Tampilkan posting dengan label demokrasi. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label demokrasi. Tampilkan semua posting

Sabtu, 02 Januari 2016

[VIDEO] Pasukan Allousy Para Pengkhianat Agama dan Agen Salibis


Bismillahirrahmanirrahim
Turjuman Asawirty Media
Menghadirkan
Video Berjudul :

“Alloush’s Army Betrayers of Religion & Agents to the Crusaders”

“Pasukan Allousy Para Pengkhianat Agama dan Agen Salibis”

Alih Bahasa & Editor : KDI MEDIA


Andre Tauladan

Minggu, 06 Desember 2015

REALITA DI INDONESIA : MUWAHIDIN DIMUSUHI, MUSYRIKIN DAN MUNAFIQIN DISAYANGI

Oleh : Abu Usamah. JR.

Kini kita tengah hidup pada akhir zaman yang penuh dengan fitnah. Bahkan fitnah yang meliputi kita hari ini bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita dan saling bertindihan. Akibatnya tidak sedikit orang yang melihat tiba-tiba menjadi buta dan orang yang berilmu spontan seperti orang dungu akibat fitnah ini. Inilah hari-hari dimana para pendusta dipercaya, penjahat dianggap sebagai pahlawan, si pandir dijadikan ulama bahkan iblis dipuja bak tuhan. Hampir-hampir tidak ada hamba yang selamat kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyalllahu’anhuma]

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة قيل : و ما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه يتكلم في أمر العامة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.” [HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 3650]

Mereka yang mengklaim sebagai seorang muslim tidak sedikit yang justru perilakunya lebih mendekati kepada yahudi dan nasrani daripada perilaku yang diajarkan oleh Nabinya. Kamus untuk menentukan kebaikan dan keburukan bukan lagi Al-Qur’an tapi siapa yang berkuasa. Maka kemudian gelar pahlawan dan penjahat ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Jika yang tertipu adalah orang awam tentu kita tidak risau tapi kenyataannya tidak sedikit mereka yang dianggap sebagai orang berilmu dan pejuang juga turut terseret arus ini.

Fenomena diatas semakin nampak seiring deklarasi Khilafah dan perkembangannya yang makin kuat dan meluas biidznillah. Sifat hasud dari sebagian individu dan kelompok terhadap Daulah Islam telah menyeret mereka pada perilaku layaknya kafirin dan munafiqin. Dimana mereka telah menampakkan loyalitas kepada kafirin dan menampakkan permusuhan kepada para muwahidin. Bahkan mereka tidak kalah aktif dengan para kafirin dan munafiqin dalam menyerang Daulah Islam.

Keadaan mereka sangat mirip dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, “Sesungguhnya orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir (muayyan) itu,bila kamu amati mereka ternyata kaum muwahidin adalah musuh mereka, dimana mereka membenci dan merasa dongkol dengan mereka, sedangkan kaum musyrikin dan kaum munafiqin itu justru adalah kawan dekat mereka yang mereka sangat akrab dengan mereka itu….”. (Ad Durar As Saniyyah 10/91)

Syaikh Muhammad mengatakan kalimat diatas lebih dari seratus tahun yang lalu, namun ternyata apa yang digambarkan oleh beliau adalah fenomena yang terus terjadi pada setiap zaman dan tempat. Lihatlah hari ini keadaan para pendengki Daulah Islam yang diantara Aqidah mereka adalah tidak mau mengkafirkan pendukung demokrasi, tidak mengkafirkan pendukung ideologi kufur dan menganggap muslim para thoghut dan ansor-anshornya yang ber-KTP Islam. Para pendengki sangat gencar melemparkan syubhat dan hujatan kepada Daulah Islam, jika diingatkan keadaannya seperti, ”Jika dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!,mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.“ (QS Al-Baqarah :11) Ya, para pendengki menganggap bahwa fitnah, hujatan dan sematan buruk mereka terhadap Daulah Islam adalah kebaikan dan kewajiban yang memiliki keutamaan. Sebab menurut klaim hawa nafsu mereka itu adalah upaya menyelamatkan umat dari paham khawarij. Namun hal yang sama tidak mereka lakukan terhadap ajaran kafir demokrasi. Mereka tidak gencar mengingatkan umat dari tipu daya dan bahaya riddah dari ajaran demokrasi. Para mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam tidak selamat dari lisan mereka sementara itu kaum musyrikin dianggap tidak berbahaya dengan ideologi kemusyrikannya yang didakwahkan di tengah umat Muhammad.

Keadaan mereka seperti yang Allah sebutkan tentang yahudi, ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari alkitab?, mereka percaya kepada jibt dan thoghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih baik jalannya dari orang-orang yang beriman.“ (QS An-Nisa : 51)

Lihatlah! bukankah mereka percaya apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dan para thoghut bahwa Daulah Islam bukan Islam, membunuh kaum muslimin, sadis, antek Amerika, antek Yahudi dan sederet tuduhan-tuduhan lainnnya? Bahkan secara tidak langsung mereka meyakini bahwa para thoghut agamanya lebih baik daripada mujahidin yang berjuang menegakkan syariat Islam. Lihatlah media sampah mereka yang menyatakan turut berbahagia dengan kemenangan Erdogan thoghut Turki sebagai Presiden melalui cara demokrasi. Dan bandingkan dengan hujatan mereka terhadap Ustadz Aman Abdurrahman fakallahu asrah dengan menyebutnya sebagai thoghut dan arbab. Duhai bencana macam apa yang menimpa orang-orang sakit ini? thoghut dianggap pemimpin kaum muslimin sementara Da'i jujur yang menyeru Tauhid disebut sebagai thoghut dan arbab, apakah otak kalian telah berpindah ke lutut-lutut kalian?

Kelahiran Daulah Islam yang mewujudkan berlakunya hukum syariat Islam menjadi duri dan kedukaan bagi mereka, sementara itu kemenangan thoghut yang mempertahankan hukum kafir menjadi hari bahagia dan kemenangan mereka. Wahai kalian yang berakal, dari mana kalian mengambil agama dan petunjuk?

Para pendengki menampakkan permusuhan yang sangat terhadap Daulah Islam, sebaliknya kurang peduli dengan kejahatan orang-orang kafir. Mereka lebih gencar menyebarkan berita yang menfitnah Daulah Islam yang mereka sebut sebagai kekejaman daripada memberitakan kesadisan tentara salibis yang membantai warga Daulah Islam di Iraq dan Syam (Suriah). Mereka lebih bersemangat membongkar apa yang mereka sebut sebagai kesesatan Daulah Islam namun bisu dan malu-malu mengupas tuntas kekafiran demokrasi dan pancasila beserta para pembelanya.

Seorang Da’i Su’u (Ulama jahat penyeru ke pintu jahannam) yang sejak berada dalam penjara telah bersemangat menampakkan permusuhannya terhadap Daulah Islam, belum lagi sampai di rumahnya dia sudah menggonggong akan mendebat para pendukung Daulah Islam agar bertobat dari kesesatannya. Sementara si dungu ini telah bebas dari penjara dengan pembebasan bersyarat yang mengharuskan dia menandatangani syarat kekafiran di dalamnya. Orang ini seperti penderita HIV/AIDS yang merasa jijik dengan penderita panu dan memperingatkan orang lain agar tidak mendekati si penderita panu tersebut. Belum sampai hitungan bulan mantan mujahid ini sudah berencana akan mengadakan dialog terbuka tentang Khilafah di kota Semarang. Apakah dia akan melampiaskan dendamnya terhadap Khilafah ini dengan dendam yang belum terlampiaskan ketika di penjara? ataukah dia akan bertobat dari kesesatannya? kita tunggu saja. Namun pantas kita bertanya kepada si penanda tangan PB dengan syarat kekafiran tersebut, kenapa dia tidak segera mengingatkan umat dari bahaya kekafiran demokrasi dan pancasila yang bahayanya menghilangkan iman seorang hamba? Oh, saya lupa.… bukankah ia juga tidak peduli dengan keselamatan imannya sendiri sehingga rela membubuhkan tandatangan menerima syarat kekafiran?

Fenomena permusuhan terhadap muwahidin juga gencar disuarakan oleh kelompok mujahidin majelis, mujahidin tabligh akbar dan mujahidin seminar. Kelompok yang pernah mengeluarkan fatwa mubah untuk berpartisipasi dalam pesta syirik demokrasi dengan ikut serta dalam pencoblosan termasuk salah satu kelompok yang bersemangat menanamkan permusuhan terhadap Daulah Islam. Bahkan tokoh kelompok ini gencar bersafari melakukan seminar untuk menebar fitnah terhadap Daulah Islam agar umat membenci dan memusuhinya. Tokoh yang pernah menjadi kandidat presiden NKRI bersyariah ini belum pernah kita dapatkan mengadakan seminar untuk membongkar kesesatan demokrasi maupun kesesatan pancasila. Pengusung idiologi kafir selamat dari lisan dan tulisan Ustadz Ajib ini, namun penegak syariat Islam yang telah mengorbankan ribuan tentaranya menjadi musuh utamanya. Mungkinkah ia enggan mengkafirkan ajaran demokrasi dikarenakan ia masih berharap kelak ia bisa menjadi presiden NKRI bersyariah? jika iya maka mungkin umat ini kelak akan melihat aksinya di panggung kampanye mengenakan jubah dan sorban berorasi dengan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi.

Wujud NKRI bersyariah yang dicita-citakan oleh ustadz dari kelompok mujahidin majelis ini entah seperti apa, penulis sendiri bingung menggambarkannya. Apakah yang dimaksud adalah ketika terwujud NKRI bersyariah maka seluruh jalan protokol di Jakarta akan berganti nama menjadi nama malaikat seperti jalan Jibril, jalan Mikail, jalan Izroil dan Jalan Isrofil? Ataukah teks pancasila dan KUHP akan berubah menjadi bahasa Arab, para Menteri berjenggot dan istana negara dihiasi dengan kaligrafi? wallahu a’lam, entah seperti apa gambaran NKRI bersyariah versi orang-orang sakit tersebut.

Maka melihat segala tingkah polah dari pendengki Daulah Islam semakin lama semakin memperjelas kerusakan manhaj mereka. Tidak ada yang mereka untungkan dari seminar, tulisan dan ceramah-ceramah yang berisi fitnah dan hujatan terhadap Daulah Islam yang mereka gencarkan kecuali kafir salibis, yahudi dan para penguasa murtad di barat dan timur. Dan tidak ada pihak yang dirugikan dari aksi-aksi bejat mereka kecuali para mujahidin dan kaum muslimin. Dan nampaklah siapa sesungguhnya musuh yang mereka benci dan mereka dongkol kepadanya, tiada lain muwahidin dan mujahidin. Dan semakin terang juga siapa sebenarnya pihak yang mereka cenderung untuk dijadikan kawan, tiada lain adalah para thoghut dan anshor-anshornya, orang-orang musyrik demokrasi dan orang-orang yang rusak manhajnya.

Sebagai penutup aku sampaikan kepada siapa saja yang memiliki kedengkian, dendam dan permusuhan terhadap Daulah Islam, bertaubatlah kalian kepada Allah, tengoklah kembali Tauhid dan manhaj kalian, sebab sangat jelas penyimpangan kalian. Jangan sampai penyesalan mendatangi kalian tatkala tangan dan kaki kalian terikat serta wajah kalian tertelungkup di tanah lapang sementara senapan AK-47 Tentara Daulah Islam menempel di pelipis kalian dan memaksa kalian untuk berteriak “DAULAH ISLAM BAAQIYYAH“.

Jika kalian enggan dengan pilihan pertama maka berbuatlah sesuka kalian jika tidak malu, sebab Alhamdulillah semakin kalian menggonggong semakin nampak kebodohan dan kesesatan kalian. Bersamaan dengan itu kami semakin yakin bahwa Daulah Islam kami yang benar dan yang akan menang biidznillah.

Allahu musta’an

[Shoutussalam]
Andre Tauladan

Selasa, 01 Desember 2015

Tidak ada udzur jahil bagi pelaku syirik akbar


beberapa waktu yang lalu, saya (http://hijraazizy.tumblr.com/) berdiskusi dengan seorang yang memiliki pemahaman seperti sekte murjiah. kenapa ia saya disebut murjiah? karena mudah dan membawa syubhat dalam mengudzur pelaku syirik akbar dengan membawa nash al wa’du, tanpa melihat nash al wa’iid (contoh dalam gambar komentar di atas).

mereka membawa syubhat menggunakan hadits di bawah tanpa perincian, berikut ini teks lengkap haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، قَالَ : لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا ، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ ، فَقَالَ : اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ ، فَقَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ ، قَالَ : يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ ، وَقَالَ غَيْرُهُ مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ ” .

dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: ada seorang pria yang aniaya terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa), kemudian tatkala kematian menjemputnya dia berkata kepada anak-anaknya: “bila aku meninggal dunia maka bakarlah aku kemudian tumbuklah jasadku kemudian taburkanlah di angin, maka demi Allah seandainya Rabbku kuasa terhadap diriku pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun,” kemudian tatkala orang itu meninggal dunia maka hal tersebut dilakukan terhadapnya maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bumi dan Allah mengatakan: “kumpulkanlah apa yang ada di dalam perutmu,” kemudian bumi-pun melakukannya maka tiba-tiba orang itu berdiri kemudian Allah berfirman kepadanya: ” Apa yang mendorongmu kamu untuk melakukan apa yang kamu lakukan maka orang itu mengatakan ” yaa Rabb (yang mendorong saya untuk melakukan hal itu) adalah rasa takut kepada Engkau” maka Allah-pun mengampuninya.” (Riwayat Al Bukhari)

mereka para pengudzur pelaku syirik akbar karena kebodohan mereka mengatakan bahwa orang ini melakukan kekafiran yaitu mengingkari qudrah Allah, sedangkan mengingkari qudrah Allah adalah kekafiran tatkala orang ini melakukannya karena kejahilan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengkafirkannya, justru Allah memberikan ampunan karena dasar dia melakukan hal itu adalah karena rasa takut, jadi kesimpulannya menurut mereka bahwa pelaku syirik akbar karena kebodohan itu diudzur tidak boleh dikafirkan. Jadi hadits ini dipakai mereka untuk mengudzur para thaghut dan para ansharnya dan ubbadul qubur yang melakukan kesyirikan dengan alasan bahwa mereka itu orang-orang yang jahil.

ada beberapa hal yang menjadi bantahan atas syubhat yang mereka bawa, yaitu:

pertama, di dalam hadits yang sedang kita bahas ini yaitu kisah orang yang berwasiat itu, di dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad dari hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كان رجل ممن كان قبلكم لم يعمل خيرا قط ؛ إلا التوحيد ، فلما احتضر قال لأهله : انظروا : إذا أنا مت أن يحرقوه حتى يدعوه حمما ، ثم اطحنوه ، ثم اذروه في يوم ريح ، [ ثم اذروا نصفه في البر ، ونصفه في البحر ، فوالله ؛ لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين ]، فلما مات فعلوا ذلك به ، [ فأمر الله البر فجمع ما فيه ، وأمر البحر فجمع ما فيه ] ، فإذا هو [ قائم ] في قبضة الله ، فقال الله عز وجل : يا ابن آدم ! ما حملك على ما فعلت ؟ قال : أي رب ! من مخافتك ( وفي طريق آخر: من خشيتك وأنت أعلم ) ، قال : فغفر له بها ، ولم يعمل خيرا قط إلا التوحيده .

(المسند: 8040)

“Dahulu ada seorang pria dari kalangan umat sebelum kalian yang tidak melakukan sedikitpun amal kebaikkan kecuali tauhid, kemudian tatkala kematian menjemputnya ia berkata kepada keluarganya: Perhatikanlah, bila aku telah mati hendaklah mereka membakarnya sehingga membiarkannya menjadi arang, kemudian tumbuklah dan tebarkanlah di hari musim angin kencang (kemudian taburlah separuhnya di darat dan separuhnya di lautan, demi Allah seandainya Dia kuasa terhadapnya tentu Dia pasti mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorang-pun), kemudian tatkala ia mati maka mereka melakukan hal itu, (maka Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya), maka ia-pun tiba-tiba (berdiri) dalam genggaman Allah, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Hai anak Adam, apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah kamu lakukan?

Maka ia menjawab: Ya Rabbi! Rasa takut kepada Engkau (dan dalam jalur riwayat lain: karena rasa khawatir dari-Mu, sedangkan Engkau lebih mengetahui), maka beliau berkata: Maka Dia mengampuni baginya dengan sebab hal itu, padahal ia itu tidak melakukan sedikitpun kebaikan kecuali tauhid.”

itu di dalam teks Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

dalam hadits ibnu Mas’ud: “Bahwa seorang pria yang tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid “.

teks hadits ini menjelaskan dengan sangat nyata bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak berbuat syirik, dengan teks hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu berarti orang tersebut adalah seorang muwahhid karena orang yang bertauhid itu bukan pelaku syirik akbar karena kita sudah paham bahwa tauhid dan syirik itu adalah:

نقيضان لا يجتعان ولا يرتفعان

“Dua hal yang berlawanan yang tidak mungkin bersatu dan tidak mungkin kedua-duanya lenyap (pada satu orang dalam satu waktu)”.

Jadi dengan teks hadits ini gugurlah istidlal ahlul dlalal (orang-orang sesat), karena di dalam teks hadits itu sendiri disebutkan bahwa orang tersebut adalah seorang muwahhid, yaitu orang yang komitmen dengan tauhid. Maka Al Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr dalam Kitab At-Tauhid juz 18 hal. 37 mengatakan:

وفي رواية ابي رافع عن أبي هريرة رضي الله عنه في هذا الحديث أنه قال: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد…

“Diriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ dari Abu Hurairah dalam hadits ini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: Ada seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan sedikitpun kecuali tauhid.”

Kita telah paham bahwa tauhid itu adalah kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, juga baraa dari syirik dan dari para pelakunya. Imam Ibnu Abdil Barr melanjutkan teks ucapan ini, yaitu Rasulullah: Bila teks hadits ini shahih tentu sudah melenyapkan isykal perihal keimanan pria ini, berarti orang ini mu’min muwahhid. Dan seandainya teks ini tidak shahih dari sisi sanad dan dari sisi naql, akan tetapi shahih dari sisi makna, dan kaidah pun semuanya mendukungnya dan peninjauan pun mengharuskan untuk makna seperti itu, karena mustahil lagi tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni orang-orang yang mati sedangkan mereka itu kafir, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengabarkan bahwa Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menyekutukan-Nya bila dia mati dalam keadaan kafir dan ini adalah hal yang tidak bisa dibantah, dan hal ini adalah hal yang tidak ada perselisihan di antara ahli kiblat” juga Al-Allamah Muhammad bin Abdissalam Al-Mubarakfuri mengatakan :

وقد روي الحديث بلفظ: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد، وهذه اللفظة ترفع الاشكال في ايمانه والاصول تعضدها، قال تعالى، ((ان الله لا يغفر أن يشرك به )) النساء: 48. قلت: الخشية من لوازم الايمان، ولما كان فعله هذا من أجل خشية الله تعالى وخوفه، فلا بد من القول بإيمانه، وعلى هذا فالحديث ظاهر بل هو كالصريح في استثناء التوحيد كما تقدم فلا إشكال فيه.

(مرعاة المفاتيح 8/180)

“Perawi telah meriwayatkan hadits dengan teks: Berkata seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan kecuali tauhid,” Teks ini melenyapkan isykal tentang keimanan pria tersebut dan kaidah ushul-pun mendukungnya di mana Allah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya” terus beliau mengatakan: “Tatkala perbuatan dia ini dilakukannya karena rasa takut kepada Allah maka mesti dikatakan bahwa orang ini adalah orang mu’min, sehingga atas dasar ini maka hadits itu sangat nampak jelas bahkan seperti penegasan dalam pengecualiaan tauhid sebagaimana yang telah lalu, sehingga tidak ada isykal di dalamnya.”

Berarti tidak boleh hadits ini dibawa kepada makna pengudzuran pelaku syirik akbar karena kebodohan, karena itu bertentangan dengan teks hadist sendiri, di mana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkabarkan bahwa orang tersebut tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid, orang itu adalah orang yang bertauhid, berarti ini yang harus dipegang, makna ini bahwa orang tersebut adalah muwahhid atau yang bertauhid. Juga di akhir hadits ” apa yang mendorong kamu untuk melakukan hal tersebut? “Orang itu mengatakan: “rasa rakut kepada Engkau yaa Rabb ” sedangkan yang namanya Khasy-yah (rasa takut) itu hanya pada orang yang mengetahui Allah, di mana Allah mengatakan:

[إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:28

“Yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Ulama (orang yang alim) itu adalah orang yang alim (mengetahui) Allah (yaitu orang muwahhid). Sedangkan orang musyrik itu dengan nash Al-Qur’an adalah orang yang jahil (bodoh).

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah: Maka apakah kepada selain Allah kalian memerintahkan aku untuk beribdah wahai orang-orang bodoh.” (Az Zumar: 64).

Di dalam Ayat ini Allah subhanahu wa Ta’la menyebut orang-orang musyrik itu sebagai orang jahil atau bodoh, setiap orang musyrik itu jahil (bodoh) tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik, ini kaidah setiap orang musyrik itu bodoh walaupun ilmunya banyak namun dia itu bodoh, karena tidak mengenal Allah yang sebenarnya, tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik karena ada orang muslim yang bodoh, di mana dia bertauhid tapi rincian-rincian dalam masalah furu’ dia tidak paham. Yang takut kepada Allah hanyalah orang yang alim sedangkan orang musyrik itu orang yang bodoh dan tidak mempunyai khasy-yah, terus juga dalam syarat laa ilaaha illallah terdapat syarat yang pertama adalah ilmu (mengetahui), dan orang yang tidak berilmu itu tidak mungkin memiliki khasy-yah, bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal tauhid dia punya khasy-yah kepada Allah. Kemudian juga apa makna hadits tersebut setelah kita keluarkan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan masalah syirik akbar. Terus harus dipahami juga bahwa orang tersebut dia tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, dia menyakini bahwa Allah Maha Kuasa, dia menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana di dalam teks hadits tersebut sendiri terdapat pengakuan terhadap qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah tapi karena jahil maka dia diudzur. Maka kita katakan bahwa itu istinbath yang bathil, orang tersebut tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, itu dengan nash hadits tersebut, kalau seandainya orang tersebut mengingkari qudrah Allah secara mutlak dalam arti dia menyakini Allah itu tidak mampu apa-apa berarti kalau mengingkari qudrah Allah itu menyakini bahwa Allah tidak mampu apa-apa.

Justru di dalam hadits tersebut ada dilalah isyarat yang menunjukkan bahwa orang tersebut menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa buktinya? Buktinya adalah bahwa orang tersebut memerintahkan kepada anak-anaknya untuk membakar jasadnya kemudian abunya ditebar di mana-mana karena khasy-yah (takut), seandainya orang itu mengingkari qudrah Allah tentu dia tidak akan menyuruh anak-anaknya untuk membakar jasadnya dan menaburkan abunya di mana-mana tapi dia akan membiarkan jasadnya dikubur, karena kalau dia menyakini bahwa Allah tidak kuasa tentu dalam keyakinannya bahwa Allah-pun tidak akan mampu menghidupkan jasadnya yang sudah terkubur di dalam tanah, tapi tatkala orang itu menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengembalikan jasadnya utuh setelah dikubur dan hancur di dalam tanah, orang itu menyakini bahwa Allah kuasa untuk mengumpulkan jasad yang telah menjadi tanah.

Jadi orang ini menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’la akan tetapi yang tidak dia ketahui adalah qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang sudah dibakar menjadi debu dan ditabur di daratan dan di lautan. Nah sedangkan hal semacam ini yaitu rincian daripada qudrah adalah termasuk hal-hal yang pelik dan samar.

Kedua, orang tersebut adalah hidup di zaman fatrah sehingga tidak mengetahui dalil atau hujjah yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengumpulkan jasad yang sudah menjadi abu yang ditebar di daratan maupun di lautan. Makanya Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan dalam Kitab Asy Syifa Bii Ta’rif Huquq Al-Musthafa juz . 2 hal. 293:

(وقيل كان هذا في زمن الفترة وحيث ينفع مجرد التوحيد . ( الشفاء بتعرف حقوق المصطفي

“Sebagian mengatakan bahwa ini terjadi pada masa fatrah, pada saat ketika sekedar tauhid dapat bermanfaat.”

Al Imam An Nawawiy berkata:

.وقالت طائفة : كان هذا الرجل في زمن فترة حين ينفع مجرد التوحيد

“Sebagian kelompok ulama mengatakan: Orang ini hidup pada zaman fatrah di saat sekedar tauhid itu bermanfaat “. ( Syarah An Nawawi Terhadap Shahih Muslim (9/124).

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan

.أنه كان مثبتا للصانع وكان في زمن الفترة فلم تبلغ شرائط الإيمان

“Orang tersebut menetapkan adanya Pencipta, dan dia itu hidup pada zaman fatrah, di mana syari’at-syari’at keimanan belum sampai kepadanya…(Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, 6/523)

Dia itu muwahhid dan menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan jasad yang di kubur yang sudah hancur menjadi tanah, tapi hal yang tidak dia ketahui adalah hal yang menurut akal adalah mustahil, yaitu ketika jasad sudah dihancurkan dibakar menjadi abu dan ditabur di daratan dan di lautan terpisah-pisah ke mana-mana beribu-ribu mil berpencar bahwa jasadnya itu bisa kembali seperti semula, ia anggap itu mustahil dan itu dugaan dia, namun karena dia hidup di zaman fatrah maka dia diudzur karena dia orang yang memiliki tauhid. Itu makna hadits yang tepat, bukan mengingkari qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak, tapi dia tidak mengetahui qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang telah hancur lebur ditabur di mana-mana. Karena itu Imam Ibnu Hazm mengatakan:

( فهذا إنسان جهل إلى أن مات أن الله عز و جلّ يقدر على جمع رماده و إحيائه ، و قد غفر الله له لإقراره ، و خوفه ، و جهله )

[ الفصل في الملل والأهواء والنحل : 3 / 141 ] .

“Ini adalah orang yang tidak mengetahui sampai dia mati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla kuasa untuk mengumpulkan debunya dan menghidupkannya kembali, dan Allah mengampuni karena dia mengakui keesaan Allah, dan karena rasa takutnya (kepada-Nya), serta karena kebodohannya”.

Jadi dia itu tidak mengetahui bahwa Allah berkuasa untuk mengumpulkan debu-debunya yang sudah ditabur dimana-mana.

Ada juga yang mengatakan bahwa orang tersebut mengucapkan ucapan itu di dalam wasiatnya tersebut dalam kondisi dah-syat (kondisi yang mencekam) dalam kondisi yang sangat menakutkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’la sehingga muncul dari lisannya sesuatu yang dia tidak memaksudkannya. Ada ulama yang mengatakan takwil hadits itu seperti itu sedangkan kita sudah paham bahwa orang ketika mengucapkan sesuatu ucapan dengan intifaul qashdi (tidak ada maksud) karena saking bahagianya atau saking rasa takutnya kemudian muncul dari lisannya ucapan kekafiran karena salah ucap maka itu tidak dikafirkan, karena intifa al qashdi itu termasuk mawani’ takfir .

Karena itu Imam An-Nawawi mengatakan :

وقالت طائفة : اللفظ على ظاهره ، ولكن قاله هذا الرجل وهو غير ضابط لكلامه ، ولا قاصد لحقيقة معناه ، ومعتقد لها ، بل قاله في حالة غلب عليه فيها الدهش والخوف وشدة الجزع ، بحيث ذهب تيقظه وتدبر ما يقوله ، فصار في معنى الغافل والناسي ، وهذه الحالة لا يؤاخذ فيها ، وهو نحو قول القائل الآخر الذي غلب عليه الفرح حين وجد راحلته : أنت عبدي وأنا ربك ، فلم يكفر بذلك الدهش والغلبة والسهو

“Sekelompok ulama mengatakan: “Teks hadits itu sesuai dengan dhahirnya akan tetapi orang itu mengucapkannya dalam kondisi dia tidak bisa mengendalikan ucapannya dan tidak memaksudkan kepada hakekat maknanya dan tidak menyakininya, namun dia mengatakan dalam kondisi dikuasai oleh ketercengangan, ketakutan dan kekhawatiran yang sangat, sehingga lenyaplah kesadarannya dalam pengawasan terhadap apa yang diucapkannya. Sehingga keadaannya sama seperti orang yang lalai lagi lupa. Sedangkan kondisi orang semacam ini tidak dikenakan sangsi di dalamnya. Ini semakna dengan ucapan orang yang saking bahagianya saat mendapatkan unta tunggangannya, dia mengatakan: “Ya, Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu “, dia tidak kafir dengan sebab ketercengangannya, ketakutan dan kelalaian”.

Jadi, jelas orang yang menggunakan hadits ini untuk mengudzur para pelaku syirik akbar karena kebodohan adalah telah menampatkan hadits ini bukan pada tempat yang semestinya, di mana orang tersebut terbukti muwahhid tidak berbuat syirik melalui zhohir hadits dan muwahhid tersebut hidup di zaman fatrah.
Andre Tauladan

Minggu, 29 November 2015

[VIDEO] TURKI, DAN API NASIONALISME


AL-HAYAT MEDIA CENTER
Mempersembahkan:
تركيا و نار القومية
TURKI, DAN API NASIONALISME
(SUBTITLE BAHASA INDONESIA)
========================
Alih Bahasa: Usdul Wagha






DOWLOAD LINK:
Andre Tauladan

Bantahan Untuk Kebodohan & Kemunafikan Para Pengikut buta MMI & Arrahmah Yang Pendengki

Bantahan Menggelegar Terhadap Kebodohan & Kemunafikan Para Pengikut buta MMI & Arrahmah Yang Pendengki
Oleh : Abu Ismail al-Indonesiy

Segala puji bagi Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah yang telah diutus dengan pedang sebagai rahmat semesta alam, keluarga, para sahabat dan siapa yang loyal kepada mereka

Salah satu pengikut buta Jel Fathullah (salah seorang pimpinan Ormas munafik MMI) yang sangat bodoh sekarang sudah menjadi pembela Demokrasi padahal dulu ormas MMI adalah anti demokrasi tapi sekarang lihatlah.. Jel fathullah dan pengikutnya yang bodoh itu telah menjadi pembela diin kafir Demokrasi dan pelakunya.

Salah seorang pengikut buta Jel Fathullah bernama Abu Ibrahim Al Khalil (https://www.facebook.com/musab.azzarqawi/posts/970035206401069) di statusnya membela HAMAS si kera Demokrasi dengan memposting berita dari situs pendengki yang bernada berpihak pada HAMAS dibawah ini :

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/02/isis-lebih-memilih-tantang-hamas-perang-di-gaza-daripada-melawan-israel.html

Bantahan saya terhadap berita tersebut adalah wajar jika Daulah Islamiyah nanti akan memerangi HAMAS si kera demokrasi nasionalis yang juga bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran karena Daulah Islamiyah akan memerangi seluruh pelaku syirik akbar Demokrasi Nasionalis.

Yang jadi masalah adalah ormas MMI dan media Arrahmah yg dulunya adalah anti HAMAS karena syirik akbar Demokrasinya sekarang berbalik arah menjadi pembela kera Demokrasi dan Sekutu Salibis Amerika seperti si Murtadin Erdogan dan HAMAS ataupun sekutu Salibis Amerika Thaghut Salul (Saudi).

Apakah kaum muslimin mau bukti bahwa media yang jadi acuan ormas munafik MMI (arrahmah) ini dulunya adalah anti HAMAS dan membongkar pengkhianatan HAMAS terhadap islam ?

ini buktinya :
http://www.arrahmah.com/read/2009/08/20/5407-syahidnya-syekh-maqdisi-dan-pengkhianatan-hamas.html

untuk kaum muslimin :

Lihatlah buktinya .. Arrahmah kala itu membongkar habis pengkhianatan HAMAS si kera demokrasi yang kafir lagi murtad terhadap Islam. HAMAS membantai mujahidin Jundu Ansharullah tahun 2009 lalu yang kala itu memproklamirkan Imarah Islam Palestina. HAMAS yang juga mesra dengan Syiah Rafidah Iran ini membantai habis mujahidin Jundu Ansharullah yang ingin menegakkan Syariat Islam secara kaffah di Palestina.

HAMAS si kera demokrasi yang kafir lagi murtad yang juga bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran itu membantai habis mujahidin muwahidin Jundu Ansharullah yang sedang berada di dalam mesjid Ibnu Taimiyah di Rafah Palestina.

INGAT INI WAHAI KAUM MUSLIMIN..! INGATLAH INI..! HAMAS YANG MUSYRIK LAGI NAJIS ITU MEMBANTAI KAUM MUSLIMIN YANG SEDANG BERADA DI DALAM MESJID..! DI DALAM MESJID..!, DI DALAM MESJID..!

berikut videonya :


Selain membantai kaum muslimin di dalam Mesjid, HAMAS si kera Demokrasi yang kafir lagi murtad ini juga mesra dan bersahabat dengan Syiah Rafidah Iran.

Mau bukti ?

Ini buktinya :

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2015/03/13/bukti-nyata-persahabatan-hamas-dan-iran/

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2014/12/31/terkait-hubungan-iran-dengan-hamas-ismail-haniyeh-hubungan-hamas-dengan-iran-islamiyah-berlangsung-lama-dan-solid/

Cabang kelompak HAMAS di Kamp Yarmuk menyiksa kaum muslimin dengan menjual sembako dengan harga tinggi. Pada tahun 2014 seorang ibu di Kamp Yarmuk meluapkan rasa sakit hatinya pada kera Demokrasi HAMAS, Ibu tersebut mengatakan :

” TAKUTLAH KEPADA ALLAH WAHAI ANJING-ANJING!!”

Videonya :


Begitu besar kebencian kaum muslimin Palestina di Kamp Yarmuk terhadap HAMAS.

Apa yang terjadi setelah Kamp Yarmuk dikuasai dan dibebaskan oleh Daulah Islamiyah dari cengkraman orang-orang zalim yang munafik dan pendusta besar seperti Aknaf Bait Al-Maqdis (cabang HAMAS di Kamp Yarmuk)..?

Lihat video yang sangat mengharukan dibawah ini untuk mengetahuinya :




Kenapa HAMAS gak kalian sebut khawarij hai MMI & Arrahmah yang sangat zalim dan munafik..? bukankah HAMAS si kera Demokrasi Nasionalis yang mesra dengan Syiah itu membantai habis mujahidin Jundu Ansharullah di dalam mesjid ? bukankah mereka (HAMAS) telah memenuhi kriteria untuk disebut khawarij menurut kaidah kalian..? Kenapa lisan kalian hari ini malah menikam mujahidin muwahidin di Daulah Islamiyah yang telah menegakkan Syariat Islam secara kaffah dengan jalan tauhid dan jihad fisabilillah? kenapa kalian sekarang berdiri satu barisan dengan HAMAS si kera demokrasi nasionalis yang telah membantai mujahidin Jundu Ansharullah di Palestina ? dulu kalian membela Mujahidin Jundu Ansharullah sekarang malah kalian bela para pembantai Mujahidin Jundu Ansharullah… subhanallah.. alangkah jelasnya dan terangnya kemunafikan kalian ini kecuali bagi orang yg telah buta bashirohnya..! kecuali bagi para pengikut buta MMI dan Arrahmah yang jahil murakkab..!

Kenapa kalian hari ini menjadi pembela kera Demokrasi seperti HAMAS dan Thaghut Murtad Erdogan? kenapa kalian sekarang menjadi pembela dan pengangkat pamor dan memuji2 thaghut murtad Erdogan & Thaghut murtad Salul (Saudi) yang hari ini berkoalisi dengan Salibis Amerika & Salibis Perancis dalam membantai kaum muslimin di Iraq & Suriah? dimanakah al wala wal bara? Kenapa sekarang kalian membela2 dan memuji2 Thaghut Murtad Salul (Saudi) musuh Al Qaedanya Syaikh Usamah..? bukankah media Al Qaedanya Syaikh Usamah sempat merilis video yang membongkar kekafiran dan kemurtadan dari Thaghut Salul (Saudi)..? (bukti video https://www.youtube.com/watch?v=jBWDO7caRdc)

Kenapa hari ini kalian membela dan memuji2 thaghut Murtad Salul (Saudi)..? Bukankah Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy yang hari ini kalian puji karena telah berada satu barisan dengan kalian dalam kedengkian terhadap Daulah Islamiyah pernah membongkar kekafiran dan kemurtadan dari Thaghut Saudi yang berlipat2 itu?

Membongkar kekafiran Thaghut Saudi oleh Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy :

1. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-pertama-kekafiran-negara-saudi/
2. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/18/seri-kedua-kekafiran-negara-saudi/
3. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/19/seri-ketiga-kekafiran-negara-saudi/
4. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-keempat-kekafiran-negara-saudi/
5. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/20/seri-kelima-kekafiran-negara-saudi/
6. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-keenam-kekafiran-negara-saudi/
7. https://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/21/seri-terakhir-kekafiran-negara-saudi/

Jika link diatas gak bisa dibuka maka ini alternatif link :

1. https://justpaste.it/ThaghutSalul1
2. https://justpaste.it/ThaghutSalul2
3. https://justpaste.it/ThaghutSalul3
4. https://justpaste.it/ThaghutSalul4
5. https://justpaste.it/ThaghutSalul5
6. https://justpaste.it/ThaghutSalul6
7. https://justpaste.it/ThaghutSalul7

Kenapa kalian hari ini menjadi pembela dan memuji HAMAS dan Thaghut Murtad Erdogan yang musyrik kafir lagi murtad itu? apa karena ormas kalian MMI yang sekarang telah menjadi penyeru kekafiran dan kesyirikan (Demokrasi) makanya kalian hari ini membela dan memuji kera Demokrasi seperti HAMAS dan si Murtadin Erdogan..? apakah kalian mau mengajak umat dan anggota ormas kalian ke Neraka Jahanam bersama kalian dengan seruan kekafiran/kesyirikan (demokrasi) tersebut..?

Ormas munafik MMI adalah ormas yg dulunya adalah anti Demokrasi yang sekarang telah menjelma menjadi ormas pembela penganut dien kafir Demokrasi dan telah menjelma menjadi ormas Thaghut yg menyeru pada kekafiran dan kesyirikan (Demokrasi). Bagi kaum muslimin yang ingin selamat dunia dan akhiratnya maka meloncatlah keluar dari kereta api bernama MMI seperti Ustad ABB yang telah lama meloncat keluar dari MMI karena MMI sekarang sedang meniti jalan di rel setan (thaghut) demokrasi yang sedang menuju ke Neraka.

Mau bukti kalau dulunya ormas munafik MMI adalah anti Demokrasi dan mewajibkan umat utk golput karena Demokrasi itu adalah kekafiran besar & kesyrikan besar yg mengeluarkan dari Islam..?

ini buktinya :

2009 –> MMI cs termasuk Jel Fathullah [si munafiq pembela sekutu salibis Amerika (thaghut murtad Erdogan)] sepakat demokrasi adalah syirik akbar dan kufur akbar dan menjatuhkan para pelakunya pada kemusyrikan.

bukti :
http://www.arrahmah.com/read/2009/03/27/3729-hukum-demokrasi-dan-golput-dalam-pandangan-islam.html

2014 –> MMI berbalik arah menjadi penyeru diin kafir Demokrasi dan menyerukan umat agar ikut pesta syirik akbar demokrasi padahal 2009 lalu mewajibkan golput karena demokrasi itu syirik akbar dan kufur akbar yg bisa mengeluarkan dari Islam (murtad). Tetapi pada 2014 malah menyerukan umat utk ikut pada pesta kekafiran dan kesyirikan tsb dan menyeru umat utk mengangkat thaghut lewat jalan setan (thaghut) demokrasi.

bukti :
http://www.muslimdaily.net/berita/nasional/majelis-mujahidin-jangan-pilih-partai-yang-menolak-syariat-islam.html

http://www.muslimdaily.net/berita/nasional/tausiyah-politik-majelis-mujahidin-tentang-pemilu-dan-parlemen.html

Untuk memuluskan agenda mereka (MMI) yang sekarang telah berada dan sedang meniti jalan setan (thaghut) demokrasi maka dibuatlah syubhat yang lemah dan rapuh lalu disebar lewat media pendengki Arrahmah agar umat mengikuti mereka di jalan setan (thaghut) demokrasi tersebut. Syubhat lemah dan rapuh bak jaring laba-laba tsb langsung dibantah oleh seorang ustad di negeri ini yang istiqomah mendakwahkan Tauhid yaitu Ustad Abu Sulaiman Ar Arkhabiliy (fakallahuasrah).

bantahan tersebut bisa dibaca dilink di ini :

https://millahibrahim.wordpress.com/2013/09/09/membantah-penyesatan-irfan-s-awwas-yang-disebarkan-oleh-situs-arrahmah-com/

atau di alternatif link berikut :

https://justpaste.it/MembantahMMI

Jadi jelas, MMI sekarang telah berada di jalan setan (thaghut) demokrasi dengan menyerukan umat utk ikut pesta Syirik akbar Demokrasi dengan cara membuat syubhat2 bathil yang lemah lagi rapuh untuk membenarkan jalan setan (thaghut) demokrasi yang mereka serukan dan telah mengajak umat utk ikut ke Neraka Jahanam bersama mereka.

Salah satu kezaliman lain yang teramat keji dari ormas munafik MMI ini adalah memfitnah Daulah Islamiyah dengan mengatakan bahwa Daulah Islamiyah adalah hasil rekayasa Syiah seperti yang terlihat di foto di bawah ini :

Padahal kita tahu semua bahwa Syiah adalah salah satu musuh yang sudah sejak dari dulu diperangi oleh pionir Daulah Islam Syaikh Abu Mushab Al Zarqawi rahimahullah dan itu terus berlanjut pada zaman Amirul Mukminin yang pertama Daulah Islam Iraq Syaikh Abu Umar Al Baghdadiy rahimahullah dan terus berlanjut pada masa Amirul Mukminin Daulah Islam Iraq yang kedua Syaikh Abu Bakar Al Baghdadiy hafidzahullah yang kemudian menjadi Daulah Islam Iraq & Syam dan kemudian menjadi Khilafah Islamiyah. Alangkah keji dan zalimnya fitnah dari ormas munafik MMI ini terhadap Khilafah Islamiyah dengan mengatakan Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Al Baghdadiy adalah hasil dari rekayasa Syiah. Rupanya ada kesamaan antara MMI & Arrahmah ini dengan Syiah Rafidah yaitu mereka sama-sama pendusta & tukang fitnah, Nauzu billahi min zalik.

Para pendengki munafik di MMI dan di Arrahmah ini mengatakan bahwa Daulah Islamiyah hasil rekayasa syiah padahal MMI & Arrahmah ini lah yang sejatinya adalah kepanjangan lidah dari Syiah Rafidah dengan membela-bela HAMAS si kera demokrasi yang musyrik lagi najis yang tak lain adalah sahabat dari Syiah Rafidah Iran..!

Bukti persabahatan HAMAS dengan Syiah Rafidah Iran

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2015/03/13/bukti-nyata-persahabatan-hamas-dan-iran/

https://khilafahdaulahislamiyyah.wordpress.com/2014/12/31/terkait-hubungan-iran-dengan-hamas-ismail-haniyeh-hubungan-hamas-dengan-iran-islamiyah-berlangsung-lama-dan-solid/

Subhanallah.. fitnah MMI & Arrahmah terhadap Daulah Islamiyah ternyata faktanya MMI dan Arrahmah lah yang telah menjadi pembela Syiah dengan membela-bela HAMAS si kera demokrasi sahabatnya Syiah Rafidah Iran..!

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/02/isis-lebih-memilih-tantang-hamas-perang-di-gaza-daripada-melawan-israel.html

Jadi wajar jika nanti Daulah Islamiyah akan memerangi HAMAS si kera demokrasi yang musyrik lagi najis yang juga menjalin persahabatan dengan Syiah Rafidah Iran..! Memerangi HAMAS yang musyrik juga berarti memerangi Yahudi karena HAMAS adalah sahabat sejati Syiah Rafidah Iran dan Syiah Rafidah Iran adalah anak dari Yahudi..!

Kalian hai MMI & Arrahmah terkhususnya si munafik Jelita Donal (Jel Fathullah) dan para pengikut butanya yang jahil murakkab, kalian mencari-cari bermacam-macam uzur sesuai hawa nafsu kalian serta berhati-hati dari mengkafirkan para thaghut & anshar thaghut yang musyrik lagi najis yang juga merangkap sekutu salibis Amerika dalam memerangi tauhid dan kaum muslimin tetapi kalian begitu mudahnya mengkafirkan Ahlut Tauhid Al-Mujahidin di Daulah Islamiyah dan kalian tidak mencari uzur bagi Ahlut Tauhid Al-Mujahidin di Daulah Islamiyah. Si Munafik Jelita Donal (Jel Fathullah) mengatakan di sebuah komentarnya di Facebook bahwa dia sangat hati-hati dan tidak ingin berhujjah semberono dalam memvonis kafir si Thaghut Murtad Erdogan (Kera Demokrasi dan sekutu salibis Amerika) tetapi dia begitu sangat tidak hati-hati dan sangat semberono dalam berhujjah terkait vonis khawarijnya pada Daulah Islamiyah.

Alangkah samanya kalian hai MMI & Arrahmah yang pendengki yang mesra dengan thaghut & anshar thaghut dengan orang yang dikatakan oleh Mujaddid besar abad ke 7 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah, Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya mereka orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati mereka, ternyata orang-orang muwahhid itu musuh-musuh mereka, mereka membencinya dan dongkol dengannya, sedangkan orang-orang musyrik dan orang-orang munafiq adalah kawan dekat mereka yang mana mereka bercengkrama dengannya. Tapi realita ini telah terjadi pada kami dari orang-orang yang ada di kota Dir’iyyah dan ‘Uyainah yang (akhirnya) murtad dan benci akan dien ini”. (Ad Durar: 10/92)

MMI bisa mesra dengan thaghut & anshar thaghut sedangkan pada muwahidin mereka menampakkan permusuhan dan kebenciannya. Subhanallah… alangkah samanya MMI dengan orang yang dikatakan Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah diatas.

Untuk kaum muslimin yang saya cintai

Orang-orang seperti munafikun MMI dan Arrahmah inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shahallahu alaihi wasallam dari pada sosok Dajjal itu sendiri karena mereka orang munafik yang pintar berbicara.

“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan dari umatku ialah setiap munafik yang pandai berbicara” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari ‘Umar].

Munafik yang pandai berbicara ini termasuk para ustad atau dai atau ulama yang menyesatkan yang disebutkan dalam hadits lain. Abu Dzar radiallahuanhu meriwayatkan bahwa ketika ia berjalan bersama dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam Nabi berkata tiga kali, “Sesungguhnya, ada yang lebih kutakutkan atas umatku melebihi Dajjal.” Abu Dzar bertanya kepada beliau, “Apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal?” Beliau menjawab, “Para imam yang menyesatkan” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari Abu Dzar]

Dari Huadzaifah ibnul Yaman berkata :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

” يَكُونُ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ , مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ” ,
قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , صِفْهُمْ لَنَا ,
قَالَ : ” هُمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا , يَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ” ,
قُلْتُ : فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟
قَالَ : ” فَالْزَمْ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ , فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا , وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ , وَأَنْتَ كَذَلِكَ “

“Akan ada para penyeru diataas pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka, maka akan dilemparkan ke dalamnya”

Aku berkata : “Wahai Rosulullah, terangkanlah ciri-iri mereka”

Beliau berkata : “Mereka adalah orang-orang dari bangsa kita sendiri dan berbicara dengan lisan kita”

Aku berkata : “Apa yang engkau perintahkankepadaku jika aku menemui hal itu”

Beliau menjawab : “Maka lazimilah Jama’atul Muslimin dan imam mereka. Dan jika tidak ada jamaah dan imam, maka jauhilah firqoh-firqoh itu, meskipun engkau menggigit akar pohon hingga maut menghampirimu sedangkan engkau dalam kondisi demikian”

Bukankah MMI & Arrahmah itu sebangsa dan sebahasa dengan kita wahai kaum muslimin? dan lihat seruannya dan pembelaannya kepada siapa? pada pelaku kekafiran dan kesyirikan Demokrasi, bukan? itulah seruan diatas pintu-pintu Jahanam.

Mengenai perintah Rasulullah untuk melazimi Jama’atul Muslimin dan Imam mereka, Imam yang Satu dan Jamaah yang Satu tentu tidak perlu saya jawab siapa Imam yang satu itu dan dimana Jama’atul Muslimin dengan Imam mereka yang satu sekarang ini berada karena pasti udah tahu jawabannya bagi para pendukung Khilafah Islamiyah, bukan begitu ? :)

Mujaddid besar abad ke 12 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah mengatakan :

فالله الله يا إخواني تمسكوا بأصل دينكم، وأوله وآخره وأسه ورأسه : شهادة أن لا إله إلا الله.. واعرفوا معناها، وأحبوها وأحبوا أهلها ، واجعلوهم إخوانكم ، ولو كانوا بعيدين ، واكفروا بالطواغيت وعادوهم وابغضوهم ، وابغضوا من أحبهم أو جادل عنهم أو لم يكفرهم أو قال ما علي منهم أو قال ما كلفني الله بهم ، فقد كذب هذا على الله وافترى ، فقد كلفه الله بهم وافترض عليه الكفر بهم والبراءة منهم ..فالله الله ، تمسكوا بذلك لعلكم تلق
ون ربكم لا تشركون به شيئا ، اللهم توفـنا مسلمين ، وألحقنا بالصالحين

“Allah Allah wahai saudara-saudaraku, berpegang-teguhlah pada pokok Din kalian, awal dan akhirnya, pondasi dan kepalanya, yaitu syahad LAA ILAHA ILLALLAH ketahuilah maknanya, cintailah pemeluknya, jadikanlah mereka saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh. Kufurlah terhadap thoghut, musuhi mereka, bencilah siapa yang mencintai mereka atau yang membela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau mengatakan Allah tidak memerintahkanku untuk mengkafirkan mereka, maka dia berdutsa dan mengada-ada atas nama Allah. Justeru Allah telah memerintahkannya untuk mengkafirkan mereka dan mewajibkannya, bara’-lah dari mereka meskipun mereka itu saudara-saudaranya dan anak-anaknya. Takutlah kepada Allah dan takutlah kepada Allah, peganglah pokok agama kalian, semoga kalian bertemu dengan Rabb kalian dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ya Allah wafatkanlah kami dalam kondisi muslim dan gabungkanlah kami dengan orang-orang yang shaleh” [Ad-Duror As-Saniyyah 2/119 – 120]

Mujaddid besar abad ke 7 Hijriah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab rahimahullah juga berkata :

هذا من أعظم ما يبين معنى لا إله إلا الله فإنه لم يجعل التلفظ بها عاصماً للدم والمال بل ولا معرفة معناها مع لفظها بل ولا الإقرار بذلك بل ولا كونه لا يدعوا إلا الله وحده لا شريك له بل لا يحرم دمه ولا ماله حتى يضيف إلى ذلك الكفر بما يعبد من دون الله ، فإن شك أو توقف لم يحرم دمه ولا ماله فيا لها من مسائل ما أعظمها ، وأجلها ، ويا له من بيان ما أوضحه وحجة ما أقطعها للمنازع

“Dan ini termasuk yang paling agung yang dijelaskan makna Laa Ilaaha illallah karena dengan mengucapkannya saja tidak menjadikan seseorang terjaga harta dan darahnya. Bahkan tidak juga sekedar mengetahui maknanya, tidak juga hanya sekedar mengakuinya, bahkan tidak pula hanya dengan tidak berdoa kecual hanyakepada kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, bahkan tidak menjadi haram darah dan hartanya hingga menambahkan itu dengan sikap kufur terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah. Jika ia masih ragu maka darah dan hartanya tidak menjadi haram. Duhai betapa agungnya masalah ini! Betapa jelasnya keterangan ini! Betapa qath’inya hujjah ini” [Kitabut Tauhid hal 26].

Hanya dengan timbangan kalimat tauhid laa ilaaha illallah dan al wala wal bara’ bisa terlihat kemunafikan dari Ormas MMI dan Arrahmah ini, oleh karena itu untuk kaum muslimin marilah kita mempelajari tauhid, al wala wal bara, had syirik, pembatal-pembatal tauhid, faham hujjah & tegak hujjah dan kaitannya dengan penamaan musyrik, takfir muayyan terhadap pelaku syirik akbar, permasalahan udzur jahil terhadap pelaku syirik akbar yang sering didengung2kan oleh penganut aqidah ghulat murjiah, dll. Karena hanya dengan mengkaji tauhid, pembatal-pembatal tauhid & al wala wal bara inilah kita harapkan mudah-mudahan kaum muslimin tidak tertipu oleh seruan dari dai seperti di MMI dan yang sejenis dengan mereka yang menyeru ke neraka jahanam.

Untuk kaum muslimin yang ingin selamat di dunia akhirat dan dari fitnah yang ditimbulkan oleh MMI dan Arrahmah (dan yang sebarisan dengan mereka dalam kedengkian dan fitnah) maka larilah darinya seperti lari dari anjing koreng dan jangan menoleh ke arahnya, meskipun engkau melihatnya berpura pura islam atau menampak nampakkan keislamannya ataupun berpura pura menangis… Karena itu hanyalah air mata serigala dan tipuan belaka.

Wallaahu Akbar

Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

sumber :https://justpaste.it/PengikutButaMMIArrahmah

Andre Tauladan

Jumat, 20 November 2015

SIAPAKAH THAGHUT?

Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah dan menjauhi thaghut, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadatilah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu." (QS. An Nahl [16]: 36)

Thaghut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati atau diibadati. Thaghut itu banyak, apalagi pada masa sekarang. Adapun pentolan-pentolan thaghut itu ada 5 (lima), yaitu sebagai berikut:

1. Syaitan

Syaitan selalu mengajak ibadah kepada selain Allah. Syaitan ada dua macam: Syaitan Jin dan Syaitan Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (QS. Al An’am [6]: 112)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An Naas [114]: 5-6)

Orang yang mengajak untuk mempertahankan tradisi tumbal dan sesajen, dia adalah syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Tokoh yang mengajak minta-minta kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu pentolan thaghut. Orang yang mengajak pada sistem demokrasi adalah syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah, dia berarti termasuk thaghut. Orang yang mengajak menegakkan hukum perundang-undangan buatan manusia, maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah. Orang yang mengajak kepada paham-paham syirik (seperti: sosialis, kapitalis, liberalis, dan falsafah syirik lainnya), maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam: "Janganlah kamu mengibadati syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu,” (QS. Yaasin [36]: 60)

2. Penguasa yang zalim

Penguasa yang zalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen (DPR), lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha." (Majmu Al Fatawa)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya para anggota parlemen itu adalah thaghut, tidak peduli dari mana saja asal kelompok atau partainya. Presiden dan para pembantunya, seperti menteri-menteri di negara yang bersistem syirik adalah thaghut, sedangkan para aparat keamanannya adalah sadanah (juru kunci) thaghut apapun status kepercayaan yang mereka klaim.

Orang-orang yang berjanji setia pada sistem syirik dan hukum thaghut adalah budak-budak (penyembah/hamba) thaghut. Orang yang mengadukan perkaranya kepada pengadilan thaghut disebut orang yang berhukum kepada thaghut, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. (QS. An Nisaa' [4]: 60)

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan

Kepala suku dan kepala adat yang memutuskan perkara dengan hukum adat adalah kafir dan termasuk thaghut. Jaksa dan Hakim yang memvonis bukan dengan hukum Allah, tetapi berdasarkan hukum/undang-undang buatan manusia (hukum Jahiliyah), maka sesungguhnya dia itu thaghut. Aparat dan pejabat yang memutuskan perkara berdasarkan Undang Undang Dasar thaghut adalah thagut juga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. (QS. An Nisaa' [4]: 60)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al Maidah [5]: 44)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al Maidah [5]: 45)

Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah [5]: 47)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Siapa yang meninggalkan aturan baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia justru merujuk pada aturan-aturan (hukum) yang sudah di-nasakh (dihapus), maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum Ilyasa (Yasiq) dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin." (Al Bidayah: 13/119).

Sedangkan Ilyasa (Yasiq) adalah hukum buatan Jengis Khan yang berisi campuran hukum dari Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Orang yang lebih mendahulukan hukum buatan manusia dan adat daripada aturan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia itu kafir. Dalam ajaran Tauhid, seseorang lebih baik hilang jiwa dan hartanya daripada dia mengajukan perkaranya kepada hukum thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Fitnah (syirik & kekafiran) itu lebih dahsyat dari pembunuhan. (QS. Al Baqarah [2]: 191)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata: "Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah." (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut)

Bila kita mengaitkan ini dengan realita kehidupan, ternyata umumnya manusia menjadi hamba thaghut dan berlomba-lomba meraih perbudakan ini. Mereka rela mengeluarkan biaya berapa saja (berkolusi; menyogok/risywah) untuk menjadi Abdi Negara dalam sistem thaghut, mereka mukmin kepada thaghut dan kafir terhadap Allah. Sungguh buruklah status mereka ini…!!

4. Orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah

Semua yang ghaib hanya ada di Tangan Allah, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dialah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib, tetapi Dia tidak menampakkan yang ghaib itu kepada seorangpun. (QS. Al Jin [72]: 26)

Bila ada orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah thaghut, seperti dukun, paranormal, tukang ramal, tukang tenung, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia mempercayainya, maka dia telah kafir, maka apa gerangan dengan status si dukunnya itu sendiri…?! Tentu lebih kafir lagi…

Dan memohon kepada selain Allah seperti dukun, paranormal, tukang ramal, orang pintar, orang suci, orang yang sudah mati, tukang tenung, pawang hujan, tempat keramat, tempat angker, kuburan, pohon, benda-benda mati, jin, dewa/dewi, makhluk halus, dan semacamnya adalah termasuk perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Yunus: 106)

5. Orang yang diibadati selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu

Orang yang senang bila dikultuskan, sungguh dia adalah thaghut. Orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah thaghut.

Orang yang mengatakan: “Saya adalah anggota badan legislatif” adalah sama dengan ucapan: “Saya adalah Tuhan”, karena orang-orang di badan legislatif itu sudah merampas hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu hak membuat hukum (undang-undang). Mereka senang bila hukum yang mereka gulirkan itu ditaati lagi dilaksanakan, maka mereka adalah thaghut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah ilah selain Allah.” Maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al Anbiya [21]: 29)

Itulah tokoh-tokoh thaghut di dunia ini…

Termasuk juga thaghut adalah patung, pohon, keris, batu, tempat keramat, dewa/dewi, kuburan, dan berhala-berhala lainnya yang disembah/diibadati selain Allah.

Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur kepada thaghut. Kufur kepada thaghut adalah separuh Laa ilaaha illallaah dan merupakan syarat sahnya iman. Thaghut yang paling berbahaya pada masa sekarang adalah thaghut hukum, yaitu para penguasa yang membabat aturan Allah, mereka menindas umat ini dengan besi dan api, mereka paksakan kehendaknya, mereka membunuh, menculik, dan memenjarakan kaum muwahhidin yang menolak tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi anehnya banyak orang yang mengaku beragama Islam berlomba-lomba untuk menjadi budak dan hamba mereka. Mereka juga memiliki ulama-ulama jahat yang siap mengabdikan lisan dan pena demi kepentingan ‘tuhan’ mereka.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala cepat membersihkan negeri kaum muslimin dari para thaghut dan kaki tangannya, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.[*]

[*](Tulisan ini merupakan syarah/penjelasan singkat dari Risalah fie Ma’na Thaghut karya Al-Imam Al-Mujaddid Syaikh Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah, ed.)

Andre Tauladan

SIAPAKAH ULIL AMRI?

Ulil Amri adalah pemimpin/penguasa yang beriman, yang menegakkan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya secara totalitas (kaffah) dalam semua aspek kehidupan. Hal ini berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian... (QS. An-Nisa: 59)

Dalam ayat di atas, yang diseru adalah "orang-orang yang beriman" agar mereka mentaati Allah, Rasul, dan Ulil Amri "di antara kamu". Frasa "di antara kamu" berarti Ulil Amri itu berasal dari dan diangkat oleh "orang-orang yang beriman". Seruan Allah selanjutnya, apabila di antara orang-orang yang beriman (termasuk Ulil Amri) tersebut terjadi perbedaan pendapat tentang sesuatu, Allah menyuruh mereka agar mengembalikan persoalan tersebut kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). Jadi, jelaslah bahwa Ulil Amri adalah "pemimpin yang beriman" yang hanya tunduk patuh kepada seluruh hukum Allah dan Rasul-Nya, karena syarat utama keimanan seseorang adalah "kufur kepada Thaghut", berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...barangsiapa yang kufur kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus... (QS. Al-Baqarah: 256)

Salah satu bentuk kufur kepada Thaghut adalah tidak berhakim kepada Thaghut dan hukum-hukumnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum (berhakim) kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri Thaghut itu.... (QS. An-Nisa: 60)

Sedangkan maksud dari "buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus" adalah kalimat Tauhid "Laa ilaaha illallah".

Itulah Ulil Amri menurut Al Quran, bukan menurut partai politik yang berdiri di atas dienul batil demokrasi.
Andre Tauladan

Kamis, 13 Agustus 2015

Syubhat-Syubhat Sekitar Masalah Demokrasi Dan Pemungutan Suara

Pemungutan suara atau voting sering digunakan oleh lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi baik skala besar seperti sebuah negara maupun kecil seperti sebuah perkumpulan, di dalam mengambil sebuah sikap atau di dalam memilih pimpinan dan lain-lain. Sepertinya hal ini sudah lumrah dilangsungkan. Hingga dalam menentukan pimpinan umat harus dilakukan melalui pemungutan suara, dan tentu saja masyarakat umumpun dilibatkan di dalamnya. Padahal banyak di antara mereka yang tidak tahu menahu apa dan bagaimana kriteria seorang pemimpin menurut Islam.
voting box
image by ciker.com

Dengan cara dan praktek seperti ini bisa jadi seorang yang tidak layak menjadi pemimpin keluar sebagai pemenangnya. Adapun yang layak dan berhak tersingkir atau tidak dipandang sama sekali ! Tentu saja metoda pemungutan suara seperti ini tidak sesuai menurut konsep Islam, 'yang menekankan konsep syura (musyawarah) antara para ulama dan orang-orang shalih. Allah telah berfirman dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.[An-Nisaa/4 : 58]

Kepemimpinan adalah sebuah amanat yang amat agung, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan manusia yang amat sensitif. Oleh sebab itu amanat ini harus diserahkan kepada yang berhak menurut kaca mata syariat. Proses pemungutan suara bukanlah cara/wasilah yang syar'i untuk penyerahan amanat tersebut. Sebab tidak menjamin penyerahan amanat kepada yang berhak. Bahkan di atas kertas dan di lapangan terbukti bahwa orang-orang yang tidak berhaklah yang memegang (diserahi) amanat itu. Di samping bahwa metoda pemungutan suara ini adalah metoda bid'ah yang tidak dikenal oleh Islam. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satupun dari Khulafaur Rasyidin yaitu: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiyallahu 'anhum maupun yang sesudah mereka, yang dipilih atau diangkat menjadi khalifah, melalui cara pemungutan suara yang melibatkan seluruh umat.

Lantas dari mana sistem pemungutan suara ini berasal ?! Jawabnya: tidak lain dan tidak bukan ia adalah produk demokrasi ciptaan Barat (baca kafir).

Ada anggapan bahwa pemungutan suara adalah bagian dari musyawarah. Tentu saja amat jauh perbedaannya antara musyawarah mufakat menurut Islam dengan pemungutan suara ala demokrasi di antaranya:

• Dalam musyawarah mufakat, keputusan ditentukan oleh dalil-dalil syar'i yang menempati al-haq walaupun suaranya minoritas.

• Anggota musyawarah adalah ahli ilmu (ulama) dan orang-orang shalih, adapun di dalam pemungutan suara anggotanya bebas siapa saja.

• Musyawarah hanya perlu dilakukan jika tidak ada dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah. Adapun dalam pemungutan suara, walaupun sudah ada dalil yang jelas seterang matahari, tetap saja dilakukan karena yang berkuasa adalah suara terbanyak, bukan al-Qur'an dan as-Sunnah.

MAKNA PEMUNGUTAN SUARA
Pemungutan suara maksudnya adalah: pemilihan hakim atau pemimpin dengan cara mencatat nama yang terpilih atau sejenisnya atau dengan voting. Pemungutan suara ini, walaupun bermakna: pemberian hak pilih, tidak perlu digunakan di dalam syariat untuk pemilihan hakim/pemimpin. Sebab ia berbenturan dengan istilah syar'i yaitu syura (musyawarah). Apalagi dalam istilah pemungutan suara itu terdapat konotasi haq dan batil. Maka penggunaan istilah pemungutan suara ini jelas berseberangan jauh dengan istilah syura. Sehingga tidak perlu menggunakan istilah tersebut, sebab hal itu merupakan sikap latah kepada mereka.

MAFSADAT PEMUNGUTAN SUARA
Amat banyak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari cara pemungutan suara ini di antaranya:

• Termasuk perbuatan syirik kepada Allah.
• Menekankan suara terbanyak.
• Anggapan dan tuduhan bahwa dinul Islam kurang lengkap.
• Pengabaian wala' dan bara'.
• Tunduk kepada Undang-Undang sekuler.
• Mengecoh (memperdayai) orang banyak khususnya kaum Muslimin.
• Memberikan kepada demokrasi baju syariat.
• Termasuk membantu dan mendukung musuh musuh Islam yaitu Yahudi dan Nashrani.
• Menyelisihi Rasulullah dalam metoda menghadapi musuh.
• Termasuk wasilah yang diharamkan.
• Memecah belah kesatuan umat.
• Menghancurkan persaudaraan sesama Muslim.
• Menumbuhkan sikap fanatisme golongan atau partai yang terkutuk.
• Menumbuhkan pembelaan membabi buta (jahiliyah) terhadap partai-partai di golongan mereka.
• Rekomendasi yang diberikan hanya untuk kemaslahatan golongan.
• Janji janji tanpa realisasi dari para calon hanya untuk menyenangkan para pemilih.
• Pemalsuan-pemalsuan dan penipuan-penipuan serta kebohongan-kebohongan hanya untuk meraup simpati massa.
• Menyia-nyiakan waktu hanya untuk berkampanye bahkan terkadang meninggalkan kewajiban (shalat dan lain-lain).
• Membelanjakan harta tidak pada tempat yang disyariatkan.
• Money politic, si calon menyebarkan uang untuk mempengaruhi dan membujuk para pemilih.
• Terperdaya dengan kuantitas tanpa kualitas.
• Ambisi merebut kursi tanpa perduli rusaknya aqidah.
• Memilih seorang calon tanpa memandang kelurusan aqidahnya.
• Memilih calon tanpa perduli dengan syarat syarat syar'i seorang pemimpin.
• Pemakaian dalil-dalil syar'i tidak pada tempatnya, di antaranya adalah ayat-ayat syura yaitu Asy-Syura': 46.
• Tidak diperhatikannya syarat-syarat syar'i di dalam persaksian, sebab pemberian amanat adalah persaksian.
• Penyamarataan yang tidak syar'i, di mana disamaratakan antara wanita dan pria, antara seorang alim dengan si jahil, antara orang-orang shalih dan orang-orang fasiq, antara Muslim dan kafir.
• Fitnah wanita yang terdapat dalam proses pemungutan suara, di mana mereka boleh dijadikan sebagai salah satu calon! Padahal Rasulullah telah bersabda: "Tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada kaum wanita". [Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Bakrah]
• Mengajak manusia untuk mendatangi tempat-tempat pemalsuan.
• Termasuk bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
• Melibatkan diri dalam perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
• Janji-janji palsu dan semu yang disebar.
• Memberi label pada perkara-perkara yang tidak ada labelnya seperti label partai dengan partai Islam, pemilu Islami, kampanye Islami dan lain-lain.
• Berkoalisi atau beraliansi dengan partai-partai menyimpang dan sesat hanya untuk merebut suara terbanyak.
• Sogok-menyogok dan praktek-praktek curang lainnya yang digunakan untuk memenangkan pemungutan suara.
• Pertumpahan darah yang kerap kali terjadi sebelum atau sesudah pemungutan suara karena memanasnya suasana pasca pemungutan suara atau karena tidak puas karena kalah atau merasa dicurangi.

Sebenarnya masih banyak lagi kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan akibat dari proses pemungutan suara ini. Kebanyakan dari kerusakan-kerusakan yang disebutkan tadi adalah suatu yang sering nampak atau terdengar melalui media massa atau lainnya !

Lalu apakah pantas seorang Muslim -apalagi seorang salafi- ikut-ikutan latah seperti orang-orang jahil tersebut ?!

Sungguh sangat tidak pantas bagi seorang Muslim salafi yang bertakwa kepada Rabb-Nya melakukan hal itu, padahal ia mendengar firman Rabb-Nya:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ ﴿٣٥﴾ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut bagi Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (kafir). Mengapa kamu berbuat demikian ? Bagaimanakah kamu membuat keputusan ? [Al-Qalam/68: 35-36]

Pada saat bangsa ini sedang menghadapi bencana, yang seharusnya mereka memperbaiki kekeliruannya adalah dengan kembali kepada dien yang murni sebagaimana firman Allah

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan buah tangan perbuatan manusia agar mereka merasakan sebagian perbuatan mereka dan agar mereka kembali. [Ar-Ruum: 41]

Yaitu, agar mereka kembali kepada dien ini sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: " Jika kalian telah berjual beli dengan sistem 'inah dan kalian telah mengikuti ekor-ekor sapi, telah puas dengan bercocok tanam dan telah kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan; tidak akan kembali (kehinaan) dan kalian hingga kalian kembali ke dien kalian".

Kembali kepada dien yang murni itulah solusinya, kembali kepada nilai-nilai tauhid yang murni, mempelajari dan melaksanakan-melaksanakan konsekuensi-konsekuensinya, menyemarakkan as-Sunnah dan mengikis bid'ah dan mentarbiyah ummat di atas nilai tauhid. Da'wah kepada jalan Allah itulah jalan keluarnya, dan bukan melalui kotak suara atau kampanye-kampanye semu! Tetapi realita apa yang terjadi??

Para Du'at (da'i) sudah berubah profesi, kini ia menyandang predikat baru, yaitu juru kampanye (jurkam), menyeru kepada partainya dan bukan lagi menyeru kepada jalan Allah. Menebar janji-janji; bukan lagi menebar nilai-nilai tauhid. Sibuk berkampanye baik secara terang-terangan maupun terselubung. Bukan lagi berdakwah, tetapi sibuk mengurusi urusan politik padahal bukan bidangnya dan ahlinya- serta tidak lagi menuntut ilmu.

Mereka berdalih: "Masalah tauhid memang penting akan tetapi kita tidak boleh melupakan waqi' (realita)."

Waqi' (realita) apa yang mereka maksud ? Apakah realita yang termuat di koran-koran, majalah-majalah, surat kabar-surat kabar ? -karena itulah referensi mereka- atau realita umat yang masih jauh dari aqidah yang benar, praktek syirik yang masih banyak dilakukan, atau amalan bid'ah yang masih bertebaran. Ironinya hal ini justru ada pada partai-partai yang mengatas namakan Islam ! Wallahul Musta'an

Mereka ngotot untuk tetap ikut pemungutan suara, agar dapat duduk di kursi parlemen. Dan untuk mengelabuhi umat merekapun melontarkan beberapa syubhat!

SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
• Mereka mengatakan: Bahwa sistem demokrasi sesuai dengan Islam secara keseluruhan. Lalu mereka namakan dengan syura (musyawarah) berdalil dengan firman Allah

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

" Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka".[Asy-Shura/42 : 38]

Lalu mereka bagi demokrasi menjadi dua bagian yang bertentangan dengan syariat dan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Bantahan:
Tidak samar lagi batilnya ucapan yang menyamakan antara syura menurut Islam dengan demokrasi ala Barat. Dan sudah kita cantumkan sebelumnya tiga perbedaan antara syura dan demokrasi !

Adapun yang membagi demokrasi ke dalam shahih (benar) dan tidak shahih adalah pembagian tanpa dasar, sebab istilahnya sendiri tidak dikenal dalam Islam.

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ﴿٢٢﴾إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk, (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" [An-Najm/53 : 22-23]

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara sudah ada pada awal-awal Islam, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman radhiyallahu 'anhum telah dipilih dan dibaiat. [Lihat kitab syari'atul intikhabat hal.15]

Bantahan:
Ucapan mereka itu tidak benar karena beberapa sebab:

1. Telah jelas bagi kita semua kerusakan yang ditimbulkan oleh pemungutan suara seperti kebohongan, penipuan, kedustaan, pemalsuan dan pelanggaran syariat lainnya. Maka amat tidak mungkin sebaik-baik kurun melakukan praktek-praktek seperti itu.

2. Para sahabat (sebagaimana yang dimaklumi dan diketahui di dalam sejarah) telah bermufakat dan bermusyawarah tentang khalifah umat ini sepeninggal Rasul.

Dan setelah dialog yang panjang di antaranya ucapan Abu Bakar as-Sidiq yang membawakan sebuah hadits yang berbunyi: "Para imam itu adalah dari bangsa Quraisy." Lalu mereka bersepakat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Tidak diikutsertakan seorang wanitapun di dalam musyawarah tersebut.

Kemudian Abu Bakar mewasiatkan Umar sebagai khalifah setelah beliau, tanpa ada musyawarah.

Kemudian Umar menunjuk 6 orang sebagai anggota musyawarah untuk menetapkan salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah. Keenam orang itu termasuk 10 orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Adapun sangkaan sebagian orang bahwa Abdurrahman bin Auf menyertakan wanita dalam musyawarah adalah tidak benar.

Di dalam riwayat Bukhari tidak disebutkan di dalamnya penyebutan musyawarah Abdurrahman bin Auf bersama wanita dan tidak juga bersama para tentara. Bahkan yang tersebut di dalam riwayat Bukhari tersebut, Abdurrahman bin Auf mengumpulkan 5 orang yang telah ditunjuk Umar yaitu Ustman, Ali, Zubair, Thalhah, Saad dan beliau sendiri (lihat Fathul Bari juz 7 hal. 61,69), Tarikhul Islam karya Az-Zahabi (hal. 303), Ibnu Ashir dalam thariknya (3/36), Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhkul Umam (4/431). Adapun yang disebutkan oleh Imam Ibnu Isuji di dalam Kitabnya al-Munthadam riwayatnya dhaif.

Dan yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa Nihayah (4/151) adalah riwayat tanpa sanad, tidak dapat dijadikan sandaran.

Kesimpulannya:
1.Berdasarkan riwayat yang shahih Abdurrahman bin Auf hanya bermusyawarah dengan 5 orang yang ditunjuk Umar.
2. Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf juga mengajak bertukar pendapat dengan sahabat lainnya.
3. Adapun penyertaan wanita di dalam musyawarah adalah tidak benar sebab riwayatnya tidak ada asalnya.

• Mereka mengatakan: Ini adalah masalah ijtihadiyah'

Bantahan:
Apa yang dimaksud dengan masalah ijtihadiyah ? Jika mereka katakan: yaitu masalah baru yang tidak dikenal di massa wahyu dan khulafaur rasyidin.

Maka jawabannya:
1. Ucapan mereka ini menyelisihi atau bertentangan dengan ucapan sebelumnya yaitu sudah ada pada awal Islam.

2. Memang benar pemungutan suara ini tidak ada pada zaman wahyu, tetapi bukan berarti seluruh perkara yang tidak ada pada zaman wahyu ditetapkan hukumnya dengan ijtihad. Dalam masalah ini ulama menetapkan hukum setiap masalah berdasarkan kaedah-kaedah usul dan kaedah-kaedah umum. Dan untuk masalah pemungutan suara ini telah diketahui kerusakan-kerusakannya.

Jika dikatakan: yang kami maksud masalah ijtihadiyah adalah masalah yang belum ada dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Maka jawabannya sama seperti jawaban kami yang telah lalu.

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah artinya: kami mengetahui keharamannya, tetapi kami memandang ikut serta di dalamnya untuk mewujudkan maslahat. Maka jawabannya: kalau ucapan itu benar, maka pasti sudah ada buktinya semenjak munculnya pemikiran seperti ini. Di negara-negara Islam tidak pernah terwujud maslahat tersebut, bahkan hanya kembali dua sepatu usang (gagal).

Sedang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang Mukmin tidaklah disengat 2 kali dari satu lubang" [Mutafaqun alaih]

Jika dikatakan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan ulama serta bukan masalah ijma'.

Maka jawabannya:
1. Coba tunjukkan perselisihan di kalangan ulama yang mu'tabar (dipercaya) yang dida'wakan itu. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkannya.

2. Yang dikenal di kalangan ulama, bahwa yang dimaksud khilafiyah atau masalah yang diperdebatkan, yaitu : jika kedua pihak memiliki alasan atau dalil yang jelas dan dapat diterima sesuai kaedah. Sebab kalau hanya mencari masalah khilafiyah, maka tidak ada satu permasalahanpun melainkan di sana ada khilaf atau perbedaan pendapat. Akan tetapi banyak di antara pendapat-pendapat itu yang tidak mu'tabar.

• Mereka mengatakan: Bahwa pemungutan suara tersebut termasuk maslahat mursalah.

Bantahannya:
1. Maslahat mursalah bukanlah sumber asli hukum syar'i, tapi hanyalah sumber taba'i (mengikut) yang tidak dapat berdiri sendiri. Maslahat mursalah hanyalah wasilah yang jika terpenuhi syaratsyaratnya, baru bisa diamalkan.

2. Menurut defisinya maslahat mursalah itu adalah: apa-apa yang tidak ada nash tertentu padanya dan masuk ke dalam kaedah umum. Menurut definisi lain adalah: sebuah sifat (maslahat) yang belum ditetapkan oleh syariat.

Jadi maslahat mursalah itu adalah salahsatu proses ijtihad untuk mencapai sebuah kemaslahatan bagi umat, yang belum disebutkan syariat, dengan memperhatikan syarat-syaratnya.

Kembali kepada masalah pemungutan yang dikatakan sebagai maslahat mursalah tersebut apakah sesuai dengan tujuan maslahat mursalah itu sendiri atau justru bertentangan. Tentu saja amat bertentangan; dilihat dari kerusakan kerusakan pemungutan suara yang cukup menjadi bukti bahwa antara keduanya amat jauh berbeda.

• Mereka mengatakan: Pemungutan suara ini hanya wasilah, bukan tujuan dan maksud kami adalah baik.

Bantahannya adalah:
Tidak dikenal kamus tujuan menghalalkan segala cara, sebab itu adalah kaidah Yahudiah. Sebab berdasarkan kaidah Usuliyah: hukum sebuah wasilah ditentukan hasil yang terjadi (didapat); jika yang terjadi adalah perkara haram (hasilnya haram) maka wasilahnya juga haram.

Adapun ucapan mereka bahwa yang mereka inginkan adalah kebaikan.

Maka jawabannya bahwa niat yang baik lagi ikhlas serta keinginan yang baik lagi tulus belumlah menjamin kelurusan amal. Sebab betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.

Sebab sebuah amal dapat dikatakan shahih dan makbul jika memenuhi 2 syarat: Niat ikhlas dan Menetapi as-Sunnah. Jadi bukan hanya bermodal keinginan (i'tikad baik saja)

• Mereka mengatakan: Kami mengikuti pemungutan suara dengan tujuan menegakkan daulah Islam.

Bantahannya:
Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, bagaimana cara menegakkan daulah Islam ?

Sedangkan di awal perjuangan, mereka sudah tunduk pada undang-undang sekuler yang diimpor dari Eropa. Mengapa mereka tidak memulai menegakkan hukum Islam itu pada diri mereka sendiri, atau memang ucapan mereka "Kami akan menegakkan daulah Islam" hanyalah slogan kosong belaka. Terbukti mereka tidak mampu untuk menegakkannya pada diri mereka sendiri.

Kalau ingin buktinya maka silahkan melihat mereka-mereka yang meneriakkan slogan tersebut.

• Mereka mengatakan : Kami tidak mau berpangku tangan dengan membiarkan musuh-musuh bergerak leluasa tanpa hambatan.

Bantahannya:
Apakah masuk akal jika untuk menghadapi musuh-musuhnya, mereka bergandengan tangan dengan musuh-musuhnya dalam kursi parlemen, berkompromi dengan musuh dalam membuat undang-undang? Bukankah ini tipu daya ala Yahudi yang telah Allah nyatakan dalam al-Qur'an:

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Segolongan lain dari ahli Kitab berkata kepada sesamanya: Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang Mukmin) kembali (kepada kekafiran)". [Ali-Imran/3: 72]

Dan ucapan mereka bahwa masuknya mereka ke kancah demokrasi itu adalah refleksi perjuangan mereka, tidak dapat dipercaya. Bukankah Allah telah mengatakan:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

"Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka" [Al-Baqarah/2: 120]

Lalu mengapa mereka saling bahu membahu dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani? Apakah mereka menerapkan kaedah: saling bertolong-tolongan pada perkara-perkara yang disepakati dan saling toleransi pada perkara- perkara yang diperselisihkan. Tidakkah mereka takut pada firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu?)". [An-Nisaa/4: 144]

• Mereka mengatakan: Kami terjun dalam kancah demokrasi karena alasan darurat.

Bantahannya:
Darurat menurut Ushul yaitu: keadaan yang menimpa seorang insan berupa kesulitan bahaya dan kepayahan/kesempitan, yang dikhawatirkan terjadinya kemudharatan atau gangguan pada diri (jiwa), harta, akal, kehormatan dan agamanya. Maka dibolehkan baginya perkara yang haram (meninggalkan perkara yang wajib) atau menunda pelaksanaannya untuk menolak kemudharatan darinya, menurut batas-batas yang dibolehkan syariat.

Lalu timbul pertanyaan kepada mereka: yang dimaksud alasan itu, karena keadaan darurat atau karena maslahat?.

Sebab maslahat tentu saja lebih luas dan lebih umum ketimbang darurat. Jika dahulu mereka katakan bahwa demokrasi itu atau pemungutan suara itu hanyalah wasilah maka berarti yang mereka lakukan tersebut bukanlah karena darurat akan tetapi lebih tepat dikatakan untuk mencari maslahat, Maka terungkaplah bahwa ikut sertanya mereka dalam kancah demokrasi tersebut bukanlah karena darurat tapi hanya karena sekedar mencari setitik maslahat.

• Mereka mengatakan: Kami terpaksa melakukannya, sebab jika tidak maka musuh akan menyeret kami dan melarang kami menegakkan hukum Islam dan melarang kami shalat di masjid-masjid dan melarang kami berbicara (berkhutbah).

Bantahannya:
Mereka hanya dihantui bayangan saja; atau mereka menyangka kelangsungan da'wah kepada jalan Allah hanya tergantung di tangan mereka saja. Dengan itu mereka menyimpang dari manhaj an-nabawi dalam berda'wah kepada Allah dan dalam al-islah (perbaikan). Lalu mereka menuduh orang-orang yang tetap berpegang teguh pada as- Sunnah sebagai orang-orang pengecut (orang-orang yang acuh tak acuh terhadap nasib umat). Apakah itu yang menyebabkan mereka membabi buta dan gelap mata? Hendaknya mereka mengambil pelajaran dari seorang sahabat yang mulia yaitu Abu Dzar al-Giffari ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berpesan kepadanya:

"Tetaplah kau di tempat engkau jangan pergi kemana-mana sampai aku mendatangimu. Kemudian. Rasulullah pergi di kegelapan hingga lenyap dari pandangan, lalu aku mendengar suara gemuruh. Maka aku khawatir jika seseorang telah menghadang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, hingga aku ingin mendatangi beliau. Tapi aku ingat pesan beliau: tetaplah engkau di tempat jangan kemana-mana, maka akupun tetap di tempat tidak ke mana-mana. Hingga beliau mendatangiku. Lalu aku berkata bahwa aku telah mendengar suara gemuruh, sehingga aku khawatir terhadap beliau, lalu aku ceritakan kisahku. Lalu beliau berkata apakah engkau mendengarnya?. Ya, kataku. Beliau berkata itu adalah Jibril, yang telah berkata kepadaku: barang siapa di antara umatmu (umat Rasulullah) yang wafat dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, akan masuk ke dalam surga. Aku bertanya, walaupun dia berzina dan mencuri? Beliau berkata, walaupun dia berzina dan mencuri". [Mutafaqun alaih]

Lihatlah bagaimana keteguhan Abu Dzar al-Ghifari terhadap pesan Rasulullah untuk tidak bergeming dari tempat, walaupun dalam sangkaan beliau, Rasulullah berada dalam mara bahaya ! Bukankah hal tersebut gawat dan genting. Suara gemuruh yang mencemaskan beliau atas nasib Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Namun apa gerangan yang menahan Abu Dzar al-Ghifari untuk menemui Rasulullah. Apakah beliau takut, atau beliau pengecut, atau beliau acuh tak uh akan nasib Rasulullah ? Tidak ! Sekali-kali tidak! Tidak ada yang menahan beliau melainkan pesan Rasulullah : tetaplah engkau di tempat, jangan pergi ke mana-mana hingga aku datang!.

Keteguhan beliau di atas garis as-Sunnah telah mengalahkan (menundukkan) pertimbangan akal dan perasaan! Beliau tidak memilih melanggar pesan Rasulullah dengan alasan ingin menyelamatkan beliau shalallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian kita lihat hasil keteguhan beliau atas pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berupa ilmu tentang tauhid yang dibawa malaikat Jibril kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kabar gembira bagi para muwahhid (ahli tauhid) yaitu surga. Seandainya beliau melanggar pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam maka belum tentu beliau mendapatkan ilmu tersebut pada saat itu !!

Demikian pula dikatakan kepada mereka: Kami tidak hendak melanggar as-Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat ! (Karena keteguhan di atas as-Sunnah itulah yang akan menyelamatkan ummat -red).

Berbahagialah ahlu sunnah (salafiyin) berkat keteguhan mereka di atas as-Sunnah.

• Mereka mengatakan: Bahwa mereka mengikuti kancah pemunggutan suara untuk memilih kemudharatan yang paling ringan.

Mereka juga berkata bahwa mereka mengetahui hal itu adalah jelek, tapi ingin mencari mudharat yang paling ringan demi mewujudkan maslahat yang lebih besar.

Bantahannya:
Apakah mereka menganggap kekufuran dan syirik sebagai sesuatu yang ringan kemudharatannya? Timbangan apa yang mereka pakai untuk mengukur berat ringannya suatu perkara? Apakah timbangan akal dan hawa nafsu? Tidakkah mereka mengetahui bahwa demokrasi itu adalah sebuah kekufuran dan syirik produk Barat? Lalu apakah ada yang lebih berat dosanya selain kekufuran dan syirik.

Kemudian apakah mereka mengetahui syarat-syarat dan batasan-batasan kaedah "memilih kemudharatan yang paling ringan."

Jika jawaban mereka tidak mengetahui; maka hal itu adalah musibah.

Jika jawabannya mereka mengetahui, maka dikatakan kepada mereka: coba perhatikan kembali syarat-syaratnya! Di antaranya:
1. Maslahat yang ingin diraih adalah nyata (realistis) bukan sekedar perkiraan (anggapan belaka). Kegagalan demi kegagalan yang dialami oleh mereka yang melibatkan di dalam kancah demokrasi itu cukuplah sebagai bukti bahwa maslahat yang mereka janjikan itu hanyalah khayalan dan isapan jempol belaka.

2. Maslahat yang ingin dicapai harus lebih besar dari mafsadah (kerusakan) yang dilakukan, berdasarkan paham ahli ilmu. Jika realita adalah kebalikannya yaitu maslahat yang hendak dicapai lebih kecil ketimbang mafsadah yang terjadi, maka kaedahnya berganti menjadi:

Menolak mafsadah (kerusakan) lebih didahulukan ketimbang mencari (mengambil) mashlahat.

3. Tidak ada cara (jalan) lain untuk mencapai maslahat tersebut melainkan dengan melaksanakan mafsadah (kerusakan) tersebut.

Syarat yang ketiga ini sungguh amat berat untuk dipenuhi oleh mereka sebab konsekuensinya adalah: tidak ada jalan lain untuk menegakkan hukum Islam, kecuali dengan jalan demokrasi tersebut. Sungguh hal itu adalah kebathilan yang amat nyata! Apakah mungkin manhaj Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam ishlah (perbaikan) divonis tidak layak dipakai untuk menegakkan hukum Islam? Tidaklah kita mengenal Islam, kecuali melalui beliau shalallahu 'alaihi wasallam?

• Mereka mengatakan: Bahwa beberapa Ulama ahlu sunnah telah berfatwa tentang disyariatkannya pemungutan suara (pemilu) ini seperti: Syeikh al-Albani, Bin Baz, Bin Utsaimin. Lalu apakah kita menuduh mereka (para ulama) hizbi ?

Jawabannya tentu saja tidakl
Amat jauh para ulama itu dari sangkaan mereka, karena beberapa alasan:
1. Mereka adalah ulama dan pemimpin kita, serta pemimpin da'wah yang penuh berkah ini (da'wah salafiyah) dan pelindung Islam. Kita tidak meneguk ilmu kecuali dari mereka. Kita berlindung kepada Allah semoga mereka tidak demikian (tidak hizbi)! Bahkan sebaliknya, merekalah yang telah memperingatkan umat dari bahaya hizbiyah. Tidaklah umat selamat dari hizbiyah kecuali, melalui nasihat-nasihat mereka setelah taufiq dari Allah tentunya. Kitab-kitab dan kaset-kaset mereka penuh dengan peringatan tentang hizbiyah.

2. Para ulama berfatwa (memberi fatwa) sesuai dengan kadar soal yang ditanyakan. Bisa saja seorang datang kepada ulama dan bertanya:

Ya Syeikh!, kami ingin menegakkan syariat Allah dan kami tidak mampu kecuali melalui pemungutan suara dengan tujuan untuk mengenyahkan orang-orang sosialis dan sekuler dari posisi mereka! Apakah boleh kami memilih seorang yang shalih untuk melaksanakan kepentingan ini? Demikianlah soalnya!

Lain halnya seandainya bunyi soal : Ya Syeikh, pemungutan suara itu menimbulkan mafsadah (kerusakan) begini dan begini, dengan menyebutkan sisi negatif yang ditimbulkannya, maka niscaya jawabannya akan lain. Mereka-mereka itu (yaitu hizbiyun dan orang-orang yang terfitnah oleh hizbiyun) mencari-cari talbis (tipu daya) terhadap para ulama! Adapun dalil bahwa seorang alim berfatwa berdasarkan apa yang ia dengar. Dan sebuah fatwa ada kalanya keliru, adalah dari sebuah hadits dari Ummu Salamah:

"Sesungguhnya kalian akan mengadukan pertengkaran di antara kalian padaku, barang kali sebagian kalian lebih pandai berdalih ketimbang lainnya. Barang siapa yang telah aku putuskan baginya dengan merebut hak saudaranya, maka yang dia ambil itu hanyalah potongan dari api neraka; hendaknya dia ambil atau dia tinggalkan" [Mutafaqun alaih]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga telah memerintahkan kepada para qadi untuk mendengarkan kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah berkata kepada Ali bin Abu Thalib:

"Wahai Ali jika menghadap kepada engkau dua orang yang bersengketa, janganlah engkau putuskan antara mereka berdua, hingga engkau mendengar dari salah satu pihak sebagaimana engkau mendengarnya dari pihak lain. Sebab jika engkau melakukan demikian, akan jelas bagi engkau, putusan yang akan diambil". [Hadits Riwayat Ahmad]

Oleh sebab itu kejahatan yang paling besar yang dilakukan oleh seorang Muslim adalah diharamkannya perkara-perkara yang sebelumnya halal, disebabkan pertanyaannya. Dalam sebuah hadits riwayat Saad bin Abi Waqas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya kejahatan seorang Muslim yang paling besar adalah bertanya tentang sebuah perkara yang belum diharamkan. Lalu diharamkan disebabkan pertanyaannya". [Mutafaqun Alaih]

Ibnu Thin berkata bahwa kejahatan yang dimaksud adalah menyebabkan kemudharatan atas kaum Muslimin disebabkan pertanyaannya. Yaitu menghalangi mereka dari perkara-perkara halal sebelum pertanyaannya.

Hendaknya orang-orang yang melakukan tindakan berbahaya seperti ini bertaubat kepada Allah. Dan para tokoh kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap orang-orang semacam itu.

3. Lalu bagaimana sikap mereka (para Hizbiyin) tatkala telah jelas bahwa bagi para Ulama, demokrasi dan pemilihan suara ini adalah haram disebabkan mafsadah yang ditimbulkannya. Apakah mereka akan mengundurkan diri dari kancah demokrasi dan pemilu itu? atau mereka tetap nekat. Realita menunjukkan bahwa mereka hanya memancing di air keruh. Mereka hanya mencari keuntungan untuk golongannya saja dari fatwa para ulama. Terbukti jika fatwa ulama tidak menguntungkan golongan mereka, maka merekapun menghujatnya dengan berbagai macam pelecehan. Wallahu a'lam.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Th. III/1420-1999. Disadur dari kitab Tanwiir adz-Dzulumat tulisan Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam dan kitab Madarik an-Nazhar Fi Siasah tulisan Abdul Malik Ramadhani]
Disalin dari http://almanhaj.or.id/content/497/slash/0/syubhat-syubhat-sekitar-masalah-demokrasi-dan-pemungutan-suara/ tanpa dikurangi atau ditambahkan sedikitpun.
Andre Tauladan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates