Selasa, 02 Februari 2016

Pergeseran Paradigma Musuh Terhadap Daulah Islamiyah

Oleh John Cantlie dalam majalah DABIQ edisi 8

Pasca bulan September yang mengeretakkan gigi, muncul kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterima oleh banyak politisi barat bahwa Daulah Islam sangat berbeda dari pandangan mereka sebelumnya. Dan mereka harus meresponnya dengan cara yang berbeda pula.

Pertama, surat protes. Selalu ada bahaya di belakang saya dalam mengabarkan perkembangan terakhir dan bahwa beberapa observasi laporan berita yang saya berikan sudah basi. Tapi adakah dari anda semua yang memperhatikan perubahan krusial dari para pimpinan Amerika dan sekutunya dalam mendiskusikan tentang Daulah Islam akhir-akhir ini?

Dari raungan tak bergigi Obama dalam pidato kenegaraannya pada 10 September, dimana ia menyatakan bahwa Daulah Islam adalah “organisasi teroris murni dan biasa”. Sepertinya beberapa penasehat dekatnya, beberapa tokoh selain NATO dan media secara umum tidaklah sepakat dengan penyederhanaan deskripsi ini, meskipun ‘terorisme’ sangat tidak diragukan lagi sebagai salah satu taktik yang digunakan untuk menghalang kemajuan Daulah Islam dan jihadnya.
hagel - dempsey
Duo Salibis Hagel dan Dempsey
 Mantan menteri pertahanan Obama, Chuck Hagel mengatakan bahwa “ini adalah masa paling menantang dalam sejarah kepemimpinan Amerika”.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Hagel mengatakan bahwa, ”Kami tidak pernah menemui organisasi seperti ISIL (Daulah Islam) yang sangat teroganisir, sangat terlatih, terdanai dengan baik, strategis, sangat brutal, penuh kekerasan. Kami tidak pernah menemui hal seperti ini dalam sebuah institusi. Mereka menyatu dalam sebuah ideologi. Kecanggihan program sosial media mereka adalah sesuatu yang tidak pernah kami temui sebelumnya. Semua itu disatukan dan terciptalah satu ancaman kekuatan baru yang sangat dahsyat,”.

Bagi seorang mantan menteri pertahanan, penggunaan bahasa yang bersifat memuji saat membincangkan musuh menjadi pertanda yang sangat jelas bahwa Washington sangat tidak yakin dengan perlawanan mereka menghadapi sebuah “organisasi biasa”. Dan Hagel tidak sendirian dalam pernyataan yang penuh kesopanan ini. Jendral Martin Dempsey, kepala staf joint chief mengakui di televisi bahwa “pertama, cara militer bukan satu-satunya solusi untuk menghadapi ISIL (Daulah Islam). Dan kedua, kekuatan udara saja juga bukan solusi baik di Irak ataupun Syria,”.
Dan kutipan-kutipan jurnalis dunia tidak berarti sama sekali, karena banyak dari mereka justru menambah besar pemberitaan tentang pencapaian dan pemekaran Daulah Islam.

Beberapa ungkapan kemustahilan menjadi mungkin saat ini. Ingatlah beberapa waktu lalu saat para pemimpin Amerika sibuk meletakkan dasar-dasar untuk landasan situasi dewasa ini. Kita mundur sedikit, dahulu tema utamanya adalah tentang menghabisi “teroris” yang sulit dikendalikan di Iraq dan Afghanistan secara “mengejutkan dan mengagumkan” dengan kekuatan mesin perang Amerika. Tapi saat ini pejabat-pejabat itu terpaksa mengakui bahwa mungkin (hanya mungkin) mereka agak terlalu dini menganggap Daulah Islam sebagai “organisasi teroris murni dan biasa”. Dan itu hanya berjarak tiga bulan sejak kampanye mereka.

Saya bukanlah ahli dalam masalah ini dan pandangan saya sangat awam, tapi secara umum sebuah “organisasi biasa” tidak mungkin dapat mengepung kota-kota atau memiliki kekuatan polisi sendiri. Anda tentu tidak akan pernah menyangka bahwa sebuah “organisasi biasa” dapat memiliki tank-tank dan artileri, tentara bersenjata berkekuatan sepuluh ribuan, dan memiliki drone sendiri. Tak seorangpun akan menyangka bahwa ”organisasi biasa” mempunyai rencana mencetak mata uang sendiri, sekolah dasar bagi kaum muda dan sistem peradilan yang berjalan dengan baik.

Ini semua tentulah ciri-ciri sebuah negara.

Media memakainya secara sporadis, awalnya perlahan tapi selanjutnya jadi langkah bersama. Apakah Daulah Islam, Khilafah yang dideklarasikan pada Juni lalu, benar-benar sebuah Negara?

“ISIS (Daulah Islam) akan ambil alih kota-kota, makin banyak teritori digabungkan, benar-benar menjadi sebuah Negara yang kita tidak inginkan,” kata Letnan Kolonel (purn) Bill Cowan di Fox News pada Oktober 2014.

Karena kurang nyaman didengar oleh telinga barat, maka Islamic State (Daulah Islam) tidak mereka anggap sebagai sebuah negara. Negara dapat saja lahir dalam sehari atau beberapa jam dengan sebuah kudeta, ataupun semenit dengan penandatanganan dokumen. Hal ini telah terjadi selama berabad abad. Jadi tidak beralasan mengatakan tidak mungkin sebuah negara lahir dengan cara seperti itu. Dan kalau Daulah Islam bukanlah sebuah negara, lalu apa?

Tentunya, wilayah-wilayah yang telah dikuasai Daulah bukan lagi milik Bashar Al Asad yang sembunyi di Damaskus bersama tentaranya setelah bertahun-tahun membunuh muslim Syria. Tidak pernah ada legitimasi terhadap rezim tiraninya, dan kekuasaannya tak akan pernah kembali.

Apakah ia juga milik pemerintah boneka di Iraq, yang bersembunyi di Baghdad sedangkan tentaranya sedang menjilat luka-luka akibat serangan mujahidin pada musim panas lalu? Jelas tidak. Dan itu pastinya bukan milik the Free Syrian Army, yang telah bertahun-tahun memilih menghisap rokok Gauloises, minum teh, dan mengeluh bahwa tak ada yang bisa dilakukan tanpa bantuan serangan jet NATO. Baiklah itulah mereka sekarang, mereka masih di titik nol.

Anggap saja jika seseorang telah mengklaim daratan sepanjang Iraq dan Syria, atau bagian-bagian lain dari Daulah Islam telah direbut. Dia tidak akan punya motivasi untuk mengurusnya, atau mengerahkan militer untuk mempertahankannya.

Meskipun barat mungkin tidak pernah menerima itu, ada saja politisi barat yang mulai menerima kenyataan ini. Dan sedikit demi sedikit kita melihat perubahan bahasa, perubahan paradigma yang ditandai dengan bagaimana para pemimpin berbicara tentang Daulah. Sebab jika disebut negara –diakui atau tidak (Daulah islam tak perduli)- maka akan terjadi perubahan secara dramatis.

Anda tidak bisa begitu saja menghapus kata “organisasi teroris”, sebab itu tidak akan merubah opini publik. Sebagaimana anda tidak bisa menjatuhkan bom-bom dan berharap itu berlalu begitu saja. Tidak. Dan anda tidak bisa berharap pada tentara tak berguna yang minim disiplin -bahkan lebih buruk- untuk melakukan pekerjaan yang tidak ingin anda sentuh. Mereka semua akan gagal.

Pada saatnya nanti, anda akan menginginkan menghadapi Daulah Islam sebagai sebuah negara dan mungkin mempertimbangkan solusi gencatan senjata. Dan jika bukan hanya cara non-militer yang dapat ditempuh untuk menghadapi Daulah Islam, anda akan mencoba mendekati lagi suku Sahwah lain untuk melawan Daulah dengan melakukan provokasi kemana-mana, guna memotong sokongan finansial atau sekedar menutup media mereka (yang telah menghabiskan dana AS lebih dari 1,3 billiun dollar dan gagal total) sampai pada satu titik dimana hanya tersisa satu pilihan, yaitu menawarkan gencatan senjata.

Dengan harus menelan harga diri, menerima kenyataan bahwa bendera hitam Khilafah berkibar di kaki langit Afrika, Arabia, dan Asia. Maka pergeseran paradigma barat terhadap Daulah menjadi tak terelakkan lagi.

Adakah jalan lainnya? Meluncurkan serangan udara ke enam negara sekaligus? Mereka harus menghancurkan setengah wilayah jika begitu caranya. Saya di Kobane pada Oktober tahun lalu dan menyaksikan lebih dari 170 serangan udara AS yang merupakan “Serangan terberat sejak kampanye serangan udara dimulai,” menurut koresponden CBS Holly Williams. Serangan ini dimaksudkan untuk menghadapi serangan artileri yang dimulai Daulah Islam, hanya manghasilkan hancurnya sebagian besar kota menjadi reruntuhan puing. Terhitung ada lebih dari 600 serangan, dan sekarang habis tak ada yang tersisa disana.
Serangan udara AS di kobane
Serangan udara AS di kobane

Saat kejadian itu, saat serangan udara besar besaran dalam kegelapan malam beberapa waktu lalu, saya yakin anda tidak mengatakan “hore.. Itu angkatan udara Amerika,”. Pintu-pintu berguncang dari engselnya dan dinding retak terkena getaran, anda akan dipenuhi dengan kegeraman. 20 menit kemudian terdengar suara tangisan bayi ketakutan, para ibu menenangkan anak anak mereka dan sirine ambulan mengusung korban luka ke rumah sakit. Itulah sisi “cermatnya“ pengeboman yang tidak pernah nampak di dunia barat.

Apakah gencatan senjata menjadi sesuatu yang realistis? Saat ini, hal itu terlalu dini. Skenario yang dibuat adalah operasi militer besar-besaran terhadap Daulah Islam yang dilakukan oleh milisi Iran (tentara Iraq) dan dilatari oleh AS. Tapi ketika itu gagal karena milisi Shiah takut dibakar hidup-hidup, ketika serangan roket pasukan khusus telah dikerahkan untuk membantu kegagalan tentara Iraq, dan ketika mujahidin mulai memenggal tentara-tentara barat, maka setiap pilihan akan dipertimbangkan segera. Gencatan senjata akan menjadi salah satu pilihannya.

BERAPA BANYAK LAGI TENTARA BARAT YANG AKAN MATI?

Untuk saat ini, maka jawabannya adalah BANYAK. Perancis, Belgia, Denmark, Australia, dan Kanada semua menjadi target serangan Mujahidin dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Dengan semakin banyaknya pejuang pejuang islam dari berbagai kelompok di berbagai negara berbai’at kepada Daulah Islam, pastilah menambah banyak serangan-serangan dengan eksekusi yang lebih sempurna.

“Para pejuang berdatangan dari berbagai penjuru dunia, dari Eropa, Amerika, Australia, dan lain lain bertemu di Syria” ungkap Obama dalam wawancara di ’60 minutes’. “Ini menjadi titik tolak Jihadis seluruh dunia. Dan ini menjadi tantangan bagi kami. Dimana kita mendapati sebuah negara yang gagal dan terjerumus dalam perang sipil, namun organisasi (Daulah) ini berkembang dengan pesat,”.

Seberapa lamanya opsi ini akan diambil, tapi fakta perubahan bahasa di barat tak terhindarkan lagi. Hanya berjarak 8 bulan dari kampanye mereka, beberapa figur politisi senior di AS mulai mengakui bahwa Daulah Islam tidak seperti musuh manapun yang mereka temui dulu, dan bahwa penyelesaian secara militer saja adalah tidak mungkin.

Akhirnya, saya melihat secara lebih sederhana, yang mungkin tidak merefleksikan besaran kompleksitas peperangan modern dan pembangunan Negara. Gencatan senjata antara barat dan Daulah Islam akhirnya akan mengarah pada berakhirnya dukungan Arab dan boneka tiran non-Arab di kalangan dunia muslim. Ini juga akan menjadi akhir dukungan kepada Israel. Itu hanya pembuka, apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi.

Perang sepenuhnya dapat diprediksi, hanya ada satu dari dua kemungkinan, salah satu muncul sebagai pemenang sementara yang lain dikalahkan, atau tercapainya gencatan senjata. Itulah jalan untuk mengakhiri peperangan, Amerika dan sekutunya takkan pernah memenangkan perang ini. Mereka tahu itu dan semua orang juga tahu itu.

Sampai pada satu keadaan, satu-satunya pilihan yang berlaku untuk Amerika dan barat adalah memilih pilihan yang ‘bijak’.

—-

Catatan Editor: Berhentinya peperangan antara Muslim dan kufar takkan permanen. Perang terhadap kufar adalah kewajiban tetap bagi Muslim yang hanya terhenti sejenak untuk tujuan syar’i yang lebih besar. Sebagaimana gencatan senjata dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dengan musyrikin Mekah di Hudaibiyah. Jangka waktu Perjanjian Hudaibiyah adalah sepuluh tahun. Ketika gencatan sejata disepakati, maka berlakulah ia. Tapi bila diingkari kufar maka akan dihukum dengan keduanya yaitu shar’ (jihad) dan qadar Alloh. Penghianatan musyrikin mekah terhadap perjanjian Hudaibiyah yang disepakati oleh Nabi shallahu alaihi wassalam berakibat langsung pada keberhasilan muslim dalam pembukaan Mekah yang gemilang (sebagaimana diurai dalam sirah/sejarah).

Seperti juga penghianatan salibis Romawi terhadap perjanjian dengan Muslim berakibat Muslim menguasai Romawi.


Abdullah ibn Hawalah berkata: “Rasulullah mengatakan
Kamu akan menaklukkan Sham, Romawi, dan Parsi,
sampai seseorang diantaramu punya sejumlah onta, sejumlah
sapi dan sejumlah kambing, sampai seseorang yang diberi 100 dinar,
dan ia akan membelanjakannya,” kemudian beliau meletakkan tangannya di kepalaku
dan berkata “Wahai Ibn Hawalah, jika kau melihat Khilafah telah sampai ke bumi yang diberkahi [Sham], kemudian terjadi gempabumi, kesengsaraan dan hal hal besar telah datang
Hari kiamat akan lebih dekat pada hari itu kepada manusia daripada jarak
antara tanganku ke kepalamu.”
[Sahih: Imam Ahmad ,Abu Dawud, dan Al Hakim]

Andre Tauladan

Pergeseran Paradigma Musuh Terhadap Daulah Islamiyah

Share:

Post a Comment

Facebook
Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saran dan kritiknya sangat diharapkan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates