kenyang. Atau biar lebih enak, kalo ente punya anak, biar anak ente yang sekolah, tambahin biaya ekstra buat ikutan bimbel, habisin waktu malamnya buat belajar, biar ekstra mikir pas ujian, tapi nanti nilai ujiannya atas nama anak ane, pinternya buat anak ane. Terus kalo udah gede, biar anak ente yang ngelamar kerja, anak ane yang nempatin posisinya, anak ente yang kerja, anak ane yang dapet gajinya.

Mau???
Kalo nggak mau, lha kenapa ente nitip-nitip segala pas ane mau ibadah?

MIKIR!!!

mikir cak lontong

Andre Tauladan

Kamis, 03 April 2014

Antara 'Ngarab' dan Islam (respon atas pernyataan Gus Dur)


Ngha!
Saat ini minat menulis saya masih bertujuan untuk mengkritik. Sekarang giliran Gus Dur yang saya kritik. Tapi sebelumnya, saya sampaikan lagi bahwa alasan saya mengkritik seseorang bukan karena ketidaksukaan saya kepada orang itu, melainkan karena ketidaksukaan saya terhadap pernyataannya. Kemarin saya menuliskan kritik kepada Aa Gym berkaitan dengan analogi tukang parkirnya. Kali ini, yang saya kritik dari Gus Dur adalah pernyataannya tentang 'Ngarab' atau arabisasi.

Gus Dur adalah tokoh besar di kalangan NU. Gus Dur juga punya banyak pemikiran-pemikiran yang sangat berpengaruh terhadap orang-orang NU, pluralis, dan liberalis. Oleh karena itu setiap pernyataan Gus Dur biasanya dengan mudah akan diiyakan oleh para pengikutnya. Namun, karena saya bukan orang NU, bukan pluralis, bukan juga liberalis jadi saya tidak mudah terpengaruh oleh pemikirannya. Misalnya tentang pernyataan arabisasi-nya.

Gus Dur menyampaikan "Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan' jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi',... Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya." Tidak ada yang salah dalam pernyataan ini hanya saja saya khawatir jika kata-katanya dipahami saklek oleh pengikutnya. Bisa jadi kebudayaan leluhur seperti animisme atau kejawen akan lebih diutamakan oleh orang Jawa daripada budaya Islam. Setahu saya masyarakat umum masih banyak yang belum tahu mana yang budaya Islam dan mana yang budaya Arab. Contohnya, masih banyak yang menganggap kewajiban memakai kerudung bagi wanita adalah budaya Arab, padahal bagi orang Arab kerudung itu bukan kewajiban. Memakai kerudung adalah budaya Arab, tetapi juga kewajiban bagi muslimah. Jadi, walaupun suatu saat wanita Arab nanti semuanya tidak berkerudung, itu tidak akan menghilangkan kewajiban muslimah untuk berkerudung.

Hal lain yang saya khawatirkan adalah pernyataan Gus Dur akan mengurangi semangat orang-orang untuk belajar bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur'an. Saat ini fenomena yang terjadi di masyarakat adalah kurangnya minat belajar bahasa Arab. Malah ada sebagian masyarakat yang suka mengejek bahasa Arab dengan sebutan 'bahasa unta', 'bahasa tukang obat pinggir jalan', dan sebagainya. Sehingga yang terjadi adalah ketika seseorang melakukan shalat, mengaji, ataupun berdoa yang diucapkan tidak ada esensinya. Salah satu contoh akibat dari ketidaktahuan tentang bahasa Arab adalah dalam mengamini suatu do'a banyak orang yang mengucapkan 'amiin' sebelum doa selesai diucapkan. Misalnya ketika dibacakan doa nabi Adam A.S. di akhir suatu tausyiah, ketika ustadz baru membaca "rabbanaa" sudah ada jama'ah yang mengucapkan 'amiin', dilanjut 'zhalamnaa' kembali mengucapkan 'amiin' dan seterusnya di setiap potongan doa yang dibacakan ustadz banyak jama'ah yang langsung mengucapkan 'amiin'. Dalam pengucapan 'amiin' juga banyak yang salah, ucapan yang benar adalah 'aamiin', kesalahan-kesalahan ini terjadi karena ketidaktahuan mereka. Nah, jika masyarakat memahami apa yang disampaikan Gus Dur sebagai pernyataan bahwa kita jangan mempelajari bahasa Arab, maka kemungkinan besar masyarakat akan selalu salah dalam mengucapkan doa, bacaan shalat, ngaji, dan sebagainya.
"Pak, do'a yang bapak ucapkan barusan artinya apa pak?" tanya seorang anak.
"Ah, jangan banyak tanya, yang penting berdo'a, toh dari jaman nenek moyang juga begitu walaupun tidak tahu artinya" jawab bapaknya. 
*mungkin akan seperti itu jika kita hanya mengikuti apa kata leluhur tanpa belajar. 
Saya pribadi memahami apa yang dikatakan Gus Dur sebagai pernyataan bahwa kita belajar bahasa Arab tidak untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Hampir sama, kita belajar bahasa Inggris pun tidak untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan bahasa yang dipelajari itu bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. So, jangan parno belajar bahasa Arab, kita kan sehari-hari melakukan shalat, dalam shalat kita nggak mungkin pakai bahasa Jawa. Iya kan???
Andre Tauladan

Selasa, 01 April 2014

Jangan Seperti Tukang Parkir

link tweet https://twitter.com/aagym/status/110639476916760577
Setiap kehilangan bukan tanggung jawab kami
Aa Gym sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahw kita bisa belajar dari tukang parkir. Karena mereka nggak pernah sedih ketika mobil-mobilnya pergi. Mereka juga tidak sombong dengan banyak kendaraan. Mereka tidak takabur walaupun sering ganti kendaraan. Itu semua karena mereka yakin bahwa segalanya hanya titipan.

Dulu, saya cuma iya-iya saja. Saya cuma manggut-manggut sebagai tanda bahwa saya sepakat. Dulu saya tidak punya kendaraan sendiri, jadi tidak terlalu tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Tapi sekarang saya mengalaminya dan tahu bagaimana kondisi dunia perparkiran. Sekarang saya tidak lagi sepakat dengan Aa. Ini bukan karena saya tidak suka Aa, tapi saya hanya ingin mengoreksi saja. Mengoreksi orang lain itu memang menyenangkan, walaupun saya sendiri tidak suka dikoreksi oleh orang yang tidak saya suka. Saya memang hobi mengkritik, kali ini giliran Aa yang mendapat kritik dari saya. No offense ya a.. :)

Kalimat yang saya kutip di awal postingan ini adalah kalimat yang umum tertulis pada tiket parkir. Walaupun pada beberapa tiket parkir yang lain terdapat kalimat yang berbeda tapi intinya sama saja, yaitu mereka tidak akan bertanggungjawab atas segala kehilangan atau kerusakan pada kendaraan kita. Itu artinya mereka tidak memiliki sifat amanah. Hal lain yang membuat saya berpendapat jangan seperti tukang parkir adalah karena mereka itu selalu meminta bayaran. Tentu saja mereka tidak akan sedih ketika mobil-mobil itu diambil sampai habis karena mereka mendapat bayaran. Jadi mereka itu bukan orang ikhlas. Malah, ada beberapa parkiran yang tidak friendly. Ada tukang parkir yang memberi gratis kepada orang yang dikenalnya, ini adalah tindakan nepotisme. Ada juga beberapa parkiran yang memberatkan orang yang parkir. Misalnya mereka tidak terima dikasih sedikit, mereka punya patokan sendiri. Yang lebih parah lagi adalah parkiran yang memberikan tenggang waktu, jika melebihi batas yang ditentukan maka akan ditambah beban biayanya. Sifat lain dari tukang parkir yang seperti ini adalah mereka ingin untung sendiri. Mereka tidak bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan kita tetapi jika kita kehilangan tiket parkir kita harus membayar lebih.

Kesimpulannya, tukang parkir itu tidak amanah, hanya bisa meminta, tidak mau memberi, rakus, dan ingin untung sendiri.

Sebagai makhluk, kita harus tahu diri. Pesan yang disampaikan oleh Aa memang baik. Kita harus sadar bahwa harya yang saat ini ada pada kita hanyalah titipan sehingga ketika kehilangan kita tidak akan merasa sedih. Kita harus menjadi manusia yang memiliki sifat amanah. Sifat ini harus disertai dengan sikap syukur. Orang yang bersyukur akan menggunakan apa yang dimilikinya di jalan Allah. Orang yang amanah dan bersyukur, akan menggunakan hartanya untuk kebaikan tapi ketika kehilangan ia tidak akan merasa sedih.

Ah... buntu. Segini aja deh tulisan saya kali ini. Intinya, saya setuju dengan pesan yang disampaikan Aa, tapi nggak sepakat dengan analoginya. Saya sendiri tidak tah analogi yang tepat. Ada pendapat?

Andre Tauladan

Kamis, 06 Maret 2014

Pelawak Legendaris Jojon Meninggal Dunia

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun.
jojon meninggal dunia

Kamis (6/3) menjadi hari duka dunia lawak / komedi Indonesia. Pasalnya, pelawak legendaris Jojon telah meninggal dunia. Pelawak bernama asli Djuhri Masdjan ini dikabarkan wafat karena sakit. Saat ini jenazah masih berada di RS di Jakarta Timur. Rencananya akan dimakamkan di Kebon Pedes Bogor, Jawa Barat. Dilihat dari berbagai sumber nampaknya berita kali ini benar. Jojon juga pernah diisukan meninggal dunia pada tahun 2010, tapi itu ternyata hanya isu belaka.

Jojon adalah seorang pelawak legendaris Indonesia dengan ciri khas penampilan bergaya nyentrik. Dia biasa tampil dengan celana menggantung dan kumis pendeknya yang mirip Charlie Chaplin.  Jojon mulai terkenal saat dia membentuk sebuah grup lawak bernama Jayakarta. Grup ini tadinya beranggotakan lima orang. Namun setelah kepergiannya kini, satu-satunya (mantan) anggota yang tersisa adalah H. Cahyono yang kini menjadi pemuka agama.
Andre Tauladan

Sabtu, 22 Februari 2014

Tuhan dan Miras

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Seperti disebutkan di laman Sekretariat Kabinet, Rabu (1/1/2014), dengan Perpres tersebut, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa minuman beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri atau asal impor yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar sampai dengan 5 persen ke atas sebagai barang dalam pengawasan. (kompas)

Miras sekarang semakin menjadi barang yang memasyarakat. Buktinya, hampir di setiap minimarket seperti Alfamart dan Indomaret kini tersedia miras. Kedua minimarket tersebut saat ini sudah merambah kecamatan-kecamatan di berbagai kabupaten. Barang haram ini dipajang di lemari pendingin, setiap pengunjung bebas untuk membelinya. Buat saya sih nggak aneh, hal tersebut terjadi karena ada sebab dan akibat. Suatu barang bisa terus beredar di pasaran karena ada permintaan dan penawaran. Simpelnya, barang itu ada di masyarakat karena masayarakatnya senang mengonsumsinya dan masyarakat menjadi senang mengonsumsinya karena barang tersebut ada di pasaran.
tewas miras oplosan

Keberadaan barang haram di pasaran juga nggak lepas dari peran pemerintah. Pemerintah memang nggak konsisten. Narkoba saja dilarang peredarannya sedangkan miras diperbolehkan padahal sama-sama haramnya. Mestinya jika narkoba dilarang maka miras pun dilarang, sebaliknya jika miras boleh maka narkoba pun harusnya boleh. Dalam penanganan narkoba, baik pengedar, produsen, dan pembeli semuanya kena jerat hukum. Jika begitu maka seharusnya pemakai, penjual, dan produsen miras pun harus kena jerat hukum. Namun sayangnya, mau dihukum gimana kalo mirasnya saja diperbolehkan. Parahnya, presiden menetapkan Perpres itu atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Ngomong-ngomong, tuhannya siapa yang ngebolehin miras ya?

Dalam kasus ini, saya dengan pemikiran sendiri menyatakan bahwa tuhannya si presiden adalah Amerika. Sulit memang menerimanya, karena dia di KTPnya tercantum agama Islam, dia juga kadang shalat, jadi mungkin masih bisa dianggap sebagai muslim. Tapi di dalam hatinya mah nggak tahu gimana pendiriannya. Cuma, saya mah lihat prakteknya aja. Dengan ketidaktahuan saya, saya coba 'ngecablak' seenaknya bahwa produsen miras itu banyak dari Amerika. Ah, Circle-K juga punya Amerika kan ya? Lawson juga? Iya kan?

Hm.. Kalo salah, yah... peduli amat. Presiden juga gak peduli ama gue kalo soal ginian mah. Kecuali kalo gue posting foto gue lagi nginjek foto presiden baru dah dia peduli. :p

Korban tewas miras oplosan di tegal
Korban tewas miras oplosan di mojokerto
Korban tewas miras oplosan di Jawa timur
Korban tewas miras oplosan di bekasi
Korban tewas miras oplosan di bali

Masih banyak lagi kasus dari miras bro.. Buka mata lu bro.. masa harus gua colok sih mata lu.

Andre Tauladan

Kamis, 06 Februari 2014

Info Acara : Talkshow Pendidikan Islami | Halalkah IP-ku?

Manteman, ada acara bagus nih buat para pelajar dan mahasiswa. Walaupun judulnya "Halalkah IP-ku?" tapi ini berlaku juga untuk perntanyaan "Halalkah nilai raporku?". Jadi jika anda pelajar atau mahasiswa jangan hanya mengejar nilai demi kesenangan dunia, tapi juga harus halal karena nilai belajar kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Jangan membohongi diri sendiri, ketika anda mencontek mungkin saja guru atau dosen anda tidak mengetahui perbuatan itu. Bisa saja dosen atau guru anda memberi nilai yang bagus untuk ujian anda. Tapi anda akan merasa hampa ketika melihat nilai bagus itu karena anda tahu bahwa sesungguhnya kemampuan anda tidak selevel dengan nilai bagus itu.

Jadi, bagaimana solusinya? Ikutan yuk acara ini!

MINI TALKSHOW
"HALALKAH IP-KU?"
Dinamika Kejujuran di Dunia Pendidikan

Bersama :
Dr. Syahidin, M.Pd.
Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UPI

Moderator :
M. Ginanjar Eka Arli
Ketua Umum UKM KI Al-Qolam UPI

Waktu & Tempat :
Jumat, 7 Februari 2014
@Ruang Biro 3 Masjid Al-Furqon UPI
Pukul 16.00-17.45

Info : 089627363919

Presented by :
Subbidang Kerohanian
HME FPTK UPI

GRATIS!!!
nilai hasil mencontek halal haram

Andre Tauladan

Sabtu, 18 Januari 2014

Semua itu titipan - Part 2

banjir bandang
link video ;http://www.youtube.com/watch?v=6Wz8ckFFohw
Bismillah.

Hidup mewah dengan harta melimpah memang menjadi dambaan banyak orang. Namun, tidak setiap orang dapat mewujudkan harapan ini, hanya orang tertentu saja yang bisa merasakannya. Orang tertentu yang saya maksud adalah orang yang selalu bekerja keras dan berusaha maksimal dalam usaha mewujudkan harapan tersebut. Akan tetapi, perlu kita sadari bahwa semua harta yang kita 'miliki' itu sebenarnya hanya titipan.

Memang, tidak setiap orang yang memiliki barang mewah akan mengalami kejadian seperti yang dialami oleh korban banjir bandang di Manado. Di sebuah video disebutkan banyak mobil mewah yang terbawa hanyut oleh banjir bandang tersebut. Selain itu sebuah perumahan elit pun tidak luput dari terjangan banjir bandang ini. Citraland Real Estate. Saya tidak tahu pasti seperti apa perumahan ini, namun dari nama dan hasil searching gambar di google, terlihat bahwa perumahan ini adalah kawasan elite.

Itu 'milik' mereka. Yah, milik mereka karena mereka telah berusaha untuk mendapatkannya. Akan tetapi mereka tidak benar-benar memiliki karena saat ini harta tersebut sudah tidak bisa mereka kendalikan. Mereka tidak bisa mengatur apakah harta mereka akan diterjang banjir atau tidak. Saat banjir datang mereka tidak bisa melarang derasnya air 'mencuri' mobil mereka, mengotori rumah mereka, mengambil harta berharga milik mereka.

Jika setiap orang menyadari bahwa semuanya hanya titipan, mereka tidak akan sedih ketika harta mereka hilang, terlebih jika harus hilang oleh bencana alam bukan oleh perampok atau maling. Harta yang hilang oleh maling mungkin bisa dilaporkan ke polisi untuk diusut dan dikembalikan serta menuntut maling tersebut. Tetapi jika harta hilang oleh bencana alam, siapa yang akan dituntut? Tuhan? Tentu saja tidak bisa. Kita sudah diberi kehidupan oleh Tuhan. Tuhan yang memberi kita kemampuan untuk bekerja sehingga kita mampu mencapi apa yang kita inginkan. Sesungguhnya segala sesuatu itu milik Allah, dan akan kembali pada Allah. Tahu kan titipan? Titipan itu artinya cuma ada di kita buat sementara dan yang punya akan mengambilnya kembali. Sadarilah, itu hanya sebuah ujian jika kita orang yang bertakwa. Bersabarlah di atas ujian.
Itu hanya titipan part 1
Andre Tauladan

Kamis, 13 Juni 2013

BBM NAIK !!!

Hai sob, hehehe, BBM mau naik yah? wah pemerintah udah bikin banyak iklan tuh buat bikin alasan menaikkan harga, sama saja seperti kenaikan BBM yang sebelumnya, alasannya subsidi BBM tidak tepat sasaran, dulu juga gitu. Kesimpulannya walaupun BBM pernah naik, tapi tetep aja subsidinya tidak tepat sasaran. Nah kali ini andre mau ikut-ikutan jadi pengamat kehidupan masyarakat.

Di satu siaran tv, ARB alias Abu Rizal Bakrie bilang "jangan panik". Yah, logis juga sih, tapi kan nggak semua orang bisa gitu. Dia sih enak jadi orang kaya, walaupun naik tetep aja nggak akan ngerasa susah. Tapi gimana sama orang miskin? Hm... anggap aja dia mah ga peduli ama orang miskin, sssttt... fansboynya atau pendulum ARB jangan terguncyang ya...

ARB bilang, dalam waktu 4-5 bulan juga bakal stabil kok. Ya iyalah,,, gimanapun juga kalo udah dinaikin harganya orang-orang gak mungkin pake air mineral buat kendaraan mereka. Kalo udah naik mah pasti tetep dibeli. Masalahnya bukan cuma BBM yang naik, yang lain juga bakal ikut naik. Nanti juga mahasiswa bakal ngerasa terbiasa makan di warteg minimal Rp. 8000. Udah ga mungkin makan di warteg cuma Rp. 5000, kecuali kalo cuma mau makan nasi putih ama tempe doang. ARB kan gak mungkin makan di warteg, walaupun mungkin tetep aja ga mungkin makan ama tempe doang. :p . Yah, tapi emang kata dia itu GAK SALAH. Toh dia cuma bilang "bakal stabil" bukan bilang "Nggak akan bikin susah". wakakakka...

Sebenernya sakit juga sih denger dia bilang gitu, tapi ya mau gimana lagi, saya mah orang biasa sih, nggak bisa ngelawan. Tapi, tanpa maksud ngebelain si ARB itu saya juga sependapat sama dia "jangan panik". Pertama, kita kudu santai menghadapi pemerinta yang zhalim. Yakin aja bahwa mereka akan menerima balasan yang pantas atas perbuatan mereka. Kita sebagai manusia di dunia, wajib berusaha menjemput rezeki. Dan kalo pemerintah ga peduli ama rakyat kecil, berarti di situ ada ladang amal buat kita. Umat muslim kudu bersatu. Bukan bersatu buat demo di jalan yang akhirnya bikin macet, ngerusak jalan, ngerusak bangunan,dsb.
gambar : formatnews.com

Bersatu untuk saling menolong, saling membantu, saling mencukupi. Ngomong-ngomong soal kenaikan BBM & pejabat, saya mah gak aneh kalo ada pencitraan dari beberapa parTai. Kalao partai lain kan udah jelas ya suka menindas, misalnya Bemokarat atau Golongan Kardus. Mereka memang sua hura-hura, pencitraan (citra jelek) dan meres rakyat. Korupsi dari para kadernya banak banget, trus nggak diproses lagi hukumnya. Nah, kalo yang suka pencitraan ini adalah Partai Korupsi Sapi dan Geringdarat. Partai ini yang saya lihat dari waktu pembahasan kenaikan BBM yang dulu bilang nolak, tapi di rapat akhirnya setuju. Terus sekarang para calon kepala daerah dari partai ini masang spanduk penolakan kenaikan harga BBM, tapi di kabinet dengan alibi "koalisi" mereka setuju. Sama aja geringdarat juga. Demi rakyat, demi rakyat. hadeh... Sama aja akhirnya. -__-

Lanjut lagi soal BBM. Sebagai bekas mahasiswa saya ngerasa kesel juga ama para mahaiswa yang hobi demo  di jalan. DI makasar lagi, mahasiswanya mahasiswa islam dari Univ Muhamadiyyah Makasar dan HMI doyang banget demo yang akhirnya sampe bentrok. Sama aja dengan pejabat, mereka bilang demi rakyat. Hoaaahmm.....

BBM, yah... padahal katanya endonesah pusakah ini negara yang kaya dengan kekayaan alam terbesar. Migas jadi sumber kekayaan ke satu di atas fauna. Tapi yah nyatanya gini. Indonesia tanah air beta. Tanah beli, air juga beli. Aslinya mah buat orang lain. Air buat orang lain, batubara buat orang lain, minyak buat orang lain, dan berbagai hasil tambang lainnya juga buat orang lain. Negara kaya migas tapi BBM sering langka, sekarang aja di beberapa daerah gas elpiji lagi langka. Katanya subsidi bikin susah negara. Hoaahmm...

Dengan alibi "ada kompensasi" akhirnya pemerintah naekin harga BBM. Hoaaahmm... lagi. kompensasinya BLT lagi BLT lagi. Dari dulu juga pembagian BLT kacau, itu juga banyak kok yang nggak tepat sasaran. Biaya pendidikan siswa miskin katanya juga kebagian dari kompensasi itu, wah,,,. Kalo misal ada sekolah gratis, orang kaya juga pasti mau sekolah di situ. Tetep aja nggak tepat sasaran. Belum lagi pengorbanan lain dari orang miskin buat ngedapetin hak mereka. Di beberapa wilayah mau sekolah aja susah. Misal sekolah gratis, tapi ke sekolahnya jauh, sekolah jelek, kudu beli buku, kudu ngongkos. Lagian BLT dibagiin cuma 150rebu, cuma 5 bulan. 150rebu bisa buat apa? bulan ke 6 mereka udah ga dapet bantuan lagi... Huahahahhahaha.... (pejabat lagi ketawa)

Yaudah, ngebahas kekejaman pemerintah mah nggak akan selesai sampe ada sistem pemerintahan yang bener. Kita udahin dulu aja bahasan itu, sekarang gini. Kita siapin diri kita masing-masing aja. Persenjatai diri kita dengan keimanan yang kuat dan usaha yang maksimal. Keimanan yang kuat bakal ngejaga kita dari segala perbuatan buruk separah apapun kondisi kita. Dan usaha yang maksimal bakal ngebimbing kita untuk tidak pernah menyerah. Inget kata mario teguh. Kebanyakan orang hidup susah kaerna terlalu mengharap kepada manusia, termasuk ngarep ama pemerintah. Terus kata pak mario juga, yang asalnya dari Al Quran, gini katanya " rezeki akan selalu ada bagi orang-orang yang saling membantu dalam kebenaran dan kesabaran. Salam Super.!!!!


Andre Tauladan

Jumat, 22 Maret 2013

Gengsi Bisa Mengotori Iman

gengsi mengotori iman
Gambar : ngawikuramah.blogspot.com
Gengsi istilah keren dari kata "martabat" atau "harga diri" adalah satu kata yang lumayan berpengaruh dalam kehidupan anak muda jaman sekarang. Si Gengsi ini seringkali jadi temen deketnya remaja, anak muda, atau mahasiswa yang idupnya selalu pengen gaul. Bahkan si Gengsi ama si Gaul ini bisa dibilang masih sodara. Banyak anak muda ngerasa gengsi kalo kagak gaul.

Sebenernya (mungkin karena keterbatasan mereka juga) anak muda jaman sekarang udah ngesalah artiin kata gaul. Menurut mereka gaul itu ngikutin gaya idup para artis, mulai dari dandanan, sampe jalan-jalan. Kenapa gengsi bisa ngotorin iman, karena gara-gara gengsi bisa-bisa anak muda pada ngorbanin keimanan. Misalnya ada anak muda masih pelajar atau mahasiswa, dia sekolah atau kuliah di satu tempat yang orang-orangnya itu mayoritas pada kagak bener dan karena dia sendiri yang beda akhirnya dia ikut-ikutan. Misal temen-temennya pemabuk, terus karena gengsi akhirnya dia bisa ikut-ikutan.

Ada lagi gara-gara gengsi orang bisa rela mati-matian buat dapetin sesuatu. Di China, mahasiswa rela kredit buat dapetin iPhone, nggak tanggung-tanggung jumlahnya ada sekitar 20 ribu. WOW BANGET KHAN? Demi gengsi. Padahal buat naikin gengsi atau martabat atau harga diri bukan gitu caranya. Ada cara yang lebih positif misalnya menjadi pengusaha yang sukses. Tapi sekali lagi saya bilangin bahwa anak muda jaman sekarang udah salah paham tentang gengsi sehingga jaman sekarang gengsi itu memiliki konotasi negatif. Sayang banget karena salah paham sebagian besar orang, si gengsi yang disalahin. Haduh.. gengsi..gengsi..

Sebenernya masih banyak banget hal-hal negatif yang dikaitin ama gengsi, tapi kalian pasti ngerti lah. Kan udah pada gede. So, jadiin gengsi itu sesuatu yang bisa ningkatin kualitas diri kalian, bukan nurunin kualitas diri kalian. Deal???
Andre Tauladan

Jumat, 28 Desember 2012

Kebiasaan Melanggar

Priit....  Suara peluit pak polisi menghentikan sebuah pengendara motor yang tidak menggunakan helm standar.
"Selamat siang, Pak. Bisa lihat surat-suratnya?" polisi menyapa dan kemudian memeriksa kelengkapan surat-surat milik pengendara.
"Bapak saya tilang, karena bapak tidak menggunakan helm standar" kata polisi itu sambil memerlihatkan pasal yang berkaitan dan menunjukkan jumlah denda yang harus dibayar.
"SIM bapak saya sita, dan bapak harus menghadiri sidang dua minggu lagi." katak polisi
"Waduh Pak, saya nggak bisa menghadiri sidang, karena saya bekerja, damai aja deh pak" pengendara itu memelas.
"Oke, saya bisa bantu bapak, ayo ikut saya" polisi mengajak ke tempat yang agak tersembunyi.
"Bapak sekarang ada uang berapa? Biarlah bapak tidak perlu menghadiri sidang" polisi mencoba mengarahkan topik pembicaraan.
Rupanya si pelanggar mengerti "Saya cuma ada Rp. 20.000 Pak, tidak apa-apa ya?"
"Oke deh, nggak apa-apa, lain kali pakai helm standar ya pak" kata polisi setelah menerima uang itu.
"Baik pak" jawab pelanggar seraya pergi.

Cerita di atas hanya sebuah cerita karangan saya. Tetapi di kehidupan nyata, kejadian seperti itu sudah sering terjadi. Suap-menyuap antara petugas dan masyarakat. Dan hal yang aneh adalah biasanya pelanggar berusaha menyuap petugas, tetapi setelah itu menggerutu dengan dalih "Polisi tukang morotin duit" atau kalimat semacamnya.

Sebetulnya pelanggar nggak punya hak untuk menggerutu, karena pelanggar jelas salah dan dia juga bisa saja tidak bayar ke polisi itu, dengan syarat dia mau menghadiri sidang.

Kisah diatas cuma contoh saja, selain kasus semacam itu masih banyak kasus tentang orang salah yang tidak mau disalahkan, malah menyalahkan orang lain yang memberi 'kemudahan' untuknya. Di sini saya tidak akan membahas tentang kasusnya, tapi tentang kebiasaan umum yang semacam itu.

Masyarakat kita pada umumnya, adalah masyarakat pelanggar. Melanggar peraturan menjadi sebuah tantangan tersendiri yang sangat 'menyenangkan'. Ketika seorang sedang melanggar sebuah aturan baik secara sengaja ataupun terpaksa, kemudian ia bertemu dengan petugas dan akhirnya lolos dari sanksi, ia akan merasa senang. Setelah sekali lolos, biasanya pelanggaran itu akan menjadi kebiasaan, dan dari  situlah berawalnya kebiasaan melanggar. Bahkan para pelanggar ini biasanya suka memerhatikan seperti apa trik agar bisa lolos dari sanksi petugas kemudian dia memberitahukan trik itu kepada temannya sehingga semakin banyak orang yang terbiasa melanggar.

Kebiasaan ini semakin menyebar, semakin menjamur, semakin merajalela seiring banyaknya pelanggar, ketika pelanggaran sudah menjadi kebiasaan umum, maka orang-orang akan semakin berani melanggar peraturan, hingga akhirnya jumlah petugas kalah dibanding jumlah pelanggar.

Adapun tentang  orang-orang yang melanggar dan hampir diberi sanksi, hingga akhirnya harus merogoh kocek untuk membayar petugas, hal itu juga tidak bisa dibenarkan. Karena dengan adanya satu pelanggar yang bisa membayar petugas, maka kemungkinan besar petugas itu bisa dibayar oleh pelanggar lain. Dan dengan adanya satu pelanggar membayar satu petugas, maka kemungkinan besar juga pelanggar itu akan mencoba untuk membayar petugas lainnya.

Yah begitulah, pelanggaran akan hilang jika kesadaran itu ada di semua pihak, nggak cuma satu pihak aja.
-Pihak pelanggar harus sadar, walau nggak ada petugas, harus tetap taat aturan.
- Petugas harus sadar, walau dengan uang berapapun, aturan harus ditegakkan
gitu,,,, hahaha
Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates