Minggu, 28 April 2013

Dia Sudah Punya Bekal Yang Banyak

Innalillahi wa inna ilayhi raajiuun. <ikut-ikutan membahas tentang kepergian Alm. Uje>

Pagi itu, setelah menonton wisata hati antv saya lanjut mencari channel lain yang bisa menambah ilmu dan iman saya. Saya tekan-tekan tombol next di remote, dan terhenti saat tv menampilkan khazanah dari trans 7. Seusai acara masih ada rasa ingin menambah ilmu, kembali saya cari channel lain. Sialnya, harus terhenti di acara islam itu indah di trans tv. Kebetulan saya tidak suka dengan gaya pematerinya.Saya tidak berhasil menjaga mulut saya sehingga keluar sedikit ocehan yang akhirnya disambung oleh ibu saya, tapi yang ibu komentari bukan gaya sang ustadz, melainkan tentang Aa Gym yang saat ini hampir tidak pernah terlihat berceramah di televisi. Kembali saya tidak bisa menahan mulut ini, dengan nada tidak sopan saya pun mengatakan bahwa bukan hanya Aa Gym yang jarang tampil di tv, Uje juga, dan banyak penceramah lain. Tanpa maksud membela Aa Gym dan merendahkan ustadz lain, saya hanya ingin menghindari arah pembicaraan agar tidak membahas poligami yang kemungkinan bisa membuat ibu menyalahkan poligami Aa Gym sehingga beliau jadi jarang tampil di tv.


Sekitar jam 09.30, sepulang dari warung ibu langsung menghampiri tv dan menyalakannya. Kemudian ibu memberitahu bahwa Uje meninggal dunia. Deg... Sedih memang, bukan sedih secara lahir, tapi sedih batin. Sosok ustadz fenomenal yang sebenarnya bukan favorit saya telah meninggal. Ternyata kiamat sudah semakin dekat.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash r.a. : aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda , “ Allah tidak akan mengambil kembali ilmu (agama) dengan (cara) mengambilnya dari (dalam hati) manusia, tetapi mengambilnya kembali dengan kematian para ulama sampai tidak bersisa, lalu orang-orang akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya yang bila orang-orang itu bertanya kepada mereka, mereka akan memberikan jawaban-jawaban yang tidak didasarkan pada ilmu. Maka mereka akan berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang-orang”
Di tengah acara tv, ada satu pikiran yang muncul di benak saya. Anggap saja itu tebakan, saya menebak akan ada segmen tentang 'tanda' bahwa Uje akan meninggal. Segmen ini hampir selalu ada di setiap acara tv ketika ada tokoh publik yang meninggal, misalnya pada peritiwa kepergian Alm. Taufik Savalas, atau peristiwa lainnya. Dan ternyata tebakan saya benar. Ah... dasar televisi. Ada segmen yang menampilkan Ust. Solmed yang menceritakan bahwa dia merasakan firasat aneh atas tingkah Alm. Uje beberapa waktu terakhir.

Di satu sisi saya mencoba menerima bahwa itu adalah firasat, di sisi lain saya mencoba menolak. Saya menerima bahwa itu adalah firasat dari Alm. Uje bahwa dia akan meninggal. Bukan bermaksud menyetarakan Uje dengan Rasulullah saw, saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa orang shaleh pasti memiliki firasat / mengetahui tanda-tanda bahwa ia akan meninggal. Hanya itu saja dasar saya untuk menerima. Sedangkan penolakan saya didasari oleh kekhawatiran saya. Khawatir adanya orang-orang yang misal dia bermimpi tentang kematian lalu dia menyimpulkan bahwa dia akan mati. Khawatir akan ada orang-orang yang berlebihan misalnya dia merasakan sesuatu yang dia anggap firasat kematian.

Entahlah, saya coba saja ulas sedikit disini, untuk menyanggah bahwa tindakan Uje itu adalah firasat.

Twit tentang titik jenuh dan kembali. 
Memang benar di twitternya juga dituliskan maksud dari kata kembali itu. "Kembali pada Dia" begitu twit selanjutnya. Bisa saja itu memang tanda bahwa ustadz akan meninggal. Tetapi kita lihat, sering kan orang-orang ngetwit atau membuat status facebook tentang kematian. Banyak kok ustadz atau mubaligh lain yang dalam twitternya atau facebooknya memberikan nasihat atau pesan-pesan tentang kematian. Titik jenuh? Sama saja, banyak nasihat-nasihat tentang kejenuhan dari ustadz lain.

Ustadz memberikan peci dan berpesan "Terusin dakwah gue".
kembali saya tegaskan, di satu sisi saya menerima, dan di sisi lain saya menolak. Alasan penolakan saya seperti ini. Uje memberikan peci kepada Ust. Solmed. Itu hanya peci, hanya salah satu peci yang pernah dipakai Uje dari sekian peci yang dimilikinya. Iyalah, masa sih Uje hanya memiliki satu peci? Saling memberi hadiah (kalau saya tidak salah) termasuk sunnah Rasulullah saw, karena bisa melembutkan hati, menimbulkan rasa saling mencintai, menghilangkan dengki, atau permusuhan. Selanjutnya ucapan "terusin dakwah gue". Memang pesan yang sangat berarti. Dari pesan itu tersirat tanda bahwa Uje akan mengakhiri dakwahnya. Berakhir. Tapi berakhir tidak selalu berarti selamanya. Misal, saya sedang memasak, atau kegiatan lain lalu tiba-tiba ada telefon atau sms panggilan dari teman. Saya menghentikan memasak dan berpesan ke adik, "terusin masaknya ya.." seperti itu. Bukan berarti nanti saya tidak akan masak lagi.

Takutnya gini, misal nanti ada yang ngetwit, "Ketika mati, kita hanya sendiri, tidak bawa apa-apa" terus dia menonaktifkan hp, fb, dan memberikan barang favoritnya ke salah satu rekannya, lalu sama rekannya itu disangka orang itu akan meninggal. Padahal belum tentu. Bisa saja dia mau pergi ke suatu tempat, misal ke gunung, mau berburu, dia menganggap di gunung tidak akan ada sinyal, atau takut gadgetnya kebasahan jadi dinonaktifkan dan ditinggal.

Ah, sudahlah, mungkin itu kreativitas kru tv yang bersangkutan untuk memenuhi waktu acara. Sekarang kita geser topik dulu sedikit. Kita hapus air mata (kalau memang menangis), hapus saja air mata kesedihan itu. Jangan kita terlalu lama menangis untuk Uje, siapa tahu kita butuh air mata itu untuk kita sendiri.

Sore itu, pekerja perbaikan rumah datang untuk membetulkan listrik di rumah. Yah, seperti biasa ibu mengajak ngobrol pekerja itu agar tidak terlalu membosankan. Obrolan pun sempat menyinggung tentang kepergian Uje. "Ustadz Jefri meninggal ya pak ya" kata ibu. Dengan cerdas bapak pekerja menjawab "Yah bu, dia mah meninggal juga bekalnya sudah banyak". JLEB. Wah,,, cerdas juga nih tukang.

Memang benar, mengingat masa lalu Uje yang menurut kabar bahwa dia dulunya adalah anak nakal, kemudian beliau meninggal sebagai seorang mubaligh yang punya banyak jama'ah, maka bisa disimpulkan bahwa beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Sedangkan kita? Mungkin saja disaat yang bersamaan ketika para jama'ah bersedih, Uje dalam keadaan bahagia. Walaupun sebenarnya kita tidak tahu pasti. Tapi satu yang pasti, beliau telah meninggal, hidupnya di dunia sudah berakhir, amalnya sudah terputus kecuali dari tiga sumber. Sedangkan kita? Ya, sedangkan kita?

Mari kita bercermin, apakah kita termasuk orang-orang yang punya banyak dosa? Jawabannya anda tahu sendiri. Selanjutnya apakah kita akan sempat bertaubat dan memperbanyak amal shalih? Memperbanyak amalan yang bisa menambah berat timbangan amal kita ke arah kanan. Melakukan segala sesuatu sesuai ajaran islam. Kembali lagi saya tuliskan. Kiamat sudah dekat.

Belok lagi, kita geser topik lagi. Belum habis rasa sentimen saya terhadap acara televisi yang terus-menerus memberitakan kepergian sang ustadz dengan cara yang lebay. Saya dibuat semakin tidak enak hati dengan adanya pihak yang tidak bertanggungjawab yang mengunggah foto awan di facebook. Tak apalah jika hanya foto awan biasa. Ini mah foto awan yang bentuknya seperti orang berdoa kemudian dikait-kaitkan dengan meninggalnya alm. Uje. Plis deh, mau sampai kapan kalian ini jadi orang bodoh? Ketika melihat postingan itu, saya sampai berani mengatakan sesat, sebuah kata yang sangat saya jaga agar tidak dengan mudah dikatakan. Upload foto seperti itu bisa menjadi bentuk penyesatan. BAHAYA! Foto itu, ah,,, gimana ya? Cobalah berfikir, foto itu bisa saja foto lama, bisa saja foto editan, dan jika itu foto baru, bukan editan, bisa saja foto itu tidak menandakan apapun atas meninggalnya Uje. Bisa saja itu hanya fenomena alam atas kebesaran Allah swt.

Sudahlah, kita kembali lagi ke topik sebelumnya. Mari kita bercermin, sudah punya bekal apa kita untuk mati? Sudah siapkah kita? Bukan terus bersedih atau membahas, atau menampilkan kembali acara ketika talkshow dengan Uje. Uje tidak butuh sedih kita, tidak butuh tangis kita, lebih baik kita berdoa agar beliau mendapatkan tempat terbaik dari Allah swt. Aamiin.

Hufth, lagi asik nulis diganggu, jadi ilang idenya. Udah aja deh. Ayo komen! Awas kalo nggak!

Andre Tauladan

Tapi


Tapi saya bundar... Hehe, itu mah topi ya gans. Bukan itu yang mau saya bahas. Yang mau saya bahas adalah sesuai dengan judul yaitu kata "tapi". Sebuah kata yang bisa membuat kalimat positif menjadi bernada negatif atau sebaliknya. Sebuah kata yang bisa menandakan suatu syarat. Dan berbagai fungsi lainnya yang bisa diwakili oleh kata ini.

Saya pengen kuliah, tapi...
Saya tau ghibah itu dosa, tapi...
Saya tahu shalat itu wajib, tapi...
Saya tahu saya ganteng, tapi... (xixixi )
Kata ini sering digunakan untuk mencari-cari alasan. Saya ulangi, MENCARI ALASAN. Seperti saya sekarang, saya seharusnya menulis artikel ini sampai tuntas. Waktu tersedia, ide ada, tahu manfaat latihan menulis, dan sebagainya, intinya tidak ada hambatan untuk menyelesaikan artikel ini.

Tapi....

Andre Tauladan

Kuberi Satu Permintaan

 Bwosh!!! tiba-tiba muncul sosok laki-laki pake pakaian tradisonal jawa. Sosok itu akrab dipanggil dengan sebutan Jin di iklan itu. Tadinyasih waktu awal iklan ini muncul saya ikut tertawa karena merasa lucu di setiap seri iklannnya. Tetapi pelakangan ini ketika slogan itu sering terlintas di waktu senggang, saya merasa ada sesuatu yang memang diusahakan agar gampang diingat, iya, slogan itu. Dari situ saya mulai berpikir "ada apa ini?". Saya  merasa ada pesan lain di iklan itu. Saya sendiri tidak yakin apakah karena saya bukan seorang perokok atau memang pesan itu inti dari iklan tersebut. Yang jelas daripada merk rokoknya saya lebih ingat slogannya.

jin iklan 76
gambar : setandika.wordpress.com

Sering di saat tidak ada kegiatan dan pikiran sedang kosong saya teringat slogan itu hingga akhirnya merasa ada sesuatu yang "Lho, kok!?" Seperti orang yang tiba-tiba bangun dari mimpi. Dari perasaan "lho, kok" itu kemudian berkembang menjadi "oh iya, ya" selanjutnya berubah menjadi "wah, jangan-jangan". Yoi, saya merasa iklan itu mengajarkan kemusyrikan. Meminta bantuan kepada selain Allah.

Ahaha... anda boleh bilang saya ini lebay. Boleh banget. Nggak masalah dah.

Mengapa saya menganggap iklan itu mengajarkan atau mungkin mengajak penontonnya untuk menjadi musyrik. Jelas karena hampir di setiap seri iklannya ada saja orang yang minta bantuan ke jin. Mungkin ada yang menyanggah dan mengatakan "Tapi itu kan cuma akting gan". Okelah itu cuma akting, tapi bagaimana dengan pemirsa yang menonton dan mencoba mempraktikan? Dan ingat juga artikel saya sebelumnya tentang sinetron yang merusak citra islam. Di sinetron itu mereka cuma akting. Tapi Ust. YM bilang sinetron itu bisa membuat opini publik tentang islam menjadi jelek. Sama saja dengan iklan ini, bisa membuat pemirsa ikut-ikutan. Tujuan mereka itu memang untuk mencari uang, tujuan produser, dan sutradara juga sama, untuk mencari uang. Tapi apa iya sih cuma itu?

Yah, saya juga tidak tahu pasti sih... tapi... disaat iklan rokok lain membuat skenario yang menampilkan orang-orang sukses, orang-orang penuh semangat dan sebagainya sebagai latar dari iklan rokok, kok ini membuat skenario yang mengunakan jin segala. Nah, mungkin maksudnya untuk membuat cerita seperti Aladin. Saya juga jadi berfikir, Aladin itu kan film garapan Walt Disney, membuat cerita dengan suasana timur tengah. Nanti deh ya kita lihat sama-sama beberapa konspirasi seputar Walt Disney. Bye.

Al Baqarah 165
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Al Baqarah 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Wallahu a'lam bishshawabi
Andre Tauladan

Rabu, 24 April 2013

Jok Belakang

Perjalanan Garut - Bandung sore itu menyampaikan pesan khusus buatku. Sebagai orang yang tak punya kendaraan sendiri membuat saya bisa berbagi rezeki dengan supir bus dan kondekturnya serta pedagang asongan yang turut mencari rezeki di dalam bus. Menjadi sebuah kebiasaanku, tidur sejak sepuluh menit setelah kondektur meminta ongkos. Kebiasaan ini pun tak terhindar saat perjalanan kemarin.

Bisa tertidur di bus adalah salah satu nikmat Allah bagiku, karena jika tidak tertidur aku sering terganggu dengan suasana di dalam bus, mulai dari udara panas hingga asap rokok penumpang lain yang membuatku sesak nafas.

Di tengah nikmatnya tidur kemarin aku terbangun oleh suara ribut penumpang. Ketika mata terbuka terlihat dari jendela ada seorang pengendara motor yang jatuh di tengah jalan dengan orang yang diboncengnya. Tanjakan Nagreg. Di jalan yang menghubungkan Bandung - Garut itulah peristiwa itu terjadi. Memang kedua orang yang terjatuh itu tidak mengalami luka yang terlalu parah meski terlihat pakaiannya robek pada bagian lutut. Sampai saat melihat peristiwa itu aku belum menyadari pengaruh posisi dudukku terhadap kejadian apa yang aku lihat.

Bus terus melaju, hingga beberapa kilometer kemudian bus mulai memperlambat lajunya. Dari tempatku duduk terlihat selintas bahwa di depan ada bagian jalan yang diberi garis kuning. Aku tak tahu itu apa. Dari situlah aku merasakan bahwa aku berada di tempat yang TIDAK menguntungkan untuk melihat ada apa di depan sana. Saat itu aku duduk di JOK BELAKANG.

ilustrasi
 Dari moment itu rupanya ada pesan yang aku ambil. Jika kita ada di belakang, maka selalu saja kita akan ketinggalan informasi, berita, tentang suatu peristiwa atau semacamnya. Keadaan itu aku sambungkan dengan kondisi umat islam khususnya para remaja sekarang. Aku mungkin tidak terlalu lihai menjelaskan sesuatu, tapi aku harap tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca. Aku coba bahas tentang jok belakang.

Di jok belakang, penumpang sama-sama akan ditagih bayaran yang sama dengan penumpang yang di depan, tentunya untuk jarak yang sama. Selain itu penumpang di belakang akan sampai dalam waktu yang sama. Disini aku menyimpulkan bahwa setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Jika ada umat islam yang terlahir bersamaan dengan non muslim, tetapi non muslim lebih maju daripada muslim, maka keduanya akan diminta pertanggungjawaban atas waktunya selama hidup. Jadi janganlah ada dibelakang, coba untuk duduk di depan. Umat islam harus menjadi yang terdepan dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, dan bidang kehidupan lainnya.

Selanjutnya kita coba mengingat masa sekolah. Murid yang duduk di belakang cenderung sering mengantuk dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Mereka juga tidak terlalu memahami pelajaran karena tulisan di papan tulis tidak jelas terbaca. Disini saya melihat adanya sekelompok umat islam yang bisa dilenakan dengan angin sepoi-sepoi dari budaya sekuler yang membuat sebagian umat islam selalu berada di bawah pengaruh kemalasan dan tidak memperhatikan perkembangan zaman. Mereka juga selalu kurang jeli melihat berbagai peluang yang sebenarnya bisa membawa manfaat bagi mereka. Mereka selalu tertinggal dalam pelajaran. Seperti muslim yang tertinggal dalam teknologi, kita hanya menerima teknologi ketika teknologi itu sudah menjadi barang lama di tempat non muslim.

Orang yang duduk dibelakang biasanya berbuat sesuka hati, karena merasa jauh dari pengawasan. Kembali ke kondisi orang yang ada di belakang sebagai orang yang kurang menangkap pelajaran dari guru, orang yang ketinggalan informasi, atau orang yang tidak bisa melihat tulisan di papan tulis. Dihubungkan dengan kondisi orang yang kurang belajar agama, kurang ilmu agamanya, kita dapat melihat bahwa orang-orang seperti mereka akan berbuat sesuka hati, menghalalkan berbagai cara, bukan untuk mendapatkan apa yang dia mau, tetapi karena dia asyik berada dalam aksinya itu. Mereka merasa aman dari pengawasan, mereka lupa bahwa ada Dzat yang selalu mengawasi mereka setiap waktu.

Lagi, saya mengalami kebuntuan dalam menulis. Setidaknya pembaca tahu apa yang saya maksud dengan orang yang duduk di jok belakang. Dan saya harap umat muslim yang membaca ini mau bergerak untuk maju ketika ada tempat duduk kosong didepannya. Ia bisa jeli melihat peluang yang akan membawa manfaat, dan berani mengambil peluang itu. Jangan terus-terusan ada di belakang, dininabobokan oleh angin sejuk yang membuatnya tertidur dan tak sadar apa saja yang telah dilewatinya.
Andre Tauladan

Selasa, 23 April 2013

Komentar Ust. Yusuf Mansur Tentang Sinetron Haji Muhidin

Halow mantemans, nagimana barkabarnya ta' iye?

Ba'da shalat subuh tadi bukan kebetulan saya menyaksikan tayangan wisata hati. Memang saya sudah lama ingin menyaksikan tayangan yang dibawakan oleh Ustadz Yusuf Mansur (YM) ini. Jarang sekali saya bisa menonton tv di pagi hari, keterbatasan anak kos yang nggak punya TV membuat saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika sedang ada di rumah. Biidznillah

Dengan tema Sedekah #4, acara WH tadi pagi diawali dengan pembahasan tentang luasnya kekuasaan Allah, pembahasan diambil dari ayat 255 surat Al Baqarah, ayar Kursi. Namun di tengah penyampaian materi, Pak Ustadz 'melenceng' (begitu dia mengatakan) sedikit dari materi. Dia mengomentari salah satu sinetron yang dulu pernah dibintanginya, tetapi dulu dalam bentuk film layar lebar, bukan sinetron. Sinetron itu berjudul "Tukang Bubur Naik Haji", sinetron ini adalah versi serial dari film dengan judul yang sama. Film itu sendiri berkisah tentang sebuah testimoni dari seorang tukang bubur yang mendapatkan rezeki yang tak terduga, yaitu bisa menunaikan ibadah haji. Akan tetapi dalam sinetron ternyata bukan itu yang dijadikan point pentingnya. Justru dalam sinetron yang lebih banyak berperan adalah sosok Haji Muhidin yang memiliki sejumlah kepribadian buruk. Hingga masyarakat pun menyebut sinetron ini dengan sebutan sinetron "Haji Muhidin".



Adanya sosok yang mencerminkan buruknya sosok seorang haji dalam sinetron ini membuat banyak umat islam gerah dan meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menegur pihak TV yang bersangkutan. Selain sinetron Haji Muhidin ada juga sejumlah sinetron lain yang menjadi sorotan umat islam (yang peduli) untuk 'ditertibkan'. Di Islamedia misalnya, melalui artikel yang dipublish tanggal 11 April 2013 Islamedia menyampaikan rasa keberatan para pembaca terhadap sinetron sejenis.

Lantas bagaimana komentar Ust. YM sendiri atas munculnya sinetron semacam ini? Di akhir tulisan ini saya tampilkan videonya, dan di tulisan ini akan saya tuliskan beberapa point penting dari ucapan Ust. YM.

1. Di menit 03:34 Ust. YM mengatakan "Seharusnya umat islam marah". Alasannya adalah "sosok haji, dimaen-maenin, sosok ustadz, ustadzah juga dimaen-maenin". "Itu tuh sebenernya ngeledek atau nyari duit sih?" Dari raut wajahnya terlihat kekecewaan ustadz terhadap sinetron semacam ini. Bahkan ustadz mengungkapkan penyesalannya karena dia pernah memberi judul film bersangkutan.

2. Di menit 04:24 ustadz mengatakan bahwa "Bisa juga itu adalah cerminan dari masyarakat itu sendiri". Ustadz selanjutnya mengajak para ustadz - ustadzah untuk beristighfar seandainya perilaku mereka sesuai dengan sosok yang ada di sinetron sejenis itu. Termasuk dari kalangan haji, mungkin ada yang perilakunya sesuai dengan sosok yang ada di sinetron itu.

3. Menit ke 04:39 ustadz mencoba meluruskan, jika ada perilaku ustadz, ustadzah, atau haji yang mirip atau sama dengan yang diperankan di sinetron itu, maka bukan berarti semua ustadz, ustadzah atau haji memiliki sifat yang sama. Tidak bisa digeneralisir. Tayangan seperti itu banyak ditonton oleh anak-anak, remaja, yang akhirnya dikhawatirkan akan membuat sebuah mindset di kalangan penonton bahwa umat islam itu seperti tokoh di film itu.

4. Setelah jeda iklan, pada 05:00 melanjutkan pembahasan tentang sinetron yang bernuansa negatif, bahkan ustadz juga sempat menyinggung tayangan musik di pagi hari. Ustadz menyampaikan cara untuk menghindari tayangan seperti itu. "Sebenarnya remotnya di saudara, jika saudara tidak menonton acara itu maka acara itu tidak akan laku dan akan membuat pihak stasiun TV akan 'menurunkan' acara tersebut. Malah karena pemirsa suka menonton acara sejenis itu bisa jadi acara seperti itu akan semakin sering ditayangkan.

5. Pada menit 05:37 Ustadz YM menyampaikan dampak buruk dari acara seperti itu terhadap kondisi penontonnya yang notabene banyak dari kalangan anak-anak dan remaja. Banyak anak-anak yang menonton sinetron pada jam yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar. Acara seperti itu juga menyebarkan dosa. Sejak pagi pemirsa sudah disuguhi dengan tayangan yang menampilkan wanita yang bergoyang dengan seksi dan pamer aurat.

6. Pada menit 06:25 Ust. YM mengajak semua pihak baik dari pemirsa maupun stasiun TV untuk beristighfar, ustadz mengajak pemirsa untuk mendoakan semoga skenario dari acara sinetron seperti itu bisa diluruskan. Ustadz pun menyampaikan kepada pengelola TV untuk menyadari bahwa di tangan mereka kemajuan bangsa ini bisa ditentukan.

Kesimpulan :
- Banyak sinetron di TV yang bernuansa negatif tentang umat islam dan yang dapat merusak iman.
- Umat islam seharusnya (sewajarnya) marah atas tayangan seperti itu
- Umat islam juga harus bercermin apakah memang sekarang kondisinya seperti itu, jika iya beristighfarlah
- Kendali ada di pemirsa, jika pemirsa ingin tayangan seperti itu hilang, maka jangan nonton.
- Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatur acara TV, tapi Allah maha kuasa, kepadaNyalah kita meminta pertolongan agar tayangan seperti itu segera hilang.


Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates