Selasa, 01 Desember 2015

Tidak ada udzur jahil bagi pelaku syirik akbar


beberapa waktu yang lalu, saya (http://hijraazizy.tumblr.com/) berdiskusi dengan seorang yang memiliki pemahaman seperti sekte murjiah. kenapa ia saya disebut murjiah? karena mudah dan membawa syubhat dalam mengudzur pelaku syirik akbar dengan membawa nash al wa’du, tanpa melihat nash al wa’iid (contoh dalam gambar komentar di atas).

mereka membawa syubhat menggunakan hadits di bawah tanpa perincian, berikut ini teks lengkap haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ ، قَالَ : لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا ، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ ، فَقَالَ : اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ ، فَقَالَ : مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ ، قَالَ : يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ ، وَقَالَ غَيْرُهُ مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ ” .

dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: ada seorang pria yang aniaya terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa), kemudian tatkala kematian menjemputnya dia berkata kepada anak-anaknya: “bila aku meninggal dunia maka bakarlah aku kemudian tumbuklah jasadku kemudian taburkanlah di angin, maka demi Allah seandainya Rabbku kuasa terhadap diriku pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun,” kemudian tatkala orang itu meninggal dunia maka hal tersebut dilakukan terhadapnya maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bumi dan Allah mengatakan: “kumpulkanlah apa yang ada di dalam perutmu,” kemudian bumi-pun melakukannya maka tiba-tiba orang itu berdiri kemudian Allah berfirman kepadanya: ” Apa yang mendorongmu kamu untuk melakukan apa yang kamu lakukan maka orang itu mengatakan ” yaa Rabb (yang mendorong saya untuk melakukan hal itu) adalah rasa takut kepada Engkau” maka Allah-pun mengampuninya.” (Riwayat Al Bukhari)

mereka para pengudzur pelaku syirik akbar karena kebodohan mereka mengatakan bahwa orang ini melakukan kekafiran yaitu mengingkari qudrah Allah, sedangkan mengingkari qudrah Allah adalah kekafiran tatkala orang ini melakukannya karena kejahilan maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengkafirkannya, justru Allah memberikan ampunan karena dasar dia melakukan hal itu adalah karena rasa takut, jadi kesimpulannya menurut mereka bahwa pelaku syirik akbar karena kebodohan itu diudzur tidak boleh dikafirkan. Jadi hadits ini dipakai mereka untuk mengudzur para thaghut dan para ansharnya dan ubbadul qubur yang melakukan kesyirikan dengan alasan bahwa mereka itu orang-orang yang jahil.

ada beberapa hal yang menjadi bantahan atas syubhat yang mereka bawa, yaitu:

pertama, di dalam hadits yang sedang kita bahas ini yaitu kisah orang yang berwasiat itu, di dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad dari hadits Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كان رجل ممن كان قبلكم لم يعمل خيرا قط ؛ إلا التوحيد ، فلما احتضر قال لأهله : انظروا : إذا أنا مت أن يحرقوه حتى يدعوه حمما ، ثم اطحنوه ، ثم اذروه في يوم ريح ، [ ثم اذروا نصفه في البر ، ونصفه في البحر ، فوالله ؛ لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين ]، فلما مات فعلوا ذلك به ، [ فأمر الله البر فجمع ما فيه ، وأمر البحر فجمع ما فيه ] ، فإذا هو [ قائم ] في قبضة الله ، فقال الله عز وجل : يا ابن آدم ! ما حملك على ما فعلت ؟ قال : أي رب ! من مخافتك ( وفي طريق آخر: من خشيتك وأنت أعلم ) ، قال : فغفر له بها ، ولم يعمل خيرا قط إلا التوحيده .

(المسند: 8040)

“Dahulu ada seorang pria dari kalangan umat sebelum kalian yang tidak melakukan sedikitpun amal kebaikkan kecuali tauhid, kemudian tatkala kematian menjemputnya ia berkata kepada keluarganya: Perhatikanlah, bila aku telah mati hendaklah mereka membakarnya sehingga membiarkannya menjadi arang, kemudian tumbuklah dan tebarkanlah di hari musim angin kencang (kemudian taburlah separuhnya di darat dan separuhnya di lautan, demi Allah seandainya Dia kuasa terhadapnya tentu Dia pasti mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Dia timpakkan kepada seorang-pun), kemudian tatkala ia mati maka mereka melakukan hal itu, (maka Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkan (abu-abu) yang ada padanya), maka ia-pun tiba-tiba (berdiri) dalam genggaman Allah, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkata: Hai anak Adam, apa yang mendorongmu untuk melakukan apa yang telah kamu lakukan?

Maka ia menjawab: Ya Rabbi! Rasa takut kepada Engkau (dan dalam jalur riwayat lain: karena rasa khawatir dari-Mu, sedangkan Engkau lebih mengetahui), maka beliau berkata: Maka Dia mengampuni baginya dengan sebab hal itu, padahal ia itu tidak melakukan sedikitpun kebaikan kecuali tauhid.”

itu di dalam teks Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

dalam hadits ibnu Mas’ud: “Bahwa seorang pria yang tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid “.

teks hadits ini menjelaskan dengan sangat nyata bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak berbuat syirik, dengan teks hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu berarti orang tersebut adalah seorang muwahhid karena orang yang bertauhid itu bukan pelaku syirik akbar karena kita sudah paham bahwa tauhid dan syirik itu adalah:

نقيضان لا يجتعان ولا يرتفعان

“Dua hal yang berlawanan yang tidak mungkin bersatu dan tidak mungkin kedua-duanya lenyap (pada satu orang dalam satu waktu)”.

Jadi dengan teks hadits ini gugurlah istidlal ahlul dlalal (orang-orang sesat), karena di dalam teks hadits itu sendiri disebutkan bahwa orang tersebut adalah seorang muwahhid, yaitu orang yang komitmen dengan tauhid. Maka Al Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr dalam Kitab At-Tauhid juz 18 hal. 37 mengatakan:

وفي رواية ابي رافع عن أبي هريرة رضي الله عنه في هذا الحديث أنه قال: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد…

“Diriwayatkan dari hadits Abu Rafi’ dari Abu Hurairah dalam hadits ini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: Ada seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan sedikitpun kecuali tauhid.”

Kita telah paham bahwa tauhid itu adalah kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, juga baraa dari syirik dan dari para pelakunya. Imam Ibnu Abdil Barr melanjutkan teks ucapan ini, yaitu Rasulullah: Bila teks hadits ini shahih tentu sudah melenyapkan isykal perihal keimanan pria ini, berarti orang ini mu’min muwahhid. Dan seandainya teks ini tidak shahih dari sisi sanad dan dari sisi naql, akan tetapi shahih dari sisi makna, dan kaidah pun semuanya mendukungnya dan peninjauan pun mengharuskan untuk makna seperti itu, karena mustahil lagi tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni orang-orang yang mati sedangkan mereka itu kafir, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengabarkan bahwa Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menyekutukan-Nya bila dia mati dalam keadaan kafir dan ini adalah hal yang tidak bisa dibantah, dan hal ini adalah hal yang tidak ada perselisihan di antara ahli kiblat” juga Al-Allamah Muhammad bin Abdissalam Al-Mubarakfuri mengatakan :

وقد روي الحديث بلفظ: قال رجل لم يعمل خيرا قط الا التوحيد، وهذه اللفظة ترفع الاشكال في ايمانه والاصول تعضدها، قال تعالى، ((ان الله لا يغفر أن يشرك به )) النساء: 48. قلت: الخشية من لوازم الايمان، ولما كان فعله هذا من أجل خشية الله تعالى وخوفه، فلا بد من القول بإيمانه، وعلى هذا فالحديث ظاهر بل هو كالصريح في استثناء التوحيد كما تقدم فلا إشكال فيه.

(مرعاة المفاتيح 8/180)

“Perawi telah meriwayatkan hadits dengan teks: Berkata seorang pria yang tidak melakukan kebaikkan kecuali tauhid,” Teks ini melenyapkan isykal tentang keimanan pria tersebut dan kaidah ushul-pun mendukungnya di mana Allah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya” terus beliau mengatakan: “Tatkala perbuatan dia ini dilakukannya karena rasa takut kepada Allah maka mesti dikatakan bahwa orang ini adalah orang mu’min, sehingga atas dasar ini maka hadits itu sangat nampak jelas bahkan seperti penegasan dalam pengecualiaan tauhid sebagaimana yang telah lalu, sehingga tidak ada isykal di dalamnya.”

Berarti tidak boleh hadits ini dibawa kepada makna pengudzuran pelaku syirik akbar karena kebodohan, karena itu bertentangan dengan teks hadist sendiri, di mana Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkabarkan bahwa orang tersebut tidak melakukan sedikitpun dari kebaikkan kecuali tauhid, orang itu adalah orang yang bertauhid, berarti ini yang harus dipegang, makna ini bahwa orang tersebut adalah muwahhid atau yang bertauhid. Juga di akhir hadits ” apa yang mendorong kamu untuk melakukan hal tersebut? “Orang itu mengatakan: “rasa rakut kepada Engkau yaa Rabb ” sedangkan yang namanya Khasy-yah (rasa takut) itu hanya pada orang yang mengetahui Allah, di mana Allah mengatakan:

[إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:28

“Yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Ulama (orang yang alim) itu adalah orang yang alim (mengetahui) Allah (yaitu orang muwahhid). Sedangkan orang musyrik itu dengan nash Al-Qur’an adalah orang yang jahil (bodoh).

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah: Maka apakah kepada selain Allah kalian memerintahkan aku untuk beribdah wahai orang-orang bodoh.” (Az Zumar: 64).

Di dalam Ayat ini Allah subhanahu wa Ta’la menyebut orang-orang musyrik itu sebagai orang jahil atau bodoh, setiap orang musyrik itu jahil (bodoh) tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik, ini kaidah setiap orang musyrik itu bodoh walaupun ilmunya banyak namun dia itu bodoh, karena tidak mengenal Allah yang sebenarnya, tapi tidak setiap orang bodoh itu musyrik karena ada orang muslim yang bodoh, di mana dia bertauhid tapi rincian-rincian dalam masalah furu’ dia tidak paham. Yang takut kepada Allah hanyalah orang yang alim sedangkan orang musyrik itu orang yang bodoh dan tidak mempunyai khasy-yah, terus juga dalam syarat laa ilaaha illallah terdapat syarat yang pertama adalah ilmu (mengetahui), dan orang yang tidak berilmu itu tidak mungkin memiliki khasy-yah, bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal tauhid dia punya khasy-yah kepada Allah. Kemudian juga apa makna hadits tersebut setelah kita keluarkan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan masalah syirik akbar. Terus harus dipahami juga bahwa orang tersebut dia tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, dia menyakini bahwa Allah Maha Kuasa, dia menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana di dalam teks hadits tersebut sendiri terdapat pengakuan terhadap qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah tapi karena jahil maka dia diudzur. Maka kita katakan bahwa itu istinbath yang bathil, orang tersebut tidak mengingkari qudrah Allah secara mutlak, itu dengan nash hadits tersebut, kalau seandainya orang tersebut mengingkari qudrah Allah secara mutlak dalam arti dia menyakini Allah itu tidak mampu apa-apa berarti kalau mengingkari qudrah Allah itu menyakini bahwa Allah tidak mampu apa-apa.

Justru di dalam hadits tersebut ada dilalah isyarat yang menunjukkan bahwa orang tersebut menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa buktinya? Buktinya adalah bahwa orang tersebut memerintahkan kepada anak-anaknya untuk membakar jasadnya kemudian abunya ditebar di mana-mana karena khasy-yah (takut), seandainya orang itu mengingkari qudrah Allah tentu dia tidak akan menyuruh anak-anaknya untuk membakar jasadnya dan menaburkan abunya di mana-mana tapi dia akan membiarkan jasadnya dikubur, karena kalau dia menyakini bahwa Allah tidak kuasa tentu dalam keyakinannya bahwa Allah-pun tidak akan mampu menghidupkan jasadnya yang sudah terkubur di dalam tanah, tapi tatkala orang itu menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengembalikan jasadnya utuh setelah dikubur dan hancur di dalam tanah, orang itu menyakini bahwa Allah kuasa untuk mengumpulkan jasad yang telah menjadi tanah.

Jadi orang ini menyakini qudrah Allah Subhanahu wa Ta’la akan tetapi yang tidak dia ketahui adalah qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang sudah dibakar menjadi debu dan ditabur di daratan dan di lautan. Nah sedangkan hal semacam ini yaitu rincian daripada qudrah adalah termasuk hal-hal yang pelik dan samar.

Kedua, orang tersebut adalah hidup di zaman fatrah sehingga tidak mengetahui dalil atau hujjah yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasa untuk mengumpulkan jasad yang sudah menjadi abu yang ditebar di daratan maupun di lautan. Makanya Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan dalam Kitab Asy Syifa Bii Ta’rif Huquq Al-Musthafa juz . 2 hal. 293:

(وقيل كان هذا في زمن الفترة وحيث ينفع مجرد التوحيد . ( الشفاء بتعرف حقوق المصطفي

“Sebagian mengatakan bahwa ini terjadi pada masa fatrah, pada saat ketika sekedar tauhid dapat bermanfaat.”

Al Imam An Nawawiy berkata:

.وقالت طائفة : كان هذا الرجل في زمن فترة حين ينفع مجرد التوحيد

“Sebagian kelompok ulama mengatakan: Orang ini hidup pada zaman fatrah di saat sekedar tauhid itu bermanfaat “. ( Syarah An Nawawi Terhadap Shahih Muslim (9/124).

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan

.أنه كان مثبتا للصانع وكان في زمن الفترة فلم تبلغ شرائط الإيمان

“Orang tersebut menetapkan adanya Pencipta, dan dia itu hidup pada zaman fatrah, di mana syari’at-syari’at keimanan belum sampai kepadanya…(Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari, 6/523)

Dia itu muwahhid dan menyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengumpulkan jasad yang di kubur yang sudah hancur menjadi tanah, tapi hal yang tidak dia ketahui adalah hal yang menurut akal adalah mustahil, yaitu ketika jasad sudah dihancurkan dibakar menjadi abu dan ditabur di daratan dan di lautan terpisah-pisah ke mana-mana beribu-ribu mil berpencar bahwa jasadnya itu bisa kembali seperti semula, ia anggap itu mustahil dan itu dugaan dia, namun karena dia hidup di zaman fatrah maka dia diudzur karena dia orang yang memiliki tauhid. Itu makna hadits yang tepat, bukan mengingkari qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak, tapi dia tidak mengetahui qudrah Allah untuk mengumpulkan jasad yang telah hancur lebur ditabur di mana-mana. Karena itu Imam Ibnu Hazm mengatakan:

( فهذا إنسان جهل إلى أن مات أن الله عز و جلّ يقدر على جمع رماده و إحيائه ، و قد غفر الله له لإقراره ، و خوفه ، و جهله )

[ الفصل في الملل والأهواء والنحل : 3 / 141 ] .

“Ini adalah orang yang tidak mengetahui sampai dia mati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla kuasa untuk mengumpulkan debunya dan menghidupkannya kembali, dan Allah mengampuni karena dia mengakui keesaan Allah, dan karena rasa takutnya (kepada-Nya), serta karena kebodohannya”.

Jadi dia itu tidak mengetahui bahwa Allah berkuasa untuk mengumpulkan debu-debunya yang sudah ditabur dimana-mana.

Ada juga yang mengatakan bahwa orang tersebut mengucapkan ucapan itu di dalam wasiatnya tersebut dalam kondisi dah-syat (kondisi yang mencekam) dalam kondisi yang sangat menakutkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’la sehingga muncul dari lisannya sesuatu yang dia tidak memaksudkannya. Ada ulama yang mengatakan takwil hadits itu seperti itu sedangkan kita sudah paham bahwa orang ketika mengucapkan sesuatu ucapan dengan intifaul qashdi (tidak ada maksud) karena saking bahagianya atau saking rasa takutnya kemudian muncul dari lisannya ucapan kekafiran karena salah ucap maka itu tidak dikafirkan, karena intifa al qashdi itu termasuk mawani’ takfir .

Karena itu Imam An-Nawawi mengatakan :

وقالت طائفة : اللفظ على ظاهره ، ولكن قاله هذا الرجل وهو غير ضابط لكلامه ، ولا قاصد لحقيقة معناه ، ومعتقد لها ، بل قاله في حالة غلب عليه فيها الدهش والخوف وشدة الجزع ، بحيث ذهب تيقظه وتدبر ما يقوله ، فصار في معنى الغافل والناسي ، وهذه الحالة لا يؤاخذ فيها ، وهو نحو قول القائل الآخر الذي غلب عليه الفرح حين وجد راحلته : أنت عبدي وأنا ربك ، فلم يكفر بذلك الدهش والغلبة والسهو

“Sekelompok ulama mengatakan: “Teks hadits itu sesuai dengan dhahirnya akan tetapi orang itu mengucapkannya dalam kondisi dia tidak bisa mengendalikan ucapannya dan tidak memaksudkan kepada hakekat maknanya dan tidak menyakininya, namun dia mengatakan dalam kondisi dikuasai oleh ketercengangan, ketakutan dan kekhawatiran yang sangat, sehingga lenyaplah kesadarannya dalam pengawasan terhadap apa yang diucapkannya. Sehingga keadaannya sama seperti orang yang lalai lagi lupa. Sedangkan kondisi orang semacam ini tidak dikenakan sangsi di dalamnya. Ini semakna dengan ucapan orang yang saking bahagianya saat mendapatkan unta tunggangannya, dia mengatakan: “Ya, Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu “, dia tidak kafir dengan sebab ketercengangannya, ketakutan dan kelalaian”.

Jadi, jelas orang yang menggunakan hadits ini untuk mengudzur para pelaku syirik akbar karena kebodohan adalah telah menampatkan hadits ini bukan pada tempat yang semestinya, di mana orang tersebut terbukti muwahhid tidak berbuat syirik melalui zhohir hadits dan muwahhid tersebut hidup di zaman fatrah.
Andre Tauladan

Tidak ada udzur jahil bagi pelaku syirik akbar

Share:

Post a Comment

Facebook
Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saran dan kritiknya sangat diharapkan

About Me

Andre Tauladan adalah blog untuk berbagi informasi umum. Terkadang di sini membahas topik agama, politik, sosial, pendidikan, atau teknologi. Selain Andre Tauladan, ada juga blog khusus untuk berbagi seputar kehidupan saya di Jurnalnya Andre, dan blog khusus untuk copas yaitu di Kumpulan Tulisan.

Streaming Radio Ahlussunnah

Today's Story

Dari setiap kejadian di akhir zaman, akan semakin nampak mana orang-orang yang lurus dan mana yang menyimpang. Akan terlihat pula mana orang mu'min dan mana yang munafiq. Mana yang memiliki permusuhan dengan orang kafir dan mana yang berkasihsayang dengan mereka.
© Andre Tauladan All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates